Chapter 10

Title: Music Box

Author: Lee Shikuni

Genre: Crime, mystery

Archip: drabble, sad ending, yaoi

Cast: -All members EXO

-And OC

Warning: GJ, Typho(s), RnR, please… DLDR!

A/n: Koko pov: Lu Han jatohin dri lantai 10? Please, deh… Rmhnya aja cm 2 lantai, Ko… Ckckck… Tp… Gomawo udh bca&review… ^^ Ketemu di sklh, ne? ^^

Skrg, Shi pengen readers semua tebak siapa korban selanjutnya&gmn cara matinya (Sekalian cri inspirasi).

Oh, ne. tetep review, ne? Kritik&saran di terima… ^^ Klo mau bash, silahkan di luar halaman ini. ^^ Ok, hope U like it. Mianh klo masih kurang panjang. Happy reading~ ^^

AUTHOR POV

Se Hun tengah berdiri di pintu kelas. Menunggu sang pujaan hati yang masih mencoba untuk mempercepat memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya. Setelah hampir 1 menit dia menunggu, kekasihnya pun datang.

"Maaf menunggu lama" ucap Lu Han sembari memperlihatkan senyum terbaiknya pada Se Hun. Se Hun hanya membalas tersenyum kecil.

"Kajja pulang" ajak Se Hun lembut seraya menarik tangan Lu Han keluar area sekolah.

Selama perjalanan, tidak seperti biasanya. Mereka saling terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Lu Han yang tidak enak dengan susana pun mencoba bertanya.

"Ada apa Se Hunnie?" Tanya Lu Han takut-takut. Dia berpikir, mungkin dia sudah melakukan kesalahan sehingga namjachingu tercintanya ini mendiaminya seperti ini. Tapi Se Hun hanya menggeleng. "Apa aku melakukan kesalahan Se Hunnie?" Tanya Lu Han lagi hati-hati. Sungguh, dia takut merusak mood Se Hun yang mungkin saja sedang marah atau kesal padanya.

Tapi Se Hun tetap tidak menjawab. Mereka tetap berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan lain. Lu Han pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, dan mencoba mengingat-ingat apa kesalahannya pada Se Hun hingga ia begini. Dan barangkali saja ada yang Lu Han lupakan yang membuat Se Hun marah padanya.

Sesampainya di rumah Lu Han, Se Hun tetap diam dengan kepala tertunduk. Melihat itu, Lu Han tidak juga masuk ke dalam rumahnya. Se Hun mendongak menatap wajah khawatir Lu Han.

"Kenapa Hyung tidak masuk ke dalam?" Tanya Se Hun heran. Lu Han tersenyum. Mencoba semanis mungkin meski malah terlihat tersenyum miring.

"Ada apa denganmu, Se Hunnie? Apa aku melakukan kesalahan sehingga kau mendiamiku, hmm?" Tanya Lu Han lembut. Se Hun sedikit berpikir. Untuk merangkai kata.

"Ani. Gwenchana. Hanya saja, aku terpikir tentang teman-teman kita yang tiba-tiba hilang dan… tidak kembali? Aku merindukan mereka dan sedang berpikir bagaimana caranya untuk menemukan mereka" jelas Se Hun. Lu Han mengangguk-angguk.

"Lalu?" Tanya Lu Han minta penjelasan lebih lagi.

"Lalu apa? Ya sudah. Itu saja" jawab Se Hun dengan salah tingkah di depan Lu Han.

"Tidak, Se Hunnie. Matamu berkata kau belum menceritakan semuanya padaku" ujar Lu Han yang membuat Se Hun bergeming.

"Geurae… Aku menyerah. Aku sebenarnya harus segera pulang ke rumah untuk pergi ke acara formal perusahaan Appa. Yah… Meski aku tak suka… Tapi Eomma dan Appa memaksa" jelas Se Hun dengan senyum sekarang. Lu Han jadi ikut tersenyum.

