Hallo semuanya..! Saya kembali lagi. Maaf jika updatenya begitu lama. Karena memang di dunia nyata saya cukup sibuk..hehe. Tapi saya usahakan akan update tiap minggu. Terima kasih untuk reviewnya dan semoga teman-teman suka dengan chapter terbaru ini.
enjoy..!
Chapter 4
.
.
.
"YA, KOTA INI TARGET SELANJUTNYA.."
Kata-kata itu ibarat alarm pemberitahuan jika waktu hidup di dunia ini telah usai. Sangat simpel namun begitu dahsyat efeknya bagi Shikamaru dan yang lain.
Bagi Naruto raut wajah orang-orang dihadapannya sungguh memprihatinkan. Tidak ada ekspresi ketakutan ataupun panik. Yang tercetak jelas adalah wajah kepasrahan tidak takut mati.
Mungkin wajar untuk ukuran Sakura dan Ino memasang ekspresi seperti itu. Mereka gadis remaja yang mental dan psikis tidak sekuat seorang anak laki-laki. Mereka juga telah melihat jelas betapa tidak terkendalinya keadaan sekitar akhir-akhir ini. Jadi cukuplah bagi mereka untuk segera mengakhiri hidup secepatnya. Faktanya memang tidak ada cara melarikan diri hidup-hidup. Hancur oleh bom nuklir di dalam kota atau melarikan diri keluar kota hingga akhirnya ditembak mati. Semua sama saja pada akhirnya akan kehilangan nyawa.
Tapi saat Naruto menatap satu per satu anak laki-laki di hadapannya, dia menjadi menjadi sedikit kesal. Menurut bocah pirang ini, ekspresi seperti itu tidak pantas ditunjukan untuk ukuran seorang laki-laki.
'Pasrah pada keadaan? yang benar saja..!' Naruto mencemooh dalam hati.
Naruto merasa kehilangan respeknya pada Shikamaru. Bocah pemalas itu adalah pemimpinnya, tidak seharusnya bersikap seperti ini. Mungkin pada dasarnya dia memang tidak siap akan kemungkinan terburuk. Mungkin juga saat dia menemui Naruto di ruang tahanan hanya sebagai cara mensugesti diri jika Tentara Perdamaian tidak akan menjadikan Konoha sebagai target pengeboman berikutnya.
Saat menatap Kiba, Naruto hanya mendengus kesal. Di mata bocah pirang ini Kiba hanyalah seorang anak laki-laki bermulut besar.
Keadaan Shino mungkin lebih baik dibanding Shikamaru ataupun Kiba. Tapi tetap saja Naruto tidak menemukan ekspresi apapun di wajahnya. Mungkin dia tidak bisa mengekspresikan diri atau dia berencana akan keluar dari kota seorang diri. Tapi jika melihat betapa percayanya Shikamaru padanya, kemungkinan terakhir mungkin hanya ketakutan bodoh Naruto saja.
Ketika mata Naruto beralih menatap Sai, ekspresi yang ditunjukan anak laki-laki itu lebih seakan sebuah penyesalan. Kesan pertama bocah pirang itu tentang Sai menguap begitu saja setelah melihat pemandangan ini.
"Sampai kapan kalian diam membatu seperti itu? Kita harus segera keluar dari kota ini..!" ucap Naruto memecah keheningan.
"Percuma, tidak ada jalan keluar.." Shikamaru berkata dengan tatapan kosong.
"Jadi kalian akan tetap di sini dan merayakan pesta kematian kalian? Maaf saja tapi aku masih ingin hidup, tidak seperti kalian yang tak takut mati."
Ekspresi Sai seketika mengeras setelah mendengar kalimat yang diucapkan bocah rambut pirang itu. Raut penyesalan itu seolah menguap begitu saja digantikan semangat untuk bertahan hidup. Naruto tidak tahu apa yang terjadi pada bocah kulit pucat itu saat ini. Dia Cuma berharap Sai tidak berlaku kasar seperti yang terakhir kali akibat Naruto melontarkan ucapan yang tidak masuk akal.
"Dia benar. Kita harus keluar dari tempat ini. Aku sudah berjanji pada mendiang Ayah Ino jika tidak akan membiarkan dia terluka." Sai berucap.
Sekarang Naruto paham mengapa Sai menunjukkan ekspresi penyesalan sebelumnya. Menurutnya, Sai merasa telah gagal menepati janjinya. Padahal dia belum gagal sama sekali.
Bocah pirang itu kemudian mengedarkan pandangannya ke arah Ino. Gadis itu hanya terdiam menunduk namun rona merah itu tercetak jelas di wajahnya.
"Kalau begitu katakan padaku bagaimana caranya?" Shikamaru balik bertanya. Bocah pemalas itu benar-benar frustasi.
