Halloooow..! Apa kabar para pejuang cinta di luar sanaa ? Apa kalian masih tetap bersemangat ? Saya harap juga begitu. Nah, pasti banyak yang bertanya kan alasan kenapa saya nongol lagi? Ya, tidak lain adalah menghaturkan kelanjutan fic ter- absurd saya. Semoga para pemirsah readers sekalian menyukainya dan jangan lupa buat review nya biar kata cuma separagraf doank saya terima.
Ya udah lah gak usah bertele-tele lagi. Silahkan dibaca aja biar gak makin penasaran.
.
.
Chapter 17
.
.
.
Beberapa menit sebelumnya terasa seperti mimpi bagi Naruto. Bocah pirang itu bahkan tidak percaya dengan apa yang telah dia perbuat. Entah darimana datangnya keberanian itu, hingga tanpa ragu dia mencium bibir ranum Sakura secara tiba-tiba tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Setidaknya Naruto perlu bersyukur karena gadis musim semi itu membalas ciumannya dan bukan menampar pipi bocah pirang itu.
Naruto kemudian mencoba berhenti memikirkan kejadian itu. Dia merasa begitu malu jika harus terus mengingatnya. Rasanya dia ingin sekali membenamkan wajah tan nya ke wastafel sesegera mungkin. Tapi sayangnya saat ini dia tidak ada waktu untuk melakukan hal bodoh seperti itu. Dengan segenap daya dan upaya bocah pirang itu mencoba fokus kembali pada masalah yang harus dihadapinya sekarang.
.
Naruto akhirnya berhasil menyusul teman-temannya yang telah sampai terlebih dahulu di pintu depan. Sakura juga terlihat sudah berada di tempat itu dan saat ini berdiri di samping Ino. Setelah ciuman tak terduga itu, Sakura segera beranjak pergi dan meninggalkan Naruto seorang diri. Karena itulah mengapa bocah pirang itu sampai paling bontot.
Naruto baru sadar jika tempat dimana dia berada selama ini adalah ruang bawah tanah auditorium dengan arsitektur khas Yunani yang dia kagumi sebelumnya ketika saat melarikan diri. Rasa terkejutnya semakin melonjak ketika melihat jika pintu masuk ruang bawah tanah itu adalah bagian bawah patung malaikat yang tengah mengepakkan sayapnya dengan anggun.
Naruto kemudian menatap lurus ke depan. Bocah pirang itu lantas melihat sesuatu yang tidak asing baginya. Ya, sebuah dinding hologram kamuflase yang hampir saja mengecoh Naruto dan teman-temannya jika saja mereka tidak melihat semut yang berjalan melewatinya.
"Dinding itu, apakah kalian masih mengaktifkannya ?" tanya Naruto pada Neji.
"Ya. Selain sebagai pengecoh tamu tak diundang seperti kalian, hologram itu juga berguna sebagai alarm ketika seseorang berhasil melewatinya. Itulah alasan kenapa kami memburu kalian sebelumnya." Jawab Neji.
Shikamaru mendengus kesal ketika Neji mengucapkan kata memburu pada Naruto dan yang lainnya. Bocah pirang itu tersenyum melihatnya. Ternyata selain dirinya, masih ada orang lain yang merasa sebal dengan perkataan pemuda berambut panjang itu. Sebenarnya tidak semua perkataan pemuda itu menyebalkan. Hanya beberapa kali, tapi memang langsung menusuk ke perasaan. Tapi setidaknya bagi Naruto ucapan pemuda berambut panjang itu masih lebih baik dibandingkan dengan Sai.
"Aneh .." Ucap Tenten tiba-tiba seraya memandangi radar mini di tangannya.
"Ada apa ?" tanya Neji penasaran.
"Beberapa diantara mereka tidak bergerak sedikitpun sejak terakhir kali aku mengeceknya." Balas Tenten dengan alis berkerut.
Perkataan Tenten tersebut berhasil mengambil alih perhatian Naruto dan yang lainnya. Bahkan Shikamaru yang sebelumnya tidak peduli, saat ini terlihat begitu tertarik. Naruto yang merasa penasaran pun dengan segera mendekati Tenten untuk melihat apa yang tergambar pada radar mini tersebut.
