Hallo sobat ceria fanficion..! Kita berjumpa lagi untuk kesekian kalinya. Saya ucapkan terima kasih buat yang udah baca dan yang suka mereview fic ini. Semoga di chapter kali ini para readers terhibur dan terus rajin buat baca fic ini ke depannya..

Chapter 12

.

.

.

Naruto menatap 3 orang yang terdiri dari 2 pria dan 1 perempuan di hadapannya dengan ngeri. Bahkan tanpa melakukan sesuatu apapun, trio itu telah sukses membuat Naruto benar-benar merasa terintimidasi. Alasan kenapa bocah pirang itu sampai sebegitu ngerinya adalah karena segala macam senjata-senjata aneh yang menempel di tubuh mereka bertiga.

"Si..siapa kalian ?" tanya Naruto dengan nada bergetar. Sedangkan Sakura semakin erat mencengkram lengan Naruto.

Tidak ada respon dari ketiga orang itu. Naruto kesal. Bocah pirang itu kemudian bermaksud bertanya lagi. Namun sebelum Naruto melakukannya ketiga orang itu berlari menerjang ke arah Naruto dengan belati serta pedang teracung di tangan mereka.

Naruto mendengar Ino memekik di belakangnya. Bocah pirang itu pun menoleh dan melihat 3 monster tengah berderap maju mencoba menyerang teman-temannya. Reflek, Naruto segera maju bermaksud melawan monster-monster itu. Tapi sayang, belum genap satu langkah tubuhnya ditarik kebelakang oleh salah satu dari trio itu. Dengan satu kali gerakan tubuh bocah pirang itu dihempaskan begitu saja.

Bocah itu terjungkal. Dia panik dan tersadar telah melupakan 3 orang mencurigakan di belakangnya. Naruto bahkan baru sadar jika genggaman tangan Sakura telah terlepas dari lengannya dan gadis itu sekarang tengah tersungkur tidak jauh darinya. Mungkin Sakura juga dihempaskan sama seperti yang mereka lakukan pada bocah pirang itu.

Ketiga orang itu menghambur ke depan. Dengan cekatan mereka menghempaskan tubuh teman-temannya ke samping ibarat kardus mie instan. Awalnya Naruto kira mereka akan segera membunuh teman-temannya setelah itu. Namun ternyata perkiraannya salah. Trio itu bahkan tidak memperdulikannya sama sekali. Mereka bertiga justru terus berlari menuju 3 monster ynag juga tengah berlari ke arah mereka.

Salah satu dari mereka bertiga, satu-satunya gadis dalam trio itu dengan sigap mengeluarkan sesuatu berbentuk bundar seukuran bola tenis dari tas pinggangnya. Gadis berambut coklat kuncir kuda itu kemudian melemparkan benda itu ke arah 3 monster yang tengah berderap ke arah ketiganya. Tepat saat benda itu berjarak 2 meter dari para monster, Seketika itu pula ketiga makhluk itu terlempar sejauh 5 meter. Benda itu seolah memiliki medan magnet yang dengan mudahnya dapat menghempaskan segala sesuatu yang berada di dekatnya.

Gadis itu tersenyum melihat usahanya berhasil. Di lain pihak monster-monster itu meraung murka yang seolah memberitahukan jika mereka baik-baik saja. Dengan gerakan yang begitu cepat, mereka berderap maju mencoba melakukan serangan balik.

Kali ini giliran salah satu pria dengan gaya rambut klimisnya yang maju mencoba menghadang ktiga makhluk itu. Si pria klimis kemudian melemparkan benda bundar yang sama seperti gadis itu gunakan namun kali ini arahya ke langit-langit. Jika sebelumnya benda itu mementalkan monster-monster itu, saat ini justru kebalikannya. Benda bundar itu menarik ketiga tubuh monster itu dengan begitu kuatnya seolah tubuh ketiga makhluk itu hanya ibarat tisu toilet yang begitu ringan.

"Luar biasa.." Gumam Shino kagum melihatnya.

