Chapter 6

Title: Music Box

Author: Lee Shikuni

Genre: Crime, mistery

Archip: drabble, sad ending, yaoi

Cast: -All members EXO

-And OC

Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!

A/n:

AUTHOR POV

Ke-8 namja tampan tengah merenung di halaman belakang sekolah mereka. Sibuk dengan pikiran sendiri. Terutama insiden-insiden teman-teman mereka yang menghilang dengan tiba-tiba dan dengan cara yang misterius.

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dan apa yang harus kita lakukan" ujar Kris memecah keheningan.

"Apa ada cara lain untuk menyelamatkan mereka?" tanya Se Hun polos. Tapi dalam sorot matanya begitu dalam perasaan kehilangan ke-4 teman mereka sekarang. Kris yang melihat itu hanya dapat tersenyum miris(?) padanya.

"Bagaimana jika ini merambat? Aku sebagai yang paling tua sekarang merasa bodoh karena tidak bisa melalukan apa pun untuk kalian mau pun untuk teman-teman kita yang hilang sekarang" keluh Lu Han. Dan Se Hun berusaha menenangkannya.

"Apa tidak ada cara untuk menghentikan ini?" celetuk Lay. Yang lain memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Apa kalian yakin ini semua hanya terjadi pada kita?" tanya Kris.

"Sepertinya begitu" jawab Se Hun.

"Mungkin" tambah D.O.

"Kita tidak punya petunjuk apa pun untuk menghentikannya" ujar Kris.

"Kecuali jika kita masuk ke rumah tua itu" gumam Su Ho. Sayangnya, yang lain terlanjur mendengarnya dan mengalihkan perhatian mereka pada Su Ho.

"Urutannya acak" gumam D.O dengan lirih. Hingga tidak ada yang mendengarnya kecuali Kai yang berada di sampingnya, menoleh dengan tatapan tak mengerti pada D.O. sedang D.O menatap tidak mengerti pada Su Ho.

"Jangan nekad Su Ho-er" peringat Kris.

"Kami tidak mau kehilanganmu juga" lirih Lu Han.

"Apa bisa kita teliti dari awal? Mungkin kita akan dapat petunjuk. Pertama dari Chan Yeol Hyung. Lalu merambat pada Baek Hyun Hyung. Xiu Min Hyung, dan sekarang Chen Hyung. Dan ada hubungannya dengan musik yang memekakkan telinga kita kurasa" jelas Se Hun panjang+lebar. Yang lain memperhatikannya dengan seksama.

"Mau diurutkan berdasarkan apa? Target selanjutnya saja kita tidak tahu" ujar Kai. Se Hun terdiam dengan pikirannya yang kacau, juga kebingungan yang ia buat sendiri. Niatnya hanya meluruskan insiden yang sudah terjadi.

"Semoga saja bukan kita" gumam Kris.

ΩΩΩ

Su Ho baru saja pulang larut malam ini. Mereka berkumpul hingga larut. Mungkin karena terlalu frustasi dengan kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka akhir-akhir ini.

Selama perjalanan pulang, Su Ho terus saja memikirkan tentang suara-suara aneh yang berasal dari rumah itu. Saat sudah berada di rumah pun, dia hanya menatap kosong jendela kamarnya sembari melihat langit malam. Dia merindukan kelengkapan teman-temannya. Mereka terlalu istimewa untuk menghilang(?). Karena tidak mau pikirannya semakin campur aduk yang bisa saja membuat kepalanya pusing seketika, dia memilih untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

ΩΩΩ

Su Ho terbangun. Dia melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 2 dini hari. Dan nafasnya memburu juga keringat bercucuran di tubuhnya. Dia baru saja bermimpi buruk bahwa Kris akan masuk ke dalam rumah tua itu. Ia mencoba menghentikannya tapi dia malah terbanting kejurang(?) yang dalam hingga ia terbangun sekarang.

Su Ho segera meraih ponselnya dan mencari kontak nama 'Kris Hyung', meski ia tidak yakin orang yang bernama lengkap 'Wu Yi Fan' itu akan mengangkatnya saat waktu tidur, setidaknya dia ingin memastikan dahulu mimpinya tidak benar-benar terjadi.

Beberapa nada sambung terdengar. Tapi tak juga di jawab dari seberang sana. Su Ho semakin gelisah, hingga akhirnya ia putuskan untuk mematikan sambungannya. Lalu mengirim pesan yang berisi menanyakan kadaan Kris. Setelah selesai, Su Ho membanting ponselnya ke sampingnya. Lalu mulai mengatur nafasnya. Bayangan-bayangan mimpinya seperti menari-nari di matanya.

