Hallo handai taulan semua..! Saya balik lagi nih. Ada yang merasa kangen gak? Kalo enggak ada ya gak apa-apa. Yang penting nanti kalau baca harus review ya..! Oke..? Oke..?
Chapter 10
.
.
.
Hidup adalah sebuah cerita. Dalam sebuah cerita pasti terdapat apa yang disebut perkenalan tokoh, konflik dan yang terakhir adalah penyelesaian. Tapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada hidup Naruto. Bocah pirang itu awalnya berpikir saat dia dan teman-temannya berhasil selamat dari pengeboman adalah sebuah penyelesaian seperti dalam sebuah cerita. Tapi nyatanya justru konflik baru lagi yang harus dia hadapi. Di luar sana, tepat di balik pintu baja besar yang sebelumnya telah melindunginya dari gelombang radiasi, sekelompok orang tengah berusaha membuka paksa pintu beja besar itu.
Saat ini mereka berkumpul di tengah ruangan dan duduk melingkar. Semua membisu tak terkecuali Naruto dan Sakura. Jika yang lain terdiam karena mungkin tengah memikirkan solusi untuk masalah kali ini, berbeda halnya dengan kedua insan beda gender itu. Naruto dan Sakura terdiam karena malu akibat terpergok hampir berciuman. Meskipun teman-temannya tidak ada yang menggoda, tetap saja rasa malunya setengah mati.
Suara ledakan terdengar berdebum. Dinding dan lantai bangker bergetar hebat. Jika mengikuti asal suaranya, ledakan itu pasti terjadi tepat di depan pintu baja besar. Tidak lama berselang suara ledakan itu terdengar kembali. Terus-menerus dengan tempo yang hampir sama. Anehnya, semakin lama suara ledakan itu semakin mengecil.
"Ini aneh.." ucap Shino.
"Apanya ?" tanya Naruto.
"Suara ledakannya, bung. Semakin lama suara itu justru semakin mengecil. Apa kau tidak merasa aneh dengan hal itu?" tanya Shino.
Naruto merutuki ketidakpekaannya. Dia merasa bodoh karena tidak menyadari hal itu.
Suara ledakan itu kembali terdengar lagi. Namun suaranya lebih keras dari yang sebelumnya. Kemudian tidak beberapa lama terdengar lagi suaranya jauh lebih keras. Terdengar lagi dan lebih keras lagi.
"Apa yang sedang mereka coba lakukan sebenarnya ?" tanya Ino mulai khawatir.
Naruto melihat ke arah pintu baja besar. Secara tidak sengaja tatapan bocah pirang itu terpaku pada lantai. Di area itu dia melihat retakan-retakan yang terus terbentuk setiap kali terdengar ledakan. Retakan itu semakin melebar hingga sedikit demi sedikit lantai bangker mulai longsor ke bawah. Naruto yang merasa itu bukanlah pertanda baik segera bangkit berdiri.
"Ada apa,bung ? kau mau bilang kita harus lari sekarang juga?" tanya Shikamaru menatap Naruto tanpa minat.
"Ya, itulah yang ingin kukatakan. Lihat !" Naruto menunjuk ke arah retakan besar berada.
Semua mata terbelalak kaget tak percaya. Naruto berani jamin jika semuanya juga tidak mengira tentang kemungkinan ini. Mereka, orang-orang yang kemungkina tentara perdamaian tahu, mencoba menghancurkan pintu baja besar yang dapat menahan gelombang radiasi bom nuklir adalah usaha yang sia-sia. Karena itu mereka membuat jalan bawah tanah tepat di bawah pintu baja besar dengan menggunakan granat yang entah kenapa terasa tidak masuk akal.
"Mereka membuat jalur bawah tanah dengan menggunakan granat? Yang benar saja, ini tidak masuk akal !" ucap Sai seolah tidak yakin.
"SHIIIT !" umpat Shikamaru. "Kita harus pergi sekarang juga !"
"Memangnya kemana kita harus pergi lewat mana? kau tahu sendiri kan jalan keluar bangker hanya pintu itu saja?" ucap Shino seolah menyerah. Tapi memang itulah kenyataannya.
