Halo semuanya ! Selamat Tahun baru 2015
Sebelumnya saya mohon maaf kalau dua minggu terakhir ini sering telat update. Maklum lah musim liburan trus gegara novel The Blood of Olympus bikinan Om Rick Riordan yang sukses buat saya berpaling buat nulis. Hehe.. maaf ya maaf ya. Semoga aja chapter ini bisa menghibur readers semua dan jangan lupa reviewnya.
.
.
Chapter 8
.
.
.
Butuh waktu cukup lama bagi Naruto untuk memahami maksud ucapan si pria kulit putih itu. Bocah pirang itu tidak mengerti kenapa dirinya bisa menjadi target utama pembunuhan tentara perdamaian. Mungkinkah sebelum kehilangan ingatan dia merupakan salah satu anggota pemberontakan? Lagipula sejak kapan ada kelompok pemberontakan?
Naruto melihat para tentara perdamaian lainnya telah bersiaga. Dia kemudian menengok ke arah teman-temannya. Mereka terlihat sama terkejutnya dengannya. Hanya saja mungkin dalam skala yang berbeda.
"Hei.. hei.. apa-apaan sih ini?!" teriak Naruto panik.
"Kesepakatan kita berakhir, jika sejak awal aku tahu kau adalah Naruto aku pasti sudah menghabisimu.." jawab pria kulit putih.
Shikamaru berderap mendekati Naruto diikuti Sai dan Kiba. Di belakang, Sakura, Ino dan Shino masih berusaha membuka pintu bangker.
"Tuan kapten, kenapa kau melanggar kesepakatan yang telah kita buat ?" tanya Shikamaru yang berdiri di samping Naruto.
"Sebenarnya aku hanya diharuskan membunuh bocah pirang ini saja.." ucap pria kulit putih seraya menunjuk Naruto. "Tapi karena suasana hatiku yang sedang bagus, maka akan kubunuh kalian semua."
"Tidak-tidak, itu juga terlalu bagus. Bagaimana kalau mengikat kalian bertujuh disini hingga akhirnya musnah bersama dengan kota menyedihkan ini ? Ya, sudah diputuskan.."
Pria kulit putih itu mengucapkannya seolah hal itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Mungkin juga karena dia telah berulang kali melakukannya. Para pemimpin tentara perdamaian sepertinya perlu menambahkan jam konseling sikap dalam daftar pelatihan harian.
.
Naruto harusnya merasa frustasi. Tapi mungkin karena dia sudah terlalu biasa menghadapi hal-hal yang diluar kendalinya bahkan dalam kurun waktu 3 jam, bocah pirang itu justru terlihat lebih ke arah bosan. Saat ini yang ada di otaknya adalah sebuah rencana perlawanan. Bagaimana caranya melumpuhkan 10 tentara perdamaian yang terlihat lebih mengerikan daripada 6 orang sebelumnya.
"Siapa yang memerintahkanmu ?" sebenarnya pertanyaan ini hanya basa-basi dari Naruto.
"Akan kuberitahu tahu saat kau sudah mendekati ajal.." ucap pria kulit putih itu dengan seringai mengerikan.
Naruto merasa jika sebentar lagi nyawanya akan melayang jika dia tidak segera bertindak. Tapi bukannya mendapatkan ide, kepalanya justru terasa melayang entah kenapa. Bocah pirang itu kemudian merasakan sengatan kilas balik dalam kepalanya. Dia mengerang namun tidak mengeluarkan suara hingga akhirnya serangan memori-memori itu berakhir dengan sendirinya.
Naruto kemudian membuka kedua matanya. Dia tidak pernah merasa sepercaya diri seperti ini sebelumnya. Ingatan-ingatan itu seolah memberinya tenaga lebih. Seperti layaknya seekor jangkrik yang diberi makan cabe merah. Panas, gila dan penuh dengan adrenalin.
"Tunggu apa lagi pasukan payah ? cepat tangkap mereka semua !.." ucap pria kulit putih itu.
Tepat setelah kata-kata itu terucap, para tentara perdamaian segera bergerak guna menangkap Naruto dan semua teman-temannya. Bocah pirang itu tahu jika dia tidak bertindak mulai detik ini, maka semua usaha pelarian akan sia-sia.
Pria kulit putih itu kemudian mengarahkan senapannya tepat ke arah Naruto. Mencoba memberi tahu jika dia berbuat bodoh maka orang itu tidak segan-segan melubangi kepala kuningnya. Tapi sayangnya bagi Naruto itu adalah sebuah kesempatan. Dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Naruto menarik moncong senapan itu ke arah samping. Dia kemudian menghantamkan sikunya pada dagu pria kulit putih itu. Orang itu terhuyung kebelakang, Bocah pirang itu segera merebut senapan itu dan menghantam pria kulit putih itu sekali lagi. Kali ini dia terjatuh dan Naruto harap dia tidak bangun lagi.
