Hai, Arisa disini. Kaget ya chapter yang ini cepat sekali update nya? Haha... aku merencanakan meng-update chapter ini setelah menyelesaikan semua deadline fanfic ku untuk comifuro nanti, namun saat membaca review dari pembaca dan aku melihat ada kalimat mohon... aku segera menyelesaikan chapter ini, haha. Jujur, aku tidak tahan jika ada orang yang memohon padaku. Dan sesuai janjiku pada .3, chapter ini update setelah tanggal 21 April
Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini! Saya sangat terharu dengan review kalian, dan saya tidak menyangka jumlah follow dan favorite cerita ini juga meningkat! Saya bahkan tak menyangka review dari kalian sudah mencapai 90! Saya... hanya bisa membungkukkan badan dan mengucapkan arigatou gozaimasu! *bow*
Terima kasih juga untuk para pembaca yang sudah membaca spin-off dari cerita ini~
Acriel Braginschmidt : maaf ya jika chapter kemarin update nya lama /ditendang. Maaf jika menemukan beberapa typo juga. saya hanyalah manusia biasa. Silahkan dibaca chapter 15 nya~ thanks for the review...
Yumi Marakami : ... jika saya perlihatkan scence naked Matthew, mungkin rate cerita ini akan naik menjadi R-18... / ditampar. Kebadass Matthew mungkin bisa dilihat di chapter selanjutnya (mungkin...) ... tidak hanya Alfred kok, Elizaveta juga straight (meski tidak tahu dengan siapa, haha) saya harap update chapter ini tidak lama bagi Anda~ thanks for the review...
Ajeng Mustika : haik, silahkan... thanks for the review...
Adinchii : halo! Selamat datang dan selamat sabar saat menunggu update-an /ditendang. Yup, Ivan melihat Gilbo sebagai Matthew. ah, jarak umur mereka gak ampe 20 tahun kok, jadi belum pedo /ditembak pake senapan ama Ivan. thanks for the review...
Kaizen Katsumoto : ... maaf jika ada typo X( hm... benarkah? Maaf jika merasa alur ceritanya terlalu cepat m(-_-)m. Yup, umur cerita ini sudah mau memasuki tahun kedua. Dan... yap... tinggal beberapa chapter lagi sebelum tamat! Terima kasih atas semangatnya! thanks for the review...
HetaliaFeliciano : saya juga kangen dengan anda dan review anda /ditendang. Terima kasih tetap menunggu cerita ini m(-_-)m. Hm... yakin cinta Francis akan terbalas? *smirk* Rusia nya? Mungkin sisi gelap Ivan akan saya tampilkan, entah di chapter selanjutnya atau di chapter lain... alhamdulilah saya belum berhadapan dengan alien bernama skripsi, baru bertemu dengan moster bernama IP dan IPK, haha. thanks for the review...
MapleLeafGirl : ... jangan memohon, aku merasa tidak enak /bersembunyi. Saya paling lemah dengan kata mohon... /sembunyi lagi. Matthew akan bertemu dengan Alfred di chapter... hehe. Silahkan tunggu ya
Warning : 1) typo, saya hanya manusia biasa, jadi kemungkinan akan ada banyak kesalahan ketik dalam cerita ini 2) boy x boy, akan ada klimaks dari NetCan di sini, hehe 3) saya sedang butuh bantuan anda. Baca cerita ini hingga akhir, dan saya akan bertanya pada Anda di akhir cerita. Mohon beri jawaban dan bantu saya!
Disclaimer : I own nothing. Matthew milik Arjan, bukan saya /dilemparin batu jumroh.
Chapter 15 : Ich gehe nach Hause (I'm going home)
Matthew membuka matanya. Ia dapat merasakan angin berhembus melewatinya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia melihat kedua orang tuanya sedang di belakangnya. Mereka berdua tersenyum lembut pada Matthew. Matthew membalikkan badannya dan membalas senyuman mereka dengan senyuman juga. Ah, sudah lama ia tidak melihat senyuman kedua orang tuanya. Matthew bisa saja menghampiri mereka berdua seperti hari-hari sebelumnya, tapi ia tahu akan ada Arthur dan Alfred setelah ini yang akan memanggilnya.
"Mattie." Benar kan? Matthew kini dapat mendengar suara Alfred. Matthew ingin membalikkan badannya lagi dan melihat Alfred serta Arthur. Namun, ia tahu ada sesuatu di belakang Alfred. Sebuah bayangan hitam besar yang mengeluarkan suara yang tidak ingin Matthew dengar. Karenanya, Matthew memilih untuk diam, tak bergerak.
Aku akan bangun, aku akan bangun, seolah ingin segera melewati ini, Matthew mengucapkan kalimat yang sama berkali-kali. Matthew tahu, jika ia bersabar sebentar lagi, ia akan terbangun dari tidurnya. Namun, ia tidak tahu mimpi kali ini berbeda. Bayangan yang tadinya ada di belakang Alfred dan Arthur, kini menghampirinya.
Ia kah Matthew adiknya Alfred? Cih, kenapa ia tidak setampan kakaknya?, Tidak
Lari keliling lapangan tiga kali saja kau tidak kuat? Bagaimana kamu ini, kakakmu saja bisa sampai sepuluh kali, Tidak
Ia lebih cocok kita pakaikan dengan pakaian wanita sepertinya, TIDAAAAK
Tak tahan dengan suara dari bayangan tersebut, Matthew terjatuh. Ia berusaha sekuat tenaga menutup kedua telinganya supaya suara itu tidak terdengar, Matthew juga menutup matanya agar ia tidak melihat bayangan yang mengelilinginya.
"Papa... Mama..." Matthew mulai memanggil kedua orang tuanya. "Ayah.. Kak Alfred..." lalu memanggil Arthur dan Alfred. "A... Arjan..." tanpa sadar, Matthew memanggil nama sahabatnya. Matthew tak tahu kenapa ia memanggil Arjan. Ia hanya ingin Arjan menolongnya dari bayangan hitam yang menyelimutinya ini.
Tuk.
Matthew merasa ada seseorang berdiri di hadapannya. Perlahan Matthew membuka matanya dan mendongakkan kepalanya. Matthew dapat melihat seorang pria dengan tubuh yang tinggi dan berambut cepak. Dari tatapan matanya, Matthew tahu siapa yang berada di hadapannya, "Arjan!" wajah Matthew berubah cerah. Bayangan hitam dan suara aneh sudah tidak menyelimuti Matthew lagi, kini Matthew bisa berdiri lagi. "Arjan! Kau datang!" Matthew senang karena ia tak menyangka Arjan akan datang saat Matthew memanggilnya.
Tak ada jawaban dari Arjan. Arjan pun memandang Matthew dengan tatapan dingin. "Siapa kau?" tanya Arjan dengan nada dingin.
"Eh?" Matthew terkejut dengan jawaban Arjan.
"Aku tidak mengenalmu. Kau siapa?"
"Aku... aku Matthew..."
"Aku tidak mengenal orang yang bernama Matthew. Maaf, sepertinya kau mengenali Arjan yang salah." Arjan menepis tangan Mattthew yang sedari tadi memegang lengan Arjan. Arjan kemudian berbalik dan berjalan menjauhi Matthew.
"Arjan... Arjan... aku tidak salah mengenalimu..." Matthew berusaha mengejar Arjan, "Kita... kita sahabatan, Arjan. Kau dan... aku... kita..." langkah Matthew terhenti ketika ada seseorang yang mendekati Arjan. Seorang pria berambut putih dan berkulit pucat. Pria itu menyapa Arjan dengan semangat, dan Arjan menghampirinya dengan senyuman. Pria itu adalah Glibert.