Semangat membara Shikamaru seketika merosot setelah mendengar ucapan Shino. Naruto tahu apa yang dirasakan bocah pemalas itu. Shikamaru seperti halnya dia yang mungkin telah lelah harus terus bekonfrontasi setiap waktu. Pada dasarnya bocah pemalas itu hanya ingin menghindari pertikaian tak berujung dan melelahkan. Jika memang ada cara untuk menghindarinya, kenapa tidak?
Suara ledakan terdengar kembali dan semakin keras pertanda jika mereka semakin dekat. Naruto berusaha keras menguras isi kepalanya demi memperoleh gagasan melarikan diri yang cerdas. Kondisi ini nampaknya juga terjadi dengan yang lainnya kecuali Sakura.
Naruto melihat Sakura bangkit dari duduknya. Gadis itu kemudian berjalan menuju pojok ruangan tempat dimana gadis itu tengah tertekan sebelumnya. Naruto berharap kali ini alasan Sakura pergi menuju ketempat itu bukan karena dia kembali tertekan.
"Teman-teman cepat kemari !" teriak Sakura seraya meraba-raba dinding di tempat gadis itu berada.
Semua bangkit berdiri menuju ke tempat Sakura berada. Mereka jelas mengharapkan jika gadis itu telah mendapatkan sesuatu atau petunjuk apapun tentang cara melarikan diri.
"Ada apa ?" tanya Shikamaru sedikit tegang. Bocah pemalas itu mungkin masih merasa tidak enak dengan ucapannya pada sebelumnya.
"Coba kau rasakan !" jawab Sakura sembari membimbing Shikamaru meraba-meraba dinding bangker yang nampak ditumbuhi lumut.
Shikamaru mencoba menelusuri setiap jengkal dinding bangker dengan seksama dimana sebelumnya Sakura telah melakukannya. Bocah pemalas itu kemudian berhenti pada suatu garis vertikal dimana dia merasakan sentuhan halus di telapak tangannya. Shikamaru yang merasa belum yakin kembali mengulanginya lagi. Kali ini dia merasa yakin dengan apa yang dirasakannya pada dinding itu.
"Aku merasakan hembusan udara pada dinding itu. Mungkin saja ini adalah jawaban bagi kita untuk melarikan diri."
Naruto dan Sai segera berderap menuju dinding dan melakukan hal yang sama seperti yang bocah pemalas itu lakukan. Setelah itu mereka berdua mengangguk tanda mempercayai ucapan Shikamaru.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang ini Sakura?" tanya Ino.
"Semenjak berdiam diri di tempat ini aku mulai merasakannya. Tapi karena merasa tidak penting jadi aku mengacuhkannya." Jawab Sakura.
"Bagus, jadi selanjutnya apa yang akan kita lakukan pada dinding ini? kau tidak bermaksud meminjam granat para tentara perdamaian untuk menghancurkannya bukan? tanya Naruto pada Shikamaru yang dibalas dengan tatapan sengit.
Suara ledakan di bawah tanah masih terus terdengar. Suaranya terasa semakin mendekat setiap kali ledakan berikutnya. Naruto berani jamin para tentara perdamaian hanya butuh beberapa ledakan lagi. Jika hal itu terjadi dan Naruto serta teman-teman belum menemukan solusi bagaimana cara membuka dinding itu maka semua akan tamat.
Bocah pirang itu kemudian mencoba berpikir lebih keras. Tiba-tiba kepalanya terasa pening. Naruto mengalami serbuan memori kembali seperti pada waktu sebelumnya. Tanpa sadar dia berjalan mendekati dinding dan membersihkan bagian yang ditumbuhi lumut di sekitar area garis vertikal. Kali ini terpampanglah gambar yang berhasil mengejutkan Naruto dan semuanya.
"Apa maksudnya ini ?" tanya Shikamaru bingung.
Gambar itu terlihat begitu aneh dimata Naruto dan semuanya. Sebuah ukiran gambar berbentuk segitiga sama sisi yang setiap sudutnya terdapat gambar-gambar aneh. Pada sudut pertama terdapat gambar manusia, sudut kedua nampak gambar gajah dan sudut ketiga terlihat gambar seekor semut.
