Hi, Arisa is here! bagaimana liburan kalian? bagaimana sekolah kalian? semoga semuanya baik-baik saja ya. Tak terasa cerita ini sudah berjalan 1 tahun! (mungkin karena sering telatnya author dalam meng-update chapter) dan karena itu saya sengaja meng-update chapter ini bertepatan dengan cerita ini di publish, tanggal 19 Juli. Saya mohon maaf jika chapter selanjutnya akan terlambat, karena anime summer tahun ini merupakan surganya fujoshi, jadi saya juga disibukkan menonton anime *plak

Seperti yang saya bilang pada chapter sebelumnya, akan ada spin-off dari cerita ini. Mau tahu cerita apa yang akan saya buat? saya kasih petunjuk ya^^. Mungkin sebagian sudah tahu kalau akhir Juni kemarin seiyuu dari Alfred dan Matthew, yaitu Katsuyuki Konishi, datang ke Jakarta sebagai juri dari Clas:H. Saya berkesempatan datang ke acara tersebut dan melihat orangnya langsung! ia bahkan memperlihatkan aktingnya sebagai Kamina dari aninme Gurren Laggan. Bukan hanya itu, saya dan kawan-kawan patungan untuk membuat hadiah untuknya dan ternyata Katsuyuki-san foto dengan hadiah dari kita dan manajernya meng-upload foto tersebut ke twitternya! Manajernya juga mengatakan Katsuyuki-san membaca semua pesan yang sudah kita tulis untuknya. Karena itulah saya bersemangat untuk membuat spin-off dari kisah ini. sudah tahu akan menceritakan siapa? silahkan di cek ya^^

Kali ini saya khusus berterima kasih pada 135355 karena sudah membantu saya membuka website lagi, hontou ni arigatou gozaimasu...

Myloxyloto : salam kenal^^, dan terima kasih atas masukannya, thanks for review...

HetaliaFeliciano : hm... Gilbert memang selalu awesome, bukan? just fyi, mungkin adegan FrUk akan mencapai klimaks di chapter selanjutnya, mungkin... yup, tokoh barunya adalah Foma ., silahkan tebak siapa dia sebenarnya, hoho. Sip, saran ditermia, thanks for review...

syalala uyee : sebenarnya saya ingin menuliskan Arthur sebagai seorang pria dengan sifat keibuan... mungkin akan terlihat setelah ia bersama Francis. Itupun kalau saya membuat akhir cerita ini Arthur bersamanya... terima kasih atas masukannya, thanks for review...

Endou : yeay! *tos* sangat jarang ada orang yang memasangkan Russia dengan Prussia (setahu saya kebanyakan Russia dengan America atau China sedangkan Prussia dengan Austria atau Hungay) jadi saya sangat senang^^. Terima kasih atas semanganya, thanks for review...

Warning: as always, typo...

Disclaimer : I own nothing

Chapter 13: ich erinnere mich (I remeber)

Seorang pria berambut pirang panjang yang diikat, memakai jubah dan topi berwarna coklat melihat secarik kertas yang selama ini ia pegang selama perjalanan. Ia memeriksa kembali alamat yang ada di kertas dengan yang tertera di sebelah pintu pagar, sama, namun dari keadaan bangunan yang berada di hadapannya, pria ini yakin rumah ini sudah lama tidak dihuni. Pria ini cemas. Ia ingin masuk ke dalam bangunan tersebut meski ada garis polisi yang terlihat usang di depan pintu masuknya.

"Hei Pak." saat pria itu baru membuka pagar, ia mendengar ada orang memanggilnya. Pria itu menoleh dan melihat seorang wanita menghampirinya. "Ada perlu apa dengan rumah ini? rumah ini sudah tiga tahun tidak dihuni."

"Ti... tiga tahun?!" pria itu tidak percaya dengan pernyataan wanita tersebut. "kalau boleh tahu, karena apa?"

"Kejadiannya cukup menghebohkan. Ayah dari keluarga ini ternyata bandar narkoba. Ia sempat ditangkap, namun lari kembali ke rumah ini. Kedua anak mereka akhirnya kabur agar tidak terlibat."

"Lalu istrinya? bagaimana dengan ibu dari kedua anak itu?"

"Awalnya kami kira dia menghilang, ternyata ia sudah meninggal karena overdosis. Jika kau ingin mengunjungi makam sang ayah, saya bisa mengantar anda karena tempat pemakaman tidak jauh dari sini. Namun jika ingin mengunjungi makam sang istri, sayang sekali saya tidak bisa mengantarkan anda. Kata sang anak sulung, ia memakamkan ibunya di tempat pemakaman di perbukitan karena disana dekat dengan tempat tinggal mereka yang dahulu."

"Kedua anak itu... masih sehat?"

