Hallo semua..! Saya kembali lagi dengan membawa kelanjutan fic ini. Semoga teman-teman suka dan jadi berkah buat saya. Jangan lupa RnR nya ya..!

.

.

Chapter 6

.

.

"Dengarkan baik-baik..! aku tidak punya banyak waktu untuk mengulanginya. Jadi jangan tanyakan apapun saat aku bicara. Bertanyalah ketika aku telah mengakhiri pembicaraanku.." Ucap Shikamaru pada yang lainnya yang di balas dengan anggukan kepala.

"Pertama-tama kita pancing mereka dengan meledakkan salah satu ranjau. Dengan jarak hanya 100 meter tidak mungkin mereka tidak mendengarnya." Ucap Shikamaru. "Saat mereka berlari kemari, Shino kau harus bisa menyelinap di antara mereka dengan seragam itu."

Ranjau itu meledak begitu dahsyat hingga memekikkan telinga Naruto dan yang lainnya. Awalnya bocah pirang itu mencoba membayangkan apa jadinya jika dia ada di dekat ranjau itu. Namun saat menyaksikan betapa ngerinya, dia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Debu akibat ledakannya membuat keadaan sekitar menjadi berkabut. Jarak pandang mereka menjadi terbatas dan bau tanah yang terbakar benar-benar tidak menggugah selera. Ditambah area sekeliling padang ranjau yang penuh dengan semak belukar lebat seakan menambah kesan mencekam di area itu.

Naruto segera menghambur mencari tempat persembunyian sesuai dengan intruksi yang Shikamaru jelaskan sebelumnya. Bocah pirang itu kemudian bersembunyi di balik semak-semak yang rantingnya cukup tajam hingga membuat kulit tan miliknya lecet. Bocah itu hendak mengumpat keras-keras. Namun saat mendengar derap langkah beberapa orang yang mendekat, dia mengurungkan niatnya.

Derap langkah itu semakin mendekat dengan membawa aura ke-ngerian pada Naruto. Meskipun dia sudah memantapkan hatinya untuk tidak gentar, tapi tetap saja dia hanyalah seorang anak laki-laki berumur 17 tahun yang tengah kehilangan ingatannya. Kalau ini semacan tes pengujian mental dia mungkin akan segera melambaikan tangan tanda menyerah. Namun sayangnya ini adalah realita yang harus dihadapinya.

Sekitar 6 orang berseragam hitam loreng-loreng khas militer berlari mendekati padang ranjau. Mereka semua bersenjatakan lengkap. Tangan kanan memegang senapan aneh berwarna putih yang kontras dengan seragam mereka, di sisi tubuh sebelah kiri tergantung sebuah tongkat besi hitam yang bisa dipakai untuk mematahkan tulang hidung, sebilah pisau di bagian pinggang kanan dan jangan lupakan sepatu boots besar yang menurut Naruto bisa membuat pincang kakinya jika ditendang dengan sepatu itu.

Naruto kemudian melihat Shino menyelinap ke disekitar mereka. Membayangkan betapa berbahayanya peran yang dilakoni oleh anak itu, Naruto hanya bisa berdoa untuknya. Dia memakai seragam yang sama dengan Tentara Perdamaian hanya saja tanpa segala macam senjata.

"Aku berani bertaruh kau akan dicurigai oleh mereka. Karena itu aku harap kau bisa mengulur waktu sampai Kiba dan Sai selesai melakukan bagiannya." Jelas Shikamaru pada Shino. Bocah itu mengangguk paham tanpa ragu.

Para Tentara Perdamaian itu akhirnya sampai di tempat di mana ranjau meledak. Mereka berpencar menelusuri daerah sekitarnya. Tidak ada satupun dari mereka yang berjalan ke arah padang ranjau. Fakta itu membuat Naruto tahu jika lawan mereka memahami wilayah sekitar dengan sangat baik.

Saat salah satu dari mereka mendekatinya, bocah pirang itu benar-benar merasa ketakutan setengah mati. Dia mencoba tidak bernafas tepat ketika tentara itu berada di hadapanya yang hanya terhalang tanaman. Keringat dingin menetes deras di dahinya. Tubuhnya gemetar seolah kedinginan. Bocah itu pun mencoba menenangkan diri sebisa mungkin tidak membuat suara mencurigakan yang pada akhirnya membuatnya ketahuan. Setelah berdiam lama, akhirnya tentara itu melangkah pergi menjauh. Naruto harus bersyukur karena tanaman yang sebelumnya dia umpat ternyata berhasil menyembunyikan seluruh tubuhnya. Jika tidak dia mungkin akan jadi santapan pembuka makan siang bagi Tentara Perdamaian.