"Sementara peliharaan kalian sedang sibuk melepaskan diri, kalian bertiga akan kubereskan terlebih dahulu." Ucap salah satu pria lain berambut coklat sebahu.

Dengan percaya diri pria itu berlari maju ke arah 3 tentara perdamaian. Dua diantara tentara perdamaian itu segera mengacungkan senapan mereka ke arah si pria berambut coklat dan segera menembakinya tanpa ampun. Tapi sebelum itu terjadi, sebuah bomerang kecil menghantam punggung tangan salah satu tentara perdamaian hingga membuat senapan yang digenggamnya terlepas. Tentara itu meraung kesakitan akibat serangan tak terduga itu. Sedangkan bomerang melayang kembali ke pemiliknya yang tidak lain adalah si gadis berambut coklat kuncir kuda.

"Jangan lupakan aku !" teriak salah satu tentara lain yang masih memegang senapannya. Tanpa pikir panjang dia segera menembaki pria berambut coklat itu.

Naruto merasa takjub dengan kemampuan pria berambut coklat itu dalam berkelit. Berondongan peluru dengan mudah dihindarinya seolah dia bisa membaca arah laju peluru-peluru itu. Pria berambut coklat itu kemudian merogoh tas pinggangnya dan mengeluarkan benda aneh berbentuk segitiga. Setelah memencet tombol pada benda segitiga itu, dia segera melemparkannya. Tepat ketika benda itu jatuh ke tanah dan terbuka, cahaya berkilauan segera muncul seolah membutakan mata.

Jika biasanya kegelapan yang membutakan mata, kali ini justru cahaya terang benderang yang melakukannya. Selama beberapa detik, Naruto tidak dapat melihat apapun selain warna putih yang teramat sangat terang. Namun tidak beberapa kemudian secara berangsur-angsur keadaan kembali seperti semula.

Naruto lalu melihat ke arah pria berambut coklat itu dengan tergesa. Dia begitu penasaran dengan apa yang terjadi ketika keadaan menjadi terang-benderang. Bocah pirang itu mengedarkan pandangannya dan menemukan 2 tentara perdamaian telah terkapar di dekat pria berambut coklat itu.

Naruto bertanya pada dirinya sendiri. Mungkinkah pria berambut coklat itu yang melakukannya? Maksudnya pada saat keadaan menyilaukan itu terjadi? Lalu bagaimana dia bisa melakukannya? Beberapa pertanyaan lain pun terus muncul dalam benaknya.

"Tidak usah kaget. Memang dialah yang melakukannya." Ucap pria klimis yang entah sejak kapan berdiri di dekat Naruto. Saat ini tatapan pria klimis itu masih setia mengawasi ketiga monster yang telah terperangkap oleh senjatanya.

"Bagaimana caranya ?" tanya Naruto penasaran.

"Itu karena pupil mata buatan yang dimilikinya. Karena itulah dia tidak akan terpengaruh oleh keadaan menyilaukan seperti kejadian barusan." Jawab si pria klimis.

Naruto kemudian memandang pria berambut coklat itu dengan seksama. Seperti yang diucapkan si pria klimis, pria rambut coklat sebahu itu memang memiliki mata yang unik. Pupil matanya seolah tidak ada sama sekali.

"Dimana yang satunya ?" tanya pria rambut coklat itu seraya mengedarkan pandangannya.

"Di sini.." ucap salah satu tentara yang tersisa.

Tentara itu dengan segera menembakkan senapanya ke arah bola aneh yang selama ini berhasil mengekang ketiga monsternya. Bola itupun seketika hancur akibat tembakan sang tentara. Ketiga monster itupun akhirnya terbebas. Bahkan dengan gerakan super cepatnya ketiga monster itu telah bersiap diri untuk melakukan serangan balasan.