"Mungkin itu adalah rencana mereka. Dalam sebuah penyergapan, formasi berlapis membuat peluang lolosnya target menjadi semakin kecil." Ucap Shikamaru tiba-tiba.
"Kita anggap saja dugaanmu benar, bocah kepala nanas.." Balas Neji sarkastis.
Shikamaru lagi-lagi mendengus keras. Mungkin dia merasa kesal dengan panggilan yang diberikan Neji padanya.
"Aku rasa tidak seperti itu.." ucap Sai tidak setuju dengan perkiraan Shikamaru. Praktis semua mata kali ini tertuju pada bocah kulit pucat itu.
"Jika memang itu adalah sebuah formasi penyergapan, mengapa pada radar ini justru memperlihatkan posisi mereka yang seolah acak-acakan ?" tanya Sai pada semuanya.
Shikamaru segera menatap radar itu setelah mendengar penjelasan Sai. Sebelumnya bocah pemalas itu memang hanya melihatnya sekilas. Tidak tahu kenpa tapi mungkin saja karena dia merasa tidak enak pada Tenten akibat kejadian sebelumnya.
"Kau benar, lalu apa menurutmu ?" tanya balik Shikamaru pada Sai.
Bocah kulit pucat itu tidak segera menjawab pertanyaan Shikamaru. Dia justru terdiam dan memejamkan matanya seolah tengah berpikir. Melihatnya, Naruto bisa merasakan akan ada sesuatu yang tidak beres. Berdasarkan pengalaman bocah pirang itu, jika seseorang tidak segera menjawab pertanyaan dan justru malah terdiam seolah tengah berpikir, maka kesimpulannya adalah kejadian tak terduga akan segera terjadi.
"Mereka dibunuh.."
Dibunuh. Satu kata itu berhasil membuat Shikamaru dan Neji menegangkan kedua bahu mereka secara bersamaan. Sebenarnya bukan cuma mereka berdua saja yang terkejut, Naruto dan yang lain juga merasakannya. Namun dalam takaran yang berbeda.
"Analisamu cukup mengesankan bocah kulit pucat, apa dulu kau tergabung dalam satuan militer ?" tanya Neji terkesan.
Sai tidak menjawab. Ekspresi wajah bocah kulit pucat itu terlihat mengeras setelah Neji melontarkan pertanyaan kepadanya. Entah hal apa yang mendasarinya. Naruto bisa merasakan jika anak laki-laki itu tengah menyembunyikan sesuatu dari yang lainnya. Pada detik itu pula bocah pirang itu teringat akan ucapan Neji untuk selalu waspada dan tidak sepenuhnya percaya pada siapapun.
"Sudahlah itu tidak penting, kita harus segera keluar dari tempat ini." Ucap Ino tiba-tiba. Naruto merasa gadis itu seolah tengah menutupi sesuatu tentang Sai.
"Kau benar, nona pirang.." balas Neji seolah kebenaran tentang Sai tidak begitu penting untuknya. "Tenten, berapa waktu yang tersisa sebelum bom nya meledak ?"
Bagus sekali. Kali ini pemuda berambut panjang itu mengucapkan satu frase kata yang akhir-akhir ini mulai dibenci Naruto dan teman-temannya. Bocah pirang itu tidak habis pikir, sebenarnya apa yang sudah direncanakan Neji serta teman-temannya ? mungkinkah mereka berniat meledakkan tempat ini ?
"Bom ? apa kau bermaksud meledakkan tempat ini ?" tanya Shikamaru yang ternyata sepemikiran dengan Naruto.
"Tepat sekali." Jawab Neji singkat. "Ini demi menghapus jejak keberadaan kita."
Naruto hanya diam membatu. Bocah pirang itu merasa cukup lelah dengan segala macam ucapan pemuda di hadapannya. Yang jelas dia berharap semoga saja apa yang telah direncanakan oleh Neji akan berjalan dengan lancar. Dia juga berharap tidak akan ada pengkhianatan dalam rencana pemuda berambut panjang itu.
"Kenapa harus sampai seperti itu ?" tanya Shino.