Mereka kemudian berkumpul kembali di tempat semula. Para tentara itu nampaknya sedang bertukar informasi satu sama lain. Tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan tapi Naruto tahu inti pembicaraan mereka. "Sebuah usaha pelarian" itulah kalimat yang dapat bocah pirang itu simpulkan dari obrolan mereka.

Salah satu dari mereka kemudian menatap Shino curiga. Orang itu terlihat lebih tinggi dari yang lainnya. Berkulit hitam dan memiliki tampang sangar yang cocok sekali untuk ukuran seorang tukang pukul. Jika dugaan Naruto tidak salah, orang itu pasti pimpinannya.

"Siapa kau?"

"Aku?" tanya Shino menunjuk dirinya.

"Ya, siapa lagi jika bukan kau!" bentak orang itu.

"Jangan bercanda bos, aku ini bawahanmu.." ucap Shino santainya. Naruto tidak tahu seberapa besar nyali bocah itu.

"Bagus, aku memang bos mu. Bukan begitu Kapten?" orang itu bertanya pada seseorang di sampingnya.

Jantung Naruto berdegup kencang mendengar fakta itu. Bocah pirang itu berani jamin jika Shino sama terkejutnya. Orang yang selama ini dia kira adalah pimpinannya ternyata keliru. Sekarang nasib Shino berada di ujung tanduk.

"Dasar penyusup bodoh." Ucap orang itu seraya menodongkan senapan ke arah Shino dan tersenyum mencemooh.

"Dia ternyata begitu polos Kapten.." Balas seseorang di sampingnya.

"Kau lihat ekspresinya? Dia benar-benar percaya jika kau lah Kaptennya.." ucap orang itu yang ternyata adalah Kapten yang sebenarnya.

Shino terperanjat kesal mendengar ucapan orang itu. Ternyata pernyataan yang mengatakan jika orang di sampingnya adalah Kapten mereka merupakan sebuah jebakan. Dengan melihat ekspresi Shino yang terkejut, tentara itu langsung paham jika bocah itu adalah penyusup. Shino nampak merasa dibodohi dengan begitu telak.

"Sekarang beritahu kami di mana teman-temanmu bersembunyi!" perintah si Kapten itu. Kali ini senapan itu dia arahkan ke kepala Shino.

Ingin sekali Naruto keluar dari tempatnya dan menghambur menyerang mereka. Tapi kemudian dia sadar jika itu adalah tindakan gila. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menunggu dengan sabar sampai Kiba dan Sai menyelesaikan bagianya.

"Aku sendirian." Jawab Shino berbohong.

"Jika aku jadi kau, aku akan segera berlari ke pos pengamanan. Berpura-pura menjadi seperti kami dengan seragam itu dan kemudian melarikan diri. Cepat katakan dimana yang lain?!" bentak si Kapten itu. Kali ini dia menekankan ujung senapannya.

Sengatan kemarahan bergejolak dalam diri Naruto. Bocah pirang itu tidak bisa hanya berdiam diri melihat Shino dibunuh di hadapannya. Dia merasa tidak mampu lagi menahan diri. Dia harus melakukan sesuatu sebelum peluru panas menembus kepala Shino. Naruto kemudian mengumpulkan seluruh tenaganya. Tepat ketika dia hendak bangkit, suara ledakan ranjau terdengar dari jauh.

"Berikutnya Sai dan Kiba. Setelah ledakan pertama, segeralah kalian berpencar! Kiba, kau susuri sebelah kiri padang ranjau dan Sai, kau sebelah kanannya. Telitilah setiap permukaan tanah dan temukan ranjau sebanyak mungkin saat kalian menelusurinya. Tidak perlu terlalu jauh, cukup sepertiga padang ranjau saja." Ucap Shikamaru. Dia mengambil nafas dan bersiap melanjutkan intruksinya. "Setelah itu ledakan satu persatu ranjau bersamaan dengan kalian kembali ke tempat awal. Ingat! usahakan saat meledakannya kalian tidak terlihat."

Ranjau-ranjau itu meledak silih berganti. Pertama dari sisi sebelah kiri kemudian disusul sebelah kanan. Naruto kemudian tersenyum penuh arti. Rupanya Kiba dan Sai berhasil melakukan bagiannya dengan baik.

