Hallo para pendengar Call me baby..! Gimana kegiatan kalian minggu ini ? Semoga lancar-lancar aja ya. Maaf kalo agak sedikit telat update nya. Silahkan dinikmati chapter barunya dan semoga kalian suka. Jangan lupa reviewnya ya..
.
Chapter 19
.
.
.
Naruto tidak tahu apa maksud dari ucapan Neji. Mungkin, memang seperti itulah pembawaan sejak lahir dari pemuda berambut panjang itu, yang mungkin salah satunya adalah selalu setengah-setengah dalam menyampaikan sesuatu. Dan karena hal ituah yang terkadang membuat Naruto kesalnya setengah mati pada Neji.
Rasa penasaran Naruto akan maksud dari ucapan Neji nampaknya harus dia redam terlebih dahulu. Ya, dia memang harus melakukannya karena saat ini duo ular monster super mengerikan itu tengah bersiap menyerang Naruto dan teman-temannya. Reflek, bocah pirang itu segera menyiagakan diri untuk siap bertempur. Hal yang serupa rupanya juga dilakukan oleh teman-temannya.
Salah satu ular yang berada di sebelah kiri melesat menuju Naruto dan yang lainnya terlebih dahulu. Naruto sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Monster ular itu hanya butuh 5 detik untuk sampai di tempat di mana Naruto berada. Dengan gerakan secepat kilat, monster ular itu membuka mulut selebar-lebarnya dan menerjang ke arah si bocah pirang seolah sangat ingin sekali memangsanya bulat-bulat.
Kedua kaki Naruto seolah mati rasa. Dia begitu ketakutan ketika melihat kedua taring ular besar itu ter-expose jelas di depan matanya, hingga membuat tubuh bocah pirang itu membeku tak dapat bergerak sedikitpun. Kalau saja Sakura tidak segera menarik dengan kuat lengan kiri Naruto, bocah pirang itu pastilah sudah tertidur lelap di perut besar si monster ular. Bocah pirang itu akhirnya berhasil diselamatkan.
"Hei.. kau tidak apa-apa ?" tanya Sakura ketika setelah berhasil lolos dari serangan monster ular itu.
"Eh.. Ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih, Sakura." Ucap Naruto setelah berhasil menguasai dirinya kembali.
Sakura mengulurkan tangannya pada Naruto bermaksud membantu bocah pirang itu berdiri. Naruto tidak langsung menyambutnya. Keadaan menjadi canggung seketika lantaran bocah pirang itu justru malah menatap mata emerald gadis musim semi dengan tatapan yang tidak bisa di tebak. Jika saja tidak ada suara desisan aneh yang terdengar di telinga mereka berdua, mungkin saja keduanya masih setia berdiam diri selamanya.
"Hoi.. ini bukan saatnya bermesraan. Lihat di belakang kalian !" teriak Shikamaru yang keliatannya sangat kesusahan menghadapi ular monster meskipun yang lain tengah membantunya.
Sontak Naruto segera menoleh ke arah belakang. Darahnya seketika berdesir hebat. Di hadapanya saat ini, salah satu monster ular yang tersisa tengah berdiri dengan setengah badan layaknya king cobra. Naruto lagi-lagi merasa sangat ketakutan ketika monster ular itu menampakkan kedua taringnya. Tapi setidaknya kali ini Naruto sudah dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Naruto dan Sakura berhasil mengelak dari terjangan monster ular itu. Naruto bergerak ke arah kanan menghindari serangan si monster ular. Sedangkan Sakura, gadis itu mengelak ke arah sebaliknya. Mereka berdua kemudian menyerang sisi samping kepala monster ular itu secara serentak. Sakura menghantamkan nunchaku miliknya. Sementara Naruto menebas kepala monster ular itu meskipun tidak ada efeknya sama sekali.
