Hallo para teman kolega..! Bagaimana kabar anda semua? Semoga saja makin berkilau dari sebelumnya. Ya udah lah gak usah banyak basa-basi. Silahkan baca chapter terbarunya. Saya harap cukup terhibur dan terima kasih buat RnR nya..!
Chapter 15
.
.
.
Nafas Naruto menderu. Lubang hidungnya kembang kempis mendengar pernyataan Neji. Ada sebuah emosi yang coba dia tahan sekuat tenaga untuk tidak meninju wajah pemuda berambut panjang itu. Bocah pirang itu sangat tidak terima ketika Neji mengatakan jika teman-temannya memang pantas untuk dicurigai. Menurut Naruto, jika ada seseorang di tempat ini yang patut untuk dicurigai itu adalah Neji sendiri.
"Jangan bercanda.." kata Naruto dingin. "Jika ada orang yang patut dicurigai di tempat ini maka itu tidak lain adalah kau !"
Neji mendengus kesal mendengar ucapan Naruto. Pemuda itu bahkan terlihat seolah sudah paham akan bagaimana reaksi Naruto setelah mendengar pernyataannya. Dia lantas bersedekap seraya menatap orang di hadapannya dengan serius.
"Benar juga, lagipula menurutmu kita baru saja saling kenal." Balas Neji tenang namun ambigu. "Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku. Anggap saja ucapanku barusan adalah sebuah himbauan. Masalah kau akan percaya atau tidak, itu urusanmu."
"Tapi setidaknya kau harus tutup mulut untuk semua pembicaraan kita ini." ucap Neji bangkit berdiri. Dia lalu mulai berjalan dan menengok kembali pada Naruto.
"Jangan lupa pecahkan maksud yang terkandung dalam syair itu dan sekali lagi, jangan bicarakan masalah ini pada siapapun meskipun kau sendiri tidak mempercayaiku." Sekali lagi Neji mengingatkan.
Pemuda berambut panjang itu kemudian pergi meninggalkan Naruto sendiri. Sepeninggal Neji, bocah pirang itu tidak serta merta beranjak pergi dari ruangan itu. Diam-diam dia mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Meskipun dia terus menolak untuk berspekulasi seperti itu, tapi tetap saja pemikiran tentang pengkhianatan dari teman-teman benar-benar membuatnya frustasi hingga akhirnya dia membenamkan kepala kuningnya diantara kedua tangannya di atas meja, beristirahat.
Naruto mencoba menenangkan dirinya. Dia kemudian mengingat-ingat kembali tentang pertemuannya dengan gadis yang ada pada foto di alam bawar sadarnya. Dimana gadis itu mengatakan tentang sebuah tugas yang harus dilakukan oleh bocah pirang itu. Sebuah tugas untuk membunuh seseorang yang jikalau dia gagal melakukannya, maka pengorbanan Sakura akan menjadi sia-sia.
Naruto kemudian teringat juga pertemuannya dengan seorang anak laki-laki bermata hitam yang lagi-lagi terjadi di alam bawah sadar. Bocah bermata hitam itu juga menyinggung tentang misi pembunuhan yang harus dilakukan oleh Naruto. Dia bahkan sempat mengancam akan membunuh Naruto jika dia tidak melaksanakan misinya. Merasa frustasi Naruto mengacak-acak rambut pirangnya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Naruto tersentak kaget dalam lamunannya. Tapi setelah tahu jika Sakura yang membukanya, bocah pirang itu akhirnya bisa mengendalikan diri. Naruto kemudian menatap gadis itu yang juga dibalas lagi tatapannya.
"Ada apa ? Kenapa kau tidak berkumpul dengan yang lain ?" tanya Sakura.
"Oh.. itu karena.."
