Hallo Sobat Gembira..! Bagaimana kabar kalian semua? Semoga makin tampan dan cantik dari hari kemarin yah.. Yap gak usah berlama-lama lagi. Silahkan baca chapter terbarunya..
Chapter 14
.
.
.
Satu peleton. Oke, jika Naruto tidak salah kira satu peleton itu berjumlah sekitar 30 – 50 tentara. Yah, mau bagaimana lagi? Setidaknya bocah pirang itu masih bisa bersyukur karena cuma satu peleton saja. Bukan satu kompi, satu batalyon, satu resimen, satu divisi ataupun yang lainnya.
Naruto sebenarnya tidak terlalu memusingkan tentang hal itu. Yang saat ini ada di dalam pikirannya adalah apakah ketiga orang dihadapannya ini bisa dipercaya atau tidak. Memang, hingga saat ini mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbuat buruk pada Naruto dan teman-temannya. Mereka juga bahkan membantu pengobatan Naruto yang serta memberikan makan dan tempat berlindung sementara kepada mereka. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya. Ketika dia dan kawan-kawannya membuat kesepakatan dengan tentara perdamaian dimana pada akhirnya mereka dikhianati. Karena itulah sebagai pelajaran kali ini Naruto mencoba untuk lebih berhati-hati lagi dalam mempercayai seseorang.
"Bagaimana kalian bisa mengetahuinya ?" tanya Naruto dingin.
"Tempat ini memiliki radar yang bisa mendeteksi hingga 15 kilometer." Jawab Neji.
"Kenapa ?" tanya Naruto kembali namun dengan nafas memburu.
"Kenapa apanya ?"
"Kenapa aku harus mempercayai perkataan kalian ?!" bentak Naruto. Entah kenapa suasana hati bocah pirang itu benar-benar kesal.
Semua tersentak mendengarnya. Perkataan Naruto benar-benar diluar perkiraan. Sakura, Shikamaru dan yang lainnya menatap Naruto penuh tanya. Mereka tidak habis pikir dengan sikap Naruto yang tiba-tiba mendadak berubah seperti itu. Apa mungkin kepala bocah pirang itu mengalami gangguan seperti yang sebelum-sebelumnya?
Naruto menggeser kursinya dengan kasar. Bocah pirang itu bangkit dan menatap tajam pria masih duduk terdiam di hadapannya. Neji, pria itu justru tersenyum mencemooh melihat sikap yang ditunjukan Naruto padanya.
Tiba-tiba terdengar suara kursi lain yang digeser dengan kasar. Penasaran, Naruto mengalihkan perhatiannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Tenten, gadis kuncir kuda itu menodongkan pistol ke arahnya.
"Berani kau berkata seperti itu lagi pada Neji, Kau Akan Mati.." Ucap Tenten dingin seraya mengacungkan pistolnya tepat di depan mata Naruto.
"Bagus, kita lihat seberani apa nyalimu.." balas Naruto menantang.
"Kau yang minta.." ucap Tenten.
Gadis kuncir kuda itu lantas mulai menarik pelatuk pistolnya pelan-pelan. Shikamaru dan Sakura segera bereaksi sebelum kepala bocah pirang itu benar-benar dilubangi pistol milik Tenten. Keduanya mencengkram lengan Naruto mencoba menghentikan pertikaian sebelum hal buruk benar-benar terjadi. Tapi tak disangka Naruto entah kenapa justru tidak gentar melihatnya. Dia malah menempelkan dahinya tepat di depan ujung moncong pistol itu seolah menantang Tenten untuk segera menembaknya.
Tenten mulai geram dengan tingkah Naruto. Awalnya dia hanya mencoba menggertak bocah pirang itu saja. Tapi jika sudah seperti ini Tenten pun mulai naik pitam. Tanpa pikir panjang lagi gadis kuncir kuda itu benar-benar menarik pelatuk pistolnya dan peluru itu pun meluncur keluar dengan deras menuju kepala Naruto.
"Cukup.." Ucap Neji singkat.