Sementara monster ular itu berusaha membalikan diri, Naruto beserta Sakura buru-buru melangkah mundur menjaga jarak dengan sang monster. Mereka berdua terengah-engah kelelahan. Ada rasa kesal pada di diri Naruto ketika melihat monster ular yang lain tengah dikeroyok ramai-ramai. Sedangkan tidak ada satupun dari yang teman-temannya berminat membantu Naruto dan Sakura.
"Bocah pirang !" teriak Neji yang akhirnya datang mendekati. Naruto segera menoleh ke arah pemuda berambut panjang itu sementara Sakura berusaha mengalihkan perhatian sang monster ular.
"Tangkap ini.." ucap Neji seraya melemparkan bola gravitasi kepadanya.
Naruto menangkap bola gravitasi. Bocah pirang itu kemudian segera mengaktifkan bola gravitasi itu sesuai dengan petunjuk Neji. Dia lalu menoleh memastikan dimana posisi monster ular itu berada. Setelah dirasa cukup, bocah pirang itu dengan segera melemparkan bola itu ke arah sang monster ular.
"Sakura.. minggir !" teriak Naruto memperingatkan seraya melemparkan bola gravitasi.
Sakura dengan sigap melompat menghindar ketika bola gravitasi itu mulai aktif. Seolah tahu gadis itu hendak melarikan diri, si monster ular berusaha menggapainya. Tepat sebelum monster ular itu mendapatkan kaki Sakura, bola gravitasi menarik si monster. Sakura akhirnya aman dan kabar baiknya, kedua kaki gadis musim semi itu masih utuh.
"Hei, kalian berdua.. Segera kemari !" teriak Shikamaru pada Naruto dan Sakura.
Naruto menoleh dan secara tak sengaja melihat monster ular yang lain mengalami hal yang serupa dengan temannya. Tanpa banyak waktu, Naruto dan Sakura segera mendekati Shikamaru dan yang lain.
"Sekarang, bagaimana selanjutnya ?" tanya Naruto pada Neji ketika dia dan Sakura telah mendekat.
"Kita sudah tidak punya waktu. Berlari secepat kilat pun saat ini, kita pasti akan juga terpanggang." Ucap Neji apa adanya.
Kedua manik saphire Naruto mendelik lebar ketika mendengar penuturan apa adanya dari Neji. Bocah pirang itu paham jika keterbukaan memanglah penting. Namun setidaknya pemuda berambut panjang itu perlu juga menambahkan kata-kata penyemangat ketika mengucapkannya.
"Lalu apa rencanamu ?" ucap Shikamaru malas.
Pemuda berambut panjang itu kemudian menunjuk ke arah lantai yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada. Neji juga terlihat membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah gulungan kusut yang sepertinya adalah sebuah cetak biru suatu bangunan.
"Apa itu ?" tanya Sakura. Gadis musim semi itu terlihat begitu penasaran.
"Sabar dulu, nona. Akan aku jelaskan satu-persatu." Balas Neji.
Neji kemudian membuka gulungan kusut itu. Pemuda berambut panjang itu lalu menatap satu-persatu orang-orang di hadapinya.
"Awalnya ide ini tidak pernah terlintas di kepalaku. Tapi berkat serangan nona pirang itu, aku kemudian menyadari suatu hal yang terlewatkan. Berterima kasihlah padanya.." Ucap Neji diiringi desisan monster ular yang terdengar sangat murka.
"Maksudmu ketika aku menyerang pria bernama Shin itu ?" tanya Ino. Gadis pirang itu rupanya cukup tersanjung dengan ucapan Neji.
"Ya, saat kau menembak lantai itu." Ucap Neji seraya menunjuk ke arah lantai yang sebelumnya di tembak oleh Ino. "Mungkin awalnya kau hanya bermaksud menutup mulut pria itu sebelum dia berbicara banyak tentang pacar pucatmu. Tapi secara tidak terduga, kau justru membuka jalan lain bagi kita untuk melarikan diri. Pada lubang akibat tembakan itu, kalian bisa melihat dengan jelas jika ada ruangan bawah tanah di tempat kita berdiri saat ini."