Naruto ingin mengatakan apa yang tengah dipikirkannya saat ini pada Sakura. Namun ketika dia ingin berucap, kata-kata itu seolah melekat lengket diujung tenggorokannya. Memaksanya untuk tetap tutup mulut seperti apa yang diperintahkan oleh Neji. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Mungkinkah dia mulai terdoktrin oleh kata-kata Neji? Bahkan sampai tidak mempercayai Sakura. Jika memang itulah kenyataannya, rasanya Naruto merasa malu pada dirinya sendiri terlebih pada Sakura.
"Apa ? apakah ada sesuatu ?"tanya Sakura penasaran.
"Ti..tidak ada apa-apa.." Jawab Naruto gugup.
"Oh ya, ada apa kau kemari ?" tanya Naruto balik. Dia bermaksud mengalihkan pembicaraan.
Sakura menatap sejenak bocah pirang itu sebelum menjawab pertanyaan, hingga membuat Naruto menjadi salah tingkah. Gadis musim semi itu nampaknya memahami kegugupan yang Naruto alami.
"Tidak begitu penting sih, hanya ingin melihat keadaanmu saja. Apa aku ketinggalan sesuatu ?" tanya Sakura balik.
Naruto tersenyum mendengarnya. Dia merasa senang karena gadis musim semi itu benar-benar peduli padanya. Namun tiba-tiba satu fakta menampar Naruto. Ya, fakta tentang adanya gadis lain di kehidupan sebelumnya. Seorang gadis yang mungkin sangat disayanginya. Memahami kenyataan ini, Naruto menjadi merasa bersalah. Mungkin ungkapan jika dia adalah seorang playboy seperti halnya kata Sai memang benar adanya.
"Hanya sesuatu yang tidak penting. Ayo kita susul mereka." balas Naruto yang kemudian beranjak pergi mencoba mengacuhkan keberadaan Sakura.
.
.
Naruto dan Sakura saat ini telah berada di ruang utama bersama dengan teman-temannya. Jika di ruang sebelumnya dia disajikan dengan berbagai macam menu makanan, di ruang utama kali ini yang tersaji justru aneka alat-alat tempur khas militer. Dari mulai senapan yang sangat besar hingga pistol kecil yang kira-kira hanya berukuran 10 cm, semua terpampang di depan mata bocah pirang itu.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya jika tamu kita berjumlah kurang lebih satu peleton. Pastinya juga mereka tidak datang dengan tangan kosong. Apalagi kita tahu jika setengah dari mereka adalah Kyofu, monster jelek yang sangat merepotkan. Karena itulah aku mengumpulkan kalian disini." Ucap Neji pada Naruto dan teman-temannya.
"Maksudmu kita akan menggunakan alat-alat ini?" tanya Shikamaru lansung pada intinya.
"Ya, dan aku akan menjelaskan kegunaannya satu per satu pada kalian." Jawab Neji.
Neji kemudian melangkah mendekati senapan berukuran paling besar. Bentuknya seperti kepala naga dengan corak warna putih-hitam menghiasi setiap lekuknya. Neji terlihat agak kesulitan ketika mengangkat senapan itu. Naruto berpikir memang seberapa beratkah senjata itu hingga untuk pemuda seukuran Neji kesulitan mengangkatnya.
"Senjata ini disebut senapan penghenti detak jantung. Jika alat pacu jantung berfungsi merangsang denyut jantung maka senapan ini berfungsi sebaliknya." Ucap Neji seraya meletakannya kembali. Pemuda berambut panjang itu terlihat kepayahan.
"Apa itu berat?" tanya Sai. Bocah kulit pucat itu sepertinya satu pemikiran dengan Naruto.
"Kira-kira 10 kg. Saranku, sebaiknya kalian memilih senjata yang lain saja daripada ini. Kecuali kalian manusia gila bertenaga kuda yang dengan mudah menenteng senapan ini sembari berlari melarikan diri." Jawab Neji sedikit sarkastis.
Mendengar penjelasan Neji, Naruto mencoba membayangkan jika dia benar-benar membawa senapan besar itu. Mungkin belum genap seratus meter dari tempat ini dia pasti akan segera jatuh terkapar karena kelelahan.
