Chapter 7
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mistery
Archip: drabble, sad ending, yaoi
Cast: -All members EXO
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!
A/n: Gamsahamnida bwt yg udh review… ^^ Jeosonghamnida baru next skrg. Shi bru bsa nulis skrg. Sibuk soalnya, persiapan UN kls 9. Tugas numpuk. xP. Oh, happy reading… ^^
AUTHOR POV
6 orang namja tengah berkumpul di halaman belakang sekolahnya. Padahal keadaan sekolah sudah sepi karena ini sudah waktunya pulang. Tapi mereka tetap berada di sekolah. Membicarakan sesuatu.
"Ada yang dapat kabar dari Su Ho Hyung?" tanya Se Hun polos. 4 orang lain menggeleng. Kecuali seorang.
"Kata Ahjumma, Su Ho-Gege menghilang saat pagi hari. Dia tidak di kamarnya. Dan dia meninggalkan ponselnya. Dan, orang yang terakhir kali dia hubungi adalah -"
"Oh, ya. Kris-gege dimana?" ucapan Lay terpotong oleh Tao yang celingukan mencari namjachingu-nya.
"-Kris-ge" lanjut Lay.
"Kris Hyung?" tanya Se Hun. Lay mengangguk. 'Apa mungkin Kris Hyung tau, dimana Su Ho Hyung berada?' pikir Se Hun.
"Apa kalian melihat Kris-gege saat pulang sekolah?" beo Tao lagi, karena tidak mendapat respon tadi. Yang lain menggeleng lemas.
ΩΩΩ
Seorang namja tengah memandang sebuah rumah tua di sore hari yang sudah agak mendung ini. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Angin dingin pun tak membuatnya berpikir untuk pulang ke rumahnya. Dia tetap berdiri di depan rumah tua itu dengan pandangan intens.
"Su Ho-er, apa mungkin kau masuk ke dalam? Bukankah, kau berjanji padaku untuk pulang?" gumam namja itu –Kris.
Perlahan kaki panjangnya melangkah mendekati pagar. Salah satu tangannya menyentuh pagar berkarat itu, dan kepalanya di tundukkan pasrah. Ntah apa yang ia pikirkan, membuatnya diam di sini dalam waktu lama, padahal niatnya hanya untuk membuktikan Su Ho tidak di sini. Tapi kan, belum tentu Su Ho masuk ke dalam rumah tua itu. Mungkin saja dia sedang sakit di rumahnya karena kejadian pagi buta tadi. Udara cukup dingin kan, saat itu?
Kris berpikir unuk pergi ke rumah Su Ho untuk mengeceknya sekalian menjenguk jika memang benar Su Ho sakit. Badannya sudah berbalik dan langkahnya akan baru di mulai hingga sebuah alunan musik terdengar di telinganya.
'Indah sekali… Musik dari mana ini?' batin Kris, lalu menoleh ke rumah tua itu.
Seperti terhipnotis, dengan reflex badannya berbalik lagi menghadap rumah tua itu dan berjalan perlahan menuju rumah itu. Pandangannya kosong. Sesuatu dari alunan musik itu seperti membisikkannya sesuatu. Seperti… kalimat-kalimat penenang mungkin. Tapi ini hanya alunan musik klasik ringan tanpa lirik.
KRIEEET…
Suara pintu utama terbuka. Kris sekarang berhasil ada di dalam. Dan saat pintu tertutup, musik pun berhenti. Kris yang tersadar dari 'buaian'nya segera melihat sekeliling dan bertanya-tanya dimana dia sekarang.
Kris mulai berjalan ke tengah ruang tamu itu. Dan tetap melihat seluruh ruangan itu yang hanya terpenuhi dengan debu.
"Kau mengkhawatirkannya, bukan?" tanya sebuah suara yang ntah dari mana asalnya. Kris melihat kesekelilingnya lagi. Dan tak ada siapa-siapa. "Kau mencarinya, bukan?" tanya suara itu lagi. Kris tetap waspada. Dia tidak takut. Jujur, yang ada di benaknya hanya ada Su Ho seorang. Ntah karena terlalu takut ada apa-apa dengan anak itu atau apa. Padahal dia memiliki teman-teman dan kekasih yang sekarang tengah memikirkan keberadaannya.
"Siapa kau?" tanya Kris menantang. Sejenak hening. Kris bernafas lega jika memang 'sesuatu' itu sudah tiada.
"Ikut aku" ucap suara itu tak menjawab pertanyaan Kris. Kris awalnya ingin bertanya lagi maksud dari perkataan 'makhluk' itu. Tapi dia kemudian mengerti untuk hanya mengikuti suara 'makhluk' itu.
Kris melangkahkan kakinya lebih ke dalam. Menuju ruang tengah rumah itu -Karena dia yakin bahwa suara itu berasal dari sana-, dan berbelok ke lorong sebelah kanan ruang tengah.
"Kau harus melihat ini" ujar suara itu lagi dari dalam lorong sempit itu. Kris terus mengikuti suara itu hingga ia merasakan tubuhnya kaku dengan apa yang ia lihat.
"Astaga! Chan Yeol-er! Baek Hyun-er! Apa yang terjadi pada kalian?!" jerit Kris lalu berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menghampiri teman-temannya yang menghilang itu.
Di tepuk-tepuknya pipi mereka satu per satu berharap ada yang sadar. Kris tidak mempedulikan baru karat yang menyengat di sekitarnya.
"Chan Yeol-er, Baek Hyun-er… Bangun!" teriak Kris terlanjur terkejut + panik. Sejenak Kris berpikir mungkin yang lainnya juga di sini. Termasuk Xiu Min, Su Ho, dan Chen. Kris berniat bertanya tapi suara itu muncul lagi.
