Hallooo para penikmat Ice Cream Cake..! Apa kabar kalian di akhir minggu kali ini ? Semoga semua sehat sentosa dan tambah berbunga-bunga ya hatinya. Jangan lupa sering-sering mandi ya biar gak kepanasan. Kan tahu sendiri, om matahari lagi mentok-mentoknya di garis khatulistiwa. Apa hubungannya ? Hehe.. . Ya udah lah, langsung aja di baca aja kelanjutan fic super ambigu saya. Moga-moga aja bisa jadi obat galau bagi yang tengah merasakan dan juga bisa jadi penyemangat buat yang mau akhir mingguan. Selamat membaca !

.

.

Chapter 18

.

.

.

Tidak ada yang lebih mengerikan dibanding berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat. Itulah pemikiran awal Naruto ketika mendengar istilah Stealth terucap dari bibir bocah kulit pucat, Sai. Naruto bahkan sempat berpikir. Jikalau boleh memilih lawan, bocah pirang itu merasa lebih baik melawan lusinan monster-monster daripada harus berhadapan dengan lawan yang ibarat boleh dikata tidak ada bedanya dengan hantu. Sosok gaib yang tindak tanduknya tidak dapat diketahui dan membuat bulu kuduk merinding.

Naruto menatap satu per satu teman-temannya. Bocah pirang itu memang tidak dapat melihat raut wajah mereka secara jelas. Tapi dia sangat yakin, jika teman-temannya sama resahnya dengan apa yang tengah dia rasakan saat ini. Hanya orang keterbelakangan mental saja yang tidak resah akan hal super gila seperti ini.

Tenten tiba-tiba memekik keras. Gadis kuncir kuda itu sepertinya mengalami hal yang serupa dengan Sakura dan Ino. Jika Sakura dan Ino terlihat sangat kaget dan ketakutan, berbeda halnya dengan Tenten. Gadis itu justru terlihat sangat marah. Dia bahkan menembak ke arah bawah kakinya secara membabi buta sebelum akhirnya dihentikan oleh Neji.

"Hentikan.." ucap Neji dingin. "Kau hanya membuang banyak amunisi."

Tenten terdiam tidak membalas ucapan Neji. Ekspresi wajah gadis kuncir kuda itu terlihat merasa bersalah. Pemandangan itu membuat Naruto merasa ingin tahu tentang seperti apa hubungan diantara keduanya.

"Sejauh yang aku tahu, mode stealth atau kita sebut saja mode siluman fungsinya hanya sekedar mengecoh kerja radar. Bukan dalam artian sebenarnya, seperti kita tidak dapat melihatnya." Ucap Shikamaru.

Naruto tersentak setelah mendengar pernyataan Shikamaru. Bocah pirang itu mengutuk betapa bodoh dirinya. Dia merasa malu karena sudah ketakutan terlebih dahulu. Dia seharusnya bisa lebih tenang seperti halnya Shikamaru. Padahal faktanya, dia sendiri juga paham akan cara kerja mode stealth. Mungkin memang benar seperti kata pepatah. Ketakutan yang berlebihan membuat seseorang kesulitan berpikir jernih.

"Itu memang benar." Jawab Sai singkat. "Tapi bukan Uchiha, jika tidak bisa membuat hal mustahil seperti itu."

Entah kenapa setiap nama Uchiha disebutkan, Naruto merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Menurutnya, nama itu seperti memiliki aura intimidasi yang begitu kuat dan kental. Hingga setiap kali dia mendengarnya, Naruto selalu bergidik ngeri ketakutan.

"Uchiha ? kau mau bilang jika ini ulah keluarga Uchiha ?" tanya Neji seolah tidak yakin.

"Ya, apa kau keberatan ?" tanya Sai balik.

"Sedikit, hanya saja rasanya aneh. Sejauh yang kutahu, mereka telah menghentikan segala macam bentuk pengembangan ataupun penelitian di bidang militer setelah peristiwa pengeboman di kediaman keluarga Uzumaki. Mereka bahkan menyegel seluruh akses data dan sebagainya agar tidak ada seorang pun dapat mempergunakan segala sesuatu yang ada di tempat tersebut. Kecuali.." Balas Neji.

"Awas..!" teriak Naruto.