"Karena perintah dari nona besar.." Jawab Neji.
Jantung Naruto seolah terhenti beberapa saat ketika Neji menyinggung tentang sang nona besar. Perasaan rasa bersalah tiba-tiba muncul begitu saja menghampiri bocah pirang itu. Dia sendiri tidak tahu apa alasan yang mendasarinya. Namun di lubuk hatinya yang terdalam, Naruto merasa seperti seorang pengkhianat.
"Tidak perlu ketakutan seperti itu.." ucap Tenten mengembalikan perhatian Naruto. "Selagi kita bisa berlari secepat mungkin, dan juga tidak lebih dari 5 menit, kita tidak akan terpanggang oleh ledakan bom yang telah kami pasang."
"Oke, jadi berapa jauh kita harus berlari ?" tanya Shikamaru.
"Radius ledakan bom itu sejauh 500 meter, mungkin pada kisaran 600 meter kita akan aman.." Jawab Tenten lebih terperinci.
Bunyi benda berat jatuh menggema setelah Tenten mengungkapkan seberapa jauh mereka harus berlari. Semua mata seketika terpusat pada sosok Shikamaru yang tidak lain adalah pelakunya. Bola mata mereka pun mulai terarah pada benda besar yang terjatuh itu. Sebuah tas besar yang sepertinya berisi sesuatu yang cukup berat.
"Sial ! dengan jarak sejauh itu.. Kenapa kalian tidak mengatakannya sejak awal ?" umpat Shikamaru tanpa peduli dengan tatapan penuh tanya dari yang lain.
"Memang apa yang ada di dalamnya ?" tanya Neji penasaran. Ekspresi pemuda berambut panjang itu terkesan curiga.
Tanpa banyak bicara Shikamaru segera membuka resleting tas yang dibawanya. Terpampanglah dengan jelas kali ini apa yang menjadi isi dari tas tersebut. Sebuah senapan penghenti detak jantung, yang konon menurut penjelasan Neji sebelumnya memiliki berat sekitar 10 kilogram. Melihatnya, Naruto bisa mengerti apa yang ada di benak bocah pemalas itu saat ini.
"Bukankah sudah kubilang agar membawa senjata yang simpel saja ?" tanya Neji sembari mendengus kesal. Dia merasa pria di hadapannya itu terlihat seperti orang yang tidak bisa diatur.
"Senjata ini dibuat adalah untuk digunakan. Akan sangat disayangkan sekali jika hanya dijadikan pajangan saja." Jawab Shikamaru mencoba ber argumen.
"Terserah kau saja lah.." balas Neji sembari mengangkat tangan tanda menyerah berdebat dengan Shikamaru.
"Aku harap larimu bisa secepat kilat meski membawa beban seberat itu." Lanjut Neji seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Shikamaru.
Naruto bisa melihat jika sebenarnya Shikamaru ingin membalas perkataan Neji. Namun kemudian bocah pemalas itu memilih untuk mengurungkannya. Bocah pirang itu lantas berpikir mungkin saja Shikamaru menyadari jika ucapan Neji ada benarnya juga.
"Bom akan meledak lima menit lagi.." Teriak Neji pada semuanya. "Ayo mulai bergerak !"
Neji berlari paling depan memimpin diikuti Tenten yang setia membawa radar mini miliknya. Dibelakangnya, Shikamaru yang dengan kekeras kepalaannya membawa senapan penghenti detak jantung. Kemudian diikuti Sai, Ino, Sakura, Shino, Naruto dan Lee yang berada paling belakang.
Derap suara lari bergema nyaring memenuhi lorong-lorong yang mereka lalui. Tidak ada yang bersuara. Mereka seolah paham jika keadaan seperti ini jauh lebih baik meskipun menurut Naruto justru terkesan agak suram. Tapi setidaknya mereka bisa menghemat tenaga, dan itulah nilai tambahnya.
Mereka terus berlari tanpa henti melewati lorong yang berkelak-kelok. Jika kemampuan perhitungan serta ditambah instingnya tidak salah, Naruto berani jamin saat ini mereka pasti sudah berlari setengah jalan dan bocah pirang itu berharap semoga setengah jalan yang tersisa aman-aman saja. Wajar saja jika Naruto sampai berpikir demikian. Karena berdasarkan pengalaman bocah pirang itu sebelumnya, selalu saja ada masalah setiap kali mereka tengah berusaha melarikan diri.
