Chapter 13
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mystery
Archip: Yaoi, chapter, T
Cast:
-All members EXO
-Huang Zi Tao
-Wu Yi Fan a.k.a Kris
-Lu Han
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please⦠DLDR!
A/n: Gtw knp ngebet bikinnya pas istirahat sklh yg cm 15 mnt. #curhat Hope U like it. Happy reading~ ^^
AUTHOR POV
Pulang sekolah kali ini Tao merenung. Sekolah sudah hampir sepi, langit mulai berubah warna, kelas sudah sepi sejak tadi. Tapi pergelutan batinnya menahannya pulang. Lu Han tak kembali. Tidak bisa dihubungi. Tao mencoba untuk mengikuti pesan terakhir Lu Han tempo hari.
Tao menatap jendela kelas. Langit mulai mendung. Sepertinya akan hujan. Jadi Tao menghela nafasnya saat gemuruh mulai tiba. Lalu mulai beranjak dari duduknya dan berjalan pulang.
Sudah beberapa hari ini Tao murung. Ia lebih banyak diam. Tidak komunikatif seperti biasanya. Semenjak sahabat-sahabatnya hilang. Tao menolak keras orang-orang yang mengusulkan untuk mencari sahabat-sahabatnya dengan bantuan polisi. Tao masih berusaha memegang teguh pesan terakhir Lu Han untuk tidak mencarinya. Meski dalam hati Tao sangat kesepian, dia jadi tertutup, bosan nan hampa, tapi ia hidup ini untuk seluruh sahabatnya, terutama kekasihnya.
Tao memang berusaha keras untuk bertahan. Seluruh kejadian beruntun ini membuatnya selalu ingin menyerah. Tao tahu, Lu Han berpesan itu agar tidak terjadi sesuatu padanya. Tapi Tao memang tidak sekuat itu. Setiap malam selalu menangisi kelemahannya. Kenapa ia membiarkan sahabat-sahabatnya pergi satu per satu tanpa pesan, tanpa pamit, tanpa jejak?
Jadi di sinilah ia. Tak mempedulikan angin menyapanya kasar. Ia membuka gerbang rumah tua yang selama ini dicurigainya dengan tenang. Langkahnya nyaman layaknya berada di pekarangan rumahnya sendiri. Tao menatap beranda depan rumah itu intens. Tidak ada yang aneh. Hanya debu tebal di sana-sini.
Tanpa peduli apa pun lagi Tao membuka pintu itu pelan. Ia masuk dan menemukan ruangan penuh debu juga aroma karat memenuhi rongga hidung. Tao berbalik untuk menutup pintu. Agak tertegun melihat jasad yang tergantung di sana. Tapi ia berusaha nyaman dengan membuka blazzer sekolahnya dan menyampirkannya pada tombak yang menusuk dada Su Ho. Tao berusaha untuk menahan emosinya.
Ia berjalan lagi masuk lebih dalam sembari melepas dasinya dan menyampirkannya kembali pada sebuah pisau yang tertancam di dinding serta tangan sesikut itu. Mata Tao mulai berkabut. Tapi ia ingin berusaha tetap tenang. Menahan teriakannya di kerongkongan dan menahan kakinya untuk berbalik dan berlari melapor pada polisi.
Tao menghampiri seonggok daging berambut. Tao mengenali potongan ini. Tao berjongkok lalu mengambil hati-hati potongan itu dan air terjun tercipta sudah di pipinya yang tirus.
"Kris-ge..." gumamnya pilu. Tao bangkit, tetap memegang kepala kekasihnya dengan hati-hati.
Alunan musik klasik menghentikan pergerakannya. Tao menoleh ke sana-kemari mencari asal suara, dan matanya jatuh pada sudut ruangan. Tao mendekat.
Ia menemukan sebuah meja nakas kecil di sana. Ada sebuah bingkai photo berdebu -yang photonya sudah tak terlihat karena debu-, ada sebilah pisau, dan kotak musik kecil. Nah, dari situlah alunan musik klasik itu berasal.
Tao meletakan kepala Kris perlahan di atas meja nakas. Lalu meraih kotak musik tua itu. Alunan musiknya terdengar damai juga nyaman. Tao perlahan menutup kotak musik itu.
Hening. Tao menatap sekitarnya. Tak ada suara aneh-aneh lagi. Kini ia meraih bingkai photo itu. Mengusap kacanya pelan untuk mengetahui apa yang terpampang di sana. Dan Tao seketika itu juga tersenyum kecil melihat potret seorang yeoja kecil. Kira-kira berumur 10 tahun yang tengah tersenyum kecil menatap kamera yang memotretnya. Rambut hitam legamnya pendek agak boy style dan mengenakan pakaian serba hitam. Di belakangnya ada pohon besar nan kokoh yang sangat hijau.
Tao meletakan lagi bingkai photo itu lalu menatap lama keberadaan pisau itu. Tao mulai mengambil pisau itu. Mengangkatnya dan menatapnya dalam.
'Aku hanya butuh satu lagi.'
'Aku janji kau yang terakhir.'
'Setelah ini tidak akan ada korban lagi.'
Tanpa sadar, tangan bersenjatakan pisau tajam itu mendekat pada pergelangan tangan lain. Tatapan Tao kosong. Hatinya berontak, tapi pikirannya dengan pasrah menuruti setiap perkataan itu.
