Hi, Arisa is here! Maaf aku tidak bisa menepati janji, yaitu meng-update cerita ini di bulan Mei. Ujian akhir semester ini memakan waktu lama sehingga waktuku untuk menulis chapter ini tidak ada #alasan. Chapter ini spesial karena dibeta oleh seniorku yang tidak ingin disebutkan nama akunnya.
Acriel Braginschmidt: nasib RsuPru akan dijawab di chapter ini terima kasih atas masukannya. Thanks for the review...
MapeleLeafGirl: Arjan seme kok... terima kasih atas dukunganmu! /hug. Thanks for the review...
HetaliaFeliciano: kisah Francis sudah tidak digantung kok di chapter ini *spoiler* di chapter ini pula ada sisi gelap Ivan loooh *spoiler* terima kasih atas sarannya. Thanks for the review...
Warning: 1) typo, karena kami hanyalah manusia biasa. 2) boy x boy, di chapter ini adalah klimaks dari RusPrus.
Disclaimer: I own nothing
Chapter 16: I want to go to a place, where you can't find me
"Tidak ada?" Alfred mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban dari Feliks.
"Iya, Matthew belum datang sedari tadi." Feliks memperjelas jawabannya. "Lagipula, tidak seperti biasanya kalian tidak berangkat sekolah bersama. Sedang bertegkar?"
"Ah, iya... Namun bukan denganku, dengan Arthur."
"Dengan ayahmu?" Kali ini Feliks yang mengerutkan keningnya. "Tumben sekali..."
"Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka bisa bertengkar. Matthew sampai meninggallkanku. Sudahlah, terima kasih, Feliks." Alfred kemudian melambaikan tangannya dan meninggalkan kelas Matthew.
"Akan ku kabari jika Matthew sudah datang." Seru Feliks yang kemudian masuk ke dalam kelas. Alfred terus berjalan seolah tidak mendengarnya. Ia masih berfikir kemana Gilbert pergi. Tadi pagi Alfred terbangun karena mendengar suara Arthur dan Matthew bertengkar. Saat Alfred hendak menghampiri mereka pun, Gilbert yang sudah berpakaian seragam sudah pergi meninggalkan rumah. Arthur tidak menjawab pertanyaan Alfred, ia hanya memasang wajah kesal dan diam. Alfred tahu pertengkaran mereka pasti terkait dengan Francis, karena Alfred tidak melihat Francis di rumah mereka lagi.
"Pergi kemana kau, Gilbert?"
X
Gilbert menendang kerikil kecil saat ia berjalan di trotoar. Dilewatinya orang-orang yang berpakaian kerja yang memandang Gilbert dengan tatapan aneh. Beberapa polisi pun menghampiri Gilbert karena polisi merasa Gilbert hendak bolos sekolah. Namun setelah mereka menatap tatapan tajam Gilbert, polisi yang menghampirinya tersenyum dan pergi meninggalkan Gilbert. Sekarang Gilbert tidak tahu mau kemana. Francis pergi begitu saja tanpa memberi tahu alasan kenapa ia pergi. Arthur pun tidak menjawab pertanyaan Gilbert dan menjelek-jelekkan Francis. Tentu saja Gilbert marah.
"Arrgghh!" Sudahlah, Gilbert sudah tidak ingin mengingat pertengkarannya dengan Arthur. Rasa ingin bersekolah Gilbert sudah hilang, jadi Gilbert ingin pergi keliling kota saja, "Asal tidak bertemu dengan Arthur." gumamnya pelan.
"Duk!" tanpa sengaja, Gilbert menabrak seseorang saat berjalan. Gilbert menoleh untuk melihat siapa orang yang tak sengaja ia tabrak. Seorang anak laki-laki muda yang mungkin seumuran dengan Gilbert, berwajah sangar dengan rokok di mulutnya. "Maaf." ucap Gilbert pelan.
"Hah?" sepertinya anak laki-laki itu tidak terima dengan permintaan maaf Gilbert. "Kau pikir minta maaf saja sudah cukup? Sakit tahu!" hardik anak itu.
"Cih," tanpa sadar Gilbert meludah. "hanya ditabrak begitu saja sudah sakit. Lemah sekali."
"Apa kau bilang?!"
"Apa kau bilang?!" Tiba-tiba ingatan pertengkaran tadi pagi dengan Arthur terlintas di pikirannya.
"Beraninya kau bilang seperti itu?! Kau berani pada kami?!" tiba-tiba di hadapan Gilbert tidak hanya berdiri satu orang, namun lima orang.
"Huh, aku tidak takut padamu, bocah." Seolah memancing pertengkaran, Gilbert meledeknya.
"Baiklah, jika kau berani pada kami, kami akan melayani engkau!" Satu persatu, orang yang berdiri di hadapan Matthew mulai menyerang Gilbert. Gilbert pun mulai menghindari serangan.
