Hallo teman-teman pembaca setia fic saya. Lagi-lagi saya mohon maaf apabila akhir-akhir ini sering telat update. Semoga merasa terhibur dengan chapter kali ini. selamat membaca dan jangan lupa reviewnya.

Chapter 9

.

.

.

Naruto tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Jika tidak keliru, sebelumnya dia berada di dalam bangker. Dimana dia dan teman-temannya berhasil meloloskan diri dari serangan pengeboman tentara perdamaian. Tapi saat dia membuka kedua matanya yang terlihat adalah pemandangan berbeda atau bisa dibilang dia berada di tempat yang berbeda.

Naruto mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tepat di hadapannya nampak sebuah meja kerja dengan banyak kertas yang berserakan. Di sebelah kirinya terdapat sofa kulit dengan corak belang-belang mirip seperti kulit harimau dengan hiasan 3 kepala rusa bertengger asyik di atasnya. Di sebelah kanan dia melihat jam pasir dengan ukuran yang cukup besar. Tingginya mungkin mencapai 2,5 meter dengan diameter kira-kira 1 meter. Yang lucu adalah terdapat sebuah lilin berwarna merah yang masih menyala di atas jam pasir besar itu.

Naruto kemudian membalikan tubuhnya dan melihat sebuah pintu baja besar. Entah kenapa, dia merasa perlu tahu apa yang ada dibalik pintu besar itu. Dia pun mendekatinya dengan tergesa. Sesampainya di depan pintu, dia mencoba mencari dimana letak tombol untuk membuka mengingat pintu itu begitu besar dan sepertinya sulit didorong. Sebelum bocah pirang itu menemukan tombol, pintu besar itu terbuka dengan sendiri. Sebenarnya Naruto merasa cukup kaget. Tapi karena seolah telah terbiasa dengan hal-hal yang berbau kejutan akhir-akhir ini, bocah pirang itu dengan cepat menguasai dirinya.

Naruto segera melangkah masuk ketika pintu baja besar itu telah terbuka sepenuhnya. Ruangan itu tidak se-mengesankan ruangan sebelumnya. Tidak ada apapun di dalamnya. Hanya ruangan luas yang kosong tanpa perabot dengan dinding bercorak papan catur dan ketika bocah pirang itu telah berada tepat di tengah ruangan, pintu baja itu menutup kembali.

Saat ini yang terasa hanyalah keheningan. Entah mengapa Naruto justru merasa begitu menyukainya. Bocah pirang itu pun memejamkan mata mencoba menikmatinya.

Sedang asyik menikmati keheningan, Naruto seolah merasakan hembusan nafas di sekitarnya. Karena penasaran, bocah pirang itu membuka kedua matanya dan nampaklah seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.

"Apa kabarmu Naruto ?" ucap gadis itu.

Naruto tersentak. Bocah pirang itu tidak mengerti bagaimana gadis itu bisa mengetahui namanya.

"Bagaimana kau bisa tahu namaku ?" tanya Naruto balik.

Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan balik Naruto. Saat melihat senyumannya, bocah pirang itu tiba-tiba saja merasa merindu.

"Itu tidak penting sekarang.." jawab gadis itu lembut. "Yang paling utama saat ini adalah kau harus tetap ingat dengan tujuan utamamu dikirim ke masa lampau.."

Naruto akhirnya seolah mendapat titik terang. Gadis dihapannya ibarat oasis di tengah gurun yang menghilangkan dahaga tentang kebenaran siapa dia sebenarnya. Bocah pirang itu merasa ada berjuta pertanyaan telah tergantung di ujung lidahnya yang siap dia tanyakan semua.

"Siapa sebenarnya diriku ?" tanya Naruto.

"Ini bukan saatnya sesi tanya jawab. Waktu kita sangat terbatas, jadi kuharap kau mendengarkan dengan baik." Balas gadis itu enggan menjawab pertanyaan dari Naruto.

Hasrat Naruto seolah meluruh jatuh mendengarnya. Sebelumnya dia pikir gadis itu adalah oasis pelepas dahaga keingintahuannya. Tapi nyatanya dia hanya sebuah fatamorgana saja. Dari kejadian ini bocah pirang itu akhirnya menarik sebuah kesimpulan. Jangan terlalu mengaharapkan sesuatu.

"Sekarang dengarkanlah.." ucap gadis itu dengan nada serius.

Lagi-lagi Naruto merasa tidak mengerti dengan dirinya. Bocah pirang itu secara reflek segera memberikan perhatian lebih kepada gadis itu. Dia kemudian memandang mata gadis itu dan perasaan kerinduan kembali lagi memenuhi rongga dadanya. Mata gadis itu begitu teduh, begitu menentramkan hatinya. Dia yakin tidak akan merasa bosan jika harus menatap mata itu seharian penuh.

