Hallo Agan dan Sista..! berjumpa lagi dengan saya si author gak jelas.. Hehe. Sebelumnya saya minta maaf karena gak update seperti yang udah dijanjikan. Maklum aja, kehidupan keduniawian saya benar-benar mengambil alih waktu saya satu minggu penuh. Karena itulah saya mohon pengertian dan pengampunannya.
Ya udahlah gak usah banyak omong lagi. Silahkan baca kelanjutannya. Semoga readers senang dan gembira biar jadi berkah buat saya. Jangan lupa yah ama reviewnya.. hehe
Chapter 13
.
.
.
Naruto tidak mengerti apakah dia sudah mati atau masih hidup. Bocah pirang itu masih ingat dengan jelas jika pria bernama Neji menembak ke arahnya dan detik itu juga dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dia juga merasa bingung soal dimanakah dirinya sekarang ini berada. Yang jelas dia merasa tidak nyaman berada di tempat itu.
Bocah pirang itu kemudian segera mengedarkan pandangan ke sekitar berusaha mencari keberadaan teman-temannya. Namun sayang-disayang hasilnya nihil. Tempat itu kosong tanpa ada siapapun berada disana. Dalam diam Naruto mengumpat kesal atas keadaan yang tengah dialaminya.
Merasa belum menyerah, Naruto sekali lagi mencoba mengedarkan pandangannya ke segala arah kembali. Lama kelamaan dia kemudian tersadar jika situasi ini pernah terjadi padanya. Ya, tepatnya ketika dia tak sadarkan diri saat pertama kali memasuki bangker.
Lambat laun dia mulai merasa terbiasa dengan tempat itu. Seperti sebelumnya, tempat itu tetap mempertahankan corak hitam-putih pada dindingnya. Bedanya kali ini lantai tempat itu tampak transparan sehingga si bocah pirang bisa melihat apa yang ada di bawah lantai. Jangan tanyakan apa yang terlihat di bawah lantai itu karena Naruto sendiri enggan menjelaskannya.
Naruto kemudian merasakan seseorang tengah berdiri di belakangnya. Dengan segera bocah pirang itu membalikkan tubuhnya. Awalnya dia berpikir akan bertemu gadis bermata indah seperti pertama kali dia berada di tempat itu. Namun lagi-lagi harapannya kandas. Bukan gadis bermata indah yang tengah berdiri di hadapan Naruto melainkan seorang bocah laki-laki bermanik hitam legam yang mungkin seumuran dengannya.
Bocah laki-laki itu hanya terdiam ketika tatapan mereka berdua bertemu. Naruto tidak tahu perkiraannya benar atau tidak tapi yang jelas tatapan mata bocah laki-laki itu seolah penuh dengan setangki kebencian. Bocah pirang itu berharap semoga bukan dia yang objek dendam bocah itu.
"Lama tidak bertemu, Naruto.." ucap bocah itu akhirnya membuka suara.
Naruto terdiam sebentar. Bocah pirang itu merasa tidak perlu terkejut mendengar pria itu mengetahui namanya. Belajar dari segala peristiwa-peristiwa sebelumnya. Tentang beberapa hal yang tidak normal sejak pertama kali dia membuka mata. Rasanya mengetahui ada seseorang mengetahui namamu meskipun kau tidak mengenalnya adalah sudah menjadi sebuah hal yang terlampau biasa bagi bocah pirang itu.
"Siapa kau ?" tanya balik Naruto.
Bocah bermata hitam itu tersenyum sinis mendengar pertanyaan Naruto seolah itu adalah pertanyaan super bodoh. Dia lalu menatap bocah pirang itu lagi, namun kali ini dengan tatapan yang begitu tajam.
"Itu tidak penting. Yang jelas hingga saat ini kau belum berhasil menjalankan misimu." Balas bocah bermata hitam itu.
Misi. Lagi-lagi seseorang menyinggung tentang hal itu padanya. Jujur, Naruto masih tidak mengerti apa sebenarnya misi yang dibebankan padanya.
"Sumpah demi Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Lagipula siapa sebenarnya kalian? Juga siapa sebenarnya aku ini?" tanya Naruto frustasi.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol santai denganmu. Tapi jika kau masih tidak juga membunuh orang itu maka sebaiknya.."