Naruto terus berlari tanpa ada niat untuk sedikit pun untuk melambatkan lajunya. Di lain pihak, Shikamaru yang sebelumnya berada di urutan ketiga terdepan mulai melambat dan saat ini justru tepat di hadapan bocah pirang itu. Tidak perlu bertanya pun jawabannya sudah jelas. Bocah pemalas itu mulai kelelahan akibat memikul beban berat di punggungnya.
Naruto sedikit demi sedikit mulai mensejajarkan posisinya dengan Shikamaru. Dapat terlihat dengan jelas di wajah Shikamaru jika saat ini bocah pemalas itu tengah kelelahan. Peluh membanjiri dahi dan pelipisnya. Lengan kaos yang di pakainya pun tak luput dari basahnya keringat. Tapi jika melihat dari raut wajahnya, rasanya bocah pemalas itu tidak memerlukan bantuan dari siapapun. Hal inilah yang membuat Naruto cukup respek kepada sosok Shikamaru.
"Kenapa berhenti ?" tanya Naruto ketika Shikamaru menghentikan laju larinya secara tiba-tiba.
"Mereka di depan juga berhenti, bung.." Jawab Shikamaru disela-sela nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Naruto mengerutkan kening seolah tak percaya. Bocah pirang itu kemudian memandang ke arah depan dan terbukti jika ucapan Shikamaru memanglah benar.
"Ada apa ?" tanya Naruto pada Shino yang berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan berisik." Jawab Shino lirih.
Naruto dan Shikamaru bertukar pandang setelah melihat respon dari Shino. Aroma akan hal-hal yang tidak beres seolah menguar di sekitar mereka. Secepat itu pula mereka berdua mencoba memahami situasinya.
"Apa yang terlihat di radar saat ini, Tenten ?" tanya Neji pada gadis kuncir kuda di belakangnya.
"Sejauh yang aku lihat, tidak ada yang mencurigakan di sekitar kita, Neji." Jawab Tenten dengan jelas.
Bagi Naruto, jawaban Tenten benar-benar meredakan rasa kegelisahannya. Berharap saja memang begitulah adanya. Karena ditambah pinggangnya yang masih terasa sakit akibat luka tusuk, serta suasananya hatinya yang sedang buruk, rasa-rasanya dia begitu malas jika harus bergelut berhadapan dengan lawan pada saat-saat seperti ini.
"Tetap jaga barisan !" teriak Neji di depan.
Semua mengangguk paham. Tanpa aba-aba, dengan kompak mereka mulai berlari kembali menyusuri lorong-lorong
"Sebenarnya apa yang kau rasakan, Neji ?" tanya Naruto dari belakang.
"Tidak begitu jelas. Aku cuma merasa ada suatu suara seperti desisan ular serta hembusan nafas sayup-sayup berada tidak jauh dari kita." Jawab Neji sedangkan Naruto meneguk ludahnya takut.
"Aku juga merasakannya. Suara getar langkah kaki tidak jauh dari kita berada saat ini." Imbuh Shino sembari terus berlari.
"Tapi bukankah radar itu tidak mendeteksi apapun ?" tanya Naruto mencoba menyangkal pendapat Neji maupun Shino.
"Ya, aku harap juga begitu.." balas Neji.
Bagi Naruto ucapan Neji terdengar seperti tengah menghibur diri. Bocah pirang itu merasa tidak nyaman akan hal itu. Tapi di dalam hatinya, Naruto berharap sama seperti apa yang Neji harapkan.
Naruto dan yang lainnya terus berlari hingga akhirnya mereka memasuki ruangan besar bak aula pertemuan, yang kira-kira luasnya mungkin sebesar lapangan sepak bola. Kondisi aula besar itu nampak sanagt berantakan. Terlihat dari langit-langit atap yang mulai terkelupas ingin jatuh, lantai marmer yang retak-retak dan berlubang serta puing-puing reruntuhan batu yang nampaknya masih baru. Samar-samar bocah pirang itu menatap Neji yang entah kenapa menunjukkan ekspresi terkejutnya. Bukan hanya Neji, Tenten dan Lee pun menunjukkan ekspresi yang sama.
