Hallo kawan gembira..! saya muncul kembali dengan membawa kelanjutan fic yang semoga para readers menyukainya. Silahkan dinikmati dan jangan lupa RnR nya ya..!

Terima kasih

.

.

Chapter 5

Waktu terasa mengejar Naruto dan yang lainnya. Sebelumnya Shikamaru telah mengatakan jika dugaannya tidak keliru, bom nuklir itu akan menghantam Konoha tepat pukul 11.00 pagi. Jika melihat posisi matahari saat ini kemungkinan besar sekarang adalah pukul 9 kurang. Jadi kesimpulannya adalah mereka hanya punya sedikit waktu untuk melarikan diri.

Shino memimpin di depan karena pengalaman sebelumnya. Shikamaru tepat di belakangnya diikuti Sakura, Ino, Kiba, Naruto dan Sai paling bontot. Mereka keluar dari tenda melalui pintu belakang sehingga orang-orang Tentara Perdamaian tidak mengetahuinya. Shikamaru juga telah menginstruksikan pada semuanya untuk membawa barang-barang yang diperlukan semacam bekal makanan, kotak obat dan yang paling penting senjata untuk menjaga diri.

Setelah berlari tanpa henti yang mungkin jika dihitung sudah lebih dari 20 menit, Shino mulai mengurangi langkahnya dan akhirnya berjalan biasa. Naruto menghembuskan nafas lega. Dia sepertinya memang tidak berbakat menjadi atlet lari marathon. Bocah pirang itu kemudian berpikir mungkihkah dulunya dia adalah pribadi yang malas berolahraga? Dan jawabannya kemungkinan benar. Terbukti dengan betapa terengah-engahnya dia saat ini. Dia merasa malu ketika menoleh ke arah Sakura dan Ino. Kedua gadis seolah biasa-biasa saja meskipun peluh membasahi dahi mereka.

Suara deru air sayup-sayup mulai terdengar di telinga. Meskipun saat ini musim dingin tidak menutup kemungkinan ada beberapa sungai yang tidak membeku. Mungkin karena aliran airnya yang cukup deras. Rasa penasaran Naruto yang terpendam selama ini kemudian bangkit kembali. Bocah pirang ini begitu ingin tahu apa sebabnya jalur yang pernah dilewati Shino sebelumnya disebut sebagai jalur kemustahilan. Hingga Tentara Perdamaian bahkan tidak menganggapnya .

Masih asik dengan apa yang dipikirkannya, tubuh Naruto tiba-tiba menabrak punggung Kiba yang berhenti secara tiba-tiba. Penasaran, bocah itu kemudian menengok ke depan dimana Shino berada.

"Persiapkan diri kalian. Mulai dari sini mimpi buruk baru dimulai.." ucap Shino santai. Dia mengucapkannya seolah itu bukanlah masalah yang besar. Dia kemudian menghilang dalam sekejap mata.

"Kemana dia..?" tanya Naruto kaget.

"Lihat ke bawah tebing bung..!" balas Kiba yang berada di depan Naruto.

"Tebing..?" tanya Naruto lagi.

Naruto kemudian menjulurkan kepalanya ke bawah dan melihat Shino sedang bergelantungan di ranting pohon. Rasa penasaran Naruto selama ini akhirnya terjawab sudah dengan pemandangan yang dia lihat sendiri. Menurutnya jalur ini bukan cuma mustahil untuk dilewati tapi juga sangat begitu mengerikan. Batu-batu sungai nampak siap menjadi pembaringan terakhir jika mereka tak cukup kuat berayun. Jika mereka bernasib baik, mungkin saja hanya akan terbawa arus sungai yang deras dan berakhir di air terjun setinggi 20 meter dengan dasar batuan terjal. Jadi kesimpulannya, keduanya sama saja mengerikan.

Bocah pirang itu mengalihkan pandangannya kembali ke Shino. Bocah itu telah sampai di seberang tebing dengan selamat setelah sebelumnya berayun-ayun di ranting yang mungkin bisa patah kapan saja. Naruto kemudian merutuki pikiran super negatifnya yang entah kenapa muncul di saat-saat dia butuh keberanian.

"Selanjutnya para gadis.." kata Shikamaru yang memberi jalan pada Sakura.

Sakura melompat turun dan berhasil meraih ranting. Gadis itu nampak begitu ketakutan. Namun pada akhirnya dia berhasil sampai di seberang dengan bantuan Shino yang mengulurkan tangannya.

