Chapter 11
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mystery
Archip: drabble, sad ending, yaoi
Cast: -All members EXO
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please⦠DLDR!
A/n: Ada yg masih inget sma FF ini? Kalo nggak, baca ulang dri chap 1, biar review-nya double. #ketawanista Shi jg lupa adegannya ada apa aja, jadi baca lagi dri awal. #miris :')
Sial! Kirain gk bnyk yg minat. Pas ditengok udh 50 aja review-nya. Jd ke motivasi lanjut chap 11 setelah dokumennya salah save di com utama perpus SMP. Gk bsa diambil, akhirnya Shi bikin ulang. Aslinya Shi sendiri yang bikin juga takut tau. Suer! V ._. Udh gada ide bunuh org, Shi jg sebenernya penakut yg penasaran. Syukurnya rasa takut itu bisa ditutupin sama muka dtr andalan. B|
Maaf karena udah lama gak muncul. Bingung cari inspirasinya gimana dan Shi juga sibuk. Baru kemarin lulus. :D Yang ngerasa nge-review tapi belum dibales maaf, juga. Tapi Shi udah baca semuanya, kok.
Shi akhir-akhir ini semangat bikin ficlet-drabble mumpung lagi ada ide, takut ngilang.
Maaf sekali lagi... #bow Hope U like it! Happy reading~
AUTHOR POV
Lay menghela nafasnya saat melihat kelas sudah kosong. Kedua sahabatnya sepertinya sudah pulang lebih dulu.
Sepanjang perjalanan pulang Lay terus melamun. Sesekali mengingat Su Ho-nya yang menghilang ntah kemana. Ah, teman-temannya juga.
Suara petir menyadarkannya. Lay melihat ke langit yang mendung. Sebentar lagi pasti hujan turun. Lay menatap ke depan. Eh? Ini bukan jalanan yang biasa ia pakai untuk pulang. Kenapa ia lewat sini? Lay menoleh ke belakang. Jika kembali pun percuma. Ia sudah berjalan cukup jauh.
TES! TES!
Air hujan mulai turun. Beberapa tetesnya mengenai tubuh Lay. Lay jadi panik dan mencari tempat berteduh. Lay menoleh ke sampingnya. Ada rumah di sana. Jadi Lay memutuskan berteduh di sana.
Sudah dari beberapa menit yang lalu hujan mengguyur kota Seoul. Sangat lebat. Baju Lay sudah agak lembab. Lay berteduh di sebuah rumah yang sepertinya sudah lama tak ditempati. Pekarangannya kotor juga berantakan. Warna cat dinding rumah pun sudah kusam, membuat rumah ini terlihat menyeramkan.
Lay menggerutu berkali-kali karena hujan tak kunjung reda. Lay memeluk tubuhnya sendiri. Tapi Lay bersyukur meski hanya bisa berteduh di beranda rumah ini, saja.
Hujan semakin lebat di sini, dan Lay hampir putus asa. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu memasuki malam. Tapi langit tak memberikan pencerahan.
Lay menolehkan kepalanya kearah pintu rumah saat mendengar suara musik klasik yang indah. Terdengar menenangkan. Suaranya mengalahkan raungan badai di depan Lay. Lay membiarkan tasnya berada di beranda rumah. Dengan perlahan ia menapaki lantai beranda yang kumuh menuju pintu utama rumah itu.
CLEK!
Lay agak terkejut bisa membuka pintu rumah itu dengan mudah. Jadi Lay segera masuk dan menutup pintu itu asal tanpa berbalik pada pintu. Lay agak kesulitan melihat di sini. Ruangannya sangat gelap. Juga pengap dan aroma karat tercium dimana-mana. Kilatan petir di luar menjadi satu-satunya penerangan yang membuat mata Lay terbelalak terkejut. Apa ia tidak salah lihat tadi? Itu tubuh dan kepala Kris, kan? Kenapa... terpisah begitu?
Lay segera berlari kearah belakang rumah. Dengan cepat membuka pintu yang ia kira pintu menuju halaman belakang.
Dan lagi-lagi ia terdiam. Tubuhnya membeku-kaku.
"K-Kai. K-Kai-er!" seru Lay segera menghampiri sosok telentang tak bernyawa itu.
Lay terisak. Terisak hebat. Derai air matanya turun mengalahkan kecepatan air hujan menyentuh tanah.
"A-Apa semua ada di sini?" gumam Lay parau.
Ntah kenapa kakinya terasa ingin melangkah mendekati pohon besar di sudut halaman belakang rumah ini. Samar-samar suara musik itu tak terdengar karena derasnya hujan yang membatasi pendengaran.
Lay berhenti beberapa meter dari pohon. Menatapnya lekat lalu menatap ke bawah. Oh, god! Jika ia tetap maju, akan ada tali tambang yang melilit kakinya. Lay menelusuri tali tambang tua itu. Di pertengahan tali terlihat sudah menipis. Ia pasti akan jatuh. Lay mencari lokasi kira-kira ia akan jatuh, mungkin tidak akan lurus sesuai tempat talinya. Pasti akan agak miring. Matanya membelalak saat melihat kumpulan pecahan kaca juga paku-paku tajam yang menunggunya. Lay memundurkan langkahnya perlahan.
SREK!
SREK!
TAP!
Lay merasa jantungnya berhenti memompa saat seseorang turun dari pohon. Mata Lay kembali memanas siap meledakan bendungan di pelupuk matanya menjadi air terjun yang paling di benci Su Ho.
