Chapter: III
Aku duduk di halte bus menunggu bus menuju rumah pamanku datang. Semenjak kejadian itu. aku tinggal di rumah paman dari ibuku. Sebenarnya mereka sepupu. Namun, mereka tumbuh bersama seperti kakak adik.
Oh ya, nama pamanku adalah Uther Pendragon. Ia seorang pembisinis sebuah hotel bintang lima yang memiliki cabang dimana-mana. Entah kenapa aku merasa dia terlalu ambisius akan pekerjaannya. Tapi, mungkin itu cuma perasaanku saja.
Dia memiliki dua anak bernama Morgana dan Arthur. Setiap kali aku melihat Arthur, Entah kenapa aku selalu teringat akan mimpiku dua tahun yang lalu. Tentang seekor naga yang bisa berbicara mengatakan tentang aku harus melindungi raja Camelot. Tapi, Please... kalau Arthur memang seorang raja-dulunya-, pasti orang-orang yang hidup di zamannya penuh penderitaan.
Bagaimana tidak? Orang itu menyebalkan! Ia sangat arrogant, tukang marah marah, dan cerewet. Hih… kadang aku suka naik darah sendiri karenanya. Tapi ya… dia orang yang baik. Aku harus akui itu. terkadang aku suka melihat orang kesulitan ia tolong,tanpa peduli dia itu siapa.
Ah… tanpa aku sadari. Bus sudah datang. Aku pun bergegas masuk kedalam dan mencari tempat duduk. Kemudian aku melihat seorang kakek tua duduk sendirian di pojok belakang. Aku pun jadi teringat Merlin. Caranya dia tersenyum. Caranya menenangkanku saat aku kesal terhadap temanku. Caranya menanam bunga dikebunnya. Aku merindukannya. Sangat merindukannya.
Aku merasa air mataku menggenang di sudut mataku. Secepatnya aku hilangkan dan segera duduk di bangku paling depan. Disampingku seorang wanita duduk sambil membaca buku. Wajahnya begitu manis, rambutnya yang keriting terurai. Beberapa helai rambutnya sekan menghalangi penglihatannya. Namun dia tidak peduli akan hal tersebut dan terus membaca.
Ia sepertinya tahu aku memperhatikannya. Ia melihatku dan tersenyum.
"Hallo."
"Hey."
"Apakah ada sesuatu diwajahku?" Tanyanya ramah.
"Apa?"
"Kau terus memperhatikaknku. Apa ada sesuatu diwajahku?"
"Oh, maaf. Aku hanya… penasaran. Kau terlihat sangat serius membaca buku itu."
"Begitukah?"
Aku mengangguk pelan. Ia tersenyum dan memperlihatkan buku yang ia baca. Buku yang ia baca ialah buku mengenai cara mengambil gambar atau objek dengan baik. Aku cukup terkejut melihat apa yang ia baca. Kupikir ia membaca tentang kesehatan. Kurasa kau memang tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya.
"Kau kenapa?"
"A…aku terkejut melihat apa yang kau baca. kupikir kau seorang suster atau guru. Tapi ternyata kau seorang photographer ya."
Dia tertawa mendengar perkataanku. Apa aku terlalu jujur?
"Yah, kau benar aku memang seorang Guru disebuah taman kanak-kanak."
Yah, setidaknya aku benar tentang profesinya. Berati fotografer itu cita-cinya ya? Atau hobby?
"Jadi…"
"Fotografer itu hobby ku."
"A…" Aku menggaguk paham. Kami berdua berbincang-bincang selama perjalannan. Gwen ternyata orang yang menyenangkan. Ia baik dan ramah. Juga sopan. Sepertinya aku mendapat teman baru.
Kemudian aku melihat seorang pria menaiki Bus. Wajahnya yang cukup imut. Imut sekali malahan. Tapi bukan itu yang membuatku memperhatikannya. Melainkan matanya. Mata itu…seperti…
Merlin.