Sekarang giliran Ino. Gadis pirang itu terlihat ragu melakukannya. Dia menggigit bibir bawahnya gelisah. Sai yang melihatnya segera menghampiri dan membisikan sesuatu di telinga gadis itu. Ino menganggukan kepala pada Sai dan kemudian melompat tanpa ragu dan sampai di seberang dengan selamat.

"Apa yang kau bisikan padanya..?" tanya Naruto ingin tahu. Bocah pirang itu paham jika pertanyaannya benar-benar bodoh. Tapi tetap saja dia mengucapkannya.

"Sebuah mantra.." jawab Sai dengan datar sambil berjalan melewati Naruto.

Kali ini giliran Shikamaru. Bocah pemalas itu melakukannya dengan cukup baik. Kiba kemudian menyusul dibelakangnya. Naruto begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kiba yang selama ini dia anggap hanya seorang anak bermulut besar sekarang tengah menunjukan kemampuannya. Dia sampai di seberang dalam waktu yang cukup singkat. Mungkin anak itu dulunya adalah seorang anggota sirkus pikir bocah pirang itu.

"Sekarang giliranmu bung..!" kata Sai sambil mendorongnya.

Naruto menelan ludah kembali untuk kesekian kalinya. Dia memandang ke dasar berharap semua itu cuma ilusi saja dan mulai memberanikan diri. Tepat ketika dia mulai melangkah ada sesuatu yang terasa asing pada dirinya. Kedua kakinya melemas dan tak dapat digerakkan. Bocah pirang itu benar-benar ketakutan, hanya saja otaknya terlambat mengetahuinya.

"Ayolah..!" teriak Sai.

Bocah kulit pucat itu mulai kehilangan kesabarannya. Tanpa persetujuan dari Naruto, Sai langsung mendorongnya. Bocah pirang itu memekik ketakutan namun reflek tubuhnya segera mencari pegangan dan akhirnya berhasil mendapatkannya.

"Hei, kau gila..!" bentak Naruto kesal pada Sai. Wajah bocah pirang itu benar-benar pucat pasi.

"Kita tidak banyak waktu lagi. Segera menyebrang dan jangan protes..!" jawab Sai seolah segalanya baik-baik saja.

Naruto kemudian mulai berayun pada ranting pohon itu. Dia sengaja tidak menatap ke arah bawah untuk mengurangi rasa takutnya. Butuh waktu yang cukup lama hingga akhirnya dia tiba di tepi dan disambut tangan Shikamaru.

Kali ini giliran Sai menyebrang. Dia begitu percaya diri hingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di tengah jalan. Tiba-tiba Naruto mendengar suara aneh. Sesuatu yang terdengar seperti berderak. Dia segera menatap ke arah ranting itu dan kemudian nafasnya seolah tertahan di tenggorokan.

"Jangan bergerak Sai..!" teriak Naruto mengagetkan semua.

Semua menatap Naruto penuh tanya begitu pula dengan Sai. Shikamaru memandang ke arah tatapan bocah pirang itu dan betapa terkejutnya dirinya.

"Shino ambil tali..! dan kau Sai jangan bergerak sedikitpun..!" teriak Shikamaru.

"Memangnya ada apa..?" Shino menghentikan ucapannya. "Oh ya Tuhan rantingnya.."

Wajah Sai segera menggelap setelah mendengar perkataan Shino. Ino berlari mendekati pinggiran tebing dan berusaha menggapai tangan Sai namun tindakan itu sia-sia. Gadis itu kemudian menangis pilu. Sakura mendekati dan berusaha menenangkanya.

"Pergilah..! aku akan baik-baik saja.." kata Sai.

"Jangan sok pahlawan, gadis itu membutuhkanmu.." teriak Naruto.

Sai tersentak dan membuang muka. Dia sadar tentang apa yang diucapkan Naruto padanya. Ino memang membutuhkannya begitu pula dirinya.

" Tangkap ini..!" teriak Shino seraya melemparkan tali pada Sai.

Bocah kulit pucat itu berhasil menangkapnya. Dia kemudian mengikatkan tali itu ke tubuhnya. Setelah dirasa cukup kuat, Sai menatap Shino tanda telah siap.

"Sekarang larilah sekuat tenagamu..!" perintah Shikamaru.

Bocah itu kemudian berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk berlari. Gerakan Sai membuat retakan pada ranting itu semakin memanjang. Suara gemertaknya terasa begitu memilukan.