"TIDAAAK!" Matthew langsung terbangun dari mimpinya. Nafasnya masih terengah-engah, dan tanpa sadar selimutnya basah. Bukan hanya karena keringat, tapi juga air mata. Matthew masih berusaha mengatur nafasnya. Setelah sadar apa yang ia mimpikan semalam, ia mulai menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak mau kembali ke tempatnya semula, ia tidak ingin berpisah dengan orang-orang sekitarnya sekarang, ia tidak mau berpisah dengan Arjan. Ia memang merindukan Arthur dan Alfred, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Arjan. Ia tidak ingin Arjan membencinya. Tidak, setelah ia menemukan ada orang selain keluarganya yang menyayanginya.
Mata Matthew terasa sakit karena ia menangis terlalu lama pagi ini. Meski begitu, ia tetap memaksakan dirinya untuk turun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. "Selamat pagi, Matthew." Matthew melhat Sigmund sudah duduk di tempat makan dengan koran di tangan kanananya.
"Selamat pagi, Vati." Sapa Matthew sambil tersenyum. "Bagaimana tidurmu semalam?"
"Nyenyak.. meski awalnya saya tidak merasa nyaman tidur di kamar yang sudah disiapkan Gilbert, kini sepertinya aku tidak bisa tidur jika tidak tidur di kamar..." Matthew hanya tersenyum mendengarnya. Sigmund, ayah kandung Gilbert dan Ludwig, sangat berbeda dengan Arthur. Sigmund adalah seorang yang pendiam, tidak banyak berbicara dan jarang tersenyum.
"Pagi, Kak." Kini Matthew mendengar suara Ludwig dari arah dapur. "Kau lebih suka telur mata sapi atau omelet, Matt?"
"Aku suka keduanya." Matthew berjalan menuju dapur untuk melihat apa yang Ludwig lakukan. "Kau sedang apa?"
"Aku sedang membuatmu bekal. Hari ini kau akan bekerja di toko bunga lagi, bukan? akan kusiapkan makan siangmu."
"Terima kasih, Ludwig. Tapi aku berharap kau membuatkanku panekuk untuk makan siang..."
"Kemarin sudah kubuatkan panekuk, jadi hari ini menu nya berbeda..."
"Baiklah... terima kasih ya kau sudah membuatkanku sarapan." kata Matthew sambil tersenyum. "Aku akan mandi setelah sarapan, jadi tunggu aku ya."
"Jangan mandi terlalu lama atau aku akan telat..." Matthew hanya bergumam mendengar peringatan Ludwig. Ia duduk di meja makan lalu memakan sarapannya. Setelah itu, Matthew mandi dan mulai mempersiapkan barang bawaannya untuk bekerja. Setelah selesai, ia keluar kamar dan menghampiri Ludwig yang sudah menunggunya di pintu keluar rumah.
"Vati, kami berangkat." Seru Mattthew dan Ludwig bersamaan. Sigmund hanya melambaikan tangannya saat melihat kedua anaknya akan keluar rumah.
"Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam ya." pesannya. Ludwig dan Matthew hanya tersenyum, kemudian mereka menutup pintu rumah.
"Selamat pagi, Ludwig-san, Matthew-san." Kiku sudah berada di pintu pagar rumah mereka.
"Pagi, Kiku." sapa Ludwig.
"Pagi!" Matthew juga ikut membalas sapaan Kiku.
"Hari ini kau bekerja di toko bunga milik Nyonya Jane lagi?" tanya Kiku.
"Hm, aku bekerja di sana seminggu tiga kali sekarang. Lagipula menyenangkan bisa bekerja dengan bunga-bunga." jawab Matthew senang. "Meski aku harus diantarkan Ludwig untuk bisa kesana dan harus dijemput juga olehnya saat waktunya pulang, hehe."
"Aku tidak menyangka hingga sekarang kau belum hafal jalan di kota ini, Matthew."
"Hm... mungkin kau merupakan salah satu orang yang buta arah?" tanya Kiku.
"Mungkin, hehe..." jawab Matthew sambil tersenyum. "Di kota tempat tinggal asliku aku juga sering tersesat jika tidak ditemani ayah dan kakakku. Jadi ya... mungkin aku termasuk orang yang buta arah."
Kiku melirik ke arah Ludwig saat melihat raut wajah Matthew terlihat sedih. Ludwig hanya menggelengkan kepalanya. "Kau rindu mereka?"
"Iya, aku rindu mereka..." meski aku tidak ingin kembali ke tempat mereka dulu untuk sekarang, batin Matthew dalam hati. "Tapi sepertinya untuk sekarang aku harus menganggap Ludwig sebagai kakakku dan Sigmund sebagai ayahku.."
"Hei, aku ini adiknya Gilbert, seharusnya kau menganggap aku seperti adikmu." protes Ludwig.
"Tapi kau yang lebih sering mengurus rumah, Ludwig. Aku tidak pernah mempunyai adik jadi aku tidak tahu jika kau adikku, apa yang harus kulakukan... aku boleh kan jadi adiknya Ludwig, Kiku?" kali ini Matthew bertanya pada Kiku.
"Tentu saja boleh, Matthew-san. Lagipula biasanya meski Ludwig-san adalah adiknya Gilbert-san, tapi ia terlihat seperti kakaknya Gilbert-san..."
"Yeaay.." Matthew terlihat puas dengan jawaban Kiku. Sedangkan Ludwig hanya menghela nafas.
"Baiklah, kak. Sekarang kita sudah sampai di toko bunga. Pergilah bekerja dan tunggu aku menjemputmu."pesan Ludwig.
"Baik. Baik..." Matthew kemudian mencium kening Ludwig. "Aku bekerja dulu." Kemudian masuk ke dalam toko. Wajah Ludwig memerah setelah Matthew mencium keningnya. Kiku hanya tersenyum kecil melihatnya.
"Apa yang kau tertawakan, Kiku?" tanya Ludwig dengan nada tidak senang.
"Aku hanya tidak menyangka aku bisa melihat wajahmu memerah setelah Gilbert-san mencium keningmu. Sepertinya kau sudah tidak membenci kakakmu."
Ludwig terdiam, perkataan Kiku ada benarnya. Tak pernah ia membayangkan ia bisa bersikap seperti ini saat Gilbert menunjukkan rasa sayangnya pada Ludwig. "Kau benar. Aku juga tidak menyangka." Ludwig dan Kiku kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah. "Aku baru sadar apa yang kakakku lakukan selama ini karena ia menyanyangiku. Ia tahu aku akan terluka jika aku mengetahui keadaan ayah tiriku dan ibuku. Karenanya ia berbohong, demi kebaikanku. Tapi aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menganggapnya penjahat..."
"Maafkan kami, Ludwig-san." Ludwig menoleh ke arah Kiku, "Kami tahu keadaan Gilbert namun kami diminta untuk tidak menceritakannya padamu. Kami merasa bersalah sebenarnya padamu, namun kami juga tidak bisa menolak permintaan Gilbert."
"Tidak apa-apa. Kiku. Keluargamu sudah banyak membantuku dan kakak. Jadi aku tidak bisa marah padamu jika itu keputusan yang kau dan keluargamu ambil. Lagipula..." Ludwig berhenti berjalan, meski pintu pagar sekolahnya tinggal beberapa centimeter dari kakinya. "Aku bersyukur jiwa kakak dan Matthew tertukar. Jika tidak, aku tidak bisa mengetahui kebenaran yang dirahasiakan kakakku, dan mungkin ayah tidak akan pulang ke rumah lagi... jika jiwa mereka sudah kembali ke tempat semula, mungkin aku akan mengunjungi Matthew dan keluarganya sebagai bentuk terima kasihku."
Kiku bisa melihat Ludwig tersenyum, suatu hal yang jarang dilihat oleh Kiku. Pertukaran jiwa ini, membuat Ludwig berubah, dan sama seperti Ludwig, mungkin Kiku harus berterima kasih pada Matthew karena ini. "Hari ini kau membawa barang lebih, Ludwig-san. Apa yang kau bawa?" tanya Kiku saat mereka kini melanjutkan perjalanan menuju kelas mereka.
