Chapter 8

Title: Music Box

Author: Lee Shikuni

Genre: Crime, mistery

Archip: drabble, sad ending, yaoi

Cast: -All members EXO

-And OC

Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!

A/n: Gamsahanida yg udh bca&review.

Koko pov: Oh? Bukan, donk… :p Klo di tembak pke panah kena hatinya, itu namanya nyatain cinta. -_- Ko2 ada2, aja. Udh update, nih. Review, y…? ^^ Sampei ketemu di sklh…! #Lambai2

Hope U like it. Happy reading~ ^^

AUTHOR POV

Seorang namja imut bermata panda tengah menundukkan kepalanya dalam di saat sekolah sudah menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kehidupan karena seharusnya dari setengah jam yang lalu sekolah itu sudah sepi. Semua siswa telah pulang dan dia lebih memilih berdiam diri di halaman belakang sekolah.

"Tao-er?" sapa seseorang yang datang. Namja yang menunduk itu –Tao—menoleh cepat. "Oh? Kau belum pulang? Aku kira hanya tinggal aku saja yang belum pulang" ujar namja berlesung pipi itu.

"Aku kira juga begitu" respon Tao lalu kembali menundukkan kepalanya. Namja berlesung pipi—Lay—menghela nafas melihat Tao.

"Aku sudah dengar" ucap Lay. Tao menoleh. "Lu Han-ge sudah beritahu semuanya kepada yang lain juga" jelas Lay. Tao hanya mengangguk imut. "Jangan terlalu khawatir tentang Kris yang menghilang semenjak pulang sekolah kemarin. Su Ho-ge juga sama. Kau hanya harus percaya mereka baik-baik saja" ucap Lay seraya tersenyum kearah Tao. "Oh, ayolah Tao-er… Kau percaya pada Kris-ge, kan?" tanya Lay, karena Tao hanya diam melihat Lay berbicara sejak tadi. "Aku… percaya pada Su Ho-ge, Tao-er. Aku percaya. Padanya…" gumam Lay. Tao berpikir sejenak. "Sudahlah. Ayo pulang! Biar kuantar kau pulang" ajak Lay yang sudah mengembangkan senyumnya lagi yang tadi tergantikan suasana mendung(?) tiba-tiba. Tao mengangguk. Lay mengulurkan tangannya dan di sambut tangan Tao. Lalu mereka berjalan pulang bersama.

'Ntahlah, Ge… Aku mencoba untuk percaya pada Kris-gege jika dia memang baik-baik, saja. Tapi… ada hal lain yang mengganjalku untuk itu' batin Tao.

ΩΩΩ

Setelah mengantar Tao pulang, Lay berjalan dengan lamunan di kepalanya. Dia memikirkan Su Ho-nya yang menghilang. Selama perjalanan mengantar Tao ke rumahnya, Tao hanya diam saja. Hanya memperhatikannya yang mengoceh sendiri mengajaknya bicara yang memang dalam keadaan mood yang tidak baik. Sekarang Lay merasakan apa yang jadi pikiran Tao.

Lay menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah tua, yang Xiu Min ceritakan tempat hilangnya Chan Yeol. Dia juga tidak mengerti kenapa kakinya melangkah ke sini. Lay menatap rumah itu intens, kemudian mendekati pagar berkarat rumah itu dan menyentuhnya.

Sekarang rasa rindu itu sungguh terasa nyata. Memuncak dan benar-benar seperti obsesi yang ingin di selesaikan dan di dapatkan. Tapi apa daya? Orang yang di butuhkan, orang yang di cintainya setengah mati, orang yang di sayangnya telah hilang ntah kemana. Jadi bagaimana dia bisa menyelesaikan obeseinya –Jika bisa di katakan seperti itu—ini?

Perlahan Lay melepaskan tangannya dari pagar itu, menghela nafas lalu menunduk. Dan kembali berjalan pulang dengan pikiran yang menumpuk.

ΩΩΩ

D.O berlari dengan tergesa dari arah rumahnya berniat ke rumah sang kekasih –Kai. Ntah kenapa kekasihnya itu menelpon malam-malam begini dan memintanya menemaninya di rumah. Orang tua Kai sedang ada tugas luar kota dan Kai takut sendirian. Dan selama perjalanan bibir D.O terus mengeluarkan gerutuan.

Hingga ia berhenti di sebuah perempatan. Dia memandang jalan di depannya horror. Sejenak ia menggerutu memiliki kekasih penakut seperti Kai yang bukannya dating ke rumahnya, malah dia yang harus mendatangi rumahnya.