Naruto tidak menanggapi pertanyaan Shikamaru. Bocah pirang itu segera berpindah posisi ke arah dinding yang berlawanan dengan gambar segitiga. Dia membersihkannya dan kemudian terhenti seolah telah menemukan sesuatu. Naruto lalu berbalik dan menatap teman-temannya.
"Kalian harus lihat yang ini.." ucap Naruto yang kemudian bergeser agar teman-temannya melihat.
Awalnya Shikamaru kira dia akan melihat sebuah gambar lagi. Tapi sayangnya kali ini yang dia lihat adalah sebuah tombol yang bentuknya menyerupai lima jari dan terdapat lima meter dari gambar segitiga berada. Mungkin dinding itu semacam lift dan tombol lima jari itu adalah alat untuk membukannya.
Shikamaru segera berderap ke depan. Dia kemudian menempelkan telapak tangannya pada tombol lima jari itu. Tidak lama bunyi klik terdengar dan waran merah mendominasi bagian tombol itu. Naruto tidak perlu bertanya pada Shikamaru apakah berhasil atau tidak karena jawabannya sudah sangat jelas. Dinding itu gagal dibuka oleh Shikamaru.
Naruto mengamati tombol lima jari itu lebih intens. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada gambar sebelumnya. Bocah pirang itu yakin seratus persen jika gambar tersebut pasti ada hubungannya dengan cara membuka dinding itu.
Bunyi ledakan masih terus berkumandang dan semakin keras pula. Samar-samar Naruto mendengar suara aneh. Suara itu terdengar seperti deru mesin bor yang mendesir layaknya ular derik. Bocah pirang itu menoleh ke arah teman-temannya dan terlihat ekspresi kekhawatiran menghinggapi wajah mereka.
"Jadi mereka mengebornya ? lalu apa maksud dari suara ledakan itu ?" tanya Naruto.
"Mungkin.." jawab Shikamaru tidak yakin. Bocah pemalas itu menatap retakan.
"Dengan meledakan tanah setidaknya itu bisa membuatnya lebih mudah untuk bor. Anggap saja ledakan itu adalah proses penggemburan tanah." Ucap Shino memperkirakan.
"Aku tidak peduli penjelasan ilmiahnya. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah ini !" balas Shikamaru acuh. Sedangkan Shino, bocah itu mendengus kesal.
Naruto kemudian maju ke depan dinding itu. Dia memejam matanya berusaha memusatkan pikiran. Bocah pirang itu entah kenapa begitu yakin jawabannya ada di kepalanya. Dia merasa seolah pernah melaluinya.
Naruto menatap kembali gambar segitiga tersebut. Dia memperhatikan lebih seksama 3 gambar yang terletak di tiap sudut gambar setitiga itu. Tanpa sengaja tangannya terulur dan mengusap sudut-sudut gambar segitiga dan lagi-lagi bocah pirang itu harus kembali dibuat terkejut. Gambar itu bukanlah gambar segitiga seperti yang dia kira. Gambar itu hanyalah 3 garis panah yang membentuk sebuah gambar segitiga.
Dari gambar gajah itu, garis panah mengarah ke gambar manusia. Pada gambar manusia, garis panah mengarah ke gambar semut. Sedangkan dari gambar semut, garis panah itu mengarah kembali pada gambar gajah. Naruto yang memperhatikannya seolah merasa tidak asing dengan pola gambar ini. Tapi entah kenapa otaknya terasa bebal hingga kesulitan berpikir. Dia lalu menoleh ke arah teman-temannya yang mungkin saja paham maksud dari gambar tersebut.
"Gajah mengalahkan manusia, manusia mengalahkan seekor semut dan semut mengalahkan gajah. Apa menurut kalian perkiraanku benar ?" tanya Ino yang lansung mendapatkan perhatian.
"Kalau begitu beritahu aku bagaimana caranya si semut mengalahkan sang gajah?" tanya Sai sedikit tidak setuju dengan pendapat Ino.
"Aku tidak tahu. Itu kan hanya perkiraanku saja.." balas Ino.
