Chapter 5
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mistery
Archip: drabble, sad ending, yaoi
Cast: -All members EXO
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!
A/n: Review udh di bls semua. Jeosonghamnida, yg biasanya update tiap mlm, jd bru update skrg. Shi kehabisan ide. Soalnya, Xiu Min Hyung udh 'good bye'. Pdhl Xiu Min Hyung sendiri di sni jd kuncinya bwt membuka semua 'pintu'. Dan gtw knp Shi bwt Xiu Min Hyung mati. ._. ok, ope U like it. Happy reading…~
AUTHOR POV
Seorang namja tampan sedang berdiam diri di salah satu bangku halaman belakang sekolahnya. Hari sudah sore. Bahkan sekolahnya sekarang sudah sepi. Tapi dirinya tidak ada niatan sama sekali untuk pulang.
PLUK!
Sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. Namja tampan itu menoleh, dan mendapati seorang namja tinggi berambut blonde, tengah tersenyum hangat padanya.
"Kris Hyung? Kau belum pulang? Kukira kalian semua sudah pulang" ucap namja tampan itu sembari terus menatap wajah temannya itu. Namja yang di panggil 'Kris' itu mendudukkan dirinya di sebelah sang namja tampan.
"Belum. Aku dan Tao-er belum pulang. Maksudku, kami baru saja mau pulang setelah ada urusan sedikit di sekolah" jawab Kris tenang. Yang mendapat jawaban hanya manggut-manggut mengerti. Tapi mukanya jadi lebih murung, ketimbang tadi yang expresinya datar(?). "Memikirkan sesuatu? Apa… itu Xiu Min-ge?" terka Kris. Yang di lempari pertanyaan hanya menundukkan kepalanya dalam dengan wajah cemberut.
"Aku merindukannya, Hyung. Xiu Min Hyung eoddie?" tanya sang namja tampan ntah pada siapa.
"Tenanglah, Chen-er… Aku yakin Xiu Min-ge akan baik-baik, saja" jawab Kris seraya menenangkan temannya itu.
"Baik-baik saja bagaimana di saat keadaan mengatakan sebaliknya?" tanya Chen. Kris hanya terdiam memandangnya. "Hyung kan tahu, akhir-akhir ini banyak teman-teman kita yang menghilang secara tiba-tiba ntah kemana dan karena apa. Bagaimana jika Xiu Min Hyung juga begitu? Buktinya, hari ini ia tidak sekolah. Dan bahkan tak mengabari salah satu dari kita sama sekali. Seongsaengnim pun tak tahu kenapa Xiu Min Hyung tidak sekolah. Kejadian ini pernah terjadi bukan pada Baek Hyun Hyung?" sembur Chen dengan luapan emosinya. Jika dia tidak ingat dia adalah seorang namja, mungkin dia sudah menangis dari tadi. Kris merangkul Chen lembut, berharap namja yang ada di depannya ini bisa tenang sedikit.
"Ssshh… Uljima, Chen-er… Uljima…" ucap Kris pelan di telinga Chen. Beberapa detik kemudian Chen mulai merasa tenang dan lebih baik. Apa yang mengganjal di hatinya sudah dia keluarkan. Tapi, tentu saja tidak untuk bagian 'merindukkan-sang-kekasih'. Dia masih sangat merindukkan Xiu Min Hyung-nya.
ΩΩΩ
Malam ini, ke 9 namja tampan tengah menyantap makan malamnya di kediaman keluarga Kim, rumah teman mereka yang hilang tadi pagi. Kim Min Seok, atau yang biasa di panggil Xiu Min, bersama dengan Eomma Xiu Min.
"Jadi benar-benar tidak pulang, ne?" monolog Lay dengan suara kecil.
"Hyung, apa tidak sebaiknya kita lapor pada poilisi? Ini aneh" usul Su Ho semangat.
"Polisi? Apa tidak apa-apa? Seperti katamu tadi, ini aneh" jawab Kris ringan.
"Lalu kita harus bagaimana?" gumam D.O.
"Kenapa tidak kita coba cari sendiri saja di rumah tua itu?" saran Se Hun. Semua memandanginya.
"Apa tidak terlalu beresiko?" tanya Kris.
"Kenapa tidak di coba saja dahulu usulan Su Ho-er?" tanya Lu Han menyetujui saran Su Ho. Su Ho tersenyum mendengar itu.
"Benar mau di coba?" tanya Kris lagi.