Mendengar apa yang diucapkan Neji secara blak-blakan, Naruto mendengus kesal sembari tersenyum. Dia rasanya ingin sekali menonjok wajah mulus Neji sekaligus memeluk pemuda berambut panjang itu secara bersamaan. Betapa tidak ? dari satu sisi pemuda berambut panjang itu memuji tindakan Ino yang dirasanya sangat brilian. Namun di sisi lain, dia secara terang-terangan menyindir apa yang tengah disembunyikan oleh Ino serta Sai saat ini.
"Lihatlah di sini.." Ucap Neji seraya menunjuk ke arah kertas cetak biru yang saat ini tengah digenggamnya.
"Ini adalah denah ruang bawah tanah yang letaknya berada tepat di bawah tempat kita berada saat ini." Jelas Neji. Suara raungan para monster ular yang tengah terjebak bola gravitasi terdengar kembali. "Aku berani jamin saat ini sebagian besar wilayahnya telah terendam air. Mungkin kira-kira dalamnya sekitar 10 meter... Tapi justru disitulah kegunaannya."
"Apa maksudmu ?" tanya Naruto tidak mengerti maksud perkataan Naruto.
Neji menatap Naruto serius sebelum menjawab pertanyaan bocah pirang itu.
"Kita akan melompat ke bawah dan bertahan di sana selama mungkin, sampai ledakan bom itu berakhir." Jawab Neji.
Gumaman dan decakan kesal terdengar setelah Neji menyatakan rencananya. Naruto menoleh mencari tahu siapa yang melakukannya. Bocah pirang itu pun menemukan ekspresi dari Ino dan Shikamaru yang terlihat menampakan wajah kesalnya daripada yang lain. Tanpa bertanya pun Naruto bisa mengambil kesimpulan jika merekalah pelakunya.
"Oke, anggap saja kita berhasil melakukannya." Ucap Shino santai. "Tapi sebelumnya, bisakah kau meyakinkan kami jika kita tidak akan tertimpa reruntuhan ketika berlindung di bawah air ?"
Neji tersenyum mendengar pertanyaan cerdas yang dilontarkan oleh Shino. Pemuda berambut panjang itu seolah memang tengah menanti-nanti pertanyaan itu.
"Akan kujelaskan secara singkat." Balas Neji menyeringai. "Tidak ada satu bangunan pun dengan komposisi standar yang tidak akan runtuh akibat sebuah ledakan. Hal yang sama juga akan terjadi pada bangunan luas ini."
Neji berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Pemuda berambut panjang itu seolah ingin mengetahui ekspresi yang lainnya.
"Tapi tidak perlu khawatir. Aku sudah mengeceknya dan menemukan sebuah fakta luar biasa. Ruang bawah tanah ini.." Ucap neji seraya menunjuk pada gambar. "..tidak lain adalah gua bawah tanah.. mungkin saja lantai yang kita pijak ini akan runtuh ke bawah. Tapi aku berani jamin seratus persen jika dinding gua bawah tanah ini mampu bertahan dari guncangan ledakan bom."
Naruto terdiam mendengar penuturan rencana Neji. Ada beberapa poin yang membuat dia tidak yakin akan keberhasilan rencana ini. Seperti misalnya bertahan selama mungkin di dalam air. Mungkin kedengarannya mudah. Mereka hanya tinggal menyelam saja dan masalah selesai. Tapi pertanyaannya adalah apakah Naruto dan yang lainnya sanggup bertahan di dalam air dalam waktu yang tidak ditentukan ? Bocah pirang itu juga mulai memikirkan tentang bagaimana cara mereka agar tetap berada di dalam air dan tidak menyembul ke permukaan.
"Aku penasaran dengan bagaimana cara kita agar tetap berada di dalam air ?" tanya Shikamaru. Sedangkan Neji yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum.
"Kau ingin tahu ?" tanya Neji pada Shikamaru. "Senjata super berat milikmu adalah jawabannya."
