Hallo rekan sejawat semua..! Saya datang lagi loh dan saya bawa chapter baru loh. Jadi tolong dibaca loh dan jangan lupa di review loh.. hahaha
.
.
Chapter 11
.
.
.
Naruto bersumpah sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat hal yang lebih gila daripada ini. Tepat di depan matanya, sebuah kepala besar menggelinding setelah terpisah dari tubuhnya akibat terjepit dinding ketika mencoba memaksa masuk. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke arah teman-temanya dan dia menemukan ekspresi terpaku penuh tanda tanya tertera di wajah mereka semua.
Naruto melirik Shikamaru. Bocah pemalas itu ternyata sama terkejutnya dengan yang lain. Gerak tubuh bocah itu bahkan terlihat mengeras kaku ketika kepala itu berhenti menggelinding dengan posisi wajah tepat menghadap ke arah Shikamaru. Naruto yang merasa penasaran segera menghampirinya.
Betapa terkejutnya Naruto ketika melihat wajah yang tercetak pada kepala itu. Bukan wajah seorang manusia yang didapatkan, tetapi sebuah wajah hewan buas bermata merah darah disertai bentuk hidung menyerupai mesin pengebor. Naruto kemudian mencoba menyentuhnya dan fakta baru telah dia dapatkan. Kepala itu bukanlah kepala hewan ataupun kepala manusia melainkan kepala sebuah robot.
"Kalian semua segera lari sejauh mungkin !" teriak Shikamaru dengan suara yang bergetar.
Naruto dan yang lainnya bertukar pandang setelah mendengar penuturan Shikamaru. Shino yang seolah merasakan sesuatu hal yang buruk segera memerintahkan teman-temannya untuk segera lari yang hanya tinggal menyisakan Naruto dan Shikamaru saja.
"Ada apa ?" tanya Naruto penasaran.
"LARI !" teriak Shikamaru.
Setelah memberikan aba-aba pada Naruto, bocah pemalas itu segera bangkit. Dia lalu menarik lengan si bocah pirang dan segera menyeretnya pergi sejauh mungkin dari kepala logam itu. Seketika kepala itu meledak dahsyat tepat ketika jarak keduanya telah mencapai jarak 10 meter dari tempat kepala logam itu berada.
Tubuh Naruto dan Shikamaru terdorong ke depan dengan begitu kuat. Punggung bocah pirang itu terasa begitu remuk dan terbakar akibat ledakan itu. Rasanya seperti tubuhnya dijadikan kambing guling namun sebelum itu dimasukan di dalam karung dan dipukuli terlebih dahulu. Naruto menoleh ke sampingnya dan menemukan Shikamaru yang keadaannya sama kacaunya.
Naruto kemudian mencoba berdiri kembali. Tepat saat itulah rasa sakit yang begitu terperi terasa di sekujur tubuhnya. Tubuh bocah pirang itu benar-benar telah remuk akibat ledakan dahsyat seperti sebelumnya. Pada akhirnya bocah pirang itu hanya bersandar pasrah berharap Shino dan yang lainnya kembali untuk sekedarnya memberikan pertolongan pertama.
Dari jauh, sayup-sayup mendengar deru langkah kaki semakin mendekatinya dengan Shikamaru. Naruto berharap semoga pemilik langkah itu adalah Shino dan yang lainnya. Jika sampai tidak maka sudah dipastikan nasib mereka berdua akan segera tamat.
"Oh Sial.. apa yang terjadi pada kalian ?" teriak Shino panik sedangkan Naruto menghela nafas lega.
"Kepala logam itu meledak.." jawab Naruto kesusahan.
Sakura segera menghambur ke arah Naruto bermaksud memberikan pertolongan seadanya. Semisal memberikan antiseptik pada luka-luka Naruto dan kemudian membalutnya dengan perban ataupun plester seadannya. Hal yang sama juga terjadi pada Shikamaru yang saat ini tengah diobati oleh Ino.
Bunyi berdebum ledakan terdengar begitu memekakan telinga. Suara dahsyat itu sudah sangat jelas berasal dari arah dinding. Tentara perdamaian rupanya begitu kesulitan memecahkan teka-teki untuk membuka dinding sehingga pada akhirnya lebih memilih untuk meledakan dinding. Sepertinya usaha Shikamaru dan Shino dalam mengacaukan petunjuk tentang cara membuka dinding cukup berhasil.
"Menurutmu, seberapa kuat dinding itu mampu bertahan ?" tanya Shikamaru pada Shino.