ΩΩΩ
9 orang namja tengah merenung di sebuah taman kota malam ini. Mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kalian dengar sendiri, kan? Ini benar-benar aneh" ucap Kris memulai pembicaraan.
2 hari yang lalu mereka melapor pada polisi dan meminta polisi-polisi itu menyelidiki rumah tua itu. Dan apa yang mereka terima setelah 2 hari menunggu hasil penyelidikkan itu?
"Tidak ada jejak kaki sama sekali di dalam rumah itu. Tidak ada korban atau pun orang di dalam sana. Benar-benar seperti rumah lama yang tidak pernah di sentuh" ucap Su Ho yang mengulang perkataan para polisi itu tadi sore. Aneh. Padahal 3 teman mereka sudah hilang ntah kemana semenjak Chan Yeol masuk ke dalam rumah tua itu.
"Kalau begitu, Chan Yeol-ge kemana? Bukankah Xiu Min-ge bilang jika Chan Yeol-ge jelas-jelas masuk ke dalam rumah tua itu?" tanya Tao heran.
"Itu dia. Kemana Chan Yeol-er?" monolog Kris frustasi.
ΩΩΩ
Ke esokkan harinya, 9 namja itu mengikuti saran Se Hun. Setelah semua urusan mereka semua di sekolah sudah selesai, mereka segera pergi ke rumah tua itu. Itu berarti, malam sudah menjelang. Bahkan langit sudah terlihat gelap, namun masih ada cahaya oranye di ujung langit sana.
Merasa bertanggung jawab, Kris berjalan paling depan dan di temani di sebelahnya sang kekasih –Tao. Sesampainya mereka di depan gerbang rumah tua itu, mereka semua terdiam untuk beberapa detik. Hingga Kris mulai mencoba untuk membuka pagar rumah tua itu.
"Ah, macet. Sepertinya macet. Apa macet?" gumam Kris.
"Ada apa, Ge?" tanya Tao dengan tatapan herannya.
"Pagarnya macet" jawab Kris.
"Apa karena pagar besi itu sudah berkarat, jadi macet?" monolog Su Ho.
"Kenapa puisng-pusing memikirkan itu? Kenapa kita tidak panjat saja pagarnya?" usul Se Hun. Semua namja itu melihat kearah ujung pagar yang di atas. Lu Han menggeleng.
"Tidak bisa. Ujung pagarnya runcing. Tidak akan bisa masuk dengan mudah" ujar Lu Han, semua mengangguk mengiyakan. Lalu tiba-tiba Chen melihat jalan kecil di samping rumah tua itu.
"Kenapa tidak kita coba saja lewat pintu belakang rumah ini? Di sana ada jalan kecil. Semoga saja tidak buntu" usul Chen.
"Baiklah. Kita akan bagi 2 kelompok. Aku, Su Ho, Chen, Se Hun, dan Kai akan masuk ke sana. Yang lainnya tetap di sini" perintah Kris. Dan yang lain mengangguk setuju.
Sesuai perintah Kris, para seme itu pun masuk ke dalam jalan kecil itu. Sampai di ujung jalan itu, mereka melihat belokkan, dan menemukan sebuah pintu. Kris yang berada di depan mencoba membukanya. Tapi hingga di dobrak sekeras apa pun, dia tidak dapat membukanya. Akhirnya Kris memerintahkan semuanya untuk kembali.
Dan semuanya menurut, kecuali Chen. Dia masih penasaran dan heran, kenapa pintu yang sudah terlihat lapuk itu sulit untuk di buka. Chen menatap kepergian teman-temannya yang sepertinya tak menyadari bahwa dia tak ikut bersama dengan mereka.
Chen mulai melangkah pelan mendekati pintu itu dan dia mencoba untuk mendorong pintu lapuk itu agak keras.
CLEK!
Terbuka! Mata Chen terbelalak kaget. Karena ini sangat mudah dari pada dia melihat usaha Kris untuk membuka pintu ini. Chen berniat kembali pada teman-temannya, tapi sebuah suara menginteruspinya. Itu… sebuah musik. Musik klasik yang sungguh nyaman di dengar di telinga. Tanpa sadar, kakinya mulai melangkah masuk mengikuti musik itu.
BLAM!
Dan pintu pun tertutup.
"Hei, kalian dengar sesuatu? Kalian dengar sebuah suara?" tanya Lu Han yang mendengar sesuatu dari gendang telinganya. Lay, Tao, dan D.O mencoba memperjelas pendengaran mereka.