"Oh, ini. Ini bekalku dan... astaga!" Ludwig berhenti berjalan saat teringat sesuatu. "Aku lupa memberi Matthew bekal makan siangnya!"
"Gilbert~ kau sudah boleh istirahat siang sekarang." Seru Jane dari dalam toko.
Matthew yang kala itu sedang menyiram bunga yang ada di luar toko pun menjawab seruan Jane. "Baiklah!" dimatikannya keran untuk menyiram, kemudian ia masuk ke dalam toko. Ia melepaskan celemeknya, kemudian duduk di meja. Pekerjaan hari ini lumayan sibuk. Banyak orang yang datang untuk memesan buket bunga. Jane bilang banyak pelanggan mengunjungi toko mereka karena Gilbert sudah kembali bekerja. Banyak orang yang ingin melihat Gilbert kembali bekerja lagi sehingga banyak yang mengunjugi toko mereka hari ini. Matthew tentu senang, baru kali ini ada orang selain keluarganya yang memperhatikan dirinya. Sedari tadi ia tak berhenti tersenyum jika mengingatnya.
Perut Matthew berbunyi, tandanya ia untuk makan. Matthew berdiri untuk mengambil bekal makan siangnya. Namun ia terkejut saat tidak menemukan kotak makan yang biasa ia bawa di dalam tasnya. "Gawat..." kalau ia tidak membawa bekalnya, makan apa ia siang ini?
"Ada apa?" Jane yang melihat Gilbert terlihat panik bertanya padanya.
"Hm.. ano... Jane, apa boleh aku minta sedikit gajiku hari ini? Hm... aku lupa membawa bekal makan siangku dan... aku hanya membawa uang koin... jadi... aku minta sedikit gajiku hari ini supaya aku bisa makan..." Matthew malu sebenarnya pada Jane. Bagaimana mungkin ia, sebagai karyawan meminta gaji lebih awal pada atasannya. Ia pasti membuat malu Gilbert sekarang. Maafkan aku Gilbert...
"Kau lupa membawa bekalmu? Hahaha... jangan malu-malu kepadaku, Gilbert. Kita bisa berbagi makan siang jika kau mau..."
"Tidak, tidak... porsi makan siangku lebih banyak daripada punyamu, Jane. Jadi lebih baik aku membeli makanan..."
"Hm... baiklah. Sebentar." Matthew melihat Jane mengambil tas dan mengeluarkan dompet. "Ini, aku mentraktirmu."
"He? mana bisa?"
"Tentu saja bisa, aku ini atasanmu. Kau sudah banyak membantuku, Gilbert. Tak bolehkah aku mentraktirmu? Sekarang cepatlah makan siang, sebelum jam kerjamu lagi." Matthew masih merasa tak enak pada Jane, tapi jika Jane berkata seperti itu...
"Baiklah, aku akan kembali sebelum giliranku bekerja siang." Matthew melambaikan tangannya, tanda pamit pada Jane, kemudian ia berjalan keluar toko. Namun tepat di depan pintu keluar, Matthew berhenti berjalan. "Ano... Jane, dimana aku bisa membeli makan siang?"
Matthew melihat ada sekumpulan anak taman kanak-kanak sedang melewatinya. Pada paling depan barisan, terdapat guru yang memimbing anak-anak tersebut selama perjalanan. "Oh, itu ada Gilbert! Anak-anak, ayo sapa Kak Gilbert! Selamat siang Kak Gilbert!" seru sang guru.
"Selamat siang Kak Gilbert!" sapa anak-anak secara kompak.
"Selamat siang, semua!" Matthew membalas sapaan mereka dengan senyuman.
"Apa yang kau lakukan disini, Gilbert?" tanya sang guru.
Aku tak mungkin bilang aku tersesat di kota tempat tinggalku sendiri, bukan?, jerit Matthew dalam hati sambil tetap tersenyum. "Aku... sedang jalan-jalan, haha..."
"Oh... sedari dulu kau suka berjalan-jalan ya, hati-hati di jalan, Gilbert." Sang guru pun melambaikan tangan sambil meninggalkan Matthew. Matthew melambaikan tangan juga sambil tersenyum. Hingga ia sudah tidak melihat sekumpulan anak taman kanak-kanak dengan guru mereka, Matthew menghela nafas sambil mensadarkan badannya pada tembok rumah terdekat.
"Seharusnya aku tidak ceroboh menghilangkan peta..." sesalnya. Matthew benar-benar tidak tahu dimana ia sekarang. Setelah ia membeli makan siang untuknya, ia kehilangan peta buta yang diberikan Jane, sehingga Matthew tersesat sekarang. Sedari tadi ia berjalan, ia hanya menemukan perumahan, jalan raya, perumahan, jalan raya lagi.
Perut Matthew berbunyi lagi. Ia ingin makan siang dengan makanan yang sudah ada di tangan kanannya sekarang, namun ia tidak bisa makan dengan tenang sebelum ia bisa kembali ke toko. "Siapapun... tolong aku!" di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi, Matthew berteriak. Ia sudah depresi, karena sudah lebih dari sepuluh menit ia tersesat dan ia belum makan. Air mata hampir keluar dari mata sampai Matthew mendengar suara langkah kaki menghampirinya.
"Matthew?" Matthew langsung menoleh saat mendengar ada orang yang memanggil nama aslinya. Ia melihat ada seorang pria berambut coklat sedang berjalan mendekatinya. "kenapa kau ada di sini?" Antonio, dengan pakaian rapinya berjalan menghampiri Matthew dengan wajah bingung.
"Kak Antonio!" air mata sedih yang tadi dikeluarkan Matthew kini berubah menjadi air mata bahagia. Ia segera memeluk Antonio dengan erat. "syukurlah aku bertemu kakak..."
"Hei Matt, kenapa kau sampai menangis begini? ada apa?" tanya Antonio dengan nada khawatir.
"Aku... aku..." Matthew merenggangkan pelukannya agar ia bisa bercerita pada Antonio. Namun wajahnya memerah ketika ia ingat alasan mengapa ia menangis. Ia malu jika harus bercerita pada Antonio. Sampai suara perut Matthew memecahkan keheningan di antara mereka. "Aku... lapar."
"Hahahahaha!" Antonio tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa dengan keras, membuat wajah Matthew semakin memerah karena malu. "Astaga, kau lapar? Ayo kita makan dulu di rumahku!" ajak Antonio setelah ia sudah cukup tenang untuk berbicara.
"Rumahmu? Tidak usah... aku sudah membeli makanan..." tolak Matthew seolah tidak mau merepotkan Antonio.
"Tapi kau kelaparan begitu. Jika kau menunda makan, perutmu bisa sakit. Lagipula, lihatlah." Antonio langsung menyambar kantong plastik yang sedari tadi dipegang Matthew dan mengeluarkan isinya. "Kau ingin makan siang hanya dengan roti berselai mapel? apa ini tidak kurang? roti berselai mapel tidak akan membuatmu kenyang." komentar Antonio.
"Menurutku cukup, kok. Dan jangan mengejek saus mapel, Kak Antonio. Ini selai kesukaanku dan bisa mengenyangkan perutku..." ucap Matthew sedikit kesal.
"Iya, bisa mengenyangkan perutmu namun tidak dengan perut Gilbert." Antonio memasukan kembali roti ke dalam kantong. "Ayo ke rumahku. Aku juga belum makan siang. Temani aku makan," Antonio membalikan badannya dan berjalan menjauhi Matthew. "dan jangan menolak." ancamnya.
Matthew menelan ludah saat melihat Antonio mengancamnya. Selama ini ia mengenal Antonio sebagai pria yang ceria dan masih bersifat kanak-kanak. Tak jarang Antonio bersikap manja pada Matthew, karenanya Matthew terkejut Antonio bisa tegas juga. 'Errm... kak. Kau mengajakku ke rumahmu namun dimana rumahmu?"
