Cast : DO KYUNGSOO (YEOJA)

KIM JONGIN

BYUN BAEKHYUN (YEOJA)

PARK CHANYEOL

KRYSTAL

YOONA

LEE SEUNGGI as DO SEUNGGI

KASIOO

sad romance. family. hurt. friendship.

Cerita asli karangan sendiri.

WARNING GS and TYPO.

MINAL AIDZIN WALFAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

MAAFIN TELAT POST.

CHAPTER 2 SILAHKAN BACA

THANKS BUAT YANG UDAH REVIEW. REVIEW LAGI YA.


KYUNGSOO POV.

.

.

Tubuh ku diam bagaikan patung saat sampai dirumah dan eomma tidak ada. Aku menangis tanpa suara. Dada ku sesak. Dalam sekejap keluarga bahagia ku lenyap.

"Apa yang kau lakukan di kamar ku?" Tanya ku marah saat melihat wanita itu sedang berjalan menelusuri barang-barang yang aku miliki. Dia tersenyum

"Appa yang menyuruh ku untuk tidur disini." jawabnya. Aku berdecih.

"Masih ada kamar kosong di bawah sebaiknya kau pergi dari sini." aku melempar kopernya. Kemudian mendorong tubuhnya keluar dari kamar ku. Dia tersenyum sinis.

"Do Kyungsoo sebaiknya kau berhati-hati pada ku, jangan sampai aku menendang mu keluar dari rumah ini." ancamnya.

"Kau hanya anak angkat, semua yang kau miliki akan menjadi milik ku, karena aku adalah anak kandungnya." tambahnya lagi. Aku tersenyum sinis.

"Apa kau bermimpi menjadi cinderella? Sampah seperti mu sebaiknya tetap berada dipinggir jalan." balas ku. Matanya menatap ku penuh amarah. Sementara aku hanya membalasnya dengan senyuman sinis ku.

"Jika aku bermimpi menjadi cinderella maka aku akan memberikan mu mimpi menjadi putri salju."

"Mana bisa sampah bermimpi menjadi cinderella? Sampah tetap menjadi sampah meskipun sudah didaur ulang." Krystal menampar ku dengan keras.

"Ada apa ini?" appa tiba-tiba datang. Krystal berpura-pura menangis dihadapannya kemudian menjadikan aku sebagai tersangka.

"Sepertinya Kyungsoo tidak suka aku berada dikamarnya appa, dia menampar ku." kata Krystal. Aku tersenyum sinis. Dia iblis.

"Apa kau sedang bermain drama sekarang? Akting mu bagus sekali, sebaiknya kau menjadi artis!" kata ku sinis. Appa menatap ku tajam.

"Do Kyungsoo dia adalah kakak mu kenapa kau memperlakukannya begitu!" appa membentak ku. Aku menatapnya menantang. Sungguh sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal itu. Aku tidak pernah melawan appa. Kadang aku hanya merajuk saat aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Namun kali ini berbeda, aku sungguh-sungguh marah padanya.

"Apa appa mempercayainya? Dasar iblis!"

"Plak!" satu tamparan melayang dipipi kiri ku. Menambah rasa sakit yang tadi diciptakan oleh tangan Krystal. Namun hati ku lebih sakit menerimanya.

"Kyung…"

"Kyungsoo gwenchana?" Krystal menghampiri ku. Aku mendorongnya membuat dia jatuh tersungkur.

"Pergi dari kamar ku sekarang!" usir ku. Appa memapah Krystal keluar dari kamar ku. Aku mengunci pintu. Menangis dalam diam. Eomma sudah meninggalkan aku sendirian.

.

.

.

Alarm ku sudah berbunyi. Aku sengaja menyetelnya pagi sekali karena aku tidak ingin melihat appa dan kedua wanita itu pagi ini.

Namun tanpa aku duga appa sudah lebih dulu berdiri diruang tamu. Dia menungguku.

"Krystal akan appa masukan ke sekolah mu. Jadi appa harap kau bisa menjaganya." kata appa.