"Oh, ayolah. Itu permintaan orang tuamu. Jangan kecewakan mereka. Aku tahu seberapa tidak sukanya kau pada acara-acara seperti itu Se Hunnie. Tapi kau harus. Kelak kau yang akan meneruskan perusahaan itu. Iya, kan?" ucap Lu Han panjang-lebar seraya tersenyum.

Se Hun menatap Lu Han intens. Dan dengan cepat, ia mengecup bibir penuh Lu Han kilat. Sedang yang mendapat kecupan hanya terpaku bergeming.

"Geurae… Aku harus pergi sekarang. Untungnya Eomma memberiku waktu untuk mengantarmu. Saranghae Lu Han Hyung…"

CHUP!

Setelah berucap, Se Hun mengecup pipi Lu Han tanda berpamitan dan benar-benar menghilang di perempatan jalan.

Lu Han masih setia bergeming di depan rumahnya. Tangan Lu Han terangkat mengusap pipi juga bibirnya. Hatinya menghangat tapi serasa kosong. Ntah kenapa tiba-tiba ia tidak ingin Se Hun pergi. Persetan dengan acara perusahaan Appa Se Hun itu. Dia ingin Se Hun menginap malam ini di rumahnya. Dan dia berharap masih bisa bertemu dengan Se Hun esok pagi di sekolah.

Dan lagi, saat pergi tadi. Mata Se Hun berkata dia tidak akan menghadiri acara itu. Dia telah berbohong pada Lu Han. Ntah acara itu benar ada atau tidak. Tapi, kenapa Se Hun harus berbohong padanya?

Mata Se Hun berkata, benar jika Eomma Se Hun memberi Se Hun waktu untuk mengantar dirinya pulang. Benar juga tentang Se Hun memikirkan teman-temannya yang hilang. Tapi, kenapa untuk yang satu itu ia harus bohong? Menghadiri acara Appa-nya? Lu Han ingin percaya. Tapi dia lebih percaya mata Se Hun saat berkata. Apa yang Se Hun sembunyikan padanya? Apa rencananya? Apa yang ada di pikiran anak itu sebenarnya? Apa yang mau di lakukannya? Dan dia mau kemana?

Setelah berpikir yang macam-macam tentang Se Hun, Lu Han mencoba untuk menghilangkannya. Walau bagaimana pun dia harus percaya pada Se Hun. Harus! Setelah memastikan debaran jantungnya kembali normal, Lu Han segera masuk ke rumahnya. Tidak bisa di pungkiri, bahwa dirinya sedikit gelisah.

ΩΩΩ

Se Hun sudah tidak tahan lagi. Dia sudah tidak bisa bersabar. Dia ingin tahu dimana teman-temannya berada. Mereka tidak mungkin matikan? Itu hal konyol. Karena yang dia tahu, teman-temannya menghilang tanpa jejak. Mungkin masih bisa di cari.

Dan di sinilah ia sekarang. Ruang tamu rumah tua itu. Setelah mendobrak pagar dan pintu rumah tua itu dengan mudahnya. Se Hun mulai berjalan-jalan di dalam rumah itu.

Se Hun mulai masuk ke dalam ruang tengah rumah itu. Sengaja, ia masuk ke lorong sebelah kiri rumah itu. Semakin dalam, aroma tidak sedap muncul. Setelah sampai di ujung, dengan terkejutnya Se Hun mencoba menyeimbangkan tubuhnya suapaya tidak limbung dan terjatuh.

"Baek Hyun Hyung. Chan Yeol Hyung" gumam Se Hun dengan suara yang sangat kecil hingga tak terdengar. Dengan pelan Se Hun keluar dari lorong itu.

Ntah bagimana Shi harus mendeskripsi keadaan Se Hun sekarang. Wajah pucat dengan keringat dingin yang sudah mulai keluar dari pelipisnya. Tubuh bergetar dan mata yang sedikit berembun menahan tangis.