Naruto melirik ke arah Neji. Entah sejak kapan pemuda berambut panjang itu mencengkram pergelangan tangan Tenten yang membuat tembakan gadis kuncir kuda itu meleset kesamping kanan kepala Naruto. Neji kemudian merebut pistol pada genggaman gadis itu dan membuang sembarangan. Dia lalu menatap tajam Tenten dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
"Sudah kubilang berapa kali untuk mengendalikan diri ?!" ucap Neji penuh determinasi pada Tenten.
"Maaf.. maafkan aku.." ucap Tenten meminta maaf dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Pergilah.." balas Neji singkat.
Naruto melihat ekspresi terluka tercetak di wajah gadis itu ketika Neji mengusirnya pergi. Tenten kemudian membungkukkan tubuh memberi hormat pada Neji. Setelah itu gadis kuncir kuda itu segera melangkah keluar dari ruangan itu. Sekilas bocah pirang itu bisa melihat air mata yang menumpuk di tepian mata gadis itu.
"Lee, cepat temani dia !" perintah Neji.
Lee segera beranjak pergi menyusul Tenten. Entah kenapa Sakura dan Ino juga ikut-ikutan keluar dari ruangan itu. Naruto tidak tahu apa yang hendak kedua gadis itu lakukan. Tapi mungkin saja mereka hendak bermaksud menghibur Tenten. Memikirkan tentang hal itu membuat Naruto merasa bersalah.
"Ada apa ? kau merasa bersalah ?" Tanya Neji tepat sasaran.
Naruto menoleh ke sumber suara. Dia mendengus kesal namun tidak menjawab pertanyaan itu. Lagi-lagi, entah kenapa dia selalu merasa sebal ketika menatap wajah pemuda berambut panjang itu.
"Siapa sebenarnya kalian ?" tanya Naruto balik. Neji justru tersenyum sinis mendengar pertanyaan itu.
"Aku sebenarnya tidak punya ketertarikan khusus dalam hal menjelaskan sesuatu. Apalagi sampai dua kali dalam satu hari." Jawab Neji yang kembali mendudukan dirinya.
"Tapi untuk kali aku akan membuat pengecualian. Kali khusus untukmu aku akan menjelaskannya lagi, tuan Uzumaki.." ucap Neji sembari menyeringai.
Naruto terdiam membeku mendengar Neji menyebut nama Uzumaki padanya. Naruto tidak tahu mengapa, tapi nama itu seolah punya energi yang begitu dahsyat hingga tanpa sadar membuat dada bocah pirang itu berdebar-debar.
"Aku menunjukan medali yang ada di sakumu. Karena itulah mereka bersedia membantu kita. Lebih tepatnya menolongmu.." Ucap Shikamaru seolah tahu jika Naruto tengah kebingungan.
"Benar sekali. Alasan kami muncul pada saat itu di hadapan kalian awalnya adalah untuk mengusir kalian dari tempat ini. Tapi ketika kami melihat sekumpulan tentara idiot berserta hewan peliharaannya tengah bersama kalian, kami akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan mereka terlebih dahulu sebelum kemudian membereskan kalian." Ucap Neji sembari bersedekap.
"Lalu kenapa kau menembak tentara itu ketika dia bermaksud membunuhku? Bukankah tidak masalah jika aku mati?" tanya Naruto ketus.
"Balas budi." Jawab Neji singkat. "Aku bukan tipe orang yang suka berhutang budi. Aku akui jika kalian tidak membantu kami pada saat itu, kami pasti sudah tamat."
Naruto lagi-lagi mendengus kesal mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Neji. Menurutnya perkataan pria berambut panjang itu terkesan angkuh dan penuh harga diri. Mungkin karena inilah yang membuat Naruto sedari tadi merasa kesal dengan sikap orang di hadapannya.
"Aku tidak butuh kepercayaanmu. Aku hanya merasa perlu membantumu mengingat kau adalah seorang Uzumaki satu-satunya yang masih hidup." Ucap Neji.
Naruto tergelak mendegar penuturan Neji. Bocah pirang itu kini baru paham jika keturunan Uzumaki tengah dalam masalah kepunahan. Mendengar Neji menyebutnya sebagai keturunan yang satu-satunya masih hidup membuat perut Naruto merasa mual. Dia sendiri bahkan tidak yakin jika dirinya adalah seorang Uzumaki.