"Apa aku seorang bodyguard?" tanya ku sarkatis. Appa menghela nafasnya.

"Kyungsoo ini kesalahan appa, dan appa minta maaf. Appa benar-benar menyesal." Aku tersenyum kemudian berjalan perlahan menghampirinya.

"Aku marah karena appa membohongi eomma, mengkhianatinya. Sungguh aku tidak apa-apa tapi aku tidak bisa jika eomma kenapa-napa. Selama ini kalian berdua membesarkan aku, menjaga ku dan menganggap ku sebagai anak kandung kalian sendiri walaupun kenyataannya aku hanya anak angkat tapi aku sungguh-sungguh mencintai kalian. Dan aku tidak bisa melihat semua ini. Eomma bahkan pergi meninggalkan aku sendirian tanpa mengucapkan kata perpisahan. Itu sungguh menyakitkan." kata ku. Appa menatap ku dengan penuh rasa bersalah.

"Krystal anak kandung appa Kyungsoo, appa tidak mungkin membiarkan dia menderita lebih lama lagi sedangkan apa bersenang-senang disini." Aku tersenyum sinis saat appa mengatakan hal itu. Yah aku tau aku tidak sebanding dengan anak kandungnya.

"Geure. Kalau begitu lakukan apa yang ingin appa lakukan. Aku akan tinggal disini sampai hari kelulusan, setelah itu appa bisa hidup bahagia dengan keluarga baru appa. Aku berangkat dulu." Tanpa menoleh lagi aku meninggalkan rumah yang dulunya penuh dengan kebahagiaan.

.

.

.

"Kyung kau tau katanya akan ada murid baru." Baekhyun memberitahu ku dengan keceriaannya seperti biasa. Aku tersenyum.

"Biarkan saja aku tidak peduli." jawab ku. Baekhyun berdecih.

"Dasar gadis sombong." aku diam tidak membalasnya.

"Jongin datang." bisik Baekhyun. Namun aku masih enggan untuk sekedar mengangkat kepala ku.

"Kau bertengkar lagi dengannya?" tanya Baekhyun lagi. Aku menggeleng.

"Kojima! Wajah kalian sama-sama kusut!"

"Baek bisakah kau diam? Aku ingin tidur." kata ku. Baekhyun berdecak kesal kemudian pergi meninggalkan ku.

Aku benar-benar ingin sendiri saat ini. Aku butuh ketenangan dan aku ingin melupakan segala masalah yang ada dihadapan ku.

"Yak Do Kyungsoo!" aku mendengus saat si tiang listrik meneriakan nama ku. Baru saja aku mengusir kekasihnya.

"Hmmm." aku hanya membalasnya dengan deheman malas.

"Apa kau melihat Baekhyun-ku?" tanyanya menanyakan kepunyaannya.

"Aku baru saja mengusirnya. Dan lebih baik sekarang kau pergi aku ingin tidur." kata ku. Chanyeol menjitak kepala ku kemudian pergi.

"Park Chanyeol akan ku bunuh kau!" teriak ku kesal. Dua mahluk itu benar-benar tidak bisa membiarkan aku tenang barang sedetik pun.

"Do Kyungsoo kau dipanggil Kyuhyun songsaenim." Jieun menghampiri ku. Aku bangkit berdiri.

"Katakan padanya aku tidak masuk hari ini." aku mengambil tas ku kemudian pergi meninggalkan kelas sebelum bel jam pertama dimulai. Aku butuh ketenangan dan sepertinya sekolah ini bukan tempat yang tepat.

.

.

.

"Do Kyungsoo dimana kau?"

Aku membaca pesan singkat dari Baekhyun namun aku tidak berniat untuk membalasnya. Baekhyun terlalu cerewet untuk mengetahui masalah ku saat ini. Jadi biarkan saja dia tidak mengetahui apa-apa.