Si Platypus melompat dengan kecepatan tinggi ke arah si pria berambut coklat. Pria itu dengan sigap menghindari terjangan si monster dengan membungkukan tubuhnya. Paham jika serangannya gagal, si Platypus kembali menerjang. Si pria rambut coklat tidak tinggal diam. Tepat sebelum monster itu berhasil mencabiknya, dengan cepat dia menghujamkan belatinya pada mata kiri monster itu. Seketika cairan tidak berwarna mengucur dari mata itu dan mengenai lengan kanan si pria.

Si Platypus meraung keras seolah merasa kesakitan akibat mata kirinya ditusuk. Naruto awalnya juga berpikir begitu, hingga akhirnya dia sadar jika monster itu bukanlah bagian dari daftar organisme kompleks.

"Kau pikir dengan membutakan mata monster itu, kau bisa melumpuhkannya ?" ucap Si tentara dengan nada meremehkan.

"Aku tahu soal itu. Karena itulah aku biarkan belatiku tetap menancap di sana." Ucap si pria berambut coklat. Dia kemudian terlihat mengambil sesuatu dari tas kecilnya.

"..dan dengan alat ini.." Ucap pria itu lagi seraya menunjukan sebuah remote kontrol. "Maka hidup hewan malangmu telah berakhir."

Belati itupun meledak bersama dengan monster platypus tepat ketika si pria berambut coklat menekan tombol remote di tangannya. Naruto terkesan dengan apa yang dia lihat. Dia sangat takjub dengan berbagai macam alat tempur unik milik ketiga orang asing itu. Bocah pirang itu bahkan berani bertaruh masih banyak lagi alat-alat luar bisa yang siap ditunjukan kepadanya.

Naruto kemudian mengalihkan pandangannya pada si tentara. Ekspresi yang ditunjukan orang itu seolah biasa-biasa saja. Dia bahkan terlihat tidak kecewa meskipun salah satu monsternya telah dihancurkan. Si tentara kini justru memandang pria berambut coklat itu dengan tatapan yang lebih merendahkan dari sebelumnya.

"Menurutmu apa yang terjadi jika cairan benzena terkena rangsangan panas ?" tanya si Tentara menyeringai.

Si pria rambut coklat terdiam mencoba memahami maksud dari ucapan si tentara. Dia kemudian memandang lengannya dan seketika raut wajahnya mengeras.

"Sial !" teriak pria rambut coklat itu ketika melihat lengan kananya mulai berasap.

"Ya, jawabannya adalah terbakar." Ucap sang tentara tersenyum puas.

Api mulai terlihat menyelimuti lengan pria rambut coklat itu. Pria itu tidak tinggal diam, dia terus berusaha memadamkan api itu dengan mengibaskan-ngibaskan lengannya yang terbakar berharap api itu akan segera padam.

Si tentara hanya terdiam seolah tengah menikmati momen tersiksanya sang lawan. Dia bahkan tidak memerintahkan 2 monster nya yang tersisa untuk menyerang si pria. Padahal jika dilihat dari situasi saat ini, monster-monsternya bisa dengan mudah membunuh pria rambut coklat itu.

"Neji !" teriak si gadis rambut coklat kuncir kuda berlari ke arah pria yang terbakar itu. Dapat dilihat gadis itu tengah membawa alat pemadan api ringan seukuran botol minuman di pelukannya.

"Awas, Tenten !" kali ini giliran si pria klimis berteriak pada si gadis.

Monster burung kolibri muncul secara tiba-tiba di hadapan gadis bernama Tenten itu. Makhluk itu seolah tengah berusaha pasang badan mencegah gadis itu menolong temannya yang terbakar.

"Tidak akan kubiarkan siapapun mengganggu kesenanganku." Ucap si tentara dingin.

"Minggir !" teriak Tenten seraya menghunuskan belatinya.

Gadis itu kemudian mencoba menebas sayap kiri monster itu. Tapi sayang usahanya gagal. Monster kolibri itu dengan mudah mengelaknya. Monster itu bahkan balas menyerang dengan berusaha mematuknya. Jika sedetik saja gadis itu telat menghindar, maka dipastikan ubun-ubun kepalanya akan berlubang dan itu akan sangat mengurangi daya tariknya.