Naruto melihat kilatan peluru panas meluncur ke arah Neji. Lee yang berada tepat di sebelah pemuda berambut panjang itu segera mendorong tubuhnya hingga membuat peluru itu gagal mengenai sasaran.

"Ah sial !" teriak seseorang yang tidak diketahui dimana keberadaannya.

"Siapa kau, pengecut ?!" teriak Sai kali ini.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar kali ini justru langkah kaki seseorang yang semakin lama semakin mendekat ke tempat Naruto dan yang lainnya berada. Dan pada jarak sekitar 10 meter tidak jauh dari tempat Naruto berdiri saat ini, orang itu akhirnya menunjukkan jati dirinya.

Seorang pemuda dan hanya seorang diri. Naruto memperkirakan usia pemuda itu mungkin tidak jauh dengan usianya. Tidak ada ekspresi penuh intimidasi seperti beberapa tentara yang selama ini sudah ditemui oleh Naruto. Wajah pemuda itu justru terkesan polos tanpa dosa. Bocah pirang itu bahkan sempat berpikir jika apa yang dilihatnya saat ini hanyalah sebuah lelucon.

"Kau.. kau seharusnya sudah mati !" ucap Sai tiba-tiba.

Ucapan bocah kulit pucat itu berhasil mengambil alih perhatian semuanya. Sementara itu si pemuda hanya tersenyum simpul seolah puas karena Sai mengetahui siapa dirinya.

"Wah wah, lama tidak berjumpa teman lama." Ucap pemuda itu seraya membungkuk.

"Siapa dia ?" tanya Naruto penasaran.

Sai tidak menjawab pertanyaan itu. Rahang pipinya terlihat mengeras seperti tengah mencoba menahan sesuatu di dalam dirinya. Entah kenapa, Naruto merasa bocah kulit pucat itu seolah enggan menjawabnya. Naruto berharap Sai tidak sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan yang lain.

"Jadi kau belum menceritakan tentang siapa dirimu sebenarnya pada yang lain ?" tanya pemuda itu yang membuat Naruto dan yang lain bertanya-tanya tentang apa hubungan mereka berdua.

"Perkenalkan, namaku Shin." Ucap pemuda itu memperkenalkan diri.

"Jika kalian ingin tahu tentang apa hubungan antara aku dan Sai, akan dengan hati kuberitahu." Ucap Shin seraya tersenyum menyeringai ke arah Sai. "Kami berdua adalah.."

Belum sempat Shin menyelesaikan ucapannya, Ino menembak lantai dimana pemuda itu tepat berdiri dengan pistol ungu yang di pilihnya. Lantai itu terlihat remuk dengan begitu banyak pecahan-pecahan keramik bertebaran di sekitarnya. Sekilas Naruto dapat melihat jika pemuda bernama Shin itu berhasil menghindari serangan dadakan itu.

"Jangan dengar ocehan musuh kita.." Ucap Ino berteriak.

Dalam sepengetahuan Naruto, Ino bukanlah tipikal gadis frontal layaknya Tenten yang selalu berapi-api. Tapi ketika melihat kejadian ini, bocah pirang itu merasa ada sesuatu yang aneh pada gadis pirang itu. Gadis itu seolah tengah berusaha menutupi kebenaran tentang Sai.

"Menarik, aku pikir kita bisa sedikit bernegosiasi." Ucap Shin yang kembali menunjukan dirinya.

"Kami tidak punya banyak waktu. Bukankah begitu, Neji ?!" tanya Ino seraya mengarahkan pistol kepada Shin.

Neji seolah menyadari sesuatu yang sebelumnya sempat dia lupakan. Pemuda berambut panjang itu kemudian tersenyum pada Ino sebagai ucapan terima kasih karena telah mengingatkannya.

"Nona pirang ini benar, tuan aneh. Kami tidak ada waktu untuk sesi nostalgiamu dengan bocah kulit pucat ini." Ucap Neji seolah tidak peduli akan kebenaran tentang Sai. "Jadi tolong minggir, kami mau lewat !"

Pemuda bernama Shin itu hanya tersenyum mendengar ucapan Neji. Dia kemudian menekan tombol pada sebuah gelang yang berada di tangan kanannya. Detik berikutnya sebuah pemandangan yang tidak diharapkan tersaji jelas dihadapan mereka.