"Kalau begitu beritahu aku juga bagaimana mungkin kertas bisa mengalahkan batu ?" tanya balik Shikamaru pada Sai.
Pertanyaan Shikamaru seolah memberikan titik terang bagi Naruto. Bocah pirang itu yakin jika ketiga gambar itu sama halnya seperti permainan batu-gunting-kertas. Saling mengalahkan satu sama lain seperti yang ditunjukan oleh garis panah.
"Kita anggap saja gambar itu sama halnya dengan permainan batu-gunting-kertas. Tapi apa maksudnya ?" tanya Naruto entah pada siapa.
Masing-masing terdiam berusaha memikirkan maksud gambar tersebut. Naruto tahu mereka harus segera memecahkan teka-teki ini selagi tentara tentara perdamaian belum tiba. Tiba-tiba seolah dihantam oleh sebuah kesadaran entah bagaimana, bocah pirang itu merasa telah mendapatkan jawaban atas teka-teki tersebut.
"Gambar itu sama halnya dengan permainan batu-gunting-kertas. Hanya saja dalam versi yang berbeda." Ucap Naruto
"Lalu apa artinya?" tanya Sakura penasaran.
Naruto segera menunjuk tombol lima jari. Semua mata kini tertuju padanya. Tidak ada yang bertanya dan bocah pirang itu bisa mengerti. Mereka hanya ingin Naruto segera menjelaskannya tanpa perlu mengatakannya.
"Permainan batu-gunting-kertas dimainkan dengan menggunakan satu telapak tangan. Begitu pula dengan gajah-manusia-semut." Ucap Naruto. Dia terdiam sebentar mengamati reaksi teman-temannya.
"Mengingat kepalaku yang masih tidak bisa diajak berkompromi dalam hal ingat-mengingat, a tidak tahu apa ingatanku ini benar atau tidak. Tapi aku sangat yakin tentang hal ini." ucap Naruto melanjutkan. Sedangkan teman-temannya tampak lebih serius mendengarkan.
"Jari jempol untuk gajah, telunjuk sebagai manusia dan kelingking simbol semut. Itulah versi lain dari permainan batu-gunting-kertas, dan mengenai apa hubungannya dengan dinding ini adalah.."
Naruto menempelkan ketiga jarinya yang tidak lain adalah jempol, telunjuk serta kelingking sesuai tempatnya pada tombol lima jari itu. Tombol lima jari itu kemudian memendarkan warna hijau dan tepat detik itu pula dinding itu terbuka dengan cepat. Rasanya suara gemertak terbukanya dinding itu terasa begitu melegakan bagi Naruto serta semuanya.
"Luar biasa.." ucap Sakura takjub.
Shikamaru segera melangkah maju ke depan dinding yang telah terbuka itu. Naruto kemudian berdiri di samping bocah pemalas itu. Rupanya apa yang ada dibalik dinding itu adalah sebuah lorong gelap yang entah akan bermuara dimana. Aura yang dipancarkan lorong itu terasa begitu mistis hingga tanpa sadar bocah pirang itu menggigil ketakutan. Tapi bagaimanapun keadaannya Naruto tidak bisa pilah-pilih sesuka hatinya. Jika ingin tetap hidup maka dia harus melewatinya.
"Tidak ada waktu lagi, kita harus pergi sekarang juga.." ucap Shino.
"Kau benar. Tapi sebelum itu kita harus menghilangkan jejak." Balas Shikamaru.
"Aku setuju. Jika mereka tahu kita pergi melalui jalan ini itu sama saja percuma." Sambung Sai yang setuju dengan perkataan Shikamaru.
Mendengar ucapan Shikamaru dan Sai membuat Naruto menggerutu kesal. Awalnya dia merasa masalah akan segera berakhir ketika dinding itu terbuka. Mereka bisa segera kabur dan kemudian bisa hidup bahagia. Tapi sepertinya dia memang terlalu naif. Mereka para tentara perdamaian akan terus mengejar tanpa kenal lelah. Pada saat itu pula Naruto sadar jika apa yang dikatakan kedua temannya ada benarnya juga. Membuat seolah keberadaan mereka lenyap begitu saja merupakan sebuah rencana brilian.
