Chapter: V
Aku sudah membaca buku pemberian Gwen. Dan itu cukup menarik perhatianku.
Didalalam buku itu, menceritakan seorang raja muda yang kuat dan pemberani. Ia berhasil menyatukan seluruh kerajaan menjadi satu. Buku itu juga menceritakan soal pelayan setianya yang merangkap sebagai penasehatnya.
"MERLIN!"
Jeritan Arthur mengagetkanku. Duh… ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini Arthur berteriak seperti itu. Apa tenggorokannya tidak sakit ya? Waktu dulu Bibi ngidam apa sih?
Eh bicara soal Bibi… aku sama sekali tidak mengetahui siapa dia. Kudengar dari Gaius, orang kepercayaannya Paman. Bahwa Bibi meninggal Karena kecelakaan. Namun Entah kenapa aku meragukan hal itu.
"Hey, Ella. Apa yang kau lakukan disitu?" Tanya Merlin sambil membawa gundukan pakaian milik Arthur. Aku agak bingung… kenapa dia basah kuyup, ya?
"Kenapa kau basah kuyup?" Tanyaku balik.
"Well, kau harus tau. Dia marah karena aku lebih mementingkan membersihkan lantai daripada menyahutnya untuk memcucikan pakaiannya." Jawabnya. Aku terkikik geli membayangkannya. Ups, Merlin sepertinya tidak terima…
"Kau tau, Ella? Mentertawakan penderitaan orang lain itu sama sekali tidak bagus." Ucapnya sarkastik.
"Hehehe… maaf, Merlin. Sebagai permintaan maafku, aku akan membantu pekerjaanmu?"
"Benarkah?"
Aku mengangguk yakin.
"Baiklah kalau begitu, kau harus menghabiskan kacang polong makan malammu. Dan tidak boleh ada sisa sedikitpun."
"Apa?! Oh, ayolah, Merlin. Benda itu bukan makanan… benda itu adalah mahluk jahat. Mereka bulat dan banyak. Dan mereka… Hijau." Ucapku kesal. Senyum Merlin melebar.
"Tapi kau bilang, mau membantuku."
"Memang"
"Lalu kenapa kau menolaknya?"
"Karena aku tidak mau memakannya."
"Katamu kau mau membantu."
"Itu tidak termaksud membantu."
"Tidak, itu membantuku." Ucapnya dengan penuh kemenangan.
Uu-uh. Aku benci benda itu. tapi demi memenuhi janji untuk membantunya. Aku mengangguk patuh. Puas akan anggukanku, Merlin yang senang pun akhirnya berjalan kembali sambil membawa keranjang berisi pakaian Arthur.
Hu-uh. Tidak Merlin, tidak "Dia", pasti selalu memperlakukan aku seperti itu. memaksa ku memakan kacang polong yang tidak aku…
Tunggu?
Darimana dia tau aku tidak suka kacang polong. Beberapa minggu ini kan, menu makan malam tidak ada kacang polong. Apa Arthur atau Morgana yang memberi tahukannya? Tapi… apa iya?
OOO
Makan malam terasa sangat sunyi dan agak sedikit tegang? Entahlah, biasanya saat aku makan bersama Arthur dan Morgana di luar terasa sangat hangat dan nyaman. Tapi kalau dirumah…
Mungkin inilah sebabnya Arthur dan Morgana menjauhi makan malam dirumah. Terlalu sunyi dan sangat tidak nyaman. Dan kacang polong diatas piringku semakin memperburuk keadaan. Selera makanku langsung turun. Namun, sesuai janjiku pada Merlin aku harus memakannya. Walau dalam hati aku menyesal berjanji padanya.
Paman Uther datang dengan seorang wanita dibelakangnya. Wanita itu kelihatannya cukup cantik untuk wanita seumurannya.
"Anak-anak, ini Helena. Dia akan menjadi tamu untuk makan malam kita hari ini." Ucap Paman Uther.