"Masih masih!" kali ini wajah wanita tersebut terlihat senang. "Gilbert, sang anak sulung bekerja di dekat sini sebagai pelayan cafe, dan dia suka menyapa kami para mantan tetangganya. Lagipula, anda dari luar kota ya? karena tidak mungkin anda tidak mengenal Gilbert jika anda penduduk kota ini."

"Hm, iya. Saya dari luar negeri setelah lebih dari lima tahun saya pergi dari negara ini." pria itu terlihat tersenyum sebentar sebelum menjawab. "Setelah saya datang ke kota ini, saya mendengar Gilbert mengalami kecelakaan. Saya ingin menjenguknya namun alamat yang saya punya hanya alamat rumah ini."

"Oh... mau menjenguk Gilbert? Gilbert sekarang tinggal di..." wanita tersebut memberi tahu alamat tempat tinggal Gilbert sedangkan pria itu mencatatnya. "Sampaikan salamku pada Gilbert ya."

"Baik, nama anda?"

"Nama saya Eva, namun Gilbert memanggil saya Nyonya Rose karena saya suka sekali dengan bunga mawar. Kalau nama anda?"

"Nama saya Sigmund, Sigmund Beilschmidt. Terima kasih sudah mau memberi tahu saya dimana anak saya tinggal sekarang. Permisi."

"Selamat pagi." Matthew mendengar sapaan Ludwig saat memasuki ruang makan. Matthew yang bangun dengan rambut dan piyama yang berantakan, menjawabnya dengan menguap. "Bagaimana tidurmu?"

"Hm... aku masih ingin tidur, West, tapi aku sudah tidak bisa tidur lagi..." keluh Matthew. "Bolehkah aku tidur di meja makan?"

"Tidak, meja makan adalah tempat untuk makan, bukan tidur. Nih, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Ludwig menaruh piring dengan dua tumpuk pancake dengan butter dan madu di atasnya.

"Pancake!" mata Matthew terbelak senang saat melihat makanan kesukaannya. Segera ia mengambil garpu dan pisau, "selamat makan!" Matthew ingin segera memotong dan memakan sarapannya, namun Ludwig mencegah Matthew memotong makanannya. "Ah... Luddy... kenapa?" terdengar nada kecewa dari mulut Matthew.

"Sebelum makan, kita berdoa dulu. Kakak yang mengajarinya."

"Oh, baiklah... ayo! segera kau duduk dan kita bisa menikmati sarapan kita!"

Ludwig tersenyum melihat reaksi Matthew, walau sebenarnya, ia merasa bersalah. Gilbert memang mengajarinya untuk berdoa sebelum makan, namun Ludwig tidak pernah melakukannya. Ludwig tidak akan mau makan bersama kakaknya. Ia memilih makan sendirian di dalam kamar, karena itu ia tidak pernah melakukan doa bersama sebelum makan.

Selesai makan, Ludwig mengambil teko berisi teh dan hendak menuangkannya ke gelas Matthew, namun Matthew langsung mundur ke belakang hingga kursinya jatuh. Ludwig ikut terkejut, ia tidak jadi menuangkan teh. "Kau kenapa?"

Memeluk dirinya sendiri, badan Matthew bergetar, "aku kira kau akan menyiramiku, West..."

"Tidak, aku hanya ingin menuangkan teh untukmu. Atau kau tidak suka teh?"

"Aku... aku suka kok..." badan Matthew masih belum berhenti bergetar. Saat Ludwig ingin menuangkan teh, ia melihat ada beberapa orang yang menuangkan air padanya. Matthew takut Ludwig akan melakukan hal yang sama padanya.

"Ano... kak?" Ludwig sadar Matthew masih merasa ketakutan, karena itu ia memanggilnya. "Kau sepertinya takut jika aku melakukan sesuatu padamu... kau mau cerita kenapa?"

Sebenarnya, Matthew kaget mendengar pertanyaan Ludwig. Ia juga ragu akan menjawabnya atau tidak. Ia merasa ingin bercerita pada Ludwig, namun ia tidak tahu harus menceritakan apa. "Kau bisa telat sekolah, West."

"Jika aku telat karena kakak, guru-guru akan memahaminya kok. Aku izin tidak masuk sekolah saja ya, agar aku bisa menemani kakak seharian, bagaimana?"

"Tidak apa-apa? nanti pelajaranmu bagaimana?" terdengar nada khawatir dari pertanyaan Matthew saat Ludwig merenggangkan dasinya.

"Aku siswa terpintar si sekolah, aku bisa megejarnya."

"Huwo! Kau siswa terpintar di sekolah? benarkah?"

"Tentu saja, kak, aku tidak bohong. Kakak bisa tanya Kiku kalau mau." Ludwig kini duduk di sebelah Matthew. "Jadi, ada apa?"