"Kau bilang kepergian Francis tadi malam bukan urusanku?!" Lagi-lagi ingatan pertengkaran tadi pagi. "Francis pergi begitu saja tanpa memberitahuku dan kau bilang itu tidak ada urusannya denganku?"
"Iya, itu bukan urusanmu." Arthur memalingkan wajahnya seolah tidak ingin menatap Gilbert.
"Tentu saja ini menjadi urusanku, Arthur. Francis kemari karena aku dan kali ini ia pergi begitu saja. ini tidak masuk akal!" Pukulan Gilbert semakin keras saat ia mengingat kalimat-kalimat yang diucapkan Arthur.
"Tentu saja masuk akal. Aku sudah menemukan cara supaya jiwamu kembali ke tubuh aslimu dan Francis pulang untuk memberitahu Matthew disana."
"Pasti ada lagi." Lawan mulai kasar menyerang Gilbert. Salah satu dari mereka mulai menyerang Gilbert dengan tongkat kayu, namun Gilbert bisa menghindarinya. "Pasti ada hal lain sehingga Francis bisa pergi dengan wajah menangis seperti itu!" Gilbert mulai membentak.
"Hal lain itu bukan urusanmu, Gilbert!" Gilbert menunju lawan yang menyerangnya dari kanan dengan sikunya. "Aku lah yang menculik Francis, jadi terserah aku kapan Francis bisa kembali ke rumahnya." Gilbert menyadari ada musuh yang hendak menyerangnya dari belakang, dan ia meninju wajah lawan dengan tangan kirinya. "Aku menculik Francis karena Matthew, dan kini Francis pulang untuk memberitahu Matthew, tentu saja aku izinkan." Gilbert pun menendang musuh yang menyerangnya dari depan.
Gilbert mengepalkan tangannya, "Jadi, hanya sebatas itu Francis di matamu? Hanya sebatas orang yang kau manfaatkan untuk anakmu? Kau sungguh kejam, Arthur." Musuh yang menyerang Gilbert dengan tongkat menyerang Gilbert dari belakang, namun Gilbert berbalik dan menahan tongkat dengan tangannya. Arthur hanya terdiam, masih memalingkan wajahnya. "Apa... apa kau tak tahu Francis sudah sangat baik padamu? Ia tidak pernah bersikap baik pada orang asing kecuali... kecuali jika Francis menyukai orang itu! Francis mencintaimu, Arthur!"
"Jangan berkata seolah kau tahu jika Francis sungguh-sungguh mencintaiku!" Arthur membentak Gilbert. "Francis dan Engkau masih anak kecil! Masih belum tahu yang mana cinta sungguhan dan mana yang tidak!"
"Jangan menghina perasaan Francis!" Gilbert merebut tongkat dari lawan kemudian memegangnya. "Sekarang aku tahu kenapa Francis berwajah seperti itu. Kau telah melukai Francis, Arthur! Dan aku tidak akan memaafkanmu!"
"Aku tidak perduli kau memaafkan aku atau tidak! Kembalilah kau ke tubuh aslimu, aku ingin Matthew!" Gilbert mulai memukuli lawannya dengan tongkat yang sudah direbutnya.
"Aku yang menempati tubuh ini, aku yang menentukan kembali atau tidaknya Matthew." Mulai dari kaki, tangan. "Aku marah padamu, Arthur, karena kau sudah melukai hati Francis. Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau meminta maaf." Gilbert kemudian mebanting pintu rumah dan pergi.
Gilbert berhenti memukul ketika lawan sudah merintih meminta ampun. Gilbert mengatur nafasnya yang terengah-engah. Baju sekolahnya sudah berantakan dan kotor. Rambut Matthew terlihat sangat berantakan. Merasa Gilbert sudah tenang, orang-orang yang sedaritadi bertengkar dengan Gilbert mulai kabur. Gilbert hanya diam. Ia merebahkan badannya di atas jalan raya sambil memandang langit. Ternyata bertengkar dengan suasana hati yang sedang kacau melelahkan juga, pikirnya.
Gilbert memejamkan matanya untuk menikmati hangatnya matahari. Sudah lama ia tidak merasakan hangatnya matahari seperti ini. Jalan raya tampak sepi, karena mungkin di sekelilingnya hanyalah perumahan. Tak ada seorang pun yang lewat. Gilbert hanya melihat beberapa kucing yang menghampirinya kemudian tidur di sampingnya. Ah, melihat kucing ini tidur, Gilbert juga ingin tidur rasanya. Tak lama, Gilbert mendengar ada suara mobil berhenti di belakangnya.
Akh, aku terlalu lelah untuk bangun! Teriak Gilbert dalam hati. Matanya masih terpejam karena lelah. Gilbert hanya mendengar suara langkah sedang menghampiri dirinya, kemudian diam. Kenapa diam? Penasaran, Gilbert membuka matanya. Ia melihat ada anak kecil sedang memandanginya dengan bola mata hitam yang tak begitu terlihat. Kulitnya yang sangat putih serta rambutnya yang panjang terikat rapi membuat Gilbert langsung mengenalnya. "Foma?"