Jalan di depannya ini adalah satu-satunya jalan yang harus di lewatinya untuk ke rumah Kai. Sedang di jalan ini, ada rumah tua yang dia tahu telah membuat Chen dan Chan Yeol menghilang.

Tapi karena pikirannya melayang kearah Kai, dia jadi tidak mempedulikan rasa takutnya dan tetap memutuskan untuk melewati jalan itu.

'Acuh, D.O… Acuh!' batin D.O saat melewati rumah itu. Tapi pikirannya malah berpindah pada rumah tua itu.

Langkah D.O terhenti saat mendengar alunan musik yang indah di telinganya. D.O membalikkan tubuhnya menghadap rumah tua itu. Perlahan langkahnya melaju menuju rumah tua itu. Semakin mendekati pagar, berusaha untuk mendengar lebih jelas lagi, dari mana musik itu berasal. Dengan rasa penasaran yang tinggi, dia masuk ke dalam rumah tua itu tanpa hambatan.

BLAM!

Pintu tertutup. Musik berhenti. Dan D.O tersadar dari imajinasinya. Dia melihat sekeliling dan berusaha mendengar lain. Dan sekarang ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia baru saja mendengar musik yang sangat indah berasal dari rumah tua ini.

Tanpa pikir panjang, hanya berbekal ke bingungan, dia melangkah perlahan menuju runag tengah rumah itu. Tercium bau karat di rumah itu. Dimana-mana. Dan D.O tidak tahan dengan bau itu.

"Tempat apa ini?" Gumamnya tak jelas.

Tidak mau berlama-lama, D.O memilih untuk berbalik dan keluar dari rumah itu. Tapi saat ia berbalik, ia di kejutkan dengan jasad Su Ho yang tiba-tiba saja ada di sana.

"KYAAA….!" "BRUK!" Jerit D.O yang terlalu terkejut hingga menjantuhkan dirinya ke lantai yang kotor dengan debu saking syoknya.

Dan ntah dorongan dari mana dia melihat ke sekitar. Ke belakangnya. Dan dia mendapati tubuh seseorang yang tergeletak tak bernyawa dengan kulit pucat. Nampak tinggi dan… tanpa kepala. D.O mencoba tidak berteriak, lalu dia mengalihkan pandangannya ke samping tubuh itu. Lurus kearah tembok. Dan dia mendapati kepala temannya yang dia kenal.

"KRIS-GE!" teriak D.O. Matanya sudah mulai mengembun. D.O bangkit dan ntah kenapa dia lari menuju lantai 2. Seperti di kejar-kejar oleh sesuatu. Dia masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Dan segera menutupnya dan mengganjalnya dengan meja yang ada di ruangannya itu. Dia mengatur nafasnya sebentar. "Apa tadi?" gumamnya lagi-lagi tak jelas.

Mencoba tidak memikirkan itu D.O berjalan perlahan kearah jendela yang ada di depannya. Baru beberapa langkah, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan bantingan yang sangat keras membuat meja yang di pakai mengganjal tadi terdorong ke depan dengan kecepatan yang lumaya keras.

D.O yang kalah cepat, tertabrak meja itu dan terdorong hingga dia menabrak kaca tua berdebu itu. Mengahantamnya hingga pecah dan membuat dirinya jatuh ke bawah dari lantai 2 dengan posisi telungkup, tapi kepalanya menyentuh tanah lebih dulu dengan suara yang sangat keras.

D.O yang masih bisa membuka matanya dengan sisa tenaganya mencoba untuk bangun tapi dia tidak kuat. Tenaganya hilang ntah kemana. Dia terus berusaha tanpa mengetahui seluruh kepalanya sudah bersimbah darah.

JLEB!

Sebuah potongan kaca paling besar di jendela itu terlepas dari tempatnya. Dan menusuk D.O tepat di tulang belakang atasnya. Dan di detik itu, D.O kehilangan nafasnya(?).

ΩΩΩ

"Aish! D.O Hyung kemana, sih? Aku sudah takut tingkat akut begini" gerutu Kai. *Gtw diri ini seme. -_-* Dengan perasaan yang kalut, dia mencoba menghubungi namjachingu tercintanya. Sayangnya tidak aktif. Setelah berpikir sebentar, dia mencoba meghubungi orang terdekat namjachingunya.

"Yobeoseyo?" jawab suara di seberang sana.

"Yobeoseyo, Lu Han-ge?" respon Kai dengan senyum merekah karena telponnya di angkat.

AUTHOR POV END

~TBC~

A/n: Joseonghamnida next-nya terlalu lama… #Bow# Tugas sklh Shi bnyk bgt. Ini jg ngerjainnya di sela2 ngerjain makalah. #Oups!._.# Review, please… ^^