Hallo teman-teman, saya kembali lagi. Terima kasih untuk review dan semua sarannya. Semoga di chapter ini semakin baik lagi dan tentunya para readers semakin terhibur membaca fic ini.
SELAMAT MEMBACA..
.
.
Chapter 3
Langit senja mulai menampakan diri. Saat ini Naruto berada di luar tenda mencoba sekedar menenangkan pikirannya yang kembali kalut.
Sejak Shino mengatakan asumsi jika keluarga Uchiha ada di balik penyerangan Tentara Perdamaian, kepala Naruto lansung terasa pusing. Karena itu dia meminta ijin pada Shikamaru untuk keluar. Bocah pemalas itu memperbolehkannya dan beruntunglah bagi Naruto, Sai tidak menjaganya karena mungkin anak itu lebih tertarik membahas soal Uchiha.
Merasa bosan, bocah pirang itu akhirnya mencoba menjelajah daerah sekitar. Dia memilih pergi ke area belakang tenda besar itu. Dia sengaja melakukannya karena tidak tahan melihat pemandangan memprihatinkan jika berjalan di area depan tenda.
Cukup lama berkeliling Naruto kemudian menghentikan langkahnya. Sejenak membayangkan jika saja saat ini bukan musim dingin pasti pemandangan yang ada di hadapannya akan nampak lebih menakjubkan. Padang rumput hijau yang diterpa sinar matahari sore dengan latar belakang danau nan indah. Sungguh sesuatu yang dia harapkan bisa mengusir stres.
Naruto merasa begitu merindukan pemandangan itu. Bocah itu kemudian berpikir kapan terakhir kali dia melihatnya. Jawabannya sudah jelas, dia tidak mengingatnya.
Bocah pirang itu melangkahkan kakinya kembali. Tanpa sengaja dia melihat siluet seseorang yang sedang berdiri termenung menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas anjungan yang berada di tepi danau. Naruto merasa familiar. Dia pun tersenyum dan menghampiri orang itu.
"Hai.." sapa Naruto.
"Eh.." Orang itu terperanjat kaget.
"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam Sakura.." Ucap Naruto sembari tersenyum.
"Bukan begitu, hanya saja kau mengagetkan tahu.." Balas Sakura kesal. Sedangkan Naruto hanya meringis.
"Oh ya Sakura, maaf untuk yang sebelumnya ya.." Sejak awal memang inilah tujuan Naruto menghampiri Sakura. "Waktu itu aku benar-benar kehilangan kendali. Aku merasa seperti bukan diriku saat itu. Sebagai gantinya kau boleh memukulku jika menurutmu itu impas.."
Sakura tersenyum geli mendengar ucapan Naruto yang dengan pasrah memperbolehkannya memukul wajah anak laki-laki itu sebagai balasan. Menurut Sakura ucapan tadi benar-benar polos untuk anak seusianya.
"Kau seperti anak kecil saja, aku sudah tahu jika itu diluar kendalimu.." jawab Sakura ringan.
"Bagaimana bisa..?"kening Naruto berkerut.
"Dari matamu.." balas Sakura. "Aku melihat tatapan penyesalan di sana."
"Jadi..?" tanya Naruto meminta kepastian.
"Sudah jelas bukan.." ucap Sakura tersenyum tulus. Naruto merasa lega ternyata sejak awal gadis itu sudah memaafkannya.
"Ayo kembali, sebentar lagi malam dan cuaca semakin tidak bersahabat.." ajak Sakura yang direspon anggukan kepala Naruto.
Naruto dan Sakura tiba di tenda bersama segerombolan anak-anak yang kira-kira seusianya. Gerombolan itu segera berebut antrian makanan hingga membuat suasana sedikit ricuh. Untunglah ada seseorang yang menurut Naruto berusia sekitar 20 tahun menghentikan kericuhan itu.