Meski begitu, tidak ada rasa takut dalam dirinya. Se Hun sedih. Sedih melihat ke-2 temannya yang menghilang ia temukan dalam keadaan mengenaskan tak bernyawa. Saat sedang sibuk-sibuknya mempertahankan air mata berada di tempatnya, ia mengalihkan pandangannya pada lorong yang 1-nya. Ntah kenapa ia tertarik untuk masuk ke sana. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke sana.

Di sini keadaannya sangat gelap. Tapi aroma yang sama seperti tadi mulai tercium. Sangat menyengat. Di ujung lorong, Se Hun menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Dan ada sebuah sepatu di dekat pintu. Se Hun mendekat dan berdiri di dekat pintu. Iseng, ia menendang sepatu itu asal.

DUK!

DEG!

Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Sepatu itu tidak kosong. Tapi… mata Se Hun yang sipit mencoba menelusuri sepatu itu di dalam cahaya yang minim. Dan untuk yang ke-2 kalinya. Se Hun terkejut bukan main.

Se Hun mundur beberapa langkah dengan nafas memburu. Pikirannya terasa kacau dan kepalanya mulai pusing dengan apa yang beberapa menit terakhir ini ia lihat.

'Chen Hyung' batin Se Hun. Setelah menguasai tubuhnya kembali, Se Hun berlari ke ruang tengah. Nafasnya memburu karena emosi. Tidak salah lagi. Pasti seluruh teman-temannya ada di sini.

Se Hun melangkah dengan tergesa kearah dapur. Dan dia tidak terlalu terkejut sekarang. Ntah kenapa dia memprediksi semua teman-temannya yang hilang memang berada di sini dan pasti nasibnya sama seperti ke-3 temannya yang tadi.

'Di sini Xiu Min Hyung' batin Se Hun lagi. Dia agak meringis saat melihat pisau yang tertancap di mulut Xiu Min. Setelah puas(?), Se Hun kembali ke ruang tengah.

Ia tidak mau pulang dulu, tapi ia berjalan kearah ruang tamu. Dan dia agak terkejut sekarang. Karena mendapati Hyung yang paling perhatian padanya –selain Lu Han— sudah menyusul ke-4 temannya yang lain.

'Su Ho Hyung? Tapi… Sejak kapan? Aku yakin tadi saat aku masuk, aku tidak melihat tubuhnya di belakang pintu' batin Se Hun panik. Lagi-lagi nafasnya memburu menahan emosi.

Se Hun berbalik. Dan mendapati seonggok tubuh tanpa kepala terkulai lemas di samping depannya. Se Hun mengalihkan pandangan ke sebelahnya.

DEG!

Sekali lagi, jantungnya terasa berhenti berdetak.

'Kepala Kris Hyung!' batinnya berteriak.

Tidak ingin berlama-lama, Se Hun segera berlari. Dia menuju ke lantai 2. Dan masuk kesebuah ruangan yang pintunya terbuka.

'Sepertinya ini kamar' pikir Se Hun saat sudah masuk ke ruangan yang ia sebut kamar itu.

Se Hun menyingkirkan meja yang menghalangi jalannya dan mulai berjalan perlahan kearah jendela di kamar itu yang sudah pecah. Melihat keluar jendela dengan tatapan menerawang.

'Apa yang sudah kulakukan? Aku berbohong pada Lu Han Hyung. Acara formal? Hahah… Aku hanya ingin punya alasan yang logis untuk ke sini secepatnya. Jika aku tidak bisa kembali, kuharap Lu Han Hyung tidak kecewa' batin Se Hun. Air matanya hampir saja terjatuh. Tapi tetap ia tahan. Dia tidak ada niatan untuk meninggalkan Lu Han-nya.

Se Hun menunduk. Membuatnya dapat melihat halaman samping rumah tua itu yang di hiasi seonggok makhluk tak berdaya di bawah sana. Se Hun mencoba memperjelas penglihatannya hingga ia membelalakkan matanya.