"Ha? Oh, ini rumahku." Antonio berhenti di depan pintu gerbang yang letaknya tak jauh dari Matthew berdiri. "Kau belum ke rumahku, ya?" tanya Antonio bingung. Matthew menggeleng. Ia tidak menyangka ia baru saja berteriak di depan rumah Antonio!
Antonio memencet tombol di sebelah pintu gerbang. Tak lama, layar kecil yang terletak di atas tombol menyala. Di layar, terlihat seorang pria paru baya berambut dan berkumis putih. "Selamat datang, Tuan." Salamnya.
"Ah, aku pulang. Aku datang bersama Gilbert. Bukakan pintu gerbang dan siapkan makan siang untuk kami berdua. Tak usah menjemputku di pintu gerbang, aku dan Gilbert akan berjalan kaki menuju rumah."
"Dimengerti." Tak lama, pintu gerbang pun terbuka. Matthew terkesima dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia tidak menyangka Antonio tinggal di rumah semewah ini bahkan mempunyai pelayan pribadi!
"Matt, ayo masuk." tanpa Matthew sadari, Antonio sudah melewati pintu gerbang. Matthew pun berlari kecil menghampiri Antonio. Setelah Matthew melewati pintu gerbang, pintu secara otomatis tertutup. "Rumahku jaraknya lumayan jauh dari pintu gerbang, karena itu biasanya aku dijemput dengan mobil golf milikku. Namun karena kau belum pernah ke rumahku, kita jalan kaki saja, ya. supaya kau bisa melihat-lihat." Matthew hanya mendengar beberapa kalimat Antonio saja karena ia terlalu sibuk mengagumi pemandangan sekelilingnya. Taman yang luas, dengan berbagai macam bunga. Bahkan ada beberapa pohon juga.
"Selamat datang, Tuan Muda." Matthew dapat melihat salah satu tukang kebun menyapa Antonio.
"Oh, Tuan Muda. Kau sudah pulang?!" seru tukang kebun lainnya.
"Aku pulang, semuanya!" sapa Antonio. "Lihat, siapa yang datang bersamaku."
"Tuan Gilbert!" seru para tukang kebun secara serempak. "Tuan sudah baikan?"
"Saya dengar Tuan masuk Rumah Sakit sehingga Tuan Antonio membantu Tuan Gilbert..."
"Tuan Gilbert sudah baikan?"
"Sudah lama ya Tuan Gilbert main kemari."
"Tuan masih ingat kami, bukan?" tanya salah satu tukang kebun yang menyadari wajah kebingungan di wajah Gilbert.
"Ano.. aku..."
"Hei kalian, jangan karena ada Gilbert aku dicuekin!" tiba-tiba Antonio memeluk Gilbert dari belakang dan menaruh kepalanya di pundak Gilbert.
"Tuan kan sudah setiap hari kami perhatikan... jika Tuan Gilbert mau main kemari setiap hari, kami tidak mungkin akan banyak bertanya pada Tuan Gilbert..."
"Ingatan Gilbert masih belum pulih sepenuhnya. Jika kalian ingin berbincang dengannya, selesaikan tugas kalian dan pergilah ke taman belakang. Aku dan Gilbert akan di sana setelah makan siang. Selamat bekerja." Antonio kemudian menarik tangan Gilbert dan hendak pergi.
"Selamat makan, Tuan." sahut tukang kebun lainnya. Matthew memperhatikan raut wajah Antonio yang kembali seperti Matthew kenal. Polos dan kekanakkan. Ia tak menyangka Antonio akan seakrab itu dengan para pelayannya.
"Selamat datang, Tuan." tak terasa, Antonio dan Matthew sudah sampai di depan pintu masuk rumah.
"Ah, Aku pulang. Hari ini makan siangnya apa?" tanya Antonio pada salah satu pelayan wanita yang menyambutnya.
"Hari ini menu pembukanya ada sop kepiting, lalu menu utamanya ada bistik sapi, lalu menu penutupnya ada panekuk."
"Panekuk?!" mata dan mulut Gilbert langsung terbuka lebar saat mendengarnya. "Nee, nee, ayo kita segera makan siang! Agar kita bisa makan panekuk!" seru Matthew dengan semangat. Tanpa sadar Matthew menarik tangan Antonio.
"Hei, Gilbert! Aku tahu kau bersemangat. Tapi apa kau tahu ruang makan dimana?" Matthew menghentikan langkahnya kemudian menundukkan kepalanya, malu. "Hahaha... tentu saja kau lupa. Rumah ini luas dan kau jarang datang kemari lagi. Lihat, para pelayanku sampai merindukanmu..."
Matthew menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Ia pun mengikuti Antonio dari belakang. Perlahan, Matthew mengangkat kepalanya karena terpesona dengan keadaan rumah Antonio. Rumah Antonio begitu luas! Banyak lukisan di dinding serta patung yang diletakan dengan indah. Saat sampai di ruang tengah, Matthew dapat melihat dua foto berukuran besar berbingkai emas. Foto pertama adalah foto seorang pria sedangkan foto kedua adalah foto seorang wanita. Di tengah kedua foto tersebut, Matthew melihat foto Antonio berbingkai perak. "Ini kedua orang tuamu?" tanya Matthew tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Hm, iya. Mereka sering pergi berdua sehingga foto ini yang dapat menghilangkan rasa rinduku pada mereka." Cerita Antonio masih terus berjalan.
"Apa kau tak kesepian?"
"Tidak, di rumah ini banyak sekali pelayan. Lagipula Gilbert dan Francis sering bermain kemari. Ya... walaupun Gilbert sudah jarang kemari setelah ayah tiri dan ibu kandungnya meninggal. Ia harus mengurus Ludwig. Aku dan Francis sudah berusaha menawarkan bantuan ekonomi pada Gilbert supaya ia masih sering bermain seperti dulu. Tapi Gilbert marah, katanya Ludwig itu adiknya bukan adikku maupun adik Francis." Antonio tertawa saat teringat ekspresi Gilbert marah. "Haha... dasar brother complex."
"Hm... begitu..." langkah Matthew terhenti karena Antonio berhenti berjalan. Mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna merah, dan tak lama pelayan membuka pintunya. Matthew dapat melihat sebuah meja makan berukuran sedang dengan empat anak kursi. Matthew sedikit terkejut saat melihatnya. di rumah semewah ini, meja makan di rumah Antonio sesederhana ini?
"Ini adalah ruang makan keluargaku, bukan ruang makan tamu." sepertinya Antonio dapat membaca pikiran Matthew, "Gilbert dan Francis yang merencanakan ini. Kata mereka, ruang makan adalah tempat kumpulnya keluarga, jadi harus dibuat dengan suasana keluarga." Matthew terdiam saja mendengar cerita Antonio, karena Matthew dapat melihat wajah senang pada wajah Antonio.
"Aku bertemu dengan Francis dan Gilbert saat duduk di bangku sekolah dasar. Mereka berdua berasal dari pinggiran kota, namun dengan pernikahan ibu mereka dengan seorang pria kaya, mereka bisa bersekolah di sekolah elit. Apalagi keadaan fisik Gilbert yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Di hari pertama masuk sekolah, mereka menjadi bahan bicaran murid-murid sekolah. Aku termasuk salah satu murid yang penasaran dengan mereka. Sehingga, aku berusaha mendekati mereka. Awalnya susah, Francis dan Gilbert seolah-olah sudah membuat batas dengan orang lain, seolah-olah mereka tidak mau didekati oleh siapapun dan mereka tidak perduli. Namun setelah tahu hobi kita sama, mereka menghapus batas itu, mereka membiarkanku masuk. Sekarang, aku bisa menjadi sahabat mereka." Antonio menghentikan sebentar ceritanya untuk mengucapkan terima kasih pada pelayan yang sudah menyajikan sop kepiting untuknya.
"Hobi? Apa hobi kalian?"
