Chapter 12
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mystery
Archip: Yaoi, chapter, T
Cast:
-All members EXO
-Huang Zi Tao
-Wu Yi Fan a.k.a Kris
-Lu Han
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please⦠DLDR!
A/n: Shi mau minta maaf atas kebobrokan chap kemarin. Semoga ini cukup buat kalian maafin Shi. Hope U like it. Happy reading~ ^^
AUTHOR POV
Lu Han berlari dari sudut ke sudut, ujung ke ujung. Mata bulat rusanya menatap nyalang nan teliti pada setiap inchi hal yang ia lihat selama setengah jam ia berlari ke sana-kemari yang membuat anak satu sekolah heran dengan tingkahnya yang panik.
Lu Han segera melesat menghampiri Tao yang baru saja datang menapaki sekolah. Lu Han memanggil Tao panik dan menghambur untuk meremas bahu sahabatnya itu.
"Kau lihat Lay-er?" tanya Lu Han to the point. Tao hanya terdiam, tertegun melihat keadaan Lu Han yang sudah kacau sebelum kegiatan sekolah di mulai.
"Kau baik-baik saja, Ge?" tanya Tao khawatir melihat seragam Lu Han sudah agak kusut. Wajahnya juga sudah penuh dengan peluh yang masih menetes dari pelipis. Lu Han mengangguk asal.
"Aku tidak melihatnya di sekolah hari ini. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif." jelas Lu Han cepat. "Aku... Aku takut, Tao-er." cicit Lu Han menundukan kepalanya dan berhenti meremas kedua bahu Tao. Mata Tao kembali terasa panas. Tapi kemudian ia mengerjapkannya agar bendungan tak meledak.
"Tanya orang tuanya?" tanya Tao berusaha tenang menepuk salah satu pundak Lu Han.
"Aku tidak berani menghubunginya. Jika sama seperti Hun-er bagaimana?" cicitan Lu Han membuat Tao menegang seketika.
"Mungkin... Lay-ge sakit?" Tao lebih berucap pada dirinya sendiri.
"Ada sesuatu." gumam Lu Han pelan. Tao tak terlalu mendengarnya karena bel masuk nyaring memperingati setiap insan di gedung itu untuk segera memulai pembelajaran.
Lu Han sengaja pergi lebih dulu saat bel pulang berdering. Lu Han berdecak kesal saat melihat pesan yang ia kirimkan pada Tao di ponselnya.
To: Huang Zi Tao
From: Lu Han
Jangan panik dan jangan cari aku jika aku juga menghilang.
Lu Han meremas rambutnya frustasi. Harusnya ia tak mengirim pesan itu pada Tao. Bisa-bisa Tao panik lebih dulu.
Lu Han mengedarkan pandang setelah berjalan cukup jauh dari sekolah. Juga rumah. Lu Han mengantongi kembali ponsel itu pada sakunya. Tujuannya satu. Ia sangat curiga pada rumah tua itu.
Sesampainya di sana, dengan sembarang dan penuh emosi Lu Han membuka pagar rumah tua itu tanpa menutupnya kembali. Ia menatap sangar pintu utama rumah itu. Tapi ia tertegun saat menemukan Lay. Eh- bukan Lay-nya. Ada... ada tas Lay di sana. Lu Han menghampiri benda mati itu. Dilihatnya baik-baik. Itu sudah sangat basah. Kemarinkan hujan badai tak lelah mengguyur kota Seoul hingga dini hari. Iya, itu milik Lay. Lu Han mengepalkan tangannya geram. Apa maunya rumah ini?!
Dengan langkah besar-besar Lu Han mendekati pintu utama itu.
BRAK!
Dengan tak tahu etikanya ia mendobrak pintu tua itu. Tapi... eh? Lu Han mengernyitkan dahinya saat merasa ada yang mengganjal pintu itu membuatnya tak bisa terbuka lebar meski sudah ditendang seperti yang barusan ia lakukan.
