Halo, Arisa disini! Sudah lama ya kita tidak berjumpa, hampir setahun ya? bagaimana kabar kalian? *plak. Ok, sebelumnya aku minta maaf atas kesangat terlambatan chapter ini. Mata kuliah semester kemarin benar-benar membuatku gila dan aku harus mengurus dua circle (hei, sebelumnya aku belum pernah mengurus hal ini, dan begitu aku ditunjuk untuk mengurus, langsung dua? Tentu aku kerepotan!) jadi yaaa semester kemarin benar-benar semester uang sibuk, karena itu maafkan aku *bow
Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Saya sangat sangan sangat berterima kasih. Saya terkejut sebenarnya karena ada yang mengirim pesan kepada saya untuk segera melanjutkan, dan tada, ini dia. Saya sudah bilang sebelumnya, saya berniat untuk menyelesaikan cerita ini, jadi tenang. Cerita ini akan punya akhir cerita, entah itu yang kalian harapkan atau tidak, muwahahaha
Oh iya, sebagai wujud minta maaf dariku, aku membuat spin-off dari cerita ini berjudul Guardian. Pastikan kalian membacanya supaya kalian tidak bingung siapa tokoh baru yang ada di chapter ini.
Syalala uyee : maafkan aku jika update chaper ini lama . aku harap chapter ini dan spin off dari cerita ini bisa memaafkanku. Thanks for review...
135355 : review mu sudah saya baca dan tada, ini dia chapter yang kau tunggu. Thanks for review...
HetaliaFeliciano : wah, anda jeli juga menemukan unsur Matthew x Arjan, haha. Silahkan baca chapter selanjutnya jika penasaran dengan kisah mereka. Identitas Foma akan saya ungkap di tiga chapter selanjutnya *lama amat woi #ditendang. Terima kasih sudah mau menunggu. Thanks for review...
vAither : ini dia chapter yang sudah ditunggu-tunggu. Thanks for review...
vivi : errrm... silahkan baca tiga chapter selanjutnya. Thanks for review...
anonimask : ini dia update-annya. Haha. Semoga cerita di chapter ini membalas kesabaran Anda. Thanks for review...
Kaizen Katsumoto : astaga membekas? Saya jadi malu... #plak #ditendang. Tenang, cerita ini akan tetap dilanjutkan hingga tamat. Maafkan jika banyak sekali typo di dalam cerita saya. Thanks for review...
Warning : 1) typo, karena saya hanya manusia biasa yang membuat cerita ini tanpa editor. 2) boy x boy, cerita ini mengandung kisah shounen ai. Diharapkan anda bersiap-siap saat membaca akhir cerita dari chapter ini.
Disclaimer : I own nothing, include Foma
Chapter 14 : I don't want to go back!
Arthur menginjak rem mobilnya setelah ia sudah sampai di tempat tujuan. Dibukanya jendela mobil setelah ia mematikan mesin mobil. Sesekali Arthur melirik jam tangannya, dan selalu mendesah setiap kali ia sadar jarum panjang jam tangannya belum berhenti di angka tiga.
"Ugh, Arthur, disni panas. Kenapa kau matikan mesinnya?" dari bangku penumpang depan, sebelah bangku sopir, Francis mengipas dirinya dengan kipas miliknya.
"Untuk menghemat." jawabnya dingin dan singkat.
"Tapi mereka baru pulang setengah jam lagi! Tak bisakah kau nyalakan mesin lima belas meniiit saja." pinta Francis.
"Tidak, bukan kau yang membayar bensin mobil ini, jadi kau diam saja." Arthur masih menjawabnya dengan ketus, dan Francis sadar Arthur berusaha untuk tidak menjawab pertanyaannya. Atau bahkan, Arthur tidak mau berbicara dengannya.
"Kau... marah padaku ya?" tanya Francis kemudian.
"Tidak, siapa yang marah." jawab Arthur sambil memalingkan kepalanya.
"Tapi kau menjawab pertanyaanku dengan ketus, Arthur."
"Lalu kenpa? Kau tidak suka dengan nada menjawabku?" Francis tidak menjawab pertanyaan Arthur. Ia tahu Arthur sedang marah padanya dan ia tidak ingin bertengkar dengannya. Francis memilih diam sambil menundukkan kepalanya. Arthur membuka sedikit kacamata hitamnya untuk bisa melirik ke arah Francis dan melihat ekspresi wajah Francis. "Tak usah memasang wajah murung seperti itu. Tak akan terpengaruh denganku."
"Aku tidak memasang wajah murung, kenapa? kau tidak suka dengan wajahku sekarang? padahal aku sudah susah payah datang ke kantormu untuk mengantarkan makan siang."
"Justru karena itu aku marah padamu!" Arthur melepaskan kacamata hitamya dan menoleh ke arah Francis. Kini mata mereka bertatapan. "Untuk apa kau datang ke kantorku hanya untuk mengantarkan makan siang?! dan lagi, kau bercanda dengan wanita-wanita di kantor, kau ingin merayu mereka semua?!" Francis dapat melihat wajah Arthur yang merah karena marah. "Aku tak suka kau datang ke kantorku tanpa sepengetahuanku dan kau bercanda dengan wanita-wanita di kantor, mengerti?"
Francis langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Ia tak tahan untuk tersenyum karena menurutnya Arthur terlihat lucu saat marah. Tidak, Arthur bukannya marah. Bagi Francis, Arthur cemburu! Dan Francis tak tahan untuk tersenyum senang saat Arthur cemburu padanya. Francis tak bisa menahan rasa senangnya dan pada akhirnya ia pun tersenyum.
"Hei Francis, jawab pertanyaanku!" Arthur masih marah karena tak ada jawaban dari Francis. Masih belum bisa memperlihatkan wajahnya, Francis hanya menganguk. Puas dengan jawaban Francis, Arthur kembali melihat jam tangannya dan sesekali melihat ke arah pintu gerbang sekolah. Dipakainya kembali kacamata hitamnya untuk mencegah sinar matahari mengenai matanya.
Merasa Arthur sudah tidak memperhatikannya lagi, Francis pun menoleh untuk memperhatikan Arthur. Untuk bisa memandangi Arthur yang terasa dekat di sebelahnya. Matanya yang berwarna hijau terhalangi bingkai kacamata dan badannya sedikit berkeringat. Bahkan Francis dapat melihat ada keringat turun dari leher Arthur. Mata Francis mengikuti keringat Arthur yang turun, membuat Francis sadar, Arthur masih memakai kemeja kantornya. Kerah bajunya terlihat berantakan dan dua kancing teratas kemeja Arthur tidak terkancing. Oh, seandainya Francis tidak sadar mereka sedang ada di depan sekolah Alfred dan Matthew, Francis mungkin akan menyerang Arthur sekarang.
"Francis!" tiba-tiba Francis mendengar Arthur berteriak. Wajahnya terlihat panik, begitu pula tangannya. "Astaga, kalau kau tidak tahan panas, bilang dong!" tangan kiri Arthur mengambil tisu kemudian menaruhnya di wajah Francis. Francis bingung dengan sikap Arthur, namun saat ia merasa ada yang mengalir dari hidungnya, ia sadar Arthur sedang berusaha menolongnya. "lihat, kau sampai mimisan begini." Arthur masih berusaha membantu Francis. Ditidurkannya Francis di atas bangku penumpang yang sudah diluruskan.
