Hallo saudara sebangsa dan se tanah air..! Bagaimana keadaan hati kalian saat ini? semoga semakin bermekaran setiap waktunya. Ya udah sih gak usah banyak basa-basi nya. Silahkan nikmati chapter terbarunya. Semoga suka dan makin tertarik untuk baca chapter berikutnya.

.

.

Chapter 16

.

.

.

Lagi. Neji, si pemuda berambut panjang itu mengungkapkan fakta yang mencenangkan. Kalo saja pemuda itu tidak mengatakannya seraya menatap Naruto intens, bocah pirang itu mungkin tidak akan merasa sekesal ini pada seseorang. Dibenak Naruto saat ini, pemuda berambut panjang itu ibarat angin. Kadang berembus semilir menenangkan. Tapi tidak jarang pula menciptakan kerusakan layaknya angin topan.

Naruto melirik sekitarnya. Seperti yang telah diperkirakan, tatapan mata penuh tanya tertuju jelas pada bocah pirang itu. Inilah salah satu alasan yang membuat semakin kesalnya Naruto pada Neji. Ingin rasanya dia menembak pemuda berambut panjang itu dengan senapan penghenti detak jantung. Dan ketika dia menatap ekspresi pemuda itu seolah tak merasa berdosa membuat Naruto semakin ingin melakukannya saat ini juga.

"Hei, anak laki-laki berambut pirang di dunia ini bukan cuma aku seorang. Jelas ?" ucap Naruto membela diri.

"Tapi dengan semua yang terjadi hingga saat ini, bukan tidak mungkin kau memang pelakunya." Balas Shikamaru.

"Apa motivasinya ?!" tanya Naruto dengan nafas menderu.

Naruto merasa tersinggung dengan ucapan Shikamaru. Dia tidak mengira orang yang paling dipercayainya saat ini selain Sakura bisa dengan mudah meragukannya. Jika memang dia pelakunya, lalu apa motivasi yang mendorongnya melakukan hal itu? Entahlah.

"Kenapa kau tanya kepada kami ? tanyakan sendiri pada dirimu sebelum kau kehilangan ingatan." Timpal Sai sarkastis.

Naruto benar-benar tertohok dengan ucapan bocah kulit pucat itu. Bocah pirang itu merasa bodoh dengan pertanyaan yang dia lontarkan.

Naruto terdiam mencoba menenangkan dirinya. Dia coba menggali lagi ingatan-ingatannya. Dia tahu itu tidak akan berhasil. Tapi entah kenapa bocah pirang itu merasa perlu melakukannya. Dia yakin ada beberapa hal yang harus diingatnya dan yang pasti diberitahukan pada teman-temannya.

"Ada satu hal yang mungkin belum sempat aku sampaikan pada kalian semua." Ucap Naruto setelah pada akhirnya mengingat sesuatu.

"Ini tentang apa yang dikatakan tentara berkulit putih sebelum dia mati tertembak." Kata Naruto seraya menatap Sakura berharap gadis itu tidak trauma ketika dia mengungkit masalah itu.

Kali bukan cuma teman-temannya yang memberikan perhatian lebih dengan apa yang akan diucapkan oleh Naruto. Neji, Tenten serta Lee juga nampak antusias ingin mendengarnya. Bocah pirang itu tidak tahu apa yang membuat mereka merasa tertarik. Tapi yang jelas dia harus menyampaikannya saat ini juga.

"Tentara kulit putih itu mengatakan jika aku adalah satu dari empat poin penting dalam sebuah rencana mulia." Ucap Naruto dan suasana menjadi hening.

"Satu dari empat poin penting dalam sebuah rencana mulia. Hm.. sebenarnya apa yang dia maksud dengan rencana mulia itu ?" tanya Shino bergumam namun masih bisa didengar jelas oleh yang lain.

"Bukan cuma itu. Pernyataan jika Naruto adalah satu diantara empat poin penting juga mengindikasikan jika ada tiga orang lagi diluar sana yang memegang peranan penting dalam kesuksesan rencana mulia tersebut. Itu jika menganggap empat poin penting itu adalah manusia. Tapi tidak menutup kemungkinan jika yang dimaksud poin penting itu adalah sesuatu seperti kode rahasia, senjata super canggih atau apapun yang lainnya." Balas Neji.