Neji kemudian meraih 2 benda bundar kecil di sebelah senapan berat itu. Satu berwarna merah dan satu lagi berwarna hijau. Jika Naruto tidak salah terka mungkin ukuran benda itu tidak beda jauh dengan kelereng. Diapun mulai penasaran tentang kegunaan kedua benda bundar itu dalam sebuah pertempuran.
"Benda yang berwarna merah ini disebut kelereng peledak. Kau lemparkan kelereng ini pada lawanmu dan kemudian dia akan meledak. Kekuatannya mungkin setara dengan satu granat tangan." Ucap Neji mulai menjelaskan.
"Sedangkan benda berwarna hijau ini disebut kelereng beracun. Tidak perlu kalian lemparkan. Cukup letakan saja di tanah dan dalam waktu 30 detik racun akan keluar. Batas luas penyebaran racun mungkin sekitar 20 meter. Jadi saranku, setelah kalian meletakkannya segera berlari secepat mungkin karena kami tidak memiliki respirator."
Semua mengangguk tanda paham begitu pula dengan Naruto. Apalagi soal kelereng berwarna hijau. Bocah pirang itu akan mencoba mengingatnya sekeras mungkin. Naruto tidak tahu kenapa dia merasa lebih ngeri pada kelereng berwarna hijau daripada yang berwarna merah. Mungkin karena senjata biologis lebih sulit untuk dihalau daripada senjata api.
Neji kemudian menggeser sedikit tubuhnya. Dia lalu meraih pistol kecil berukuran 10 cm. Dari sudut pandang Naruto, pistol kecil itu terlihat begitu anggun. Corak warna ungu pucat membuat pistol kecil itu tidak nampak seperti senjata api pada umumnya. Meskipun memang terlihat seperti senjata api mainan, bocah pirang itu cukup terkesan dan merasa perlu bertemu dengan si perancang desain pistol itu.
"Apa pendapat kalian tentang pistol ini ?" tanya Neji seraya mengacungkan pistol di tangannya.
"Anggun dan begitu indah.." ucap Ino. Setelah sekian lama gadis itu akhirnya bersuara.
"Tepat sekali. Terima kasih untuk penjelasannya, nona pirang." Balas Neji tersenyum ramah.
Pemuda berambut panjang itu kemudian mengarahkan pistol ke arah Naruto dan segera menekan pelatuknya. Seketika air keluar menyembur wajah Naruto dari moncong senjata api tersebut seperti layaknya pistol mainan. Naruto menjadi merasa bodoh. Bocah pirang itu berpikir, mungkinkah Neji tengah mengajak mereka bercanda? Tapi jika dilihat dari pembawaannya, Naruto yakin pemuda berambut panjang itu tidak punya selera humor yang mumpuni.
"Di sisi lain pistol ini memang hanya sebual pistol mainan. Tapi di sisi lain.."
Neji kemudian mengacungkan lagi senjata api itu dan mengarahkan pada sebuah tembok beton yang jaraknya kira-kira 10 m dari tempat Naruto berada. Pemuda berambut panjang itu lalu menekan pelatuk dan meledaklah tembok beton dengan begitu dahsyat.
"Bagaimana menurut kalian ?" tanya Neji menyeringai.
"Ada satu hal yang sangat mengganggu kepalaku tentang pistol itu." Ucap Shikamaru. "Apa manfaat dengan membuat pistol itu menjadi dua fungsi?"
"Sepertinya aku belum menjelaskan sesuatu." Jawab Neji penuh misteri.
"Benda ini hanya akan berfungsi seperti sebagaimana mestinya ketika kau mengarahkannya pada benda mati. Begitu juga sebaliknya. Ketika kau mengarahkannya ke arah makhluk hidup maka fungsinya akan berubah menjadi pistol mainan." Jelas Neji.
"Siapa yang merancangnya ?" tanya Shikamaru lagi. Bocah pemalas itu nampaknya benar-benar penasaran.
"Nona besar yang merancangnya.." jawab Neji seraya menatap tajam ke arah Naruto seolah memberinya perintah untuk tidak berkata-apa.