Wajah Francis memerah, ditutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Francis merasa malu, beum pernah ia membayangkan sesuatu pada orang yang ia sukai hingga mimisan seperti ini. Mungkin Arthur menyangka Francis mimisan karena udara panas.
"Pusing? Sebentar ya, aku nyalakan dulu mesin mobilnya." ucap Arthur.
"Hm," Francis hanya menjawabnya dengan gumaman. Ya tuhan, Gilbert akan menghajarku nantinya...
Tak lama, Arthur mendengar suara bel sekolah. Ia mulai melihat satu-persatu murid sekolah sudah keluar dari gedung sekolah. "Aku akan menunggu Alfred dan Matthew di luar, kau istirahat saja di sini." Arthur kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung sekolah. Dilepasnya kaca mata hitam yang sedari tadi ia pakai di dalam mobil supaya Alfred dan Gilbert mengenalinya. Bibirnya tersenyum saat Arthur melihat Alfred berjalan keluar dari gedung sekolah.
"oh, Artie!" Alfred yang menyadari kehadiran Arthur berjalan menghampiri Arthur. "sedang apa kau di sini?"
"Aku sedang menjemputmu dan Gilbert. Hari ini hari pertama Gilbert masuk sekolah setelah Matthew beberapa hari tidak masuk sekolah. Aku khawatir dengan keadaannya jadi aku menjemput kalian."
"Akh, aku juga berpikiran hal yang sama. Saat istirahat tadi aku tidak menemukannya di kelas."
"Kau tidak mencarinya?"
"Sudah, dan teman-temannya menjawab ia sedang pergi entah kemana... ah, itu dia!" seru Alfred saat melihat sosok Matthew keluar dari gedung sekolah. Wajah Alfred dan Arthur terkejut saat melihat Gilbert keluar gedung dengan menggunakan jaket olahraga milik Matthew.
"Oh, ayah! Kau datang rupanya!"
"Gilbert! Apa yang terjadi padamu? Kemana baju seragammu?" tanya Arthur panik.
"Ada di dalam tas. Tadi aku bermain bersama teman-teman dan basah. Aku takut sakit jadi aku ganti dengan baju olahragaku, hehe..." Gilbert menjawabnya sanbil tertawa.
"Kau bermain saat istirahat ya? tadi siang aku ke kelasmu dan tidak menemukanmu..."kali ini Alfred yang bertanya.
"Iya, maaf ya kak aku tidak memberitahumu."
"Asal kau bisa menjaga tubuhmu, itu tidak apa-apa..." Alfred mengelus pelan rambut Matthew lalu mengacak pelan rambutnya.
"Ayo kita ke mobil, Francis menunggu di dalam mobil."
"Oh, ada Francis?!" seru Gilbert senang.
"Sedang apa ia ikut menjemput?" tanya Alfred tidak senang.
"Ceritanya panjang. Lebih baik kita segera pulang dan berbelanja untuk.." Gilbert memperlambat langkahnya, membuat Alfred dan Arthur kini berjalan cukup jauh di hadapannya. Bukan karena Gilbert tidak bisa mengejar langkah Alfred dan Arthur, hanya saja Gilbert merasa masih ada yang mebicarakan Matthew di sekitarnya. Langkah Gilbert diperlambat, dan Gilbert berusaha mendengar suara-suara di sekitarnya.
"Matthew sudah kembali?"
"Kau tak tahu ? ada yang aneh pada dirinya hari ini..."
"Ia menantang semua anak-anaak tadi pagi..."
"Apa ia mau balas dendam?"
"Entahlah, tadi siang ia didorong ke dalam kolam ikan dan ia menarik tangan orang yang mendorongnya, sehingga mereka berdua jatuh..."
"Alfred belum tahu kan?"
"Entahlah, kita lihat saja besok."
Gilbert baru sadar saat sehari setelah masuk sekolah. Matthew dikerjai oleh teman-temannya. Menurut petugas kebersihan yang menolongnya saat jatuh ke kolam, teman-temannya merasa stress bersekolah di sini dan melampiaskannya dengan cara mengerjai Matthew, dan Matthew menerimanya. Alfred pernah mengetahui hal ini dan menghajar orang-orang yang mengerjai Matthew. sejak saat itu, Matthew tidak pernah memberi tahu Alfred tentang perilaku teman-temannya. Bagi Matthew, lebih baik begini daripada mereka mengacuhkan Matthew sama sekali.
Dan Gilbert tidak suka dengan keputusan Matthew. cepat atau lambat, Gilbert akan membuat teman-teman Matthew untuk berhenti memperlakukan Matthew seenaknya. Gilbert pernah melalui masa ini dan ia yakin untuk kali ini, ia pasti bisa melewatinya juga. Mungkin karena ini pula jiwanya tertukar, supaya ia bisa membantu Matthew menyelesaikan masalahnya.
"Hei Mattie, jangan bengong saja! ayo segera masuk ke dalam mobil." Seru Arthur yang ternyata sudah di depan mobil. Gilbert mempercepat langkahnya supaya bisa segera masuk ke dalam mobil.
"Astaga Francis!" seru Gilbert terkejut saat melihat Francis berbaring di bangkunya.
"Oh Gilbert, selamat siang. Bagaimana dengan sekolahmu?"
"Jangan pikirkan aku, ada apa dengan kau?"
"Sepertinya ia tak tahan dengan udara panas sehingga mimisan." Jawab Arthur.
"Mimisan karena udara panas?" tanya Gilbert bingung. Francis tidak pernah mimisan karena udara panas. Tidak pernah. Matanya melirik ke arah Francis dengan wajah bingung.
"Sepertinya kita perlu bicara." Kata Gilbert yang kemudian memakai sabuk pengaman.
"Ya, aku perlu berbicara padamu." Francis yang mengerti arti dari tatapan Gilbert menjawab.
X
Sambil menuruni beberapa anak tangga, Gilbert melihat Alfred dengan tenang menonton televisi di ruang keluarga. Di atas, Francis memanggil Gilbert dengan suara pelan. "Aman?" tanyanya.
"Aman." Jawab Gilbert lalu menaiki beberapa anak tangga dan mengikuti Francis masuk ke dalam kamar. Francis segera duduk di atas tempat tidur Matthew. Gilbert menutup pintu dengan rapat, memastikan pintu tertutup rapat. "Jadi, siapa yang cerita duluan?" tanya Gilbert.
"Kau dulu."
"Ok. Aku dulu." Gilbert mengambil nafas. "Kau ingat perilaku anak-anak di sekolah terhadapku?"
"Ya... aku ingat, karena kondisi fisikmu serta statusku sebagai anak pelacur anak-anak bersikap kasar terhadap kita dan hanya Antonio yang baik kepada kita. Kenapa?"
"Matthew mengalami hal yang sama seperti kita semasa sekolah dulu."
"Benarkah?" tanya Francis tak percaya. "Anak laki-laki dengan penampilan semanis ini ?"
Gilbert langsung menunjukkan wajah tidak senang. "Maafkan aku jika aku tidak manis..."