Sedang asyik-asyiknya memikirkan sebuah ide, perhatian Naruto segera terambil alih dengan suara dua benda keras saling bertubrukan. Bocah pirang itu dengan cepat menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya dia melihat dinding yang sebelumnya terbuka kini tertutup kembali.
"Apa-apaan ini ?" tanya Naruto panik.
"Jangan panik !" perintah Shikamaru. "Aku sekarang tahu cara kerja dinding ini."
Shikamaru berjalan mendekati tombol lima jari itu dan menempelkan ketiga jarinya ke tombol seperti yang dilakukan Naruto. Dinding itu kembali terbuka lagi dengan begitu cepat. Shikamaru menjauhkan telapak tangannya pada tombol itu dan 3 detik berselang dinding itu tertutup kembali. Bocah pemalas itu mencoba membukanya lagi namun kali ini telapak tangannya tetap menempel pada tombol lima jari itu dan hasinya dinding itu tidak tertutup seperti sebelumnya.
"Jadi salah satu dari kita harus tetap menekannya ?" tanya Shino. Shikamaru mengangguk tanda iya.
"Berapa lama waktu dari mulai dinding terbuka hingga tertutup kembali jika kau tidak menekannya?" tanya Shino lagi. Shikamaru segera melepaskan tekanan ketiga jarinya pada tombol dan dengan dengan cepat dinding itu tertutup kembali.
"4 atau 3 detik.." jawab Shikamaru.
"Dengan jarak kurang lebih sepuluh meter apa mungkin bisa? Lalu siapa yang akan melakukannya selagi kita berderap masuk?" tanya Shino lagi. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.
Naruto paham jika masing-masing dari mereka tidak tahu harus memilih siapa. Bocah pirang itu juga bisa merasakannya. Jika dia memilih orang lain itu sama halnya dengan membuat seseorang yang dia pilih berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Begitu pula jika dia sendiri yang mengajukan diri.
"Biar aku saja.." Tiba-tiba saja Shikamaru mengajukan diri.
Naruto menatap bocah pemalas itu tidak percaya. Ini tidak seperti biasanya. Setahu Naruto, Shikamaru bukanlah tipe orang yang mau melakukan hal-hal seperti ini. Bocah pirang itu menatap ke arah yang lain dan menemukan ekspresi tidak percaya tercetak jelas di wajah teman-temannya.
"Jangan pasang wajah seperti itu.." umpat Shikamaru kesal.
"Aku juga punya alasan kenapa aku mengajukan diri." ucap Shikamaru. Semua mata mulai memperhatikannya.
"Aku tidak bisa membiarkan jika Sai yang mengajukan diri. Karena kalian tahu sendiri gadis pirang ini pasti menangis." Ucap bocah pemalas itu seraya menunjuk Ino. Gadis itu mendengus kesal mendengarnya.
"Aku juga tidak bisa membiarkan bocah pirang itu yang melakukannya. Mengingat aku baru saja menggagalkan urusan pribadinya." Ucap Shikamaru seraya melirik nakal ke arah Naruto dan Sakura.
"Kalau begitu tidak ada masalah jika aku yang mengajukan diri.." kata Shino tiba-tiba.
"Tidak, tetap itu tidak bisa. Inilah mungkin saatnya bagiku bertindak heroik." Balas Shikamaru asal yang entah kenapa terdengar sangat konyol.
"Bodoh.." timpal Ino. "Yang penting kau akan segera menyusul bukan?"
"Itu sudah jelas. Lagipula aku kan hanya akan menahannya saja selagi kalian masuk." Jawab Shikamaru.
"Tapi sebelum itu, kita harus menutupi gambar-gambar ini."
Raungan mesin pengebor dan ledakan demi ledakan semakin jelas terdengar. Naruto tidak berusaha mencoba memperkirakan jarak antara mesin pengebor itu dengan permukaan tanah. Bocah pirang itu tahu jika dia melakukannya maka perutnya akan terasa mual.
Naruto kemudian menghampiri Shikamaru dan Shino yang tengah berusaha menutupi gambar gajah-manusia-semut. Awalnya mereka mencoba menutupinya dengan tanaman lumut. Namun karena tidak juga menempel, mereka berdua akhirnya mencoba mengubah sedikit gambar tersebut.