"Ikut aku" ujarnya lagi. Kris membatalkan niatnya dan memutuskan untuk mengikuti suara itu lagi yang tadi berasal dari luar lorong itu. Kris yakin suara misterius itu akan membawanya kepada teman-temannya yang lain.
Kris melangkah keluar lorong sempit itu dan sekarang ia berada di ruang tangah lagi. Kris tetap diam. Menunggu suara itu memerintah.
"Kemarilah…" ucap suara itu dari arah dapur setelah agak lama hening. Dan lagi-lagi Kris menuruti suara itu tanpa curiga sedikit pun.
Kris pergi kearah dapur dan sekarang dia mendapati Xiu Min mati mengenaskan di depannya. Tubuhnya kali ini benar-benar membeku. Ntah apa yang harus ia lakukan dan ntah apa yang harus ia katakan. Dia terlalu syok dengan ini.
"Ikut aku" ujar suara itu lagi dengan kata dan nada yang sama. Seperti berujar, sekaligus memerintah dengan nada datar. Bahkan sebelum Kris mengucapkan satu patah kata untuk Xiu Min.
Dengan berat hati, Kris meninggalkan dapur untuk kembali ke ruang tengah. Dan hening lagi. Kris terlalu sibuk dengan pikirannya yang melihat 3 jasad tak bernyawa teman-temannya yang hilang. Hingga ia tak sadar telah berdiri cukup lama di ruang tengah itu dengan kesunyian yang menemaninya dan rasa pegal di kaki yang tak ia hiraukan.
"Lewat sini" ujar suara itu yang membuat Kris tersentak dan tersadar dari lamunannya. Dan dengan segera mengikuti suara itu kearah lorong sebelah kiri ruang tengah.
Dan lagi-lagi dia di kejutkan oleh jasad Chen yang kepalanya mungkin saja sudah hancur sekarang ini.
'Chen-er…' batin Kris pilu. Tanpa menunggu suara itu muncul lagi, Kris segera keluar dari lorong itu ke tempat semula, ruang tengah. Kepalanya tertunduk merasakan firasat buruk. Dia terus berjalan hingga ruang tamu. Beberapa meter dari pintu utama dia berhenti. Ia mendongakkan kepalanya. "Astaga! Su Ho-er!" teriaknya terkejut mendapati jasad teman yang di carinya dari tadi sekarang ada di depannya dengan kondisi yang mengenaskan. 'Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Aku pasti berhalusinasi. Tadi aku melihat sekitar ruangan ini dan aku tidak melihat Su Ho-er ada di balik pintu!' batin Kris berkecamuk.
"Waeyo? Bukankah tadi kau mencarinya, bukan? Aku sudah memberitahu tempat peregangan nyawa teman-temanmu yang lain, karena kau pantas tau itu semua. Apa sekarang kau menyesal?" tanya suara itu lagi.
"Su Ho-er… Kenapa harus Su Ho-er?" tanya Kris pilu. Nada bicaranya sedikit bergetar menahan tangis yang bisa saja meledak. Hey, siapa kekasihmu, Kris? Tao menunggumu.
SREK! SREK!
Sebuah suara gesekan terdengar dari sudut ruangan. Kris mengalihkan pandangannya ke sudut. Lalu kembali pada jasad Su Ho yang tergantung berdiri di balik pintu dengan jantung memucat keluar dari tempatnya. Tertusuk di depan dada Su Ho dengan cantiknya. Suara itu tak terdengar lagi. Tapi suara musik yang menggiring Kris masuk ke dalam rumah ini terdengar lagi. Kris berusaha tak mendengarnya. Tapi percuma. Alunannya begitu memanjakan telinga. Rasanya, dia tidak akan bosan jika seumur hidup terus memutar lagu ini.
JRASH!
Tanpa di sadari Kris, sebuah sabit melayang dari sudut ruangan mengenai lehernya. Memotongnya dengan potongan sempurna. Anehnya, potongan kepala Kris terlempar ke sisi tubuhnya hingga membentur pada tembok. Sedang tubuhnya sudah tumbang sejak tadi. Kepala Kris terpisah dengan mata yang terbuka. Bersama sabit yang berlumuran cairan berbau karat yang tertindih kepala Kris.
ΩΩΩ
"Uh! Bagaimana ini, Ge? Kris-gege tidak bisa di hubungi. Aku khawatir. Aku takut. Apa dia baik-baik, saja?" pertanyaan seperti ini sudah beratus kali Tao katakan di depan Lu Han yang masih menemaninya. Yang lain sudah pulang terkecuali Tao, Lu Han, dan Se Hun.
"Mungkin dia sudah pulang" jawab Se Hun asal. Lu Han menyikut Se Hun sembari memberikan deathglare andalannya yang terlihat lucu dan menggemaskan di mata Se Hun. Karena menurut Se Hun, Lu Han tak pantas marah atau bersedih.
"Tanpa mengajakku pulang? Tanpa mengantarku? Kris-gege jahat sekali. Tapi aku khawatir, Ge… Sesuatu pasti sudah terjadi padanya" rengek Tao lagi kembali ke topik. Dan lu Han berusaha menenangkannya.
"Bagimana jika kita ke rumah Kris-er, saja?" usul Lu Han. Tao tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk imut. "Kajja" dengan senyum dan ajakan lembut, Lu Han, Tao, dan Se Hun pergi dari sekolah menuju rumah keluarga Wu.
TBC~
A/n: Jeosonghamnida kli deskripsinya kurang di mengerti. Review, please… ^^