Naruto mengangguk tanda setuju dengan pendapat Neji. Dengan latar belakang sebagai penjaga seorang keluarga bangsawan, pendapat pemuda berambut panjang itu tidak bisa dianggap remeh. Meskipun pembawaannya seringkali menyebalkan, bocah pirang itu harus mengakui kredibilitas pemuda itu.

"Jika Naruto memang adalah salah satu dari empat poin penting, lalu kenapa tentara kulit putih itu ingin membunuhnya ?" tanya Sakura ikut menimbrung pembicaraan dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.

"Ini hanya asumsiku saja. Tapi setidaknya kalian perlu mendengarnya." Shikamaru tiba-tiba membuka suara.

Naruto segera mengalihkan perhatian penuh pada bocah pemalas itu. Dia penasaran tentang asumsi apa yang hendak disampaikan oleh Shikamaru. Bocah pirang itu berani bertaruh jika itu ada kaitannya dengan masalah yang tengah dibahas saat ini.

"Aku pikir ada 2 kubu bersebrangan dalam situasi saat ini." Ucap Shikamaru mulai menjelaskan.

"Kubu pertama, mereka mungkin adalah aktor utama dari seluruh pengeboman yang terjadi di beberapa kota akhir-akhir ini. Mereka juga adalah pencetus apa yang kita sebut sebagai rencana mulia dengan menjadikan 4 hal itu sebagai poin penting dalam kesuksesannya. Aku tidak tahu apa motivasi yang mendasari mereka. Tapi dimataku mereka hanyalah sekumpulan orang-orang jenius yang mengalami gangguan kejiwaan secara bersamaan dan aku bersumpah akan melenyapkan mereka semua." Lanjut Shikamaru menjelaskan. Dia terlihat penuh emosi ketika mengucapkan bagian akhir.

"..dan kubu kedua, kita anggap saja mereka adalah penentang kubu pertama. Kelompok yang bergerak dengan tujuan menggagalkan rencana kubu pertama. Berusaha sekuat tenaga menghancurkan setiap poin penting dalam rencana mulia itu." Shikamaru kemudian terdiam.

"Aku berani bertaruh jika tentara kulit putih itu adalah bagian dari kubu kedua yang entah bagaimana caranya berhasil menyusup diantara para tentara perdamaian. Dan karena alasan itulah dia ingin sekali membunuhmu.." Ucap Shikamaru seraya menunjuk ke arah Naruto.

Naruto tersentak mendengarnya. Tanpa dirasa tubuhnya menegang. Jika memang perkiraan Shikamaru memang tepat, maka sebagian besar pertanyaan yang selama ini menghinggapi benaknya telah terjawab. Meskipun itu masih hanya sebuah asumsi, tapi bukan tidak mungkin itu adalah kebenarannya. Sejauh yang Naruto ketahui, perkiraan bocah pemalas itu memang hampir selalu tepat. Meskipun ada pula kekeliruannya sedikit.

"Coba kita pahami terlebih dahulu." Shino ikut berucap. "Jika memang bocah pirang itu adalah poin penting kubu pertama, bukankah seharusnya dia dilindungi sekuat tenaga oleh mereka?"

Tepat sekali. Itu juga salah satu hal yang tengah dipikirkan Naruto saat ini. Sebuah kecerobohan jika kubu pertama membiarkannya terbunuh mengingat bocah pirang itu adalah poin penting dalam kesuksesan rencana mereka. Kecuali mereka telah memiliki kartu truff lain sehingga tidak masalah jika pada akhirnya salah satu poin pentingnya dilenyapkan.

"Itulah hal ingin kutanyakan pada kalian bertiga." Balas Shikamaru seraya menatap Neji, Lee serta Tenten dengan tatapan serius.