Tanpa peluit aba-aba layaknya kejuaraan lari, Sai berlari sekuat tenaganya. Tepat saat dia hampir sampai pada pijakan terakhir, ranting itu patah. Sai mencoba menghentakan tubunya ke depan berharap setidaknya tangannya bisa meraih pinggiran tebing. Namun sayang dia hanya menggapai udara kosong. Bocah kulit pucat itu melayang jatuh ke dasar tebing.

"Tahan..!" teriak Shino menahan tali dengan bobot tubuhnya.

Beruntung bagi Sai, tubuhnya telah terikat dengan tali sebelumnya. Tapi kabar buruknya tangannya terkilir akibat menghantam tepian tebing ketika terjatuh. Karena itulah dia tidak mampu merayap naik ke atas.

"Tarik bersama-sama..!" perintah Shikamaru pada yang lainnya.

Semua ikut menarik tubuh Sai yang tergantung cukup jauh ke bawah. Ino, gadis itu terus-menerus berteriak pada Sai untuk tidak menyerah. Tentu saja disertai bergelimangan air mata.

Entah memang disengaja atau tidak, cuaca yang sebelumnya cerah sekarang menjadi cukup mengkhawatirkan. Angin berhembus dengan kencang di sekitar tebing. Hal itu tentu saja membuat proses penyelamatan Sai menjadi lebih sulit lagi.

"Brengsek..! kenapa tiba-tiba cuaca menjadi buruk sih..?!" geram Kiba.

"Tinggalkan aku..! jika tetap di sini kalian tidak akan sempat..!" teriak Sai.

"Tidak, kita harus bersama-sama Sai..! kau sudah berjanji padaku..!" balas Ino sesenggukan. Gadis itu tahu ucapan Sai memang benar namun sepertinya dia tidak ingin meninggalkan pria itu. Naruto merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya saat melihat itu. Ya, dia juga merasa merindu untuk dikhawatirkan.

Angin berhembus semakin kencang. Tubuh Sai berayun tidak teratur dan membuat semuanya kesulitan untuk menarik dia ke atas. Nasib buruk ternyata tidak sampai di situ saja. Tali itu mulai terkikis akibat terus bergesekan dengan batuan tebing. Semua mengetahuinya, karena itu mereka mencoba menarik lebih cepat lagi. Sedikit demi sedikit tubuh Sai mulai terangkat mendekati Naruto dan yang lainnya. Tapi sayang, tali yang sudah terkikis parah itu tidak mampu lagi menahan beban tubuh Sai. Bocah kulit pucat itu kali ini benar-benar terjatuh ke dasar tebing.

"Aku menangkapnya..!" teriak Naruto.

Sai menengadah ke atas melihat Naruto mencengkram tangannya dengan begitu erat. Betapa terkejutnya dia saat melihat posisi bocah pirang itu saat ini. Posisi badanya terbalik dengan kepala berada di bawah dan kaki di atas. Bocah itu tidak berpegang pada apapun. Tubuh Naruto sepenuhnya bisa dibilang sudah siap jatuh ke dasar tebing. Alasan mengapa dia tidak terjatuh adalah karena Shikamaru dan shino memegang kedua kakinya.

"Cepat tarik kami..! aku sudah tidak kuat lagi menahannya.." ucap Naruto. Dari nada suaranya, bocah pirang itu benar-benar sedang kepayahan.

Shikamaru dan Shino berusaha menarik tubuh Naruto dan Sai dengan susah payah. Menarik satu orang dewasa saja begitu sangat sulit. Apalagi kali ini dua, tidak perlu ditanyakan lagi betapa kesusahannya mereka.

Setelah berusaha dengan cukup keras dan memakan waktu lama. Naruto dan Sai akhirnya berhasil diselamatkan. Ino segera menghambur memeluknya begitu bocah pucat itu sampai di atas. Sedangkan Naruto mencoba membaringkan tubuhnya sebentar. Dia juga memejamkan matanya sembari berusaha mengatur nafasnya kembali.

"Aku benci mengatakannya, tapi kau baru saja menyelamatkan satu nyawa." Ucap Kiba pada Naruto. "Mungkin suatu saat nanti kita bisa menjadi lebih akrab."

Naruto hanya meringis tersenyum mendengar ucapan Kiba. Dia kemudian melihat Sakura berdiri sambil mengulurkan tangan dan tersenyum lembut padanya. Bocah pirang itu membalas senyum sembari menyambut uluran tangan gadis itu dengan gembira.

