Chapter 2
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mistery
Archip: drabble, sad ending, yaoi
Cast: -All members EXO
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!
A/n: Semua review udh di bls 1-1. #Alhamdulillah# Gomapseumnida yg udh mau baca&review, nan jeongmal gomapseumnida... #Bow# Dan bwt silent readers jg gamsahamnida udh mau bca. Aku gk terlalu maksa kalian review, karna terkadang aku jg mls comment malah jd silent reader. #DiBakarYgReview#
Dan bwt ke depannya, Shi takut gk bsa update cepet karna Shi udh kls 9, mungkin wkt luangnya cm ada di Sabtu&Minggu, aja. Tp Shi ttp bikin Chap selanjutnya. Mohon di maklum, mau UN. Hehehe... :D
Akhir kata, happy reading... ^^
AUTHOR POV
Kesokan harinya, di sekolah hingga sekolah bubar sekarang pun dia tidak melihat Chan Yeol, teman jangkungnya itu. Pikiran-pikiran negatif mulai memasuki otaknya. Kenapa Chan Yeol tidak sekolah? Apa dia sakit? Atau dia ada urusan? Atau jangan-jangan dia belum kembali dari rumah tua itu?
"Xiu Min~ah!" dia membalik ke sumber suara yang memanggil nama panggilannya. Dan orang yang tadi memanggilnya menghampirinya dengan berlari kecil dan senyum lebarnya. Setelah berada di hadapan Xiu Min, dia tiba-tiba memasang wajah serius.
"Wae geurae, Baek Hyun~ah?" tanya Xiu Min dengan pandangan heran tapi terkesan hati-hati. Ada perasaan takut di hatinya saat Baek Hyun yang berstatus sebagai kekasih teman jangkungnya itu memanggilnya.
"Aku mau bertanya" mulai Baek Hyun dengan suara sama seriusnya dengan wajahnya. Xiu Min menelan salivanya kasar. Lalu dengan ragu ia mengangguk kecil. "Kemarin sore kau mengikuti Yeollie pulang lagi tidak?" tanya Baek Hyun yang mengeluarkan aura menakutkan menurut Xiu Min.
"N-Ne" jawab Xiu Min singkat dengan takut. Sudah ia duga Baek Hyun pasti akan menanyakan itu.
"Lalu kemana dia hari ini? Aku bahkan tak melihatnya di seluruh sekolah" jelas Baek Hyun dengan muka yang muram. Dan itu membuat Xiu Min merasa bersalah.
'Chan Yeol~ah benar-benar tidak pulang?' batin Xiu Min.
ΩΩΩ
Seorang yeoja paruh baya tengah berkaca-kaca sembari menatap seorang namja berpipi tembam dengan sendu. Dia merindukan anaknya yang hingga sekarang belum ia lihat dari kemarin pagi.
"Sekali lagi mianhne, Ahjumma. Aku tidak bisa menjaga Chan Yeol~ah dengan baik" ucap namja berpipi tembam itu dengan nada bersalah.
"Gwenchana, Xiu Min~ah. Mungkin dia akan kembali. Chan Yeollie akan baik-baik saja, bukan?" ucap sang Ahjumma yang kalimatnya bersifat seperti memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Tapi bagaimana jika takdir berkata lain?"
PLETAK!
"Appo, Hyung! Neoga wae, eoh?" keluh orang yang bertanya sembarangan tadi seraya mengusap-usap kepalanya yang di pukul tiba-tiba oleh seorang namja yang memiliki postur tubuh lebih pendek darinya itu.
"Jangan asal bicara kau! Menyumpahi Chan Yeol~ah hilang atau mati, eoh?!" bentak namja bermata bulat yang tadi memukul tiba-tiba itu.
"Aku tidak bilang begitu" jawab orang yang di pukul tadi acuh.
"Tadi kan D.O-gege yang bilang. Jangan-jangan D.O-gege yang-" perkataan sang namja bermata panda terhenti saat sebuah tangan membekap mulutnya lembut. Namja bermata panda itu menoleh pada si pemilik tangan yang ternyata adalah kekasihnya sendiri yang tengah menatap D.O yang menatap tajam padanya.