"Aku tidak tahu. Sebenarnya bukan hal itu yang saat ini aku khawatirkan." Balas Shino dengan raut wajah yang sulit dibaca.
"Apa ini tentang kepala logam itu?" tanya Sai.
Shino tidak menjawab pertanyaan Sai. Bocah itu hanya tertunduk diam.
"Robot hewan. Mereka membawa 4 robot hewan dalam perburuan kali ini. Aku melihatnya sekilas sebelum dinding itu tertutup." ucap Naruto yang lenganya tengah dibalut perban oleh Sakura.
Semua mata tertuju pada Naruto sekarang. Tanpa diberitahupun bocah pirang itu tahu, jika teman-temannya tengah menunggu penjelasannya terkait tentang robot hewan yang baru saja dia ucapkan.
"Mereka disebut Kyofu. Salah satu proyek terbesar keluarga Uchiha beberapa tahun terakhir." Jawab Naruto yang entah kenapa dia juga sendiri tidak tahu dari mana pemikiran itu berasal.
"Kau.. bagaimana bisa tahu tentang itu ?" tanya Shino seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Naruto.
"Aku juga tidak tahu. Pemikiran itu muncul begitu saja di kepalaku.." Jawab Naruto mencoba menjelaskan betapa dia sendiri tidak mengerti akan hal itu.
"Aku melihat wajah robot hewan itu. Dia adalah robot tikus mondok. Terlihat dengan jelas dari bentuk hidungnya yang menyerupai bor. Aku juga berani bertaruh jika robot itulah yang menggali jalur bawah tanah untuk tentara perdamaian." balas Shikamaru.
Sakura dan Ino terlihat telah selesai mengobati Naruto serta Shikamaru. Mereka berdua kemudian mencoba bangkit meskipun sedikit kesulitan dan saat itu pula bunyi ledakan terdengar kembali. Lantai dan atap lorong bergetar begitu hebat hingga membuat serpihan-serpihan retakan yang terdapat di atap lorong berjatuhan sekitar. Merasa keadaan akan bertambah buruk, mereka segera berlari menjauhi dinding.
Mereka berlari beriringan dengan formasi dua-dua. Di bagian depan Shino dan Shikamaru memimpin. Pada bagian tengah diisi oleh Sakura dan Ino sedangkan Naruto serta Sai berada di bagian paling bontot.
Naruto terus menoleh ke arah belakang dengan begitu khawatir. Sai yang ada di sampingnya hanya berlari dengan diam tanpa ada minat membuka sebuah obrolan. Di bagian depan Shikamaru tiba-tiba saja menghentikan lajunya yang diikuti yang lain. Penasaran, Naruto segera melangkah ke depan bermaksud bertanya pada Shikamaru.
"Ada apa ?" tanya Naruto.
"Kau bisa lihat sendiri." Balas Shikamaru dengan nada putus asa.
Naruto kemudian menatap ke depan. Betapa terkejutnya bocah pirang itu saat mengetahui apa yang tercetak jelas di matanya. Lorong ini adalah sebuah jalur buntu dengan jurang tanpa dasar sebagai ujungnya.
Naruto mengumpat kesal dengan kenyataan ini. Dia merasa telah dibodohi. Bocah pirang itu kemudian merosot duduk memandang hampa jurang tanpa dasar di hadapannya. Dia tidak tahu harus meluapkan emosinya seperti apa saat ini. Sekarang yang dia inginkan hanya berdiam diri sejenak tanpa melakukan apapun.
"Kita harus berbalik lagi. Mungkin saja kita telah melewatkan jalur yang lain." Ucap Ino penuh harap. Kenyataannya sejak mereka berlari menelusuri lorong tidak ada satupun jalur lain.
"Jangan bercanda Ino.. Kau sendiri paham jika tidak ada jalur lain !" timpal Shikamaru.
"Kalau begitu kita kembali lagi ke arah dinding. Mungkin saja mereka tidak lagi me..mengejar ki...kita." balas Ino mulai tersedu. Sakura segera memeluk gadis pirang itu mencoba menenangkannya.
Naruto menatap satu-persatu wajah teman-temannya. Tidak sekalipun dia menemukan ekspresi seputus asa ini sebelumnya. Bocah pirang itu kemudian mulai memikirkan sebuah jalan keluar yang cukup gila. Dia yakin dengan ini maka semua akan berakhir. Setidaknya teman-temannya akan baik-baik saja jika dia melakukannya.