Matthew terdiam sebentar, dan Ludwig menunggu Matthew untuk bercerita. "Aku... tidak bisa membiarkanmu tidak masuk sekolah. Kau harus sekolah. Aku antarkan kau saja." Matthew bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. "Aku akan ambil jaketku terlebih dahulu, saat aku turun kau sudah harus siap."

"Matthew," panggilan Ludwig membuat langkah Matthew berhenti saat menaiki anak tangga karena tidak biasanya Ludwig memanggil nama Matthew. "aku hanya ingin kau tahu aku siap mendengarkan jika kau ingin bercerita sebagai Matthew, bukan sebagai kakakku. Kau terbangun dengan lingkungan yang tidak kau kenal, tapi sekarang kita tinggal seatap jadi setidaknya aku harap aku bisa membantumu."

Matthew tersenyum mendengar perkataan Ludwig,"Terima kasih, Ludwig." Ludwig pun membalas senyuman Matthew. Di dalam hatinya, ia tersenyum sedih. Sedih karena Matthew tidak tahu sikap baik Ludwig kepadanya karena Ludwig ingin membayar kesalahannya pada Gilbert. Sedih karena disaat ia bisa berbuat baik pada Gilbert, di dalam tubuh Gilbert terdapat jiwa orang lain.

Sesaat, pandangannya teralihkan oleh foto di atas meja di dekatnya. Foto Gilbert dengan dirinya saling berpelukan saat masih kecil. Ludwig bisa melihat Gilbert dan dirinya sama-sama tertawa senang. Diambilnya foto berbingkai itu, dan dipandanginya secara lama. Tanpa sadar Ludwig berbisik, "Kak, kau dimana sekarang?"

"Selamat pagi, Matthew-san." sapa Kiku pada Mathew setelah Matthew dan Ludwig menunggu di depan pagar rumah Kiku selama lima menit. "Maaf menunggu lama."

"Ah tidak apa-apa, selama ini kau yang menunggu dan menjemputku, Kiku." Sahut Ludwig.

"Selamat pagi Kiku. Pagi ini aku ikut mengantarkan Ludwig berangkat sekolah ya." Sapa Matthew ramah.

"Jarang sekali Gilbert-san mengantarkan Ludwig berangkat sekolah jadi aku terkejut saat melihatmu, Matthew-san."

"Aku ikut karena pagi ini Ludwig bilang ia tidak ingin masuk sekolah! aku tidak mau itu! karena itu aku mengantarkannya, aku tidak mengganggu, bukan?"

Kiku menggeleng, "Tentu tidak, Matthew-san. Ludwig mungkin akan tambah senang jika kau mengantarkannya ke sekolah."

"Hm... kalau begitu sekarang kau merasa senang, West?" tanya Matthew dengan nada menggoda.

"Jangan tanya hal seperti itu! memalukan!" mendengar jawaban Ludwig, Kiku dan Matthew tertawa.

"Selamat pagi, Gilbert!" Matthew berhenti tertawa saat ia mendengar ada seseorang yang menyapa Gilbert. Saat Matthew melihat siapa yang menyapanya, ia melihat seorang wanita dewasa sedang berdiri di depan toko bunga sambil memegang selang yang menyirami tanaman di depan toko. Sepertinya ia pemilik toko bunga.

"Selamat pagi." sapa Matthew ramah, meski Matthew tidak mengenalnya.

"Tumben sekali pagi-pagi kau sudah jalan-jalan, mau kemana?"

"Oh, aku mau mengantarkan Ludwig pergi ke sekolah."

Mendengar jawaban Matthew, wanita itu tertawa, "Haha, kau tetap terlalu khawatir pada Ludwig sampai kau mengantarkannya ke sekolah segala." Matthew tersenyum mendengarnya, setidaknya dari wanita ini ia tahu bahwa Gilbert adalah orang yang mempunyai brother complex pada Ludwig.

Saat wanita itu masih tertawa, Matthew melihat bunga yang pernah ia lihat di rumah Gilbert dan Ludwig saat ia kembali dari Rumah Sakit. "Loh, bunga ini... kau memberikan padaku saat aku kembali dari Rumah Sakit, ya?"

Wanita itu tampak terkejut, "Kau hebat sekali Gilbert! kau benar! aku memberikanmu bunga ini saat pesta penyambutanmu. Bagaimana? kau suka?"

"Iya, terima kasih..." Matthew ingin menyebutkan nama wanita itu namun ia lupa ia tidak tahu nama wanita itu.

"Jane." Ludwig yang sadar Matthew tidak tahu nama wanita itu, membisikannya ke telinga kanan Matthew.

"Jane, terima kasih Nona Jane."