"Kau tidak akan membalas pesan ku? Akan ku bunuh kau besok!"

aku tersenyum saat Baekhyun mengirimkan pesan lagi. Mian Baek aku butuh sendiri.

Aku memasang aerphone dikedua telinga ku kemudian memejamkan mata ku nemikmati angin yang menerpa wajah ku dengan lembut. Membuat perasaan ku sedikit lebih tenang.

Tiba-tiba sebuah tangan melepas sebelah aerphone ku membuat aku terpaksa membuka mata ku. Dan aku kaget saat melihat Jongin duduk disamping ku sambil memasang aerphone yang dia lepaskan ditelinga kirinya.

"Apa yang kau lakukan? Kau menguntit ku? Aigoo Kim Jongin memang tidak bisa marah pada ku rupanya." kata ku setelah sadar dari keterkejutan itu.

"Aigoo Do Kyungsoo kenapa kau tumbuh menjadi gadis yang sangat menyebalkan?" balasnya. Aku terkekeh.

"Kedengarannya seperti 'Do Kyungsoo kenapa kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." Jongin mengacak rambut ku kemudian tersenyum.

"Kenapa kau terlihat sangat bahagia sekarang?" jongin bertanya. Aku menatap langit.

"Karena sumber kebahagiaan ku ada disamping ku saat ini." jawab ku kemudian tersenyum riang ke arahnya.

"Jadi masalah apa yang membuat Kyungsoo-ku ini bersedih?" aku menghela nafas ku. Haruskah aku menjawabnya?

"Eomma dan appa bertengkar, dan eomma pergi dari rumah. Itu benar-benar membuat ku kesal." jawab ku akhirnya. Mungkin untuk saat ini Jongin hanya perlu mengetahui faktanya sampai disitu.

"Kau sudah menghubungi eomma mu?" aku mengangguk.

"Handphonenya tidak aktif. Aku benar-benar merindukannya."

"Apa masalahnya serius?" tanyanya lagi.

"Sepertinya…"

"Aku yakin eomma dan appa mu pasti berbaikan lagi. Kau tidak perlu sedih Soo, ada aku disamping mu. Aku janji tidak akan meninggalkan mu.." aku tersenyum.

"Kojima! Kemarin kau meninggalkan ku sedirian!" jongin terkekeh.

"Itu karena kau begitu menyebalkan. Membuat ku khawatir dan lari terbirit-birit mencari mu kemana-mana!"

"Ah mian."

"Lain kali jangan menyembunyikan apapun dari ku. Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan, menangis jika kau ingin menangis jangan diam dan berbohong. Kita sahabat dan tidak ada hal yang ditutupi diantara persahabatan." Kata Jongin. Dan aku hanya dapat tersenyum mendengarnya. Jongin tidak pernah tau jika aku begitu mencintainya. Sejak pertama bertemu dengannya sekitar sepuluh tahun yang lalu.

"Jangan pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi Kai…" Jongin tersenyum kemudian memeluk ku. Pelukan yang selalu membuat ku nyaman.

"Aku janji Soo." dan seketika hati ku menjadi tenang. Untuk sesaat aku dapat melupakan masalah keluarga ku.

.

.

.

Aku terdiam cukup lama saat melihat pintu rumah ku. Rasanya benar-benar berat memasuki rumah yang sekarang menjadi sebuah neraka ini. Aku ingin pergi namun aku tidak bisa meninggalkan appa.

"Sedang apa kau?" sebuah suara mengagetkan ku. Aku mendelik saat melihat Krystal berdiri dibelakang ku sambil menatap ku sinis.

"Apa urusannya dengan mu?" kata ku balik bertanya kemudian membuka pintu meninggalkannya sendirian. Dan aku kembali berdecih kesal saat melihat seorang wanita lagi sedang duduk santai diruang tamu. Dia sudah merasa dirinya ratu disini.

"Kyungsoo siapkan makan malam!" serunya saat aku akan menaiki tangga.

"Apakah aku pembantu dirumah ini? Siapkan saja sendiri." jawab ku. Wanita itu berjalan menghampiri ku.