Tapi setelah itu, dia malah makin gelisah. Dan sekarang keputusannya sudah bulat. Dia bangun dari tidurnya dan segera menyambar jaket kulit cokelatnya. Dengan perlahan dia keluar dari kamarnya, lalu mengendap-endap hingga keluar lewat pintu utama. Untung ke-2 orang tuanya tidak terganggu. Setelah berhasil keluar, yang ada di pikiran Su Ho hanyalah memastikan Kris tidak ada di sekitar rumah tua itu sekarang. Meski merasa mustahil Kris ada di sana. Tapi dia tetap ingin melihat buktinya. Toh ini tidak akan lama.

Masih dengan memakai piyama tidurnya, Su Ho berlari menghalau udara dingin yang menyapa kulit putihnya. Yah, udara memang dingin, tapi di dalam tubuhnya ia merasa panas tak karuan.

Hingga ia tinggal beberapa meter lagi dari rumah itu Su Ho memelankan langkahnya, dan berhenti beberapa meter dari seorang namja yang tengah memperhatikan rumah tua itu. Su Ho mengernyitkan dahinya.

'Tidak mungkin…' batin Su Ho. "Kris Hyung?" sapa Su Ho memastikan jika orang itu benar orang yang ia cari, meski keinginan hatinya berkata sebaliknya. Namja itu menoleh dan terlihat terkejut mendapati salah satu temannya dini hari begini ada di sini. "Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?" tanya Su Ho dan perlahan mendekati Kris.

"Kau sendiri?" tanya Kris dengan tatapan aneh juga padanya.

"Aku… Aku hanya memastikan sesuatu yang harusnya ini tidak terjadi" jawab Su Ho seadanya. Kris menatapnya tak mengerti. "Kenapa Hyung belum pulang? Kenapa Hyung tidak pulang? Ini sudah dini hari. Sudah berapa lama Hyung ada di sini? Memangnya Ahjumma dan Ahjussi tidak mencari? Kenapa tidak menjawab telponku? Kenapa tidak membalas pesanku? Jangan buat kami khawatir" ucap Su Ho panjang lebar menjabarkan seberapa khawatirnya ia dari nada bicaranya.

"Dari kita bubar tadi aku memang di sini. Dan… ntah kenapa aku ingin lewat sini meski jalan kerumahku jadi memutar karena lewat sini, dan di akhiri aku terdiam menatap rumah tua itu. Tapi sungguh, Su Ho-er, aku tidak mendengar apa pun. Getar pesan masuk, atau pun nada dering ponsel. Aku tidak mendengar dan merasakan apa pun" jawab Kris sembari merangkul Su Ho supaya dia tenang. Dapat Kris rasakan baju Su Ho yang basah karena keringat meski terbalut jaket juga nafasnya yang masih memburu. Kris mengelus-elus punggu Su Ho supaya dia tenang dan beralih meraih ponselnya untuk memastikan. Dan ternyata benar. 1 panggilan tak terjawab dan 1 pesan dari Su Ho. "Kau demam Su Ho-er? Kenapa sepertinya bajumu basah?" tanya Kris mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ani. Aku hanya bermimpi buruk. Makanya aku kesini untuk memastikan setelah mencoba menghubungimu" jawab Su Ho.

"Sampai seperti ini? Memang kau bermimpi buruk seperti apa hingga kau harus memastikan keluar, dan kesini sekarang juga?" tanya Kris penasaran. Su Ho terdiam sejenak.

"Aku bermimpi Kris Hyung akan masuk ke dalam rumah tua itu. Aku mencoba menghentikanmu tapi aku malah terbanting kejurang(?) yang dalam hingga aku terbangun. Saat sampai di sini, aku sudah terkajut setengah mati menemuka Hyung ada di sini. Kupikir mimpiku akan jadi kenyataan" jawab Su Ho.

"Tidak apa. Aku tidak apa-apa. Sekarang lebih baik kita pulang. Aku akan mengantarmu" ucap Kris tenang.

"Ani. Hyung pulang saja. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula ini sudah pagi. Hyung harus segera pulang dan istirahat, kan? Besok masih ada jadwal sekolah. Aku sudah istirahat sebelumnya" tolak Su Ho lembut. Mendengar itu, Kris tidak dapat membantah. Dia tidak mau bertengkar dulu dengan Su Ho sekarang, dan memang dia lelah.

"Baiklah. Hati-hati di jalan, Su Ho-er" pamit Kris yang mendapat anggukan dan senyum angelic dari Su Ho.

"Nado~" ucap Su Ho lirih.