"Kenapa kau yakin jika aku adalah seorang Uzumaki ?" tanya Naruto penasaran.
"Karena itu kita akan membuktikannya." Jawab Neji.
Naruto tidak tahu jika ada sebuah cara yang bisa membuktikan dirinya seorang Uzumaki atau tidak. Shikamaru, Sai dan Shino yang sebelumnya nampak tidak terlalu peduli kini mulai menunjukan ketertarikannya.
"Memang bagaimana caranya ?" tanya Sai. Bocah kulit pucat itu memang selalu nomer satu dalam hal penasaran.
"Berikan medali itu padaku.." ucap Neji pada Naruto.
Naruto yang memang merasa begitu penasaran segera menyerahkan medali itu. Neji kemudian mengusap-usap medali itu. Mulai dari bagian yang terdapat batu shapire sampai pada bagian sebaliknya. Pria itu lantas tersenyum seolah menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.
"Kau lihat bagian belakang medali ini ?" tanya Neji pada semuanya.
Naruto segera mendekat. Dia begitu penasaran tentang apa yang coba ditunjukan oleh Neji. Bocah pirang itu kemudian menatap dengan seksama bagian belakang medali itu. Sekilas memang tidak terlihat apapun, namun pada akhirnya dia mulai sadar. Pada bagian belakang medali itu tepat di tengah-tengahnya Naruto bisa melihat sebuah pola bangun segiempat yang menjorok ke dalam.
"Sebuah pola segiempat. Apa maksudnya ?" tanya Naruto semakin penasaran.
"Kau benar, dan jika kau tekankan salah satu jarimu tepat di pola segiempat itu maka medali ini akan terbuka." Jawab Neji sembari tersenyum.
"Maksudmu itu semacam alat sidik jari ?" tanya Shino.
"Ya, setiap Uzumaki memiliki medali ini. Semacam alat bukti sah jika memang mereka adalah seorang keturunan Uzumaki. Karena itu hanya pemilik asli medali inilah yang dapat membukannya." Jawab Neji.
"Bukankah bisa saja dipalsukan ? maksudku bisa saja ada yang membuat medali sama seperti ini juga." tanya Shikamaru.
"Itu mustahil. Karena batu shapire ini hanya keluarga Uzumaki saja yang memiliknya. Mungkin saja ada yang mencoba menirunya juga. Tapi lihatlah.."
Neji kemudian menutupi medali itu dengan kain berwarna hitam. Mata Naruto dan yang lain kecuali Neji tergelak kagum melihat apa yang terjadi. Batu shapire pada medali itu menyala terang. Tidak sampai disitu saja, tidak lama berselang batu shapire berubah warna. Dari awal berwarna biru lalu berganti menjadi kuning lalu merah dan kembali lagi berwarna biru.
"Bagaimana bisa ?" Kali ini Naruto yang bertanya.
"Hingga saat ini tidak ada yang tahu bagaimana bisa seperti itu. Mungkin hanya keluarga Uzumaki saja yang tahun rahasinya. Tapi perlu kalian ketahui, batu shapire hanya akan bereaksi jika ditutupi oleh kain bewarna hitam saja." Jelas Neji.
Naruto merasa begitu takjub dengan teknologi yang dikembangkan oleh keluarga Uzumaki. Bocah pirang itu bahkan mulai sedikit merasa bangga meskipun dia sendiri masih belum yakin tentang kebenarannya.
"Jadi sekarang coba kau letakan salah satu jarimu, kita lihat apa memang kau seorang Uzumaki atau bukan.." ucap Neji.
Inilah momen yang Naruto sendiri tidak tahu harus bersikap apa. Dia sendiri merasa deg-deg-an. Entah kenapa dia merasa takut jika nantinya dirinya bukanlah bagian dari keluarga Uzumaki. Tapi memangnya sejak kapan dia peduli dengan status itu. Merasa pening dengan apa yang tengah berkemelut di kepalanya, Naruto akhirnya memilih untuk menyingkirkan sejenak.
Bocah pirang itu kemudian mulai meletakkan ibu jari kanannya pada pola segiempat itu. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada medali itu. Naruto lantas menatap Neji seolah bertanya apa yang harus dia lakukan setelahnya.
