Hallo para Survivor tjinta..! apa kabar kalian minggu ini. Masih seger-seger kan ? Hatinya masih berbunga-bunga kan ? Iya, harus donk. Kalo sampe enggak, ntr apa kata dunia.. haha. Maaf kalo makin gak jelas. Ya udah deh silahkan dibaca aja kelanjutannya. Semoga suka dan jangan lupa RnR..

Chapter 20

.

.

.

Naruto tidak pernah sekalipun berpikir jika satu kali dalam hidupnya akan melakukan hal gila seperti ini. Meluncur ke bawah dari ketinggian 20 meter, bagi Naruto itu merupakan sebuah pengalaman yang super menegangkan. Dia memang sangat terpukau dengan keahlian para pemain sirkus, tapi tidak pernah sedikitpun terlintas dalam kepalanya untuk menjadi seperti mereka. Selain karena dia memang takut akan ketinggian, bocah pirang itu juga bukan tipikal orang yang enerjik.

Deru suara ledakan terdengar memekik tepat di belakang Naruto dan yang lain. Bocah pirang itu sempat menoleh dan membelakakan kedua matanya. Dia dapat melihat dengan jelas retakan-retakan pada lantai tepat di atas kepalanya. Ya, Ruangan yang sebelumnya dipijaki oleh Naruto dan yang lain akan segera runtuh beberapa saat lagi. Jika mereka tidak secepat mungkin berlindung di bawah air, bisa dipastikan mereka akan tamat.

Rasa sakit seketika merayapi kaki kiri Naruto ketika tubuh bocah pirang mulai mendarat jatuh ke dalam air. Naruto tidak pernah memperkirakan jika rasa nyerinya bisa sampai seperti ini. Mengingat bahkan sebelumnya dia merasa telah lupa akan luka pada kakinya.

Kepala Naruto menyembul ke atas permukaan air. Bocah pirang itu kemudian menatap ke sekelilingnya. Seperti yang telah disampaikan oleh Neji. Tempat itu memang nampak seperti gua bawah tanah. Terbukti dari banyaknya stalaktik tergantung di atas layaknya seperti jarum besar yang siap melubangi kepala andai benda itu terjatuh ke bawah. Segera Naruto membuang pemikiran bodoh itu. Dia lalu mencoba mengalihkannya dengan memperkirakan luas gua bawah tanah itu. Bocah pirang itu pun mengambil kesimpulan jika luas area gua bawah tanah itu 2 kali lebih lebar dari ruangan di atasnya yang mungkin sebesar stadion sepak bola.

Naruto kemudain menoleh ke sekitar. Keadaan gua bawah tanah itu bisa dibilang cukup temaram sehingga membuat Naruto kesulitan untuk menemukan keberadaan teman-temannya. Namun beruntunglah, tidak lama berselang dimulai dari Ino, Sakura, Lee, Tenten, Sai, serta Shino, satu-persatu mulai bermunculan. Perasaan Naruto begitu lega melihat kemunculan mereka.

"Apa kalian baik-baik saja ?" tanya Naruto. Suara bocah pirang itu terdengar bergaung.

"Ya, kami cukup baik.." balas Shino.

"Dimana Neji ? kenapa dia tidak terlihat ?" tanya Tenten seraya menoleh ke segala arah.

Gadis kuncir kuda itu terlihat begitu panik mengetahui tidak adanya keberadaan pemuda berambut panjang itu. Sadar akan fakta itu, praktis semua orang yang berada di tempat itu segera ikut mencarinya.

Naruto, Sai serta Shino segera menyelam kembali ke dalam air. Namun karena kurangnya pencahayaan, jarak pandang mereka menjadi terbatas. Alhasil, mereka tidak menemukan apapun. Mereka bertiga kemudian muncul kembali ke permukaan.

"Bagaimana ?" tanya Sakura. Bibir gadis musim semi itu mulai tampak membiru.

"Aku tidak bisa melihat apapun, keadaan di bawah cukup gelap." Jawab Shino yang diamini oleh Naruto dan Sai.

Naruto kemudian menoleh ke arah Tenten. Gadis kuncir kuda itu terlihat cukup terluka setelah mendengar penuturan Shino. Dia ingin sekali mengucapkan kata-kata penyemangat sebelum akhirnya sebuah kesadaran menampar bocah pirang itu.