"Maka sebaiknya apa !?" tanya Naruto keras memotong ucapan bocah bermata hitam itu.
"Aku akan membunuhmu.."
Kedua mata Naruto terbuka seketika. Nafasnya memburu dan peluh keringat membanjiri kulit tan nya. Bocah pirang itu kemudian meringis perih merasakan sengatan rasa sakit di pinggang kirinya. Dia pun menoleh ke arah sumber rasa sakit itu dan melihat noda darah di pinggang kirinya yang telah diperban.
Aneh. Naruto menyimpulkan seperti itu. Seingatnya, pria bernama Neji itu menembak kepalanya. Jadi seharusnya kepala bocah pirang itulah yang dibalut perban. Bukan pinggang kirinya seperti yang terlihat sekarang.
Bosan dengan segala spekulasi yang berputar di kepalanya, Naruto akhirnya menyerah. Bocah pirang itu kemudian menatap ke sekitar tempatnya berada saat ini. Hal yang pertama bocah pirang itu paham adalah saat ini dia tengah berada di sebuah ruangan pengobatan. Dia bisa memahaminya karena aroma anti-biotik yang begitu terasa di setiap hembusan nafasmu.
"Kau sudah sadar ?" tanya seseorang.
Naruto menoleh ke sumber suara. Dia kemudian mengulum senyumnya ketika melihat orang itu adalah Sakura.
"Selalu siap tahan banting, mom.." jawab Naruto sedikit bercanda.
"Syukurlah.." balas Sakura seraya menghembuskan nafas lega.
Naruto tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Tapi jika melihat dari helaan nafas lega dari Sakura, bocah pirang itu paham jika hal buruk telah terjadi padanya.
"Bisa kau jelaskan mengapa aku bisa ada di tempat ini?" tanya Naruto.
"Hhmm.." Sakura menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Naruto. "Kau ditusuk oleh tentara perdamaian."
"Ditusuk? Bagaimana itu bisa terjadi ? Bukankah Shikamaru berhasil melumpuhkannya hingga tak sadarkan diri?" tanya Naruto penasaran.
"Kau berdiri terlalu terlalu dekat dengannya. Tiba-tiba saja dia bangkit dan hendak menusukmu." Jawab Sakura sedangkan Naruto menaikan alisnya tanda bingung. Gadis itu kemudian memandang luka di pinggang kiri Naruto dengan raut risau.
"Neji melihatnya pertama kali ketika memungut pistol tentara itu. Dia menembak orang itu berharap bisa mencegah tindakannya. Tapi sayangnya kau justru melangkah mundur sehingga dengan mudah tentara itu berhasil menusukmu." Lanjut Sakura bercerita.
Naruto hanya terdiam mendengar cerita Sakura. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba merasa begitu kesal dengan segala yang terjadi hingga saat ini. Bocah pirang itu bertanya dalam hati. Sebenarnya apa dosa yang telah dia lakukan hingga harus menanggung sebegitu banyak kesulitan saat ini. Jangan lupakan juga tentang fakta bahwa dirinya adalah target utama pembunuhan tentara perdamaian. Semua kenyataan itu seolah membuat Naruto berpikir mungkin membenturkan kepala ke tembok hingga pecah masih lebih baik daripada harus menjalani takdir super gila ini.
Naruto kemudian teringat kembali pertemuannya dengan pria yang menurutnya paling mengesalkan sedunia. Mengingat pria itu membuat rasa kesal Naruto menjadi berkali-kali lipat. Apalagi dengan ancaman pembunuhan yang bocah itu ucapkan. Rasanya bocah pirang itu ingin sekali melemparkan sepatu bots milik tentara perdamaian ke wajah si bocah.
"Hei.. kau mendengar semua ucapanku tidak ?!" tanya Sakura menyadarkan Naruto yang tengah asyik di alam lamunannya.
"Eh.. ya ?" Balas Naruto gelapan.
"Huff, mungkin sepertinya kau memang perlu waktu beristirahat lagi." Ucap Sakura. Nada gadis itu terlihat sedikit kesal.
"Eh.. kau marah ya?" tanya Naruto merasa tidak enak.