Sakura menepuk bahu Naruto mengisyaratkan agar mengikutinya. Bocah pirang itu kemudian berjalan mengekori si gadis merah jambu hingga dia berhenti di meja makan panjang dengan jumlah kursi duduk mencapai 8 buah. Nampak di sana terlihat orang-orang yang sudah tidak asing lagi. Naruto mencoba ramah dengan menunjukan senyum terbaiknya. Namun sayang dia mendapat respon yang begitu dingin.
"Hai semuanya.." sapa Sakura riang.
"Aku bingung dengan cara berpikirmu Sakura, kenapa kau bisa dengan santainya bersama orang yang hampir mencelekaimu..?!" tanya Ino protektif.
"Ino, kita sudah sepakat untuk tidak mengungkitnya lagi.." balas Sakura ketus.
"Sudah cukup, sekarang kau duduk Naruto ada yang akan ingin kami beritahu..!" Shikamaru memotong perdebatan antara Ino dan Sakura.
Naruto kemudian duduk di kursi paling ujung yang sengaja disediakan untuknya. Sakura berada di samping kirinya menghadap Shino yang berada di samping kanan bocah pirang itu. Di samping Sakura ada Ino kemudian Sai. Sedangkan Kiba berada di samping Shino dan satu kursi kosong. Untuk Shikamaru, dia duduk di kursi paling ujung yang satunya dan berhadapan langsung dengan Naruto.
"Kami sudah sepakat tentang hukuman apa yang tepat untukmu.." Shikamaru membuka mulut.
"Hukuman..?" tanya Naruto tidak percaya.
"Kau pikir bisa bebas tanpa syarat begitu saja?" timpal Kiba.
Ucapan Kiba benar-benar menohoknya. Naruto memang sempat berpikir dia akan bebas begitu saja. Mengingat penyerangan itu di luar kendalinya. Sakura juga telah memahami hal itu dan mencoba menjelaskannya. Namun sayang, sepertinya orang-orang di tempat ini benar-benar sangat perhitungan.
"Terserahlah.." ucap Naruto pasrah. Dia melirik Sakura mencari tahu bagaimana reaksi gadis itu. Namun si merah jambu ini hanya tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Berdasarkan apa yang telah kau perbuat pada Sakura siang hari ini maka kami sepakat jika kau akan ditahan di dalam sel setelah waktu makan malam setiap harinya dan dimulai mulai malam ini. Kau juga harus bekerja di tempat ini sampai batas waktu yang tidak ditentukan." Shikamaru membacakan vonisnya.
Naruto menghembuskan nafas lega. Awalnya dia mengira akan mendapatkan hukuman mati atau diasingkan dari tempat ini. Biarpun harus masuk ke dalam sel setiap malam, itu masih lebih baik.
Naruto kemudian memandang Kiba, Ino dan Sai. Seperti dugaannya, mereka bertiga nampak tidak puas dengan hukuman yang diberikan Shikamaru.
"Hei..! kenapa seperti ini jadinya..?!" tanya Kiba bersungut-sungut.
"Apa maksudmu Shikamaru..?" Ino ikut memprotes.
"Tidak ada protes, Sai bawa dia ke ruang tahanan.." ucap Shikamaru yang langsung berlalu.
Sai segera bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Naruto. Sekalipun nampak tidak setuju dengan keputusan Shikamaru, Sai tetap melaksanakan perintahnya tanpa banyak komentar. Dia adalah tipe pria yang punya loyalitas tinggi.
"Selamat bersenang-senang di sana.." bisik Sakura tersenyum.
"Kau tidak sedang membalas dendam kan..?" tanya Naruto.
Sakura tidak menjawabnya. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya. Namun kemudian berbalik dan mengedipkan matanya pada bocah pirang itu dan berlalu kembali. Sikap itu membuat Naruto semakin tidak mengerti dengan apa yang coba Sakura beritahukan padanya.
" Ayo.." ucap Sai dingin. Naruto hanya menganggukan kepalanya.