"Sekali lagi kau menatap Tao-ku seperti itu mati kau di tanganku, D.O" gertak namja tinggi berambut blonde dengan nada dingin. Tangannya yang berada di mulut kekasihnya ia turunkan, dan dia simpan di pundak sang kekasih.
"Sudah-sudah. Tidak perlu bertengkar. Kalian seperti anak kecil saja" lerai sang Ahjumma yang hanya dapat mengukir senyum tipis namun menyakitkan jika di lihat.
"Kau juga sih, Chen Hyung. Tidak perlu berkata seperti itu, donk" protes seorang namja berkulit putih pucat yang terdengar 'agak' ada aksen cadelnya.
Sebenarnya sedari tadi di ruangan itu, ruang tamu kediaman Park a.k.a rumah teman jangkung mereka Park Chan Yeol, seseorang terus terisak dengan kencang. Air matanya tak dapat berhenti. Terus mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
Seharusnya sekarang ada seseorang yang menenangkannya. Membuatnya tersenyum kembali. Menghapus air matanya. Dan membuat air mata itu kini berhenti mengalir. Tapi orang itu sekarang tidak ada. Ntah kemana. Dan ntah apakah akan kembali?
Tapi semua orang yang ada di rungan itu hanya dapat membiarkannya. Membiarkannya bukan dalam arti kata mereka tidak peduli. Tentu saja tidak. Mereka sangat menyayangi teman-teman mereka. Tapi untuk kali ini, mereka membiarkan teman mereka itu menangisi lenyapnya kekasihnya. *Jahat amat ini kalimatnya? o.O*
'Kemana kau Park Chan Yeol? Tegakah kau melihat kekasihmu ini menangis tersedu-sedu karena tidak tahu sekarang kau ada dimana? Kembalilah…' batin Xiu Min miris. "Sudahlah, Baek Hyun~ah…" bujuk Xiu Min akhirnya, lalu merangkul pundak temannya itu untuk tenang.
ΩΩΩ
Waktu sudah menujukkan tengah malam. Seorang namja berparas cantik tengah melangkah menyusuri trotoar dengan kepala tertunduk dan pandangan kosong. Sudah dapat di pastikan bahwa dia sedang banyak pikiran. Mereka baru saja pulang dari rumah kekasihnya. Yah, selarut ini. Karena ternyata dia baru sadar jika tangisnya sulit di hentikan. Pertanyaan yang menggantung di kepalanya sekarang adalah, 'Kemana kekasih tercintanya?'.
Reflex dia menghentikan langkahnya dan menatap ke sebelahnya. Beberapa detik kemudian badannya ikut menghadap pada sebuah rumah tua yang sudah lama tidak di tinggali. Rumah tua yang di ceritakan temannya telah melahap hilang(?) kekasihnya. Matanya mulai berkaca-kaca lagi dan sorot mata benci mulai terlihat di mata indah yang selalu di puji sang kekasih itu.
Dan tanpa perintah, ia menerobos masuk ke dalam rumah tua itu. Agak aneh memang. Dia merasa temannya tadi cerita pintu rumah utama dan gerbang rumah tua ini terbuka kemarin sore. Dan pastinya tidak mungkin ada yang menutupnya. Tapi kenapa sekarang tertutup? Bahkan keadaannya seperti sebelumnya. Seperti rumah ini tidak pernah tersentuh bertahun-tahun lamanya. Tapi tak dia pedulikan itu. Yang ada di kepalanya kini hanya ada nama kekasihnya. Dan dia harus mencarinya sendiri. Kau melupakan teman-temanmu, eoh? Lalu kau anggap apa mereka?
TAP
TAP
TAP
"Chan Yeol~ah?! Neo eoddiga, eoh?!" teriaknya di ruang tengah rumah itu Shi rasa. *Author numpang muncul* Dia melihat-lihat ke segala penjuru. Kosong. Hanya perabotan tua yang sudah usang dan lapuk termakan usia. Oh, dan jangan lupakan debu yang tebal dan sarang laba-laba dimana-mana.