"Tidak, sudahlah aku akan keluar agar kau bisa beristirahat lagi." Balas Sakura seraya mengecup pipi Naruto yang berhasil membuat pipi bocah pirang itu merona. Setelahnya gadis itu segera pergi.
Naruto merasakan kepiluan sejak kepergian Sakura. Tapi mau bagaimana lagi, bocah pirang itu terlalu malu untuk mengatakan bahwa dia saat ini sangat membutuhkan kehadiran gadis itu di sampingnya. Naruto bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa merasa seperti itu. Yang jelas saat ini butuh seseorang untuk menjadi sandaran dalam berbagi.
Naruto pun mencoba menutup matanya kembali. Entah memang karena dia sedang dalam mode super malasnya atau karena efek samping dari obat-obatan yang diminum, Naruto hanya butuh beberapa detik untuk kembali lagi di dunia mimpinya.
.
.
Naruto terbangun ketika merasakan perutnya mulai berteriak meminta diisi. Dia menoleh ke arah jam dinding dan mendapati jarum kecil tengah menunjuk ke angka 8. Bocah pirang itu menghela nafas. Pantas saja jika dirinya sangat lapar. Seingatnya sejak terakhir kali dia memakan sesuatu adalah ketika berada di dalam bangker. Anggap saja saat dia tak sadarkan diri sekitar satu hari penuh. Maka bisa dipastikan jika dia belum mengisi perutnya selama 34 jam kurang lebih.
Naruto segera bangkit dari tidurnya. Rasa sakit kembali menjalari pinggang sebelah kirinya ketika bocah pirang itu mulai bangkit berdiri. Sakit memang, tapi serangan rasa lapar lebih menguasai dirinya sehingga rasa sakit di pinggangnya itu hanyalah sebuah ilusi semata.
Naruto membuka pintu kamar ruang perawatannya. Dia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari seseorang yang mungkin saja bisa memberitahunya dimana ruang makan berada. Namun karena tak kunjung menemukan siapapun, bocah pirang itu akhirnya memberanikan diri mencari ruang makan sendiri.
Naruto lalu memilih berjalan ke arah kiri dari tempat ruang perawatannya. Lantai marmer terasa begitu dingin sejak dia mulai melangkahkan kakinya tanpa alas. Bocah pirang itu juga baru sadar jika saat ini dia tidak mengenakan pakaiannya. Saat ini dia tengah menggunakan baju panjang selutut dengan warna biru muda khas pakaian pasien rumah sakit. Menyadari hal ini membuatnya berpikir dimana keberadaan pakaian kebanggaannya.
Lama berjalan tanpa arah, Naruto akhirnya terhenti pada persimpangan. Sebelah kiri yang nampak hanya lorong gelap tanpa ujung. Sedangkan sebelah kanan, bocah pirang itu melihat cahaya lampu yang terang benderang tengah bersinar pada sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Tanpa basa-basi, Naruto segera menuju ke tempat itu.
Semakin dekat Naruto berjalan menuju tempat itu, aroma wangi makanan secara kompak menyerbu indera penciumannya. Seolah tersihir, Naruto tanpa sadar mempercepat langkah kakinya. Bukan hanya itu saja, aroma wangi masakan seakan memicu perut kosongnya untuk kembali berteriak-teriak meminta agar segera diisi.
Naruto akhirnya sampai di depan tempat yang dia tuju. Tanpa pikir panjang bocah pirang itu segera meraih kenop pintu dan membukanya tidak sabar. Tatapan mata beberapa orang seketika terpusat ke arah Naruto kaget. Merasa telah bertindak kurang terpuji bocah pirang itu menundukkan tubuhnya meminta maaf.
"Apa kau lupa pelajaran sopan santun, bung ?" tanya Sai ketus.
Awalnya Naruto akan menjawab pertanyaan sadis bocah kulit pucat itu segera. Tapi berhubung suara nyaring perut bocah pirang itu lebih dulu berdendang dan parahnya lagi cukup keras hingga seisi ruangan bisa mendengar dengan jelas. Karena itu sepertinya dia tidak perlu menjelaskan lagi kenapa bocah pirang itu sebegitu tergesanya ketika membuka pintu.