"Selamat pagi, Tuan Matthew. Bagaimana tidur Anda?" tanya Foma sambil menusuk-nusuk pipi Matthew dengan jari telunjuk kecilnya.
"Pagi juga, Foma." Tak ada jawaban dari Foma, karena Foma terus menusuk pelan pipi Mattthew. "Apa yang kau lakukan?" tanya Gilbert penasaran.
"Hanya memastikan Anda baik-baik saja, Tuan. Saya melihat Anda terluka."
"Haha... begitulah. Tadi aku sedang bertengkar. Aw!" Foma langsung menarik jari telunjuknya begitu sadar ia telah menusuk daerah pipi Matthew yang terluka.
"Maaf."
"Tidak apa-apa..." sahut Gilbert sambil mengelus pipi Matthew. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Foma?"
"Saya baru saja mengantarkan Tuan Ivan berangkat kerja, sekarang saya hendak pulang."
"Hm..." Gilbert yang masih belum terbangun, hanya bergumam.
"Sebentar, Tuan." Tak lama, Foma berdiri lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Foma melangkah menjauhi Gilbert. Sepertinya ia akan menelfon seseorang. Tak lama, Foma kembali. "Tuan, maukah Anda ke rumah saya? Akan saya rawat luka Anda."
"Hm... Apa tidak apa-apa? Apa tidak merepotkan?"
"Tidak, saya sudah melapor Tuan Ivan dan Tuan Ivan menyuruh saya untuk merawat Anda di rumah saya. Mari ikut saya pulang." Ajak Foma sambil menarik tangan kiri Matthew.
"Maafkan aku Foma... Aku terlalu lelah untuk berdiri. Bisakah kau menungguku beberapa menit lagi?" pinta Gilbert.
"Maafkan saya, Tuan Matthew, tapi saya tidak bisa." Gilbert menghela nafas kecewa mendengarnya. Ia hendak berdiri, namun ia merasa sangat ringan. "Jika Anda merasa masih lelah, tak apa. biar saya yang membawa Anda ke mobil." Foma mengakat badan Gilbert dan menaruhnya di pundak kanannya. Foma kemudian berjalan menuju mobil dengan santai. Sesampainya di depan pintu penumpang mobil, Foma memasukan Matthew ke dalam mobil, disusul Foma yang duduk di sebelahnya. Gilbert hanya terpaku melihat kejadian yang baru dialaminya.
Foma kuat mengangkat tubuh Matthew? seberapa kuat Foma? Atau... tubuh Matthew yang terlalu ringan?
"Kita pulang ya, Pak." Sahut Foma pada supir. Foma kemudian melihat Matthew dengan wajah kagetnya. "Tuan, Tuan tidak apa-apa?"
"Tidak... Aku baik-baik saja..."
X
Arthur memukul pelan jam wekernya saat berbunyi cukup kencang di sampingnya. Arthur mengusap wajahnya, kemudian menyingkirkan poni rambutnya ke belakang. Kejadian semalam membuat ia sama sekali tidak bisa tidur, sehingga ia meminta libur sehari kepada Elizaveta agar ia bisa istirahat seharian. Namun sepertinya masih belum ampuh. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Arthur sudah berusaha tidur sejak pukul tujuh, namun sepertinya ia masih butuh tidur lagi.
"Pagi, Kak." di sampingnya, Peter berbaring sambil tersenyum. "Tidurmu nyenyak?"
"Tidak, sepertinya aku perlu tidur lagi." Arthur membaringkan tubuhnya lagi di atas kasur. "Sial, karena Gilbert bilang semalam Francis menangis, aku jadi merasa bersalah pada Francis..."
"Kau memang jahat, Kak." Arthur langsung menoleh ke arah Peter, tak menyangka Peter akan berkata seperti itu. "Kau tak perlu menolak Francis dengan cara kasar seperti itu..."
"Aku harus, Peter. Atau ia akan tetap mengharapkanku..."
"Apa ada masalah jika Francis mengharapkanmu?"
"Francis tidak boleh mengharapkanku! Tidak pada seorang pria sepertiku! Aku sudah mendengar masa lalu Francis, lalu dengan kemampuan Francis... Seharusnya Francis mengharapkan seorang wanita yang bisa menerima keluarga dan mendukungnya. Kemudian mereka bisa menikah dan mempunyai anak... Seharusnya Francis bisa mengalami peristiwa normal seperti pria sukses lainnya di sana! Jika ia mengharapkanku, ia tidak akan bisa menikah dan ia harus mengurus Alfred dan Matthew. Itu pasti akan menghambat cita-citanya!" Arthur menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk mencegah air mata keluar dari matanya.
"Kau salah, Arthur. Kau seharusnya mendoakan kebahagiaan Francis dengan orang yang mencintai Francis dan dicintai Francis... dan orang itu adalah kau." Arthur langsung menyingkirkan telapak tangan dari wajahnya. "Aku tahu kau mencintai Francis... Iya, bukan?"
