Hallo teman seperjuangan yang berbahagia. Kita akhirnya bisa berjumpa lagi pada kesempatan kali ini. Gak usah bertele-tele lagi lah.. silahkan baca kelanjutan fic nya. Semoga kalian suka dan jangan lupa RnR nya..

.

.

Chapter 7

.

.

.

"Ino.. jika aku tidak keliru, keluargamu adalah perancang tata kota ini. Bisa aku simpulkan jika kau juga pasti tahu dengan jelas cetak biru kota ini bukan?" tanya Shikamaru pada Ino.

"Ya, aku tahu dengan jelas segalanya tentang kota ini." Jawab Ino mantap.

"Tunggu sebentar.." potong Naruto seraya menatap Ino. " Jika keluargamu tahu segalanya tentang kota ini, kenapa kalian kesulitan dalam hal melarikan diri keluar?"

Naruto tahu jika mereka sebelumnya pasti juga memikirkan hal yang sama seperti dirinya. Tapi entah kenapa dia ingin tahu alasannya sesegera mungkin.

"Justru karena mengetahui segalanya, maka kami simpulkan jika tidak ada jalan keluar." Jawab Ino. "Dengan rancangan yang dibuat oleh keluargaku kota ini menjadi tempat paling sulit ditembus oleh para penyusup. Kami bangga dengan fakta tersebut hingga akhirnya memahami timbal baliknya."

Gadis pirang itu terdiam membuang muka. Ada raut kesedihan terpancar disana. Naruto jadi merasa bersalah. Mungkin jika mereka berhasil keluar dari kota ini dia akan segera meminta maaf.

"Ini seperti memasang tralis besi pada pintu dan jendela rumah. Kemudian terjadi kebakaran dan kau terjebak di dalamnya. Kau mungkin akan segera berlari ke pintu. Tapi bagaimana jika di depan pintu itu ada sekumpulan penjahat yang siap membunuhmu?" tanya Ino balik.

"Oh oke, aku paham sekarang.." Naruto mengangguk merasa tidak enak hati pada Ino.

"Oke, terima kasih atas penjelasan Ino. Tapi sebenarnya bukan tentang bagian dalam kota ini yang ingin aku tahu." Shikamaru mencoba menyambung percakapan sebelumnya.

"Lalu?" gadis pirang itu mengerutkan keningnya penasaran.

"Aku hanya ingin memastikan jika perkiraanku tidak keliru tentang kota ini sebelum seperti sekarang."Jawab Shikamaru.

"Maksudmu tentang fungsi tempat ini sebelumnya?" sambung Sai yang mulai penasaran dengan apa yang sedang dimaksud oleh Shikamaru.

"Ya, apa benar jika bagian luar kota ini dulunya adalah tempat perlindungan penduduk sipil saat perang nuklir terjadi?"tanya Shikamaru.

Naruto tahu jika dia tak mengerti apapun yang sedang mereka bicarakan. Tapi sejak mendengar kata perang nuklir seketika perutnya terasa mual. Dia tidak pernah menyangka jika perang terburuk itu benar-benar terjadi.

"Jadi kau mau menyinggung soal bangker?" tanya Shino.

"Kau percaya tentang kemungkinan itu Shikamaru?" tambah Kiba. Dari nada bicaranya jelas mengisyaratkan jika bocah itu tidak yakin tentang keberadaan bangker.

"Ya ampun, aku ingat kalau ayahku pernah menyinggung soal ini saat kita membicarakan tentang rute pelarian. Kalau tidak salah ayahku pernah berkata jika salah satu bangker yang masih bisa digunakan letaknya tidak jauh dari... Padang Kematian." Ucap Ino seolah baru mengingat sesuatu.

Ucapan Ino seolah menjawab segala pertanyaan Shikamaru sebelumnya. Bocah pemalas itu tersenyum puas mendengarnya.

"Ya, ayahku juga mengatakan hal yang sama meskipun dia sendiri tidak tahu dimana letak ladang kematian itu berada. Jika perkiraanku tidak salah, maksud dari padang kematian adalah..."

"Padang ranjau.." ucap Sakura setelah sekian lama terdiam.

"Aku akan mengatakan hal yang sebenarnya pada kalian." Shikamaru tiba-tiba berbicara dengan nada yang serius. "Meskipun kita berhasil meloloskan diri dari penjagaan peluang kita untuk tidak terkena radiasi sangat kecil. Berlari dengan kecepatan maksimal pun kita akan tetap terpanggang olehnya. Jadi jalan satu-satunya adalah dengan berlindung di dalam bangker itu."