"Ada apa ? apa ada yang aneh dengan tempat ini ?" tanya Shikamaru ngos-ngosan.
"Ruangan ini.. seharusnya tidak seperti ini.." Ucap Lee bergetar.
"Apa maksudmu ?" tanya Shikamaru panik.
"Sebelumnya kami pernah mengunjungi tempat ini kemarin.." Jawab Neji dengan raut wajahnya yang kembali sulit terbaca.
"Tapi kondisinya tidak seperti ini.."
Pupil mata Naruto melebar mendengarnya. Rasa tegang seketika menguasai bocah pirang itu. Kakinya bahkan kesemutan detik itu juga. Hal yang sama juga sepertinya terjadi pada yang lain. Namun mungkin gejalanya berbeda.
Naruto kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar aula luas itu. Memang tidak ada yang mencurigakan sejauh matanya memandang. Tapi jika mendengar pernyataan Neji sebelumnya, tanpa pikir panjang pun Naruto bisa dengan mudah menarik kesimpulan. Saat ini mereka dalam masalah.
Suara bunyi klik sayup sayup terdengar tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Tidak lama berselang, sebuah bom meledak pada pintu masuk aula yang sebelumnya dilalui oleh Naruto dan yang lain. Kabar buruknya, puing-puing akibat ledakan itu berhasil menutupi seluruh bagian pintu masuk aula dengan sempurna.
"Siapa yang melakukannya ?" teriak Neji. "Keluarlah ! Aku tidak takut !"
Tidak ada yang menjawab. Yang terjadi justru sebuah ledakan bom berikutnya. Sebuah ledakan dengan objek sasaran yang tidak lain adalah pintu keluar dari aula tempat Naruto dan teman-temannya berada saat ini. Praktis saat ini mereka tidak ada bedanya dengan mangsa yang telah masuk dalam perangkap.
"Sial ! Dasar pengecut, tunjukkan wujud kalian sekarang juga !" teriak Neji menantang.
Sekali lagi tidak ada jawaban. Naruto merasa seolah tengah dipermainkan. Bocah pirang itu mendengus kesal seraya menghunuskan pedangnya ke depan. Tindakannya itu tanpa sadar diikuti oleh teman-temanya.
Tiba-tiba saja Sakura dan Ino menjerit kencang. Reflek, Naruto dan yang lainnya dengan cepat menghampiri kedua gadis itu. Naruto bisa dengan jelas melihat raut ketakutan tercetak di wajah mereka berdua. Ino bahkan sampai jatuh terduduk karena ketakutaannya. Tapi yang lebih aneh, kondisi tubuh mereka berdua secara fisik baik-baik saja. Setidaknya itu cukup menenangkan perasaan hari Naruto.
"Apa yang terjadi ?" tanya Sai pada Ino seraya membantu gadis itu berdiri.
Ino tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sai. Gadis pirang itu nampaknya masih ketakutan akan kejadian sebelumnya. Lain halnya dengan Sakura. Gadis merah jambu itu terlihat sudah dapat mengendalikan dirinya dari ketakutan.
"Ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Sangat terasa sekali dan kemudian menghilang dengan cepat.." jawab Sakura bergetar.
"I..Iya.. Sesuatu seperti benda bersisik. I..Itu yang aku rasakan sebelumnya." Ucap Ino melengkapi penjelasan Sakura.
Banyak hal gila yang telah Naruto lalui sebelumnya. Tapi untuk yang kali ini rasanya jauh berbeda. Saat ini bocah pirang itu tidak tahu siapa yang tengah dihadapinya. Sebenarnya bukan soal tidak tahu siapa lawanya, tapi lebih ke arah tidak bisa melihat siapa lawan yang saat ini dihadapinya. Memikirkannya membuat kepala Naruto rasanya ingin pecah saat itu juga.
"Tenten, apa kau melihat sesuatu yang aneh di radar ?" tanya Neji.
"Tidak ada apapun.." Jawab Tenten ringkas.