"Wah Gilbert, kau masih ingat saja aku masih tetap dipanggil Nona meski aku sudah menikah. Semoga kau segera sembuh sehingga kau bisa membantuku di toko lagi."

"Baik, aku mengantar Gilbert terlebih dahulu ke sekolah ya, sampai jumpa." ucap Matthew sambil melambaikan tangannya. Camelia pun membalas lambaian tangan Matthew. "Aku tidak menyangka Gilbert bekerja di tok bunga. Kupikir ia hanya bekerja di malam hari sebagai tukang bangunan."

"Kakak... bekerja di segala tempat. Cafe, toko bunga, toko buku, tempat pembangunan, dan pelatih bola basket karena itu hampir penduduk kota ini mengenalnya. Selama kau siuman, Antonio lah yang menggantikan kakak bekerja. Beruntung pemilik cafe, toko bunga, dan toko buku memberi cuti untuk kakak jadi Antonio hanya bekerja di tempat pembangunan, karena itu milik pemerintah jadi kakak sulit mendapatkan cuti."

"Huwaaaa hebat sekali Gilbert!"

"Kakak melakukan itu semua supaya aku bisa sekolah..."

"Kau beruntung sekali punya kakak seperti Gilbert, West."

"Ya, banyak orang yang berkata seperti itu padaku." namun sayangnya aku berbuat jahat padanya, batin Ludwig dalam hati.

"Bagaimana dengan kakakmu, Kiku?" kali ini Matthew bertanya pada Kiku.

"Oh, kau mau tahu bagaimana kakaku? mereka..."

Tak terasa Matthew sudah sampai di sekolah Ludwig dan Kiku. Tanpa sadar, Matthew berhenti berjalan tepat sebelum ia memasuki pintu gerbang sekolah. Ludwig yang sadar Matthew sudah tidak mengikutinya memasuki sekolah menghadap ke belakang dan menghampiri Matthew. "Kau tidak mau ikut masuk?"

"Aku ingin, tapi... entah kenapa aku merasa... takut. Lihat, kakiku sudah gemetaran." Ludwig melihat ke bawah dan melihat kaki Gilbert gemetar.

"Kau tidak apa-apa kan? apa hari ini mau ke Rumah Sakit?"

"Tidak, tidak usah. Lebih baik aku istirahat di rumah saja. sudahlah, kau masuk ke kelas saja." Matthew lalu menarik kerah Ludwig dan mencium kening Ludwig. "Ayahku selalu melakukan ini sebelum aku sekolah, semangat ya belajarnya."

Wajah Ludwig langsung memerah setelah Matthew mencium keningnya. Meski yang mencium keningnya adalah Matthew, tapi ia berada di dalam tubuh Gilbert. Dicium keningnya oleh kakak sendiri di depan umum tentu adalah hal yang memalukan! "Baik, baik! kau harus segera pulang!" perintah Ludwig yang segera berjalan menuju Kiku yang masih menunggunya.

"Ehm, yang dicium oleh kakak sendiri..." goda Kiku dengan wajah datarnya.

"Kau diam saja, Kiku!" kesal Ludwig.

"Orang-orang melihatmu, Ludwig." kaget mendengar pernyataan Kiku, Ludwig memperhatikan di sekitarnya, para murid dan guru melihatnya sambil tertawa kecil. "Sudahlah, jangan marah. lagipula semua orang tahu bahwa kau sangat disayang Gilbert jadi tidak akan ada yang mengejekmu."

"Iya juga sih, tapi kok perasaanku tidak enak ya?" tanya Ludwig.

"Kenapa? kau merasa akan ada siswa yang mengejekmu?"

"Entahlah, tapi aku merasa tidak enak. Sepertinya aku melupakan sesuatu..."

"Ah!" Kiku berteriak karena sepertinya ia tahu jawabannya.

"Kenapa, Kiku?"

"Tadi kan Matthew-san berangkat sekolah bersama kita, tapi apa ia ingat jalan pulang?"

Ludwig berfikir sebentar, "ASTAGA!"

"Ini dimana?" Matthew memperhatikan sekitarnya. Ia berdiri di jalan trotoar dengan barisan toko di sebelah kirinya. Banyak orang yang berlalu lalang berpakaian seragam sekolah dan karyawan. Matthew bingung dimana ia sekarang, ia tersesat. Rasa panik mulai menyerangnya. Ia sudah sering tersesat sebenarnya, tapi Alfred dan Arthur selalu menemukannya. Sayangnya, Alfred dan Arthur tidak ada disini sekarang. "Tenang, Matthew... tenang." diambilnya nafas panjang dan dihembuskannya lagi secara perlahan, berusaha menenangkan diri. "Gilbert dikenal seluruh kota, jadi jika kutanya pada orang sekitar mereka pasti akan tahu. Eh, tapi... apakah aneh jika aku bertanya tentang alamat rumahku sendiri? kalau ada yang menipuku bagaimana..." Matthew mengambil nafas panjang lagi begitu ia tahu ia mulai panik kembali. Ia berfikir keras lagi untuk mencari cara agar ia bisa pulang.