Kali ini, jika rasa takut Naruto dianggap terlalu berlebihan maka jawabannya adalah sangat wajar. Betapa tidak? saat ini di hadapan bocah pirang itu dan teman-temannya, berdiri 8 kyofu (robot hewan) yang wujudnya sepuluh kali lebih mengerikan daripada apa yang Naruto hadapi sebelumnya. Hingga rasanya, julukan monster yang sebelumnya dia sematkan pada makhluk itu terasa kurang cocok untuk saat ini.

Robot monster itu kali ini hanya terdiri dari dua jenis. Lebih sedikit dari yang sebelumnya Naruto pernah hadapi. Jenis pertama bisa dibilang masih dibatas wajar kengeriannya. Ya, jenis pertama wujudnya menyerupai anjing liar yang mungkin hampir seperti serigala dengan ukuran tubuh yang variatif. Tapi setidaknya serigala masih lebih imut ketimbang yang makhluk mengerikan ini.

Bicara soal imut, monster berwujud anjing liar itu bagi Naruto justru masih lebih baik ketimbang jenis yang kedua. Bocah pirang itu bahkan kehabisan kata-kata dalam mendiskripsikannya. Mungkin karena sebegitu mengerikannya bagi Naruto, hingga dia sendiri sampai kehilangan kata-katanya. Intinya, jenis monster yang kedua ini wujudnya menyerupai ular besar bersisik hitam pekat dengan lebar 30 cm serta panjangnya sekitar 5 m. Setidaknya dia harus bersyukur karena jumlahnya hanya 2 ekor.

Naruto menoleh ke arah teman-temannya mencoba ingin tahu reaksi mereka satu persatu. Sebenarnya tindakan itu dirasa tidak perlu. Tanpa melihat pun jawabannya sangat jelas. Tapi mungkin terkadang ada perlunya juga. Dengan melihat ekspresi ketakutan di wajah teman-temannya, mungkin saja bisa membuat bocah pirang itu merasa lebih baik. Sungguh sangat konyol.

Naruto menatap lawan di hadapannya seraya mengeratkan pegangan pedangnya. Sempat terlintas sebuah tanda tanya besar di kepala si bocah pirang mengenai pemuda dihadapanya. Bukankah lebih mudah menghabisi lawan dengan wujud tak terlihat ? dan pertanyaan itu juga yang membuat Naruto semakin ingin tahu apa sebenarnya motivasi pemuda bernama Shin itu.

"Aku suka sekali melihat ekspresi keputusasaan. Secara hitung-hitungan, menggunakan wujud tak terlihat memang akan lebih efisien dalam membunuh kalian." Ucap Shin dengan santainya.

"Tapi.. tidak ada kesenangannya disitu !" teriak Shin dengan ekspresi layaknya seorang psikopat. "Aku ingin melihat kalian bersusah payah mencoba bertahan hidup terlebih dahulu, sebelumnya akhirnya menyerah lalu bersujud padaku.. dan memohon untuk segera dibunuh."

"Bajingan.." desis Shikamaru.

"Berapa lama lagi, Tenten ?" tanya Neji berbisik pada Tenten berusaha sebisa mungkin agar tidak terdengar oleh lawannya.

"Kurang dari 3 menit. Aku bahkan tidak yakin kita masih sempat.." Jawab Tenten pelan namun masih bisa didengar oleh Naruto.

"Aku punya rencana.." Ucap Neji.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Neji segera berlari menerjang. Pemuda berambut panjang itu kemudian melemparkan kelerang-kelereng peledak ke arah dua monster ular secara membabi buta hingga berhasil membuat keduanya kesulitan untuk bergerak. Apa yang dilakukan Neji bukan tanpa maksud. Pemuda itu paham jika potensi kedua monster itu lebih berbahaya daripada 4 monster anjing liar lainnya. Karena itulah dia berusaha sebisa mungkin membatasi pergerakan kedua monster itu sembari menunggu yang lain menghabisi monster yang tersisa.

Naruto yang langsung paham akan maksud dari tindakan Neji segera berlari menerjang mosnter lainnya. Bocah pirang itu kemudian tanpa ampun menghantam keras monster anjing liar yang tengah berusaha menyerang Neji dari arah belakang. Usahanya terlihat cukup berhasil karena monster anjing liar itu terlempar cukup jauh.