Shikamaru melotot mendengar jawaban Neji. Bagi Naruto, penuturan pemuda berambut panjang itu awalnya terdengar seolah sebuah candaan yang konyol. Namun setelah dipikirkan lagi memang ada benarnya juga.
"Dengan berat 10 kg. Senjata milikmu bisa kita gunakan sarana untuk bisa tenggelam. Terpujilah untuk mu bocah kepala nanas.." Ucap Neji menjelaskan.
"Aku tidak menyangka jika intuisimu memang luar biasa. Kau memang pantas menjadi pemimpin mereka.."
Lagi-lagi, Neji mengungkapkan sebuah pujian dan hinaan secara beriringan kepada Shikamaru. Bocah pemalas itu membuang nafas keras-keras ketika mendengarnya. Dapat dilihat dengan jelas jika bocah pemalas itu sedang mencoba meredam emosinya. Naruto harap, tidak ada adegan adu jotos setelah ini.
"Teman-teman.. apa diskusi kerja kelompoknya telah usai ?" tanya Lee yang rupanya sejak tadi terus memantau kedua monster ular.
"Memang kenapa ?" tanya Neji balik.
Lee tidak menjawab. Bocah klimis itu hanya menunjuk ke arah belakang dengan ibu jari. Betapa terkejutnya Naruto dan yang lain. Dari tempat Naruto berada saat ini, bocah pirang itu dapat dengan jelas melihat jika kedua monster ular itu telah berhasil melepaskan diri dari pengaruh bola gravitasi.
"Bagaimana bisa ?" Sai bertanya-tanya.
"Tidak perlu dipikirkan bagaimana caranya. Lagipula, apa kau pikir mereka akan menjawab pertanyaanmu itu ?" ucap Neji sarkastis.
Naruto tersenyum mendengar ucapan sarkasme yang dilontarkan oleh Neji pada Sai. Di relung hati terdalamnya, bocah pirang itu merasa perlu berterima kasih kepada Neji karena secara tidak langsung telah membalaskan dendamnya. Ya, sebelumnya Naruto memang sangat kesal terhadap bocah kulit pucat itu karena berulang kali melontarkan kalimat-kalimat sarkasme pada dirinya. Dengan adanya kejadian ini, Naruto berharap, semoga Sai dapat mengubah kebiasaannya dalam bertutur kata walaupun itu cuma sedikit.
Naruto kemudian secara sembunyi-sembunyi mencoba menatap Sai. Bocah pirang itu lalu menemukan raut wajah merah padam tercetak jelas di wajah pucatnya. Mungkin jika Naruto boleh ber argumen, ekspresi itu adalah campuran dari rasa kesal dan malu yang berpadu menjadi satu.
"Tidak perlu dipikirkan, bung. Dia memang seperti itu." Ucap Lee sembari klimis itu seolah meminta maaf terhadap sikap sahabatnya yang saat ini telah beranjak pergi.
Sai tidak merespon. Bocah kulit pucat itu hanya menatap datar pemuda klimis di hadapannya. Naruto yang paham suasana menjadi sedikit tidak enak akhirnya memilih pergi menghajar para monster ular. Tidak lama setelah kepergian bocah pirang itu, Sai dan Lee pun pergi menyusulnya.
Saat ini Naruto tengah berderap maju ke tempat para monster ular itu berada. Dia dapat melihat dengan jelas jika saat ini Shikamaru, Ino dan Shino tengah menghadapi salah satu monster ular yang berhasil dia jebak sebelumnya. Sementara Sakura, Neji serta Tenten melawan monster ular sisanya.
Setibanya Naruto di hadapan salah satu monster ular yang tengah di hadapi Sakura dan lainnya, dengan tergesa-gesa bocah pirang itu tanpa ampun menebas ekornya. Usahanya memang bisa dibilang cukup berhasil meskipun hanya menggores sebagian kecil dari ekor monster ular itu. Namun akibat dari serangannya, monster ular itu justru terlihat semakin murka. Dengan mudahnya sang monster ular mementalkan tubuh Naruto menggunakan ekornya yang masih terluka.