"Kau keren sekali.." bisik Sakura. Entah kenapa perkataan gadis itu membuat jantungnya berdegup kencang. Bocah pirang itu terlihat merona.

Naruto merasa tersanjung dengan ucapan Sakura dan Kiba sebelumnya. Namun bocah pirang itu sendiri tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Kejadian tadi mengingatkannya pada peristiwa saat dia menyerang Sakura tempo hari. Hampir sama keadaannya. Tubuhnya bergerak sendiri seolah telah diatur untuk menyelamatkan Sai. Naruto kemudian bertanya dalam hati, mungkinkah Sai dan dia memiliki semacam ikatan khusus yang sama halnya dia rasakan pada Sakura.

.

"Ayo kita jalan. Waktunya semakin menipis.." ucap Shino. Bocah itu bangkit dari duduknya.

"Jadi kemana lagi kita pergi tuan penunjuk arah..?" tanya Naruto sedikit melucu.

"Ke arah sana.." jawab Shino menunjuk ke arah bebatuan.

"Kau serius? Tidak ada jalan disana..!" timpal Kiba.

"Aku tidak bilang kita akan berjalan, kali ini kita akan merayapi bebatuan itu." Balas Shino.

Semua mata terbelalak mendengar penuturan Shino. Rasa rileks yang baru didapatkan Naruto seolah tidak ada gunanya. Dia pikir kejadian tadi adalah puncak dari kesulitan jalur ini. Sepertinya dugaan bocah pirang itu keliru. Yang tadi itu bahkan belum setengah dari kejutan dari rute pelarian ini.

"Waktu kita hanya tersisa 30 menit. Kita harus bergegas." Ucap Shino sambil berjalan " Tidak perlu khawatir jalur itu hanya sepanjang sepuluh meter."

Tidak ada yang membalas ucapan Shino. Semua berjalan mengikuti kemana bocah itu melangkah. Tangan Sai nampaknya belum pulih sepenuhnya. Melihat itu Naruto menjadi khawatir bagaimana bocah kulit pucat itu akan merayap jika keadaan tangannya seperti itu.

"Bagaimana dengan Sai..?" tanya Naruto.

"Tenang saja. Aku akan mengikatkan tali ke tubuhku kemudian mengikat ke tubuh Sai dan terakhir diikat ke tubuh Shikamaru. Dengan begitu seolah kami memanggulnya bersama." Jawab Shino penuh percaya diri.

.

Mereka sampai di ujung awal bebatuan tempat dimana Naruto dan yang lain akan merayapinya. Terlihat celah sempit tepat di pinggir tebing yang mungkin lebarnya kira-kira hanya 10 cm. Shino kemudian mengikat tubuhnya dengan tali dan disambungkan ke tubuh bagian atas Sai sehingga tidak mungkin bocah itu akan merosot jatuh. Langkah terakhirnya tali itu diikatkan pada Shikamaru.

Ketiga anak itu untuk mulai merayapi bebatuan layaknya seekor cicak walaupun sebenarnya hanya Shino dan Shikamaru saja yang melakukannya. Kiba kemudian mengikuti disusul Ino, Sakura dan Naruto paling akhir.

Angin masih berhembus kencang seperti sebelumnya. Shikamaru mencoba mencengkram bahu Sai agar tubuh anak itu tidak berayun terkena angin sehingga menyulitkan dia dan Shino dalam melangkah.

Naruto lagi-lagi berusaha menahan diri untuk tidak memandang ke bawah. Tapi jika dia tidak melakukannya maka hasilnya bocah pirang itu akan terpeleset jatuh. Dia harus melihat pijakannya meskipun itu artinya harus menatap dasar tebing itu pula.

"Tetap fokus, tinggal sebentar lagi.." teriak Shino menyemangati semuanya.

Perkataan Shino mungkin ada benarnya. Tapi mungkinkah Naruto bisa mempertahankan konsentrasi sedangkan kedua kakinya mulai gemetar ketakutan. Bocah pirang itu merasa sangat frustasi pada dirinya. Dia bahkan berharap agar keberanian saat menyelamatkan Sai muncul kembali untuk memudahkannya melewati rute gila ini.

.

Shino dan Shikamaru melepaskan ikatan tali dari tubuhnya dan Sai setelah berhasil merayapi jalur bebatuan dengan selamat. Ino segera memapah Sai begitu gadis pirang itu tiba. Sakura muncul kemudian diikuti Kiba dan Naruto yang terakhir dengan wajah seperti menahan muntah.