Kali ini, Arthur tidak menahan air matanya. "Iya... Aku mencintainya... Aku baru menyadarinya saat ia menyatakan perasaannya tadi malam... Sesungguhnya aku merasa sangat senang, Peter. Aku ingin menjawab perasaannya juga. Tapi aku tidak bisa... Aku tidak percaya diri untuk dicintai Francis. Ia berhak mendapatkan orang lain, yang lebih baik dari ku..."
"Arthur... tahukah engkau? Tidak perlu mencari orang terbaik untuk bisa mencintai. Tak ingatkah engkau pada orang tua kita? Papa tidak pernah keluar rumah karena kesehatannya namun Mama tetap mencintainya. Papa kita bukanlah seorang ayah dan suami terbaik karena kesehatannya, namun Mama tetap mencintainya, bukan?"
Arthur kini melihat Peter yang sedang berbaring di hadapannya. Bola matanya berwarna biru dan rambutnya berwarna pirang. Sejak pertama kali Arthur melihat Peter, Peter tidak pernah berubah. Tubuhnya masih tetap kecil dan ia masih suka bermain. Namun sepertinya Peter sudah lebih dewasa. "Kau benar, aku ingin minta maaf pada Francis jadinya."
"Jangan lupa minta maaf pada Gilbert..."
"Ah, akan kulakukan setelah ia pulang sekolah." Tak lama, telefon genggam Arthur berdering. Arthur mengambilnya dan memreriksa nama yang tertera di layar. "Sekolah?" dengan bingung, Arthur mengangkat telefonnya. "Halo?"
"Halo, selamat siang, Tuan Kirkland." Arthur dapat mendengar suara wanita.
"Siang, ada apa dengan Alfred, Bu?" Karena sudah terbiasa menerima telefon dari sekolah perihal tindakan Alfred, Arthur langsung menanyakan Alfred.
"Oh, bukan. Saya menelefon bukan karena Alfred, Tuan. Melainkan Matthew."
"Ada apa dengan Matthew?" Arthur mengerutkan alisnya. Ini sudah kedua kalinya sekolah menelfonnya karena Matthew. Yang pertama karena Matthew terjatuh, dan sekarang... "Apa Matthew terjatuh lagi?!" Tanya Arthur panik.
"Bukan, bukan. Hari ini Matthew tidak masuk sekolah, dan Alfred juga mencari Matthew di sekolah. Jarang sekali Alfred tidak bersama Matthew, bahkan sampai mencarinya. Jadi saya hanya ingin menanyakan apakah Matthew di rumah dan tidak ingin sekolah? Mungkin ia mengurung diri atau sakit?"
"Matthew tidak masuk sekolah?"
"Iya, apakah Tuan tahu dimana Matthew?"
"Tidak, ia tidak berada di rumah. Tadi pagi ia berangkat sekolah terlebih dahulu jadi wajar saja jika Alfred mencarinya. Namun saya pikir ia sungguhan berangkat ke sekolah."
"Sepertinya tidak, Tuan. Matthew sama sekali tidak ke sekolah. Kami dari pihak sekolah akan membantu Anda mencari Matthew. Terima kasih atas kerja samanya." Kemudian sambungan telefon terputus.
Wajah Arthur langsung pucat. Matthew menghilang? Apa Gilbert kabur karena pertengkaran mereka tadi pagi? "Peter... gawat. Matthew tidak pergi ke sekolah. Aku harus mencarinya!" Arthur langsung berdiri dan bergegas mengganti bajunya.
"Arthur, tenanglah. Jangan terburu-buru."
"Bagaimana aku tidak terburu-buru? Aku harus segera mencarinya! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya!"
"Matthew baik-baik saja. Ada Gilbert di dalam tubuhnya sekarang. Percayalah padaku. Gilbert tidak akan membuat tubuh Matthew terluka."
X
"Awawaw!" Gilbert merintih kesakitan saat Foma menempelkan kapas yang sudah dilumuri sedikit alkohol di tangannya.
"Maaf, sakit?"
"Hanya sedikit perih." ucap Gilbert sambil menahan sakit.
"Sedikit lagi pengobatanmu akan selesai, Tuan Gilbert. Mohon sabar." Ucap Foma pelan melanjutkan pengobatan. Gilbert mengangguk pelan.
Sekarang Gilbert berada di rumah Foma, atau lebih tepatnya kamar Foma yang letaknya terpisah dengan rumah Ivan. Saat memasuki pintu gerbang, Gilbert tak menyangka rumah Ivan sangat besar. Rumah yang megah namun terlihat asri dengan taman di sekelilingnya. Untuk menuju rumah Foma, Gilbert dan Foma harus berjalan melewati taman yang berada di sebelah rumah Ivan. Gilbert terkejut saat melihat beberapa rumah kecil yang berada di belakang rumah Ivan. Foma bilang itu semua adalah rumah para pelayan, termasuk Foma. Begitu memasuki rumah Foma, Gilbert dapat melihat langsung tempat tidur, kamar mandi, dan meja belajar. Oleh karena itu daripada disebut rumah, Gilbert beranggapan ini adalah kamar Foma.