"Gilbert?" suara orang yang ia kenal membuat Matthew membalikkan badannya dan melihat Arjan berdiri tak jauh di hadapannya dengan menggunakan kaos dan jaket, celana jins, sambil membawa kantong berwarna coklat. Matthew tidak tahu ada apa di dalam kantong itu. "sedang apa kau disini?" Arjan berjalan menghampiri Matthew yang terlihat lega.

"Aku... aku tersesat." Matthew menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. "sepertinya... selain orang, ingatanku akan jalan juga hilang, haha..."

Arjan tidak menyahut, membuat Matthew mengangkat kepalanya. "Apa kau ada acara hari ini?"

Matthew menggeleng, "Tidak. Ludwig menyuruhku untuk istirahat di rumah namun aku tidak bisa pulang sepertinya... apa kau tahu dimana rumahku?"

"Sayangnya tidak, maafkan aku." kali ini Matthew menundukkan kepala karena kecewa. "Bagaimana kalau kau menemaniku saja?"

"Kau mau kemana?"

"Aku mau akan sarapan di taman sekitar sini, lebih menyenangkan kalau ada yang menemani. Mau ikut?" Matthew menganguk tanda setuju. Daripada ia tersesat, lebih baik ia bersama temannya Gilbert, kan? "Yosh, ayo." Arjan mengulurkan tangan kanannya, Matthew yang tidak tahu apa maksud Arjan hanya terdiam. "Pegang tanganku, agar kau tidak tersesat."

Mendengar perkataan Arjan, wajah Matthew kembali memerah. Dirasakan jantungnya berdetak lebih cepat, dan Matthew tidak tahu kenapa ia bereaksi seperti ini. Tenang Matthew, tenang... , Matthew berusaha menenangkan dirinya. Perlahan ia meraih tangan Arjan dan dengan cepat Arjan menggenggamnya.

"Bilang padaku jika langkahku terlalu cepat." Matthew hanya menganguk setiap kali Arjan berbicara. Di telinganya, ia hanya bisa mendengar suara jantungnya, bahkan ia tidak bisa mendengar suara keramaian di sekitarnya. Baru saat ia merasa Arjan berhenti berjalan, Matthew mendengar Arjan memanggil nama Gilbert. "Gil? Kita sudah sampai..." Arjan melambaikan tangannya di hadapan Gilbert supaya Matthew bisa mendengar suaranya.

"Oh, benarkah?" Matthew kemudian melihat sekelilingnya, ia melihat terdapat banyak pohon di sebelah kirinya. Di sebelah kanannya terdapat jalan yang cukup luas dengan air mancur tak jauh dari tempat ia berdiri. Di hadapannya terdapat deretan bangku yang menghadap air mancur, Matthew dapat melihat Arjan duduk di salah satu bangku dan memanggil namanya. "Ini taman yang indah, Vries! kita bisa melihat langit yang luas dari sini!" ucap Matthew senang.

Arjan terdiam sejenak saat Matthew berkata seperti itu. "Saat kau berkata demikian, seakan-akan kau baru pertama kali kemari, Gil. Sepertinya kau juga lupa akan taman ini."

"Haha, sepertinya begitu..." Matthew benar-benar lupa ia harus berpura-pura jadi Gilbert! kenapa kau selalu lupa setiap kali kau bersama Arjan, Matthew!

"Gilbert? kau mau?" Arjan menawarkan sepotong roti pada Matthew, dan Matthew menerimanya. Ia duduk di samping Arjan dan mulai menikmati rotinya. Tak ada percakapan selama mereka makan. Keduanya menikmati sepotong roti sambil terdiam. Matthew melihat sekitarnya. Ia melihat beberapa orang masih dalam perjalanan menuju sekolah dan kantor, ada juga penyapu jalanan sedang membersihkan taman. "Bagaimana rotinya?" pertanyaan Arjan membuyarkan lamunan Matthew.

"Hm.. enak, terima kasih, Vries." Matthew menjawabnya dengan senyuman.

"Syukurlah kau tersenyum lagi... sedari tadi kau hanya menundukkan kepalamu atau wajahmu memerah... aku pikir kau tidak senang melihatku lagi."

"Te... tentu saja aku senang bisa bertemu denganmu lagi! bukankah kita sudah menjadi teman dekat?" Matthew tampak tidak tenang mendengar pernyataan Arjan. Arjan hanya terdiam mendenngarya, namun kemudian ia tertawa. "Ke... keke... kenapa?"

