Chapter II :

Aku melihat bungkusan biru berpita merah dengan senyum bangga. Secarik kartu yang sudah kutulis kuselipkan di pita tersebut.

"Apa itu untuk Merlin, Ros?" Tanya ibuku di depan pintu. Aku tersenyum gembira.

"Menurut ibu, apa Merlin akan suka?"

"Entahlah…"

Aku berharap ia menyukainya….

"Tapi, dari pada memikirkan hal itu, bukankah kau harusnya kau tahu ini jam berapa?" Ucap ibuku penuh teka teki. Aku melihat jam yang tergantung di samping meja belajarku. Sudah waktunya aku tidur. Aku menatap ibuku dengan wajah polosku. Ibuku kemudian menaikan sebelah alisnya dan menyuruhku untuk sikat gigi. Aku kemudian menaruh kadoku di tasku dan pergi ke kamar mandi.

OOO

Aku berdiri di sebuah tempat yang aku tidak aku ketahui. tempat ini begitu dingin dan lembab. Penuh kabut tebal yang membuatku tidak bisa melihat jelas sekitarku. Aku membungkukan diri dan mencoba meraba tanah yang aku pijak. Keras dan penuh bebatuan kasar yang lembab. Kemudian aku merasakan tanganku berada seperti mendapatkan perbedaan ketinggian disamping kananku. Aku terkejut ternyata aku ada di samping tebing ketika tangan kananku tergelincir kebawah.

Aku takut. Aku tidak tahu dimana aku. Dan mengapa aku disana. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mencoba memanggil siapa pun disana namun tidak ada jawaban. Aku mencoba memanggil orang tuaku dan juga Merlin. Aku menangis saking ketakutannya.

"Don't cry, Little Witch." Suara lembut namun tegas terdengar dari jurang dihadapanku. Saat aku mencoba mengintip ke dalam jurang tersebut, sesuatu yang besar muncul dari sana. Menghilangkan semua kabut tebal yang menutupi penglihatanku. Aku merasa takjub, melihat apa yang ada dihadapanku . seekor naga berdiri dengan gagah di hadapanku.

Aku mencoba berdiri. Dan menghilangkan rasa takutku akan naga tersebut. Ia berdiri diseberang tebing dan jurang tempat aku berada. Dia melihatku dengan tatapan senang.

"Hallo, young little witch." Ucapnya. Entah kenapa aku merasa kesal karena dia mengatakan aku ini kecil. Well, yah… aku memang lebih kecil dibandingkan anak seumuranku. Tapi kan tidak perlu dia mengatakan kalau aku kecil.

"Hallo." Ucapku ragu.

"Apa kau takut padaku, Young little witch?"

Aku mengerutkan dahi.

"Aku tidak takut. Dan tolong, bisakah kau jauhkan 'little' dalam cara memanggilku. Itu membuatku merasa sangat kecil."

Naga itu tetawa.

"Aku tidak menyangka, gadis yang membantu The Great warlock akan sekecil kau."

"Apa maksudmu?"

"Kau di takdirkan untuk membantu The Great Warlock untuk membantunya melindungi King of Camelot."

"Camelot? I think its just a legend."

"No, Young witch. It's not a legend."

"Lalu bagaimana aku membantunya? Tahu orangnya saja tidak."

"Kau mengetahuinya, Young witch. Hanya saja, kau tidak dapat melihatnya."

"Bagaimana aku bisa membantu orang yang tidak bisa aku lihat?"

"Kau akan mengetahuinya."

OOO

Aku terbangun dengan nafas yang tidak beraturan. Astaga…. Mimpi apa itu? aku bertemu dengan seekot naga yang bisa bicara. Dan mengatakan takdirku untuk membantu seseorang yang tidak aku ketahui. itu mimpi yang aneh namun menyenangkan. Aku jadi penyihir!

Dari dulu aku memang ingin menjadi seorang penyihir. Bisa terbang dengan sapu terbang. Melihat masa depan dengan bola Kristal. Dan aku punya tongkat sihir dan topi penyihir….

Kalau itu nyata, ini pasti luar biasa!

Namun tiba-tiba aku mencium sesutau yang terbakar. Aku melihat pintu kamar mengeluarkan asap. Aku mencoba bangkit dari kasurku. Perlahan lahan menuju pintu.

Aku terbatuk-batuk karena asap yang mengepul di udara. Aku mencoba meraih knop pintu dengan penglihatanku yang sulit akibat mataku yang perih akibat asap. Yes! Aku bisa meraih knop pintu!

BHUMMM!

TBC

Thank for Reading…..

Hope you like and enjoy it…

Maaf kalo ada kesalahan kata dan Typo dimana-mana… _(-.-)_