"Selesai." Foma memukul pelan perban yang dibalut di lengan Matthew. "Syukurlah tidak ada tulang yang patah."
"Ah, terima kasih, Foma." Gilbert tersenyum kemudian berdiri. "Boleh aku berkeliling kamarmu?"
"Tentu saja boleh. Maaf jika berantakan."
"Tidak, kamarmu jauh lebih rapi daripada kamar asliku, haha." Ucap Gilbert sambil tertawa kecil. Di kamar Foma hanya ada sedikit barang. Hanya ada meja belajar dengan tumpukan buku belajar, dan beberapa foto. Foto Foma, Ivan, dan beberapa orang yang tidak dikenali Gilbert. Gilbert dapat melihat foto Ivan lebih banyak daripada foto Foma sendiri.
"Kau sangat mengagumi Ivan ya? Foto Ivan banyak sekali..." Gilbert mengambil salah satu foto Ivan yang sudah dibangkai dengan pigura kayu.
"Iya, karena Tuan Ivan sudah menyelamatkan saya."
"Menyelamatkan?" Gilbert yang penasaran kemudian duduk di samping Foma.
"Sebenarnya saya mengalami amnesia. Saya tidak mempunyai ingatan sebelum saya berumur enam tahun. Begitu saya sadar, saya sudah berada di Rumah Sakit dengan keluarga Tuan Ivan. Kata dokter, Nona Sofia (1) telah menyelamatkan saya dari perdagangan manusia."
"Sofia?"
"Ia adalah kakak perempuan Tuan Ivan."
"Oh..." Jadi Ivan mempunyai kakak perempuan, ujar Gilbert senang karena mempunyai informasi terbaru.
"Dokter bilang, saya merupakan bagian dari anak-anak yang diculik dan diperdagangkan untuk dijadikan pekerja prostitusi. Kami diberi narkoba agar kami tetap bisa melayani para pelanggan. Suatu hari, lahan tempatku dan anak-anak yang dicuik dibongkar oleh keluarga Tuan Ivan. Mereka bilang karena lahan tersebut akan dijadikan bangunan untuk perusahaan keluarga. Keluarga Tuan Ivan yang terkejut adanya tempat prostitusi, langsung menangkap pelaku dan menolong kami yang sudah hampir meninggal."
"Saat sudah sadar, anak-anak yang menjadi korban direncanakan untuk dipulangkan. Tapi aku tidak bisa, karena aku tidak ingat apa-apa. Tadinya aku akan dimasukan ke dalam panti asuhan. Tapi aku tidak mau. Aku lebih memilih bekerja melayani keluarga Tuan Ivan sebagai wujud terima kasihku kepada keluarga Tuan Ivan. Awalnya aku pikir aku akan melayani Nona Sofia, tapi ternyata Tuan Ivan yang mengangkatku. Ia menyediakanku tempat tinggal, memberiku makan, serta menyewakan guru untukku belajar. Tuan Ivan sudah memberikanku banyak hal. Ia juga memperlakukan anak-anak pelayan lainnya sama sepertiku. Kami diberi guru supaya kami bisa belajar. Karena itulah aku bertekad akan melayani Tuan Ivan. Aku tidak bisa membayar semual hal yang sudah Tuan Ivan berikan kepadaku, karena itu aku ingin melayaninya."
Gilbert memperhatikan Foma saat Foma bercerita tentang Ivan. Terdapat tatapan lembut dalam mata Foma, meski Gilbert tidak begitu dapat melihatnya karena mata Foma yang sipit. Tunggu, sepertinya Gilbert mengenali mata itu.
"Tuan Matthew." kali ini Foma menatap Gilbert. "Saya ingin Anda tahu bahwa terdapat banyak rumor yang tidak baik mengenai Tuan Ivan. Tuan Ivan terkenal dengan sikapnya yang arogan, licik, dan pintar menipu. Rumor itu memang benar, Tuan Ivan memang arogan, licik, dan pintar menipu. Saya sudah melayani beliau selama empat tahun. Tapi saya ingin Anda tahu bahwa Tuan Ivan melakukannya karena Tuan Ivan ingin perusahaan keluarganya maju. Ia ingin keluarga dan pelayannya dapat hidup sejahtera. Tuan Ivan juga orang yang mudah kesepian, mungkin karena ia anak laki-laki satu-satunya. Ia tidak ingin keluarga atau pun orang terdekat meninggalkannya, karena itu ia ingin menahan orang-orang di sekitarnya agar mereka tidak pergi."
"... Terima kasih sudah memberitahuku, Foma." Ucap Gilbert setelah ia tertegun mendengar cerita Foma. "Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?"
"Karena saya tahu Tuan Matthew adalah salah satu orang yang dicintai Tuan Ivan."