"Bukan begitu, Gilbo. Aku hanya tidak mengerti kenapa ia bisa mengalami hal seperti kita. Arthur, ayahnya adalah orang yang kaya, Alfred, kakaknya juga terkenal di sekolahnya. Bagaimana bisa?"
"Sepertinya teman-temannya bosan dengan sekolah dan butuh hiburan... lagipula Matthew tidak menolaknya. Jika Alfred mengetahui hal ini, teman-temannya akan dihajar oleh Alfred. Jadi Matthew tidak pernah menceritakan ini kepada siapapun."
"Jadi kau pulang dengan baju olahraga karena..."
"Mereka berusaha mendorongku ke kolam renang, aku menghindar. Teman yang lain berusaha mendorongku lagi, dan aku berhasil menghindar namun ia menarik bajuku. Jadilah kita bertiga basah kuyup." Gilbert melihat wajah Francis cemas mendengarnya. Ia menepuk pundak Francis, "kau tenang saja, Francis. Kau tahu aku pernah mengalami hal ini dan aku berhasil melewatinya. Mungkin jiwa kita tertukar karena Matthew tidak tahu bagaimana caranya untuk mengakhiri ini, dan ini akan menjadi tugasku. Aku akan membuat teman-teman Matthew berhenti melakukan hal ini kepada Matthew sehingga jiwa kita bisa kembali."
Gilbert tersenyum, membuat Francis juga ikut tersenyum. Namun sebenarnya dalam hati ia merasa sedih, jika jiwa kalian kembali, maka aku... bagaimana caranya agar aku bisa bersama Arthur?
"Francis?" teguran Gilbert membuyarkan lamunan Francis.
"Oh, kenapa? errrm.. saranku pelan-pelan saja, jangan terburu-buru. Aku dan Antonio tak mau kau memaksakan diri."
"Ah, iya... aku tahu itu. Sekarang... apa ceritamu?" kali ini Gilbert bertanya dengan mata berbinar.
"Eh, apa?" seolah tidak mengerti dengan maksud Gilbert, Francis hanya memandangnya bingung.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu kau tidak akan mudah mimisan karena udara panas. Jadi, kenapa kau mimisan tadi siang?" perlahan, Gilbert mendekatkan wajah Matthew ke wajah Francis untuk memaksanya bercerita. Sedari tadi Francis berusaha menghindari kontak mata dengan Gilbert tapi sepertinya itu tidak berhasil.
"Baiklah, aku aka cerita." Senyuman memgembang di wajah Matthew saat Gilbert mendengarnya. "Tadi siang Arthur mematikan mesin mobil sehingga udara di dalam mobil sedikit panas dan..." Francis tidak melanjutkan ceritanya. Ia ragu apakah ia bisa menceritakannya kepada Gilbert. Jika Arthur yang akan ia ceritakan kali ini adalah seorang gadis, mungkin Francis mau melanjutkan. Tapi Arthur yang akan ia ceritakan kali ini kepada Arthur adalah seorang pria, seorang ayah yang mempunyai dua anak. Francis ragu apakah Gilbert mau mendengarkannya. Tidak, bahkan Francis takut Gilbert sudah menebaknya.
"Tunggu." Gilbert mengelus pelan dagunya, seperti orang yang sedang berfikir. "Sepertinya aku tahu kelanjutannya." Francis menelan ludah mendengarnya. "Kau mimisan karena kau mungkin melihat Arthur membuka sedikit kerahnya karena udara panas dan mungkin kau tergoda untuk menyerangnya namun tak bisa karena itu kau mimisan, kan?" bingo. Francis lupa, di balik tampang bodoh dan santai Gilbert, Gilbert mempunyai otak yang pintar.
Francis menganguk karena tebakan Gilbert benar. Ia melirik ke arah Gilbert untuk melihat reaksi Gilbert. Tak disangka, Gilbert tersenyum senang. "Kenapa kau tersenyum? bukankah ini... hal yang menjijikan? Arthur ini cowok, Gil..."
"Lalu kenapa? kau sendiri yang bilang cinta itu buta. Tak perduli orang seperti apa orang yang kau cintai, jika kau sudah terpikat padanya, semua itu tidak ada artinya. Itu nasehatmu saat Antonio mengaku ia menyukai pria bukan? oh, atau sebenarnya kau tidak berani untuk mencintai seorang Arthur?" Gilbert menebak lagi, dan sepertinya tebakan kali ini benar juga. Francis menganguk.
"Ia bekerja dengan posisi yang lur biasa, kau harus lihat kantornya, dan ia mempunyai dua anak. Ia ayah yang sempurna untuk kedua anaknya. Sedangkan aku? Seorang playboy yang lahir di luar nikah, ibuku mantan pelacur dan aku masih belum bisa menentukan masa depanku. Apakah Arthur bisa mencintaiku balik?" Gilbert terdiam melihat Francis yang duduk di sebelahnya. Francis yang ia kenal adalah seseorang yang periang, yang suka menggoda, dan tak pernah serius dengan seseorang. Baru kali ini Gilbert melihat bagaimana sikap Francis jika mencintai seseorang dengan serius.
"Kalau begitu tunggulah. Kau persiapkan dirimu untuk bisa membuat Arthur jatuh cinta. Lalu, percaya dirilah! Francis yang murung seperti ini bukanlah Francis yang kukenal! Ayo, senyum!" Gilbert menarik ujung bibir Francis dengan kedua jarinya agar bibir Francis membentuk senyuman, dan itu berhasil dengan sendirinya. Francis tersenyum melihat tingkah Gilbert.
"Aneh jika kau melakukan hal seperti ini di dalam tubuh Matthew. seolah-olah bukan kau yang melakukannya. Terima kasih Gilbo." Gilbert tersenyum Francis sudah kembali semangat. Namun dari percakapannya dengan Francis, ada yang mengganjal di pikirannya.
"Ne Francis."
"Hm?"
"Aku mau tanya sesuatu..."
"Apa?
"Apa yang terjadi pada dirimu setelah kau mengetahui kau mencintai Arthur? maksudku... apa kau jadi ingin menyerangnya setiap kali menyerangnya, atau telingamu menjadi merah, atau mungkin jantungmu berdetak lebih kencang, atau bagaimana?"
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu? kau kan sudah pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi... ya, kau benar. Baru kali ini, di saat aku mencintai Arthur, jantungku berdetak lebih cepat hingga aku mau menyerangnya."
"Oh, begitu kah?" Gilbert akhirnya menemukan jawabannya. Kejadian aneh pada dirinya saat ia mengingat Ivan karena ia mengalami hal yang sama dengan Francis. Ia jatuh cinta pada Ivan.
"Tunggu, jangan bilang kau juga sedang jatuh cinta?!" tebak Francis.
"Ah, tidaaak... aku hanya bertanya saja kok."
"Ada yang kau sembunyikan, Gilbo. Aku tahu itu. Di sekolah Matthew pasti ada seorang siswi yang menarik perhatianmu dan kau terpikat padanya kan?"
"Tebakanmu salah, Francis, dan sudah! Jangan bertanya lagi!"