Naruto lalu mencoba menebas monster anjing berikutnya namun sayang usahanya kali ini gagal. Monster itu berhasil menghindar dan dengan cepatnya menerjang Naruto. Bocah pirang itu berhasil menghindarinya dengan merunduk. Tapi tanpa dia sadari, monster anjing liar lainnya berhasil menyeruduknya dari belakang. Dia pun terjatuh ke depan dengan posisi telungkup. Sebelum Naruto sempat berpikir tentang kematiannya, suara hantaman keras terdengar di belakang bocah pirang itu.

Naruto menoleh ke arah suara. Dia kemudian tersenyum pada Shimakaru karena telah menyelamatkannya. Tanpa bunag waktu, bocah pirang itu pun segera bangkit dan berlari menerjang monster anjing liar di hadapanya. Hal yang serupa juga dilakukan oleh bocah pemalas itu.

Di sisi lain, terlihat Tenten yang tengah kesulitan dalam menghadapi seekor monster anjing liar. Dilihat dari bentuknya yang lebih besar dari lainnya, sangat wajar jika gadis kuncir kuda itu begitu kesulitan. Apalagi ditambah dengan tangan kananya yang masih setia memegang radar mini, makin susahlah keadaan gadis itu.

Tidak jauh dari tempat Tenten berada, Sakura dan Ino tengah berjuang keras melawan monster anjing liar lainnya. Mereka berdua mungkin tidak terlatih seperti Tenten. Namun keduanya terlihat cukup gesit dalam menghadapi lawannya. Ketika monster anjing liar itu kehilangan pijakan akibat tembakan pistol Ino, dengan cepat Sakura menghantam wajah monster itu menggunakan nunchaku miliknya. Dan ketika monster itu balik menyerang Sakura, Ino kembali menembak ke arah pijakan monster itu untuk menghindarkan Sakura dari serangan balik.

Jika Sakura dan Ino menghadapi lawanya berdua, beda nasibnya dengan Lee. Pemuda klimis itu justru menghadapi sendiri dua lawannya. Dengan kombinasi senapan angin dan pedang di kedua tangannya, dia melakukan gerakan bertahan dan menyerang secara bersamaan. Naruto yang melihat hal itu di sela-sela aktivitasnya begitu terpukau dengan ketrampilan beladiri pemuda klasik itu.

Tidak jauh dari tempat Naruto berada, terlihat Sai yang tengah bergelut sengit melawan Shin. Jika dilihat dengan lebih seksama, gerakan beladiri keduanya begitu mirip. Fakta itu semakin menguatkan dugaan Naruto jika memang keduanya dulu pernah bersama.

Raungan murka kedua monster ular yang berada dibelakang Naruto terdengar begitu mengerikan. Rupanya serangan membabi buta Neji sebelumnya telah berakhir. Kini pemuda berambut panjang itu beralih menggunakan pedangnya dalam berusaha menghalau serangan kedua monster itu. Beruntung ada Shino yang ternyata selama ini membantu Neji.

Semakin lama Neji dan Shino semakin terdesak. Keduanya terlihat semakin kewalahan menghadang setiap serangan kedua monster ular itu. Pada akhirnya mereka berdua terlempar jauh akibat hempasan ekor salah satu monster ular itu. Meskipun keduanya segera bangkit berdiri, tapi bisa dipastikan jika rasa sakit yang mereka rasakan cukup menggelora.

Belum sempat Neji dan Shino meringis kesakitan, kedua monster ular itu tanpa ampun menerjang mereka berdua. Mereka memang berhasil menghindar, tapi lagi-lagi keduanya dihempaskan dengan cara yang sama. Naruto jamin kali ini rasa sakit yang mereka rasakan akan jadi berkali-kali lipat.

Sebuah serudukan tiba-tiba menghantam dada Naruto. Bocah pirang itu mungkin tidak terhempas jauh seperti Neji dan Shino. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit. Naruto mengumpat kesal karena kelengahannya sendiri. Dia bangkit berdiri seraya memegang dadanya yang cukup nyeri diiringi desisan rasa kesakitan.

Keadaan terdesak rupanya juga terjadi pada Lee. Untuk yang satu ini sangatlah wajar, mengingat yang dihadapi pemuda klimis itu bukan cuma satu ekor saja, melainkan dua ekor sekaligus dan tanpa adanya bala bantuan.