Wajah Matthew langsung memerah mendengarnya."Ci... ci... Cinta? I... Ivan mencintaiku?" apa yang kau katakan, Foma!" mendadak, nada bicara Gilbert meninggi.
"Aku bilang Tuan Ivan mencintai Anda, Tuan Matthew, saya tahu itu. Meski Tuan Ivan tidak mengatakannya, namun saya dapat melihatnya. Baru kali ini Tuan Ivan terlihat senang saat bertemu dengan seseorang. Sekarang Tuan Ivan sering tertawa setelah bertemu dengan Anda. Tuan Ivan sering menceritakan tentang Anda. Saya sangat senang dan merasa berterima kasih kepada Anda, Tuan Matthew." Gilbert merasa terkejut karena tiba-tiba Foma menundukkan badannya. "Karena itu saya mohon jangan tinggalkan Tuan Ivan. Saya merasa Tuan Ivan membutuhkan Anda, karena itu saya ingin Anda tetap bisa membuat Tuan Ivan tersenyum dan tertawa seperti sekarang."
Gilbert ingat sekarang. Mata Foma yang sipit, kulit Foma yang putih, serta kebiasaan Foma untuk menundukkan badannya mengingatkan Gilbert pada tetangganya, Keluarga Yao. "Hyung Soo." Merasa terpanggil, Foma mengangkat badannya. "Hyung Soo adalah nama aslimu, Foma. Aku mengenal keluarga kandungmu."
Foma terdiam sambil tetap berdiri. "Benarkah?"
Gilbert menganguk. "Sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu, karena pada akhirnya aku akan kembali pada keluarga asliku. Pada akhirnya aku akan pergi dari sini dan tidak bisa selalu membuat Ivan tersenyum atau pun tertawa. Kau juga akan pergi jika kau ingin kembali ke keluarga aslimu." Ucap Gilbert sambil mengusap foto Ivan yang masih dipegangnya.
"Aku... aku tidak tahu apakah aku akan kembali jika aku sudah menemukan keluarga asliku. Orang tuaku... bagaimana kabar mereka?"
"Ibumu menjadi gila setelah kau menghilang. Ibumu meninggal setelah ia menenggelamkan dirinya di laut. Ayahmu meninggal di pemakaman ibumu setelah ia membakar dirinya. Sekarang kakak sulungmu lah yang menjadi kepala keluarga."
"Aku... punya kakak?"
"Kau mempunyai tujuh saudara, Hyung. Lima kakak laki-laki, dua kakak perempuan, dan satu adik kembar. Aku dapat mengenalimu karena kau sangat mirip dengan Yong Soo."
"Aku punya adik kembar?" Tanya Foma tidak percaya.
Gilbert dapat melihat wajah Foma yang masih terlihat terkejut, namun ia juga melihat sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Gilbert bangun dari tempat duduknya, menghampiri meja belajar Foma, lalu meraih kertas dan pulpen yang ada di atas meja. Gilbert menulis sesuatu di atas kertas itu. "Ini alamat rumah aslimu." Gilbert menyerahkan kertas itu pada Foma. "Kau bisa kemari kapan pun kau mau. Aku tetanggamu, nama asliku Gilbert."
Kali ini Foma memasang wajah bingung. "Kena..."
"Ceritanya panjang, Hyung. Intinya sekarang meski ini adalah badan Matthew tapi jiwa yang ada di dalam tubuh ini adalah jiwa Gilbert, bukan jiwa Matthew. Seperti yang kubilang tadi, suatu saat nanti aku akan kembali ke keluarga asliku, jadi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Maafkan aku..."
Foma masih terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa senang karena ada yang mengenali dirinya dan keluarga aslinya, namun di sisi lain ia bingung apakah ia bisa meninggalkan keluarga Ivan atau tidak. Tiba-tiba, pintu kamar Foma terbuka. Foma dan Gilbert cukup terkejut karena pintu dibuka dengan cara dibanting. Foma dan Gilbert dapat melihat Ivan dengan pakaian kantor dan syalnya yang panjang. "Tuan..." Foma terlihat sedikit ketakutan karena wajah Ivan terlihat seram.
Ivan berjalan memasuki kamar Foma dan menghampiri Gilbert. Awalnya Gilbert senang karena ia dapat melihat Ivan lagi, namun kesenangannya hilang saat ia melihat tatapan dingin Ivan. "Hm... jadi sebenarnya kau adalah Gilbert, dan bukan Matthew?" Pertanyaan Ivan telah membuat badan Gilbert kaku. "Sekarang kau bertanya kenapa aku bisa tahu?" Seolah bisa membaca pikiran, Ivan bertanya lagi. "Tentu saja, Gilbert. Karena aku bisa mendengar semua percakapan di dalam rumah pelayanku jika aku mau, jadi aku bisa mendengar semua percakapan kalian. Syukurlah kau bisa menemukan keluarga aslimu, Foma." ucap Ivan sambil tersenyum dingin pada Foma.