Suho terus memperhatikan Kris hingga menghilang di perempatan depan. Lalu melihat kesebelah kirinya. Rumah tua itu terlihat sangat besar dan menyeramkan dari sebelumnya menurut Su Ho. Ntah karena di dukung cahaya yang minim. Karena meski pukul 3 di sebut pagi, tapi matahari belum nampak ingin muncul.

Lama ia memperhatikan rumah itu, hingga sebuah musik terdengar di telinganya. Musik yang begitu menghanyutkan dan sangat nyaman di dengar. Tapi Su Ho masih terjaga. Perlahan dia mencoba masuk rumah tua itu. Niatannya mendapat sedikit petunjuk untuk teman-temannya nanti pagi.

Setelah berhasil masuk kedalam rumah tua itu tanpa rasa takut, Su Ho masih melihat sekitar untuk waspada dengan masih alunan musik itu terdengar. Su Ho menatap sekeliling rumah itu. Ruangan yang di tempatinya, mungkin semacam ruang tamu. Yah~ Dan jangan lupakan debu dimana-mana.

Karena masih penasaran, Su Ho mencoba berkeliling. Dan ntah kenapa dia tertarik pada sebuah lorong di sebelah kanan ruang tengah rumah itu. Setelah menyusurinya, dia sama terkejutnya seperti Xiu Min waktu itu. 2 sosok namja yang ia rindukan tergolek tak bernyawa di hadapannya.

'Itu Chan Yeol Hyung dan Baek Hyun Hyung!' batinnya menjerit. Karena tidak kuat dengan pemandangan di depannya, ia segera berbalik pergi, meski matanya sudah tertutupi kabut air mata yang bisa jatuh kapan saja.

Otaknya mulai berpikir lagi. Saking kerasnya berpikir dan terlalu syok dengan apa yang ia lihat, ia sampai tidak menyadari jika musik itu sudah berhenti. Dia berpikir, jika BaekYeol Couple ada di sini, mungkin Chen dan Xiu Min juga ada di sini. Dan ntah insting dari mana, ia berlari kearah dapur. Dan lagi-lagi dia terkejut. Bahkan hampir meneriaki nama salah satu teman mereka yang hilang.

'Xiu Min Hyung! Oh, God! Apa yang sudah terjadi di rumah ini? Apa yang terjadi pada mereka?' batin Su Ho lagi. Lagi, ia berlari keluar dari dapur berharap bisa melihat Chen Hyung di lain ruangan atau berharap bisa bertemu Chen nanti pagi di sekolah tanpa kekurangan di tubuhnya. Atau… malah kau yang akan mengurangi jumlah temanmu, Su Ho.

Su Ho agak mengatur nafasnya saat sampai lagi di ruang tengah rumah itu. Dia berhenti sejenak di sana. Mengusap keringat juga air matanya yang sudah membendung dengan gerakan kasar.

Dan lagi-lagi dia tertarik pada sebuah lorong di sebelah kiri ruang tengah. Dia hanya mengikuti kata hatinya untuk melangkah ke sana. Ingin melihat isi lorong itu yang mungkin dia akan temukan sebuah ruangan. Sedari tadi otaknya terus menyimpan apa yang ia lihat. Garis besarnya, seluruh teman-temanya yang hilang sudah meninggalkan mereka dengan keadaan yang mengenaskan. Dia hanya tinggal memastikan Chen tidak di sini.

Langkahnya semakin pelan saat melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit. Di dalamnya benar-benar gelap. Dan lorong yang ia masuki ini sangat pengap, tidak seperti lorong yang tadi, yang masih memiliki 2 jendela sebagai fentilasi udara.

Matanya mengernyit saat melihat ke bawah pintu itu. Ada sesuatu yang mengganjal di sana. Seperti… sepatu? Su Ho semakin mencoba untuk mempertajam penglihatannya di tengah lorong dengan gelap yang temaram(?) ini.

KRIEETT….

Su Ho mencoba membuka pintu itu. Agak sulit membukanya karena ada yang mengganjalnya, yang Su Ho pikir itu hanya sebuah sepatu.

Setelah pintu terbuka ia melihat sekeliling ruangan itu. Gelap. Dia mulai berjalan masuk ke ruangan itu. Tapi dia tetap tak bisa melihat apa isi ruangannya yang ia kira itu kosong. Kakinya semakin melangkah masuk tanpa sadar, dan tak sengaja menyenggol sesuatu yang cukup keras dan berat.