"Maaf, maaf... aku bilang itu hanya prasangkaku, bukan? tentu saja kita ini teman dekat... aku tak menyangka kau akan bersikap seperti itu... ternyata kau orang yang sangat ramah, aku senang sudah menjadi teman dekatmu, Gilbert." awalnya Matthew tersenyum mendengar kalimat Arjan, namun saat ia mendengar nama yang disebutkan Arjan, Matthew lupa. Arjan sedang berbicara dengan Gilbert, bukan pada Matthew. "Dulu aku berfikir dunia kita berbeda. Aku adalah seorang yang pendiam dan kau adalah orang yang periang. Aku seperti tidak bisa menggapaimu, bahkan tidak untuk menjadi teman. Aku bersyukur aku memberanikan diriku untuk menjengukmu setelah kau kecelakaan."

Nyut, Matthew dapat mendengar suara jantungnya berdenyut. Sakit. Ia merasa bersalah pada Arjan. Ia merasa telah berbohong pada Arjan. Arjan harus tahu yang dihadapannya bukanlah Gilbert, tapi Matthew! ia harus memberitahu Arjan.

"Vries..." dengan memberanikan diri, Matthew memanggil nama Arjan. Arjan yang merasa aneh karena nada panggilan Matthew terasa serius hanya tersenyum padanya. "Sebenarnya... aku harus memberitahu sesuatu padamu." kali ini Matthew menelan ludah. "aku... sebenarnya aku bu..."

"KYAAA" belum sempat Matthew mengucapkan pengakuannya, terdengar suara teriakan. Matthew dan Arjan langsung menoleh pada sumber suara. Sumber suara berasal dari daerah sekitar air mancur. Matthew dan Arjan melihat ada seorang pria basah kuyup di dalam kolam air mancur, dan tak jauh dari kolam air mancur terdapat seorang pria yang terjatuh dari sepeda. Badannya bermandikan tepung terigu karena tepung terigu yang dibawa pria tersebut dengan sepeda ada yang jatuh.

"Wah, ayo Gilbert, kita bantu mereka." Matthew mendengar suara Arjan, tapi Matthew tak bereaksi. Badannya kaku, pandangannya terpaku pada kedua pria malang tersebut. Tiba-tiba, ia melihat wajah pria yang basah kuyup dan bermandikan tepung dengan wajahnya. Ia melihat orang-orang sekitar kedua pria tersebut sedang tertawa, membuat badannya menjadi gemetar. "Gil?" Arjan bingung melihat Matthew yang diam tak bergerak. Kali ini Matthew merasa dadanya sesak, tak bisa bernafas. "Gil? Gilbert? kau tak apa-apa?" Arjan panik. Nafas Matthew terengah-engah tak beraturan. Matthew tak bisa menjawab. Suara tawa orang-orang di taman tersebut terngiang-ngiang di kepalanya.

"Hahaha..." Matthew ketakutan. Keringat dingin mulai ia rasakan di wajahnya.

"Dasar lemah!" kali ini ia mendengar suara anak laki-laki.

"Arrgghhh! kau membuatku kesal! kau adik kembar Alfred tapi sikapmu sama sekali tidak mirip dengannya! mengecewakan!" kali ini suara perempuan.

"Ne, Matthew! sambil menunggu Alfred menjemputmu, kerjakan piket harian saja ya! daripada kau bosan..."

Matthew tidak tahan dengan suara yang ada di kepalanya. Kedua tangannya ia angkat untuk menutupi telingnya. "Tidak! tidak! siapa kalian?! siapa?!"

"Ha? teman?" seolah menjawab teriakan Matthew, ada suara laki-laki yang berbeda. "kita tidak pernah menganggapmu teman, Matthew. Kau lemah, dan orang lemah harus ditindas! itu sudah hukum alam. Untuk menceritakannya kepada Alfred kau tidak punya keberanian, bukan? tenang.. di depan Alfred kami akan bersikap sebagai temanmu sehingga Alfred tahu kau punya teman di sekolah ini."

DEG! Seolah-olah ada banyak ingatan yang masuk ke dalam ingatan Matthew, Matthew merasa kepalanya sakita. "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Matthew berteriak sangat keras, membuat Arjan panik. Sebenarnya Matthew bisa mendengar suara Arjan memanggil nama Gilbert, tapi kepalanya terlalu sakit. kenangan-kenangan saat orang-orang disekitarnya merendahkannya, melecehkannya, masuk secara bersamaan ke kepala Matthew. Dalam hitungan detik, Matthew sudah tidak mendengar suara Arjan lagi, ia pingsan.

Dua minggu setelah kecelakaan, sembilan hari setelah pertukaran jiwa, Matthew mengingat kembali ingatan yang ingin ia lupakan.