"Coba jari yang lainnya. Kau masih punya sembilan jari yang tersisa.." jawab Neji seolah tahu keresahan Naruto.
Naruto mengangguk paham. Bocah pirang itu kemudian mencoba lagi dengan menggunakan seluruh jari tangan kanannya. Dimulai dari jari telunjuk hingga diakhiri jari kelingking tetap saja medali itu tidak terbuka. Naruto mulai resah. Dia mulai berpikir jika memang dirinya bukanlah seorang Uzumaki dan tentang keberadaan medali itu di saku celananya, mungkin saja ada seseorang yang meletakkannya ketika dia tak sadarkan diri.
"Masih ada 5 jari lagi. Tidak perlu memasang wajah konyol seperti itu, bung.." ucap Sai menyindir Naruto.
Naruto merasa sedikit kesal dengan sindiran itu. Tapi dia mencoba mengacuhkannya. Bocah pirang itu lantas mengulurkan tangan kirinya dengan ragu-ragu. Dia merasa begitu gugup hingga bulir-bulir keringat mengalir deras di keningnya.
Naruto kemudian mulai mengulurkan jari pada pola segiempat itu. Jika sebelumnya dia memulai dari ibu jari kali ini bocah pirang itu mengawalinya dari jari kelingking. Dengan gugup Naruto segera menekankan jari kelingkingnya pada pola tersebut. Merasa tidak ada apapun yang terjadi di segera mulai mencoba jari lainnya. Tapi sebelum dia sempat menekan pola segiempat, suara aneh terdengar di telinganya.
Medali itu mengeluarkan suara berderak rendah. Suaranya terdengar seperti jarum jam yang bergerak namun dengan tempo yang lebih cepat. Neji yang mengetahui hal itu segera membalikkan medali itu. Betapa terkejutnya Naruto ketika melihat bagian depan medali itu telah terbuka dan nampaklah foto dirinya bersama dengan seorang gadis.
Naruto mencoba memperhatikan foto tersebut lebih seksama. Jika perkiraannya tidak keliru gambar dirinya pada foto itu terlihat lebih muda. Pada foto itu juga bocah pirang itu dapat menilai jika dirinya dahulu begitu bahagia. Terlihat dengan jelas dari senyuman di wajahnya yang terasa begitu tenang dan tentram. Melihat foto itu membuat dada Naruto terasa nyeri. Satu pertanyaan dalam kepalanya. Apakah dia bisa merasakan kebahagian seperti itu lagi?
Naruto kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sosok gadis yang terdapat di foto tersebut. Jantung berdetak seketika. Rasa kerinduan yang begitu besar seperti sebelumnya muncul kembali memenuhi seluruh rongga dadanya. Gadis itu, ya dialah anak perempuan yang ditemuinya ketika di dalam alam bawah sadar.
"Siapa gadis itu ?" tanya Shino pada Naruto.
"Sudah jelas bukan, gadis itu pasti kekasihnya. Lihatlah, mereka berdua tidak ada kemiripan sama sekali. Itu tandanya mereka bukanlah saudara." Jawab Shikamaru sebelum Naruto membuka mulutnya.
"Ck, sudah punya kekasih tapi masih saja mendekati Sakura. Dasar playboy !" ucap Sai.
Sempurna. Ucapan Sai benar-benar menohok Naruto dengan telak. Mulut bocah pucat itu memang begitu tajam dan tanpa basa-basi. Bocah pirang berpikir mungkinkah Sai tidak pernah diajari sedikit basa-basi dalam berucap atau memang dasar kepribadian bocah kulit pucat itu yang memang serba blak-blakan. Naruto tidak peduli dengan itu. Tapi dalam hatinya dia sendiri merasa ucapan Sai ada benarnya juga.
"Aku tidak tahu, atau mungkin bisa dibilang aku tidak ingat.." Jawab Naruto mencoba sebisa mungkin tidak menimpali perkataan Sai.
"Baiklah itu tidak penting, setidaknya kita tahu jika kau memang seorang Uzumaki." Sambung Neji mencoba mengganti topik pembicaraan.