Aku menatap wanita itu dengan seksama. Mata coklat tua dan rambut coklat keemasan panjang bergelombang, bibir yang dipulas lipstick merah dan make up yang cukup, dan tubuh ramping.
Hmmm… apa dia teman kencan paman Uther?
"Helen ini adalah bintang yang mengisi acara disalah satu hotel kita. Kurasa ada baiknya kalau kita menjamunya makan malam." Jelas paman pada kami.
"Seorang penyanyi?" Tanyaku.
"Kau tidak tau ya, Ros. Dia ini salah satu Diva terkenal." Ucap Morgana padaku berbisik.
"A…aku pernah mendengar lagumu. Suaramu sangatlah indah." Puji Arthur pada Helen.
"Terima kasih, Arthur."
"Bagaimana kalau kau bernyanyi untuk kami." Ucap Paman. Ia melihatku dan mengganggukan kepalanya. Itu artinya, aku harus mengirinya dengan piano.
"Rosella akan mengiringimu dengan piano. Dia cukup pandai bermain piano." Ucap paman Uther saat aku berjalan menuju pianoku.
Saat aku mulai, aku mendengar Helen bernyanyi dengan suara merdunya. Lantunan musikku mengiringi suaranya yang lembut. Aku mengerti sekarang kenapa paman Uther mengundangnya makan malam. Suaranya seakan membawakan suasana nyaman didalam rumah. Sangat nyaman…
Sangat nyaman hingga kau ingin tertidur karena lagu tersebut. Mataku jadi berat. Namun aku harus selesaikan lagunya. Tidak enak kalau aku malah ketiduran karena suaranya yang indah. Namun… rasa kantukku sangat berat, aku khawatir tidak bisa menyelesaikan lagunya dan malah tertidur disini.
Kulihat dari bahuku, paman Uther, Arthur, Morgana, dan yang lainnya juga tertidur karena lagu tersebut. Namun bukan itu yang membuatku merasa janggal. Beberapa saat kemudian, sarang laba-laba menyelimuti mereka. Akupun juga begitu.
Helen yang tadinya berwajah wanita muda berubah menjadi wanita tua. Aku kaget dan mengehentikan permainanku. Music telah berhenti, namun Helen tetap bernyanyi. Aku semakin terkejut begitu sebuah pisau terbang kearah Arthur.
"Arthur!" Teriakku.
Celaka terlambat!
STAB!
.
.
.
Aku bungkam tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun. Tubuhku serasa lemas melihat pemandangan yang aku lihat. Dalam hati bersyukur dengan apa yang aku lihat. Aku tersenyum senang.
Syukurlah…
Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat aku melihat Merlin menarik Arthur menjauh dan menghindari pisau melayang itu.
Mataku akhirnya melihat kearah Helen, yang sekarang melihat kepadaku dengan penuh amarah. Aku mundur hingga menabrak piano. Suara bising akibat tuts piano yang kutekan tidak beraturan terdengar dan membangunkan orang-orang yang tertidur.
Helen berjalan kearahku sambil membawa pisau tajam ditangan kanannya. Aku ketakutan, mencari jalan keluar dari sana. Kulihat lampu gantung diatas kami, dan berharap benda itu jatuh.
PRANG!
.
.
.
Aku menjerit histeris. Benda itu jatuh diatas tubuh Helen. Aku memang mau benda itu jatuh tapi hanya untuk dia menjauh dariku. Namun… Benda itu malah jantuh diatas tubuh Helen. Darahnya mengenaiku, lantai, dan lampu.
Aku terduduk dilantai saking ketakutannya. Morgana menghampiriku dan kemudian memelukku. Paman menyuruh kami berdua untuk kekamar. Aku melihat tatapan khawatir dari Merlin sebelum pintu ruang makan tertutup.
Samar-samar aku mendengar suara paman Uther.
"Para sorceress harus dimusnahkan…"
TBC…
Thanks for reading! Reviewnya plis...