Gambar pertama yang dimodifikasi oleh Shikamaru adalah gambar manusia. Dia mengukir sayap pada gambar itu sehingga nampak seperti malaikat dan bukan manusia seperti yang sebenarnya.
Gambar selanjutnya yang diubah adalah gambar semut. Kali ini giliran Shino yang berkreasi. Bocah itu menambahkan sayap juga pada gambar itu serta memanjangkan ekornya sehingga kini lebih mirip ke arah capung alih-alih semut.
Pada awalnya Shikamaru hendak memodifikasi gambar gajah. Tapi karena merasa pihak tentara perdamaian sudah sangat dekat, dia jadi sedikit mengurungkannya. Naruto beralih ke arah Sakura, Ino dan Sai yang sepertinya telah selesai membereskan semua sampah yang sebelumnya mereka hasilkan. Naruto menatap sekeliling dan merasa cukup puas dengan usaha mereka dalam menghilangkan jejak.
"Sudah beres semua?" tanya Shikamaru yang segera dijawab dengan anggukan kepala. "Cepat masuk !"
Shikamaru kembali menekan tombol lima jari itu. Dinding pun terbuka dan satu-persatu dari mereka masuk satu-persatu. Naruto berjalan paling bontot. Setelah masuk kedalam bocah pirang itu berbalik arah dan menatap Shikamaru yang tengah menyeringai padanya.
"Sekarang lihatlah pertunjukan pelari tercepat nomer dua di dunia !" teriak Shikamaru.
Naruto tahu jika peluang bagi Shikamaru untuk bisa masuk tepat sebelum dinding itu tertutup kembali adalah tidak lebih dari 20 persen. Tapi jika bocah pemalas itu memang secepat apa yang dikatakannya maka Naruto tidak perlu khawatir.
Naruto kemudian melihat Shikamaru tengah mengambil ancang-ancang. Bocah pemalas itu segera berlari tepat setelah dia melepaskan ketiga jarinya pada tombol. Dinding itu mulai bergetar tanda akan segera tertutup kembali.
Naruto kembali mengedarkan pandangannya ke arah Shikamaru yang telah setengah jalan. Naruto pikir mungkin saja bocah pemalas itu bisa melakukannya. Terlebih teriakan yang dikumandangan teman-temannya benar-benar sangat memotivasinya. Namun ketika jarak Shikama hanya berkisar 3 meter, dinding itu berayun menutup. Refleks semua berteriak kepada Shikamaru. Bocah pemalas itu segera melompat melejutkan tubunhya ke arah dinding dengan begitu kuat.
Shikamaru akhirnya berhasil masuk diiringi bunyi derak sesuatu yang terdengar patah akibat terjepit dinding. Penasaran, bocah pemalas itu kemudian menoleh ke arah kakinya dan seketika itu pula matanya terbelalak kaget tidak percaya.
.
.
.
to be continue
.
.
.
Balasan review :
Yusup, Mxm, Chika Kyuchan, Calvingeoani : siaap..! dan terima kasih buat review dan semangatnya..
V dan Betmenpengangguran : Mungkin karena pangsa pasar genre ini gak segede genre romance (Ngomong opo tho?)
OneeKyuchan : sebenarnya siapa yah? Saya juga bingung sendiri. Maklum sejak awal saya gak terlalu fokus banget ama urusan pair.. hehe
Xoxo : saya yakin makin ke depannya anda juga semakin gak mudeng.. haha
GnB Lucky22 : wah wah kok makin lama bercandaan lucky-san makin vulgar ya? (Langsung kabuuuur...)
Febriano : sabar-sabar.. semua bisa diselesaikan secara baik-baik.. hehe
Haruko Akemi : wah saya merasa tersentuh dengan pujiannya haruko-san dan semoga saja saya gak semenyebalkan fic buatan saya..
Ndah D Amay : hayoo.. Naruto dari mana hayoo?
Gray : Iya, shika emang biangnya masalah, haha
SR not Author : Yap sebenarnya di masa depan Sakura itu bakal... (Spoiler)