"Hei.. dimana Shikamaru ?" tanya Naruto.

Semua tersentak ketika mendengar pertanyaan Naruto. Mereka seolah baru menyadari jika selain Neji, Shikamaru pun tidak diketahui dimana rimbanya.

"Bukankah kau di belakangnya ketika melompat ? tanya Sai pada Naruto.

"Ya memang benar. Tapi setelah kita jatuh ke air, aku tidak tahu lagi dimana dia berada." jawab Naruto mencoba bersikap tenang.

Suara gemuruh di atas mereka semakin menderu hebat bagaikan raungan raksasa yang tengah kesakitan. Naruto bahkan sampai bergidik ngeri mendengarnya. Secara tidak sengaja bocah pirang itu menengadah dan melihat dengan jelas retakan-retakan panjang membentang di sepanjang ruangan yang tepat di atas mereka berada saat ini. Bocah pirang itu pun menelan ludah dan berani bertaruh jika tidak lama lagi ruangan di atas mereka akan segera runtuh.

"Awaaaass !" teriak Ino pada lainnya seraya menunjuk ke atas.

Sebuah puing berukuran sebesar truk kontainer melayang tepat di atas Naruto dan yang lainnya. Secara naluriah mereka bertujuh dengan segera berenang menjauh dari area itu. Kepala mereka memang selamat dari puing reruntuhan besar itu. Namun sayangnya gelombang air yang begitu dahsyat akibat efek jatuhnya puing reruntuhan super besar itu membuat mereka semua terhempas ke segala arah.

Entah sudah berapa liter air yang sudah ditelan Naruto saat ini. Tapi yang jelas, bocah pirang itu tidak tahu tentang keberadaan teman-temannya saat ini. Hempasan gelombang air itu benar-benar memisahkan mereka satu sama lain. Merasa frustasi, bocah pirang itu merutuki nasib hidupnya yang selalu sial. Dalam benaknya dia mengumpat kesal atas semua masalah yang menimpanya. Pertama, masalah Neji dan Shikamaru yang tidak diketahui dimana rimbanya dan sekarang bertambah lagi masalah yang baru.

"Naru.. Naru.. Naru..to.." teriak seseorang tidak jauh dari tempat Naruto berada.

Naruto menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang tengah memanggil-manggil namanya. Perasaan bocah pirang itu begitu lega ketika mendapati jika seseorang yang memanggilnya itu tidak lain adalah Sakura. Melihat gadis itu tidak jauh di hadapannya, Naruto merasa begitu bersyukur. Dia tidak tahu kenapa. Pokoknya dia merasa lega sekali karena melihat gadis musim semi itu baik-baik saja.

Tanpa banyak waktu Naruto segera berenang menghampiri Sakura. Selagi bocah pirang itu berenang, puing-puing reruntuhan terus-menerus berjatuhan di area berair itu diiringi deru menggelegar bunyi ledakan yang terasa begitu menakutkan bagi Naruto. Bahkan sempat beberapa kali Naruto hampir tertimpa, meskipun dengan mudah bocah pirang itu menghindarinya. Setidaknya untuk saat ini puing-puing reruntuhan itu bisa dibilang masih relatif kecil sehingga tidak menimbulkan efek gelombang besar seperti sebelumnya.

Bocah pirang terus mengayuh lengannya berenang sembari menghindari setiap puing-puing bangunan yang terus berjatuhan. Pada akhirnya Naruto sampai di tempat Sakura berada. Dada bocah pirang itu berdesir ketika Sakura langsung menghambur memeluknya begitu dia tiba. Entah dia sadar ataupun tidak, rona merah nampak di pipi tan nya.

"Kau baik-baik saja ?" tanya Sakura setelah melepas pelukannya.

"Hei.. aku yang seharusnya bertanya seperti itu.." ucap Naruto tidak terima.

Wajar saja Naruto berucap seperti itu. Bocah pirang itu bisa melihat dengan jelas jika gadis di hadapannya saat ini tengah kedinginan. Terbukti dari warna bibir gadis musim semi itu yang semakin membiru.

"Tidak perlu dipikirkan.." ucap Sakura yang diikuti gelegar bunyi ledakan yang entah sampai kapan akan berakhir. "Kita harus mencari yang lain. Sebentar lagi bangunan di atas kita akan runtuh dengan sempurna."