"Kau curang, Gilbo! aku sudah bercerita kepadamu dan kau tidak mau bercerita padaku? dasar kau, tidak berpengalaman!" dengan nada pura-pura marah, Francis mencekik pelan kepala Matthew dengan kedua lengannya.
"Eh, aku tahu aku memang belum berpengalaman tapi jangann mengejekku! dasar kau pemain wanita!" Gilbert berusaha lepas, yang kemudian mendorong badan Francis ke arah kasur dan menarik tangannya ke belakang
"Eh, maaf saja. sifatku ini menurun dari ibuku!" Francis melepaskan tangannya, kemudian kakinya menyerang kaki Gilbert.
"Hm? benarkah? Aku lupa kau anak mama, Bonnefoy!" sudah tahu akan rencana Francis, Gilbert menghindar.
"dan kau seorang brother complex, Beilschmidt!" Francis membalas ejekan Gilbert, yang tanpa sadar membuat Gilbert langsung terdiam.
"Apa kau bilang? brother complex? Kau mengatakan seperti itu seakan-akan aku mempunyai saudara, Francis..."
Francis langsung menutup mulutnya saat tahu ia mengatakan kalimat yang seharusnya ia tidak boleh katakan. Francis tahu Gilbert melupakan Ludwig, dan ia sudah sepakat dengan Antonio untuk tidak mengungkit masalah Ludwig di depan Gilbert karena sepertinya Ludwig lah penyebab Gilbert kehilangan ingatan. Suasana diam sejenak karena Francis tidak tahu harus berbuat apa dan Gilbert masih bingung dengan apa yang dikatakan Francis. Gilbert masih memandangi Francis untuk menunggu Francis berbicara sedangkan Francis memilih untuk menghindari kontak mata.
"Oi kalian." Suara dari arah pintu memecah keheningan. "Kalian baik-baik saja?" di dekat pintu terlihat Arthur sedang memegang jas dan tas kerjanya. "Aku mendengar suara gaduh saat memasuki rumah.."
"Errmm... yaaaa kami baik-baik saja, ayah. Kau tahu? sudah lama Francis dan aku bercanda, jadi yaaa kami baik-baik saja." ucap Gilbert sambil tersenyum.
"Hm, baiklah. Asal kau baik-baik saja. Tidurlah kalian, ini sudah malam."
"Baik..." jawab Francis dan Gilbert, membuat Arthur memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Francis mengikuti Arthur meninggalkan ruangan karena seperti biasa, Francis tidur di ruang keluarga.
"Francis." Gilbert memanggil Francis, dan Francis menghentikan langkahnya. "Aku menunggu penjelasan darimu."
Francis yang masih berdiri membelakangi Gilbert hanya bergumam, "Iya."
X
Gilbert tidak bisa tidur. Ia terbangun di tengah tidurnya. Saat Gilbert melihat jam, jarum panjang menunjukan angka dua. Gilbert memejamkan matanya lagi untuk melanjutkan tidur, tapi sepertinya tidak bisa. Gilbert menghela nafas saat mengetahui dirinya tidak akan bisa tidur lagi, dan sepertinya ia tahu alasan mengapa ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan kalimat Francis. Gilbert masih tidak percaya ia bisa menyukai seseorang yang hanya ia temui beberapa kali, dan ia seorang pria. Baru pertama kali Gilbert mengalami hal seperti ini. Gilbert hanya tersenyum saat ia mengingat kejailan Ivan.
"Aku sudah bilang Ivan adalah orang berbahaya, bukan?!" senyuman Gilbert menghilang saat mengingat kalimat Alfred. "Ivan adalah salah satu orang yang berkuasa di kota, bukan, negara ini. Ia bisa mendapatkan apa saja yang ia mau, dan ia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Aku memperingatimu, Gilbert. Jangan terlibat atau macam-macam dengan Ivan Braginski. Sekarang kau ada di dalam tubuh adikku dan aku tidak mau hal yang buruk terjadi pada tubuh Mattie karena keterlibatanmu dengan Ivan."
Tunggu, itu artinya jika aku kembali ke tubuh asliku, aku boleh dong terlibat dengan Ivan?, serunya dalam hati yang membuat Gilbert kembali tersenyum. Tapi... Ivan kan tidak tahu aku ini Gilbet, yang ia tahu aku adalah Matthew... Gilbert kembali murung. Ia harus memberitahu kebenaran ini pada Ivan, jika ia ingin bersama Ivan. Tapi... bagaimana caranya?
Ada satu kalimat Francis lagi yang membuat Gilbert berfikir. Benarkah aku mempunyai saudara? Jika aku punya adik, seharusnya aku mengingatnya. Karena aku sangat ingin mempunyai saudara. Kita bisa bermain bersama, melalui masa sulit bersama, dan aku... tidak perlu kesepian, Gilbert menarik selimutnya untuk menutupi seluruh badannya. Kita bisa tidur bersama, berangkat sekolah, bersama, makan bersama... Gilbert masih membayangkan betapa menyenangkannya jika mempunyai seorang saudara. Ia cukup senang dengan jiwanya tertukar dengan Matthew, ia bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak.
"bruder..." Gilbert membuka selimutnya karena ia mendengar suara di sekitarnya. Ia melihat Alfred yang ternyata sedang tertidur pulas. "bruder..." suara itu masih Gilbert dengar dengan jelas. Ia tahu suara ini menggunakan bahasa ayah kandungnya, bukan bahasa Arthur maupun Alfred. Gilbert masih penasaran dengan sumber suara yang ia dengar, tapi sepertinya itu hanya imajinasi ia saja. Gilbert lebih memilih untuk mengabaikannya. Sampai Gilbert merasa ada seseorang yang berbaring di sebelah Gilbert.
Gilbert menelan ludah saat ia mengetahui ada orang di belakang punggungnya. Ia merasakan orang itu menjulurkan tangannya kemudian memeluk Gilbert. He? memeluk? Gilbert tidak percaya dengan apa yang dilakukan seseorang di belakangnya. Dengan berani, ia melihat tangan orang yang sedang memeuknya. Sepasang tangan mungil berkulit putih. "bruder..." dan orang itu memanggil Gilbert! Eh? Tunggu, tadi dia bilang apa? "bruder... maafkan aku.. aku tahu aku salah, kembalilah..." Gilbert masih bingung dengan apa yang dibicarakannya. Gilbert juga bingung kenapa tangan mungil ini gemetar. Dengan perlahan, Gilbert mengelus tangan yang sedang memeluknya untuk menenangkannya.
Tiba-tiba, Gilbert melihat banyak gambar di sebuah rol film yang panjang di hadapannya. Gambar-gambar itu bergerak cepat sehingga Gilbert merasa seperti sedang menonton film. Gilbert dapat melihat saat dirinya dan Francis bermain bersama di rumahnya, lalu datanglah ayahnya dengan membawa seorang anak kecil berambut pirang. Bersama anak kecil itu, Gilbert dan Francis terus bermain.
"Itu..."
"Apa kau sudah ingat?" Gilbert mendengar suara seseorang di sebelahnya dan ia dapat melihat seorang anak kecil berambut keriting berkacamata berdiri di sebelahnya. Tanpa Gilbert sadari, terdapat pohon besar di belakang Gilbert. Tunggu, Gilbert pernah ke tempat ini, dan itu saat...