Naruto tahu ini belumlah berakhir. Melihat perlakuan bocah pirang itu pada komandannya, sebagian tentara segera menghambur ke arah Naruto. Namun sebelum hal itu terjadi, bocah pirang itu menendang pohon di sampingnya. Seketika rontokan salju berhamburan dan membuat perhatian para tentara sedikit teralihkan. Naruto menoleh ke arah Shikamaru, Sai dan Kiba seolah berkata inilah saatnya.
Shikamaru menghambur ke arah kanan Naruto dimana ada 2 tentara di sana. Dia lalu menendang kaki salah satu tentara hingga terjatuh dengan kecepatan yang menurut Naruto sangat mustahil. Dia segera merebut senapan dan menembaknya sebelum dia sempat bangkit. Tentara kedua yang tidak terima, balik menyerang Shikamaru dengan menendang punggung bocah itu hingga tersungkur. Tentara itu segera bersiap menembaknya. Namun Sebelum hal itu terjadi, Shikamaru menendangnya hingga kehilangan keseimbangan. Bocah pemalas itu kemudian balik menembaknya.
Jika Shikamaru berlari ke sebelah kanan Naruto, Sai justru berlari ke sebelah kirinya. Kedua tentara itu mencoba menembakinya dengan senapan. Tapi beruntungnya, bocah itu mampu menghindar dengan berguling ke kanan dan kiri sebelum akhirnya melemparkan batu runcing yang dengan tepat mengenai mata salah satu tentara. Tentara itu meraung kesakitan. Sai yang melihat ini sebagai momentum segera bergerak cepat ke arah tentara itu. Tanpa diduga, bocah kulit pucat itu terkena tinju dari salah satu tentara yang lain. Dia jatuh tersungkur. Ujung bibirnya berdarah.
Salah satu tentara yang matanya terkena lemparan batu Sai masih meraung kesakitan. Bagi Sai ini berarti lebih memudahkannya. Dia men-tackle tentara yang memukulnya seolah dia pemain sepak bola profesional. Pria itu pun terjatuh dengan kepala terbentur begitu keras. Sai kemudian menghantam tengkuk tentara itu hingga ambruk.
Sai bangkit dengan susah payah. Dia kemudian menghampiri tentara yang satunya. Dia merebut senapan itu dan dengan dinginya menarik pelatuk. Tentara itupun akhirnya tewas ditangan bocah kulit pucat itu.
Kiba berlari tepat di samping Naruto sembari membawa balok kayu yang entah dari mana dia mendapatkannya. Bocah pirang itu kemudian berlari beriringan dengannya menyonsong 6 tentara yang tersisa.
Kiba melompat menghindari tembakan yang diarahkan ke kakinya. Dia kemudian melemparkan balok kayu yang dipegangnya pada salah satu tentara dengan maksud mengalihkan perhatian. Tentara itu berhasil menghindarinya dengan mudah, Kiba yang melihat umpanya berhasil ditangkap segera melakukan serangan lanjutan. Bocah itu meninju si tentara yang sebelumnya berhasil menghindari balok kayu yang dia lemparkan. Tentara itu tersungkur menabrak pohon dengan kerasnya hingga tidak mampu bangkit lagi. Dia kemudian segera beralih ke tentara lainnya
Naruto berlari menghadang salah satu tentara lainnya. Tentara itu menghunuskan belati kepadanya. Naruto mengelak ketika tentara itu menebaskan belatinya. Dia terus-menerus menghindar hingga pada akhirnya belati itu berhasil melukai tangan kirinya.
"Sungguh bodoh, padahal kau bisa membunuhku dengan senapan yang berhasil kau rebut. Tapi lihatlah sekarang! kau justru membuangnya dan rela terkena belatiku ini.." ucap tentara itu penuh kemenangan.
"Pertama aku tidak berbakat dalam menggunakan senjata, kedua aku tidak tahu caranya membunuh." Balas Naruto tersenyum.
Tentara itu segera menghujamkan belatinya ke Naruto. Bocah pirang itu menghindar dengan gesit. Dia meninju perut tentara itu dan kemudian menendangnya hingga terhuyung ke belakang. Naruto kemudian menghantam pelipis tentara itu sebagai serangan terakhir.