"Memang siapa itu si nona besar ?" tanya Shikamaru lagi.
"Itu tidak penting.." Balas Neji.
Pemuda berambut panjang itu segera beralih ke senjata berikutnya. Awalnya Shikamaru hendak bertanya kembali. Namun setelah melihat gelagat Neji yang seolah tidak ingin membahas tentang hal tersebut, akhirnya bocah pemalas itu pun mengurungkan diri dan Naruto bisa melihat ekspresi penasaran tercetak jelas di wajah Shikamaru.
"Untuk kedua senjata ini sepertinya kalian sudah paham tentang cara kerjanya. Jadi mungkin aku tidak perlu menjelaskannya lebih detail." Neji mulai menjelaskan kembali. Dia sangat terlihat jelas berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Neji menunjukan dua buah senjata yang sudah tidak asing lagi dimata Naruto dan teman-temannya. Sebuah belati dan bola gravitasi yang seingat Naruto itulah namanya.
"Bola ini disebut bola gravitasi dan fungsinya seperti apa yang kalian lihat sebelumnya." Ucap Neji.
"Cara menggunakannya cukup mudah. Jika kau menekan tanda panah merah ini maka bola ini akan melontarkan apapun dalam jarak 3 m darinya. Sebaliknya jika kau menekan tanda kuning maka bola ini akan menarik apapun dalam jarak yang sama. Dan untuk menonaktifkannya kau hanya perlu menekan tanda biru ini." jelas Neji sembari mendemonstrasikannya.
"Berikutnya belati peledak ini. Kalian juga sudah tahu kan tentang fungsi gandanya ?" tanya Neji yang dibalas anggukan oleh semuanya.
"Untuk meledakan belati ini kau harus memastikan terlebih dahulu jika benda ini telah menancap dengan sempurna. Setelah itu kau bisa meledakannya dengan remote ini dan nikmatilah pertunjukan kembang apinya." Ucap Neji mengakhiri penjelasan.
"Ya, mungkin hanya itulah yang bisa aku jelaskan pada kalian. Selebihnya hanya senjata-senjata biasa seperti pedang, senapan angin, boomerang dan yang lainnya. Silahkan pilih senjata mana saja yang menurut kalian cocok. Aku sarankan kalian cukup membawa dua jenis senjata saja sebagai tindakan efisien dalam acara melarikan diri kita."
Naruto dan teman-temannya mengangguk tanda mengerti. Mereka kemudian mulai sibuk memilah-milih senjata mana yang cocok. Sai terlihat sangat tertarik dengan pisau peledak dan dan bola gravitasi berbeda halnya dengan Shino. Bocah itu cenderung lebih memilih senjata biasa saja seperti sebuah pedang dan senapan angin.
Ino memilih pistol kecil dua fungsi serta sebuah boomerang kecil. Mungkin gadis itu mencoba menyesuaikan senjata yang dipilihnya dengan ukuran tubuhnya sendiri. Sedangkan Sakura, gadis itu sama seperti Shino. Dia lebih memilih senjata biasa seperti nunchaku dan busur berserta anak panahnya.
Berbeda dengan yang lainnya. Shikamaru justru belum menemukan senjata mana yang akan dia bawa. Bocah pemalas itu seperti sedikit kesulitan dalam hal memilih atau mungkin saja semua senjata-senjata itu tidak cocok dengannya.
"Dimana benda yang mengeluarkan cahaya menyilaukan itu ?" tanya Shikamaru pada Neji.
"Benda itu tidak bisa digunakan sembarang orang. Hanya aku saja yang bisa menggunakannya." Jawab Neji.
"Kenapa bisa ?" tanya Shikamaru lagi.
"Karena pupil mata ini tidak terpengaruh dengan kilauan cahaya itu.." Jawab Neji seraya menunjukan pupil matanya.