"Itu D.O Hyung!" gumam Se Hun terkejut. 'Apa jangan-jangan kaca ini pecah karena D.O Hyung terjatuh dari lantai 2 di ruangan ini?' pikirnya saat melihat letak jatuh D.O yang sejajar dengan posisi(?) pandangnya sekarang yang memang benar-benar lurus ke bawah.

Lagi. Se Hun berlari sekuat tenaga menuju balkon lantai 2. Dia berharap di sana dia bisa menenangkan sedikit pikirannya. Walau sebenarnya itu tidak mungkin terjadi.

Sesampainya di balkon, Se Hun mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan. Antara emosi dan setelah berlari barusan. Setelah dirasa normal, Se Hun menegakkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk menatap kosong ke bawah.

Dia berpikir, apa saja yang sudah di laluinya tadi? Banyak mayat bergelimpangan di rumah tua ini. Di tambah mayat-mayat itu adalah teman-temannya yang menghilang.

Se Hun menghela nafas berat. Se Hun menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi. Dan kali ini ia lebih terkjut lagi daripada saat pertama kali ini melihat jasad Baek Hyun dan Chan Yeol.

"Kamjjong!" teriak Se Hun. Tidak lantang, tapi terdengar keras karena suasana yang sepi. Segera Se Hun pergi ke bawah. Ke halaman belakang rumah tua itu. "Kamjjong…" lirih Se Hun saat dia sudah berada di dekat jasad Kai.

Tubuh itu terbujur kaku dengan kulit pucat sedingin es. Tangan Se Hun terulur menyentuh luka di pelipis Kai.

'Ini luka tembak' batin Se Hun. Dan lagi-lagi Se Hun berpikir Kai jatuh dari balkon lantai 2 tadi karena pandangannya saat di atas tadi sangat lurus kebawah. Tepat pada letak posisi Kai sekarang. "Kupikir aku bisa terus bermain bersamamu" lirih Se Hun. Kini tangannya memegang lengan Kai yang masih terbalut baju seragamnya yang sudah kusam dan terasa lembab.

Seketika Se Hun teringat akan hujan tempo hari lalu saat Lu Han meminta dia dan beberapa teman-teman lainnya yang masih tersisa(?) untuk menemaninya di rumah Lu Han. Karena orang tua Lu Han sibuk bekerja. Mungkin karena hujan waktu itu.

Se Hun mencoba berdiri tegak, walau dia merasa dia tidak bisa melakukannya. Tatapannya kosong menatap pada jasad Kai. Sahabat karibnya dulu –hingga sekarang-. Cukup lama ia seperti itu, hingga sebuah suara. Alunan musik terdengar di gendang telingannya. Ntah apa yang ia pikirkan. Pokoknya menuruti apa yang di inginkan musik itu untuk nasib(?)nya ke depan.

Se Hun melangkah ke dalam rumah tua itu lagi. Pandangannya kosong. Bunyi alunan musik itu makin keras terdengar. Hingga akhirnya Se Hun sampai di ruangan paling ujung di lantai 2 rumah itu.

Pintu ruangan itu terbuka lebar. Dan musik berhenti. Membuat Se Hun tersadar dari alam bawah sadarnya(?).

'Kenapa aku bisa ada di sini?' batin Se Hun bertanya. Se Hun melongo(?)kan kepalanya ke dalam ruangan itu. Lalu melihat sekitar.

Tanpa diduga, pintu itu tertutup dengan cepat. Se Hun tidak bisa mengindar. Pintu itu sudah mengenai lehernya.

"Argh!" teriak Se Hun karena pintu itu mencekiknya. Se Hun mencoba mendorong pintu itu. Tapi tenaganya hilang ntah kemana. Keringat dingin mulai membasahi pelipis juga keningnya. Dia mulai kesusahan mengambil nafas.

Di saat terdesak seperti ini, Se Hun teringat Lu Han, namjachingu-nya. Dia tidak mau meninggalkan Lu Han. Dan ntah energi dari mana, Se Hun mendorong pintu itu lebih keras. Hingga pintu itu terdorong ke depan dan melepaskan leher Se Hun.