Keadaan Shino terlihat terdesak. Bocah itu mencoba sebisa mungkin melindungi Sakura dan Ino yang saat ini tengah berusaha membuka pintu bangker. Dari jauh Naruto bisa melihat Kiba dan Shikamaru berlari ke arah Shino. Bocah pirang itu juga melihat Sai yang sedang kesulitan melawan tentara yang dia kira telah berhasil di tumbangkan.
Tanpa pikir panjang Naruto berlari ke arah bangker dimana Shino tengah kesulitan menahan gempuran para tentara perdamaian. Shikamaru dan Kiba sudah tiba terlebih dahulu dan segera membantu Shino menghalau para tentara yang terus mendesak mendekati pintu bangker.
Sekilas memang nampaknya berhasil. Tapi karena jumlah mereka yang masih tidak seimbang, salah satu tentara akhirnya dapat meloloskan diri. Tentara itu dengan cepat menghambur mendekati Sakura dan Ino.
Sakura mencoba menghalau tentara itu. Tapi seperti yang sudah diduga, dia dengan cepat dilumpuhkan.
"Sepertinya kau akan mati lebih cepat daripada teman-temanmu, nona manis.." ucap tentara itu pada Sakura.
"Tidak juga.." Jawab Naruto yang telah tiba di tempat itu.
Naruto menghantam rahang tentara itu hingga terdengar suara seperti tulang patah. Tentara itu meraung kesakitan. Sakura segera berlari menghampiri Naruto.
"Kau baik-baik saja ?" tanya Naruto khawatir. Gadis itu hanya mengangguk. "Pergilah dan bantu Ino, kami akan membereskan mereka terlebih dahulu !"
Gadis itu lagi-lagi hanya menganggukan kepalannya. Dia kemudian berjengit dan mengecup pipi Naruto. Setelah itu gadis itupun pergi. Sakura tidak tahu jika perbuatannya itu telah berhasil membuat Naruto merona hingga hampir saja bocah pirang itu melupakan musuhnya.
Tentara itu telah berhenti meraung. Dia menatap Naruto dengan penuh kebencian. Mungkin karena bocah pirang itu telah merusak wajah tampannya. Dia mengeluarkan belatinya dan segera menyerang Naruto.
Serangannya benar-benar membabi-buta. Tentara itu sepertinya tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Naruto untuk melakukan serangan balik. Naruto semakin tersudut hingga pada akhirnya dia terjatuh ketika mencoba menghindari sabetan belati tentara itu. Tentara itu tersenyum puas, dia kemudian menghunuskan belatinya pada Naruto. bocah pirang itu pun mencoba menahannya dengan sekuat tenaga.
Naruto tahu tentara itu tidak akan mengalah. Tentara itu mengerahkan seluruh tenaga mendorong belatinya tanpa ampun. Naruto pun berusaha menahannya dengan sekuat tenaga pula. Namun makin lama belati itu semakin mendekati dada Naruto hingga akhirnya Sai datang menyelamatkannya. Bocah pucat itu menghantam tengkuk tentara itu dengan gagang senapan yang sebelumnya berhasil dia rebut.
"Terima kasih.." ucap Naruto sambil tersengal-sengal.
"Sekarang kita satu sama.." balas Sai mengulurkan tangan.
Naruto bangkit berdiri dibantu oleh Sai. Bocah pirang itu kemudian melihat ke sekilingnya. Rupanya Shikamaru dan yang lain berhasil melumpuhkan semua tentara yang tersisa. Dia kemudian menoleh ke arah Ino dan Sakura yang masih kesulitan membuka pintu bangker. Naruto dan Sai kemudian berjalan menghampiri kedua gadis itu. Begitu pula dengan Shikamaru dan yang lain.
"Bagaimana apa bisa dibuka ?" tanya Shikamaru memburu. Bocah pemalas itu kelihatannya sangat kelelahan.
"Aku sudah memutarnya berkali-kali, tapi sepertinya pintu ini tidak bisa dibuka.. " jawab Ino.
"Mungkin butuh sebuah hentakan kuat.." ucap Naruto asal.
"Mungkin sebuah ledakan bisa.." ucap seseorang.
Naruto menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihatnya. Orang itu rupanya pria kulit putih yang sebelumnya berhasil dia robohkan. Naruto melihat pria itu seolah sedang mengucapkan sesuatu seperti menyuruhnya untuk melihat ke arah bawah.
"LARI !" teriak Naruto pada yang lainnya.