Lagi-lagi, entah sampai kapan semangat hidup Naruto seolah seperti roller coaster. Pada suatu titik semangatnya meninggi namun seketika pula semangat itu menukik turun.

"Jadi begini rencananya. Setelah ledakan ranjau pertama, Ino.. kau segera pergi menuju ke pos penjagaan bersama dengan Sakura. Bersembunyilah hingga semua tentara yang berada di tempat itu terpancing oleh kami. Setelah itu kalian segera telusuri dimana bangker itu berada."

"Aku tahu diantara kita semua hanya kau yang paham tentang kota ini baik luar maupun dalam. Aku harap kau juga tahu soal bangker itu. Aku mengandalkanmu Ino" ucap Shikamaru.

.

.

Rencana awalnya adalah mereka berdua, Sakura dan Ino bertugas mencari keberadaan bangker yag diyakini berada di sekitar area pos penjagaan. Itu juga akan mereka lakukan setelah seluruh tentara di tempat itu terpancing keributan yang ditimbulkan oleh Naruto dan yang lain. Tapi jika keadaannya seperti ini, bisa dibilang rencana mereka telah gagal total. Sebenarnya tidak terlalu gagal juga mengingat mereka telah melumpuhkan 5 orang tentara dan seorang kapten bertenaga monster.

Melihat situasinya saat ini, tanpa butuh otak super cerdas pun Naruto juga paham jika mereka tidak mungkin bisa mengalahkan 10 orang tentara itu. Apalagi dengan adanya Sakura dan Ino yang dijadikan sandera, keadaan mereka benar-benar terjepit saat ini.

Shikamaru mengeram kesal. Naruto tahu, dari semua teman-temannya pasti Shikamaru lah yang paling terpukul dengan keadaan saat ini. Semua strategi pelarian ini adalah hasil pemikiran otak jeniusnya dan ketika semua berjalan tidak sesuai rencana, maka bisa disimpulkan jika hal ini adalah pukulan telak bagi bocah pemalas itu.

"Jadi apa ada yang mau bicara? Sebelum aku mengeluarkan isi kepala gadis pirang manis ini.." ucap pria berkulit putih itu.

Jika situasinya bukan seperti ini, mungkin Naruto hanya menganggap ucapan orang itu hanyalah candaan belaka. Tapi sayangnya pria itu tidak sedang bercanda. Orang itu serius atau bahkan terlampau serius.

"Tidak akan kubiarkan!" teriak Sai.

Bocah kulit pucat itu menghambur ke depan mencoba menyelamatkan Ino. Tapi sebelum bocah itu berhasil mendekat, salah satu tentara menghadangnya. Sai mencoba meninjunya tapi sayang tentara itu dapat dengan mudah menghindar. Sai melancarkan lagi serangan berikutnya dan lagi-lagi berhasil dihindari. Awalnya Naruto pikir tentara itu lebih gesit daripada Sai. Tapi kemudian bocah pirang itu paham jika sebenarnya bukan tentara itu yang lebih gesit dari Sai, namun justru Sai yang gerakannya mulai melambat. Bukan tidak mungkin juga Naruto dan yang lainnya mengalami hal yang sama.

Setelah semua hal gila yang mereka lakukan hingga pada titik ini, sangat wajar jika mereka kelelahan. Tapi masalahnya adalah keadaannya sangat tidak tepat. Hidup mereka tengah diujung tanduk dan jika mereka tidak mengerahkan segalanya maka sudah pasti hasil akhirnya adalah tamat.

Pada akhirnya Sai dilumpuhkan oleh tentara itu. Pria berkulit putih itu yang mungkin juga adalah pemimpinya kemudian menghampirinya. Dia menginjak wajah bocah kulit pucat itu.

"Oh ya ampun, aku tidak tahu jika gadis pirang itu pacarmu.." ucap Pria kulit putih itu dengan ekspresi seolah bersalah.

"Jika kau berani menyentuhnya, kau akan mati.." balas Sai mengancam meskipun kondisinya dirinya sendiri tengah terancam.

"Menarik, ini seperti adegan di film. Seorang pangeran yang berusaha menyelamatkan sang putri.." kata Pria kulit putih itu.

"Jangan bercanda!" pria itu menendang wajah Sai hingga dia memuntahkan darah.

Ino berteriak melihat perlakuan pria putih itu pada Sai. Shikamaru hanya terdiam sambil menggertakan giginya kesal. Shino dan Kiba hanya menunduk. Sedangkan Naruto menatap pria itu dengan berbagai macam ekspresi.