Si pria klimis yang tahu jika kedua temannya tengah terdesak segera maju. Tapi sebelum pria itu sempat membantu salah satunya, monster yang tersisa menghadangnya. Si monster trenggiling yang nampaknya begitu sulit untuk dikalahkan.

Si pria klimis menghunuskan pedangnya ke hadapan si monster trenggiling. Dia lalu melompat mencoba menebas bagian atas monster itu. Seketika tubuh monster itu segera menggulung layaknya trenggiling sungguhan. Serangan si pria klimis itu akhirnya menjadi sia-sia. Pria klimis itu mengumpat jengkel pada makhluk di hadapanya. Pada detik itu pula tubuhnya terlontar jauh akibat ditubruk oleh tubuh si monster yang masih setia menggulung.

Keadaan menjadi berbalik sekarang. Jika sebelumnya trio itu yang mendominasi pertempuran, kali ini giliran si tentara perdamaian dengan kedua monsternya yang mengambil alih keadaan. Naruto tahu sekaranglah waktunya bagi dia untuk mengambil keputusan. Membantu ketiga orang asing itu atau segera pergi menjauh selagi si tentara perdamaian tengah teralihkan perhatiannya.

"Hei, Naruto.." Panggil seseorang yang tidak lain adalah Shikamaru. "Apa menurutmu kita harus membantunya ?"

"Ya.. " jawab Naruto yakin. Dia tidak tahu apa hal yang mendasarinya. Tapi mungkin saja mereka bisa dijadikan rekan mengingat ketiga orang itu memiliki alat-alat tempur yang unik.

"Kalau begitu bagaimana caranya ?" tanya Shino kali ini.

Naruto menjadi bingung sendiri saat ini. Tidak biasanya Shino meminta ide darinya. Bukankah akan lebih baik jika Shikamaru yang memberikan ide jika melihat dari keberhasilan rencana yang bocah pemalas itu buat sebelumnya.

"Aku sedang malas berpikir. Sejak tadi dia selalu menanyakan soal ide padaku." Ucap Shikamaru seolah bisa membaca pikiran Naruto.

Naruto tidak habis pikir dengan sikap Shikamaru. Di saat kondisi sedang gawat-gawatnya bocah itu malah justru bermalas-malasan. Sembari mengumpat kesal atas sikap Shikamaru, Naruto mengedarkan pandangannya ke sekitar. Naruto baru sadar jika tempat dimana dia dan teman-temannya berada sekarang ini adalah sebuah ruangan besar dengan begitu banyak batu-batu reruntuhan tergeletak berceceran disana-sini. Melihat hal itu bocah pirang itu kemudian menemukan ide gila untuk mengalahkan kedua monster itu secara bersama-sama.

"Jadi apa idemu ?" tanya Sai mulai penasaran.

"Begini.." Naruto mulai menjelaskan idenya.

Setelah menjelaskan rencananya, Naruto segera berlari ke arah monster trenggiling. Shikamaru, Shino dan Sai segera berlari berpencar sesuai dengan tugasnya masing-masing begitu pula Sakura dan Ino.

Naruto berlari mendekati si monster trenggiling. Dia kemudian memungut batu dan melemparkannya ke arah si monster sebelum makhluk mengerikan itu mencabik-cabik tubuh si pria klimis. Lemparannya berhasil dan kini perhatian si monster teralih ke arahnya.

Naruto berlari maju ke arah monster trenggiling. Monster itu kemudian menggulung tubuhnya dan berderap maju menyambut Naruto. Dengan cekatan, bocah pirang itu berhasil menghindari serangan si monster dengan mengelak ke samping kiri sembari memungut pedang milik si pria klimis.

Monster trenggiling itu kembali membuka tubuhnya setelah serangannya gagal. Naruto yang melihatnya kemudian tersenyum. Perkiraannya tentang monster trenggiling itu ternyata tepat. Monster trenggiling itu harus membuka tubuhnya terlebih dahulu untuk memastikan keberadaan targetnya sebelum kemudian menyerangnya.