"Baiklah tidak perlu menjelaskan.. Ayo duduk dan makanlah !" ucap Shikamaru.
Mendengar perkataan Shikamaru, Naruto segera beranjak menuju ke tempat duduk yang masih kosong. Bocah pirang itu kemudian mendudukkan dirinya dan menoleh ke Sakura yang berada di sampingnya.
"Kemana ketiga orang itu ?" tanya Naruto pada gadis musim semi itu.
"Mereka bilang tengah mempersiapkan sesuatu." Jawab Sakura ringan.
Naruto mengerutkan keningnya tanda penasaran. Sakura yang melihat mimik wajah bocah pirang itu segera menghentikan kegiatan makannya.
"Tidak perlu kau pikirkan, cepat makan agar tubuhmu segar kembali !" tegur Sakura pada Naruto.
"Ya, aku mengerti.." jawab Naruto.
Bocah pirang itu kini menatap beberapa makanan yang telah tersaji di hadapannya. Tiba-tiba rasa laparnya meningkat dua kali lipat melihat bermacam-macam menu makanan itu. Dia bahkan sampai kebingungan harus memulai menyantap menu manakah terlebih dahulu.
Wajar saja jika saat ini Naruto merasa kebingungan. Sebelumnya dia tidak pernah pilih-pilih soal makanan. Tahu sendirilah betapa susahnya keadaan bocah pirang itu serta teman-temannya sebelum ini. Apa yang ada pasti dia akan memakannya selama itu tidak beracun dan bisa mengganjal perutnya.
Naruto kemudian menoleh ke arah teman-temannya. Shikamaru saat ini tengah menyeruput kopi hitam dengan sandwich ikan tuna dua buah tergeletak di depannya. Sai yang berada tepat di hadapan bocah pirang itu terlhat sedang menikmati onigiri dengan jus jeruk sebagai pendampingnya. Sedangkan Ino yang duduk di samping bocah kulit pucat itu terlihat tengah menikmati buah apel yang telaten dikupasnya.
Naruto lalu mengalihkan perhatiannya lagi. Kali ini dia melihat ke arah Shino yang terlihat begitu berkonsentrasi menikmati ayam panggang sendirian. Naruto tersenyum melihatnya. Bocah pirang itu tidak pernah mengira jika seorang Shino jika urusan soal perut benar-benar begitu mengerikan. Mata Naruto kali ini beralih memandang Sakura yang duduk di sampingnya. Gadis itu terlihat tengah mengunyah roti tawar dengan susu coklat sebagai pasangannya.
"Apa yang kau lihat? Cepat makanlah sesuatu !" tegur Sakura merasa diperhatikan.
Naruto mengangguk menurut. Tanpa basa-basi dia segera menyambar ayam panggang yang tersisa. Merasa masih kurang, dia kemudian mencomot beberapa telur rebus dan segelas air putih. Setelah dirasa cukup, dia segera memakannya dengan kecepatan yang luar biasa.
Tidak beberapa lama setelah Naruto mulai menyantap makanannya, pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan ketiga orang yang sudah tidak asing lagi bagi bocah pirang itu. Sontak semua menghentikan aktifitas makannya dan memberikan perhatian penuh kepada mereka bertiga.
"Rupanya kau sudah sadar, bocah pirang ?" tanya Neji pada Naruto.
"Ya, begitulah. Terima kasih untuk yang sebelumnya.." Jawab Naruto seraya tersenyum tulus.
"Tidak perlu sungkan. Jika bukan karena rencana brilianmu, kami juga pasti sudah tamat." Balas Neji.
Ketiga orang kemudian mendudukkan diri pada kursi yang tersisa di ruangan itu. Naruto dapat melihat raut serius tepat ketika pria bernama Neji itu menghembuskan nafas.
"Apa ada sesuatu yang telah terjadi ?" tanya Shikamaru penasaran.
"Ya, karena itu aku harus memberitahukan kalian secepatnya." Jawab Neji begitu serius.
Neji menoleh ke arah Tenten seraya menganggukkan kepalanya. Gadis itu segera membuka gulungan kertas yang sejak tadi selalu digenggamnya. Tanpa banyak bicara semua yang berada di ruangan itu segera memusatkan perhatiannya pada gulungan kertas itu.