"Ada yang ingin kukatakan pada kalian.." ucap Naruto serius.
Tidak ada yang menjawab. Tapi setidaknya teman-temannya menatap bocah pirang itu.
"Demi kebaikan kalian, sebaiknya aku.."
"Tahan sebentar ucapan melankolismu, bung.." sergah Shikamaru cepat sebelum Naruto melanjutkan ucapannya.
"Lihat itu !" tunjuk Shikamaru pada sesuatu di dinding. Sontak semua mata segera bergegas menuju ke arah yang Shikamaru maksud.
Tepat dinding lorong Naruto melihat sekawanan semut berbaris rapi berjalan menuju ke arah jurang. Dia masih belum paham apa menariknya pemandangan itu. Bocah pirang itu kemudian mencoba memperhatikannya lebih seksama. Matanya melebar seketika saat melihat sekawanan semut itu seolah menghilang setelah melewati batas terakhir dinding lorong.
Naruto harap kali ini perkiraannya benar. Dengan tergesa bocah pirang itu segera tepian jurang. Dia kemudian mengulurkan tangannya pada pemandangan yang tersaji di depan mata. Sesuai perkiraannya, tangan bocah pirang itu seolah menembus dan menghilang. Dia menoleh ke belakang dan mendapat anggukan dari teman-temannya.
"Sebuah hologram.." Ucap naruto yakin. "Ayo segera bergegas !"
"Tunggu dulu, bung. Apa kau tidak mengecek terlebih dahulu apa yang ada dibaliknya?" tanya Shikamaru.
Saking begitu semangatnya, Naruto sampai melupakan hal terpenting itu. Tanpa buang waktu bocah pirang itu segera melongokan kepala kuningnya menembus hologram. Betapa takjubnya dia setelah melihat apa yang terdapat dibalik hologram itu. Sebuah ruangan auditorium dengan dekorasi bertema Yunani.
"Kalian bakalan terhibur dengan apa yang ada dibalik hologram ini" ucap Naruto yang telah menyelesaikan sesi peneyelidikannya.
Mendengar penuturan Naruto, ekspresi yang ditampakan dari semua teman-temannya begitu beragam. Ada yang nampak tidak peduli seperti Shikamaru, kelegaan seperti Ino, antusiasme seperti Sakura. Sedangkan untuk Sai dan Shino, mereka berdua tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Ayo, kita harus segera bergegas !" ucap Shikamaru.
Shikamaru mulai melangkah masuk menembus hologram. Kemudian diikuti Shino, Sakura, Ino, Sai dan diakhiri Naruto. Sebelum seluruh tubuhnya masuk ke dalam hologram, tanpa sengaja Naruto menoleh ke belakang dan melihat sekelebat bayangan dari ujung lorong berderap cepat menuju ke arah Naruto dan teman-temannya.
"Lari !" teriak Naruto. "Cepat lari ! mereka ada di belakang kita !"
Naruto dan teman-temannya segera berderap cepat memasuki ruang auditorium. Keadaan yang awalnya terasa akan baik-baik saja seketika berakhir dengan kecepatan penuh. Padahal dalam hati Naruto ingin sekali mengagumi seni arsitektur khas Yunani yang terasa kental pada ruangan ini. Tapi sayang sungguh sayang bocah pirang itu harus lebih bersabar menahan gejolak cita rasanya itu.
Mereka menyebrangi ruang auditorium begitu saja tanpa menoleh kemanapun. Mereka bahkan tidak sempat melirik sebentar saja patung malaikat yang tengah mengepakkan sayapnya dengan anggun yang tepat berdiri di tengah ruangan auditorium. Mungkin mereka menganggap karya seni tidak ada artinya jikalau nyawa telah tiada.
Mereka telah sampai di tepian auditorium. Shikamaru kemudian menemukan sebuah pintu kecil yang mungkin tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Tanpa banyak berdebat mereka segera berlari ke sana.
Derap langkah terdengar memasuki ruang auditorium diikuti suara-suara aneh seperti bunyi mesin yang tengah bergerak. Naruto bisa mendengarnya dengan jelas lantaran dia masih belum beranjak dari tepian pintu. Naruto tahu dia seharusnya berlari mengikuti teman-temannya. Tapi entah kenapa seolah sebuah dorongan membuat bocah pirang itu merasa enggan untuk pergi dari tempat itu.