Neji kemudian memberikan medali itu kembali pada Naruto setelah menutup bagian depannya. Bocah pirang itu segera memasukannya ke dalam saku celana dan menggenggamnya dengan begitu erat. Kali ini dia merasa jika benda tersebut amat sangat berarti baginya.
"Masih banyak waktu untuk bersiap-siap pergi. Kalian pergilah ke ruang utama. Aku sudah menyiapkan peralatan tempur untuk kalian semua." Ucap Neji memberitahu Naruto dan yang lainnya.
Naruto dan yang lainnya segera mulai beranjak pergi. Shikamaru berjalan paling depan diikuti Sai, Shino, Naruto dan terakhir Neji. Belum genap lima langkah Naruto berjalan, tangan kanannya dicengkram erat dari belakang oleh Neji. Penasaran, bocah pirang menoleh dan menatap Neji seolah bertanya ada apa.
"Kita perlu bicara empat mata.." ucap Neji lirih seolah takut jika Shikamaru dan yang lain mendengarnya.
Naruto sedikit ragu. Bocah pirang itu menatap mata Neji mencoba meyakinkan dirinya. Tersirat jika pemuda berambut panjang itu tidak main-main. Naruto menghembuskan nafas dan kemudian menganggukan kepala tanda setuju. Mereka lantas kembali ke ruangan sebelumnya.
"Ada apa ?" tanya Naruto mulai mendudukkan diri.
"Ini tentang gadis di foto itu. Aku mengenalnya.." jawab Neji dengan raut wajah mulai serius.
Naruto melebarkan matanya mendengar ucapan Neji. Ada rasa menggebu-gebu di hatinya. Dia tidak tahu mengapa. Tapi yang jelas perasaan menjadi benar-benar super membaik mengetahui fakta tersebut. Bocah pirang itu segera mencondongkan tubuhnya pada pemuda berambut panjang itu.
"Si..siapa dia ?" tanya Naruto begitu gugup.
"Dia Nona Besar.." Jawab Neji singkat.
"Nona Besar? Aku tidak peduli itu. Aku hanya ingin tahu namanya ?!" tanya Naruto kembali tidak sabar.
"Maaf, hanya itu saja yang bisa kuberitahu.." balas Neji.
Naruto merasa kesal mendengar jawaban itu. Lagi-lagi harapan pupus setelah sesaat sebelumnya dilambungkan begitu tinggi. Naruto merasa dipermainkan. Jika memang Neji hanya ingin mengatakan hal tidak penting seperti itu, mengapa sampai dia memintanya berbicara empat mata saja, seolah hal konyol itu tidak boleh diketahui yang lainnya.
"Jika hanya hal tidak penting seperti itu, menurutku kita tidak perlu berbicara empat mata seperti ini.." ucap Naruto ketus.
"Tidak, itu perlu karena ada satu hal lagi yang ingin kutunjukkan padamu." Jawab Neji dengan raut wajah seriusnya.
"Memangnya apa ?" tanya Naruto tidak tertarik.
Neji kemudian merogoh saku celananya. Dia lalu meletakan sebuah amplop coklat usang kecil yang segelnya telah terbuka di hadapan bocah pirang itu. Mungkin saja sebelum memperlihatkannya pada Naruto pemuda itu telah membaca isinya terlebih dahulu. Dengan malas Naruto segera meraih amplop itu dan mulai membaca.
Akulah yang terindah
Melayang gagah diantara Anak dan Ayahku
Ayah yang telah kubunuh
dan Anak yang membunuhku
Suatu saat aku akan kembali dan berkuasa
Bersama ketujuh anak-anakku yang setia
Itulah isi yang tertulis. Semacam syair yang begitu aneh. Naruto tidak tahu apa maksudnya. Dia juga tidak tahu kenapa Neji memperlihatkannya. Menurut Naruto jika pemuda itu ingin bertanya tentang makna apa yang terkandung di dalam syair tersebut, dia telah salah orang. Seharusnya dia bertanya pada Shikamaru yang telah terbukti kualitas otaknya.
"Kau salah orang, bung. Aku bukan tipe orang yang bisa pandai memaknai syair tidak jelas seperti ini." ucap Naruto.
"Tidak, kau adalah orang yang tepat. Nona sendiri yang memintanya padaku." Balas Neji.
