Halo teman-teman saya kembali lagi. Terima kasih atas reviewnya. Mohon maaf bila banyak typo dan kesalahan di chapter sebelumnya. Semoga di chapter kali ini lebih memuaskan untuk readers sekalian.
Naruto dan teman-temannya hanya milik Masashi Kishimoto. Saya cuma meminjam saja. Selamat menikmati..
Chapter 2
Suara-suara itu semakin mengeraskan volumenya. Bukan hanya berasal dari satu atau dua orang saja. Tapi semua yang di sekelilingnya saling memberikan komentar masing-masing dan Naruto tahu siapa yang sedang diperdebatkan oleh mereka. Ya dialah objek pembahasan tersebut.
Awalnya Naruto ingin segera membuka mata agar suara-suara berisik itu teralihkan fokusnya. Namun dia buru-buru menahannya. Sejak Ino meyinggung sesuatu tentang korban, Naruto yakin ada yang tidak beres di luar sana. Mungkin dengan mencuri dengar pembicaraan mereka, dia bisa mendapat sedikit informasi. Karena Naruto tahu, jika dia menanyakannya langsung mereka jelas tidak akan menjawabnya. Apalagi dia adalah orang asing dan baru saja merusak catatan baiknya.
"Kita tidak bisa membiarkannya terus disini, dia mungkin salah satu tentara perdamaian..!" teriak seseorang yang menurut Naruto adalah Kiba.
"Aku setuju dengan Kiba. aku rasa dia sengaja dikirim untuk melemahkan kita dengan menghabisi salah satu tenaga medis." komentar seorang gadis yang tidak lain adalah Ino.
"Jika dia memang salah satu dari mereka, kenapa dia datang kemari dengan luka diseluruh tubuhnya? kenapa dia berteriak seperti orang gila? menurutmu dia sedang berakting?!" kali ini suara Shikamaru menimpal.
"Lalu menurutmu apa?!" balas Kiba menaikkan suaranya.
"Aku tidak tahu, aku cuma merasa kepalanya rusak.." jawab Shikamaru asal.
"Aku setuju dengan Shikamaru. Lagipula kenapa mereka susah-susah mengirimkannya kalau dengan menekan satu tombol saja bisa menghancurkan kita dalam sekejap.." Ucap Sai dingin.
"Bagaimana menurutmu Sakura ?" tanya Ino. Nada suaranya mengekspesikan kekhawatiran. Sakura dan Ino mungkin telah berteman baik sejak lama.
"Aku setuju dengan pendapat Shikamaru dan Sai." ucap Sakura.
"Kau gila, Sakura..!" protes Ino kesal.
"Bukan begitu. Hanya saja saat dia menyerangku, aku melihat tatapan mata penyesalan tercetak jelas diwajahnya. Aku rasa apa yang dia lakukan padaku benar-benar diluar kendalinya..
"Kau benar.." kata Naruto seraya membuka mata memotong ucapan Sakura. Dia merasa sudah cukup acara mengupingnya. Naruto harus menjelaskan jika dia memang tidak mengerti kenapa penyerangan itu bisa terjadi.
Semua terperanjat saat Naruto memotong ucapan Sakura. Mereka tidak mengira jika selama ini anak laki-laki itu sudah tersadar sebelumnya.
"Jadi selama ini kau pura-pura tertidur brengsek?" desis Kiba.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Shikamaru tanpa basa-basi.
Naruto menatap Shikamaru cukup lama sebelum menjawab. Dia harus meyakinkan dirinya jika orang yang ditatapnya bisa percaya dengan segala penjelasannya yang terdengar sangat gila.
"Aku bukan berasal dari sini.." jawab Naruto membuang muka.
"Benar sekali, jadi kau dari mana bung? planet Pluto?" timpal Kiba sarkatis.
"AKU DARI MASA DEPAN..!"
Tepat saat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sai menerjangnya hingga punggung bocah pirang itu membentur dinding dengan keras. Dengan cepat rasa sakit itu mulai menjalar di tubuh bagian belakang. Belum sempat Naruto mengerang, Sai sudah menarik tubuhnya dengan sangat kasar. Dia tidak bisa mengelak. Mengingat saat ini kedua tangannya terikat kuat.
Pertama kali melihat Sai, Naruto pikir anak laki-laki itu adalah sosok yang kalem dan cerdas. Sekarang setelah mendapat perlakuan kasar dari Sai, Naruto nampaknya perlu menambahkan kata mengerikan dalam diskripsinya tentang bocah berambut hitam itu.
"Jangan bermain-main denganku..?" ucap Sai mencengkram kerah baju Naruto.
"Kau pikir aku sedang melawak..? lepaskan ikatan ini dan aku akan mengatakan semuanya..!" balas Naruto disertai sebuah persyaratan.
"Kau pikir dimana posisimu bung? tidak ada tawar-menawar disini. Jadi cepat...
"Lepaskan dia..!" perintah Shikamaru memotong ucap Sai.
"Kau serius..?" Sai kaget dengan ucapan Shikamaru. Menurutnya membebaskan Naruto adalah tindakan keliru.