"Kami suka mengerjai orang." Matthew hampir tersedak mendengarnya. "Kami suka sekali membolos dan menikmati waktu-waktu tenang sekolah, di saat semua murid sedang sibuk belajar. Jika kami melihat ada murid-murid yang sedang mengganggu murid lain, kami suka membalas mereka karena itu menyenangkan..." Matthew berusaha tersenyum karena Antonio bercerita dengan wajah senang. "kami juga senang membantu pegawai kantin karena kami bisa mendapatkan makanan gratis. Tak lama, kami betriga pun terkenal sebagai trio, haha."
Antonio pun terus bercerita tentang kesehariannya bersama Francis dan Antonio, bahkan Antonio juga bercerita tentang kehidupan Francis dan Gilbert sebelum mereka bertemu. "Aku senang mereka terbuka padaku. Aku senang mereka menjadi sahabatku. Mereka mau menerimaku, maka aku menerima mereka. Aku belum pernah mempunyai sahabat seperti mereka. Mereka juga diterima oleh para pelayanku, jadi aku sudah menganggap Francis dan Gilbert seperti keluargaku."
Matthew menghentikan tangannya saat hendak memotong panekuk. Matthew merasa dari nada bicara Antonio, Antonio merindukan Gilbert. Antonio pasti ingin Gilbert segera kembali ke tubuh ini. Antonio pasti ingin bersama Gilbert lagi.
"Saat Gilbert kabur dari rumah bersama Ludwig, aku merasa Gilbert menjauh dariku." Antonio melanjutkan ceritanya. "Aku memang menawarkan salah satu rumah yang sekarang menjadi rumah mereka, namun Gilbert tidak mau menerimanya. Ia tidak mau menerima rumah pemberianku, namun ia mau membelinya. Ia ingin hidup mandiri agar Ludwig bisa hidup enak. Melihat Gilbert semakin menjauh karena ia sibuk bekerja, tentu saja membuatku sedih. Para pelayanku pun mulai merindukan Gilbert. Sampai aku mendengar kabar ia kecelakaan..." kali ini Antonio menatap Matthew. Matthew pun menelan potongan panekuknya yang tertahan di tenggorokan.
"Aku dan Francis membagi tugas. Gilbert mempunyai banyak pekerjaan. Setengah pekerjaan digantikan Francis dan setengah lagi aku yang mengerjakannya. Di tempat kerja Gilbert, aku merasa Gilbert juga dekat dengan teman-teman kerjanya. Lalu aku mengetahui jiwa Gilbert dengan jiwa Matthew tertukar... jujur aku merasa Gilbert semakin jauh dariku." Matthew dapat melihat, Antonio sedang sedih.
"Maafkan aku..." kata Matthew dengan nada kecil.
"Tidak perlu minta maaf, Matt. Sekarang aku baru merasa beruntung jiwa Gilbert tertukar dengan jiwamu."
"Hm? kenapa kau bilang begitu?"
"Ludwig sudah seperti dulu, ia sudah bersikap baik pada Gilbert. Bahkan sepertinya kalian sudah sangat akrab. Lalu, ayah kandung Gilbert sudah pulang ke rumah karena mendengar berita kecelakaan Gilbert. Saat Gilbert kembali, keadaan sekitar Gilbert sudah seperti yang Gilbert inginkan. Gilbert pasti senang."
Matthew menaruh garpu dan pisaunya karena makanan sudah selesai dimakan, "Benarkah?"
"Iya! aku juga yakin Gilbert disana juga merubah keadaan sekitarmu. Sehingga, saat jiwamu kembali keadaan sekitarmu sudah seperti yang kau inginkan."
Perkataan Antonio benar juga. Matthew tidak berfikiran sebelumnya jika Gilbert akan merubah keadaan sekitarnya. Ya, mungkin saat Matthew sudah kembali ke tubuhnya, sudah tidak ada orang yang menggunjingnya. Bahkan mungkin Matthew akan mendapatkan teman. Tapi, jika Matthew sudah kembali ke tubuhnya, tidak akan ada Arjan disana.
"Matthew." panggilan Antonio membuyarkan lamunan Matthew. "Ayo kita ke taman belakang, para pelayanku ingin berbicara banyak tentangmu."
"Tapi... aku harus kembali bekerja.."
"Aku sudah mendapat izin dari Jane. Kau sudah boleh pulang kerja." sahut Antonio kemudian bangun dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.
"Ke... Kau tidak bisa seenaknya begitu, Kak Antonio! aku merasa tidak enak dengan Jane!" protes Matthew sambil mengikuti langkah Antonio.
"Rasa rindu para pelayanku jauh lebih penting daripada kerjamu, Matthew. Sopirku akan mengantarkan tasmu ke rumah. Kau ingin diantar pulang oleh sopirku atau Ludwig yang menjemputmu kemari? maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Nanti malam aku harus menggantikan Gilbert bekerja di salah satu tempat pembangunan di kota."
"Tempat pembangunan kota... tempat kerja Gilbert dengan Arjan, bukan?" tebak Matthew.
"Iya, ada apa?" tanya Antonio bingung.
"Aku ingin Ludwig menjemputku di tempat kerjamu, Kak Antonio."
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, dengan segera Ludwig bangun dari tempat duduknya dan bergegas keluar kelas. Ia tidak ingin Matthew mati kelaparan karenanya!
"Ludwig-san!" dari belakang, Kiku berusaha mengejar Ludwig. "tunggu!"
"Tidak bisa, Kiku. Bagaimana kalau Matthew belum makan siang? Ia kan..." kalimat Ludwig terhenti saat ia merasakan getaran pada saku celananya. Ada pesan singkat dari Antonio. "Matthew bersamaku. Jemput ia di tempat kerja Gilbert di tempat pembangunan kota. Ah, kata Matthew ia sudah makan jadi kau tenang saja..." Ludwig membaca pesan singkatnya. "Syukurlah..." ucap Ludwig lega.
"Kenapa?"
"Sepertinya ia sudah makan, sekarang ia bersama Kak Antonio. Matthew memintaku untuk menjemputnya di tempat pembangunan kota."
"Kau sudah tenang?"
Ludwig menganguk. "Aku merasa bersalah sudah lupa memberi bekal Matthew. sepertinya sekarang ia sudah baik-baik saja. aku sudah tenang. Kenapa kau menanyakan itu, Kiku?"
"Seharian ini kau tidak tenang, Ludwig-san. Aku juga jadi khawatir padamu. Tapi aku cukup senang, karena jarang sekali aku melihat Ludwig khawatir kepada Gilbert."
"Yang aku khawatirkan itu Matthew! bukan kakakku!" sangkal Ludwig sambil berusaha menyembunyikan wajah merahnya. "Aku akan pergi menjemput Matthew. Kau ingin ikut?"
Kiku menggeleng, "aku ada janji dengan Dokter Heracles. Salah satu kucingnya ada yang melahirkan, dan aku ingin melihatnya. Jadi aku akan pulang tanpamu."
Ludwig terdiam mendengarnya, baru kali ini ia mengetahui Kiku dekat dengan Dokter yang merawat Gilbert, Dokter Heracles. "Sejak kapan kau dekat dengan Dokter Heracles?" Ludwig makin penasaran karena wajah Kiku memerah.
"Se.. Sejak aku mengetahui bahwa kami sesama pecinta kucing. Sudah dulu ya, aku takut terlambat. Sampai jumpa besok, Ludwig-san." Kiku dengan cepat pamit dan pergi meninggalkan Ludwig. Ludwig hanya tertawa kecil melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Aku ingin tahu reaksi Kak Yao jika aku menceritakan ini." ucapnya dengan nada usil. Tak lama, Ludwig merasa telfon genggamnya bergetar lagi. Kali ini Ludwig melihat nama Francis di layar telfon. "Temui aku di tempat pembangunan kota. Ada yang mau kubicarakan padamu dan Antonio." Ludwig cukup terkejut dengan pesan singkat dari Francis. Sudah lama ia tak mendengar kabar dari sahabat lama kakaknya itu. Antonio bilang Francis sedang bekerja di luar negeri atas permintaan ayahnya. Namun kenapa Francis ingin bertemu dengan Ludwig di tempat pembangunan kota? Mungkin ia ingin memberikan oleh-oleh. Tempat pembangunan kota kan dekat dengan tempat tinggal Francis, batin Ludwig dalam hati kemudian pergi meninggalkan sekolah.