Tubuh Naruto terpelanting cukup jauh. Punggungnya serasa remuk akibat membentur dinding dengan kerasnya. Bocah pirang itu memang berhasil bangkit berdiri. Namun tidak bisa dipungkiri juga, jika rasa sakit itu pun turut menyelimutinya. Naruto meringis sakit sembari memegangi punggunya yang terasa begitu nyeri.
"Kau tidak apa-apa ?" ucap Lee yang entah kapan sudah ada didekatnya. Pemuda klimis itu mencoba membantu Naruto berjalan.
"Ya, hanya sedikit remuk saja pada bagian punggung." Balas Naruto seolah apa yang terjadi padanya bukanlah sebuah masalah yang besar.
"Kalau begitu, berarti kau sudah siap untuk bertempur kembali." Ucap Lee pada Naruto. Bocah pirang itu hanya tersenyum mendengarnya.
Naruto dan Lee kemudian maju menyerang kembali. Meskipun punggungnya masih terasa cukup sakit, tapi saat ini bukan waktunya bagi bocah pirang itu untuk mengeluh ria. Dengan segenap tenaga yang dimiliki, Naruto berlari menerjang monster ular itu.
Situasi saat ini adalah Neji tengah berusaha mengalihkan perhatian sang monster ular sementara Sakura dan Tenten menyerang dari arah samping. Strategi mereka bertiga mungkin berhasil. Namun sayang, kulit monster ular itu serasa seperti baja yang ketahanannya luar biasa. Baik Sakura maupun Tenten, serangan keduanya tidak berefek sedikitpun pada tubuh si monster. Ditengah rasa frustasi mereka, kedatangan Naruto dan Lee seolah membawa angin segar bagi Neji, Sakura dan juga Tenten.
"Tubuhnya benar-benar sangat keras.." ucap Neji pada Naruto seraya mundur digantikan oleh Lee yang maju menyerang membantu Sakura serta Tenten.
"Jika kita tidak bisa melukainya, maka kita tidak dapat menghancurkannya." Ucap Neji yang juga ikut mundur ke belakang.
"Kau bermaksud meledakan monster ular itu seperti yang kita lakukan pada teman-temannya dulu ?" tanya Naruto pada Neji.
Neji tidak menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda berambut panjang itu justru terlihat sedang merenungkan sesuatu setelah sebelumnya dia sempat menengok arloji di tangan kirinya. Naruto tidak tahu apa yang sedang ada di kepala pemuda itu. Dia hanya berharap semoga saja pemuda itu tengah memikirkan rencana untuk mengalahkan duo monster ular disekitarnya.
"Tidak, kita tidak punya banyak waktu untuk melakukannya." Jawab Neji pada akhirnya.
"Lalu ?" tanya Naruto lagi.
"Kita jebak seperti sebelumnya. Tapi kali ini kita gunakan dua bola gravitasi." Ucap Neji mengeluarkan 3 bola gravitasi dari saku tas miliknya.
"Bukankah berarti kurang satu." Timpal Naruto ketika melihat jumlah bola gravitasi yan hanya 3 buah.
"Tidak masalah.." Ucap Neji yakin. Pemuda berambut panjang itu kemudian segera menyerahkan sebuah bola gravitasi pada Naruto. "Usahakan kau memotong ekornya juga agar dia kesulitan melepaskan diri dari pengaruh bola gravitasi."
"Aku berpikir alasan kenapa kedua monster itu berhasil lepas dari pengaruh bola ini adalah dengan karena ekornya. Coba perhatikan.." Ucap Neji menjelaskan apa yang dia maksud seraya menunjuk ke arah ekor si monster ular.
Naruto dengan segera mengikuti arah dimana jari telunjuk Neji. Bocah pirang itu lalu memusatkan perhatiannya pada bagian belakang monster ular itu. Setelah cukup lama memperhatikan, Naruto akhirnya menemukan apa yang dimaksud oleh Neji. Pada bagian ekor monster ular itu, Naruto dapat melihat dengan jelas apa yang ada disana. Sebuah pisau kecil dan transparan, yang jika tidak diperhatikan dengan seksama maka akan sulit untuk dilihat.