Lu Han segera masuk dan hendak menutup pintu itu. Tapi begitu berbalik untuk menutup, tubuh Lu Ha kaku, tegang. Matanya melebar, rahangnya mengeras, giginya ia gemeletukan saat mengenali jasad yang tergantung di sana itu adalah...
'Su Ho-er.' batin Lu Han muak. Lu Han menatap tajam sekitarnya. "Siapa yang telah melakuka- oh, astaga! Kris-er!" Lu Han memotong protesannya saat menemukan seonggok tubuh dengan tinggi menjulang yang sudah tidak lagi satu paket dengan kepalanya.
Lu Han mendekat dan berhenti 1 meter dari jasad Kris.
"Apa-apaan ini?" gumam Lu Han gusar. Dalam hati ia berharap ini hanya mimpi.
Sebuah alunan suara yang tenang mengembalikan pikiran Lu Han pada tempatnya. Lu Han menoleh ke sekitar mencari sumber suara. Lalu berdecak kesal saat merasa alunan suara itu berasal dari lantai atas. Jadi Lu Han melangkah dengan hati-hati ke sana. Ntah kenapa ia jadi teringat Se Hun membuat dadanya sesak.
Lu Han terus berjalan mengikuti alunan suara yang ia dengar. Hingga ia berhenti melangkah saat menemukan seonggok daging lain. Terasa familiar di kepalanya. Jadi Lu Han mendekat saat masih saja tak yakin.
Lu Han berjongkok di dekat orang yang tergeletak itu dan berjengit di tempat saat sadar seonggok daging yang ini juga tidak lengkap paketnya. Lu Han dengan susah payah, takut, dan jijik membalik badan tubuh tak bernyawa itu karena ia mati dengan posisi telungkup.
Lu Han meneliti setiap mili dari tubuh itu. Agak aneh saat ia mengenali blazer yang dipakai oleh korban ini. Dan jantungnya sukses hampir keluar saat melihat namtag-nya.
Mata Lu Han memanas. Dengan agak cepat dan panik campur kalut ia segera meraih kenop pintu dihadapannya. Lu Han menendang kesal pintu itu saat tetap tak bisa membukanya. Satu sungai Han telah terbuat di pipi Lu Han. Dengan emosi yang campur aduk Lu Han mendobrak pintu itu dengan tubuh kaku nan lemasnya.
BRAK!
KREK!
Bulu kuduk Lu Han meremang saat mendengar suara hancur tambahan dari balik pintu. Lu Han dengan perlahan setengah takut melihat apa itu.
"OH SE HUN!" teriak Lu Han disertai pipi yang sudah basah. Badannya bergetar hebat saat melihat pelengkap tubuh namjachingu tercintanya. Se Hun terbunuh karena kepalanya hilang, yang lebih parahnya lagi ia sekarang telah menghancurkan kepala namjachingu-nya sendiri.
Lu Han meremas rambutnya, berteriak keras layaknya orang gila. Setelah puas -oh, atau mungkin tidak akan pernah puas-, ia melangkah gontai keluar ruangan itu. Matanya berair, berkabut hebat, dan pipinya sudah basah luar biasa. Lu Han emosi. Sangat emosi! Lu Han berlari. Berlari berniat menuju tangga meski ia tak yakin dengan jalan yang ia tapaki. Yang jelas ia berjalan lurus. Matanya berkabut hebat membuatnya tak bisa melihat dengan benar dan emosi menghalangi pikiran jernihnya untuk tetap tenang.
DUAK!
BRAK!
BRUK!
Beberapa menit Lu Han memejamkan matanya tak sadarkan diri. Hingga ia terbangun dengan menahan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia mencoba menajamkan pandangannya sebelum beranjak dari posisi berbaringnya.
Ini dimana? Kenapa lebih gelap dari sebelumnya? Apa sudah malam? Lu Han menatap lurus ke depan. Dahinya mengernyit bingung. Itu... atap? Eh? Tunggu! Apa yang terjadi?