"Kenapa kau ingin ikut?" Antonio akhirnya bertanya pada Matthew saat mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju tempat pembangunan kota menggunakan mobil Antonio.
"Ada yang ingin kutemui."
"Arjan?" tebak Antonio.
"Ba... bagaimana kau tahu?" tanya Matthew panik.
"Hm... entahlah. Aku rasa karena hanya dia aku dapat melihat dirimu senang. Aku suka melihatmu terpaksa tersenyum pada orang-orang sekitarmu yang tidak kau kenal. Tapi dengan Arjan... kau terlihat merasa nyaman. Boleh tahu kenapa?"
Matthew bimbang. Haruskah ia bercerita pada Antonio? bagaimana dengan reaksi Antonio nanti? "Arjan... ia adalah orang selain keluagaku yang baik padaku. Maksudku, tentu saja kau, Ludwig, dan Francis baik kepadaku. Tapi itu karena Gilbert adalah salah satu anggota keluarga kalian, bukan? sedangkan Arjan... ia hanya teman kerja Gilbert namun ia sangat baik kepadaku. Tentu saja aku merasa nyaman." Matthew memejamkan matanya karena ia tidak tahu bagaimana reaksi Antonio.
"Hm... kau menyukainya?" tanya Antonio lagi.
"Errm... mungkin. Ia orang pertama selain keluargaku yang baik kepadaku. Jadi... aku tidak tahu bagaimana perasaanku kepadanya. Aku belum pernah merasakan ini..."
Antonio terdiam, dan Matthew takut Antonio akan marah kepadanya. "Kalau menurutku..." sepertinya tidak. "jika kau menyukai Arjan, aku ingin nanti kau jujur padanya. Bilang padanya jika kau adalah Matthew Williams, bukan Gilbert Beilschmidt yang selama ini ia kenal."
... Eh? Antonio memberi saran padanya? "Kau... kau tidak mengejekku?"
"Untuk apa? aku menghargai perasaanmu, tapi tubuhmu sekarang adalah tubuh Gilbert. Aku tidak ingin saat Gilbert kembali ia punya masalah dengan Arjan, mengerti?" Matthew menganguk mengerti.
"Errm... aku juga punya pertanyaan untukmu, Kak Antonio."
"Apa?"
"Kenapa kau dan Francis mau menggantikan Gilbert bekerja? Aku yakin pelayanmu tentu akan mau jika kau meminta mereka untuk menggantikan Gilbert bekerja. Namun kenapa harus engkau?"
Antonio terdiam sebentar, mungkin sedang memikirkan jawaban. "Kau ingat ceritaku tentang Gilbert yang menolak tawaranku dan Francis karena Ludwig adalah adiknya, bukan adikku maupun adik Francis?" Matthew menganguk. "Mungkin tidak jauh beda. Aku membantu Gilbert karena ia adalah sahabatku. Para pelayanku mungkin menerima Gilbert sebagai keluarga mereka, tapi mereka tidak akan penah menjadi sahabat Gilbert. Mereka juga tidak mengenal Gilbert sebaik aku mengenal Gilbert. Jadi, ya... begitulah jawabanku kira-kira."
Matthew hanya terpaku mendengar jawaban Antonio. ia makin kagum dengan Antonio dan juga Francis. Ia merasa iri pada Gilbert yang mempunyai sahabat sebaik Antonio dan Francis, suatu hal yang mungkin mustahil Matthew miliki.
"Ayo, sudah sampai." Tak terasa, mereka sudah sampai di tempat. Antonio memberitahu sopirnya untuk menjemputnya besok pagi, sedangkan Matthew melihat-lihat tempat kerja Gilbert. Sudah banyak pekerja yang mulai mengerjakan pekerjaannya, dan semuanya tampak sibuk.
"Kak Antonio, aku akan menunggu Ludwig di depan sini. Bisa tolong carikan Arjan?" pinta Matthew.
"Ok, aku akan mengganti bajuku kemudian mencari Arjan. Kau tunggu disini saja, ya." Matthew mengangguk. Sembari menunggu Ludwig dan Antonio, Matthew melihat-lihat sekitarnya. Matahari mulai terbenam, lampu kota sudah mulai menyala, dan Matthew melihat banyak orang berpakaian kerja mulai berlalu lalang. Matthew juga melihat-lihat kendaraan umum yang berlalu lalang di jalan raya. Mulai mobil pribadi, bus umum, hingga taksi. Matthew dpat melihat banyak orang yang turun setelah bus umum berhenti di halte yang dekat dengannya.
"Kakak!" oh, Matthew dapat melihat salah satu penumpang yang turun adalah Ludwig.
"West!" Matthew cukup terkejut dengan kehadiran Ludwig. "cepat sekali kau kemari."
"Aku minta maaf karena aku lupa memberikan bekal makan siangmu, Matthew." ucap Ludwig.
"Tidak apa-apa, Ludwig. Tadi siang aku makan siang bersama Antonio di rumahnya. Aku jadi bisa bermain di rumah Antonio, hehe."
"Kenapa kau bisa makan siang di rumah kak Antonio?" tanya Ludwig bingung.
"Errm... ceritanya panjang. Kau sedang tidak terburu-buru, bukan? aku sedang menunggu seseorang. Setelah urusanku selesai, baru ayo kita pulang."
"Tidak kok. Lagipula aku juga sedang menunggu seseorang."
"Siapa?"
"Aku." Matthew dan Ludwig menoleh saat mendengar suara Francis di belakang Ludwig. Matthew dan Ludwig dapat melihat Francis mengenakan jaket coklatnya dan syal menyelimuti lehernya dengan koper di tangan kirinya. "Yo, sudah lama tidak bertemu." Sapa Francis.
"Kak Francis!" sahut Matthew dan Ludwig secara bersamaan. "Bagaimana pekerjaanmu di luar negeri?" tanya Matthew.
"Hm... menyenangkan. Sekarang urusanku sudah selesai, sehingga aku bisa kembali."
"Kenapa kau ingin bertemu denganku di tempat ini, kau ingin memberi oleh-oleh?" tanya Ludwig dengan nada iseng.
"Iya." nada bicara Francis berubah menjadi serius. "Aku sudah tahu cara agar jiwamu kembali, Matthew."
Deg, Matthew dapat merasakan jantungnya berhenti sementara.
"Benarkah? Bagaimana caranya?" tanya Ludwig dengan semangat.
"Saat kau tidur, apakah kau bertemu dengan dirimu yang asli, Matthew?"
Matthew menganguk. "Iya, terkadang aku melihat diriku yang asli sedang berdiri tak jauh di tempat aku berdiri. Selagi bayangan hitam berusaha menyerangku, ia hanya berdiri memperhatikanku."
"Itu adalah tubuh aslimu, Matthew. jika kau bisa mengalahkan bayang hitam yang menyerangmu dan kau bisa menyatu dengan dirimu yang asli, maka kau bisa kembali seperti semula."
"... mungkin kau benar. Karena tempat diriku yang asli berada diantara Arthur dan Kak Alfred. Mungkin dengan begitu aku bisa kembali seperti semula."
"Benarkah?! Kalau begitu malam ini kau bisa mencobanya, Matthew! bukankah itu menyenangkan? Kau bisa kembali ke tubuhmu yang asli!" seru Ludwig senang. Ludwig mencengkram kedua lengan Gilbert dan menggoerakannya.
"Apa-apaan ini..." Ludwig dan Francis menoleh saat mendengar suara asing tak jauh dari mereka berdiri. Matthew mengenal suara ini. Wajahnya langsung pucat saat mendengar suara ini. "Kembali ke tubuh asli? Matthew? siapa itu?" tanya Arjan dengan bingung.