Pria kulit putih itu kemudian berbalik badan dan melangkah mendekati Sakura. Tidak tahu apa yang terjadi padanya, Naruto merasakan sebuah sengatan memori saat dia melihat lambang spiral di punggung rompi pria kulit putih itu.

"Uzumaki" ucap Naruto lantang.

Pria kulit putih itu menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik dan menatap Naruto tajam. Shikamaru dan yang lainnya juga menatapnya seolah meminta penjelasan tentang apa yang telah dia ucapkan.

Lagi-lagi hal seperti ini terjadi kembali. Mulutnya seolah berkata sendiri tanpa dimintanya. Jujur saja sejak awal Naruto bahkan tidak tahu apa itu Uzumaki. Tapi jika melihat tatapan pria kulit putih itu, bisa dipastikan jika nama itu memiliki semacam arti yang penting.

"Siapa sebenarnya kau?" tanya pria kulit putih itu tajam.

Naruto merasa tatapan pria itu berbeda dari sebelumnya. Tatapannya kali ini terasa seolah dia benar-benar meminta penjelasan tentang apa kaitannya bocah pirang itu dan nama Uzumaki. Naruto melihat ini sebagai sebuah kesempatan.

"Aku salah satu Uzumaki.." jawabnya tanpa ragu.

Pria kulit putih itu tersenyum mencemooh mendengar jawaban Naruto. Dia kemudian mengokang senapan lalu segera mengarahkannya ke arah bocah pirang itu. Seketika Naruto panik melihat reaksi dari pria itu.

"Aku terkesan bagaimana kau tahu tentang Uzumaki. Tapi satu hal yang kau perlu tahu.." pria itu menghentikan ucapannya. "Semua Uzumaki berambut merah."

Naruto merasa betapa bodohnya dia saat ini. Dia tidak pernah berpikir jika Uzumaki adalah semacam garis keturunan seperti halnya Uchiha ataupun Hyuuga. Yang lebih parahnya dia mengaku sebagai seorang Uzumaki padahal dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang ciri khas garis keturunan itu. Seharusnya dia bertanya terlebih dahulu pada Shikamaru ataupun yang lainnya. Naruto mengakui keteledorannya.

"Dia tidak membual tuan kapten.." ucap Shikamaru mencoba meyakinkan pria berkulit putih. "Tunjukan medali yang ada di saku celamu !"

Naruto tidak tahu apa yang sedang Shikamaru coba lakukan. Dia juga tidak mengerti apa yang dimaksud bocah pemalas itu. Namun pada akhirnya dia merogoh saku celananya dan menemukan benda asing. Bocah pirang itu kemudian mengeluarkan dan menunjukkan benda itu pada pria kulit putih itu.

Bentuknya seperti medali kejuaran yang sering dibagi-bagikan kepada para pemenang olimpiade. Sekilas nampak berkilau layaknya medali emas. Tapi jika diperhatikan lebih seksama hasilnya jauh berbeda. Medali itu terbuat dari logam kuningan yang dicairkan.

Pada akhirnya memang terlihat seperti medali yang biasa-biasa saja. Namun ada sesuatu pada medali itu yang membuat lebih berharga bahkan dari medali emas sekalipun. Ya, jika diperhatikan ukiran pada salah sisinya maka nampaklah lambang Uzumaki disana yang terukir dari pecahan-pecahan batu saphire.

"Kau? Bagaimana bisa kau memilikinya?" wajah pria kulit putih itu menjadi pucat setelah melihat medali itu.

Melihat wajah ketakutan tersaji dihadapannya membuat Naruto menjadi semakin tidak mengerti. Dia tidak mengerti alasan apa yang membuat pria itu begitu ketakutan setelah melihat medali yang ada digenggaman pirang itu kemudian bertanya pada dirinya sendiri tentang siapakah dia sebenarnya.

"Kita tidak ada waktu, bom akan dijatuhkan sebentar lagi. Kita harus pergi !" timpal Shikamaru. Ucapan bocah pemalas itu menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Aku tidak bertanya padamu bocah, aku bertanya pada dia." Jawab pria berkulit putih. "Lagipula kami memang ditugaskan untuk mati"

Perkataan pria itu terdengar seolah tanpa beban. Seperti layaknya pendaratan pesawat. Lancar, yakin dan sekali lagi tanpa ada beban. Naruto tahu jika itu adalah sebuah sikap yang patut untuk dipuji. Namun karena dia tidak setuju dengan aksi melenyapkan nyawa tanpa alasan yang jelas, maka dia bersumpah tidak akan memujinya meskipun orang itu memaksa dengan menodongkan senapan ke kepalanya.