"Aku pernah kemari setelah aku mengalami kecelakaan, benar kan Matthew?" tanya Gilbert pada anak kecil yang berdiri di sebelahnya.
"Iya, itu artinya kau sudah mengingat kenapa kau mengalami kecelakaan, bukan?"
"Aku ingin menyenangkan hati Ludwig, adikku satu-satunya namun pada akhirnya kami bertengkar. Di saat aku hendak mengembalikan mobil Francis, aku mengendarai mobil sambil menelfonnya. Membuat aku tidak menyadari adanya truk lalu, BAM! Aku tidak sadar."
"Aku senang kau sudah mengingatnya, Gilbert."
"Lalu sekarang bagaimana? Aku sudah bisa kembali ke tubuhku?"
"Belum."
"He? kenapa?"
"Itu tergantung dirimu dan Matthew, Gilbert. Jika kalian bisa menerima diri kalian masing-masing, kalian bisa kembali ke tubuh kalian masing-masing."
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, Matthew."
"Suatu saat kau akan mengerti, akan ada orang yang akan memberitahumu. Sekarang bangunlah, jangan lupa alasanmu bertukar jiwa dengan Matthew, Gilbert." Matthew tersenyum kecil kemudian menepuk pelam pundak Gilbert. Seketika itu juga pemandangan yang dilihat Gilbert berubah. Kini Gilbert melihat langit-langit kamar tidurnya.
Gilbert berusaha bangun, badannya berkeringat cukup banyak. Di lihatnya tempat tidur Alfred, sudah kosong. "Oi, bangun Gilbo!" di depan tempat tidurnya, Gilbert melihat Francis mengenakan celemek sedang berusaha membangunkannya. "Alfred sudah mandi dan sekarang ia sedang sarapan. Kau juga, bangunlah, mandi dan sarapan. Jangan sampai terlambat sekolah."
"Baiklah, Francis... aku bangun sekarang. Kau ini berisik kalau pagi hari, sama seperti Ludwig."
"Tentu saja. kita berdua harus berisik membangunkanmu di pagi hari karena... tunggu kau bilang apa?" Francis terkejut dengan apa yang baru saja yang ia dengar. Gilbert tersenyum karena Francis menyadarinya.
"Kau memang sahabatku, Francis. Iya, aku ingat semuanya tentang Ludwig."
"Ba... baga..."
"Ting Tong!" Francis tidak melanjutkan kalimatnya karena ia mendengar suara bel rumah berbunyi. Francis dan Gilbert keluar ruangan untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumah Arthur sepagi ini. Saat mereka berdua menuruni tangga, mereka dapat melihat Alfred sedang berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, mereka dapat melihat seorang pria berbadan besar sedang memegang beberapa bunga matahari di tangan kirinya.
"Selamat pagi semua!" Ivan sedang berdiri di depan pintu rumah sambil tersemyum ramah.
"Ivan?"
"Braginski?!"
"Kak Ivan!"
X
Alfred melirik Ivan dengan tatapan tidak suka. Gilbert memakan sarapannya dengan senang karena tak menyangka Ivan akan datang dan sarapan di sebelahnya. Ivan hanya tersenyum melihat Gilbert memakan sarapannya dengan lahap. Francis memakan sarapannya dengan canggung karena ia duduk di sebelah Arthur, jantungnya belum berhenti berdetak cepat hingga sekarang. Sedangkan Arthur, seolah tidak terpengaruh dengan suasana aneh di ruangan ini memakan sarapannya dengan tenang.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Arthur meminum teh yang sudah disiapkan. "Jadi, ada apa kau bertamu sepagi ini ke rumah kami, Tuan Braginski."
"Oh, maafkan atas kelancangan saya jika saya tidak memberitahu sebelumnya. Saya mendengar dari adik tercinta saya jika Matthew sudah masuk sekolah dan saya bermaksud untuk mengantarkannya ke sekolah hari ini." Alfred yang saat itu sedang minum, langsung tersedak.
"Uhuk! Uhuk... ha?!" mulutnya menganga karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Benarkah?!" beda dengan Alfred, mata Matthew langsung berbinar.
"Saya bisa mengantarkan kedua anak saya ke sekolah, Tuan Braginski. Bukan maksud saya untuk menolak tawaran anda, namun saya hanya tidak ingin merepotkan anda saja." Alfred tersenyum mendengar keputusan Arthur, sedangkan Gilbert langsung murung.
"Benarkah? Saya pikir jika anda tidak ingin merepotkan saya, anda akan langsung menerima tawaran saya." Ivan mengambil cangkir tehnya, meminum teh nya kemudian memandangi Arthur dengan dingin. Seketika itu juga Arthur merasakan badannya teasa kaku. Tdak hanya Arthur, Alfred dan Francis juga merasakan hawa di sekitar mereka mulai mendingin.
"Oh, ayolah Ayah! Jika Kak Ivan mengantarkan kami ke sekolah, kau tidak perlu terburu-buru untuk berangkat ke kantor. Iya kan, Kak Ivan?" tanya Gilbert sambil tersenyum kepada Ivan dan Ivan membalasnya dengan senyuman juga. "Jadi, boleh kan, yah?" tanya Gilbert dengan wajah memelas.
Sial kau Gilbert, jangan memelas kepadaku dengan wajah Matthew!, jerit Arthur dalam hati. "Baiklah, jika itu maumu, Matthew. Kalian bisa berangkat sekolah bersama Ivan."
"Yeay!" seru Gilbert senang.
"Apa? aku tidak mau! Berangkat sekolah dengannya! Lebih baik aku berangkat sekolah sendiri saja!" protes Alfred.
"Alfred, apa kau lupa kau ini kakaknya Matthew? berangkat bersama Matthew, begitu pula saat pulang. Kau harus bisa menjaga adikmu. Sebisa mungkin kau harus selalu bersamanya, mengerti?" sadar Arthur sedang menasihatinya, Alfred akhirnya menyerah.
"Baiklah..."
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekolah sekarang!" seru Gilbert senang kemudian membawa piring kotornya ke dapur. Ivan berjalan dibelakangnya sambil membawa piring kotor miliknya.
"Biar kubantu, Matthew." seru Ivan. Gilbert langsung tersenyum saat mengetahui Ivan akan membantunya. Dari ruang makan, Arthur mengawasi Gilbert dan Ivan. Ia tahu Ivan adalah seseorang yang bahaya. Di umurnya yang terbilang muda, ia dapat memimpin perusahaan milik keluarganya. Perusahaan yang ia pimpin langsung mempengaruhi negara ini. Mulai dari politik, ekonomi, serta keamanan negara. Arthur cukup kaget saat mendengar Alfred beberapa kali pergi kencan dengan Branginski muda, Natalya Braginski atau lebih tepatnya adik Ivan, tapi setelah melihat sifat Alfred, Arthur tidak heran Alfred dapat memikat hati si bungsu Braginski.