Tak tahan karena air matanya mulai keluar, Matthew pun lari. "Hei, Matthew!" Ludwig kaget karena Matthew lari dengan tiba-tiba.
"Matthew? bukankah ia Gilbert, kakakmu, Ludwig?" tanya Arjan. Ludwig tidak menjawab, karena bingung dengan apa yang harus ia ucapkan.
"Matthew, maafkan aku... sepertinya Arjan belum da... tang." tak lama, Antonio datang. Antonio cukup kaget dengan kehadiran Arjan di antara Francis dan Ludwig. Antonio dapat merasakan hawa tegang di antara mereka. "Oh, Arjan. Kau sudah datang rupanya." sapa Antonio. "Dimana Gilbert?"
"Antonio, aku sadar baru saja kau menyebut nama Matthew, bukan Gilbert. Bisa cerita padaku siapa Matthew ini?" tanya Arjan dengan nada serius. Antonio menelan ludahnya karena tidak menyangka Arjan akan bertanya sepeti ini. Antonio melirik ke arah Francis untuk mencari tahu ada apa sebenarnya.
"Sepetinya ia mendengar saat aku menceritakan bagaimana caranya jiwa Matthew kembali ke tubuhnya."
"Akh, jadi seperti itu..." Antonio kemudian memukul pelan pundak Arjan. "Aku akan bercerita, jadi tolong dengarkan."
Matthew menangis. Sedari tadi air matanya terus mengalir. Bagaimana ini? Arjan pasti akan menyangka Matthew sudah menipunya. Arjan pasti membeci Matthew sekarang. Apa yang harus ia lakukan? "Aku ingin pulang.." ucap Matthew pelan di sela-sela tangisannya. Ia ingin segera pulang, segera tidur, dan segera melakukan apa yang Francis baru saja beritahu dia. Namun ia tersesat. Sekarang, ia berada di taman dan tak tahu dimana taman ini. Matthew hanya berharap Ludwig segera menemukannya sehingga mereka bisa pulang bersama.
Matthew sudah merasa tenang. Ia duduk di salah satu jungkat-jungkit sambil menunggu Ludwig menemukannya. Kepalanya terus tertunduk karena ia tidak ingin melihat sekitarnya. Matthew ingin menghilang, ia ingin pergi dari sini. Ia ingin kembali ke tempat Arthur dan Alfred, tempat dimana Arjan tidak akan membencinya.
Tak lama, Matthew merasa badannya terangkat. Ia merasa ada orang lain yang duduk di jungkat-jungkit di hadapannya, sehingga tubuhnya terangkat. Matthew mengangkat kepalanya dan ia melihat Arjan duduk di seberang. Panik, Matthew pun berusaha turun dari jungkat-jungkit. "Matthew." namun niat Matthew terhenti setelah mendengar Arjan memanggilnya. "Antonio mengatakan kau ingin bercerita padaku. Bisa kau ceritakan disini?" Matthew tidak menjawab. Kepalanya kembali tertunduk. Arjan yang sudah tidak sabar dengan jawaban Matthew menaik-turunkan jungkat-jungkit sehingga tubuh mereka terangkat ke atas lalu kembali ke bawah. "Kita bisa sambil bermain jungkat-jungkit jika kau mau."
Matthew menelan ludahnya, mengumpulkan keberaniannya. "Namaku Matthew Williams..." Matthew pun mulai bercerita. "Aku terlahir kembar. Kakak kembarku bernama Alfred F. Jones. Orang tua kami meninggal sewaktu kami masih kecil sehingga kami tinggal di panti asuhan. Meski kembar, Alfred dan aku sangat berbeda. Alfred adalah anak yang berani, periang, dan kuat. Sedangkan aku, aku adalah anak pemalu, pendiam, dan penakut. Karena perbedaan inilah, anak-anak panti asuhan lainnya menjauhiku. Mereka tidak mau berteman dengan anak lemah sepetriku. Mereka hanya ingin mengerjaiku. Jika Alfred tahu perbuatan mereka kepadaku, ia akan menghajar dan memukuli mereka. Aku tak ingin Alfred melakukan kekerasan, jadi aku tidak pernah memberitahu Alfred jika ada orang yang mengerjaiku atau menggunjingku."
"Banyak pasangan ingin mengadopsi Alfred, namun tak pernah berhasil karena Alfred ingin jika ia diadopsi maka aku pun akan diadopsi juga. Banyak calon orang tua angkat pada akhirnya mundur karena mereka tidak ingin mengadopsiku. Sampai Arthur Kirkland datang mengunjungi panti asuhan kami. Tanpa sadar aku menangis di pelukan Arthur dan ia ingin mengadopsi kami berdua. Awalnya Alfred tidak percaya dengan Arthur. Menurut Alfred sama dengan calon orang tua angkat lainnya, pada nantinya ia akan meninggalkan kami. Ternyata tidak. Arthur berusaha semampunya untuk menyenangkan kami. ia berusaha adil dalam menyanyangi kami. Bahkan ia berusaha semua anggota keluarganya menerima kami. Dalam sosok Arthur, aku menemukan kembali sosok ayah. Meski tidak ada ibu, tapi itu tak masalah buatku. Selama ada Alfred, Arthur dan Christine, nenek kami, itu sudah cukup." Matthew masih melanjutkan ceritanya dengan kepala tertunduk karena ia tidak berani menatap Arjan.
"Aku pikir aku bisa menemukan kebahagiaan sesudah itu. Namun ternyata tidak. Aku lupa aku masih pemalu, pendiam, penakut, dan lemah. Banyak teman-teman sekolah yang mengerjaiku karenanya. Aku tetap merahasiakan ini pada Alfred, dan juga Arthur. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, dan aku tidak ingin membuat anggota keluargaku khawatir. Dalam hati, aku menguatkan diriku sendiri."
"Lalu hari itu tiba," Matthew berhenti menggerakan jungkat-jungkitnya. "aku terjatuh dari atap sekolah dan koma." Matthew melirik sedikit ke arah Arjan, penasaran dengan raut wajah Arjan. "Dalam koma, aku bertemu dengan Gilbert kecil. Ia sedang berdiri di atas gundukkan pasir, sedang menghukum dirinya sendiri karena telah membuat Ludwig sedih dan membencinya. Gilbert bercerita padaku ia bisa mebuat orang lain bahagia, namun ia tidak bisa membuat Ludwig bahagia. Ia disenangi orang-orang sekitarnya namun ia tidak disenangi adiknya sendiri. Sangat berbeda dengan keadaanku."
Kali ini, Matthew berusaha mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab sehabis menangis kini menatap Arjan. "Gilbert menawariku untuk bertukar tempat. Untuk bisa merasakan rasanya disenangi oleh orang-orang sekitarnya. Aku mengiyakan, dan saat sadar aku sudah berada di tubuh Gilbert. Aku pun merasakan bagaimana rasanya disukai orang-orang sekitar. Apalagi.. kau sangat baik padaku. Aku tahu kau berbuat baik padaku selama ini karena kau ingin menjadi temannya Gilbert, namun bagiku itu sangat menyenangkan. Terima kasih sudah membuatku bisa merasakan disayang oleh seseorang selain keluargaku." Matthew kemudian berdiri lalu membungkukkan sedikit badannya. "Aku tahu mungkin kau menganggap aku sudah menipumu dan mungkin kau sudah membenciku, namun jangan khawatir. Francis sudah memberitahuku bagaimana caranya agar aku kembali ke tubuh asliku. Setelah Gilbert kembali, kau bisa berteman lagi dengan Gilbert. Selamat tinggal." Matthew kemudian berusaha pergi meninggalkan Arjan.
"Tunggu." namun sepertinya Arjan belum ingin Matthew pergi. "Kau belum selesai bercerita." Matthew bingung dengan kalimat Arjan. Matthew merasa ia sudah menceritakan semua kisahnya pada Arjan. Apa yang kurang? Matthew merasa Arjan berjalan mendekatinya dan berdiri di belakang Matthew. "Kau belum bercerita padaku tentang perasaanmu padaku. Lagipula selamat tinggal? Kau mengucapkan itu seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi."