"Jika kau tidak ingin meninggalkan rumah ini seperti ibu mu maka lakukan apa yang aku katakan." katanya sengit. Aku mendelik.

"Apa kau tidak mengenal ku nyonya Jung?" tanya ku mengalihkan. Wanita itu menatap ku tak mengerti.

"Kau hanya anak angkat dari suami ku." jawabnya. Aku tersenyum kecut mendengar jawabannya. Suami katanya? Sejak kapan appa menikahinya.

"Yah kau benar aku hanya anak angkat, tapi kau perlu bangun dari mimpi mu nyonya Jung. Appa ku bukan suami mu, dia hanya memiliki satu istri dan itu ibu ku, Im Yoona." wanita itu mendelik kesal.

"Lakukan apa yang aku katakan atau aku akan membuat ayah mu menyesal karena telah mengangkat mu sebagai anaknya."

"Lakukan saja, aku tidak peduli." setelah itu aku pergi meninggalkannya. Seorang ibu kandung ternyata dapat melupakan anaknya sendiri. Aku benar-benar bersyukur karena dia telah meninggalkan ku dipanti asuhan. Jessica Jung, ibu kandung ku dia adalah seorang monster.

.

.

.

Aku keluar dari mobil ku kemudian berjalan santai menuju kelas. Ku lihat Baekhyun dan Chanyeol sedang bercanda dikoridor kelas. Aku benar-benar senang melihat mereka berdua. Apalagi jika mengganggu mereka.

"Yak!" teriak Baekhyun saat aku memisahkan tangannya yang merangkul tangan Chanyeol.

"Baek ini masih pagi dan kau sudah berbuat mesum disekolah sungguh keterlaluan." kata ku sambil melenggang memasuki kelas.

"Yak Do Kyungsoo ku bunuh kau sekarang juga!" teriaknya. Aku terkekeh kemudian duduk dibangku ku.

"Kenapa kau kemarin bolos? Kyuhyun Songsaenim mencari mu karena kau tidak merapihkan buku diperpustakaan."

"Aku hanya sedang malas." jawab ku santai.

"Jongin mencari mu, kau tau?"

"Hem, kemarin aku bertemu dengannya."

"Kalian berdua memang aneh. Apa susah sekali mengakui perasaan masing-masing?" aku terdiam saat Baekhyun mengatakan kalimat yang tak pernah siap aku dengar. Mengakui perasaan masing-masing? Disini hanya aku yang memiliki perasaan untuknya.

"Anak-anak silahkan duduk dibangku kalian masing-masing, hari ini kita kedatangan murid baru." Kyuhyun songsaenim menginterupsi semua kegiatan yang ada dikelas sehingga semua murid diam dan duduk dibangku masing-masing, termasuk Baekhyun.

"Krystal silahkan masuk." tubuh ku membeku seketika. Krystal? Ya Tuhan.

"Silahkan perkenalkan dirimu." Krystal menganggukan kepalanya.

"Annyeong, aku Krystal Jung, senang bertemu kalian." Katanya penuh dengan senyuman. Aku sungguh muak melihat wajahnya.

"Saem aku harus ke toilet." kata ku dan tanpa menunggu jawabannya aku langsung pergi meninggalkan kelas.

Aku berdiri menatap gedung didepan ku tanpa minat. Sebenarnya toilet hanya jadi alasan ku saja untuk bisa bolos. Aku benar-benar tidak ingin berada disatu ruangan dengan Krystal.

Ku ambil ponsel ku dan ku telpon appa. saat ini aku ingin marah padanya.

"Apa yang appa lakukan? Appa benar-benar memindahkan Krystal ke sekolah ini dan satu kelas dengan ku! Appa keterlaluan!" kata ku kesal saat dia mengangkat telponnya.

"Tidak! Dia bukan saudara ku, aku tidak sudi memiliki saudara iblis seperti dia…" aku terdiam saat appa membentak ku.