"Kau pemimpin kami dan bukankah otakmu itu diatas rata-rata?" kali ini Shino ikut berbicara.
Shikamaru tersentak mendengar kata-kata Shino. Dia merasa tertampar dengan kata-kata itu. Bocah pemalas itu menunduk menatap kedua kakinya. Raut bersalah terlihat jelas di wajahnya. Semua tahu jika dia sedang merenungi sikapnya. Karena itu Naruto mencoba menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu.
Setelah sekian lama, Shikamaru akhirnya mengangkat kepala dan menatap satu per satu anak-anak di hadapannya.
"Maafkan aku. Sebagai pemimpin aku memang tidak patut bersikap seperti ini. Aku mohon maaf sekali lagi." Shikamaru menundukkan tubuhnya memohon maaf.
Naruto tersentuh dengan tindakan Shikamaru. Bocah pirang itu berharap atmosfer di ruangan menjadi berbeda dari sebelumnya.
Naruto kembali memandangi wajah-wajah dihadapannya. Dia bersyukur ekspresi keputusasaan sudah tidak nampak lagi. Shikamaru juga terlihat tengah memikirkan sesuatu. Semoga saja itu adalah rencana pelarian dari kota ini.
"Shino, bisa kau beritahu kami trik yang kau gunakan saat keluar dari tempat ini?" tanya Shikamaru pada Shino.
Shino kemudian berjalan ke arah tumpukan barang. Dia lalu meraih tas hitam dan meletakkannya di atas meja.
"Ini triknya.." ucap Shino seraya membuka resleting tas dan menunjukkan apa yang ada di dalamnya.
"Ini.." Sai nampak terkejut.
"Ya, ini seragam Tentara Perdamaian. Aku mendapatkannya dari mayat yang mungkin adalah salah satu dari mereka di dekat sungai." Shino menjelaskan.
Semua terdiam mencoba mencerna informasi yang baru saja diucapkan oleh Shino.
"Kenapa kau tidak memberitahukannya pada kami..?" tanya Sakura. Gadis itu nampak seperti dikhianati.
"Percuma, meskipun kalian mengetahuinya tetap saja tidak akan membantu. Itulah kenapa aku bilang trik ini hanya bisa dilakukan oleh satu orang." jawab Shino.
"Jika kau memberitahukan ini pada kami, mungkin kita bisa membuatnya dalam jumlah banyak.." balas Sakura.
Perkataan Sakura soal memproduksi seragam Tentara perdamaian dalam jumlah banyak mungkin bisa dilakukan jika waktunya mencukupi. Tapi sayangnya, Tentara Perdamaian tidak memberi mereka keleluasaan waktu. Lagipula bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat seragam itu tidak ada sama sekali dan kemungkinan mengundang kecurigaan besar saat digunakan dalam waktu bersamaan.
"Tidak sesederhana itu Sakura.." Shikamaru merespon. "Pikirkan saja, mereka Tentara Perdamaian tidak pernah sekalipun masuk ke dalam kota."
"Dan tiba-tiba ada sekumpulan orang berbaju seperti mereka berjalan keluar. Tebak apa yang terjadi?" sambung Sai yang sudah memahami maksud Shikamaru.
"Kita menjadi santapan empuk.." jawab Naruto.
Sejenak semua terdiam meresapi apa yang Naruto ucapkan. Bocah pirang itu sendiri tidak mengira jika untuk sekedar keluar dari kota akan sesulit ini. Sakura menggigit bibir bawahnya sambil menggumamkan sesuatu.
"Mereka sudah memprediksi segala kemungkinan pelarian. Jadi Shino, ceritakan semuanya pada kami.." ucap Shikamaru pada Shino.
"Seperti yang kalian kira. Aku memakai seragam itu dan berjalan berlawanan arah dengan arus sungai dengan penuh perjuangan.." Shino mengucapkan kalimat terakhir itu seolah dia sedang memanjat tebing.
"Kemudian aku menemukan pos komando tepat di perbatasan kota. Hanya pos kecil dengan 3 Tentara Perdamaian."
"Lalu..?" tanya Naruto penasaran.
"Mereka tidak mencurigaiku sama sekali, jadi aku lewat begitu saja. Mungkin sejak awal mereka sudah yakin jika jalur itu tidak mungkin dilewati oleh penduduk kota. Aku rasa penjagaan di tempat itu juga hanya sebuah formalitas belaka."
Shikamaru menganggukan kepala tanda memahami setiap ucapan Shino. Bocah pemalas itu kemudian berdiri dan berjalan berputar-putar seperti gangsing sembari memegang dagu dengan tangan kanannya. Naruto menatap Shino mencoba bertanya tentang apa yang sedang Shikamaru lakukan. Bocah itu hanya mengankat jari telunjuk dan menunjuk pelipis yang maksudnya sedang berpikir.