Tepat setelah ucapan Naruto selesai, granat itu meledak. Tubuh Naruto terpelating jauh dan menabrak pohon dengan keras. Kejadian yang sama juga terjadi pada semua temannya. Seluruh badanya terasa benar-benar remuk seperti remah-remah biskiut. Untungnya dia masih hidup. Namun kekhawatiran akan keselamatan teman-temannya segera memenuhi pikirannya.
Naruto mencoba bangkit. Dia meringis saat rasa sakit begitu terasa di bagian kepalanya. Bocah pirang itu kemudian bersandar pada pohon dan menatap ke sekeliling. Mencoba mencari satu per satu keberadaan teman-temannya meskipun keadaan sekitar berkabut akibat ledakan granat sebelumnya.
Naruto melihat sekelebat bayangan di balik asap tebal itu. Naruto berharap itu adalah teman-temannya. Dia pun segera menghampirinya meskipun dengan langkah yang terpincang-pincang.
Naruto menghembuskan nafas lega. Dia melihat Sakura yang tengah terduduk membelakanginya. Bahu gadis itu bergetar seperti sedang menangis. Karena penasaran, bocah pirang itu segera mendekati.
Naruto tidak mengira jika upaya pelarian ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Di sana, di depan Sakura berada, nampak Kiba tergeletak tak bernyawa dengan luka di bagian kepala.
"Dia sudah pergi. Pendarahan hebat di bagian kepala membuatnya tidak mampu bertahan.." ucap Sakura penuh air mata. Naruto mencoba menenangkan gadis itu dengan memeluknya.
"Maaf, aku tidak menyadari granat itu lebih cepat.." ucap Naruto menyesal.
"Kiba telah melakukan yang terbaik. Tapi maaf Sakura, kita tidak punya banyak waktu lagi.." ucap Shikamaru yang muncul entah darimana.
"Apa yang ada di kepalamu Shika ?! apa kau tidak punya hati sama sekali ?!" tanya Sakura memekik. Gadis itu nampak tidak percaya dengan sikap Shikamaru yang seolah tidak peduli dengan kematian Kiba.
Naruto menatap Shikamaru. Kondisi tubuhnya bisa dibilang cukup parah. Tangan kiri terlihat patah dan luka menganga lebar di pelipis kirinya. Dia pun menatap mata bocah pemalas itu dan menemukan tatapan kepedihan yang tak terkira. Jika bisa dibandingkan, mungkin luka-luka di sekujur tubuhnya tidak ada artinya sama sekali dengan rasa sakit di hati melihat temannya tewas terbunuh. Naruto tahu jika Shikamaru tidak bisa menunjukkan secara terang-terang dan bocah pirang itu dapat memakluminya.
"Kau pikir dia akan senang, jika kita semua menangisi kepergiannya ? pahami situasinya.. sebentar lagi bom akan dijatuhkan dan jika itu terjadi kita bahkan punya waktu lebih dari satu menit.." ucap Shikamaru. Dia kemudian beranjak pergi mendekati pintu bangker melewati Shino, Sai dan Ino yang berdiri mematung penuh ekspresi kepedihan.
"Kita harus pergi Sakura, ucapan Shikamaru ada benarnya." Ucap Naruto. Sakura menatap sinis bocah pirang itu. "Jika kita hidup, kita bisa mendoakannya di lain hari.."
Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya menunduk lemas menatap Kiba seolah enggan meninggalnya. Naruto juga merasakan hal yang sama seperti Sakura tapi tidak ada pilihan lain. Mereka harus meninggalkan Kiba.
Naruto kemudian menatap langit mencoba mencari ketenangan dan saat itu pula dia melihat pesawat pengebom menjatuhkan benda asing ke arah kota. Tidak berselang lama, kilatan cahaya begitu terang bersinar di tengah kota. Seketika gemuruh ledakan menggelegar di seluruh penjuru disertai gempa yang begitu kuat. Naruto segera menarik Sakura dan berlari menuju bangker. Dia tahu jika tidak segera bergegas maka mereka akan dimusnahkan oleh gelombang radiasi.
Shikamaru nampak berusaha sekuat tenaga membuka pintu bangker itu dibantu oleh Shino dan Sai yang telah tiba lebih dulu.
"Putar kenop roda ini ke arah kanan bersama-sama !" teriak Shikamaru memberi aba-aba.
Mereka bertiga memutar pintu bangker itu secara serentak. Awalnya pintu itu tetap bergerak sedikitpun hingga akhirnya pada percobaan berikutnya bunyi derit terdengar. Sai dan Shino segera menubrukan bahunya pada pintu bangker hingga akhirnya terbuka lebar.
"Cepat masuk semuanya !" teriak Shikamaru pada yang lainnya.