"Kau lihat ? tidak ada apapun di sekitar sini. Jadi jangan bergurau di saat genting seperti ini." Ucap Neji mencoba membantahnya.
"Apa wajahku terlihat seperti tengah bercanda, pria cantik ?!" timpal Ino memekik kesal.
Neji tidak membalas ucapan Ino. Pemuda berambut panjang itu malah justru membuang muka dan mendengus kesal. Samar-samar Naruto bisa melihat Shikamaru yang tengah tersenyum geli mendengar julukan yang diberikan Ino kepada Neji.
"Berikan radar kecil itu padaku !" ucap Sai tiba-tiba. Bocah kulit pucat itu sepertinya mengetahui sesuatu.
Tenten tidak memberikan radar itu begitu saja pada Sai. Gadis kuncir kuda itu justru menatap Neji seolah meminta pendapat. Setelah mendapatkan persetujuan dari pemuda berambut panjang itu, dengan segera Tenten memberikan radar mini itu pada Sai.
Setelah radar itu berada di tangannya, Sai segera mengamati radar itu dengan seksama. Tidak sampai 10 detik, Sai memberikan kembali radar itu kepada Tenten. Bocah kulit pucat itu kemudian menatap orang-orang di sekitarnya dengan tatapan yang serius.
"Awalnya aku pikir benda itu rusak. Tapi ternyata perkiraanku salah." Ucap Sai serius.
"Lalu apa poin pentingnya ?" tanya Neji merasa ucapan Sai tidak ada pentingnya.
"Apa kalian tahu mode stealth ?" tanya Sai balik.
Detik itu pula, Naruto dan teman-temannya membeku di tempat.
.
.
.
to be continue
Yosh ! akhirnya chapter baru ini kelar juga. Sedikit curcol aja. Pas bikin chapter ini, di tengah jalan penyakit 2M (males dan moody) saya kambuh. Jadi maaf deh kalo nantinya kurang memuaskan. Tapi yang bikin aneh lagi adalah setelah penyakit itu udah sembuh, saya malah justru bikin fic lain (bisa diliat di bio). Coz paz mau nglanjutin fic ini malah sindrom lethologica tiba-tiba menghampiri. Jadi ya begitulah, ada sedikit keterlambatan soal updatenya.
Mungkin itu aja deh sedikit curcolan gak mutu saya. Semoga kalian suka dengan update an fic nya dan jangan lupa review nya ya..
.
.
Balasan review :
Akira ken : Haha, iya.. soalnya emang pas momennya buat apdet. Makasih buat RnR nya.
Yami no Be : Wauw, kayaknya ada yang salah paham di sini. Tapi dari relung hati yang terdalam saya mohon maaf jika Yami san merasa tersinggung..
Quanson, The kidsno oppai & LA Lights : Yap yap yap
Inuzukarei : Jangan merendah begitu rei san. Dari review2 sebelumnya aja bisa keliatan kok, kalau rei san itu punya potensi buat nulis. Jadi kenapa gak dicoba aja ? iya gak ?
Malaikat Cinta Zihar : Wah, kalau soal itu itu sih namanya udah melanggar hak cipta. Hihihi..
Galura : OMG.. hamba lupa galura san . Maklulm sudah lama hamba tidak bersua dengan engkau.. haha. Sebenernya bisa juga sih saya bikin romance nya sampe 3 word tapi mungkin update nya 3 bulan lagi.. hahaha
SR NOT Author : Yakin nih udah kebuka ? ini aja belum nyampe hidangan utamanya loh..
Ndah D Amay : Yakin nih hubungan mereka berdua udah jelas ? #evilsmirk
Syalala-lala : Ya begitulah lala san problematika saya dalam menulis adegan romance. Biar kata udah sering nonton film romance, tetep aja gak bisa apa-apa kalo disuruh nulis yang kaya gitu. Makasih buat semangatnya
Fatih azzam : Yakin nih udah tahu gimana endingnya ? gimana kalo selama ini saya cuma nge troll doank ? hihihi..
Sandra : wah, kecepetan ya ? emang pengennya seberapa sandra san ? makasih buat RnR nya ya..