"Teman-teman, kita kedatangan tamu.." Kiba tiba-tiba bersuara.
"Apa maksudmu..?" tanya Sai tidak mengerti maksud ucapan Kiba.
"Orang yang memberi alat suntik sialan itu ada di depan.." jawab Kiba seraya mengintip.
Sai yang masih tidak percaya pada ucapan Kiba segera melesat ke arah pintu tenda dan mengintip. Bocah pucat itu kemudian menatap semua dan mengangguk membenarkan perkataan Kiba.
Jantung Naruto seolah berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena dia sedang jatuh cinta, tapi melainkan ketakutan setengah mati mendengar perkataan Kiba. Dia tidak mengira bisa setegang ini sebelumnya. Namun tiba-tiba dia mendapatkan ide super gila di tengah-tengah rasa ketakutannya. Dia tidak peduli semua menyetujuinya atau tidak, yang jelas bocah pirang itu merasa harus melakukannya.
"Biarkan dia masuk.." ucap Naruto tegas. "Setelah itu kita korek informasi darinya.."
"Percuma, aku yakin dia pasti akan tutup mulut seperti Tentara Perdamaian yang kutangkap sebelumnya. Dia mungkin juga akan lebih memilih bunuh diri.." balas Shino.
"Aku tidak peduli..!, kalian semua tarik perhatiannya. Aku akan menyergapnya dari belakang." Ucap Naruto yakin.
Sebelumnya bocah pirang itu tidak pernah merasa seyakin ini. Ada suatu dorongan dikepalanya yang memaksa dia melakukannya. Dia kemudian berjalan menuju pintu dan bersembunyi di balik kain-kain tenda yang bergelantung. Naruto bahkan tidak perlu persetujuan dari yang lainnya.
Orang berbaju putih-putih itu masuk sesaat setelah Naruto lenyap dari balik kain tenda. Dia menyungginkan senyumnya sekedar tata krama dan kemudian berjalan mendekati meja besar tempat Shikamaru dan yang lainnya berada. Orang itu menatap bingung satu per satu anak-anak yang ada dihapannya. Seolah bertanya kenapa mereka belum menggunakan alat suntik itu.
"Ayolah anak-anak bandel, bukankah sudah kubilang saat aku kembali lagi alat suntik itu sudah kalian gunakan.." ucap Orang itu dengan nada kesal.
"Cepatlah aku tidak punya banyak waktu..." perkataan orang berbaju putih-putih itu terhenti setelah sesuatu menghantam tengkuknya.
Orang berbaju putih-putih tersungkur kedepan akibat pukulan keras Naruto. Sebelum orang itu sempat bergerak lagi, bocah pirang itu mencengkram kerah bagian belakang dan membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali. Naruto kemudian menekankan lututnya ke punggung orang itu dan memerintahkan Sai untuk segera mengikat kedua tangannya. Setelah telah terikat, dia membalikkan tubuh orang berbaju putih-putih itu dan melemparkannya hingga jatuh terlentang.
Orang itu meraung kesakitan. Dia terbatuk-batuk disertai gumaman sumpah serapah dari mulutnya. Pipi lebam, gigi lepas serta darah mengalir dari hidung yang kemungkinan telah remuk, wajahnya benar-benar sangat kacau saat ini. Kiba dan Shino yang berada di dekatnya segera mencengkram kedua pundak dan mendudukannya menghadap ke arah Naruto dan yang lainnya.
"Katakan apa yang kau tahu tentang semua ini..?" tanya Naruto dengan nafas memburu.
"Coba saja kalian memaksaku dengan segala siksaan dan ancaman pembunuhan, aku tidak takut. Sampai matipun aku tidak akan memberikan informasi pada kalian..!" Jawab Orang itu dengan penuh penghinaan.
Naruto melirik ke arah Shino. Dia terlihat sedang memeriksa isi saku orang berbaju putih-putih itu. Dia lalu menunjukkan sesuatu seperti alat suntik yang dia peroleh dari saku orang itu.
"Dia tidak bercanda. Dia memiliki ini, alat suntik yang berisi cairan beracun.." ucap Shino melemparkan alat suntik itu pada Shikamaru.
"Apa yang membuat kalian bertindak sampai sejauh ini..?" tanya Shikamaru. Dia tidak mengerti dengan cara berpikir para Tentara Perdamaian dan sekutunya.
"Karena aku dan semua orang yang telah mati selama ini akan terlahir kembali di taman Eden. Dunia yang dipenuhi dengan kesempurnaan.." jawab Orang berbaju putih-putih itu. "Sayangnya kalian telah membuang kesempatan emas itu. Satu-satunya peluang untuk bisa bertemu kembali dengan orang tua kalian..!"