"Waktu kita tinggal 20 menit. Ayo kita harus segera bergegas..!" jelas Shino. Bocah kembali melanjutkan perjalanan lagi tanpa mengenal lelah.

"Ayo semuanya, tidak ada waktu beristirahat saat ini.." tambah Shikamaru.

Semua kembali berjalan mengikuti langkah Shino di depan. Naruto merasa baut-baut di kakinya hampir copot akibat kelelahan. Dia juga berani bertaruh jika yang lain mengalami hal yang sama. Tapi tidak ada pilihan lain. Rasa lelah ini tidak ada artinya jika digantikan kelegaan dari sebuah jeratan takdir kematian.

Shino berjalan tanpa menoleh ke arah manapun. Lambat laun pemandangan di sekitar mereka berjalan berubah. Dari yang sebelumnya hanya padang rumput kali ini berganti menjadi pepohonan besar dan lebat. Ketika telah cukup jauh masuk ke dalam hutan itu tiba-tiba Shino menghentikan langkahnya.

"Ada apa..?" tanya Shikamaru.

"Di depan kita adalah padang ranjau." Jawab Shino datar.

"Apa..?!" tanya Naruto tidak percaya dengan ucapan Shino.

"Kau tuli..? ada ranjau di depan kita.." balas Shino santai.

"Bagaimana kau tahu..?" kali ini Sai ikut bertanya.

"Aku hampir mati menginjaknya kemarin. Untung saja ada seekor burung yang menjadi kelinci percobaan." Jawab Shino. "Sebelumnya aku memutari area ini tapi jika kita melakukannya sekarang waktunya tidak akan cukup."

"Jadi maksudmu kita harus melewatinya..?" tanya Naruto.

"Begitulah.." jawab Shino.

"Kenapa kau tidak bilang sejak awal..?" teriak Naruto kesal.

"Dengar, jika kita tidak membuang banyak waktu di tebing tadi, mungkin kita bisa memutarinya." Timpal Shino. Bocah itu kemudian melirik ke arah Sai merasa bersalah dengan ucapannya.

"Berapa jarak padang ranjau ini dengan pos penjagaan..?" tanya Shikamaru menyela perdebatan antara Naruto dan Shino.

"Kira-kira seratus meter.." jawab Shino. "Apa kau punya rencana..?"

"Apa kau yakin kita bisa melewati tanpa menginjaknya..?" tanya Shikamaru lagi.

"Aku tidak yakin pastinya, tapi biasanya ada tanda-tanda jika itu adalah ranjau. Itu menurut intuisiku.." Balas Shino tidak meyakinkan menurut Naruto.

"Bagus, hidup kita ditentukan oleh sebuah intuisi.." timpal Naruto tertawa kecut.

Shikamaru tersenyum penuh arti mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Shino. Naruto berharap itu bukanlah sebuah persetujuannya terhadap rencana Shino.

"Aku ada rencana.." ucap Shikamaru.

Semua segera merapat setelah mendengar ucapan Shikamaru. Bocah pemalas itu kemudian menjelaskan rencananya. Sebagian disetujui oleh Naruto tapi ada beberapa bagian yang dia tidak sependapat seperti melewati padang ranjau tanpa menelitinya terlebih dahulu. Namun pada akhirnya semua sepakat dengan rencana Shikamaru meskipun bocah pemalas itu tidak menjamin semua akan berjalan sesuai keinginannya.

.

Mereka mulai melangkah memasuki padang ranjau. Degup jantung terasa begitu nyaring terdengar di telinga. Keringat dingin menetes hampir di setiap mereka melangkahkan kaki. Mereka semua sama-sama takutnya dengan kemungkinan menginjak ranjau. Tapi mereka harus mencobanya. Jika rencana Shikamaru berhasil mereka akan dengan mudah keluar dari kota.

Shino memberi instruksi agar semua mengikuti kemana dia berjalan. Naruto menoleh ke samping kanan dan menemukan sesuatu terkubur yang dia yakini itu adalah ranjau. Dia pun mencoba menelusuri ke segala arah. Betapa terkejutnya dia mengetahui betapa banyak ranjau-ranjau yang berserakan di sekitar mereka. Dua buah berada di sebelah kirinya, tiga buah di bagian belakangnya yang dengan menakjubkan bisa dia hindari. Mengetahui fakta jika hingga saat ini dia dan yang lainnya tidak menginjak satupun ranjau, Naruto merasa harus berterima kasih pada Shino. Bocah itu memang seorang navigator yang bisa diandalkan.