Naruto melirik pria klimis yang berdiri disampingnya dengan kesusahan. Entah sejak kapan pria itu berada di sebelahnya, bocah pirang itu tidak peduli. Baginya tambahan tenaga bantuan maka akan membuat hasilnya jauh lebih baik lagi.

"Apa kau punya alat ajaib lain ?" tanya Naruto pada pria klimis di sampingnya.

"Tidak. Aku hanya punya bola gravitasi itu saja. Sisanya seperti belati peledak dan segitiga cahaya mereka berdua yang memilikinya." Jawab si pria klimis.

"Sepertinya memang harus menggunakan caraku.." ucap Naruto menghembuskan nafa.

"Namaku Lee, dan terima kasih untuk yang tadi." Balas si pria klimis seraya memperkenalkan diri.

Naruto hanya tersenyum membalas. Bocah pirang itu lalu mengedarkan pandangan ke arah teman-temannya yang tengah bergerak sesuai instruksi yang dia berikan. Dia sepintas melihat keadaan pria bernama Neji yang masih berusaha keras mematikan api di lengannya. Situasi pria itu semakin gawat karena si tentara perdamaian mulai menyerangnya. Keadaan yang sama juga terjadi pada gadis bernama Tenten. Semakin lama dia semakin didesak mundur oleh monster kolibri itu.

Naruto kemudian melihat Shikamaru bergerak mengendap-endap mendekati si tentara. Bocah pirang itu juga melihat Sakura yang telah bersembunyi sesuai dengan instruksinya di balik tiang-tiang penyangga dekat dimana si tentara berada.

Geraman monster trenggiling mengembalikan kesadaran Naruto. Monster itu kemudian menggulung tubuhnya kembali dan menggelinding ke arah Naruto dan Lee lebih cepat daripada sebelumnya.

Sesuai dengan rencana, bocah pirang itu bukannya berlari menjauh menghindar, dia justru maju menyerang si monster trenggiling. Dia menebaskan pedang yang digenggamnya sekuat tenaga pada tubuh si monster. Namun sayang usahanya sia-sia. Alih-alih melukai tubuh si monster, pedangnya justru patah. Jika saja Lee tidak segera menarik baju bocah pirang itu, tubuh Naruto pasti sudah gepeng dilindas monster trenggiling itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lee.

"Monster itu benar-benar super keras. Ini gawat.." balas Naruto.

Monster trenggiling itu kemudian membuka kembali tubuhnya. Si monster lalu berbalik arah dan menatap ke arah Naruto dan Lee seolah tengah memastikan posisi mereka berdua berada. Alih-alih menggulung tubuhnya kembali, si monster kali ini malah berlari ke arah mereka berdua.

"Aneh, bukankah seharusnya dia menggulung tubuhnya ?" tanya Naruto entah kepada siapa.

"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas kali ini serangannya akan lebih berbahaya mengingat sejak tadi kita selalu bisa menghindarinya." Balas Lee seraya menatap lurus ke arah monster trenggiling.

Monster trenggiling itu semakin cepat berlari menghampiri Naruto dan Lee. Dimata Naruto saat ini, monster trenggiling itu terlihat lebih mirip seperti seekor banteng ganas daripada seekor trenggiling seperti apa yang terlihat. Sadar situasinya akan semakin buruk, keduanya segera berlari menghindari terjangan si monster trenggiling.

Naruto berlari ke kiri sementara Lee berlari ke arah sebaliknya. Anehnya seolah punya dendam pribadi pada Naruto, monster itu justru malah mengejarnya daripada si pria klimis bernama Lee. Bocah pirang itu mengumpat kesal dalam hati merutuki nasibnya yang terasa selalu kurang mujur di setiap waktu.

Naruto terus berlari sekencang mungkin meskipun itu harus melebihi batasannya. Dalam acara pelariannya itu, Naruto sempat melihat teman-temannya yang mulai menjalankan tugas mereka masing-masing.