"Kita buat kesepakatan" ucap Naruto singkat.

Naruto sengaja tidak menjawab langsung pertanyaan pria kulit putih itu. Bocah pirang itu merasa harus lebih berhati-hati dalam menjawabnya. Dia tidak mau jika momentum ini dihancurkan olehnya sendiri dengan memberikan jawaban yang keliru seperti sebelumnya.

"Tidak ada penawaran di tempat ini bocah.." ucap pria itu.

"Tidak ada pula penjelasan di tempat ini.." balas Naruto serius.

"Bagaimana jika aku membunuhnya?" Pria kulit putih segera mengalungkan pisau di leher Sakura. Seketika wajah gadis itu memucat.

Naruto tahu jika saat ini adalah pertarungan adu mental. Pria kulit putih itu mencoba mengintimidasinya. Mengancam akan membunuh Sakura jika dia tidak berbicara. Tapi bocah pirang itu juga paham jika pria itu sama terintimidasinya. Tatapan mata yang tidak pernah beralih dari medali yang di genggam Naruto membuktikannya. Karena itulah Naruto merasa dialah yang harus memegang kendali dalam situasi saat ini.

"Lakukan saja dan kau akan menyesal bahkan jika kau telah mati.." tantang balik Naruto. Entah apa yang merasukinya sampai dia bisa berkata setenang itu.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Kiba memprotes sikap Naruto.

Naruto menghiraukan ucapan Kiba. Dia bahkan tidak memeperdulikan bagaimana tanggapan teman yang lain sekaligus Sakura. Bocah pirang itu kemudian menatap tajam pria kulit putih itu.

"Kita tidak punya banyak waktu. Kukatakan sekali lagi, mari kita buat kesepakatan.." ucap Naruto sekai lagi.

Sebenarnya bocah pirang itu juga mulai resah jika ternyata pria itu benar-benar membunuh Sakura. Tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkannya. Dia harus bisa menjaga ekspresi wajahnya sampai perjudian ini berhasil dimenangkan. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri akan segera meminta maaf kepada Sakura setelah ini. Itu juga jika usahanya berhasil.

Di lain pihak pria itu tidak menjawab. Dia terdiam seolah tengah mempertimbangkannya. Bagi Naruto rasanya sangat teramat lama menunggu keputusan pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus ekstra bersabar. Mau melawan pun percuma, mereka jelas kalah jumlah. Jadi tidak ada pilihan lain, kesempatan satu-satunya adalah dengan melakukan kesepakatan.

"Baiklah, jadi apa penawaranmu?" tanya pria kulit putih itu. Pada akhirnya dia menyerah. Sepertinya informasi tentang medali itu lebih penting ketimbang acara saling tembak dan bunuh diri.

"Pertama, lepaskan kedua gadis itu. Kedua, biarkan kami mencari bangker." Ucap Naruto mantap seraya menatap Shikamaru yang dibalas dengan anggukan kepala tanda setuju.

"Tunggu sebentar, apakah tadi kalian bicara soal bangker? Lalu apa keuntungannya bagi kami?" tanya pria kulit putih itu.

"Jelas ada. Jika kami berhasil menemukannya, kalian tidak perlu repot-repot mati konyol hanya untuk alasan yang sangat idiot." Jawab Shikamaru mewakili.

Para tentara saling pandang satu sama lain mencoba berkomunikasi non verbal. Hampir semuanya mengangguk tanda menyetujui rencana itu. Sedangkan sebagian lagi tidak berekspresi tapi tidak menolak juga jika diajak masuk ke dalam bangker. Hal ini meyakinkan Naruto jika ada sebagian dari para tentara perdamaian yang tidak setuju dengan perintah membuang nyawa sia-sia.

"Jadi bagaimana soal medali itu?" tanya si pria kulit putih itu.

"Akan kukatakan setelah kita berhasil selamat.." jawab Naruto meyakinkan, dan detik itu juga dia mulai berpikir tentang sebuah jawaban yang cukup memuaskan.

"Baiklah, kami setuju dengan penawaran kalian. Tapi sedikit saja aku merasa kejanggalan, jangan salahkan aku jika kepala kalian kulubangi." Ancam si pria kulit putih itu.