"Kenapa? Siapa? Siapa yang melakukan ini semua?!" Lay berseru pada sosok yang dilihatnya. Dan tetap mundur semakin dekat dengan pintu belakang rumah itu.
"Terpaksa kami harus turun tangan karena kami tak punya plan B." ucap orang itu dengan suara rendah. Dan memainkan seutas tali tambang di tangannya.
Lay dengan cepat berlari ke dalam rumah. Terburu ia menutup pintu itu. Nafas sudah terengah, baju basah karena rintik hujan tak kenal belas kasih dan keringat menambah basah keadaannya.
Langkah Lay tiba-tiba terhenti mendadak. Lay langsung jatuh terduduk. Seluruh badannya lemas dan air mata bersedia menemaninya. Musik itu terdengar lagi. Kali ini kebih keras ntah darimana asalnya. Terdengar seperti darimana saja.
"Su Ho... SU HO!" seru Lay mencoba melepas beban.
"Tidak berdaya hanya melihatnya?" suara seseorang tak membuat Lay mengubah posisi. Tetap bergeming dalam lingkup tangis.
"Kau kejam! Kau juga membunuh namjachingu-mu sendiri, eoh? Kau tak punya hati, Brengsek!" bentak Lay di tengah isakannya menatap jasad Su Ho-nya yang tergantung di balik pintu utama.
"Gomawo, pujiannya." sahutnya santai.
"Kau lama Hyung, Payah!" hardik suara lain. Lay terdiam.
Membalik badannya perlahan, tapi terlambat. Sebelum ia mengetahuinya, leher Lay sudah ditawan dengan tali tambang itu. Menariknya tanpa perasaan hingga Lay terbatuk-batuk dan berkata lirih. Orang yang menganggur tertawa keras melihat Lay meregang nyawa di depannya. Lay meronta saat orang yang mencekiknya dengan tali itu menyeretnya. Wajah Lay membiru kekurangan oksigen. Hingga baru sampai pintu halaman belakang, Lay berhenti membuat pergerakan. Orang yang menyeret tubuh Lay menghentikan langkahnya.
"Ah, dia tidak seru. Dasar Uke!" ledeknya pada tubuh tak bernyawa itu.
"Tunggu, untuk apa kau membawanya ke sini?" tanya orang yang sedari tadi menganggur itu. Orang pembuh itu menatap rekannya.
"Menguburnya." jawabnya polos. Namja yang menganggur membulatkan mata sipitnya. "Tentu saja aku ingin menggantung lehernya di pohon besar itu. Bukankah 'dia' ingin hiasan baru pada pohonnya?"
"Emmh... Kau ikut aku dulu. Kita akan bersenang-senang." ajak namja yang menganggur sembari berlari semangat menuju lantai atas.
Orang pembunuh itu dengan susah payah menyeret tubuh Lay yang mulai kaku. Tujuannya... kamar mandi?
"Masukan dia ke sini!" seru namja yang menganggur itu yang sedang mengisi sebuah bath up dengan air dingin hingga penuh. Pembunuh itu menuruti. Ia membaringkan tubuh Lay yang sudah pucat itu ke dalamnya.
"Itu apa?" tanya si pembunuh pada rekannya yang asyik mengutak-atik sebuah benda yang kabelnya tertancap pada stop-kontak. "Sebenarnya apa idemu?"
"Aku tidak tahu apa ini akan berhasil atau tidak. Tapi kata Appa-ku benda ini akan mengalirkan tegangan listriknya pada air jika dimasukan ke air. Di rumah terlalu berbahaya. Jadi aku ingin mencobanya di sini. Mumpung ada Lay Hyung." jelas orang yang menganggur itu dan dengan tidak pedulinya ia melempar begitu saja benda itu ke air. Lalu berlalu.
Tubuh Lay agak bergetar dan menggeliat tak tentu arah karena efek listrik di sana. Tampak tak peduli, si pembunuh ikut menyusul rekannya.
"Sekarang bagaimana kita menghiasi pohon 'dia' dengan aksesoris baru? Sedang kau menghanguskan Lay Hyung di air." tuntut si pembunuh.
"Kita cari yang lain. Mereka akan datang dengan sendirinya. Dan lagi, aku yakin 'dia' akan suka barang baru di kamar mandinya." celoteh orang yang menganggur itu.
Tao menatap langit yang semakin gelap saja. Biasanya disaat-saat seperti ini ia akan sangat membutuhkan Kris. Tapi...
PRANG!
Lu Han tak sengaja memecahkan gelas yang baru saja akan diraihnya. Ia terdiam beberapa detik untuk merasakan perih. Bukan perih tergores pecahan kaca dari gelas. Justru dirinya tak memiliki luka fisik, tapi di hatinya...
Tao merasakan sakit yang amat dalam hingga ia lebih memilih menggulung dirinya dalam selimut.
'Lay-er... kau baik-baik, saja?' batin Lu Han miris.
AUTHOR POV END
~TBC~
A/n: Ngerti gak sama adegan terakhirnya? Dah baca? Ngerti? Atau malah absurd? Shi tau ini mengecewakan bgt... #bow Shi bakal tebus (insya allah klo kalian puas itu pun) di chap selanjutnya. Shi ngerasa bersalah. Maaf~ #bow Review, please... ^^