Masih mengamati, Naruto akhirnya dapat dengan jelas melihat orang-orang yang mengejarnya. Jika dilihat, mereka memakai seragam yang sama dengan pria berkulit putih yang telah ditembak oleh Sakura. Mereka hanya berjumlah 3 orang dan itu membuat Naruto merasa sedikit lega. Namun kelegaannya segera sirna ketika melihat 3 makhluk aneh dengan tinggi sekitar 2 meter berderap di sekitar 3 tentara itu seraya mengendus-endus tanah dan mengeluarkan desisan-desisan yang terkesan bengis. Naruto tidak tahu jika mereka terlihat lebih mengerikan meskipun sebelumnya dia telah melihatnya meskipun cuma sekilas. Bocah pirang itu bahkan tidak bisa menganggap ketiga makhluk-makhluk itu sebagai robot lantaran bentuknya yang kelewat mengerikan. Mungkin sebutan monster lebih tepat bagi mereka.
Jika dilihat lebih jelas, 3 monster itu memang berbentuk menyerupai hewan. Yang berdiri paling kiri, monster itu menyerupai seekor platypus. Monster yang berada di tengah bisa dibilang menyerupai seekor burung kolibri dan yang terakhir berbentuk seperti ternggiling.
Naruto berpikir, jika ketiga monster itu memiliki bentuk yang berbeda-beda, mungkin saja mereka juga mempunyai peranan yang berbeda pula. Bocah pirang itu kemudian teringat ucapan Shikamaru yang mengatakan mungkin saja monster yang mirip tikus mondok itulah yang menggali lubang. Mengingat bentuk tubuh monster itu sangat mendukung.
Naruto terus mengamati mereka hingga tanpa sadar tatapan matanya beradu pandang dengan monster berbentuk platypus. Makhluk itu kemudian menyeringai penuh kengerian kepada Naruto yang membuat jantung bocah pirang itu berhenti berdetak. Dia tahu harus segera berlari. Tapi kakinya terasa mati saking ketakutannya. Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa ketika monster itu mulai bergerak ke arahnya.
"Mereka berlari ke sana !" teriak salah satu tentara perdamaian saat menyadari monster platypus itu berlari menuju ke arah Naruto berada.
Naruto semakin panik ketika monster platypus itu semakin mendekatinya. Dia terus berusaha menggerakkan tubuhnya. Bocah pirang itu akhirnya berhasil menguasai dirinya kembali. Dengan langkah terseok-seok bocah itu mulai melangkahkan kakinya menjauh.
Naruto akhirnya mulai melangkah lebih cepat dan lebih cepat lagi hingga akhirnya dia berlari dengan cepatnya. Raungan dan teriakkan dari tentara perdamaian serta monster-monsternya bergaung mengiringi di belakang. Naruto mencoba mengacuhkannya. Dia tidak peduli, yang bocah itu pikirkan sekarang adalah berlari dan berlari.
Naruto melihat sebuah jalan bercabang di depan. Tanpa pikir panjang, dia memilih jalan sebelah kiri. Naruto kemudian tersentak ketika teringat jika selama berlari sejak tadi bocah pirang itu belum berpapasan dengan teman-temannya. Dia berharap semoga saja teman-temannya tidak memilih jalan yang berbeda dengannya.
Merasa suara monster-monster itu mulai tak terdengar lagi, Naruto menghentikan larinya. Dia tersengal. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya. Bocah pirang itu kemudian bersandar pada dinding mencoba beristirahat sejenak. Tapi waktu istirahatnya seolah terbang begitu saja ketika seseorang membekapnya dari belakang.
"Hei..hmmp.." teriak Naruto selagi meronta.
"Diaaam.." ucap Orang itu.
Ucapan orang itu justru membuat rontaan Naruto semakin menjadi. Bocah pirang itu bahkan berhasil meninju wajah orang itu dengan sikunya. Orang itu terdengar meringis kesakitan dan kemudian melepaskan Naruto begitu saja. Merasa bebas, bocah pirang itu segera menatap orang yang membekapnya. Mata birunya melebar seketika itu.
"Shi.. Shino.." ucap Naruto tidak percaya.
"Iya, ini aku.. dan terima kasih untuk ini !" jawab Shino yang kentara kesal seraya menutup pintu.
"Maaf.." balas Naruto menyesal.
Naruto kemudian melihat ke sekelilingnya. Saat ini dia tengah berada di sebuah ruangan gelap nan kecil yang mungkin kira-kira luasnya hanya sekitar 16 meter persegi. Dia tidak mempermasalahkannya. Naruto bahkan bersyukur karena semua teman-temanya berada di tempat itu dengan selamat.