Ino masuk ke dalam bangker terlebih dahulu diikuti Sai kemudian Shino. Naruto akhirnya hanya berjarak meter dari pintu bangker bersama dengan Sakura di belakangnya. Dia pun mulai merasa lega.
"Tidak secepat itu !" teriak seseorang yang tiba-tiba saja menubruk Naruto dari belakang yang kemudian menyeretnya menjauhi pintu bangker.
Sakura ikut tersungkur akibat tubrukan yang begitu kuat itu. Naruto pun menoleh ke arah penyerangnya. Betapa kesalnya Naruto melihat orang itu. Ya, dia adalah pria kulit putih yang sebelumnya menyerang mereka dengan granat yang membuat Kiba terbunuh.
Naruto berusaha bangkit tapi sebelum dia berhasil melakukannya, pria kulit putih itu segera menindihnya. Orang itu berusaha mencekik Naruto dengan seluruh tenaganya.
"Mungkin aku memang akan mati. Tapi setidaknya aku berhasil menjalankan tugasku.." ucap pria kulit putih itu seraya terus mencengkram leher Naruto sedangkan bocah pirang itu terus meronta melawan.
"Sesuai dengan janjiku. Akan kukatakan semuanya saat kau mendekati ajal.."
"Kau adalah empat poin penting dalam kesuksesan rencana mulia ini." ucap Pria kulit putih itu pada Naruto.
Naruto sebetulnya tidak mau peduli dengan apa yang sedang diucapkan oleh pria itu. Tapi setelah mendengar penuturan jika dia adalah salah satu poin penting dari kesuksesan sebuah rencana, bocah pirang itupun kembali merasa penasaran.
"Si.. siapa yang menginginkan aku ma.. mati ?" tanya Naruto disela nafasnya yang kian sulit.
"Dia adalah..." sebelum pria itu mengucapkan sebuah nama, kepalanya telah tertembus peluru.
Naruto terkejut dengan apa yang terjadi dihadapannya. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke arah datangnya peluru tersebut. Dia lalu melihat Sakura di sana. Gadis itu tengah berdiri dengan senapan di tangannya.
"I..itu. Itu untuk Ki.. Kiba.." ucap Sakura bergetar.
Gadis itu kemudian jatuh terduduk dan segera membuang senapan itu. Dia memandang kedua tangannya seraya menagis tersedu menyesali apa yang telah diperbuatnya. Ya, dia telah membunuh seseorang. Sebuah tindakan yang telah menghancurkan ideologinya sendiri. Gadis itu nampak begitu terpuruk.
Gelombang angin semakin lama semakin kuat. Naruto kemudian melihat ke arah kota. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika gelombang radiasi hanya berjarak setengah kilo dari dirinya.
Bocah pirang itu segera memaksakan bangkit. Dia kemudian menghampiri Sakura yang sepertinya enggan beranjak dari tempat itu. Tanpa pikir panjang Naruto segera mengendong gadis itu dan berlari menuju pintu bangker. Bocah pirang itu sempat menoleh kebelakang dan melihat gelombang radiasi yang semakin mendekatinya dengan kecepatan yang gila.
"Ayo cepat !" teriak Shikamaru dan yang lainnya.
Naruto terus berjalan cepat meskipun dengan terpincang-pincang mendekati pintu bangker sementara gelombang radiasi itu kini hanya berjarak 10 meter darinya. Dia akhirnya sampai di pintu dan segera menyerahkan Sakura pada Shikamaru. Naruto pun kemudian masuk ke dalam dan dengan cepat menutup pintu serta menguncinya sebelum gelombang radiasi itu masuk. Bocah pirang itu kemudian menjauh dari pintu bangker. Bunyi berdebum terdengar dari arah pintu namun lama-kelamaan berangsur menghilang. Naruto menghembuskan nafas lega. Setelah dengan begitu banyak perjuangan, mereka akhirnya selamat.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Balasan review :
Yusup : Terima kasih, akan saya usahakan..
Ndah Amay : karena dia itu.. udah di jelasin di chapter ini.. hehe
OneeKyuu : soal kapan jati dirinya kebongkar mungkin entar chapter akhir.
Immanuel : terima kasih dan semoga makin suka baca fic ini untuk chapter ke depannya.
Gray : haha, kalo saya gak bikin penasaran entar gak ada yg tertarik buat baca donk, iya gak?
Riyuzaki : sebenarnya sih bukan Cuma Naruto doank targetnya..
Xexeed : haha, udah diceritain di chapter ini..
The Kidsno : Oke siap, makasih buat reviewnya..