Naruto merasa muak dengan semua penuturan orang dihapannya. Dia mengeram kesal seraya mengepalkan erat kedua tangannya. Berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah orang itu.
"Percuma saja kalian berusaha melarikan diri. Bom itu memiliki jangkauan radiasi yang cukup luas." Geram Orang berbaju putih-putih itu. "Itu juga jika kalian bisa lolos dari sergapan Tentara Perdamaian.."
Orang berbaju putih-putih itu tertawa keras setelah menyelesaikan ucapannya. Perkataannya memang tidak bisa dielak oleh siapapun bahkan bagi seorang Shino yang meskipun bocah itu pernah berhasil melakukannya sekali. Tapi jika melihat situasinya saat ini, kemungkinan besar penjagaan akan semakin diperketat dari sebelumnya.
Shikamaru bangkit dari duduknya. Dia menghampiri orang itu dan berjongkok menyamakan posisinya. Bocah pemalas itu kemudian mengeluarkan alat suntik miliknya dan milik orang berbaju putih-putih itu. Dia memandang kedua alat suntik itu cukup lama hingga pada akhirnya mengalihkan pandangannya pada orang di depannya.
"Aku penasaran dengan dua benda ini. Aku rasa keduanya berbeda fungsi, jadi kita lihat apakah dugaanku benar.." ucap Shikamaru dingin.
Selama Naruto berbicara dengan Shikamaru, dia tidak pernah merasakan nada bicara sedingin ini. Ada sebuah emosi yang siap meledak didalamnya.
Shikamaru menyuntik orang berbaju putih-putih itu dengan alat suntik miliknya. Tidak reaksi apapun setelahnya. Bocah pemalas itu kemudian bersiap menginjeksi orang itu dengan alat suntik milik orang itu sendiri.
"Hentikan itu Shikamaru..!" cegah Shino.
"Kau sudah tahu jawabannya kan..?" tambah Sai.
Shino, Sai dan Naruto sejak awal sudah tahu jika alat suntik yang dibawa orang itu adalah cairan beracun. Shikamarupun pasti telah memahaminya. Bocah pemalas itu tidak bermaksud mengujinya tapi bermaksud membunuh orang itu.
"Lakukan saja jika kau berani.." tantang orang itu.
"Bagus, permintaanmu terkabul.." balas Shikamaru.
Tepat setelah seluruh cairan itu masuk ke dalam tubuh, Orang berbaju putih-putih itu mengejang. Dia menggeleparkan tubuhnya ke kanan dan kiri penuh kesakitan. Dia meraung-raung dengan mulut penuh busa. Dia mencekik lehernya sendiri seperti orang kesurupan. Detik selanjutnya gerakan orang itu mulai melambat dan akhirnya berhenti total. Shino mengecek nadinya dan mengangguk seolah itu kode jika orang itu telah tewas.
"Kau membunuhnya Shikamaru.." desis Sakura tidak percaya.
"Tidak perlu bersimpati dengannya.." balas Shikamaru dengan wajah datar.
"Dimana rasa kemanusiaanmu..! apa kau tidak melihat bagaimana dia meregang nyawa..!" teriak Sakura dengan penuh air mata.
"Berhenti bicara tentang kemanusiaan, apa menurutmu mereka memikirkannya juga..?" timpal Shikamaru.
Sakura membuang muka. Dia sadar jika ucapan Shikamaru benar. Tapi tindakan bocah pemimpin itu tetaplah keliru. Gadis musim semi itu merasa apa yang dilakukan Shikamaru tidak sesuai dengan ideologinya selama ini.
"Tidak ada banyak waktu, kita harus keluar dari tempat sialan ini.." Shikamaru berkata tegas kepada semuanya.
"Jadi kau sudah punya rencana..?" tanya Shino.
"Ada.." jawab Shikamaru berjalan menghampiri pintu keluar.
"Kita lakukan seperti caramu sebelumnya.." Shikamaru menghentikan sejenak ucapannya. Dia menengok ke arah Naruto dan yang lainnya.
"DAN JIKA ADA YANG MENGHALAGI, KITA BUNUH MEREKA.."
.
.
to be continue
Balasan Review :
Galura lucky22 : Yap, terima kasih buat semangatnya..
Sarah : Siaaaap..
Ae hatake : eh kalo mau tahu jawabannya, kamu harus terus baca fic ini.. hehe
Asti. .7 : terima kasih, tapi soal update kilat kayaknya belum bisa.. maaf
The kidsno oppai : Yap yap
Ndah D Amay : jawabannya ada di chapter-chapter berikutnya.. hehe
Generasi muda : selow bung, lagipula ini bukan cuma teror. Ini genosida..
Ren : Saya akan usahakan.. hehe