SRET!
Tao berhasil menggores pergelangan tangannya sendiri.
Tiba-tiba jantungnya bertalu kencang menjemput kembali kesadaran namja mata Panda itu. Tao menyimpan pisau itu cepat pada tempatnya kembali. Matanya membulat, nafasnya tak beraturan. Siapa yang bicara lewat pikirannya tadi?
Tao beranjak mencari dapur. Sebelum menapaki ruangan tujuan, kakinya terlanjur berat melangkah membuat perjalanannya agak melamban. Jujur saja sekarang ia agak mual dan lututnya serasa lemas. Demi Tuhan! Ia menemukan jasad Xiu Min di depan ambang pintu dapur! Tao meringis sembari lewat menuju wastafel saat melihat pisau daging sebesar itu menancap pada ujung kerongkongan sahabat tertuanya itu. Mencoba tak peduli dan merasa normal kembali Tao mendekati wastafel. Memutar keran dan memposisikannya pada luka di pergelangan tangannya. Berharap saja itu tidak terlalu dalam.
Tapi lagi-lagi Tao dikejutkan dengan warna air yang keluar. Berwarna merah darah pekat. Dan sepertinya memang darah. Tao menarik tangannya yang sedikit terkena cairan karat itu. Tanpa mematikan kerannya kembali, Tao berlari keluar dari dapur.
BRUK!
Karena tak melihat ke depan, Tao terjatuh masuk ke dalam lubang yang menganga di lantai. Ouch! Sepertinya ia lupa jika ada lubang menghiasi lantai kayu rumah tua ini. Tao menepuk-nepuk bagian seragamnya yang kotor, juga mengusap-usap bagian yang sakit di tubuhnya.
Tao kembali melihat sekitar. Ini terlalu gelap untuk melangkah. Ia merogoh ponselnya di saku dan mengaktifkan flashlight pada ponselnya. Ia mulai melihat-lihat sekitar hingga ia berhenti pada satu sisi lain ruang bawah tanah ini. Tao mendekat sembari menajamkan penglihatannya.
Ada sebuah bingkai photo besar di sana. Tao bingung kenapa photo setentram ini ada di ruangan bawah tanah yang pengap dan gelap-gulita seperti ini. Ini seperti photo keluarga. Tao mengusap permukaan kaca agar terlihat lebih jelas. Ah, benar. Ini memang photo keluarga. Keluarga yang manis. Ada Ayah yang berbadan tinggi-tegap. Kulitnya putih-pucat dan rambutnya hitam legam. Manik mata hitamnya tegas berikut rahangnya juga. Dia gagah. Lalu ada seorang yeoja juga disebelahnya. Ia cantik dan tampak muda. Senyumnya lebar seperti habis tertawa lepas. Pipinya agak chubby, rambutnya cokelat panjang sepunggung. Dilihat dari wajahnya, sepertinya yeoja itu dari Jepang. Matanya berwarna dark cokelat mengilap dan kulitnya seputih susu. Tao beralih pandang pada seorang yeoja kecil berambut boy style yang berada dipangkuan kedua suami-istri itu. Yeoja kecil ini ber-smirk tipis. Terlihat tidak cocok karena wajahnya manis meski terlihat dingin. Wajahnya seperti Ibunya, ala orang Jepang. Warna manik matanya pun sama seperti Ibunya, bahkan lebih jernih dan bening. Matanya tidak sipit seperti kedua orang tuanya. Matanya agak bulat dan kecil, sangat lucu. Yeoja kecil ini memakai pakaian serba putih. Oh, kulitnya pun sama seperti Ibunya. Secara fisik, yeoja kecil ini mirip Ibunya. Ntah kenapa bagai refleks, Tao selalu tersenyum kecil melihat photo yeoja cilik itu.
Ah, Tao baru ingat ia harus keluar dari ruangan gelap ini. Tao menatap mengikuti arah cahaya di ponselnya dan menemukan tangga. Dengan cepat ia menaikinya dan membuka pintu di atasnya. Lantai kayu tua ini berengsel.
Setelah ia keluar, ntah apa yang ada di dalam pikirannya. Tao menggerakan kakinya lagi dengan pandangan kosong menuju nakas berisi pisau, bingkai photo, kotak musik, dan jangan lupakan kepala Kris. Tao meraih kembali pisau itu dan mensejajarkan pergelangan tangannya yang sudah robek -meski tak mengeluarkan darah secara mengalir, hanya menetes saja, berarti percobaan pertama tadi tak berhasil memotong nadinya- dengan pisau di tangannya yang lain. Dalam hati Tao bersyukur tadi ia tak jadi kehilangan nyawa. Tapi tanpa ia sadari, kini kedua tangannya menggenggam erat pisau itu dengan ujung tajam hanya berjarak 10 cm dari dadanya, letak jantungnya berada.
'Iya, hanya satu tusukan dan kita sama-sama bebas. Aku bebas, dan kau juga bebas tanpa terror lagi.'
Tao melirik kotak musik di nakas. Ia mengamini apa yang dikatakan sebuah suara misterius di pikirannya.
JLEB!
AUTHOR POV END
~TBC~
A/n: Hayo, lho... Tao-nya... :'( Mati gak, ya? O.o Hihi~ ^^ Review, please... ^^