Mungkin dari semuanya hanya Sakura dan Ino saja yang punya peluang besar untuk menang. Kedua gadis itu benar-benar bekerja sama dengan sangat baik. Kombinasi serangan keduanya terlihat begitu merepotkan bagi monster anjing liar itu. Jika saja Shin tidak memanggil monster anjing itu umtuk mundur, pasti Sakura serta Ino sudah berhasil membinasakannya.

"Ada apa ini ? kenapa dia memerintahkan monster anjingnya mundur ?" tanya Sakura merasa kebingungan.

"Aku juga tidak tahu. Ini cukup aneh." Balas Ino disampingnya.

Keadaan yang sama juga terjadi pada yang lainnya. Baik monster ular yang dilawan oleh Neji dan Shino maupun monster anjing liar yang dilawan Naruto dan yang lainnya, mereka semua mundur teratur. Meskipun harusnya bersyukur, Naruto justru merasa sangat curiga dengan apa yang terjadi. Bocah pirang itu tidak tahu apa yang tengah dipikirkan pemuda bernama Shin, namun dia sangat yakin jika jawaban paling logisnya tidak jauh-jauh dari sesuatu yang buruk.

"Sepertinya acara bersenang-senangnya harus aku tunda dulu. Aku hanya tidak ingin terpanggang oleh bom-bom yang telah kalian pasang." Ucap Shin seraya melirik ke arah Neji seolah berucap jika rahasianya telah terbongkar.

Neji terhenyak mendengarnya. Pemuda berambut panjang itu benar-benar kaget bukan main karena Shin ternyata telah mengetahui kebenaran tentang adanya bom yang akan meledak. Neji mengumpat kesal karena rencananya gagal total.

Rencana awalnya, Neji bermaksud menjebak pemuda itu bersama dengan para hewan piaraannya di tempat ini. Langkah awalnya dia akan mengecoh mereka menggunakan senjata cahaya miliknya. Kemudian menuntun teman-temannya pergi dari tempat ini dan berharap mereka terjebak dan musnah akibat ledakan bom yang telah dipasangnya.

"Kau pikir aku bodoh ?! Kau lihat alat ini ? selain berguna sebagai radar, alat ini juga dapat mendeteksi kemungkinan adanya bahaya daerah sekitarnya." Ucap Shin seraya menunjukan alat yang ada di pergelangan tangan kanannya.

"Jadi selamat tinggal teman-teman." Ucap Shin sekali lagi sebelum pergi.

Pemuda bernama Shin itu segera menghancurkan dinding dibelakangnya dengan begitu rapi. Naruto penasaran dengan senjata apa yang digunakan oleh pemuda itu. Alasannya sangat wajar, karena hanya dengan menyentuhkan saja senjata itu pada dinding, seketika dinding roboh begitu saja. Pemuda itupun segera melangkah keluar. Namun sebelum terlampau jauh pergi, Shin kemudian menoleh bermaksud memberi salam perpisahan terakhir pada Naruto dan yang lain.

"Tapi jangan khawatir karena kalian tidak akan kesepian di tempat ini. Kedua piaraan ularku akan menemani saat-saat terakhir kalian." Setelah mengatakannya, pemuda itu pun pergi diiringi tertutupnya kembali dinding yang sebelumnya telah dihancurkannya.

Naruto menggertakan giginya kesal. Kalau saja yang ditinggalkan oleh pemuda bernama Shin itu adalah piaraan imut-imut, bagi Naruto tidak ada masalah. Tapi masalahnya yang ditinggalkan pemuda itu adalah dua ekor ular monster super menyeramkan. Naruto tidak habis pikir bagaimana bisa pemuda itu menyebut kedua monster mengerikan itu sebagai piaraannya.

"Aku tidak menyangka jika si brengsek itu punya alat secanggih itu." Umpat Neji yang nampak sekali kesalnya.

"Itulah teknologi Uchiha.." balas Sai.

"Diam kau, bocah pucat ! setelah kita berhasil lolos dari tempat ini, kau.. harus membuka mulut untuk semua rahasiamu !" Timpal Neji mendelik.

Sai tidak merespon perkataan Neji. Bocah kulit pucat itu seolah paham akan situasinya. Sedangkan Ino, gadis pirang itu sebelumnya berniat membela Sai namun akhirnya memilih bungkam setelah Sai memberinya instruksi untuk diam. Melihatnya, kecurigaan Naruto terhadap Sai semakin bertambah. Bahkan kali ini bocah pirang itu mulai mencurigai Ino yang memiliki keterlibatan.