Naruto kini telah berada di dalam selnya. Ruangan itu cukup nyaman untuk ukuran sebuah ruang penjara. Tembok yang terbuat dari batu kali dan lantai keramik yang retak-retak. Dia berpikir jika mungkin tidur di tempat seperti ini sudah cukup nyaman. Setidaknya dia tidak merasa kedinginan.
Bocah pirang itu menguap lebar tanda mulai mengantuk. Namun dia masih belum ingin beranjak tidur. Dia merasa harus terjaga lagi untuk beberapa saat karena alasan yang Naruto sendiri tidak mengerti.
Sayup-sayup langkah kaki terdengar di sekitar koridor menuju ruang tahanan. Makin lama suaranya semakin mendekat hingga pada akhirnya langkah kaki itu terhenti di depan ruang dimana Naruto berada. Bocah pirang itu menghembuskan nafas lega setelah melihat siapa pemilik langkah itu.
"Kau masih terjaga? Syukurlah.." kata Shikamaru saat tiba di depan ruang tahanan.
"Kau membuatku paranoid.." balas Naruto.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.." Shikamaru langsung ke poin pembicaraan.
"Oh ya..?" tanya Naruto.
Shikamaru mendudukan dirinya di lantai. Dia kemudian memegang jeruji besi dan mencondongan kepalanya seolah memberi kode pada Naruto untuk mendekat.
"Besok adalah hari ke-2 setelah pengeboman kota ketiga.." Ucap Shikamaru dengan raut wajah yang begitu serius dan ini pertama kali Naruto melihatnya.
"Lalu apa hubungannya denganku..?" tanya Naruto bingung. Dia tidak mengerti kenapa Shikamaru memberitahukan hal itu padanya.
"Mungkin terdengar gila tapi aku butuh pendapatmu. Kau mengaku berasal dari masa depan, jadi mungkin ada suatu ingatan di kepalamu tentang hal ini..." jawab Shikamaru.
Sejauh yang Naruto kira, orang-orang di tempat ini tidak mempercayai ucapan tentang pengakuannya yang berasal dari masa depan. Tapi saat Shikamaru menyatakan keyakinannya, bocah pirang itu mendengus geli namun cukup terharu.
"Aku tidak tahu apapun tentang hal itu. Lagipula aku merasa tempat ini sangat aneh.."
"Apanya yang aneh..?" timpal Shikamaru.
"Tidak ada satupun orang dewasa di tempat ini selain kakek-kakek yang kulihat tadi pagi.." jelas Naruto mengutarakan pendapatnya.
"Menurutmu para korban itu berasal dari mana..?" Shikamaru balik bertanya.
"Bukankah mereka korban pengeboman yang selamat..?" jawab Naruto tidak yakin.
Shikamaru tersenyum mencemooh mendengar jawaban Naruto.
"Kau keliru. Akan kuberi tahu kau tentang satu hal. Tidak ada satupun yang selamat dari pengeboman ketiga kota itu." Jelas Shikamaru. "Yang kau lihat di luar sana adalah penduduk asli kota Konoha yang dengan beruntungnya masih dibiarkan hidup oleh Tentara Perdamaian.."
"apa maksudmu.?" Naruto semakin bingung.
"Saat pengeboman pertama terjadi, banyak orang yang tidak memperdulikannya. Namun saat pengeboman kedua, warga mulai panik dan berasumsi jika kota ini adalah target selanjutnya. Mereka kemudian berbondong-bondong mencoba keluar dari kota dan sepertinya berhasil. Sebelum akhirnya diketahui jika orang-orang itu, mereka yang mencoba keluar dari kota ditembak mati oleh Tentara Perdamaian yang sejak awal telah menunggu di luar kota ini.." Shikamaru berhenti. Mencoba mengatur emosinya. "Ayahku kemudian mencoba solusi lain dengan mengirimkan beberapa orang dewasa keluar kota menggunakan rute yang berbeda-beda. Mencoba sebisa mungkin mencari jalur yang tidak dijaga. Semacam gerakan gerilya dan jika berhasil menemukan jalan keluar itu, mereka harus segera kembali dan memberitahukan pada yang lainnya. Tapi sayang sampai detik ini tidak satupun yang kembali. Ayahku ikut dalam salah satu tim itu." lanjut Shikamaru. Naruto merasakan suatu kehilangan dalam ucapannya.