"Apa yang kalian tunggu para pejuang lembek?!" bentak sang Kapten. "Cepat pergi ke sana!"

Lima tentara itu kemudian berpencar setelah mendengar perintah kaptenya. Tiga orang berlari ke arah kiri dan dua orang ke arah kanan. Sang Kapten tetap berdiam di tempat dan masih setia menodongkan senapannya pada Shino.

Ledakan ranjau yang tidak ada hentinya membuat daerah itu menjadi berkabut. Ledakannya juga semakin lama semakin mendekat. Tanah-tanah yang berhamburan akibat ledakan menambah buruk situasi tempat itu. Naruto menatap kepergian lima tentara itu hingga akhirnya hilang dari pandangannya. Bocah pirang itu kemudian bangkit dari tempat persembunyiannya bersiap melakukan bagiannya. Dia melihat melihat sekelebat bayangan yang bergerak cepat ke arah Shino dan si Kapten.

"Saat ledakan-ledakan itu terjadi, aku berani jamin pasti sebagian besar dari mereka akan segera memeriksanya. Untuk itu kalian berdua harus segera bersembunyi." Ucap Shikamaru pada Sai dan Kiba.

"Anggap saja ada dua orang yang tersisa di tempat itu menjaga Shino, saat itulah aku dan Naruto akan mencoba menyerang mereka memanfaatkan kabut dan kebisingan yang tercipta dari ledakan-ledakan ranjau itu." Ucap Shikamaru seraya menatap Naruto.

Kabut yang cukup tebal benar-benar seperti berkah bagi Naruto dan Shikamaru. Mereka berdua dengan mudah melesat semakin dekat dengan tempat Shino dan si Kapten tanpa diketahui. Shino yang mulai merasakan keberadaan mereka berdua kemudian menatap wajah sang Kapten disertai senyum mencemooh.

"Apa yang tertawakan bocah?" ucap sang Kapten dengan nada sinis.

"Nasibmu.." jawab Shino.

Mendengar ucapan itu si Kapten naik pitam dan bersiap menarik pelatuk senapannya. Shino yang menyadari hal itu segera merunduk dan menendang selangkangannya. Si kapten terhuyung ke belakang tapi masih bisa menyeimbangkan dirinya. Dia menatap murka ke arah Shino.

"Kau akan.." belum sempat menyelesaikan ucapannya, Naruto menghantam kepala sang Kapten dengan balok kayu yang entah dari mana dia mendapatkannya.

Tubuh si Kapten limbung ke arah kiri akibat hantaman Nartuo. Shino melihat itu sebagai sebuah kesempatan. Bocah itu kemudian menendang tangan kanan si Kapten hingga genggamannya pada senapan menjadi melemah. Shikamaru segera merebut dan meninju wajah si Kapten dengan gagang senjata yang berhasil dia rebut. Kali ini si Kapten benar-benar roboh setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari ketiga anak itu.

"Setelah berhasil melumpuhkan, kita rampas senjata mereka." Ucap Shikamaru. Dia lalu menatap ke arah Sai dan Kiba. "Sekarang soal para Tentara yang terpancing umpan kita. Kalian berdua harus bisa mengalahkan minimal satu orang dari mereka. Rebut senjatanya dan gunakan untuk menyerang yang lainnya. Tidak perlu khawatir, kabut asap akan memudahkan kalian menyerang secara sembunyi-sembunyi."

Terdengar teriakan dari arah sebelah kiri padang ranjau. Tidak lama kemudian suara adu tembak menyusul dengan begitu sengit. Sebelah kanan padang ranjau pun mengalami hal yang serupa. Naruto menoleh ke arah Shikamaru. Bocah pemalas itu hanya menganggukkan kepalanya.

"Mereka sudah mulai.." Ucap Shino memecah keheningan.

"Ya aku harap mereka berhasil." Ucap Shikamaru penuh harap.

"Benarkah? Apa kau benar-benar berpikir seperti itu?" Naruto dan yang lainnya segera menoleh ke sumber suara.

Dengan frekuensi serangan yang dilancarkan Naruto, Shikamaru dan Shino, seharusnya si Kapten sudah tak sadarkan diri. Tapi nyatanya pria itu berhasil bangkit dan berdiri di hadapan mereka dengan sangat kokoh seolah tidak terjadi apa-apa. Keadaan ini seketika membuat mental Naruto yang sempat membumbung tinggi kembali terjatuh lagi.