Su Ho menundukkan kepalanya berniat untuk melihat apa yang ia senggol. Mungkin… semacam petunjuk? Dan saat matanya mencoba mempertajam penglihatannya kembali, dia mulai merasa aneh, ada benda yang berbentu persegi –Ia rasa—dan ukurannya cukup besar. Su Ho merundukkan dirinya di dekat benda persegi yang sudah usang dan di penuhi debu itu, lalu menyentuhnya. Beberapa debu menempel di jari-jarinya. Lalu dia mengernyit. Di ketuknya benda persegi itu.

TUK! TUK! TUK!

Rasanya benda ini tak asing. Lalu Su Ho menyelusuri sebelah kanan benda persegi itu dan menemukan seonggok baju. Eh? Baju? Su Ho terus menelusurinya hingga berhenti pada sepatu yang mengganjal pintu.

Dan setelah sedikit berpikirin di keremangan(?) cahaya, Su Ho terlonjak kaget hingga ia jatuh terduduk. Perlahan air mata yang tadi sudah hilang mulai menuruni pipinya. Dengan mulut menganga ia melihat 'seonggok pakaian' itu yang ternyata adalah salah satu temannya yang terakhir menghilang –Setelah dia sadar jika itu Chen.

"C-Chen Hyung…" lirih Su Ho.

Keadaannya… sangat mengenaskan menurut Su Ho. Posisi Chen tengkurap, dengan kaki yang agak menghalangi pintu. Tapi kepalanya… kepalanya… ntah hilang kemana. Ntah hancur di bawah benda persegi ini yang tenyata adalah oven yang tak bisa di ragukan lagi beratnya, dan sakitnya jika terkenal kepala. Dan Su Ho memprediksikan bahwa kepala Chen pasti hancur saat ia membuka pintu ini dan ntah bagaimana tiba-tiba oven ini jatuh tepat di kepalanya. Kira-kiranya, itulah yang terjadi pada Chen.

Dia tak habis pikir. Bagaimana bisa penghuni rumah lama menyimpan ovennya di atas pintu seperti itu? Usil sekali dia?

Tiba-tiba ingatan Su Ho kembali pada saat ia membaca keterangan polisi tentang keadaan rumah ini.

"Tidak ada jejak kaki sama sekali di dalam rumah itu. Tidak ada korban atau pun orang di dalam sana. Benar-benar seperti rumah lama yang tidak pernah di sentuh"

Dan ini tidak mungkin. Sedang dia sekarang jelas-jelas melihat 4 jasad teman-temannya yang menghilang. Tidak. Dia harus pergi dari sini, dan memberitahu teman-temannya.

Su Ho bangun dari lamunannya, lalu menghapus air matanya kasar. Dia berlari secepat yang ia bisa hingga sampai ke pintu utama rumah tua ini. Lagi-lagi alunan musik terdengar di telinganya saat ia keluar dari ruangan tadi. Firasatnya buruk.

JLEB!

Baru saja ia mencapai gagang pintunya, ia menghentikan pergerakannya. Atau terhentikan? Musik pun berangsur berhenti mengalun dan membuat keheningan di campur bau karat yang menyeruak kembali di rumah itu.

Coba kita lihat, apa yang terjadi. Sebuah panah, atau mungkin bisa Shi sebut tombak yang cukup panjang menusuk punggung bagian kirinya. Dan merusak tulang iganya hingga berhasil membuat jantungnya keluar dari tempatnya dan tertancap di pintu utama. Seketika itu juga Su Ho kehilangan nafas terakhirnya, tanpa bisa mengucapkan kata-kata terakhirnya. Dan jasadnya tergantung dengan posisi berdiri di tanah yang hanya bergantung pada tombak yang cukup kuat itu untuk menopang tubuhnya yang kini sudah tak bernyawa lagi.

Sudah kukatakan. Kau yang akan mengurangi sendiri jumlah teman-temanmu, menjadi 7 orang!

ΩΩΩ

"Kalian melihat Su Ho-er?" tanya Kris saat jam istirahat di kanti sekolah mereka. Bertanya pada 6 orang di depannya yang dengan kompaknya sedang mengunyah makanan. Dan ke-6 orang itu menggeleng kompak. "Dari pagi?" tanya Kris lagi. Dan mereka mengangguk. "Kemana dia?" gumam Kris. 'Tak ada informasi, tak ada sosoknya. Kuharap yang kami takutkan tak terjadi. Atau jangan-jangan…' batin Kris kacau.

AUTHOR POV END

TBC~

A/n: Eotthe? Masih kurang panjang? Jeosonghamnida klo FF-nya gk horror atau gada serem2nya sama sekali. Dan pas bgt bagian ini, Shi hampir aja bingung mau bikin cra bunuh Su Ho Hyung yg sadis gmn. ._. #DiBantaiEXO-L# Gamsahamnida udh bca. Review, please… ^^