"Meski saya sudah menemukan keluarga asli saya, saya tetap akan melayani Anda, Tuan Ivan." Foma lalu membungkukkan badannya.
"Hm... begitu. Bagaimana denganmu, Gilbert? Sepertinya Foma sudah memberitahu perasaanku padamu, lalu apa tindakanmu?" Ivan bertanya pada Gilbert dengan nada yang belum pernah didengar Gilbert. Gilbert merasa Ivan sedang kesal, sedang marah.
"Kau... sedang marah?" tanya Gilbert membuat Foma tanpa sadar memukul pelan dahinya.
"Hm... aku tidak marah padamu, Gilbert. Aku sudah terbiasa ditipu, aku sudah terbiasa dipermainkan..." Gilbert merasa Ivan sedang membicarakannya. Ivan mengira Gilbert telah menipu Ivan, Ivan mengira Gilbert telah mempermainkan Ivan. "Tapi aku tidak terbiasa jika ditinggal oleh orang, Gilbert." Tanpa sadar, Ivan mencengkram kedua pundak Gilbert. "Foma sudah berbaik hati memintamu untuk tinggal di sisiku dan kau menolaknya?" Gilbert merasa ketakutan. Cengkraman Ivan semakin kuat, tatapan Ivan semakin dingin. Sekarang Gilbert tahu mengapa banyak orang yang takut pada Ivan.
"Maaf... kan aku, Ivan. Sama sepertimu, aku juga mempunyai keluarga. Aku sudah rindu pada mereka. Aku rindu pada adikku, aku rindu pada tetanggaku. Aku ingin pulang dan bertemu lagi dengan mereka. Aku harap kau mengerti, Ivan."
Ivan tetap menatap Gilbert dengan dingin. Seolah tidak terima dengan pernyataan Gilbert, ia tidak melepaskan cengkramannya, namun Gilbert tetap melanjutkan kalimatnya. "Tapi aku tidak pernah menipumu, aku tidak pernah mempermainkanmu..."
"Kau bertingkah seolah-olah kau Matthew padahal kau adalah Gilbert! Bagaimana itu tidak dikatakan menipuku!" Ivan mulai membentak Gilbert. "Kau bisa memberitahuku dari awal, namun kau tetap diam. Kau tetap diam seolah-olah selama apapun kau menyembunyikannya, aku tidak akan pernah tahu! Kau telah menyakiti perasaanku, Gilbert. Padahal... padahal aku sudah mulai ada rasa kepadamu..."
Tanpa sadar, air mata keluar dari mata Matthew. "Aku minta maaf... Aku sugguh-sungguh tidak bermaksud untuk menipumu, Kak Ivan. Aku ingin memberitahumu dari awal namun aku takut kau akan meninggalkanku. Aku tahu yang kau cintai itu Matthew, bukan aku, karena itu aku lebih mimilih untuk diam. Kau bisa bilang aku menipumu, namun aku tidak bohong tentang perasaanku ini padamu..." Gilbert tidak menyangka ia akan menangis seperti ini. Ah, sepertinya ia mengerti perasaan Francis tadi malam.
"Perasaanmu tidak ada gunanya jika pada akhirnya kau akan pergi, Gilbert." Dada Gilbert tiba-tiba terasa sakit mendengarnya. "Jika kau tidak bisa berada di sisiku, jika kau ingin meninggalkanku, lebih baik kau pergi sekarang juga."
Tamatlah sudah. Ivan sudah menolaknya. Ivan tidak ingin Gilbert berada di sini. "Baiklah, terima kasih atas perhatianmu selama ini, selamat tinggal." Gilbert kemudian keluar dari ruangan dan berjalan melewati taman. Kepalanya terus menunduk dan matanya berusaha sekuat mungkin menahan air mata. Begitu Gilbert keluar dari pintu gerbang rumah Ivan, Gilbert dapat melihat sebuah mobil berhenti di depannya dan Gilbert dapat melihat Alfred dan Arthur turun.
"Gilbert!"
"Matt!" dengan bersamaan, Alfred dan Arthur menghampiri Gilbert yang sudah mengangkat wajahnya. "Kau kenapa? Kenapa kau luka begini... dan kau seperti ingin..."
"Huwaaaa!" Belum selesai Alfred berbicara, Gilbert langsung memeluk Alfred dan menangis kencang. Gilbert tidak perduli dengan pertanyaan yang diajukan Alfred dan Arthur. Ia hanya ingin memeluk seseorang dan menangis sekeras-kerasnya.
"Lebih baik kita melanjutkan ini di rumah. Ayo kita pulang." Usul Arthur yang kemudian memeluk Alfred dan Matthew.
X
Secangkir teh English Breakfast hangat perlahan habis. Gilbert sudah merasa tenang sekarang, meski hidungnya masih terlihat merah. Di samping kirinya duduk Alfred yang masih suka megelus punggung Matthew, dan di samping kanan duduk Arthur yang terlihat khawatir. "Jadi, sudah mulai bisa bercerita?"