"Jadi begini.." ucap Tenten seraya menghembuskan nafas berat. "Keadaan akan berubah buruk mulai lima jam dari sekarang."
Jantung Naruto berdegup kencang mendengarnya. Meskipun dia seringkali mendengar hal-hal buruk, tapi tetap saja bocah pirang itu belum bisa membiasakan dirinya. Mungkin jika ada waktu senggang dia akan mencoba mengikuti pelatihan pengendalian diri ketika mendengar hal-hal buruk akan terjadi.
"Memangnya apa yang akan terjadi ?" tanya Shikamaru.
"Sebelum terbunuh, tentara brengsek itu telah mengirimkan sinyal S.O.S kepada sekutunya." Jawab Tenten geram.
Sontak ekspresi Shikamaru segera mengeras mendengar penuturan Tenten. Raut muka cemas juga mulai nampak di wajah Naruto dan yang lainnya.
"Jangan senag dulu kawan, itu bukanlah kabar terburuknya.." sambung pria berambut klimis yang seingat Naruto bernama Lee.
"Maksudmu ada kabar super buruk lagi ?" kali ini Shino yang bertanya.
"Ya.. dan kau mau tahu apa kabar buruknya?" tanya balik Lee.
Naruto melirik wajah teman-temannya saat ini. Bisa dibilang raut mereka terlihat begitu cemas namun juga ada rasa penasaran tercetak di sana. Jika Naruto boleh memilih, bocah pirang itu lebih suka tidak mengetahuinya. Tapi sama halnya dengan teman-temannya, bocah pirang itu juga merasa amat penasaran tentang kabar buruk apa lagi yang harus diketahuinya.
"Jadi apa ?" Naruto memberanikan diri bertanya.
Neji tersenyum seolah mencemooh aksi sok berani yang coba diperlihatkan oleh Naruto. Pria berambut panjang itu kemudian memejamkan mata. Dia lalu menghembuskan nafas berat seolah kabar yang akan disampaikan terasa sama beratnya.
"Diluar sana, tepatnya 10 kilometer dari tempat ini satu peleton tentara perdamaian tengah berderap menuju ke tempat kita berada.."
Nafas Naruto tercekat kaget mendengarnya. Mungkin jika jumlah mereka hanya sepuluh orang, Naruto dan teman-temannya tidak terlalu riasu. Karena memang terbukti jika mereka bisa mengatasi seperti itu sebelumnya. Tapi kalau jumlahnya sampai satu peleton, beda lagi ceritanya. Bocah pirang itu bisa membayangkan betapa mengerikannya jika dia dan teman-temannya harus menghadapi mereka semua.
"dan kalian tahu apa kejutan berikutnya ?" tanya Neji yang ternyata masih menyimpan kejutan utamannya.
"SETENGAH DARI MEREKA ADALAH ROBOT HEWAN.."
.
.
.
to be continue
.
.
Balasan Review :
Inuzukarei : Haha, gomen-gomen.. saya gak tahu kalo rei-san gak mau dipanggil kaya gitu. Sekali lagi saya minta maaf. Soal kenapa Tenten disini saya buat sedikit beda karena menurut saya, dia emang lebih keren seperti itu. Menurut saya juga Tenten itu ibarat Katnis Everdeen nya di Naruto, haha
Ndah D Amay : Haha, bukan-bukan.. di chapter ini udah dijelasin.. Makasih buat RnR nya ya..
Syalala-lala : Haha, kalo gitu disundul aja terus biar rate nya naik... Up Up Up
: Oke siaaaap.. Makasih buat RnR nya
SR not Author : Bukan buronan tapi lebih ke arah target pembunuhan. Kalo soal bakalan ada yang mati lagi itu bukan di ending cerita tapi di pertengahan cerita..
Haruko Akemi : Wah-wah makasih banget masih sempet-sempetnya baca fic ini biarpun lagi sibuk-sibuknya. Saya jadi merasa terharu..
L.A Lights : Selamat datang di fic ini dan terima kasih buat fav n foll. Semoga ke depannya gak bosen-bosen buat RnR..