Lu Han segera bangun dari berbaringnya. Tetap menatap keatas. Ada lubang. Sepertinya lantai kayu di rumah tua ini rusak karena dia. Sebentar, beri waktu dia untuk mengingat. Lu Han menemukan Se Hun. Menangis, berlari... air mata menutupi pandangannya... oh! Apa Lu Han lupa dimana letak tangga? Hingga ia terus berlari, terantuk pembatas lantai, dan... eoh? Lantainya berlubang karena Lu Han. Lu Han tentu sangat bersyukur ia masih hidup setelah terjatuh dari lantai atas dan kini ia berada di... sepertinya ini ruangan bawah tanah. Di sini sangat pengap dan penuh debu tebal. Baiklah, Lu Han harus mencari jalan keluar dari sini. Ngomong-ngomong di sini dingin, jadi agak membuat bulu kuduknya berdiri.
Lu Han mengambil jalan ke kanannya. Oh! Ada tangga! Lu Han menaikinya.
KRIET~
Lu Han membuka pintu atau lebih tepatnya mendorong lantai kayu rumah tua itu. Ternyata di sisi lain ada engsel yang bisa membantunya dengan mudah membuka pintu itu. Lu Han keluar dan menutupnya kembali. Ngeri juga jika terus di biarkan terbuka. Lu Han juga menoleh pada karya yang telah dibuatnya tanpa sengaja. Semoga penghuni rumah di sini tidak marah padanya karena telah merusak lantai rumah. Ah, apa yang dia pikirkan? Dan sepertinya Lu Han melupakan hal yang membuatnya sedih tadi.
Alunan musik klasik terdengar cukup keras ntah darimana, Lu Han tak ingin tahu karena sekarang kepalanya mulai berdenyut kembali.
SRET!
Lu Han membelalakkan matanya saat sebuah benda tajam melayang begitu saja di bawah matanya. Membuat goresan kecil yang kini mengeluarkan aliran bau karat. Dari sebuah ruangan yang nampak gelap di sana. Lu Han melihat ke belakang. Pisau itu tertancam sempurna, dengan indahnya berada di dinding.
SRET!
Satu lagi menggores dan merobek sikutnya. Lu Han meringis perih. Lagi, pisau kedua mempermanis dinding di belakang Lu Han. Lu Han menatap ruangan gelap tak bercahaya tempat keluarnya pisau-pisau itu dengan pandangan tajam.
"Siapa di sana?! Lay-er! Itukah kau?!" seru Lu Han. Alunan musik semakin keras. "Siapa pun tolong jawab aku!"
SRET!
Kali ini Lu Han memundurkan langkahnya dan mengelak serangan pisau ketiga. Bagus. Pisau itu tak menghampiri tubuhnya. Tapi...
SRET! SRET! SRET!
3 pisau lainnya menyusul membuat Lu Han kini terpojok di dinding dengan pisau tertancam di sekelilingnya. Sial! 4 pisau itu hanya agar menuntunnya terpojok.
'Kau bodoh, Lu Han!' maki Lu Han dalam hati seraya meringis kembali karena kepalanya kembali sakit.
SRET!
JLEB!
Lu Han tak dapat bergerak. Pisau itu tepat tertuju pada perutnya. Dengan pisau di sekitarnya, Lu Han tak dapat pergi kemana-mana. Lu Han berteriak kesakitan saat pisau itu menembus perutnya hingga menancap pada dinding. Lu Han terbatuk hingga mengeluarkan cairan merah pekat dari mulutnya.
SRET! SRET!
JLEB! JLEB!
Hingga 2 pisau berikutnya, Lu Han mengangkat tangannya sebatas kepala. Pisau-pisau itu menancam pada kedua sikutnya. Lu Han kembali berteriak. Sudah 3 pisau bersarang pada tubuhnya dengan tepat.
SRET! SRET!
JLEB! JLEB!
Kaki. Tepat di lutut. Lu Han mulai lemas. Sekarang tumpuannya hanya pada pisau-pisau pada tubuhnya yang menancap pada dinding. Lagi, Lu Han menangis. Sakit, sedih, rindu, merasa bersalah, kecewa, bercampur jadi satu dalam hatinya. Ingin menyelamatkan sahabat, eoh? Bahkan menyelamatkan dirinya sendiri Lu Han tidak bisa.