"Geure, lakukan apa yang ingin anda lakukan tuan, aku tidak akan melarang apa-apa lagi. Tapi satu yang harus kau tau, aku tidak akan pernah sudi memiliki saudara dan ibu seperti kedua wanita murahan itu." klik. Aku menutup telpon ku kemudian berteriak kesal.

"Aish berisik sekali!" tubuh ku membeku.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya ku.

"Tidur tentu saja. Memangnya apa lagi." jawabnya. Apakah dia mendengar semuanya?

"Aku tidak memiliki teman satu pun disini, jadi kau tidak perlu khawatir aku akan membocorkannya." ya Tuhan dia mendengar semuanya. Apa yang harus aku lakukan?

"Oh Sehun, aku mohon berpura-puralah tidak mengetahui apa-apa. Semua yang kau dengar anggap saja hanya mimpi…" kata ku kemudian pergi meninggalkan laki-laki itu. Aku mengenalnya namun aku tidak mengetahui apa-apa. Yang aku tau dia hanya murid pemalas disekolah ini dan dia satu kelas dengan ku.

"Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun asalkan kau mau jadi teman ku." langkah ku terhenti.

"Kau bilang kau tidak akan membocorkannya." kata ku. Dia tersenyum sangat tipis.

"Aku berubah pikiran setelah melihat mu begitu menderita, sepertinya akan sangat menyenangkan bisa bermain-main dengan mu Kyungsoo sang gadis nakal.."

"Kau bilang aku harus menjadi teman mu? Apakah seorang Oh Sehun merasa kesepian dan sekarang membutuh kan teman? Dalam mimpi mu saja. Plak!" kata ku sambil memukul kepala Sehun. Pemuda itu meringis tapi sesaat kemudian dia menatap ku tajam.

"Jangan menyepelekan perkataan ku Do Kyungsoo." balasnya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat ini selain mengiyakan permintaannya. Aku tidak ingin semua orang mengetahui bahwa Krystal adalah saudara ku walaupun kenyataannya memang bukan.

"Geure lakukan apapun yang kau inginkan. Namun jika mulutmu membocorkan semuanya bisa ku pastikan aku akan mengiris bibir mu tanpa ampun." setelah mengatakan kalimat ancaman yang aku yakini Oh Sehun tidak akan peduli, aku pergi meninggalkannya.

.

.

.

Aku mencuci tangan sambil menatap cermin didepan ku. Pandangan ku tertuju pada Krystal yang baru memasuki toilet namun aku sama sekali tidak berniat mengata-ngatainya sekarang.

"Apa kau senang kakak mu bersekolah disini bahkan satu kelas dengan mu?" tanyanya sambil tersenyum sinis. Aku tidak mempedulikannya. Biarkan saja di mengoceh sendirian.

"Berhati-hatilah Kyungsoo." katanya lagi sambil menepuk-nepuk pundak ku. Kali ini ku balas dengan senyuman semanis mungkin. Setelah itu aku pergi meninggalkannya.

...

"Apa yang sedang kau lakukan? Aku merindukan mu."kata ku pada orang disebrang telpon. Dia terkekeh.

"Kita bahkan baru bertemu kemarin gadis nakal. Ngomong-ngomong aku sedang memikirkan mu juga, sampai kau menelpon ku."balasnya. Aku ikut terkekeh.

"Aku tidak mengatakan aku sedang memikirkan mu dan kenapa kau tidak masuk sekolah?"

"Benarkah? Aku latihan hari ini, comeback EXO sebentar lagi jadi aku harus fokus. Aku benar-benar lelah Soo."dia mulai mengeluh. Dasar namja pabbo.

"Jangan terlalu memaksakan diri Kai. Tanpa fokus berlatih pun kau sudah menjadi yang tebaik untuk ku dan untuk semua fans mu. Jadi istirahatlah, aku takut kau akan sakit saat hari EXO comeback nanti."

"Kau mendoakan ku sakit?"aku berdecak. Dia mulai sensitif.