"Lakukan tugas dengan baik meskipun hati nuranimu menolaknya. Jika tidak, maka pengorbanan Sakura akan sia-sia." Gadis itu berhenti sebentar mengambil nafas. "Yang harus kau lakukan adalah membunuh..."

Mata Naruto terbuka secara mendadak. Dia seperti merasakan sengatan listrik menjalar di sekitar dadanya. Bocah pirang kemudian melirik ke atas dan melihat Shikamaru dengan alat pacu jantung di tangannya. Dia menoleh ke samping dan menemukan Ino dengan raut wajah khawatir sedang menekan dadanya berusaha melakukan pertolongan pertama. Dia juga melihat Shino dan Sai berjongkok mengelilinginya.

"Apa yang terjadi ?" tanya Naruto kehabisan nafas.

"Kau tertidur sangat lama. Kami pikir itu hal wajar karena kau mungkin sangat kelelahan. Hingga akhirnya kami tahu jika jantungmu telah berhenti berdetak." Jawab Ino menjelaskan.

Naruto menatap Shikamaru seakan bertanya apa itu benar dan bocah pemalas itu menganggukan kepala tanda iya. Bocah pirang itu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. Lagi-lagi dia merasa asing. Tempat itu nampak berbeda dari terakhir kali dia memasukinya.

Naruto merasa ruangan dimana dia berada sekarang terasa lebih nyaman. Udara di tempat itu juga tersa lebih segar dibandingkan tempat sebelumnya yang penuh debu dan berbau apek. Naruto berpikir apakah ini adalah bagian dari mimpi selanjutnya.

"Tidak perlu panik, bung.. Kita masih di dalam bangker. Tapi tepat di bagian dalamnya." Ucap Shikamaru seolah memahami pikiran Naruto. Sedangkan bocah pirang itu mengerutkan kening tanda bingung.

"Oh ya ampun, baiklah akan kujelaskan.." ucap Shikamaru malas.

"Tepat ketika kita berhasil masuk kau langsung jatuh pingsang. Awalnya aku juga tidak peduli. Tapi kau tahu apa yang terjadi setelah itu ?" tanya Shikamaru pada Naruto yang jelas dijawab dengan gelengan kepala.

"Pintu itu tidak mampu menahan kuatnya gelombang radiasi. Kemudian Ino melihat sebuah pintu baja besar dan tanpa sengaja Sai menginjak tombol pemicu yang membuka pintu besar itu. Singkat cerita, kita akhirnya benar-benar selamat." Jelas Shikamaru.

Naruto mengangguk tanda paham. Setelah itu Shikamaru pergi berlalu disusul Sai dan Shino mengekor dibelakangnya dan hanya menyisakan Ino yang setia didekatnya. Bocah pirang itu kemudian tertunduk mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan juga tentang mimpi anehnya.

"Berapa lama aku tak sadarkan diri ?" tanya Naruto masih tertunduk.

"Terhitung sejak pertama kali kita masuk ke dalam bangker, mungkin sudah 3 hari kau tidak sadarkan diri." jawab Ino.

"3 hari ?" tanya Naruto tidak percaya yang dibalas dengan anggukan.

Naruto memejamkan matanya. Bocah pirang itu mencoba kembali mengingat-ingat mimpi anehnya. Tentang pertemuannya dengan seorang gadis. Gadis yang dia yakin sangat dikenalnya sebelum bocah pirang itu mengalami amnesia. Keyakinan itu semakin kuat dengan rasa nyaman yang dia dapatkan ketika bertemu dengan gadis itu. Saat itu pula Naruto kembali merasa merindu.

Naruto kemudian memikirkan ucapan gadis dalam mimpinya itu. Gadis itu berkata bahwa dia harus melakukan tugasnya apapun yang terjadi. Jika bocah pirang itu sampai gagal melakukannya maka semua upaya dia dan gadis itu tidak ada artinya. Yang lebih buruk lagi adalah pengorbanan Sakura akan sia-sia.

Bicara soal pengorbanan Sakura, Naruto tersadar jika semenjak tadi gadis musim semi itu tidak nampak. Bocah pirang itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan dan menemukan gadis itu tengah duduk menyendiri seraya memeluk kedua kakinya.

"Dia terus menyendiri sejak masuk ke tempat ini.." ucap Ino mengikuti arah pandang Naruto.

"Aku dengar dia menembak pria kulit putih itu untuk menyelamatkanmu ?" Tanya Ino meminta penjelasan langsung dari Naruto. Bocah pirang itu hanya mengangguk lemah.