"Oke, akan kulakukan.." Ucap Naruto menyanggupi.
"Bagus lah, aku akan memberikan sisa bola gravitasi ini pada temanmu yang lain sekaligus meminjam pistol milik gadis pirang itu." Balas Neji.
Pemuda berambut panjang itu kemudian segera melangkah pergi mendekati Shino, Shikamaru, Ino serta Sai yang sejak tadi masih sibuk bergelut dengan monster ular lainnya. Sedangkan Naruto berlari maju menyerang monster ular di hadapannya.
"Sakura !" teriak Naruto. Segera, gadis musim semi itu pun menoleh ke arah Naruto.
"Tangkap ini.." ucap Naruto seraya melemparkan bola gravitasi kepada Sakura.
"Pastikan kau melemparkan bola itu ketika aku berhasil memotong ekornya." Teriak Naruto pada Sakura sekali lagi seolah bocah pirang itu tidak peduli jika monster ular itu mengetahui rencananya.
Sakura mengangguk paham. Setelah itu Naruto segera berlari menerjang si monster ular. Dia lalu memerintahkan Lee serta Tenten untuk mengalihkan perhatian. Sementara dirinya bergerak diam-diam menyerang ekor monster ular itu.
Tanpa sengaja, disela-sela aksi menyelinapnya. Naruto melihat Neji bersama Ino berlari menjauhi Shikamaru, Sai serta Shino yang tengah berjuang setengah mati melawan salah satu monster ular. Mereka kemudian mulai menembaki lubang yang telah dibuat oleh Ino sebelumnya.
Percobaan Naruto hampir saja berhasil jika saja monster ular itu tidak memergokinya menyelinap. Lagi-lagi, dengan sekali hentakan tubuh bocah pirang itu terhempas jauh kembali. Dia jatuh tersungkur dengan posisi bibir mencium lantai. Sungguh sangat miris. Dia pun segera bangkit berdiri kembali tanpa menyadari jika ternyata kaki kirinya mulai mengucurkan darah segar.
Tenten berteriak kesakitan. Lengan kananya mengucurkan banyak darah. Rupanya gadis kuncir kuda itu terkena sabetan pisau transparan yang terletak pada ekor si monster ular. Tenten bahkan bisa saja kehilangan nyawa, jika Lee tidak segera meraih tubuh gadis itu sesaat sebelum si monster ular mencabik-cabiknya dengan taring tajam pada kedua mulut monster itu.
Keadaan menjadi semakin tidak terkendali. Sakura yang awalnya hanya ditugaskan Naruto untuk melemparkan bola gravitasi, pada akhirnya harus turun tangan melindungi Lee yang saat ini tengah berjuang membalut luka Tenten yang terus mengeluarkan banyak darah pada lengan kanannya. Wajah gadis kuncir kuda itu terlihat semakin memucat. Melihat keadaan gadis itu, Lee bahkan sampai meneteskan air matanya tak kuasa.
Semakin lama, Sakura semakin kawalahan menghalau setiap serangan monster ular itu. Melihatnya keadaan itu, Naruto semakin cepat memacu laju kedua kakinya. Bocah pirang itu mengumpat kesal ketika jatuh tersungkur akibat rasa sakit di kakinya mulai dia rasakan. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui jika selama ini kaki kirinya telah mengeluarkan cukup banyak darah.
"Siaaaaal... sial sial.." Teriak Naruto seraya menggertakan giginya melihat Sakura yang semakin terdesak.
Naruto mencoba bangkit berdiri namun tubuhya roboh kembali. Dia mencoba bangkit lagi namun roboh lagi. Terus-menerus dia mencoba tapi tetap hasilnya sama saja. Dia merasa begitu sangat tidak berguna untuk saat ini.