"Aku takut Kai, bukan berarti…"

"Siapa yang sedang kau telpon? Kau mengabaikan ku sejak aku datang." Sehun memotong ucapan ku.

"Suara siapa itu Soo?"

"Bukan siapa-siapa…"

"Apa makasud mu aku bukan siapa-siapa? Akan aku katakan pada anak- mbhgdhjdb.." Aku membekap mulut Sehun.

"Jongin aku harus pergi. Nanti ku telpon lagi ne? Klik." tanpa menunggu jawaban Jongin aku menutup telpon kemudian menatap marah pada Sehun yang juga sedang menatap ku seperti meminta sebuah penjalasan, mungkin.

"Seorang teman tidak harus mengetahui apapun yang aku lakukan Oh Sehun." kata ku kesal. Dia mengedikkan bahunya kemudian duduk.

"Seorang teman tidak ada yang mengabaikan temannya." balasnya sengit. Aku mendelik. Sejak kapan juga aku menganggapnya teman?

"Seorang teman tidak ada yang mengancam temannya."

"Kau bahkan mengancam akan mengiris-ngiris bibir ku, gadis nakal." Sehun terkekeh. Dan seketika aku mematung. Ya Tuhan setan mana yang memasuki mata ku saat ini? Kenapa Oh Sehun terlihat sangat manis saat sedang tersenyum seperti itu?

"Kenapa kau bengong?" aku tersadar kemudian menggeleng-gelengkan kepala ku. Kau gila Do Kyungsoo.

"Listen to me Soo-ya…" kenapa dia memanggil ku seperti itu? Terdengar seperti Jongin. Ya Tuhan aku begitu merindukan Namja Pabbo itu.

"Kau mendengar ku?"

"Oh Sehun sepertinya aku harus pergi sekarang jadi nanti kita bicara lagi." aku harus melarikan diri. Kepala ku benar-benar sedang tidak benar. Bagaimana mungkin aku mengagumi senyuman Sehun dan tiba-tiba menganggapnya sebagai Jongin. Ya Tuhan otak ku benar-benar sedang berrmasalah saat ini.

.

.

.

Author POV

Kyungsoo memasuki rumahnya tanpa minat. Dia sebenarnya tidak berminat untuk pulang namun tidak ada tempat yang bisa didatanginya untuk beristirahat selain tempat ini.

"Kau sudah pulang?" tanya Jessica sambil menatap Kyungsoo. Gadis itu menatapnya malas kemudian berlalu meninggalkan wanita itu.

"Buatkan aku makanan, aku sangat lapar. Ahjuma sudah aku suruh pulang dan dia tidak memasak." katanya menghentikan langkah Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum sinis.

"Apakah aku seorang pembantu?" tanya Kyungsoo dingin.

"Tentu saja, sebelum kau diusir dari rumah ini aku harus memperkerjakan mu dulu agar kau diberi pesangon." jawab Jessica. Kyungsoo membalikan badannya kemudian berjalan sambil menatap Jessica tajam.

"Kapan Krystal ulang tahun?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. Dia begitu penasaran apakah Krystal benar-benar anak dari Jessica atau bukan, dia harus memastikan itu.

"Kenapa kau ingin tau?" tanya Jessica.

"Mungkin aku bisa memberikannya hadiah atau membuatkannya kue." jawab Kyungsoo. Jessica tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Dia ulang tahun tanggal 12 Januari." kata Jessica tanpa melihat bagaimana ekspresi Kyungsoo saat ini.

"12 Januari? Ulang tahunnya sama seperti teman ku."

"Aku tidak peduli sekarang buatkan aku makanan." Kata Jessica. Kyungsoo tersenyum miris.

"Kau bahkan tidak peduli pada anak mu." lirihnya. Dan tentu saja Jessica tidak mendengarnya. Wanita itu sudah berlalu pergi meninggalkan Kyungsoo setelah mendorong gadis itu.

.

.

.

TO BE CONTINUE