Naruto mengangguk paham. Namun dalam hatinya, dia menyumpah kesal. Bocah pirang itu tidak habis pikir. Kenapa pria dihadapannya suka sekali mengancam seseorang pada bagian kepala. Apa bagian tubuh yang lain tidak ada yang menarik baginya? Entahlah, lagipula dia juga tidak peduli.

.

Mereka kemudian berjalan keluar menuju pos penjagaan. Rombongan Naruto dan teman-temannya berada di depan sedangkan para tentara berada di bagian belakang mengawasi setiap gerak gerik mereka. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang mencoba berbuat onar.

Rombongan itu telah melewati pos penjagaan, dan tepat pada saat itu pula deru mesin pesawat terdengar menggema di udara. Mungkin jika keadaan masih normal, deru pesawat itu tidak terdengar memilukan di telinga Naruto. Tapi sekarang kenormalan memang sedang benci-bencinya berdekatan dengan mereka sehingga wajar saja jika bunyi itu terdengar sangat mengintimidasi.

Shikamaru terlihat mengecek arlogi miliknya. Wajahnya nampak muram setelahnya. Bocah pemalas itu kemudian bertemu pandang dengan Naruto dan menggeleng kepala seolah memberikan isyarat jika mereka telah kehabisan waktu.

"Bergegaslah bocah-bocah nakal ! pesawat itulah yang akan mengebom tempat ini.." ucap pria kulit putih itu.

Ekspresi Naruto dan kawan-kawannya seketika memucat. Ino yang paham jika semua bergantung padanya semakin mempercepat langkahnya seraya terus mengamati setiap sisi daerah itu. Berusaha sebisa mungkin untuk sesegera menemukan bangker perlindungan.

Deru pesawat itu kembali terdengar seakan mengolok-olok mereka. Membisikan sebuah pesan jika semua usaha mereka pada akhirnya akan sia-sia. Jauh dalam hati kecilnya, Naruto juga merasa lelah. Bagaimana jika segala usahanya sia-sia? Bagaimana jika ternyata bangker itu tidak ada? Bagaimana jika... entahlah.

Di depan Ino memekik kegirangan. Sontak teriakannya mengundang perhatian lainnya. Shikamaru segera menghambur diikuti Naruto dan yang lainnya serta para tentara mengikuti di belakang.

Ino mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah gundukan tanah yang seluruh bagiannya tertutupi oleh lumut. Awalnya bocah pirang itu tidak merasa ada yang spesial dengan gundukan tanah itu. Tapi setelah dia melihat lebih seksama maka jelaslah sudah apa yang membuatnya lebih spesial. Ya, tepat di tengah gundukan tanah itu dia melihat pintu besi dengan kenop berbentuk seperti setir mobil khas pintu kapal laut.

"Ayo bergegas ! tidak ada waktu untuk terpukau.." ucap Shikamaru memberi perintah.

Entah apa yang terjadi, Naruto tidak menggerakkan kakinya seperti yang tengah dilakukan teman-temannya. Bocah pirang itu merasa ada sesuatu buruk yang akan terjadi dan menurutnya ini terlalu mudah.

"Ayo Naruto ! jangan hanya berdiam saja di tempat itu !" teriak Sakura dari depan.

Bocah pirang itu segera menyadarkan dirinya. Dia kemudian membuang pikiran negatifnya itu.

"Tunggu sebentar bocah pirang.." ucap pria berkulit putih itu menghentikan langkah Naruto. "Kalau telingaku tidak tuli, aku mendengar gadis itu memanggilmu Naruto. Apa itu benar?"

"Ya, itulah namaku. Memangnya kenapa ?" tanya Naruto balik.

Pria kulit putih itu mengangguk tanda paham. Dia kemudian memandangi para bawahannya seolah sedang memberi intruksi.

"Tidak penting, hanya sebuah masalah kecil.." ucap pria kulit putih itu disertai senyuman mencurigakan.

"Masalah kecil ?" tanya Naruto kembali. Dia merasa ada yang aneh dengan pria di hadapannya.

"YA, MASALAH KECIL SEPERTI PERINTAH UNTUK MEMBUNUHMU..."

.

.

to be continue

.

.

Syalala : Haha, terima kasih buat apresiasinya..

Riyuzaki : Sakura ama Ino gak pinter sembunyi, jadi ketahuan deh..

Galura : Sabar.. sabar.. galura san. Saya gak bermaksud bikin penasaran.. sumpah #nundukketakutan.

Ndah : gak gagal kok.. tungguin aja hehe

Key O : Tugasnya udah di jelasin di chapter ini..