"Dengar Sai, kepalaku hampir meledak karena hal-hal gila belakangan ini. Jika kau tidak setuju dengan perintahku sebagai pemimpin di tim ini, kau boleh menggantikannya. Aku dengan senang hati akan menyerahkannya. Sejak awal aku juga tidak berminat.." kata Shikamaru tegas.
Naruto tersenyum kecut mendengar ucapan Shikamaru. Dia tahu ada sedikit ungkapan perasaan pribadi yang coba dibubuhkan dalam kalimat yang baru saja diucapkan oleh bocah rambut nanas itu. Naruto memahami beban itu dan menaruh respek padanya.
Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Sai melepaskan ikatannya. Naruto bersyukur akhirnya anak laki-laki itu menuruti intruksi Shikamaru. Kedua tangannya kini telah terbebas. Namun untuk berjaga-jaga Sai berdiri di samping kiri Naruto dengan mencengkram tangan kirinya dengan begitu erat. Seolah bocah pirang itu akan kembali menyerang siapapun ketika ikatannya dilepas.
"Jika kau berbuat sedikit saja hal yang mencurigakan, aku akan segera menghabisimu.." bisik Sai tepat ditelinga Naruto.
Naruto tahu jika ucapan Sai tidak main-main. Tapi juga tidak merasa terintimidasi karena memang dia tidak ada berencana membuat ulah. Setidaknya bukan untuk saat ini.
"Boleh aku minta makan? perutku benar-benar tidak bisa diajak berkompromi lagi.." Sejak tersadar dari pingsangnya, perut Naruto memang sudah berteriak-teriak. Jadi sangat manusiawi apabila dia meminta makan meskipun pada akhirnya tidak dipenuhi.
"Ikuti aku.." ucap Shikamaru yang kemudian berjalan keluar dari ruangan Naruto dirawat. Semua mengikuti kemana pemimpinnya pergi tak terkecuali Naruto dengan Sai yang setia berada di sisinya.
Naruto disambut pemandangan yang cukup memprihatinkan sejak dia keluar dari ruang rawatnya. Pertama dia melihat seorang kakek dengan kepala dibalut perban yang masih jelas terlihat sisa darahnya. Di sebelah kiri kakek itu seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya senang duduk menangisi tubuh tak bernyawa di hadapannya. Tidak jauh melangkah, dia menemukan seorang anak kecil yang kehilangan sebelah kakinya sedang berusaha berdiri meskipun berulang kali terjatuh. Semakin jauh dia berjalan, gambaran penderitaan nampak begitu setia menghampiri setiap Naruto menolehkan kepala pirangnya. Bocah pirang itu mendesis prihatin dengan segala hal yang dia lihat di tempat ini.
"Jangan dilihat, kau bisa kehilangan nafsu makan nantinya.." ucap seseorang di sebelah kanannya yang tidak lain adalah Sakura.
Naruto tidak tahu sejak kapan Sakura berada di sebelahnya. Dia kira gadis itu tidak akan berani berdekatan dengannya, mengingat apa yang telah dia lakukan pada gadis itu. Meskipun sebenarnya dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naruto prihatin.
Sakura bisa merasakan keprihatinan dari pertanyaan yang dilontarkan Naruto. Sejak awal dia percaya jika anak laki-laki di sampingnya ini bukanlah orang yang patut diwaspadai. Gadis merah jambu itu juga merasa jika Naruto memiliki aura kehangatan di setiap geraknya.
"Maaf, aku tidak punya hak untuk menjawabnya.." jawab Sakura meminta pengertian.
"Baiklah.." balas Naruto.
Mereka berjalan dalam diam. Sesekali bocah pirang itu menoleh ke kanan sesekali menoleh ke kiri. Naruto berusaha sebisa mungkin menghindari pemandangan yang menurutnya sungguh menyesakkan. Sedangkan gadis disebelahnya hanya menundukkan wajahnya.
"Kita sampai.." ucap Sai menarik perhatian Naruto.
Shikamaru terlihat telah memasuki tenda berwarna coklat kusam itu. Sedangkan Kiba dan Ino hanya berdiri di depan pintu masuk. Naruto kemudian menatap Sai meminta penjelasan yang dijawab dengan menggerakkan dagunya ke depan. Naruto merasa itu adalah perintah untuk masuk jadi dia melakukannya.
Suasana di dalam tenda memang cukup menenangkan bagi Naruto. Setidaknya dia perlu lagi melihat pemandangan-pemandangan yang memilukan. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar dan menemukan Shikamaru sedang duduk bersama seseorang . Sai segera menariknya menuju Shikamaru.
"Duduklah.." perintah Shikamaru saat dia tiba.
Naruto kemudian duduk di samping Shikamaru berhadapan dengan seorang anak laki-laki yang tidak dia kenal. Sedangkan Sai menyamankan dirinya di sebelah orang asing tersebut.
"Dia Shino, seumuran dengan kita. Dia salah satu anggota pengintai.." ucap Shikamaru memperkenalkan orang di depan Naruto.