SRET! SRET! SRET! SRET!
JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!
Lu Han mengerang lemah. Kedua telapak tangan dan pahanya dibobol pisau dengan sadisnya. Ntah siapa pelakunya di ruangan gelap itu. Apa si pemilik rumah marah padanya karena merusak lantai? Lu Han sudah pasrah dengan apa yang nanti akan terjadi. Lu Han menatap ruangan di hadapannya dengan mata setengah sadar.
SRET! JLEB!
Lu Han hanya meringis saat pisau selanjutnya mengunjungi dadanya. Jantungnya. Perlahan mata itu mulai tertutup. Terlalu lelah, terlalu sakit. Hingga akhirnya kepala itu menunduk dalam dengan jasad tak bernyawa. Dan backsound klasik itu berhenti.
Dua orang namja keluar dari ruangan gelap itu. Menatap hiasan baru yang tertata manis di dinding ruang tamu rumah tua itu.
"Aku hebat, bukan?" bangga orang yang sama yang waktu itu menganggur.
"Ne, ne, ne. Terserah kaulah." pasrah orang yang waktu itu membunuh Lay dengan kejamnya.
"Hei, Hyung harus akui ini hebat!" bangga si penganggur tadi. Rekannya melihat hasil karya itu dengan intens. "Ayo bawa ke halaman belakang. Lalu gantung di pohon. Hyung masih ingat tugas kita untuk mempercantik pohon kesayangan 'dia', kan?"
"Tapi, sayang... Lu Han Hyung akan jadi pajangan menarik jika diletakan di sini." pendapat si pembunuh. Si penganggur memutar bola matanya malas.
"Lalu Hyung ingin kita di bunuh 'dia'?" tantang si penganggur. Rekannya menghela nafas. "Cepat bawa dia."
Si pembunuh mulai memegang badan Lu Han yang (padahal) sudah tertata apik di sana. Agak sulit menariknya lepas dari lem tajam itu karena tertancam terlalu dalam ke dinding.
"Kau bisa bantu aku?" pinta si pembunuh. Orang yang dimaksud menghembuskan nafas lelah, lalu mendekat dan mencoba menarik lengan Lu Han yang terkulai lemas dengan suhu tubuh yang mulai mendingin. "Harusnya kau tidak perlu terlalu bersemangat melemparkan pisaunya. Jadi sulit di lepas begini." Si penganggur menggerutu tak jelas.
"Sudahlah. Tarik paksa, saja!"
SRET!
"Nah, ayo ke halaman belakang!" ajak si pembunuh setelah menarik paksa tubuh Lu Han atas perintah rekannya.
Beberapa menit mereka terlihat sibuk dengan pohon di halaman belakang. Lalu setelah selesai, mereka meninggalkan pohon itu dengan rasa puas. Ada hiasan baru di sana.
Tubuh indah yang selalu dipuji banyak orang itu kini tergantung dengan indah di salah satu dahan pohon. Tali tambang besar yang mengikat lehernya erat terlihat menakutkan. Tangannya terpotong atau mungkin robek paksa hingga sikut, perut dan dadanya terlubang, dan kakinya hanya sebatas setengah paha tergantung di sana.
Yang lainnya? Masih tertancap indah di ruang tamu. Jemari tangan hingga sikut, setengah paha bawah hingga telapak kaki, bagian perut yang dirobek paksa dan jantung masih tertata indah. Dihiasi satu warna tambahan pada dinding yang membuat itu terlihat menarik. Merah darah pekat, tidak ada lagi yang lain.
Tao kembali menatap jendela di kamarnya. Ia gelisah luar biasa tentang Lu Han.
'Lu Han-ge, kau dimana? Kau baik-baik, saja?' batin Tao sementara badai mulai kembali meraung, merajai langit Seoul.
AUTHOR POV END
~TBC~
A/n: Gmn? Masih bobrok? Atau ada pertanyaan lain? Review, please... ^^