Neji, pemuda itu mendengus kesal mendengar pernyataan itu. Meskipun ekspresi wajahnya masih dingin nan datar, tapi tetap saja hal itu tidak dapat menampik rasa emosi yang dipancarkan melalui kedua sorot matanya. Dari ketiganya mungkin hanya Lee yang terlihat seolah biasa saja. Berbeda dengan Tenten, gadis itu sudah jelas sangat kesal mendengar pernyataan itu.

"Setelah apa yang coba kami bantu terhadap kalian. Apa pantas kau berucap seperti itu ?!" tanya balik Tenten menahan emosinya.

"Situasinya sudah tidak terkendali selama ini. Jadi maaf saja jika aku tidak bisa bersikap sedikit sopan terhadap kalian." Balas Shikamaru kalem.

"Jaga ucapanmu Shika ! Mereka telah membantu kita ketika keadaan Naruto kritis." Timpal Sakura. Gadis musim semi itu terlihat tidak suka dengan tingkah bocah pemalas itu.

"Justru karena menolong Narutolah yang membuatku semakin mencurigai mereka !" balas Shikamaru meninggikan suara.

Naruto hanya terdiam. Dia paham tentang hal yang mendasari kecurigaan Shikamaru. Tindakan Neji dan yang lain dalam membantu Naruto ketika dalam kondisi kritis seolah mencerminkan jika mereka bertiga adalah kubu pertama seperti dugaan Shikamaru. Jika kemungkinan itu memang benar adanya, Naruto sendiri juga tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini.

"Jadi kalian pikir kami bekerja untuk kubu pertama?" tanya Neji balik. Pemuda itu terlihat tersenyum sinis pada Naruto dan yang lainnya.

"Akan kuberitahu apa yang kalian maksud tentang kubu pertama." Ucap Neji kembali.

Pemuda berambut itu terdiam sejenak. Dia memejamkan matanya menenangkan diri atau bisa juga tengah berusaha keras mengendalikan amarahnya. Tidak lama berselang Neji pun membuka kedua matanya dan menatap Naruto dan yang lain satu-persatu sebelum akhirnya dia membuka mulut untuk menceritakan segala hal pada orang-orang di hadapannya.

"3 bulan semenjak peristiwa pengeboman di kediaman keluarga Uzumaki, terjadi berbagai kekacauan politik di negeri ini. Alasannya sangat mudah karena sebagian besar kendali pemerintahan di negeri ini dipegang penuh oleh keluarga Uzumaki. Dengan kematian mereka secara serentak membuat beberapa posisi strategis di negeri ini mengalami kekosongan. Akibatnya kalian sudah bisa menebaknya bukan ? oknum-oknum tak bertanggung jawab saling jegal dalam perebutan kekuasaan."

"Sebagian besar pihak menduga jika ini adalah ulah dari keluarga Uchiha. Mengingat mereka adalah pihak yang paling diuntungkan atas kejadian ini. Tapi jika mengingat salah satu korban pengeboman itu adalah pemimpin keluarga Uchiha, maka dugaan itupun dengan mudah terelakan." Jelas Neji. Pemuda itu pun menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.

"Dugaan pun kemudian beralih kepada keluarga Hyuuga. Tapi sekali lagi dugaan itu dengan mudah dimentahkan setelah diketahui jika pemimpin keluarga Hyuuga juga salah satu korban pengeboman itu."

Naruto dan teman-temannya terdiam mendengarkan penuturan Neji. Naruto bisa melihat dengan jelas raut wajah penuh tanya tercetak jelas pada diri Shikamaru saat ini. Bocah pemalas itu mungkin punya seribu pertanyaan yang siap dia lontarkan ketika Neji mengakhiri ceritanya.

"Jika kalian ingin bertanya kenapa berita ini tidak sampai ke media massa, jawabannya sudah jelas bukan ? untuk menjaga kestabilan negeri ini. Kekacauan akan segera terjadi jika kabar ini sampai bocor." Lanjut Neji menjelaskan.

"Tapi bukankah pada akhirnya kami mengetahui kabar tersebut ?" tanya Ino penasaran.

"Ya, tapi setelah keadaan menjadi sedikit lebih tenang. Ditambah lagi kabar yang diberitakan itu tidak secara keseluruhan." Jawab Neji. "Sekarang aku tanya, pada momen apakah kalian mendengar kabar tersebut ?"