"Dia pasti sangat tertekan.." Ucap Ino khawatir. "Aku harap kau bisa menenangkannya. Aku sudah mencobanya dan hasilnya tidak berhasil."

"Ya, aku akan mencoba dan terima kasih untuk pertolonganmu.." balas Naruto sembari tersenyum.

"Tidak.." Ino menggeleng tanda tidak setuju.

"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan Sai. Selain itu, aku juga harus minta maaf atas sikap kasarku sebelumnya." Ucap Ino sembari mengecup pipi Naruto.

"Tetaplah disini, aku akan membawakan makanan untukmu !" perintah Ino sebelum pergi.

Ino berlalu pergi. Tidak lama berselang, Shikamaru dan Sai datang mendekati. Mereka berdua terlihat lebih segar dari sebelumnya dan fakta itu membuat Naruto bertanya bagaimana itu bisa terjadi.

"Jangan menatap kami seperti itu, bung.." ucap Shikamaru risih. "Semua karena tempat ini seperti ladang gizi bagi kita"

Shikamaru kemudian menunjukan sekaleng ransum pada Naruto. Seketika rasa lapar menjalari Naruto. Wajar saja, bocah pirang itu belum memakan apapun sejak tiga hari yang lalu.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu ? tiba-tiba seperti orang mati dan kemudian tersadar layaknya orang idiot." Tanya Sai tanpa basa-basi.

Naruto memandang bocah kulit pucat itu. Ada semacam ekspresi kesal tercetak di sana. Dia mencoba mengingat kembali apa salahnya. Setelah cukup lama berpikir, bocah pirang itu akhirnya mendapatkan satu kesimpulan. Bocah kulit pucat itu tengah cemburu karena Ino mengecupnya.

"Aku bisa menjelaskan yang tadi.." Ucap Naruto mencoba memberi penjelasan. Sai membuang muka kesal sedangkan Shikamaru terlihat seolah tidak peduli.

"Apa yang harus dijelaskan ?" tanya Ino yang entah sejak kapan berada di sana.

"Tidak ada, Cuma urusan antara cowok dewasa.." jawab Shikamaru asal.

Ino nampak tidak peduli dengan jawaban Shikamaru. Gadis itu kemudian meletakan sekaleng ransum dan segelas air putih pada Naruto. Bocah pirang itu diam-diam melirik ke arah Sai dan menemukan raut tidak suka di wajah pucatnya.

"Terima kasih.." ucap Naruto.

Awalnya Naruto hendak tersenyum manis pada Ino sebagai ungkapan terima kasihnya. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya karena takut terkena bogem mentah dari Sai.

"Tidak masalah, tempat ini benar-benar menyediakan segala kebutuhan untuk berlindung." Balas Ino.

"Cepat habiskan makananmu ! Karena sebentar lagi kita membicarakan rencana kita selanjutnya." Ucap Shikamaru. Bocah pemalas itu kemudian mendudukan dirinya di dekat Naruto. Sedangkan Sai segera pergi diikuti Ino di belakangnya.

Naruto segera melahap makanannya tanpa henti. Rasanya seperti de javu. Dia teringat kembali ketika dia makan dengan lahapnya di tempat perlindungan setelah sadarkan diri. Meskipun hanya sebentar saja disana, Naruto bisa merasakan betapa nyamannya tempat itu. Tapi sayangnya tempat itu sekarang sudah tidak ada lagi.

Tidak butuh waktu lama Naruto telah menghabiskan makanannya. Tanpa sengaja arah pandangannya tertuju pada sosok Sakura yang masih setia sendiri di pojok ruangan. Naruto kemudian meminta ijin pada Shikamaru untuk menemui Sakura sebelum mereka semua berkumpul. Bocah pemalas itu mengiyakannya dan dengan segera Naruto berjalan mendekati gadis musim semi itu.

Naruto merasa bersalah dengan keadaan Sakura saat ini. Jika saja dia tidak terdesak saat itu, mungkin Sakura tidak perlu menembak si pria kulit putih. Menyadari hal itu Naruto kembali mengingat ucapan gadis dalam mimpinya. Dia semakin tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukannya. Dia kemudian mencoba melupakan sejenak soal itu dan memfokuskan diri untuk membantu Sakura.

Naruto akhirnya sampai di mana Sakura berada. Seperti sebelumnya, gadis itu masih setia memeluk kedua kakinya seolah jika dilepas mereka akan melarikan diri. Gadis itu pun bahkan tidak menyadari ada Naruto di dekatnya.

"Hai.." Naruto mencoba menyapa.

Sakura menoleh ke arah suara. Seketika juga gadis itu segera menghambur memeluk Naruto. Bocah pirang itu kaget pada awalnya. Namun kemudian dia bisa menguasai diri.