Sekarang, Arthur kaget ada seorang Braginski lagi yang mulai memasuki keluarganya, tak tanggung-tanggung orang itu adalah Ivan Braginski. Ia tak menyangka Gilbert mempunyai sifat yang tak jauh beda dengan Alfred, dapat memikat hati seorang Braginski. Apalagi jika dilihat sekarang, Arthur dapat melihat Matthew tertawa lepas bersama Ivan, meski Arthur tahu yang tertawa itu adalah Gilbert bukanlah Matthew. Hanya saja, Arthur sudah lama tidak melihat Matthew tertawa lepas seperti itu, "Mereka terlihat bahagia ya." tanpa sadar Arthur mengatakan apa yang terlintas di pikirannya.
Alfred saat itu sudah ada di dalam kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya, sehingga yang dapat mendengar kalimat Arthur hanyalah Francis. "Hm? mereka... Gilbert dan Ivan?"
"Sudah lama aku tidak melihat wajah Matthew seceria itu. Mungkin aku akan mengunjungi Gilbert jika nanti keadaan kembali normal."
"Kembali normal yang kau maksud itu..."
"Iya, saat jiwa Matthew sudah kembali ke tubuh asllinya, akh! Huaaam..." tak disangka, Arthur menguap dengan mulut cukup lebar.
"Kau habis begadang, ya?" tanya Francis.
"Hm... ya begitulah. Aku ingin Matthew segera kembali jadi aku membaca kembali buku-buku peninggalan ayahku hingga larut malam."
"Tidur malam tak baik untuk kecantikan wajah loh, Arthur."
"Haha, sejak aku mempunyai Alfred dan Matthew, aku sudah tidak memikirkan itu. Lagipula, mana ada orang yang mau denganku. Sudah sibuk dengan pekerjaan, sibuk juga mengurus anak. Ah, tapi terima kasih atas peringatanmu. Ternyata dugaanku tentang dirimu yang merawat diri itu benar!" Arthur tidak sadar, tapi ia sedang tersenyum kepada Francis sekarang, membuat wajah Francis memerah seketika.
"Ayah, kami berangkat dulu ya!" terdengar suara Alfred dan Matthew yang kompak secara bersamaan dari arah pintu masuk rumah.
"Ya, hati-hati!" sahut Arthur yang kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Sudah waktunya juga aku berangkat kerja. Aku duluan ya." sahut Arthur kemudian berjalan menuju pintu keluar dan memakai sepatunya.
"Siang ini, kau ingin makan apa?"
Arthur berhenti memakai sepatunya, "kau ingin mengantarkan makan siangku lagi?"
"Jika kau tidak keberatan... lagipula aku bosan jika seharian di dalam rumah dan tidak melakukan apa-apa."
"... Aku ingin makanan laut, terserah makanan apa saja, dan jika kau ingin mengantarkannya ke kantorku, hubungi seketarisku terlebih dahulu, Elizaveta."
Mata Francis langsung terbelak kaget saat mendengar nama tersebut. "Kau bilang siapa?"
"Elizaveta... seketarisku. Kenapa kau mengenalnya?"
"... sepertinya. Jika tebakanku benar, aku harus masak dua porsi makan siang hari ini..."
X
Semua mata tertuju pada Gilbert saat Gilbert turun dari mobil Ivan. Ia mengucapkan terima kasih kepada Foma yang telah membukakan pintu untuknya. Alfred turun setelah Gilbert. Seolah meninggalkan Matthew, ia berjalan duluan menuju ke gedung sekolah.
"Terima kasih, Kak Ivan." Kata Gilbert pada Ivan yang kini berdiri di sampingnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang kau mau kuantar, dan tak kusangka kau tahu banyak mengenai tempat wisata bersalju. Lain kali ayo kita liburan bersama." ajak Ivan. Gilbert hanya tersenyum sedih padanya.
Sepanjang perjalanan, Ivan bercerita tentang berbagai tempat yang pernah ia kunjungi dimana Gilbert pernah mengunjunginya juga. Di dalam mobil, hanya mereka berdua yang mengobrol. Alfred mendengarkan musik dan Foma sibuk melihat pemandangan jalan. Gilbert merasa semakin nyaman dengan Ivan. Ia merasa ingin bepergian bersama dengan Ivan ke tempat yang mereka bicarakan. Karenanya saatt Ivan mengajaknya liburan bersama, Gilbert hanya tersenyum sedih, karena yang Ivan ajak adalah Matthew bukan Gilbert.
"Ya, ayo kita liburan bersama." meski begitu, Gilbert mengajak ajakan Ivan. "Aku pergi ke kelas dulu ya." Gilbert melambaikan tangannya sampai mobil Ivan pergi. Ia tak menyangka pagi ini Ivan datang ke rumahnya. Tak tanggung-tanggung Ivan mengantarnya pergi ke sekolah. Perasaannya menjadi ringan, seakan-akan ia siap untuk menghadapi teman-temannya hari ini. Termasuk sekarang.
"Hei lihat, Matthew datang!"
"Kau lihat tadi ia datang dengan mobilnya Ivan Braginski?"
"Hm, dan ia datang tanpa didampingi Alfred? Tumben sekali."
Gilbert juga mendengar bisikan lain.
"Dia datang bersama Ivan? Yang benar saja?! gawat..."
"Kita tidak boleh ceroboh kali ini."
Gilbert sebenarya bingung dengan bisikan orang-orang hari ini. Biasanya mereka membisikan Matthew karena Matthew terlihat lemah, tak berdaya. Namun hari ini, mereka membisikan Matthew karena Ivan datang bersamanya? Seterkenalkah Ivan itu? Hingga seluruh sekolah membicarakannya, lebih tepatnya kaget. Bisikan tentang Matthew terus Gilbert dengar hingga Gilbert berdiri di depan pintu kelas. Pintu kelas tertutup, tidak sepeti biasanya. Gilbert tahu teman-teman Matthew merencanakan sesuatu, namun ia belum tahu apa rencana mereka. Gilbert pun membuka pintu kelas dengan santai dan...
"Byaaar" air jatuh membasahi Gilbert saat memasuki kelas. Orang-orang yang berada di dalam kelas berusaha menahan tawa, sedangkan orang-orang yang berada di luar kelas berwajah pucat.
Gilbert berusaha sabar. Dilepaskan kacamatanya kemudian ia menyingkirkan poni yang menghalangi pemandangannya. Meski terlihat buram, Gilbert berjalan menuju meja belajar Matthew. Beruntung, hari ini teman-teman sekelasnya tidak mengotori meja belajar Matthew. ditaruh kacamata dan tas sekolahnya di atas meja, kemudian Gilbert melepas baju seragamnya. Gilbert juga melepaskan kaos dalamannya sehingga teman-temannya dapat melihat Matthew bertelanjang dada. Diambilnya baju ganti dari dalam tas sekolahnya, dan Gilbert segera memakainya. Setelah selesai memakai baju ganti, Gilbert merapikan poni rambutnya yang berantakan kemudian memakai kacamatanya.
Begitu memakai kacamata dan sudah melihat kembali dengan jelas, Gilbert sadar sedari tadi teman-teman sekelasnya memandangnya. Mereka langsung membuang muka setelah mata mereka bertatapan. Gilbert sadar, wajah para siswi di kelasnya memerah, dan sebagian besar berusaha mencuri pandang. "Mereka kenapa ya?"