Si Kapten menatap mereka bertiga satu per satu. Dia tersenyum mencemooh seolah serangan yang dia terima sebelumnya tidak ada artinya. Dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibir dan kemudian menjilatnya. Shino yang paham itu adalah sebuah penghinaan segera berlari menyerang sang Kapten.

Sang Kapten dengan mudah menghindari pukulan Shino. Dia justru berhasil melakukan serangan balik dengan menendang bocah itu hingga terpental. Belum sempat bangkit, sang Kapten kembali menyerang. Kali ini dia menendang perut Shino hingga bocah itu meraung kesakitan.

"Akan kubunuh kau!" teriak sang Kapten sembari terus menendang perut Shino tanpa memperdulikan raungan kesakitannya.

Naruto tidak tahan melihatnya. Dia segera berlari dan memukul kepala si Kapten dengan balok kayu sebelumnya. Serangannya berhasil, tapi sayang tidak terlalu fatal. Si Kapten masih berdiri kokoh. Naruto yang melihat hal itu semakin geram. Dia pun menyerang dengan membabi-buta.

Naruto mengayunkan balok kayu itu ke arah kanan-kiri secara sembarangan tanpa melihat objek sasarannya. Alhasil setiap serangannya dapat dihindari dengan mudah oleh sang Kapten. Semakin lama serangan itu semakin melemah. Si Kapten yang sepertinya telah berpengalaman dalam hal seperti ini segera melakukan serangan balasan. Tepat pada suatu titik ayunan balok itu berhasil ditangkap dengan mudah oleh si Kapten. Dia kemudian mementalkan balok kayu itu dari genggaman Naruto dan sebelum bocah pirang itu sempat bereaksi, tinju si Kapten tepat mengenai pipi kirinya.

Naruto terjengkang ke belakang. Dia mengerang kesakitan akibat serangan itu. Tinju si Kapten itu benar-benar luar biasa kuatnya. Tidak pernah dalam benak Naruto dia akan merasakan sensasi kesakitan yang sedahsyat ini. Dia tidak tahu seperti apa bentuk wajahnya saat ini. Tapi setidaknya dia bersyukur si Kapten gila itu tidak mematahkan hidungnya.

"Sekarang giliranmu bocah.." ucap Si Kapten menoleh ke arah Shikamaru.

Shikamaru kemudian mengacungkan senapan rampasannya ke arah sang Kapten. Melihat hal itu pria itu justru menyeringai. Dia lalu berjalan mendekati Shikamaru seolah yakin bocah itu tidak akan menembaknya.

"Akan kutembak!" teriak Shikamaru.

"Lakukan saja!" tantang sang Kapten. Mendengarnya Shikamaru hanya tersenyum kecut.

"Jangan berlagak di depanku bocah sialan! Jika kau memang bisa menembakku, pasti kau sudah melakukannya sejak tadi. Katakan itu saat tanganmu tidak gemetaran lagi" Ucap Sang Kapten.

Tubuh Shikamaru menegang mendengar perkataan Sang Kapten. Sejak awal dia memang tidak bisa melakukannya. Yang dia lakukan saat ini hanya sebuah gertakan saja. Tapi sayang, pria di hadapanya justru dapat mengetahui fakta tentang dirinya. Ya, Shikamaru nampaknya takut akan senjata api.

Sang Kapten semakin mendekat. Dia kemudian mempercepat langkahnya hingga akhirnya berlari dengan kencang ke arah Shikamaru. Bocah pemalas itu hanya berdiri mematung. Kaki dan tangannya seolah kaku dan tidak dapat digerakkan sedangkan Sang Kapten hanya tinggal berjarak sepuluh meter darinya. Shikamaru yang melihatnya hanya diam tak bergerak.

Layaknya seekor harimau yang akan menerkam mangsanya, Si Kapten melompat saat jaraknya dengan Shikamaru hanya terpaut 3 langkah. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di udara. Sang Kapten nampaknya benar-benar ingin menghabisinya.

"Kau tamat bocah!" teriak sang Kapten seraya melayangkan tinju dengan kedua tangannya.

Mungkin Shikamaru butuh operasi plastik untuk perbaikan wajah jika saja dia tidak menghindarinya. Bocah pemalas itu berhasil mengelak tepat ketika pukulan itu hanya tinggal beberapa inchi. Dia memutar tubuh sehingga posisi si Kapten saat ini adalah tengah membelakanginya. Shikamaru kemudian menghantam tengkuknya dengan gagang senapan sang Kapten dan pria itu pun ambruk.