"Anggota pengintai, tim medis dan banyak korban terluka. Sebenarnya apa yang terjadi disini..?" tanya Naruto mulai penasaran.
"Santai bung, bukankah kau lapar..?" timpal Shikamaru membuat Naruto membuang muka malu.
Tidak lama berselang seorang wanita bercelemek datang membawa beberapa makanan yang dengan cepat membangkitkan rasa lapar Naruto yang sempat menghilang.
Meskipun hanya beberapa roti lapis dan kentang rebus, menurut Naruto itu sudah lebih dari cukup. Tanpa meminta persetujuan dari yang lain, dia segera memakannya dengan begitu lahap. Seolah takut jika dia berhenti sedetik saja maka makanan itu akan disambar orang lain.
Hanya dalam waktu lima menit saja bocah pirang itu telah menghabiskan makanannya. Dia kemudian meneguk segelas air penuh tanpa jeda dan setelah itu membersihkan sisa-sisa makanan di sekitarnya mulutnya. Ketika selesai, dia segera menatap orang-orang di hadapannya.
"Jadi bisa kau jelaskan sekarang..?" tanya Shikamaru.
"Baiklah, jadi aku harus mulai dari mana menjelaskannya..?" Naruto bertanya balik.
"Terserah kau.." timpal Shikamaru.
Naruto kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawabnya.
"Aku berasal dari masa depan. Itu saja yang aku tahu." Jelas Naruto singkat.
Naruto melirik ke arah Sai yang nampak mengeram kesal setelah mendengar penjelaskannya. Sedangkan Shikamaru dan Shino hanya diam tanpa ekspresi seolah penjelasan Naruto sudah dia kira sebelumnya.
"Kau percaya dengan ucapannya Shino..?" tanya Shikamaru pada Shino.
"Aku pernah mendengar rumor tentang proyek mesin waktu. Salah satu dari keluarga bangasawan berusaha menciptakannya dan kabarnya sebentar lagi proyek itu akan berhasil diselesaikan" Jawab Shino tenang. "Aku tidak mengira jika salah satu science-fiction itu benar-benar ada."
"Salah satu keluarga bangsawan di dunia ini. Maksudmu Uchiha atau Hyuuga..?" Sai membuka mulutnya. Penjelasan Shino menarik perhatiannya.
"Sudah jelas jika itu Hyuuga bukan? Sejak dulu keluarga Hyuuga memang menfokuskan segala asetnya untuk ilmu pengetahuan." Balas Shikamaru.
"Aku hampir lupa, ada sesuatu yang harus kuberi tahu padamu Shikamaru dan ini sangat rahasia.." kata Shino seraya melirik ke arah Naruto.
Melihat tatapan Shino, Naruto paham jika dia tidak diperbolehkan mendengarkannya.
"Katakan saja sekarang, aku tidak peduli bocah ini mendengarnya atau tidak.." ucap Shikamaru seolah memahami situasinya.
Naruto sepertinya harus berterima kasih pada Shikamaru berkali-kali. Setelah memerintahkan Sai melepaskan ikatannya dan kemudian memberi dia makan sekarang bocah kepala nanas itu memperbolehkannya mendengarkan informasi yang akan disampaikan oleh Shino.
"Baiklah, pasang telinga kalian..!" ucap Shino memberi jeda. "Yang akan kukatakan ini erat kaitannya dengan keluarga Uchiha."
"Memang ada apa dengan Uchiha?" tanya Shikamaru.
"Aku telah melakukan pengintaian seharian penuh kemarin. Aku pergi ke Suna yang merupakan kota pertama dari serangan gila Tentara Perdamaian dan bertemu dengan salah satu anggota mereka. Karena dia sedang sendiri maka aku memberanikan diri menyerangnya." Shino menarik nafas kemudian melanjutkan ceritanya. "Aku berhasil melumpuhkannya dan berusaha mengorek informasi darinya. Kau mau tahu apa yang aku dapatkan? Tentara itu mengunci mulutnya rapat-rapat dan menyuntikan cairan aneh ke pembuluh nadinya saat aku lengah. Dia mati, tentara itu bunuh diri tanpa ada satu informasi satupun yang aku dapat."
"Dia lebih memilih mati daripada membeberkan informasi pada musuh. Apa hal yang mendasarinya?" gumam Shikamaru setelah mendengar cerita Shino.
"Tapi bukan itu kabar gembiranya kawan-kawan.." timpal Shino penuh misteri.
Semua menatap Shino pehuh antusias. Mereka bertiga tahu jika cerita itu belumlah berakhir sampai disitu.
"Kalian tahu nama apa yang aku temukan di alat suntik itu..?" tanya Shino. " UCHIHA CORPORATION.."
to be continue
mohon reviewnya, terima kasih.
Generasi muda : anda terlalu berfantasi berlebihan, hehe
Vladimir arrie : terima kasih sarannya
Ryuzaki namikaze : kedepannya moga makin paham,
The kidsno oppai : siaaaapp..
