Chapter: IV

Aku menatap orang itu dengan tidak percaya. Bukankah dia yang ada di bis bersama Aku dan Gwen. Saat dia melihatku aku melihat sebuah tatapan rindu disana. Hei siapa kau? Aku tidak mengenalmu tahu…

"Ah, disitu kau rupanya, Ros…" Ucap Paman Uther begitu dia melihatku. Aku segera berjalan mendekatinya. Aku menatapnya dengan tatapan bingung, siapa yang ada dihadapannya tersebut. Melihatku yang tampak bingung, paman Uther pun memperkenalkannya.

"Ini Merlin. Dia akan menjadi kepala pelayan yang baru, dikarenakan James sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi." Aku pun akhirnya mengangguk mengerti.

Cukup kaget juga mendengar namanya. Bukan hanya mata mereka yang mirip, ternyata nama mereka juga mirip. Dan… wow, caranya tersenyum pun juga mirip? Apa ini sebuah kebetulan? Kebetulan yang aneh…

"Hey, Dad… Aku ak- Wow… siapa dia?" Tanya Arthur saat melihat Merlin. Entah kenapa aku sekilat menatap kebahagiaan dan rindu dimata Merlin. Apa mereka teman lama?

" Hi namaku Merlin." Ucap Merlin dengan ramah.

"Apa kita pernah bertemu denganmu sebelumnya? Rasanya namamu sangat familiar." Ucap Arthur sambil mengingat ngingat.

"Kurasa tidak."

Ada sedikit getaran disuara Merlin. Dia berbohong. Kenapa? Apa dia berbuat salah pada Arthur?

"Baiklah Merlin. Tugas pertamamu disini ialah mengurusi Arthur dan Rossela. Kau tidak perlu mengurus Morgana karena ia memang memiliki pelayan pribadi."

"Karena dia sangat sangat manja, dia butuh seseorang yang professional untuk menghadapinya." Gumam Arthur. Aku terkikik geli mendengarnya. Bukan karena itu benar, melainkan karena apa yang akan terjadi padanya jika Morgana tau.

"Awwww!" Pekik Arthur. Yup dugaanku benar. Morgana melempar Arthur dengan buku kamus yang saaangat tebal.

"Siapa yang kau bilang manja, Bocah?" Ucap Morgana galak.

"Tentu saja kau, nona manja…" Ejek Arthur. Sebelum Morgana melemparnya lagi dengan buku yang ia bawa. Paman menghentikan mereka dengan cepat.

"Kids… please stop this!" Ucap paman Uther dengan tegas.

Aku tersenyum pada Merlin sambil berbisik padanya.

"Selamat bekerja, Merlin…"

"Terima kasih, Ella…" Bisik Merlin padaku sebelum menjauh dariku. Aku menatapnya dengan heran, bahkan cara memanggilku pun juga sama.

OOO

Setiap hari aku bertemu Guinevere dalam bus. Entah kenapa kami seperti janjian di dalam bus. Kami selalu duduk disana berbincang-bincang, biasanya kami membicarakan soal buku yang ia baca sebelum kami bertemu. kemudian aku turun duluan meninggalkan gwen sendirian disana.

"Hei, Ros. Kau tau, bagaimana kalau kau datang kerumahku? Ada banyak buku yang pasti kau sukai disana." Tawar Gwen padaku. Tentu saja aku mau. Aku suka buku.

Aku mengangguk penuh antusias. Aku penasaran seperti apa rumah Gwen…

Sesaat aku mencoba membayangkan bagaimana rumah Gwen. Aku mendengar pintu bus terbuka. Aku melihat seorang pria berambut hitam dengan mata yang senada dengan rambutnya.

Oh tidak… Dia kan yang saat itu menanyakan soal Emrys padaku-yang sejujurnya aku tidak tau- saat aku masih didesaku.

Aku bisa melihat matanya menatap tajam kepadaku. Aku takut. Entah kenapa aku merasa takut padanya.

Namun, tanpa sadar, Gwen merangkulku, mendekatkan diriku padanya. Aku merasa aman. Aku tersenyum dan berbisik 'terima kasih' pada Gwen. Gwen tersenyum dan membantuku berdiri. Kemudian, kami berdiri dan turun dari bus. Dari kaca bus, aku bisa melihat mata pria itu sama sekali tidak lepas dariku.

Fiuh… harus aku akui. Beberapa saat aku dalam bus itu rasanya aku seperti dalam ruangan kelas mengerjakan ujian Kimia, mengerikan. Gwen menuntunku ke rumahnya.

Sebuah rumah gaya minimalis berada dihadapan kami berdua. Bangunan rumah itu dicat putih-krem dengan jendela dan pintu kayu berwarna coklat tua dengan teras mungil menghiasinya.

Halaman yang cukup untuk menanam beberapa jenis bunga hias di pekarangannya. Dengan batu batu bulat menjadi jalan setapak bagi kami menuju tangga kayu berwarna coklat tua,

Di dalam teras tempat itu. aku bisa melihat lima kursi dan meja rotan yang dicat putih. Dan di atas meja tersebut, ada sebuat taplak kotak biru putih menghiasi atas meja dan jangan lupa vas berisi bunga segar diatasnya.

Sementara aku melihat depan rumahnya, Gwen mengambil kunci di saku jas kremnya. Memasukannya ke lubang kunci dan memutarnya.

Saat kami masuk, Gwen menyuruhku duduk di sofa abu-abu didekat rak buku. Aku harus akui, buku milik Gwen disini cukup banyak. Bukan hanya tentang kesehatan, dan juga fotografi, ia juga memiliki beberapa buku sejarah dan buku dongeng, mitos dan legenda.

Mungkin buku dongeng dan yang lainnya untuk anak didiknya. Tapi, dari semua buku, ada satu buku yang menarik perhatianku. Yaitu tentang kerajaan Camelot. Aku menarik buku itu dari raknya.

"Apa ada yang menarik?" Tanya Gwen sambil membawa nakas berisi teh dan kue.

Teh dan kue… hmmm aku jadi sangat merindukan "Dia".

"Iya, aku ingin melihat isi buku ini." Ucapku sambil menunjukan Buku yang aku pegang.

"Oh, That's a good book. Kau tau, buku itu mengenai seorang raja bernama Arthur dan pelayan setianya, Merlin."

Arthur dan Merlin?

"Boleh aku pinjam ini, Gwen?"

"Tentu. Kau pasti akan menyukainya."

"Terima kasih, Gwen."

Gwen tersenyum dan kemudian menyodorkan sepotong kue dan Teh hangat kepadaku. Kami pun kembali berbincang-bincang tentang berbagai hal.

TBC…

Thank for Reading. Mind for review?