Keadaan Sakura semakin tersudut. Gadis musim semi itu bahkan tidak mampu mengelak lagi. Dan dengan satu kali sabetan ekor, si monster ular melemparkan tubuh gadis itu hingga membentur dinding ruangan.
"Sakuraaa..." Teriak Naruto. Bocah pirang itu tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Sakura.
Naruto kemudian memaksakan bangkit berdiri meskipun rasa sakit terus menggerogoti kaki kirinya. Terseok-seok, dia melangkah mendekati Sakura yang sepertinya tak sadarkan diri. Namun sebelum sempat mendekati tubuh gadis musim semi itu, sebuah benda bundar menggelinding mendekati Naruto. Bocah pirang itu pun segera meraihnya.
"Bantu aku duduk, Naruto." Ucap Sakura lirih. Gadis itu rupanya masih tersadar. Hanya saja kesulitan untuk menegakkan tubuhnya.
Naruto segera membantu Sakura untuk duduk. Bocah pirang itu begitu terluka ketika melihat keadaan gadis musim semi itu. Lagi-lagi perasaan bersalah dan tidak berguna kembali menggelayuti benaknya.
"Lemparkan bola gravitasi itu, Naruto. Lemparkan sebelum monster itu membunuh Lee dan Tenten." Ucap Sakura sekali lagi.
Naruto tersentak dengan ucapan terakhir Sakura. Bocah pirang itu pun segera menoleh ke arah monster ular itu berada. Sesuai perkataan Sakura, monster itu saat ini tengah berderap mendekati Tenten dan Lee. Melihat hal itu, tanpa banyak waktu Naruto segera melemparkan bola gravitasi ke arah si monster ular.
Tepat sebelum bola gravitasi itu aktif, sebuah anak panah melesat dan tepat mengenai ekor monster ular itu. Sang monster ular meraung kesakitan akibat serangan tak terduga itu. Sebelum monster ular itu sempat balas menyerang, bola gravitasi pun aktif dan dengan segera menarik tubuhnya. Naruto cukup terkejut akan serangan dadakan itu. Dia pun segera menoleh ke samping dengan penuh penasaran, dan pada akhirnya bocah pirang itu menemukan Sakura bersama dengan busur panahnya.
"Mungkin tidak sampai memotong ekornya, tapi setidaknya bisa membuatnya ekor itu tidak berfungsi." Ucap Sakura sembari tersenyum.
Naruto tidak membalas ucapan Sakura. Naruto justru malah memeluk tubuh gadis itu secara tiba-tiba. Dia tidak tahu kenapa dirinya melakukannya. Dia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan cara menjelaskan perasaannya saat ini. Tapi yang pasti, bocah pirang itu sangat bersyukur karena Sakura baik-baik saja.
"Lain kali jangan memaksakan diri.." Ucap Naruto pada Sakura penuh penekanan. Sebagai jawaban gadis itu hanya mengangguk mengerti.
Sebuah lolongan keras terdengar kembali. Naruto menoleh dengan segera dan menemukan jika suara itu berasal dari monster ular yang tengah dihadapi oleh Sai, Shikamaru serta Shino. Terlihat dari mata saphire nya bahwa saat ini monster ular itu tengah menggelepar kesakitan akibat tusukan belati milik Sai yang menancap kuat pada mulut bagian dalamnya. Bocah pirang itu pun mulai tersenyum karena tahu apa yang akan terjadi pada monster ular itu.
Dari jarak pandangnya, Naruto juga bisa melihat jika saat ini Sai, Shikamaru dan Shino tengah berlari menjauh. Ketika jarak mereka dirasa telah cukup jauh dari area ledakan, Sai segera menekan tombol belati peledak itu. Tidak lama berselang, tubuh sang monster ular super menyebalkan meledak hebat dan hancur tercerai berai seketika. Ada rasa senang di dada Naruto ketika melihatnya. Namun ketika sadar dengan fakta bahwa dia, Sakura, Tenten serta Lee hanya mampu menghentikan pergerakan monster ular yang dihadapinya, bocah pirang itu hanya bisa tersenyum kecut.