"Menurutmu, apa tujuan sebenarnya Tentara Perdamaian..?" tanya Shikamaru pada yang lainnya. Bocah pemalas itu mencoba membuka obrolan untuk mencairkan suasana yang begitu suram ini.

"Mungkin semacam dominasi dunia.." Jawab Kiba asal.

"Jika memang itu tujuannya, kenapa harus mengebom kota satu per satu dan membagikan alat suntik mencurigakan pada semua penduduk sebelum mereka dimusnahkan..?" timpal Sai. Shikamaru mengangguk menyetujui pendapat Sai.

"Menurutku lucu, Tentara Perdamaian tetapi menghancurkan perdamaian. Sebuah fakta yang begitu ironis bukan.." ucap Sakura sambil tersenyum kecut.

Naruto menyetujui ucapan Sakura. Seharusnya Tentara Perdamaian bertugas menjaga perdamaian sesuai dengan namanya. Bukan malah bertindak sebaliknya. Ucapan pria berbaju putih-putih itu kemudian terngiang di kepalanya.

"Apa kalian ingat dengan ucapan orang berbaju putih-putih itu..?" tanya Naruto.

"Terlahir kembali, taman Eden dan dunia yang penuh dengan kesempurnaan. Aku tidak memahami maksudnya.." balas Shikamaru.

"Mereka punya tujuan yang lebih besar dari apa yang bisa kita kira. Kita harus mencari tahu setelah keluar dari sini." Ucap Naruto.

"Keluar dari tempat ini. Kata-katamu sangat menginspirasi sekali bung.." terdengar Shino berucap di depan. Bocah itu seolah sedang mencemooh perkataan Naruto tapi sebenarnya justru sebaliknya.

"Ngomong-ngomong soal keluar, kita sudah hampir sampai di ujung padang ranjau ini. Bersiaplah menjalankan rencana yang telah kita sepakati.." jelas Shino.

Semua mengangguk dengan yakin. Sedangkan Naruto merasa mual mendengarnya. Dia berpikir mungkin dirinya bukan tipe orang yang cocok dalam hal konfrontasi. Tapi jika mengingat aksinya melumpuhkan orang berbaju putih-putih dia jadi ragu tentang seperti apakah dirinya. Bocah pirang itu kemudian menatap ke depan dengan yakin. Diapun memutuskan untuk tidak memikirkannya saat ini.

.

Pada akhirnya Shino berhasil mengantarkan Naruto dan yang lain dengan selamat tanpa menginjak satupun ranjau. Shikamaru menghembuskan nafas lega. Nampak jika dia juga begitu tegang sebelumnya. Terlihat juga Sakura tengah membasuh peluh di wajahnya, Ino mendudukan Sai sebentar untuk beristirahat, Kiba meregangkan otot-otot tangannya sedangkan Naruto hanya berdiri diri seraya menggumankan ucapan syukur entah pada siapa.

"Tinggal 7 menit. Tidak ada waktu lagi.." ucap Shino mengingatkan semua.

"Jadi, apa kalian siap beraksi kawan-kawan..?" tanya Shikamaru selanjutnya. Entah kenapa nada bicara terdengar sangat menyebalkan di telinga Naruto. Namun bocah pirang itu terkesan dengan caranya mengalihkan ketakutan.

Sai bangkit dari duduknya namun Ino mencegahnya. Bocah kulit pucat itu kemudian tersenyum seakan berkata tidak apa-apa. Dia terlihat lebih baik dari sebelumnya dan nampaknya luka terkilirnya sudah mulai membaik.

"Aku sudah cukup baik sekarang.." ucap Sai tersenyum meyakinkan.

"Selama itu urusan otot aku selalu siap.." kata Kiba pada Shikamaru. Bocah pemalas itu kemudian menoleh ke arah Naruto seolah bertanya bagaimana dengan dia.

"Menurutmu apa aku punya pilihan..?" balas Naruto sambil mengangkat bahu cuek.

"BAIKLAH, SEKARANG WAKTUNYA PERTUNJUKAN.."

.

.

.

To be continue

.

.

Balasan Review :

Cindy : terima kasih udah nyempetin baca..

Ren : Awalnya saya juga mau pake panggilan Cowok tapi rasanya kurang sreg gimana gitu buat saya pribadi.. hehe

Gray : ditunggu aja kalau penasaran banget, hehe

Hikari : saya akan berusaha bikin yang lebih bagus lagi, terima kasih buat semangatnya..