Shikamaru sudah menduga pria itu akan bangkit lagi. Dengan gerakan secepat kilat dia menindih pria itu. Dia tahan tubuh sang Kapten dengan menekan punggung pria itu menggunakan lututnya. Bocah pemalas itu kemudian menyuntikan cairan yang sama jenisnya dengan milik orang berbaju putih-putih. Cairan itu dia dapat dari sesi melucuti senjata sang Kapten sebelumnya.

"Kali ini kau tidak mungkin bisa bangkit lagi.." ucap Shikamaru.

"Aku kagum dengan kecepatannmu dan ketahananmu pak tua. Saat melihatmu bertarung melawan kedua temanku akupun sadar. Tidak ada gunannya menyerangmu dengan senjata api. Dengan kemampuanmu, kau bisa menghindarinya dengan cepat. Sejak itu aku mengerti jika satu-satunya cara untuk melumpuhkanmu adalah dengan cairan ini, dan itu artinya adalah pertarungan jarak dekat."

"Konfrontasi secara langsung seperti yang kedua temanku lakukan bukanlah tipeku. Selain karena membuang banyak tenaga, aku juga malas melakukannya. Ibarat jika bisa dengan 3 langkah kenapa harus susah-susah melakukannya dengan banyak langkah. Karena itulah aku berpura-pura takut akan senjata api dan kabar baiknya kau dengan senang hati datang menyerangku."

"Asal kau tahu pak tua, di dunia ini segala sesuatu bisa dipecahkan dengan kepala dingin. Semoga kau tenang di alam sana."

Shikamaru merasakan kekuatan sang Kapten itu mulai mengendur. Bocah pemalas itu kemudian bangkit. Sejujurnya dalam hati yang paling dalam Shikamaru merasa bersalah. Untuk kali kedua dia membunuh orang dengan cara yang sama. Tidak Cuma itu, dia pun harus melihat pemandangan memilukan menjelang kematian orang-orang yang dibunuhnya.

.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Sai. Bocah pucat itu datang dengan tergopoh-gopoh. Soal bagaimana keadaannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Bisa diatasi.." jawab Shikamaru. "Dimana Kiba?"

"Di sini.." balas Kiba mengangkat tangan.

Keadaan Kiba juga tidak berbeda dengan Sai. Wajah kusam, baju compang-camping serta bau tubuh yang mirip sekaleng bubuk mesiu. Jika mereka berhasil kabur, hal pertama yang akan dia perintahkan kepada mereka berdua adalah mandi sampai bersih.

Shino bangkit. Bocah itu meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. Serangan tidak tahu aturan dari sang Kapten padanya benar-benar sangat gila. Jika saja Naruto tidak segera membantunya mungkin bocah itu sudah tamat.

Untuk Naruto, keadaan bocah itu bisa dibilang baik dan tidak baik. Baik karena masih hidup dan terlihat segar. Tidak baik karena keadaan wajahnya benar-benar parah. Mungkin operasi plastik adalah saran terbaik untuknya setelah keluar dari kota ini.

"Ayo bergegas!" ucap Shikamaru pada yang lainnya.

"Jangan terburu-buru bocah-bocah sialan.." ucap seseorang di belakang mereka.

Naruto, Shikamaru dan yang lainnya segera menoleh ke sumber suara. Seorang pria kulit coklat berseragam dengan senjata lengkap di kedua sisi pinggangnya berdiri di hadapan mereka. Diikuti 10 tentara lengkap dengan senjata berdiri di belakangnya. Namun keterkejutan Naruto dan yang lain tidak sampai disitu. Tepat di belakang pria kulit coklat itu nampak dua gadis yang sangat familiar dimata mereka. Ya, kedua gadis itu adalah Sakura serta Ino, dan mereka telah tertangkap.

.

.

To be continue

Balasan review :

Yusup : Oke akan saya usahakan. Terima kasih review nya

Haruko : Terima kasih, semoga kedepannya masih berkualitas fic nya..

Ndah d Amay : iya hampir mirip, hehe. Makasih review nya

Ren : haha.. makasih reviewnya.

Kidsno : Oke siaaap

Key : terima kasih, rencana Shikamaru bakal dijelasin di chapter ini.

Kay Yamanaka : terima kasih untuk saran dan reviewnya..