Wajah Matthew langsung memerah. "Aku... aku... aku tidak tahu bagaimana perasaanku padamu... kau... kau orang pertama selain keluargaku yang berbuat baik padaku. Aku... aku merasa senang saat bersamamu, aku merasa aku tidak perlu khawatir dengan orang lain karena kau sudah berbuat baik padaku. Asal... asal kau ada di sisiku, aku merasa senang. Seolah-olah... aku membutuhkanmu, Arjan. Seolah-olah aku menyukaimu..." setengah berteriak, Matthew mengungkapkan perasaannya.
Arjan menghela nafas, membuat badan Matthew sedikit tegang. Tentu saja tegang karena Arjan menghela nafas tepat di belakang telinga Gilbert dan Arjan memeluknya dari belakang. "Itu sudah cukup, Matthew... kau tidak perlu sampai menangis saat kau mengungkapkan perasaanmu."
"Tapi..." Matthew kini membalikkan badannya agar ia bisa melihat wajah Arjan dengan jelas. "Kau berbuat baik padaku karena kau mengira aku ini Gilbert, bukan? setelah mendengar ceritaku tadi, kau bahkan akan mengira aku telah menipumu dan nantinya kau akan membenciku. Apalagi... apalagi kau sudah tahu aku mempunyai perasaan padamu. Kau pasti merasa jijik padaku..."
Matthew ingin melanjutkan kalimatnya, namun tidak bisa karena Arjan memeluknya. "Aku berbuat baik padamu karena yang ada di dalam tubuh Gilbert adalah dirimu. Aku sudah tahu dari awal ada yang aneh pada Gilbert. Gilbert tidak pernah selembut ini saat tersenyum. Gilbert tidak pernah sesenang ini saat bertemu denganku, dan Gilbert tidak pernah secengeng ini." Arjan merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Matthew yang jatuh di pipi kiri Gilbert. "Cengeng hingga membuatku ingin melindunginya, dan berjanji tidak ingin membuatnya menangis. Aneh, bukan?"
Matthew menggeleng, "Kau tidak aneh, Arjan. Jangan berkata seperti itu."
Arjan hanya tersenyum. "Aku sudah tahu dari awal ada orang lain dalam tubuh Gilbert, hanya saja aku tidak tahu siapa orangnya. Saat tahu orang itu bernama Matthew Williams, aku merasa senang. Akhirnya, aku mengetahui nama orang yang ingin kulindungi sepanjang hidupnya."
Matthew terkejut mendengarnya. Ia mendongakan kepalanya, "Maksudmu..."
"Ya, mungkin aku juga mempunyai perasaan padamu, Matthew." Matthew menutup mulutnya yang terbuka lebar karena tidak percaya dengan kedua tangannya. "Kau jangan takut aku berbuat baik padamu karena Gilbert, aku berbuat baik karena di dalam tubuh Gilbert ada kau. Kau jangan baik aku akan membencimu, aku tidak akan membencimu, kau membuatku mempunyai tujuan baru dalam hidupku, melindungi dirimu. Kau jangan takut aku akan meninggalkanmu, saat jiwamu sudah kembali ke tubuh aslimu, aku akan mengejarmu. Mungkin akan memakan beberapa tahun, aku akan menabung dan akan segera mengejarmu. Kau mau menungguku?"
Matthew menganguk, "Tentu aku mau, jika kau tidak keberatan." Matthew tersenyum, dan Arjan tersenyum saat melihat Matthew tersenyum. Mereka berpelukan lagi.
"Akh.. andai ini tubuh aslimu, aku pasti sudah menciummu sekarang, Matthew."
"Haha, simpan untuk beberapa tahun kemudian ya. Aku akan menyimpan ciuman pertamaku untukmu."
Arjan langsung merenggangkan pelukan, "Ja.. jangan bicara hal yang membuatku malu seperti itu!" Matthew hanya tertawa melihat Arjan salah tingkah. "Aku jadi penasaran bagaimana tubuh aslimu..."
"Aku akan mengirimkan fotoku pada Ludwig, dan Pak Sigmund. Kau bisa meminta mereka nanti, supaya kau tidak salah mengejar orang..."
"Aku tidak akan salah. Meski jiwamu berada di tubuh Francis sekalipun, aku pasti akan mengenalimu."
"Be... benarkah?" Matthew hanya tertunduk malu mendengarnya. Sepertinya urusannya dengan Arjan sudah selesai. Malam ini, ia bisa mencoba kembali ke tubuh aslinya. "Eh, kalau boleh tahu. kenapa kau bisa tahu aku ada disini?" tanya Matthew bingung.
"Aku diberitahu Ludwig kau buta arah. Jadi kemungkinan kau lari tidak jauh dari tempat pembangunan kota, dan benar. Kau berada di taman ini, taman kota yang letaknya tak jauh dari tempat pembangunan kota."
"... benarkah? Maaf jika aku buta arah..."
"Tidak apa, aku sudah bilang bukan? aku akan mengejarmu kemana kau akan pergi." Arjan memukul pelan kepala Gilbert, membuat Matthew tersenyum. "Ayo kita pulang." Arjan menawarkan tangannya dan Matthew menyambutknya dengan senyuman.
"Terima kasih sudah berbuat baik padaku, Ludwig, Pak Sigmund." Matthew membungkukkan sedikit badannya setelah mereka bertiga sudah selesai makan malam. "Malam ini aku akan mencoba saran Francis, dan jika ini berhasil, maka mungkin kita akan jarang bertemu."
"Kau bisa kemari kapan saja kau mau, Matthew. Aku juga akan mengunjungimu dan keluargamu." Sahut Ludwig.
"Ya, akan kutunggu kehadiranmu..." Matthew terdiam sebentar, menunggu Sigmund berbicara.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau tidak melukai tubuh Gilbert selama kau berada di tubuhnya. Salam untuk keluargamu yang sudah merawat Gilbert." Matthew menganguk.
"Akan kusampaikan... aku pergi tidur dulu. Sampai jumpa." Matthew melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam kamar tidur Gilbert. Ia menaiki tempat tidur lalu menarik selimutnya.
Ayah, Kak Alfred, aku akan pulang...
Setelah menyelesaikan chapter ini, saya baru merasakan. Jika menulis kisah Germany family, saya bisa dengan sangat lancar menyelesaikan kisah ini. Namun jika dengan England Family... jujur saya tak tahu kenapa /digantung di jarum jam Big Bang.
Jadi, inilah bantuan yang ingin saya tanyakan. Anda sudah membaca chapter 5 cerita ini, bukan? yup, chapter yang sangat pendek, yang menceritakan bagaimana Matthew dan Gilbert bisa tertukar jiwanya. Yang ingin saya tanyakan adalah jika mereka memutuskan untuk kembali ke tubuh masing-masing, dibuat chapter sendiri atau tidak perlu? Saya tunggu jawaban anda ya^^ anda bisa menjawabnya dengan review ataupun pm. Jawaban anda menentukan akan ada berapa chapter kisah Exchange ini~
Sudah memasuki bulan Mei, itu artinya sudah memasuki ujian akhir semester~ saya ingin chapter 16 bisa saya publish di bulan Mei namun saya tidak tahu dengan keadaan kuliah saya u.u. Saya masih harus menulis kisah Muteki dan Tekurada (yang menjadi sticker LINE jika kalian tahu) untuk comifuro mendatang. Sekali lagi mohon maaf jika anda menemukan banyak sekali typo, karena saya baru saja memecahksn rekor menulis enam halaman dalam sehari! (biasanya saya satu halaman sehari)
Jangan lupa datang ke comifuro tanggal 22-23 Agustus ya^^
Saran dan kritik saya terima, jadi R&R please...