Matthew membuka matanya saat mendengar suara deburan ombak. Ombak kecil menyerang tubuhnya, namun tubuhya tidak merasakan air menyerangnya. Matthew berdiri untuk mencari tahu dimana dia sekarang.

"Ini..." Matthew merasa pernah ke pantai ini. Pantai yang sepi, tak ada orang ini. Matthew pernah kemari setelah... setelah ia jatuh dari atap!

"Sudah ingat?" Matthew membalikkan badannya saat mendengar suara. Matthew melihat seorang anak kecil berambut putih, bermata merah sedang tersenyum padanya.

"Gilbert?" Matthew menebak nama anak kecil tersebut.

"Bingo!"

"Jadi... jadi... anak kecil yang di atas gundukan yang kutemui setelah aku jatuh dari atap itu kau, Gil?"

"Sudah ingat kenapa kau jatuh? Sudah ingat dengan orang-orang di sekitarmu?"

"Aku jatuh karena mau mengambil jepit rambut Natalya dan untuk orang-orang di sekitarku... aku sudah ingat..." Matthew berkata dengan nada sedih. "apa ini artinya aku akan kembali ke tubuhku?"

"Itu tergantung dirimu dan Gilbert, Matthew..."

"?"

"Kalian bisa kembali ke tubuh kalian masing-masing jika kalian bisa menerima diri kalian masing-masing."

"Aku... aku tak mengerti..."

Gilbert kecil tersenyum. "Suatu saat kau akan mengerti, akan ada orang yang akan memberitahumu. Sekarang, jangan lupa alasanmu bertukar jiwa dengan Gilbert, Matthew."

"Gilbert!" dalam sekejap mata, Matthew melihat daerah sekelilingnya sudah beda. Ia sudah tidak berada di pantai. Disekelilingnya kini ada meja, kursi, televisi, dan jendela yang terbuka lebar.

"Bruder, kau baik-baik saja?" Matthew menoleh saat mendengar Ludwig memanggilnya. Matthew melihat ada Ludwig, Arjan, dan Antonio di sebelah tempat tidurnya.

"Hum..." secara bersamaan, Ludwig, Arjan, dan Antonio menghela nafas lega.

"Aku sangat khawatir, Gilbert! tiba-tiba kau kesulitan bernafas, dan.. aku tidak tahu harus berbuat apa." kata Arjan panik.

"Aku sangat kaget saat guru memberitahuku kau masuk Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit. Aku sudah memberi tahumu untuk ke Rumah Sakit, kan?!" kali ini, Ludwig yang terlihat khawatir.

"Haha... terima kasih sudah mengkhawatirkankuk, tapi aku sungguh tidak apa-apa..." Matthew berusaha tersenyum pada mereka, untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. "dan Antonio? Kenapa kau ada disini?"

"Errrmm... tadi aku ke rumahmu untuk menumpang tidur. Disana aku melihat ada seorang pria tua sedang mencarimu dan Ludwig. Saat aku diberitahu kau masuk Rumah Sakit, pria itu bilang ingin kemari, jadi aku mengantarkannya."

"Oh ya? siapa?"

"Sebentar." Antonio keluar kamar, dan saat ia kembali ia berjalan memasuki ruangan bersama dengan seorang pria dengan rambut panjang yang diikat.

"Vatti..." Ludwig tanpa sadar mengenali pria tua itu.

"Halo, Ludwig, Gilbert. Lama tak jumpa."

Suasa dalam ruangan hening, sangat hening. Sedari tadi Sigmund hanya terdiam, begitu pula dengan Ludwig dan Matthew. Ludwig tak tahu harus berkata apa melihat ayahnya yang sudah lama tak ia jumpai. Matthew tak tahu harus berkata apa pada ayah Gilbert, yang pasti ayah Gilbert harus tahu bahwa di dalam tubuh anaknya terdapat jiwa orang lain!

"Eerrmm... bagaimana kabarmu selama ini, Vatti?" Matthew bertanya pada Sigmund untuk mencairkan suasanan.

"Kabarku baik-baik saja, Gil. Setelah ibumu mengusirku karena aku membawa anak seiingkuhanku ke rumah, aku sadar akan kesalahanku. Aku pindah ke luar negeri, berusaha memulai hidup baru. Tapi aku terlalu rindu pada kalian, jadi aku kembali. Kalian sendiri? bagaimana dengan kabar kalian?"

"Kabar kami baik-baik saja, iya kan kak?" Matthew tidak menyahut pertanyaan Ludwig.

"Sebenarnya kabar Gilbert kurang baik sekarang..."

"Ya, aku tahu. Kau baru saja mengalami kecelakaan, bukan? dan baru saja kau mengalami kesulitan bernafas..."

"sebenarnya... lebih dari itu, Gilbert.."