Shikamaru terkejut melihat pupil mata Neji. Ekspresi bocah pemalas itu sama seperti Naruto ketika pertama kali mengetahui fakta itu. Memang kalau tidak diperhatikan dengan lebih seksama kurang begitu kentara. Tapi jika dilihat tepat pada bagian pupil itu maka akan nampak jelas perbedaannya dengan pupil mata orang biasa.
"Maaf menunggu lama.." ucap Tenten cukup mengagetkan.
Sontak semua pasang mata tertuju pada gadis kuncir kuda itu. Lee muncul tidak lama berselang. Mereka berdua terlihat tengah kerepotan membawa sesuatu. Dengan gerakan yang cukup kesulitan mereka berdua kemudian meletakan barang bawaannya di atas meja tepat di samping beberapa senjata.
"Untunglah jumlahnya sama dengan mereka.." ucap Lee sembari membasuh keringat.
"Bagaimana dengan posisi mereka ?" tanya Neji pada Tenten.
"Lebih cepat dari yang kita kira. Mungkin waktu kita hanya tersisa 1,5 jam lagi. Kita harus bergegas.." Jawab Tenten.
Naruto dan teman-temannya hanya terdiam seolah tidak mendengarkan perbincangan antara Neji dan Tenten. Secara tidak langsung mereka sudah paham jika memberikan respon berlebihan tidak ada gunannya sama sekali. Lebih baik mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk kesulitan di depan.
"Baiklah, bisa minta perhatiannya lagi." Ucap Neji pada Naruto serta teman-temannya.
Naruto dan yang lain segera mengalihkan perhatiannya kepada pemuda berambut panjang itu. Di hadapannya terpampang rombi tebal berwarna hijau seperti yang saat ini tengah dikenakan oleh Neji, Tenten serta Lee. Naruto sempat menghitung jumlah rompi tersebut. Bocah pirang itupun mendapatkan fakta jika jumlah rompi itu sama dengan jumlah Naruto dan teman-temannya. Bocah pirang itu berani jamin sehabis ini Neji akan menjelaskan tentnag kegunaan rompi itu.
"Seperti yang kalian lihat. Rompi ini adalah rompi anti peluru. Berfungsi melindungi tubuh bagian atas mulai dari bagian bawah leher hingga dibawah pusar." Jelas Neji sesuai dengan perkiraan Naruto.
"Jadi jika lawanmu menembak bagian kepala, tangan serta kaki, kalian tetap saja akan mati." Imbuh Lee.
"Setidaknya masih bisa disebut rompi anti peluru.." Sambung Tenten.
"Jika kalian telah selesai memilih senjata, segeralah pakai rompi ini. Kita tidak punya banyak waktu. Tentara-tentara gila itu bergerak lebih cepat dari perkiraan." Ucap Neji.
Sai, Shino, Sakura serta Ino segera bergegas memakai rompi. Sedangkan Naruto dan Shikamaru masih sibuk mencari senjata yang dirasa cocok dengan mereka berdua. Sebenarnya mereka bisa saja memilih dengan cepat. Hanya saja banyaknya pertimbangan ini dan itu membuat mereka kesulitan dalam menentukan. Mungkin inilah problematika yang selalu menghantui seorang pemilih.
"Ada satu hal yang sejak awal ingin kutanyakan pada kalian ?" Sakura tiba-tiba bertanya. "Sebenarnya apa yang kalian bertiga lakukan di kastil bawah tanah ini sebelum kedatangan kami ?"
Kastil bawah tanah. Peryataan yang tidak sengaja dilontarkan Sakura cukup mengambil alih perhatian Naruto. Memang kenyataannya, hingga sampai saat ini bocah pirang itu tidak tahu apapun tentang dimana dirinya berada. Setidaknya ucapan gadis musim semi itu sedikit memberi Naruto penjelasan.
"Kami hanya melakukan perintah dari nona besar. Dia berpesan agar kami berdiam diri hingga seseorang mendatangi kepada kami." Jawab Neji seraya melirik ke arah Naruto.