"Wae geurae?" tanya sebuah suara. Para uke itu pun menoleh ke sumber suara. Itu para seme mereka.
"Apa kalian dengar sesuatu? Itu sebuah nada, kan?" setelah Lu Han mengatakan itu, ke-7 namja lain mulai mendengarkan apa yang di dengar Lu Han. "Suaranya sangat memekakkan telinga. Mengganggu sekali" komentar Lu Han.
"Berasal dari mana suara ini?" tanya Lay ntah pada siapa.
"Rumah tua itu mungkin" jawab Se Hun.
"Ne, aku mendengarnya. Apa tidak sebaiknya kita pulang? Gendang telinga kita bisa pecah jika berada di sini terus" saran D.O.
"Ne. lagi pula hari sudah gelap" tambah Lu Han.
"Baiklah" ucap Kris menyetujui. Dan mereka pun berniat melangkah pulang.
BRAK!
Sebuah suara benda terjatuh dengan cukup keras menginterupsi pergerakan mereka. Suara yang memekakkan telinga mereka itu berhenti. Mereka semua menoleh kembali ke rumah tua itu karena tadi sudah sempat berbalik untuk pulang.
"Suara apa itu?" tanya Tao dengan nada suara bergetar dan memegang kemeja sekolah yang di pakai Kris dengan sangat erat. Kris hanya dapat memeluk namjachingu-nya, berharap dia bisa tenang dahulu.
"Berasal dari rumah itu, ne?" tanya Se Hun, yang mencoba menenangkan Lu Han –namjachingu-nya, dengan menggenggam tangannya erat.
"Eh? Mana Chen Hyung, eoh?!" jerit Kai panik saat tidak menemukan sosok Chen di sekitar mereka.
"Eh?!" semua orang yang di sana jadi ikut terkejut dengan jeritan Kai.
"Apa?! Bagaimana bisa, Chen-er tidak ada? Astaga… bukankah kau tadi berjalan bersamanya Kai-er?" tanya Kris mencoba meredam emosinya. Kai mengangguk.
"Tadinya sih, iya. Tapi sekarang Chen Hyung tidak ada. Kemana dia?" tanya Kai dengan nada suara yang masih panik.
"Apa mungkin tertinggal di jalan kecil itu?" tanya Se Hun.
"Lalu kenapa ia tidak kembali?" tanya Su Ho. Se Hun mengedikkan bahunya. Lalu dengan serentak, mereka menoleh kearah jalan kecil tadi.
DEG!
Seketika mata mereka membulat.
"Tidak mungkin…" gumam Kai tidak percaya. Jalan itu tidak ada. Menghilang seperti menutup kembali. Tidak ada jalan kecil di sana. Tidak ada jalan kecil yang tadi di lewati oleh mereka. Di samping rumah tua itu hanya ada rumah lain. Lalu Se Hun mendekat dengan wajah masih syok. Lalu dia mengetuk dinding itu pelan.
TUK! TUK! TUK!
"Dinding? Dinding? Ini dinding? Hanya dindingkah?" Bukankah…" perkataan Se Hun menggantung. Dan semua yang ada di sana tahu kelanjutan kalimat itu.
"Apa mungkin Chen Hyung terperangkap di dalam sana?" tanya Kai ntah pada siapa sembari menatap dinding yang berhadapan dengan Se Hun.
"Atau mungkin… di sana?" kali ini monolog Su Ho sembari mengarahkan pandangannya kearah rumah tua di hadapan mereka. "Tadi suara keras itu berasal dari sana, kan? Jangan-jangan, itu Chen~ah" ujar Su Ho.
"Tidak mungkin. Bukankah tadi pintunya tidak bisa di buka?" tanya Kai masih dengan nada panik. Dan Kris mengisyaratkan semuanya untuk tenang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa masuk ke dalam" tanya Lay. Semua Nampak berpikir. Mereka tidak mungkin pulang begitu saja. Setidaknya, mereka harus membawa Chen kembali. Tapi kenyataan berkata lain.
"Meminta bantuan?" gumam Lu Han dengan nada bergetar. Kris menggeleng.
"Tidak mungkin" jawab Kris.
TBC~
AUTHOR POV END
A/n: Eotthe? Masih kurang panjang? Sekali lagi jeosonghamnida baru update skrg. Modem mendadak abis. Ah, review, please… ^^