Sekarang dia melangkah menuju ruangan di seberangnya. Sebuah… kamar? Ada 1 ranjang tidur di sana. Tapi sudah berdebu. Setelah melihat-lihat ruangan, dia merasa menginjak seuatu. Seperti, serpihan kaca. Dan dia pun berniat menunduk. Saat dia menundukkan kepalanya, betapa terkejutnya ia dengan apa yang ia lihat.
Dia melihat… kekasihnya. Park Chan Yeol yang ia cari dari tadi pagi. Sekarang… tergeletak tak bernyawa dengan kulit pucat dan tubuh terbujur kaku. Dengan darah dimana-mana.
Baek Hyun berusaha untuk menahan tangisnya. Dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya agar suara isakan itu tak keluar. Lalu dia mulai berjongkok di samping jasad kekasihnya. Tangan kananya terulur mengusap punggung kekasihnya yang mati secara tragis.
Di punggungnya begitu banyak serpihan kaca yang tertancap. Ntah dari mana serpihan kaca itu. Seketika ia mengingat cerita Xiu Min yang mengatakan bahwa ia tersadar akan suara pecahan kaca. Apa saat itu juga, kekasihnya Chan Yeol ini meninggalkannya?
"Hiks… Hiks… Yeollie… Kenapa kau meninggalkanku pergi? Waeyo~?" lirih Baek Hyun. Isakannya mulai keluar. Ia jatuh terduduk dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya menunmpu seluruh berat badannya. Dan menangis di atas luka Chan Yeol. "Hiks… K-Kau bahkan… Hiks… Belum pamit padaku,… Hiks… Yeollie! Jawab aku, eoh! Hiks…" teriak Baek Hyun pilu. Dia terisak sebentar. Dan mulai hening.
Dia mulai berpikir, sekeras apa pun dia melakukan sesuatu untuk Chan Yeol sekarang, tidak akan ada gunanya. Termasuk berteriak di depan tubuh tak bernyawa itu.
Baek Hyun mulai berdiri dari berlututnya. Ia masih terisak. Rasanya dadanya sangat sesak sekarang. Dia berniat untuk pulang dan mungkin akan meneruskan tangisnya di rumah. Pandangannya sedari tadi tak lepas dari wajah sang kekasih yang sekrang sudah tiada. Bibir Baek Hyun bergerak-gerak. Menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Lalu tiba-tiba terdengar sebuah suara. Itu musik. Musik yang indah menurut pendengaran Baek Hyun. Baek Hyun menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tapi dia tidak tahu suara itu dari mana. Tapi dengan hitungan detik, suara itu berhenti dengan sendirinya.
Baek Hyun menutup matanya seraya menarik nafas dalam dan panjang untuk menenangkan dirinya dan menghentikan isakan itu.
KRIET….
Tapi suara sebuah pintu membuatnya membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia saat membuka mata, pintu kamar itu tertutup dengan sendirinya.
BUGH!
Pintu itu menghantam kening Baek Hyun dengan sangat keras secara tadi dia berdiri di dekat pintu. Seketika itu juga dia merasa dunia berputar. Tapi setidaknya dia masih sedikit tersadar.
Tubuhnya tumbang ke belakang. Dan tanpa di sadari Baek Hyun, tepat di posisi kepalanya jatuh, ada sebuah serpihan kaca yang cukup besar dengan posisi berdiri di lantai. Menampakkan seberapa tajam benda itu. Ntah sejak kapan benda itu ada di situ. Dan…
JLEB!
Benda tajam itu masuk sempurna ke dalam kepala Baek Hyun lewat belakang kepalanya. Darah segar mulai mengalir. Aroma karat(?) mulai menguar lagi di rumah tua itu.
'Kupikir aku akan pulang dengan selamat' batin Baek Hyun, lalu dia mulai kehilangan kesadarannya yang sesungguhnya.
AUTHOR POV END
~TBC~
A/n: Jeosonghamnida jika tidak memuaskan atau emg kurang panjang. *Emg kurang panjang, sih. ._. #MukPol #Watados* Review, please… ^^