Sakura terlihat mulai melempari si tentara dengan batu. Setiap kali dia mengenainya, gadis itu segera berpindah tempat menghindari peluru panas yang ditembakan si tentara sebagai balasan. Sementara itu posisi Shikamaru semakin lama semakin mendekati si tentara setiap kali Sakura berhasil mengalihkan perhatiannya. Bocah pirang itu juga sempat melirik keadaan si pria rambut coklat Neji yang masih berusaha keras mematikan api di lengannya. Kali ini dia menggunakan jaket anti peluru miliknya untuk mematikan api itu.

Naruto kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sai dan Shino. Mereka berdua tengah berusaha keras mencengkram kedua sayap monster kolibri. Si monster tidak tinggal diam, dia mengepak-kepakkan sayapnya dengan begitu kuat mencoba melepaskan cengkraman kuat Sai dan Shino. Melihat adanya kesempatan, gadis bernama Tenten itu segera berlari pergi menuju ke tempat Neji seraya membawa alat pemadan api ringan di tangannya.

Gadis bernama Tenten itu mungkin telah sampai di tempat Neji jika saja gadis itu tidak tersandung jatuh akibat kakinya tertancap rantai tajam yang keluar dari mulut monster kolibri itu. Naruto bisa melihat ukuran rantai itu tidak terlalu besar. Mungkin diameternya hanya sekitar 2 cm. Tapi jika mendengar pekikan yang keluar dari mulut gadis itu, bisa disimpulkan jika rasanya pasti sangat sakit sekali.

Monster kolibri itu terus menarik gadis itu ke arahnya meskipun kedua sayapnya tengah di cengkram erat oleh Sai dan Shino. Gadis itu terus memekik kesakitan setiap kali kakinya ditarik oleh monster kolibri itu. Naruto meringis perih melihatnya. Namun perasaannya kemudian lega ketika melihat Ino yang sesuai rencananya muncul dan memutus rantai itu menggunakan patahan pedang yang digunakan Naruto sebelumnya.

Monster kolibri itu meraung murka melihat buruannya lolos. Makhluk itu kini lebih lebih beringas lagi mengepakkan sayapnya agar genggaman Sai dan Shino segera terlepas. Naruto kemudian melihat Ino yang dengan segera membalut luka pada kaki Tenten dan seraya membisikan sesuatu pada gadis itu. Gadis bernama Tenten itu lalu mengangguk dan memberikan alat pemadan api ringan ditangannya kepada Ino. Detik berikutnya gadis pirang itu segera berlari menuju ke tempat Neji berada.

Monster kolibri itu terlihat tidak senang melihat kepergian Ino. Makhluk itu kemudian mencoba mengepakkan sayapnya berusaha untuk terbang seolah lupa jika saat ini ada Sai dan Shino yang masih setia mencengkram kedua sayapnya.

Naruto mengalihkan pandangannya lagi pada gadis bernama Tenten. Gadis itu tengah berdiam diri dengan belati tergenggam di tangan kanannya. Matanya begitu fokus menatap monster kolibri itu di hadapanya dengan begitu tajam. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya. Semakin cepat dan semakin cepat hingga akhirnya berlari. Dengan gerakan yang menurut Naruto begitu mengagumkan, gadis itu melompat dan seolah melayang di udara menghindari serangan si monster.

Gadis berambut coklat kuncir kuda itupun kemudian menghujamkan belatinya tepat di bagian belakang kepala si monster. Dia terus menyayatnya sedalam mungkin hingga cairan tanpa warna mengucur deras dari tubuh mahkluk itu. Monster kolibri itu meraung seolah kesakitan dan tak lama berselang makhluk itupun roboh. Sai dan Shino serta Tenten segera melompat menjauh dari tubuh si monster sebelum cairan itu mengenai tubuh mereka.

Naruto tersenyum melihat rencananya berhasil. Sekarang tibalah pada bagian yang harus diselesaikannya sendiri. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke belakang. Monster trenggiling itu masih setia mengejarnya. Namun kali ini monster itu kembali menggulung tubuhnya.