"Kita bahas itu nanti. Sekarang, kita habisi duo monster terkutuk itu." Ucap Shino memecah kekakuan suasana dan semua mengangguk tanda setuju.

"Ada yang membawa bola gravitasi ?" tanya Neji. Sai dan Naruto segera mengangkat tangan.

Sai segera memberikan 2 bola gravitasinya. Begitu pula Naruto. Bocah pirang itu ternyata membawa 3 buah. Setelah menerima bola gravitasi dari tangan Naruto dan Sai, Neji segera memberikannya pada Tenten dan Lee. Pemuda berambut panjang itu kemudian menatap kedua monster ular di hadapannya dengan tatapan mencemooh. Dia bahkan mencoba memprovokasi kedua monster itu untuk segera menyerang.

"Kita akan segera keluar dari tempat ini."Ucap Neji penuh percaya diri.

"Aku sangat yakin tentang itu. Tapi bagaimana caranya ?" tanya Shikamaru tidak yakin.

Naruto paham maksud dari pertanyaan Shikamaru. Bocah pemalas itu seolah tengah mencoba menjelaskan jika saat ini mereka tengah terkurung, terjebak atau istilah apalah. Selain itu, Shikamaru juga bermaksud menjelaskan jika tidak ada jalan keluar dari tempat ini dan memang benar-benar tidak ada sama sekali. Kecuali, mereka mempunyai alat secanggih milik pemuda bernama Shin.

"Pokoknya aku punya ide.." Jawab Neji tersenyum.

"Bisa kau beritahu ?" tanya Naruto penasaran.

"Akan segera kuberitahu." Balas Neji. "Tapi sebelumnya, ucapkan terima kasih pada nona pirang itu terlebih dahulu.."

.

.

.

to be continue

Yosh..! akhirnya chapter ini kelar juga. Sebenenya sih udah 3 hari yang lalu cahpter ini kelar. Tapi karena lagi lumayan sibuk ditambah laptop dipinjem tetangga, jadi akhirnya baru sekarang deh bisa update. Saya harap semua suka baca chapter ini dan makin penasaran buat chapter berikut-berikutnya. Jangan lupa reviewnya ya, dan.. Terima kasih.

.

.

Balasan review :

The kidsno oppai & Shinji : Oke, dan ini chapter terbarunya..

Inuzukarei : Haha, iya nih. Lagi kebanyakan nonton drama korea soalnya. Lupakan Haha.. Kalo soal Naruto dan Sakura, wajar lah ya. Kan mereka masih newbie soal kaya gituan.. hehe. Makasih buat reviewnya ya, dan aku tunggu loh fic dari kamuh..

Ndah D amay : yang di maksud sai itu mode stealth atau bisa dibilang mode siluman. Yang dalam aplikasinya bikin radar gak bisa ngedeteksi.. soal bang Shika, dia itu sebenernya malu buat minta tolong..

Syalala-lala : haha, bener banget lala san. Saya setuja banget dengan pendapatnya. Ibarat orang mau menyatakan cinta. Dari hari sebelumnya udah ngebayangin gimana nanti ngomongnya. Eh, pas udah mau eksekusi hilang semua entah kemana. Kayanknya butuh latihan mental dulu kali ya ?

Haruko akemi : wah iya loh haruko san, saya jadi bertanya-tanya keman perginya kamu. Kan biasanya selalu nongol di tiap chapter.. hehe. Soal yang lagi malu-malu kucing wajar aja, kan mereka berdua masih newbie.. hehe.

Istrinya gaara : pertama, saya ucapin terima kasih karena udah setia baca fic ini dari chap pertama. Dan yang kedua, saya ucapin salam kenal.. hehe. Terima kasih buat pendapatnya kalo fic ini penuh misteri. Seengaknya misterinya bukan yang horor ya? Haha. Soal harapan biar dibanyakin lagi adegan romance akan saya tampung dulu. Karena sebenernya sih, saya gak bakat nulis yang romance-romance.. terima kasih buat reviewnya.

SR not Author : Hahaha, ralat anda saya terima. Sebenarnya bukan masalah otak anda tapi masalah saya sendiri yang terlalu ambigu dalam membuat fic.

Izami : Yap bener banget. Dia gak tahu mana kawan dan mana lawan. Makasih buat reviewnya.