"Jadi menurutmu, bocah pirang itu adalah seseorang yang dimaksud nona besar karena dia seorang Uzumaki ?" tanya Shikamaru menunjuk ke arah Naruto.
"Uzumaki ? Hei, apa ketinggalan sesuatu ?" tanya Sakura penasaran.
"Bocah pirang itu adalah seorang Uzumaki. Dia telah membuktikannya." Jawab Shikamaru datar.
"Uzumaki ? maksudmu salah satu keluarga bangsawan selain Uchiha dan Hyuuga ?" tanya Ino ikut menimbrung pembicaraan.
Naruto hanya diam saja dan mendengarkan. Dia tidak mengerti harus bersikap seperti apa. Tersenyum dan membanggakan diri sebagai seorang keturunan Uzumaki juga dirasa sangat konyol. Untuk saat ini bocah pirang itu merasa hanya perlu diam saja. Setidaknya dia mendapat fakta baru jika Uzumaki adalah salah satu keluarga besar selain Uchiha dan Hyuuga.
"Bukankah semua anggota keluarga Uzumaki dinyatakan telah meninggal setelah insiden pengeboman di kediaman mereka 2 tahun lalu ?" tanya Ino lagi. Gadis pirang itu rupanya benar-benar mengetahui banyak hal.
Naruto terhenyak mendengar fakta berikutnya. Bocah pirang itu tidak menyangka jika penyebab kematian sebagian besar anggota keluarga Uzumaki adalah karena sebuah pengeboman. Naruto kemudian berpikir, mungkinkah alasan kenapa dia masih hidup karena tidak berada di tempat itu? Ataukah dia berada di sana namun berhasil melarikan diri? Entahlah. Kepalanya sudah cukup pusing dengan berbagai pemikiran sebelumnya.
"Ya, seperti itulah." Jawab Shikamaru biasa saja.
"Kenapa kau tidak memberitahuku Shikamaru ?" tanya Ino kesal. "Kau, Sai.. apa kau juga sudah tahu tentang hal ini ?"
Shikamaru mendengus kesal mendengar pertanyaan Ino. Sedangkan Sai hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala merasa bersalah karena tidak memberitahu gadis pirang itu tentang kabar mengejutkan itu.
"Lalu aku harus bersikap seperti apa ? berteriak histeris ketika mengetahui fakta itu ? Ingat Ino, jangan pernah percaya seratus persen pada kabar yang tengah beredar. Karena sebagian besar hanyalah pembohongan publik.." balas Shikamaru. Sedangkan Ino terlihat kesal mendengarnya.
"Bicara soal pengeboman itu, apakah kalian tahu jika keluarga Uchiha dan keluarga Hyuuga juga menjadi korbannya ?" tanya Neji memecahkan perdebatan Ino dan Shikamaru.
Pernyataan Neji secara tidak langsung mengambil alih perhatian penuh Naruto. Tatapan penuh tanya juga berhasil didapatinya dari yang lain. Fakta itu seolah menjelaskan pada Naruto jika kabar itu tidak pernah diketahui teman-temannya sebelum ini.
"Jika apa yang kau katakan memang benar. Kenapa ketiga keluarga besar itu berkumpul di satu tempat ?" tanya Shino.
"Pertunangan." Jawab Neji sembari tersenyum mengeringai ke arah Naruto.
"Memang siapa yang bertunangan ?" tanya Naruto. Pada akhirnya bocah pirang itu tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.
"Nona besar keluarga Hyuuga dengan pewaris tunggal keluarga Uzumaki." Jawab Neji seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Nona besar ? maksudmu orang yang menyuruhmu berada di tempat ini ?" tanya Naruto lagi yang dijawab anggukan kepala Neji.
Rasa pusing di kepala Naruto kembali berlipat ganda mengetahui fakta baru itu. Bocah pirang itu Cuma berharap tidak akan lagi fakta-fakta lebih gila berikutnya.