"Kalian sudah selesai main-mainnya ?" teriak Neji pada Naruto dan yang lain.
Naruto dan teman-temannya segera menoleh ke arah Neji. Pemuda berambut panjang itu rupanya telah berhasil memperbesar lubang menuju ruang bawah tanah dengan bantuan Ino. Dengan segera Naruto dan yang lain berderap mendekati ke tempat Neji dan Ino berada tanpa banyak bicara.
Naruto dan Sakura berjalan cepat namun terseok-seok. Rupanya luka pada kaki kiri bocah pirang itu memang cukup serius. Keadaan Lee terlihat lebih baik. Pemuda berjalan biasa namun sembari memapah Tenten yang sepertinya mulai membaik. Terlihat dari berhenti aliran darah yang sebelumnya terus mengucur pada lengan kanan gadis kuncir kuda itu. Sementara untuk kondisi trio S (Shikamaru, Sai dan Shino), mereka terlihat baik-baik saja.
"Kalian siap menjadi manusia ikan ?" tanya Neji jayus.
Sebelum semua sempat memberi respon, pemuda berambut panjang itu segera melompat ke bawah yang langsung diikuti oleh Naruto dan yang lain. Dan beberapa detik setelahnya, suara ledakan bom yang mereka pasang mulai menggelegar membahana.
.
.
.
to be continue
Yosh, akhirnya kelar juga bikin chapter ke-19. Mohon maaf kalo update nya agak sedikit telat. Maklum kehidupan di duta cukup sibuk akhir-akhir ini. Jadi kudu curi-curi waktu buat nulis. Semoga aja chapter ini cukup memuaskan buat para readers. Terima kasih buat dukungan selama ini. Sampai jumpa di chapter berikutnya.
Balasan review :
Syalala-lala : Haha.. Ketika Lala-san membahas soal pengungkapan cinta, seketika itu pula saya menjadi amnesia. Apalagi ngebayangin sampai di bikin ff, aduh rasanya pengen menghilang saja ke planet namek.. hahaha. Btw, makasih buat review nya Lala-san.
Namika ashara : hmm, Naruto di kubu mana ya ? hmm.. mending terus ngikutin aja ya Namika-san..
Haruko Akemi : Hahaha, membaca review kamu yg kemarin saya merasa tertampar. Saya bahkan gak nyadar kalo Lee gak dapet dialog di chap kemaren. Apalagi chap kali ini giliran Tenten yg gak dapet dialog. Apa perlu yah, saya melakukan pengurangan karakter ? Btw makasih buat reviewnya ya..
SR not Author : yo yo sama-sama. Soal Sai.. hmmm mungkin kayaknya kamu kudu terus baca fic ini deh biar pertanyaan nya kejawab.. haha
Akira ken : Yap, soal sikap Neji ke Tenten akan saya kupas sedalam silet pada kesempatan yang akan datang.
Inuzukarei : Haha, saya merasa tertohok dengan review kamu soal Lee dan Shino yg minor banget perannya, rei-san. Apa sebaiknya saya kurangin aja ya chara yang sekarang ini ? biar semuanya bisa kebagian gitu ?
Alana Hyuga : Belum, Sasuke akan muncul tapi pas mau tamat.. hehe. Btw makasih buat review nya.
Istrinya gaara : hehe, emang bakat gak sih? (malah nanya balik), soal gaara saya udah mikirin. Tapi kemunculannya mungkin tidak dalam waktu dekat (masih lama banget).
Winter hood : selamat datang kembali winter-san, selamat berjumpa kembali. Dan semoga ke depannya bisa terus ngasih review.. haha
Indri : Selamat datang dan salam kenal Indri-san. Yap, itu emang lagunya red velvet. Kok bisa tahu sih ? apa jgn2 kamu itu K-popers ya ? hehe.. Semoga ke depannya sering-sering review ya.. hehehe.
Only readers : Oke-oke..