"Ketika bom ketiga dijatuhkan, kami orang-orang tersisa semakin frustasi. Beberapa ada yang mencoba keluar paksa meskipun tahu konsekuensinya. Beberapa ada yang menyerah menunggu kematiannya dan beberapa ada yang tetap berusaha, seperti kami. Mencoba menolong sebisa mungkin seraya berusaha memikirkan cara keluar dari tempat ini." Shikamaru melanjutkan ceritanya.
"Lalu bagaimana dengan Shino..? bukankah kemarin dia bisa keluar dan kembali dengan selamat..?" Tanya Naruto.
"Dia melakukan semacam trik yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang." jawab Shikamaru pelan.
Mendengar jawaban Shikamaru, Naruto menjadi begitu penasaran tentang trik apa yang digunakan Shino dan mengapa hanya bisa dilakukan oleh satu orang saja.
"Jangan bertanya seperti apa trik itu karena aku juga tidak tahu. Tapi tenang saja, Shino bukan seorang penghianat. Aku bisa jamin itu.." Shikamaru berucap lagi dan persis dengan apa yang Naruto hendak tanyakan.
"Ini benar-benar gila.." Desah Naruto frustasi.
"Aku lebih gila karena mempercayaimu.." Ucap Shikamaru seraya bangkit dari duduknya. "Semoga saja kota ini bukan target selanjutnya. Tidurlah dan semoga mimpimu indah."
Shikamaru kemudian berlalu. Naruto masih mematung memikirkan semua penjelasan bocah nanas itu sebelumnya. Dia lalu beringsut menuju ke tengah ruangan. Dia menarik selimut kusut yang disediakan dan mencoba menutup matanya berharap semua yang terjadi hanya sebuah bunga tidur.
Naruto merasa kesal dengan seseorang yang sejak 5 menit lalu terus mengguncang tubuhnya. Semakin dia mencoba tidak peduli semakin keras pula orang itu mengguncang. Dengan rasa marah diapun akhirnya membuka mata.
"Akhirnya kau bangun juga tuan pemalas.." sindir Sakura seraya menjauhkan diri.
"Aku kira ini hari libur.." ucap Naruto asal.
"Kita tidak dibayar untuk bermalas-malasan.."
"Kita memang tidak dibayar nona.." potong Naruto.
Sakura hanya tersenyum kikuk. Bagi Naruto itu terlihat manis. Dia merasa menjadi anak laki-laki paling beruntung di dunia karena dibangunkan oleh seorang gadis cantik. Menurutnya ini adalah pengalaman yang berhaga. Bocah pirang itu lagi-lagi berpikir apa sebelumnya dia pernah mengalami momen seperti ini juga.
"Kau sudah mengeluh bahkan sebelum mulai bekerja? ayo cepat bangun dan bersihkan tubuhmu..! baumu seperti kerbau tua.." perintah Sakura sambil berkacak pinggang.
Naruto merasa tertampar dengan komentar Sakura. Apa sebau itukah dia..? dia kemudian mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri dan tersadar. Dia memang berbau seperti Kerbau.
"Baiklah tuan putri.." jawab Naruto.
"Toilet ada diujung lorong.." Ucap Sakura menunjuk ke arah Toilet berada. "Setelah selesai membersihkan diri, segera datang ke tenda. Kami menunggumu disana."
Naruto mengangguk paham. Setelah itu Sakura beranjak pergi.
Naruto kemudian keluar dari ruang tahanan dan berjalan menuju toilet. Rasanya membersihkan diri bukanlah gagasan yang buruk. Dia juga mengakui jika tubuhnya mulai mengeluarkan aroma kerbau busuk. Maklum saja sejak kemarin dia tidak menyentuh air sama sekali.