Setelah merasa tidak ada perlawanan(?) dari pintu itu, Se Hun mengatur nafasnya. Tapi masih dengan kepala yang ia condongkan pada ruangan itu. Se Hun menatap pintu ruangan itu horror.

Saat sedang sibuk-sibuknya mengatur nafas, pintu itu kembali menutup dengan cepat dan kali ini tenaganya keras sekali. Se Hun tidak sempat menahannya karena spontan dan terkejut.

BRAK!

Pintu ruangan itu berhasil tertutup dengan bantingan yang amat keras.

BRUK!

Dari luar, tubuh Se Hun langsung merosot ke bawah. Darah mulai menggenang di sekujur tubuhnya. Tapi… tanpa kepala. Kemana kepalanya?

Angin mulai bertiup kencang di luar sana. Beberapa kilat menyambar dari atas, pertanda hujan lebat akan muncul lagi.

Di sebuah ruangan yang remang akan cahaya, gelap, dan berdebu, juga tercium aroma karat yang sangat menyengat. Di dekat pintu terdapat banyak cairan berwarna merah kental(?) yang menghiasai pintu masuk ruangan itu. Dan jangan lupa 1 hiasan yang baru saja di 'letakkan' dengan manis di ruangan itu tadi sore. Sebuah kepala.

ΩΩΩ

Lu Han berdiri gelisah di depan pintu kelasnya. Sembari menunggu teman-temannya yang lain selesai membereskan buku-buku mereka, ia mencoba untuk menghubungi kekasihnya, Se Hun. Hari ini ia tidak masuk sekolah tanpa alasan.

Karena ponsel Se Hun tidak aktif, Lu Han berinisiatif menghubungi Mrs. Oh. Dengan ragu Lu Han mencari kontak Mrs. Oh. Perasaannya Lu Han tentang Se Hun sedari kemarin benar-benar buruk. Dia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap namjachingu tercintanya itu.

"Yeoboseyo?" respon orang di seberang telepon sana. Lu Han tersenyum mendengar suara Mrs. Oh.

"Yeoboseyo, Ahjumma. Ini Lu Han, namjachingu Se Hun. Apa Se Hun ada di rumah? Apa dia sakit? Hari ini ia tidak masuk sekolah" Tanya Lu Han to the point. Hening sejenak di seberang, membuat Lu Han semakin gelisah.

"Oh, Lu Han. Se Hun tidak pulang kemarin. Ahjumma kira dia menginap di rumah Tao atau di rumahmu, karena dia bilang akan mengantarmu pulang dulu kemarin setelah pulang sekolah" jelas Mrs. Oh yang suaranya agak serak terdengar. Lu Han mulai panik.

"Ani, Ahjumma. Kemarin, Se Hun bergegas pulang setelah mengantarku sampai rumah. Dia bilang, ada acara formal untuk perusahaan Oh" ujar Lu Han. Keringat dingin mulai meluncur(?) di pelipisnya. Sementara itu, Tao dan Lay baru saja keluar kelas.

"Lu—"

"Ssstt!" cegah Lay saat Tao baru saja akan berbicara di tengah Lu Han menerima panggilan. Ke-2 sahabat itu memperhatikan Lu Han yang kini tengah gelisah.

"Acara formal? Kemarin tidak ada acara apa pun. Harusnya dia pulang setelah mengantarmu. Apa kau tahu dia kemana?" Tanya Mrs. Oh dengan nada panik tertahan. Lu Han berusaha menahan isakannya agar suaranya tetap terdengar normal.

"Eee… Aku akan tanya yang lain. Mungkin Se Hun menginap dan bolos di rumah Lay atau Tao. Gomawo, Ahjumma. Nanti kuhubungi lagi" ucap Lu Han mengakhiri. Lalu segera menutup sambungannya.

Lu Han menyimpan ponselnya pada kantung celananya lalu mendongkkan kepalanya ke atas untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Tidak. Dia tidak menginginkan ini terjadi lagi. Tao dan Lay yang melihat sikap Lu Han bingung.