Naruto merasakan tubuh Sakura bergetar. Gadis itu tengah menangis hebat dalam diam. Air matanya bahkan telah membasahi bagian depan bocah pirang itu. Naruto bisa memakluminya. Dia pun mengusap bahu gadis itu mencoba menenangkannya.

"Lepaskan saja. Aku ada di sini.." ucap Naruto berbisik di telinga Sakura.

"Aku pembunuh, Naruto.. aku pembunuh.." bisik Sakura semakin terisak.

"Aku bahkan meninggalkan jasad Kiba begitu saja.. menurutmu apa aku ini masih bisa dianggap seorang manusia?" ucap Gadis itu menyesal.

Mendengar nama Kiba terucap membuat Naruto merasa bersalah. Kiba mungkin saja tidak akan terbunuh jika Naruto memberitahukan keberadaan granat itu lebih cepat. Ya memang seharusnya begitu. Tapi seberapa menyesalnya Naruto, itu tidak akan membuat Kiba hidup kembali.

"Maafkan aku, ini semua adalah salahku.." ucap Naruto.

Mereka berdua sama-sama terdiam. Sakura masih setia memeluk tubuh Naruto hingga akhirnya tangisnya pun mereda. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum saat menatap Naruto seakan berkata dia telah baik-baik saja.

"Terima kasih Naruto.." ucap Sakura sembari menghapus sisa-sisa air mata.

"Benarkah ?" tanya Naruto. Sakura mengangguk iya.

Naruto menghembuskan nafas lega. Dia bersyukur Sakura kembali seperti sebelumnya meskipun faktanya bocah pirang itu tidak berbuat apapun untuk menenangkan si gadis. Mungkin pada dasarnya Sakura hanya butuh sebuah sandaran dalam menghadapi masalah. Anehnya, justru Naruto lah yang berhasil melakukannya padahal Ino adalah sahabat terdekatnya.

"Maaf untuk bajumu yang basah.." kata Sakura tersenyum kikuk.

"Tidak masalah.." balas Naruto.

Naruto dan Sakura kemudian tertawa bersama-sama. Hingga pada akhirnya pandangan mereka saling bertemu. Naruto segera menoleh ke arah lain mencoba menghindari tatapan Sakura. Sedangkan gadis itu sendiri menunduk dengan rona merah terlihat di pipinya.

Entah mengapa suasana tempat itu menjadi terasa gerah bagi Naruto. Bocah pirang itu juga menjadi salah tingkah. Dia melirik ke arah Sakura yang ternyata juga sedang menatapnya. Tatapan mata gadis itu terasa begitu menghipnotis Naruto hingga tanpa sadar bocah pirang itu memegang dagu Sakura. Mendekatkan tubuh, memperpendek jarak antara keduanya. Sakura kemudian memejamkan mata seiring mendekatnya bibir Naruto.

"Maaf kawan-kawan yang sedang dilanda asmara..!" Ucap Shikamaru mengagetkan.

Entah sejak kapan bocah pemalas itu ada disana. Tapi yang jelas Naruto dan Sakura tersentak kaget dan segera saling menjauhkan diri sebelum aksi keduanya terealisasi. Wajah mereka kini merona merah hebat. Merasa telah mengganggu momen romantis dua sejoli, Shikamaru tersenyum kikuk sebagai tanda permintaan maaf.

"Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin kalian bisa meneruskannya lain kali." Kata Shikamaru tanpa dosa.

Naruto mendengus kesal sedangkan Sakura masih menundukan kepala malu.

"Jadi sekarang waktunya membahas rencana kita ?' tanya Naruto mencoba mengubah suasana yang semula kikuk menjadi seperti biasa.

"Bukan.. Ini lebih penting lagi." Jawab Shikamaru serius.

"Memangnya apa ?" tanya Naruto penasaran.

"ADA YANG MENCOBA MENDOBRAK PINTU DEPAN DAN AKU YAKIN MEREKA BUKAN ORANG BAIK-BAIK.."

.

.

.

to be continue

.

.

Balasan review :

Yusup : Iya, salah satunya Naruto dan 3 orang lainnya adalah...

Fatih, The Kidsno : Oke siaaap..!

Febriano : Oke siap kalo soal uptade mungkin seminggu sekali.

Ndah D Amay : haha RIP buat Kiba..

OneeKyu : soal berapa chapter saya juga belum tahu dan siapa dan kapan musuh utamanya keluar juga mungkin di chapter yang masih jauh..

Sr not Author : Sankyou.. :-D

GnB Lucky : haha makasih, lama-lama saya bisa terintimidasi juga kayaknya.. hehe