X
Aneh, Gilbert merasa hari ini aneh. Biasanya, saat istirahat para siswa mengajaknya 'bermain', namun kali ini mereka seolah menghindari Gilbert. Saat mereka berpapasan, biasanya mereka akan mengejek Matthew, namun kali ini wajah mereka terlihat ketakutan setiap kali berpapasan dengan Matthew. sikap aneh juga ditunjukkan pada para siswi di kelasnya. Tak biasanya mereka mengajak bicara Matthew atau bahkan mengajak untuk makan siang.
"Ne, Matthew, ayo kita makan siang bersama!" ajak salah satu siswi di kelasnya.
"Maaf... hari ini aku bawa bekal, jadi aku makan siang di kelas saja." tolak Gilbert.
"Eh, aku juga bawa bekal. Ayo kita makan bersama di kelas!" ajak siswi yang lain.
"Aku ikut!"
"Eh, aku juga mau makan siang bersama Matthew!" lihat? Bahkan mereka sampai rebutan supaya bisa makan siang bersama Matthew. Keanehan ini terungkap saat pulang sekolah. Sepeti biasa, para murid saling berbisik membicarakan dirinya.
"Kita tidak boleh macam-macam dengan Matthew sekarang, ia sudah berteman dengan Ivan Braginski!"
"Yang benar saja? Akh! Jadi tidak seru!"
"Nee nee, kau tahu tadi? Matthew ganti baju di dalam kelas dan kyaaa... aku tidak menyangka ia mempunyai badan sebagus itu."
"Iya, aku juga lihat! Apalagi saat ia menyibakan poninya, kyaaa terlihat keren sekali tanpa kacamata."
"Adik kembarnya Alfred memang keren!"
Gilbert tersenyum sendiri mendengarnya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini. Dipuji orang, bahkan ada yang mengaguminya. Sepetrinya ia sudah memperbaiki sedikit reputasi Matthew di mata para siswi. Gilbert menoleh ke arah dua orang siswi yang membicarakannya tadi dan tersenyum kepada mereka.
"Kyaaaa... ia tersenyum kepadaku!"
"Tidak, ia tersenyum padaku!"
Gilbert melanjutkan perjalanan dan menghiraukan mereka. Kali ini ada yang menyapanya dan Matthew membalasnya. Ah, aku menyesal waktu itu masuk ke sekolah khusus pria... aku mengerti perasaan Francis sekarang mengapa ia sangat senang dipuji wanita, ucap Gilbert dalam hati.
"Plak." Tiba-tiba Gilbert merasa ada yang memukul kepalanya dengan pelan.
"Jangan merasa senang hanya karena dipuji wanita, Gilbert." Terdengar suara Alfred dari belakang.
"Baru kali ini aku dipuji oleh wanita di sekolah, tahu. berhubung sekolahku dulu sekolah khusus pria..." ucap Gilbert dengan muka cemmberut karena tidak suka Alfred memukul kepalanya.
"Tapi baru kali ini aku melihat ada yang menyapa Matthew. Biasanya mereka tidak perduli dan bahkan sering mempermainkan Matthew. Kau keren juga, Gilbert." Puji Alfred.
"Huh, apa kau tidak tahu? julukanku di rumah adalah Gilbert yang Luar Biasa!" kata Gilbert bangga.
"Ya ya, sekarang aku tahu. Sekarang ayo kita pulang. Sepertinya Artie menjemput kita lagi." Alfred kemudian menarik tangan Matthew dan berjalan menuju tempat parkir. Gilbert merasa tangan Alfred menggenggamnya dengan hangat.
"Apa kau suka menggenggam tangan Matthew?" tanya Gilbert.
"Ah, iya.. sedari kecil kita selalu berdua. Saat orang tua kita meninggal pun, kami hanya tinggal berdua. Saat di panti asuhan pun kita ingin diangkat oleh orang tua angkat yang sama. Karenanya saat Arthur datang, Matthew sangat senang. Aku kakak Matthew, tugasku adalah melindungi dan menemani Matthew karena ia mudah kesepian. Menggenggam tangannya adalah hal yang mudah untuk membuktikan padanya bahwa aku selalu ada untuknya. Kau merasa tidak nyaman aku genggam tanganmu seperti ini?"
"Tidak, aku merasa nyaman kok. Aku sudah lama sekali tidak merasakan kehangatan sepeti ini."
Tiba-tiba, Alfred berhenti melangkah. Gilbert dapat melihat wajah serius Alfred. "Aku tahu di hadapanku mungkin tubuh adikku namun rohnya bukanlah roh adikku. Mungkin sekarang ia tidak bersamaku, tapi dengan menggenggam tangan ini, aku sadar ia ada di sisiku. Maafkan aku jika aku egois, tapi aku sangat berharap kau bisa kembali ke tubuhmu, Gilbert. Aku rindu Matthew."
Gilbert menelan ludahnya saat melihat wajah serius Alfred. Ia tidak ingin kembali ke tubuh aslinya, belum. Ia baru saja merasakan rasanya disayang oleh saudara sendiri, bahkan rasa sayang dari seorang ayah, dan kini ia harus kembali ke tubuh aslinya? Meski ia sudah memenuhi keinginan Matthew, disayang bahkan dipuji oleh orang-orang sekitarnya, tapi masih ada hal lain yang belum Gilbert lakukan. Ivan.
"Oooi..." Alfred dan Matthew menoleh saat mendengar suara Francis.
"Francis? Kenapa kau kemari lagi?!" Alfred dan Gilbert berjalan menuju mobil Arthur yang terparkir di belakang Francis.
"Ia baru saja mengantarkan makan siang ke kantorku dan ia ingin ikut menjemput kalian." dari tempat duduk sopir, Arthur mengeluarkan kepalanya dari jendela agar bisa berbicara dengan Alfred dan Matthew. "Aku tak menyangka Elizaveta, sekretarisku ternyata sepupumu, Gilbert." Kata Arthur kepada Gilbert yang berdiri di belakang Alfred.
Gilbert diam, tidak merespon. Pikirannya sedang kacau sekarang. Perkataan Alfred tentang keinginan dirinya agar Matthew kembali ke tubuh aslinya, membekas di pikirannya. Ia masih tidak mau kembali. Tidak sekarang!
"Gilbert Beilschmidt!" teriakan Francis tepat di telinga kiri Matthew membuyarkan lamunan Gilbert.
"Bonnefoy! Apa yang kau lakukan ?!" Gilbert langsung memarahi Francis.
"Arthur menanyaimu, Gilbo namun kau tidak menjawabnya."
"Eh? Apa? kau mengatakan sesuatu padaku, Ayah?"
"Ya, aku bilang aku tida kenyangka sekretarisku, Elizaveta ternyata adalah sepupumu."
"HA? Benarkah itu Francis?" tanya Gilbert tidak percaya. "Kenapa Ayah mau memperkerjakan nenek sihir dii kantornya?!"
"Jangan mengejeknya! Elizaveta tetap saudaramu loh!" kata Francis mengingatkan, lalu Francis merangkul Gilbert dan membisikkan sesuatu di telinga Matthew. "Aku perlu bicara padamu, ini mengenai Elizaveta dan Ludwig juga."