"Maksudmu ?" tanya Naruto penasaran.
"Beberapa bulan lalu Nona mengirimkannya padaku. Dia berpesan jika amplop ini diperuntukkan untuk seseorang. Awalnya aku tidak tahu kepada siapa aku harus memberikannya, tapi setelah melihatmu di aula besar itu aku jadi tahu jika harus memberikan ini padamu." Neji mulai menjelaskan. "..dan maaf karena telah lancang membukannya."
Naruto mulai resah mendengar penjelasan Neji. Dia merasa bingung harus menyikapi seperti apa. Tapi di dalam hatinya yang terdalam dia merasa sedikit tertarik dengan apa yang tengah dijelaskan oleh pemuda berambut panjang itu.
"Bagaimana kau bisa yakin jika akulah yang pantas menerimanya. Bukankah kau baru melihat kedekatanku dengan si Nona Besar di foto itu saja ? memangnya kau pernah melihatku sebelumnya?" tanya Naruto lagi.
"Ya, kita bahkan sudah lama saling kenal." Jawab Neji.
Naruto menggeram kesal. Lagi-lagi pemuda berambut panjang itu menyampaikan fakta mengejutkan padanya. Jika memang dia telah mengenal Naruto, kenapa dia malah menunjukkan sikap acuh padanya ? Naruto tidak tahu. Yang jelas fakta ini membuat kepala Naruto serasa ingin meledak seketika.
"Lalu kenapa kenapa kau bersikap seolah tidak mengenalku?" tanya Naruto geram.
"Untuk menghindari kecurigaan dari teman-temanmu." Balas Neji tegas.
"Memangnya ada apa dengan mereka?!" tanya naruto kembali penuh emosi.
"KARENA KAU HARUS TAHU JIKA MEREKA MEMANG PANTAS UNTUK DIWASPADAI.."
.
.
to be continue
Yosh..! akhirnya bisa kelar juga chapter 14 ini. Sedikit info aja kalau chapter ini sangat terinspirasi dari novel The Lost Symbol karya om Dan Brown yang super duper gokilnya. Oh ya, barangkali ada yang bisa menebak teka-teki yang dimaksud dari syair itu silahkan saja coba disampaikan. Terima kasih atas waktunya buat membaca dan jangan lupa reviewnya.
Balasan review :
Oneekyuchan : wah, maaf jika memang kurang memuaskan. Soal kenapa gak ada action itu karena saya takut nanti om Kishi mencekal saya gara-gara terlalu memforsir chara2 miliknya buat berantem terus.. hehe
Kidsno oppai, Uchizuma angel & cindy : Yap, dan ini chapter terbarunya.
Ndah. D amay : Ya, nantinya akan ada chapter itu. Tapi tidak dalam waktu dekat.
Inuzukarei : Soal siapa laki2 bermata hitam itu anggap saja rei-san belum tahu ya.. hehe. Kalo soal Lee jadi Peete kayaknya kurang cocok deh. Menurutku yang cocok itu si Kaneki Ken secara keduanya kan cowo polos yang tiba2 dipaksa hidup di lingkungan yang keras.
LA Lights : Soal panggilan bocah itu saya akan pertimbangkan lagi. Gak tahu kenapa kalo saya ganti dari bocah ke pemuda atau pria, mood nulis saya jadi malah berkurang. Hehe..
Syalala & Inuzukarei : Itu memang sengaja saya ganti dikarenakan untuk beberapa chapter ke depan peran Neji & Tenten akan lebih besar. Tapi jangan kuatir karena saya udah menyiapkan chapter yang cukup epic buat Sai & Ino.
Haruko Akemi : Yap, satu peleton itu berkisar antara 30-60 orang. Saya mungkin akan pake yang tengah-tengahnya aja. Makasih buat RnR nya..
SR not Author : Yap tepat sekali. Soal temennya bakal mati one by one kayaknya gak terlalu kaya gitu.
CherryFoxy : Haha begitukah? Saya cukup tersandung eh tersanjung.. makasih buat RnR nya.
Chika Kyuchan : haha, apakah saya sejahat itu? Gimana nanti kalo saya bikin chapter yang lebih tragis lagi? Jadi super duper jahat donk ? hehe