"Satu hari sebelum pelantikan pemerintahan yang baru." Jawab Sai dengan lugas.

Shikamaru membelakakan matanya tiba-tiba. Bocah pemalas itu seolah telah mendapatkan satu fakta baru tentang seluruh kejadian selama ini. Melihat hal itu membuat Naruto menjadi penasaran.

"Kau mau bilang jika kubu pertama itu adalah Akatsuki ? bukankah rumornya mereka telah dikudeta oleh tentara perdamaian ? " tanya Shikamaru.

"Aku tidak bilang seperti itu. Tapi coba kau pahami baik-baik. Sejak periode kepemimpinan mereka. Perekrutan tentara militer dilakukan secara besar-besaran, pengembangan senjata nuklir menjadi tidak terkendali, menghilangnya beberapa petinggi senior kemiliteran secara misterius dan masih banyak kejanggalan lainnya di masa pemerintahan mereka."

"Mungkin saat ini tentara perdamaianlah otak dari semua kekacauan ini. Tapi jika melihat dari sebegitu strukturnya persiapan hingga eksekusi rencana mereka yang begitu sempurna, hanya Akatsuki lah yang bisa melakukannya dalam situasi saat ini."

Shikamaru terdiam mencoba memahami apa setiap perkataan yang dilontarkan oleh Neji. Bagi Naruto informasi ini merupakan pencerahan untuk segala kekacauan yang terjadi saat ini. Bocah pirang itu merasa bersyukur karena dapat mengetahui kebenaran karena sebelumnya Shikamaru maupun yang lain tidak pernah sama sekali menyinggung tentang hal ini. Memikirkan hal itu membuat Naruto merasa jika dirinya belum bisa dipercaya penuh oleh teman-temanya.

"Jadi maksudmu kabar jika Akatsuki dikudeta itu isapan cuma jempol belaka ?" tanya Shino ragu.

"Ini hanya perkiraanku saja. Tapi mungkin kejadian itu hanyalah rekayasa semata." Jawab Neji santai.

"Dengan tidak diketahui keberadaan mereka hingga saat ini, dugaanmu masuk akal juga." Balas Shikamaru menyetujui pendapat Neji. "Tapi setidaknya aku masih belum percaya pada kalian bertiga."

Rahang pemuda berambut panjang itu terlihat mengeras mendengar pernyataan Shikamaru. Keadaan tak jauh berbeda juga terlihat pada Tenten yang memang sejak awal sudah tersulut emosinya. Bahkan Lee terlihat nampak tersinggung padahal sebelumnya sikapnya cukup tenang. Merasa suasana menjadi semakin tidak bersahabat, membuat Naruto entah kenapa ingin segera mengakhirinya.

"Aku percaya dengan mereka." Ucap Naruto tegas.

Segera setelah mengucapkan kalimat itu, Shikamaru menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya. Bukan cuma Shikamaru, Neji pun nampak menunjukkan ekspresi yang sama terhadapnya tapi dalam artian yang berberda. Selebihnya baik Sakura dan teman-temannya ataupun Tenten serta Lee, mereka semua terlihat biasa saja.

"Maksudku untuk saat ini." Ucap Naruto kembali. Dia mencoba sedikit mengklarifikasinya.

"Kita tidak punya banyak waktu berdebat soal ini. Bukankah kita semua tahu jika diluar sana tentara perdamaian tengah datang menyerbu ?"

"Oke, mungkin lebih tepatnya mereka mencariku. Tapi bukan tidak mungkin kalian juga akan terkena getahnya."

"Mungkin untuk saat ini kita tidak bisa menjadi rekan yang akur. Tapi setidaknya kita bisa saling menguntungkan sebagai sebuah tim yang solid."

Naruto tahu mungkin dia akan terdengar sangat egois. Tapi bocah pirang itu paham, jika mereka terpecah saat ini maka akibatnya akan fatal. Tanpa keberadaan Neji dan timnya, Naruto yakin dia dan teman-temannya tidak akan sanggup menghadapi satu peleton tentara perdamaian yang setengah diantaranya adalah robot monster. Begitu pula sebaliknya jika Neji tidak bersekutu dengan mereka.