Naruto menambah kecepatan larinya. Kali ini dia berlari menuju ke arah monster kolibri yang telah sekarat. Bocah pirang itu juga melihat Shino, Sai dan gadis bernama Tenten telah menjauhi tempat itu. Merasa sudah waktunya, Naruto lalu berbalik dan berlari maju menghambur ke arah monster trenggiling itu. Seolah mendapat ilham dari gerakan ajaib yang dilakukan gadis bernama Tenten, Naruto pun mencoba menirunya. Dia melompat tepat ketika monster itu akan melindasnya.

Naruto mendarat dengan sangat buruk. Kakinya terkilir namun tidak terlalu parah. Bocah pirang itu kemudian berbalik. Monster trenggiling itu telah kembali membuka tubunya. Saat ini makhluk itu tepat berdiri membelakangi mayat naas sahabat kolibrinya. Naruto tersenyum melihatnya. Dia lalu menoleh dan menganggukan kepala ke arah gadis bernama Tenten. Detik berikutnya belati yang masih tertancap pada tubuh monster kolibri itu meledak. Kali ini si monster trenggiling mengikuti jejak teman-temannya.

Sesuai perkiraan. Ledakan itu berhasil mengambil alih seluruh perhatian si tentara. Orang itu meraung murka. Dia pun berderap maju menuju menuju ke arah Naruto dan yang lain tanpa sadar jika Shikamaru tepat di belakangnya. Bocah pemalas itu kemudian tanpa ampun menghantam tengkuk si tentara. Orang itu pun roboh dan tak sadarkan diri. Ino lalu muncul dari tempat persembunyiannya dan segera memadamkan api pada lengan pria bernama Neji itu.

"Apa kau baik-baik saja ?" tanya Naruto setelah tiba di tempat Shikamaru berada. Sai, Shino dan gadis bernama Tenten juga menyusul di belakangnya.

Pria bernama Neji itu tidak menjawab. Gadis bernama Tenten itu segera menghambur mendekati si pria raambut coklat. Gadis itu kemudian mengoleskan salep luka bakar pada lengan pria itu tanpa mengatakan sesuatu apapun. Tidak berapa lama pria klimis bernama Lee muncul diikuti Sakura dari arah lain.

"Akhirnya selesai juga.." ucap Naruto menghembuskan nafas lega.

"Tidak,, ini belum berakhir." Balas pria bernama Neji.

Pria berambut coklat itu bangkit. Dia lalu berjalan ke arah dimana pistol si tentara tergeletak dan segera memungutnya. Dia kemudian menoleh dan menatap tajam mata bocah pirang itu dengan penuh kebencian. Detik berikutnya dia menarik pelatuk pistol itu dan peluru panas dengan cepat meluncur menuju ke arah Naruto.

.

.

.

to be continue

Balasan Review :

Riyuzaki : haha, belum tentu juga dia bakal bantuin Naruto dkk.

Inuzukarei : terserah inuzuka san aja enaknya manggilnya apa. Yang penting harus keren dan cute yah.. hehe

Balasan Review :

Riyuzaki : haha, belum tentu juga dia bakal bantuin Naruto dkk.

Inuzukarei : terserah inuzuka san aja enaknya manggilnya apa. Yang penting harus keren dan cute yah.. hehe

Yusup & The kidsno oppai : oke siaaap

Ndah D Amay : soal mereka bala bantuan atau bukan masih belum diketahui.. hehe

Pelvection : Ya tahu sendiri lah gimana genre romance begitu mendominasi. Saya mah woles aja dan bakalan tetep semangat buat nulisnya.. hehe

Haruko Akemi : Haha, imajinasi haruko san terlalu horor.. tapi makasih karena selalu setia mereview fic ini.

SR not Author : Kalo soal ending mungkin akan bakalan sedikit dramatis dan yang jelas bakalan ada yang mati lagi..