Dengan waktu yang cukup lama dihabiskan di toilet, Naruto merasakan sengatan kesegaran setelah membersihkan dirinya. Dia tidak lagi merasa lepek dan bau. Aroma nafasnya juga menjadi lebih segar.
Setelah merasa cukup sempurna, Naruto segera beranjak keluar. Dia harus segera tiba di tenda. Bocah pirang itu merasa harus memberikan kesan baik di hari pertama bertugas meskipun sebenarnya sebuah hukuman.
Sepanjang perjalanan menuju tenda, Naruto mencoba memberanikan diri melihat korban-korban Tentara Perdamaian dia menyebut seperti itu sekarang. Meskipun raut kegelisahan masih tercetak jelas, setidaknya keadaan fisik mereka bisa dikatakan membaik dan itu adalah hal yang patut untuk disyukuri.
Naruto mengedarkan pandangannya kembali. Tanpa sengaja matanya berhenti pada dua sosok orang berbaju putih-putih dengan lambang sayap malaikat pada bagian punggung yang sepertinya tidak asing baginya. Bukan dalam arti dia mengenalnya, hanya saja dia merasa pernah melihat orang-orang seperti mereka.
Orang-orang itu kemudian terlihat membagikan sesuatu semacam alat suntik kepada para korban Tentara Perdamaian. Naruto juga merasa pernah menyaksikan kejadian seperti itu. Semua terlihat seperti kaset yang diputar kembali di kepalanya. Hingga pada suatu titik dia terbelalak dengan apa yang diingatnya. Seketika tubuhnya menegang hebat dan keringat dingin turun deras bercucuran.
Naruto kemudian berlari sekuat tenaga menuju ke tempat dimana Sakura dan yang lainnya berada. Dia harus segera memberitahukan tentang apa yang telah diingatnya. Bocah pirang itu juga berharap semoga teman-temannya belum mendapatkan alat suntik itu.
Tenda tujuan Naruto telah nampak pada pandangannya. Dia segera memasukinya tanpa berhenti berlari. Tepat saat Shikamaru hendak menggunakan alat suntik itu, Naruto segera merebut dan membuangnya.
"Jangan ada yang memakainya.." Teriak Naruto terengah-engah.
"Apa masalahnya bung? Semakin hari kau semakin menyebalkan..!" komentar Kiba tidak suka.
"Ada apa Naruto..? kenapa kau melarang kami menggunakannya..?" tanya Sakura pelan.
Naruto mencoba mengatur nafasnya. Dia bersyukur karena teman-temannya belum satupun ada yang menggunakan alat suntik itu.
"Pokoknya jangan ada yang menggunakannya.." ucap Naruto kembali.
"Ada apa denganmu? Shizune senpai yang memerintahkan kami.." timpal Ino memberi alasan.
"Apa Shizune mengatakannya sendiri pada kalian?" Naruto balik bertanya.
Semua terdiam mendengar pertanyaan Naruto.
"Memang Shizune senpai tidak mengatakan langsung pada kami tapi.."
"Astaga dia pasti sudah dibunuh.." teriak Naruto memotong ucapan Shikamaru.
Sontak semua mata menatap tajam Naruto. Sakura terlihat paling panik. Sedangkan yang lainnya berusaha meminta penjelasan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Kita harus segera pergi dari kota ini.." ucap Naruto mengabaikan tatapan meminta penjelasan yang ditujukan padanya.
"Memang kenapa kita harus pergi..? jangan bilang kalau.." Shikamaru menghentikan ucapannya. Dia tahu apa yang sedang dimaksud Naruto.
"YA, KOTA INI ADALAH TARGET SELANJUTNYA..!"
to be continue
balasan review
Ae Hatake : Siaapp..
Generasi Muda : ini bahkan belum masuk bagian utamanya.
Nara shina : Untuk Narusaku disini lebih ke arah teman dekat yang saling mendukung satu sama lain.
Cindy Elhy1 : siaap
Sarah : terima kasih
Pixie Yank Sora : terima kasih sarannya. sangat membangun sekali.