"Apa yang kalian lakukan disini ?" tanya Naruto penasaran.
"Kami sedang bersembunyi. Aku merasa ada yang sedang mengawasi kita." Ucap Shikamaru dalam kegelapan.
"Bukan hanya Shikamaru. Aku dan Sakura juga merasakannya." Tambah Sai.
"Mereka ?" Naruto berharap pendengarannya salah. Karena jika memang benar maka Naruto tidak tahu seberapa buruknya keadaan mereka. 3 tentara serta 3 monster saja belum tentu bisa dia atasi.
"Ya.." jawab Shikamaru singkat.
"Mungkinkah mereka juga adalah tentara perdamaian ?" tanya Naruto kembali.
"Aku tidak tahu. Tapi jika melihat seberapa senyapnya mereka bergerak, aku yakin mereka adalah pembunuh profesional." Balas Shino.
Jantung Naruto seolah terpacu lebih cepat mendengar penuturan Shino. Jika apa yang diperkirakan oleh Shino benar, maka dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya berserta teman-temannya.
"Aku rasa bukan. Jika mereka ingin membunuh kita, seharusnya mereka sudah melakukannya sejak tadi." Ucap Shikamaru memberikan tanggapannya.
Naruto mengangguk tanda setuju dengan ucapan Shikamaru. Sedangkan teman-temannya tidak ada yang memberikan komentar. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke arah Shino yang tengah mengintip keluar melalui celah pintu.
"Aku tidak melihat pergerakan yang mencurigakan. Ayo cepat kita keluar." Ucap Shino memberitahu.
Semua mulai bangkit dari duduknya. Satu per satu mereka keluar dari ruangan dipimpin Shino yang berjalan di depan. Naruto tersentak ketika seseorang merangkul tangannya. Bocah pirang itu menoleh dan kemudian tersenyum saat tahu jika orang itu adalah Sakura.
"Kau baik-baik saja ?" tanya Naruto.
"Ya, mungkin hanya sedikit.." ucapan Sakura terhenti ketika manik matanya menatap sesuatu di hadapannya.
"Sial.." umpat Naruto kesal.
"Akhirnya kami menemukan kalian semua, anak-anak bandel.." Ucap salah satu tentara perdamaian dengan seringai mengerikan.
Naruto mengumpat dalam diam. Shikamaru serta Shino juga sepertinya melakukan hal yang sama. Sedangkan Ino, gadis itu nampak memeluk lengan Sai ketakutan. Sama halnya yang tengah dilakukan Sakura pada Naruto. Bocah pirang itu kemudian menatap ke arah 3 monster di hadapannya. Mereka terlihat tengah menggeram bengis seolah telah bersiap diri untuk segera menerkamnya hidup-hidup.
"Kami juga.." Ucap seseorang di belakang Naruto.
Bocah pirang itu kemudian menoleh dan mata birunya melebar ketika menemukan 3 orang berdiri di belakangnya lengkap dengan senjata.
.
.
.
to be continue
.
.
.
Balasan Review :
The kidsno oppai, Cheerysand & xexeed : Siaaap..! makasih buat review nya.
Yusup Hidayat : soal sudut pandang saya nyoba kaya yang ada di novel-novel dimana tokoh utama selalu ada di setiap scene.
Ndah D Amay : semua kegalauan anda tentang naru telah terjawab di chapter ini.
GnB Lucky : Oke, oke. Jadi manggilnya Galura apa G-A-L-U-R-A ? #kabuuuur
OneeKyuuChan : sebenernya aku juga udah gatel banget pengen ngasih tahu loh.. tapi ntar kan gak penasaran lagi..
Riyuzaki, Hikari & Chika : Soal siapa yang nahan pintu, udah kejawab di chapter ini.
SR not Author : Awal rencana iya, tapi gak tahu ke depannya gimana.
Palvection : terima kasih akhirnya baca juga fic ini, hehe... kalo masalah review sih aku juga gak tahu. Mungkin aja emang pangsa pasarnya gak segede fic genre romance jadi wajar aja kalo reviewnya dikit.
Haruko akemi : haha, maaf kalo suka bikin kesel haruko san. Tapi lama-kelamaan bakalan biasa..
Inuzukarei : Wah, terima kasih karena udah baca dan saya sangat salut dengan daya imajinasinya.. terima kasih buat reviewnya.