"Matthew!" Ludwig memotong kalimat Matthew. "haruskah kita memberitahunya sekarang?" sepertinya Ludwig tahu apa yang akan Matthew katakan.

"Matthew?" kali ini Sigmund bingung karena Ludwig memanggil nama kakaknya dengan nama orang lain.

"Tentu saja, Ludwig. Ia ayahmu jadi ia harus tahu apa yang terjadi pada anaknya. Dengar, aku sudah ingat semuanya. Kenapa ini bisa terjadi, kenapa aku mau melakukan ini..."

"Tunggu, tunggu... apa yang kalian bicarakan?"

Matthew mengambil nafas, "Mungkin badan ini adalah badan Gilbert, tapi jiwa yang ada di badan ini, jiwaku bukanlah jiwa Gilbert. Namaku Mattew Williams, Tuan Sigmund."

"Ha? apa yang kau bicarakan?"

"Aku mohon dengarkan dulu ceritaku dan percayailah, karena aku akan butuh pertolonganmu."

"Ludwig? kakakmu sedang membicarakan apa?"

"Vatti," tahu ayahnya tidak percaya, membuat Ludwig berusaha meyakinkannya. "aku mohon percayalah..." melihat kedua mata anaknya sedang menatapnya dengan penuh pengharapan, membuat Sigmund mengalah.

"Baiklah... silahkan lanjutkan, Matthew."

"Aku mempunyai kakak kembar bernama Alfred F Jones. Kami menjadi yatim piatu saat umur delapan tahun. Saat berumur tiga belas tahun, kami berdua diangkat sebagai anak oleh Arthur Kirkland. Mereka adalah keluarga yang sangat menyayangiku dan aku juga sangat sayang pada mereka. Sayangnya, sedari kecil aku lemah, berbeda dengan kakak kembarku. Kak Alfred adalah orang yang kuat, dan disenangi oleh banyak orang. Sedangkan aku, karena badanku lemah, banyak orang yang tidak senang padaku. Belum lama ini aku mengalami kecelakaan, saat koma, aku bertemu dengan Gilbert kecil. Ia berkata padaku karena telah membuat sedih adiknya, padahal ia bisa membuat bahagia orang lain. Keadaan Gilbert sangat berbeda denganku, dan aku ingin merasakan rasanya disenangi banyak orang, karena itu kami sepakat untuk saling bertukar tempat."

"Jadi... jiwamu bertukar dengan jiwa Gilbert, begitu?" Sigmund berusaha membuat kesimpulan.

"Seperti itulah, jiwaku baru bisa kembali setelah aku melaksanakan tugasku dan kami bisa menerima diri kami masing-masing."

"Apa tugasmu?"

"Tugasku adalah membuat Ludwig tidak sedih lagi..."

"Kau sudah melakukan tugasmu, Matthew!" Ludwig langsung memotong kalimat Matthew. "Kau tahu... selama ini aku marah pada kakakku karena kau telah membuatku tidak bisa bertemu dengan orang tuaku, tapi... aku sudah tahu alasannya dan aku sudah tidak marah dan sedih lagi padanya... jadi kau sudah melakukan tugasmu!"

"Kalau begitu, seharusnya jiwa kalian sudah bisa kembali, bukan?" tanya Sigmund

"Seharusnya begitu, tapi aku dan Gilbert harus menerima diri kami masing-masing. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Gilbert, tapi ia bilang aku akan mengerti apa yang ia maksud setelah ada orang yang memberitahuku, dan aku tidak tahu siapa orangnya..."

"Artinya kita harus menemukan orang itu agar Gilbert bisa kembali dan kau pun bisa kembali ke keluargamu."

"Kau... percaya?" tanya Matthew.

"Hm? tentu saja aku percaya. Ludwig sudah memintaku untuk mempercayaimu, dan aku melakukannya. Mungkin ini hukuman buatku karena sudah pergi meninggalkan kalian setelah sekian lama. Maafkan aku..."

"Ayah tidak perlu minta maaf... mungkin itu yang akan dikatakan kakak jika ia ada disini..."

"Ayo kita bersama-sama membuat kakakmu kembali. Dan Matthew, akan kami buat senyaman kami di sini agar kau tidak mengingat kenangan burukmu lagi."

Matthew hanya tersenyum mendengarnya. " Terima kasih, Vatti.." ia senang Sigmund mempercayainya dan ia senang ia sudah tidak membuat Ludwig sedih lagi, ia sudah melakukan tugasnya. Namun dalam hatinya, ia ingin mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin mereka dengar.

Aku tidak ingin kembali ke tubuh asliku...

Maaf jika jalan cerita di akhir chapter ini sulit dimengerti. Saya berusaha menulis apa yang saya inginkan, namun saya masih merasa kurang puas.

Saran dan kritik saya terima, jadi R&R please...