"Terserah kalian mempercayai kami atau tidak. Tapi yang jelas aku hanya menjalankan amanat dari nona besar." Ucap Neji. "..dan aku berani bersumpah jika nona bukanlah bagian dari pihak pertama ataupun sebaliknya."

"Kita bertemu di pintu depan 10 menit lagi. Itu juga jika kalian ingin bersekutu dengan kami." Ucap Neji yang kemudian melangkah pergi diikuti oleh Tenten dan Lee.

Shikamaru tidak merespon perkataan Neji. Dia terdiam seolah tengah menimbang-nimbang segala sesuatunya. Meskipun mereka belum terlalu lama bersama, Naruto tahu tabiat bocah pemalas itu dalam memikirkan segalanya. Bocah pemalas itu bukanlah tipe orang keras kepala yang mengambil keputusan hanya berdasarkan pada ego nya semata. Dia itu adalah tipe orang yang selalu mengambil sikap berdasarkan untung dan rugi. Karena itulah Naruto berani jamin jika Shikamaru pada akhirnya akan menerima penawaran Neji.

"Kita keluar.." Ucap Shikamaru. Nada bicaranya terdengar cukup berat. Mungkin karena efek telah menghancurkan sedikit ego.

Shikamaru segera melangkah keluar seraya membawa senjata yang telah dia pilih. Dia bahkan tidak peduli pada yang lain apakah setuju atau tidak. Tapi mengingat dia adalah seorang pemimpin kelompok, bocah pemalas itu seolah yakin jika semua akan mengikuti keputusannya.

Shino melangkah keluar tidak lama berselang setelah kepergian Shikamaru. Kemudian Sai diikuti Ino, Sakura dan Naruto yang paling buncit. Sebenarnya sejak awal bocah pirang itu sangat menyetujui keputusan Shikamaru. Namun karena merasa penasaran dengan respon teman-temannya, dia akhirnya memilih untuk menahan hasratnya keluar tepat di belakang bocah pemalas itu.

Mereka berjalan dalam diam menyusuri koridor panjang menuju ke arah di mana pintu depan berada. Shikamaru dan Shino terlihat sudah begitu jauh melangkah di depan. Sementara Sai dan Ino hanya berjarak 10 meter meninggalkan Naruto serta Sakura yang berada paling belakang.

Entah disengaja atau tidak, Naruto dan Sakura berjalan beriringan. Naruto yang baru menyadarinya merasa begitu canggung dengan situasi ini. Dia sendiri merasa aneh dengan keadaan ini padahal sebelumnya bocah pirang itu bahkan tidak pernah merasakannya. Ditambah dengan diamnya Sakura saat ini membuat Naruto menjadi semakin panas dingin menghadapi situasi penuh kecanggungan ini.

"Naruto.." Ucap Sakura yang tiba-tiba membuka percakapan. Suaranya lirih dan terdengar tidak bersemangat.

"Eh.. Ya.." Jawab Naruto gugup.

"Selamat atas pertunanganmu ya.." Ucap Sakura.

Nafas Naruto tercekat mendengar ucapan selamat itu. Bagi Naruto ucapan itu seolah mengirimkannya sejuta rasa bersalahnya pada gadis musim semi itu. Entah apa alasannya tapi itulah yang tengah dirasakan oleh bocah pirang itu.

"Bukankah si Neji itu bilang jika dia sendiri juga tidak tahu mengenai siapa yang bertunangan dengan nona muda Hyuuga." Ucap Naruto mencoba mengelak.

"Tapi bisa saja itu kau kan ? mengingat jika nona Hyuuga itu masih hidup meskipun keberadaan belum diketahui." Balas Sakura tanpa memandang Naruto.

"Tidak perlu menghiburku Naruto. Jika memang kenyataannya seperti itu, maka apa boleh buat, sejak awal kita memang hanya teman saja bukan ?" ucap Sakura seraya menghentikan langkahnya. "Jadi tidak perlu merasa bersalah."