"Nugu?" Tanya Tao tak ambil pusing. Lu Han agak lama terdiam hingga ia menoleh pada Tao dan mengerjapkan matanya mencoba menghilangkan genangan air di sana.

"Ahjumma Oh" jawab Lu Han singkat. Dia menundukkan kepalanya agar Lay dan Tao tak dapat melihat matanya yang mulai memerah dan genangan air itu terus saja membuat pandangannya berkabut.

"Jadi, apa sudah ada kabar tentang Se Hun?" Tanya Lay semngat. Dia menginginkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya. Yah, kabar gembira.

"Apa Se Hun benar-benar tidak ada di rumah kalian?" Tanya Lu Han dengan suara yang sudah serak sekarang. Pertahanannya runtuh, meski air mata itu belum keluar. Ke-2 orang yang di tanya itu menggeleng pelan.

"Ani" jawab Tao pelan. Lu Han menghembuskan nafasnya berat.

"Nado" jawab Lu Han lesu. "Dia juga tidak ada di rumahnya" lanjut Lu Han lalu menoleh kearah ke-2 sahabatnya. Air matanya sudah mengalir, menganak sungai pipi putih mulus Lu Han yang selalu di belai Se Hun.

"La-Lalu kemana Se Hun?" gumam Tao pelan. Tapi keadaan sekolah yang sepi membuat ucapan Tao dapat terdengar oleh yang lain. Hening kemudian.

Terjadi lagi. Lu Han tidak menginginkan ini. Yang lain tidak menginginkan ini. Lu Han tahu, Se Hun agak ceroboh. Dia selalu bertindak sembarangan tanpa pikir panjang. Nah, sekarang kemana anak itu?

Dengan memikirkan Se Hun, Lu Han terus menangis. Kali ini isakannya terdengar jelas. Bahunya bergetar. Melihat itu, Lay segera merangkulnya. Memeluknya erat.

"Se Hun, Lay… Se Hun…" lirih Lu Han di sela isakannya. Lay hanya dapat menganggukkan kepalanya mengerti. Lu Han merasa kehilangan. Sangat, sangat merasa kehilangan. Karena dia dan Tao juga merasakannya.

Lay mengusap punggung Lu Han lembut. Berharap sahabatnya itu tenang, meski dia tidak melarang Lu Han untuk menangis. Lay menatap langit-langit sekolah. Keadaan di sini sangat hening. Angin berhembus di luar pun dapat terdengar dengan jelas. Sedang Tao hanya menatap Lu Han yang menangis dengan tatapan pilu. Sepertinya dia juga ingin menangis mengingat Kris tak kembali.

'Su Ho-er, biasakah kau beritahu kami sebuah petunjuk? Tidak lihatkah kau, kami semua sangat sedih karena kalian meninggalkan kami?' batin Lay miris dengan pandangan penuh harap menatap jendela di lorong kelas itu.

AUTHOR POV END

~TBC~

A/n: Eotthe? Serem, gk? Jeosonghamnida klo kurang serem. #Bow# Ada yg curiga Se Hun, kn? Oh, katakan "Good Bye" pd Se Hun di Chapter ini. Hahaha… #KetawaNista #DiTimpukReaders# Akhirnya, setelah sekian lama gk dpt ide bunuh org, idenya dtg juga pas lagi liat MotoGP. Pas lgi nonton, Shi malah ngelamunin kucing baru namdongsaeng Shi yg warnanya hitam. Dia kan gak bisa diem bgt klo ada pintu kebuka, bawaannya pengen asal masuk-keluar aja lwat pintu. Trs Shi mikir, gmn itu klo kepalanya kesangkut pintu trs lepas? Sadis, jg… karena mendapat inspirasi, Shi langsung tulis di sini. Tapi… jgn samain Se Hun sma kucing, ne? Kasian… udh death, di samain sama kucing lagi. Nasib… nasib… ok, review, please… ^^