"Aku tidak ingin bercerita padamu, Arthur. Aku masih marah padamu." Matthew memalingkan wajahnya, tanda bahwa ia serius dengan kalimatnya.
"Baiklah... Aku minta maaf, ok? Aku minta maaf padamu dan juga Francis! Aku tidak bermaksud untuk membuat Francis menangis. Aku terkejut karena tiba-tiba ia menyatakan perasaannya padaku dan karena tidak ingin membuat masa depannya hancur, aku menolaknya. Bukan berarti aku membencinya!"
"Jika kau tidak membencinya, artinya kau mencintainya?" tanya Alfred.
Wajah Arthur langsung memerah. "Be... begitulah..." Dengan malu Arthur menjawabnya. Alfred dan Gilbert langsung memasang wajah bahagia.
"Astaga, Matt. Aku tidak menyangka Arthur akan memasang wajah seperti itu jika ia malu."
"Apalagi aku, baru pertama kali aku melihatnya sepeti ini!"
"Sudahlah kaliaaan... Sekarang kita sedang membicarakan kenapa Gilbert bisa menangis tadi..."
Gilbert mengambil nafas, kemudian menghela nafas. "Jadi... aku sadar aku mempunyai perasaan pada Ivan, apalagi ternyata Ivan juga mempunyai perasaan kepadaku, tentu saja aku merasa senang. Namun Ivan adalah tipe orang yang tidak ingin ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Sedangkan aku... pada saatnya aku harus kembali kepada keluarga asliku, jadi aku bilang padanya aku akan meninggalkannya suatu saat nanti. Dan Ivan bilang..." Gilbert merasa ia ingin menangis lagi. "Ivan bilang perasaanku ini tidak ada gunanya... tentu saja aku sedih..." Gilbert mulai menangis lagi. "Aku merasa bersalah karena Ivan bilang aku telah menipunya, aku tahu aku salah. Namun aku merasa sakit saat Ivan bilang perasaanku ini tidak ada gunanya. Aku ingin menghilang dari hadapannya saja rasanya..."
"Kau ingin kembali ke keluargamu, Gilbert?" Gilbert menghapus air matanya setelah Arthur bertanya padanya.
"Aku ingin pergi menjauh dimana Ivan tidak akan menemukanku, Arthur."
"Kalau begitu kembalilah ke keluargamu. Kau cukup tidur, dan saat kau bertemu dengan dirimu yang lain kau cukup menerimanya. Jika kau dan Matthew sudah melakukannya, kau akan kembali ke keluargamu dan Matthew akan kembali pada kami.
"Benarkah? aku bisa kembali dengan cara seperti itu?"
"Tidak ada salahnya mencoba. Setelah kau merasa lebih tenang, kau boleh tidur dan mempraktekkannya."
Gilbert terdiam sebentar, "Akan aku coba. Jika berhasil, maka aku berpisah dengan kalian di sini. Terima kasih karena telah menerimaku, Alfred, Arthur."
"Terima kasih juga sudah menerima permintaan kami untuk mengisi peran Matthew, Gilbert." ucap Alfred sambil memeluk Gilbert. "Meski rasanya aku ingin memukulmu karena telah melukai badan Matthew."
"Aku berkelahi karena ingin melampiaskan rasa kesalku pada Arthur, haha. Maafkan aku..."
"Aku juga minta maaf karena kita bertengkar tadi pagi, Gilbert." Kali ini Arthur yang memeluk Gilbert. "Aku merasa Francis tidak pantas denganku karena aku merasa aku akan menghambat masa depannya. Sesungguhnya aku juga punya perasaan padanya. Jika ia berhasil mencapai cita-citanya, ia boleh menyatakan perasaannya lagi kepadaku. Aku akan menunggu."
"Akan aku sampaikan..." suasana sempat hening sebentar. "Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan juga mengenai Matthew..."
X
Arthur menutup pintu kamar, sedangkan Alfred mengepalkan tangannya dengan keras. "Aku tidak menyangka Matthew benar-benar dikerjai di sekolahnya..." ucap Arthur.
"Tidak akan aku maafkan mereka." Arthur dapat merasakan Alfred marah. "Aku akan balas mereka..."
"Kau bisa membalasnya sekarang. Kau belum seharusnya pulang, bukan? Cepat kembali sekolah!" Kali ini Arthur yang marah.
"Baik.. baik..."
A/N : (1) setelah saya berselancar di mbah Wiki, saya tidak menemukan nama yang official untuk Ukraina. Banyak pilihan nama dan saya memilih nama Sofie untuk di cerita ini.
Terima kasih untuk kalian yang sudah menjawab pertanyaan saya pada chapter sebelumnya ya. Dari jawaban yang masuk, maka kisah Gilbert dan Matthew kembali ke tubuh mereka akan digabung. Terima kasih sudah menunggu cerita saya, dan mendukung cerita ini. Sampai bertemu di chapter selanjutnya.
Saran dan kritik saya terima, jadi R&R please...