Naruto menghentikan langkah kakinya. Ada suatu perasaan aneh berputar-putar di dadanya ketika mendengar kata-kata Sakura. Nafasnya menderu tidak teratur seolah dia baru saja berlari mengelilingi stadion tanpa istirahat. Bocah pirang itu merasa terluka ketika gadis itu mengatakan jika hubungan mereka berdua hanya sebatas teman dekat saja. Dia merasa begitu kecewa mendengarnya.

Naruto yang masih terdiam di tempatnya, sementara Sakura telah mulai melangkahkan kakinya kembali. Ekspresi kesedihan benar-benar terlihat jelas di wajah gadis musim semi itu. Dia menangis dalam diam. Namun bahu mungil yang bergetar itu terlihat jelas oleh Naruto. Merasa itu adalah karena perbuatannya, bocah pirang itu dengan cepat meraih pergelangan Sakura sebelum gadis itu melangkah lebih jauh lagi. Dengan cepat dia membalikan tubuh Sakura dan menatap intens kedua mata emerald gadis itu.

"Jangan bodoh.."

Segera setelah mengucapkan kata-kata itu, Naruto tanpa aba-aba mencium bibir mungil gadis musim semi itu. Sesaat Sakura nampak terkejut, namun pada akhirnya gadis itu luluh dan membalas ciuman itu. Waktupun seolah berhenti bagi kedua insan beda gender itu. Tanpa ada halangan dan tanpa ada gangguan seperti sebelumnya, mereka berdua akhirnya bisa saling menyampaikan perasaannya satu sama lain.

.

.

.

to be continue

Yosh..! akhirnya kelar juga chapter terbarunya. Meskipun ending chapter kali ini berbau romance (sangat romance banget malah), tapi bukan berarti akhir fic ini juga sama. Bisa saja nanti saya matiin semua chara pendukungnya macam kaya Akame ga kill, atau justru macam death note, kamen rider ryuuki serta Divergent yang chara utamanya pada yang mati. Tapi juga tidak menutup kemungkinan akan berakhir happy ending macam Naruto dan Hunger Games. Entahlah. Semua masih saya pertimbangkan lagi. Terima kasih udah nyempetin waktu buat baca. Jangan lupa RnR nya Ya..!

Balasan Review :

Streetfox & the kidsno oppai : Oke, dan inilah chapter terbarunya..

Inuzukarei : Saya harus memberikan standing applause buat anda rei-san. Imajinasi anda memang benar-benar tak terduga. Mungkin kapan-kapan kita bisa kolaborasi bareng buat bikin fic yang fenomenal. Hahaha..

Winter Hood : wah, saya jadi semakin merasa malu nih winter san.. sebenarnya buka pas chapter 20, tapi sekitar chapter 20an.. makasih buat RnR nya ya

Uchizuma Angel : Yap, itu udah mulai ringkas tuh.. nah coba dikerucutin lagi kesimpulannya sampe akhirnya tinggal 1 kata. Nah itu lah jawabannya.. terima kasih buat RnR nya

Malaikat Cinta Zihar : waduh maaf banget Zihar san soal lemon sih saya angkat tangan. Gak bakat banget saya. Yang adegan kiss aja saya bikin diskripsinya 2 malem dan hasilnya cuma satu paragraf doank. Maklum lah, gak bakat bikin yang begituan..

SR Not Author : hahaha, ya emang begitulah. Kalo gak dibuat penasaran ntar gak ada yang tertarik buat baca lagi..

Haruko akemi : Hahaha, soal kenapa si Sakura dialog nya akhir-akhir ini sedikit karena kemaren-kemaren si doi WA saya. Dia bilang lagi kena sariawan jadi minta dialog nya jangan terlalu banyak dan alhasil ya beginilah..

GnB Lucky22 : Welcome back Lucky san.. sudah lama saya tidak merindukan review penuh intimidasi dari anda, haha (becanda).. dan saya doakan juga sekolah lancar deh lucky san..

Akira ken : Soal panjang atau enggaknya suatu chapter saya biasanya menyesuaikan dengan pokok pembahasan di chapter tersebut. Kalo masalah Tenten, nanti akan saya jabarkan.. tunggu saja. Makasih buat RnR nya