"Mungkinkah pewaris tunggal keluarga Uzumaki adalah Naruto ? sebenarnya siapa kau ? kenapa kau bisa tahu tentang semua itu?" Tanya Sakura bertubi-tubi.
Naruto bisa melihat raut terluka di wajah gadis musim semi itu. Mungkinkah Sakura memendam rasa pada Naruto ? bocah pirang itu tidak tahu. Dia sendiri juga tidak paham dengan perasaannya pada Sakura. Di satu sisi dia memang merasa begitu nyaman bersama dengan gadis itu. Namun di sisi lain dia juga selalu merasa merindu ketika membayangkan gadis bermata indah yang baru-baru ini diketahui jika dia adalah nona besar keluarga Hyuuga.
"Aku adalah Neji Hyuuga, sepupu sekaligus pelindung nona besar." Naruto dan teman-temannya membelalak kaget mendengar penuturan Neji tersebut. Mereka tidak menyangka jika ternyata pemuda di hadapannya adalah seorang Hyuuga.
"Aku berada di tempat itu dari awal hingga pengeboman itu terjadi. Hanya saja, aku juga tidak tahu seperti apa rupa si tunangan pria." Jawab Neji menjelaskan.
"Seperti yang kau bilang, mungkin saja Naruto adalah si tunangan pria." Lanjut Neji. Raut wajah Sakura terlihat semakin terluka mendengarnya.
"Namun ada satu fakta yang perlu kalian tahu." Neji menghentikan penjelasannya. Pemuda berambut panjang itu kemudian menatap Naruto lekat-lekat.
"BERDASARKAN REKAMAN CCTV SALAH SATU PELAKU PENGEBOMAN ADALAH SEORANG ANAK LAKI-LAKI BERAMBUT PIRANG.."
.
.
.
to be continue
Yosh..! Akhirnya bisa update lebih cepat dari pada biasanya. Saya sendiri juga tidak percaya. Tapi ya beginilah kenyataanya. Mungkin karena kesibukan yang mulai berkurang, mood yang lagi bagus-bagusnya dan juga musik pengantar saya dalam menulis. Karena itulah mungkin saya harus berterima kasih kepada Cita Citata, H. Rhoma Irama dkk. Hahaha lupakan sedikit curcol-an gak bermutu saya. Semoga kalian suka dengan chapter terbaru ini dan jangan lupa reviewnya.
Balasan review :
Inuzukarei : Sssstt.. jangan keras-keras ntar yang lain denger.. hehe. Soal kapan kemunculan Sasuke mungkin masih bakal lama banget. Dan masalah bakalan ada yang mati nanti gak bisa diganggu gugat..huhu
Ndah D Amay : Hahaha, kayaknya udah ketebak banget ya..? jadi gak surprise donk? Huhu. Alasan kenapa Neji itu curiga karena masih dirahasiakan..
Uchizuma Angel : Yap, hampir secara keseluruhan emang seperti itu. Cuma ada beberapa poin yang terlalu diartikan scara harfiah. Nah, dari beberapa penjelasan di setiap bait itu coba dikerucutin lagi sampai akhirnya jadi satu kesimpulan dan itulah maksud dari syair itu. Saya tunggu loh Uchizuma san jawabannya..hehe terima kasih buat reviewnya..
Chika Kyuchan : Haha, saya bukan Shikamaru.. saya cuman seorang author super geje yang mencoba peruntungan dengan menulis fic super ambigu ini.. makasih buat RnR nya..
SR not Author : Yah kita lihat saja nanti, hehe..
Winter hood : Benarkah? Wah saya jadi merasa malu.. #tutupinmukapakebantal. Seengaknya saya bukan memutar balikan fakta.. haha. Soal kapan epic momen Saino mungkin pas chapter 20an..
Haruko Akemi : Panjangin word nya yah? Hmm, gimana yah? Saya takutnya malah jadi terasa membosankan.. hehe. Tapi akan saya coba deh.. makasih buat RnR nya.
The Kidsno oppai, LA Lights & : Oke siap, dan silahkan nikmati chapter terbarunya.