"Ah, ke kamarku saja, aku akan menunggu."
"Hei, apa yang kalian bicarakan?" dari belakang mereka, terdengar suara Alfred dengan nada tidak senang.
"Pembicaraan sahabat, ya kan Gilbo?"
"Iya, ayo kita pulang sekarang."
X
Arthur mengambil beberapa buku dari rak bukunya. Dibukanya satu per satu halaman dari buku yang ia anggap berhubungan dengan kejadian tidak biasa yang menimpa pada anaknya, pertukaran roh. Arthur membukanya sambil duduk di kursi kantornya. Sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya agar buku yang ia baca terlihat dengan jelas.
Saat sedang serius membaca, Arthur merasa ada sesuatu yang mendekatinya. Seorang anak kecil berambut pirang mendekati Arthur dengan penasaran. "Peter!" Arthur menyadari kehadiran Peter dan memperbolehkan Peter untuk duduk di pangkuan Arthur. "Tumben sekali kau datang kemari di jam sekarang."
"Aku hanya penasaran dengan apa yang kau baca, sedari kemarin kau selalu sibuk membaca buku sehingga kau jarang bermain denganku."
"Ehm, maafkan aku, Peter. Kau tahu kan apa yang terjadi pada Matthew? aku ingin ia segera kembali dengan membaca buku-buku peninggalan Ayah, mungkin saja itu membantu."
Peter terdiam mendengar perkataan Arthur. Tak lama, ada sebuah buku yang keluar dari rak buku dengan sendirinya dan buku tersebut mendekati Arthur. Dengan sendirinya pula, buku itu terbuka dan berhenti di halaman tertentu. "Mungkin ini bisa membantu."
Arthur meraih buku itu dan membacanya. "Saat jiwa dua insan sudah tertukar, mereka akan memimpikan diri mereka yang sebenarnya, diri mereka yang tidak ingin mereka inginkan sehingga mereka memutuskan untuk bertukar jiwa. Selama mereka masih belum menerima diri mereka dalam mimpi tersebut, jiwa mereka tidak akan pernah kembali seperti semula. INI DIA! AKU MENEMUKAN CARA AGAR MATTHEW KEMBALI!" Arthur langsung berdiri kegirangan. "TERIMA KASIH PETER! KAU MEMANG SEORANG KIRKLAND YANG KUBANGGAKAN!" Arthur langsung mencium pipi Peter.
"Tok tok" tak lama, Arthur mendengar suara ketukan pintu. "Arthur? Kau tak apa-apa?" Francis muncul di balik pintu.
"Ah, iya! Dengar Francis!" dengan girang Arthur berjalan menghampiri Francis. "Aku sudah menemukan cara supaya jiwa Matthew dan Gilbert kembali seperti semula!"
Wajah Francis langsung memucat. Ini dia, hal yang belum siap didengar Francis. "Oh ya? apa itu?"
"Jadi, saat tidur, mereka akan bertemu dengan diri mereka yang asli. Mereka hanya perlu menerima diri mereka sendiri dan mereka sudah bisa kembali ke tubuh mereka sendiri!" Francis berusaha tegar mendengarnya. "Jika mereka sudah melakukan ini, kau sudah bisa kembali ke rumahmu! Bukankah itu menyenangkan?" tanya Arthur dengan wajah senang.
Gawat, Francis sudah tidak kuat. Francis tiba-tiba mendorong Arthur ke tembok dan meeenciumnya. Mata Arthur langsung membelak kaget dengan aksi spontan Francis. Wajah Francis langsung dipukul oleh Arthur, membuat Francis mundur beberapa langkah. "Huh, sebegitu inginnya kah kau ingin aku pulang, Arthur?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab dulu kenapa kau melakukan itu kepadaku?!" tanya Arthur dengan nafas terengah-engah.
"Bukankah jelas karena aku mencintaimu, Arthur!" mata Arthur kembali membelak kaget mendengarnya. "Aku jatuh cinta padamu saat aku melihat matamu saat kau menculikku, dan... dan selama kita tinggal bersama, aku sadar aku punya perasaan padamu. Aku mencintaimu, Arthur! Aku belum ingin pulang! Aku belum ingin Gilbert kembali ke tubuhnya!"
"Huh, jangan bercanda, Francis. Kita sesama pria dan aku punya anak yang harus aku urus!"
"Aku tidak perduli! Aku tidak perduli apa gendermu, berapa anak yang kau punya, aku tetap mencintaimu!" teriak Francis. "Percayalah padaku, Arthur. Aku serius padamu. Aku mencintaimu... aku... aku tidak ingin pulang, aku ingin bersamamu."
"Pergi..." satu kata yang diucapkan Arthur, membuat Francis kaget. "Aku tidak bisa menerima cintamu jika kau hanya akan menghambat Matthew kembali ke tubuhnya..." Francis melihat Arthur menatapnya dengan tatapan dingin. "dan aku tidak pernah percaya satu katapun yang kau ucapkan tadi."
Hati Francis berdenyut sakit. Ia memang sudah sering ditolah wanita, tapi oleh pria, baru kali ini Francis mengalaminya. ia ingin menangis rasanya, tapi tidak di hadapan Arthur. "Baik, aku akan pergi. Aku akan sampaikan apa yang kau ucapkan kepada Matthew yang sekarang di tubuh Gilbert." Francis membalikkan badannya dan membuka pintu kamar. "Agar membuatmu tambah senang, aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Selamat tinggal." Francis menutup pintu kamar Arthur dan kini ia berjalan menuju kamar Alfred dan Matthew.
Saat membuka pintu kamar, Francis melihat Matthew sedang duduk di atas tempat tidur. Francis dapat melihat wajah panik Matthew saat Francis memasuki kamar. "Astaga Francis, kau kenapa? tadi aku mendengar suara keras dari kamar Arthur, kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. yang lebih penting, aku harus pergi, Gilbert."
"Ha? Kau mau pergi kemana?"
"Aku akan pulang, malam ini juga. Aku sudah diberitahu oleh Arthur bagaimana jiwa kalian bisa kembali ke tubuh kalian masing-masing dan aku akan memberitahu Matthew yang mungkin sekarang ada di dalam tubuhmu. Jaga dirimu, Gilbert."
Bagaikan petir di dalam pikirannya, Gilbert mematung mendengarnya. Aku belum bilang padamu aku tidak ingin kembali ke tubuh asliku, Francis.
Sudah saya ingatkan bukan jika cerita ini mengandung unsur shounen ai :3 semoga kalian para shipper Fruk tidak membenci saya #plak #ditendang. Untuk bisa memudahkan kalian mengenali siapa itu Peter, aku harap kalian membaca spin off dari Exchange yang berjudul Guardian. Dan aku punya pengunguman penting lainnya untuk kalian. Mungkin kalian sudah mengikuti alur cerita ini, dari kisah Gilbert, ke kisah Matthew, ke kisah Gilbert lagi, dan seterusnya. For your information, aku merencanakan chapter ini tamat di chapter 17! Saya harap sebelum ulang tahun Exchange yang kedua saya sudah menyelesaikan chapter selanjutnya.
Saran dan kritik saya terima, jadi R&R please...