Naruto mengangguk tanda setuju dengan pendapat Sakura. Saat ini hal yang paling penting adalah segera menemukan teman-temannya. Andai saja semua berjalan dengan sangat mulus seperti apa yang telah direncanakan oleh Neji, pasti situasinya tidak akan serumit ini. Ya, semua hanya pengandaiannya saja dan faktanya selalu berbanding terbalik.

Naruto kemudian memandang ke segala arah mencoba menyisir setiap sudut gua bawah tanah itu untuk menemukan keberadaan teman-temannya. Awalnya dia sempat skeptis, mengingat kurangnya pencahayaan di area itu hingga membuat jarak pandang menjadi terbatas. Namun, samar-samar dia menemukan sebuah titik bercahaya di dalam air yang letaknya berada di ujung gua bawah tanah tersebut. Jika mau diukur, mungkin jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat Naruto berada saat ini.

"Sakura.. ada cahaya di ujung sana.." Ucap Naruto seraya menunjuk. Sakura segera mengikuti arah dimana bocah pirang itu menunjuk.

"Ya, kau benar.. Apa itu adalah yang lain ?" tanya Sakura.

"Aku tidak tahu, mungkin sebaiknya kita ke sana." Jawab Naruto yang dibalas anggukan Sakura.

Setelah mengambil keputusan, Naruto dan Sakura segera berenang menuju cahaya itu. Suara-suara ledakan yang terus menderu disertai puing-puing yang terus runtuh membuat Naruto dan Sakura cukup ketakutan. Bocah pirang itu hanya tidak bisa membayangkan jika seluruh ruangan di atasnya benar-benar runtuh lalu menimpa dirinya dan Sakura yang saat ini tengah melintas tepat di bawah ruangan itu.

"Woi.. bocah pirang !" teriak seseorang yang tidak jauh dari tempatnya.

Naruto segera menoleh ke sebelah kirinya dan menemukan Shino dan yang lain termasuk Shikamaru tengah melambaikan tangan ke arahnya. Naruto tersenyum lega bisa melihat bocah pemalas itu kembali. Dia lalu mencari keberadaan Neji diantara yang lain, namun sayang pemuda berambut panjang itu tidak ada sekitar teman-temannya.

"Darimana saja kau ?" tanya Naruto setelah mendekati mereka Shikamaru dan yang lainnya.

"Tidak dimana-mana. Sejak awal aku berada di dasar air." Jawab Shikamaru santai.

"Maksudnya ?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Oh, ya ampun. Apa aku perlu menjelaskan panjang lebar saat ini ?" tanya Shikamaru balik. Lagi-lagi sisi pemalasnya muncul kembali.

"Ya, kau perlu mengatakan segalannya.." balas Naruto tegas.

Shikamaru mendengus kesal mendengar perkataan Naruto. Bocah pemalas itu kemudian menatap ke atas sebelum menjelaskan.

"Simpel saja.." ucap Shikamaru pada akhirnya. "Ketika kita jatuh ke dalam air. Aku yang membawa beban super berat itu otomatis akan langsung tenggelam. Itulah yang membuat kalian tidak menemukanku. Dan kabar buruknya, pemuda berambut panjang itu mengekoriku."

"Maksudnya, selama ini Neji bersama denganmu ?" tanya Naruto yang dijawab dengan anggukan kepala.

"Tidak ada banyak waktu, ruangan di atas kita akan segera runtuh. Kita harus segera masuk ke dalam air." Ucap Sai memotong percakapan Naruto dan Shikamaru.

Naruto terdiam mendengar penuturan Sai. Bocah kulit pucat itu memang benar. Tidak akan lama lagi bangunan tepat di atas kepala mereka akan segera runtuh ke bawah. Sebuah pemikiran tiba-tiba melesat di kepalanya. Dia mereka sangat naif jika berpikir dengan berlindung di dasar air maka mereka akan aman dari reruntuhan. Justru menurut Naruto itu malah akan menjadi semakin buruk. Mereka tetap akan tertimpa. Apalagi jika ukuran puing reruntuhan yang terjatuh sangatlah besar.

"Aku rasa kita harus mengubah rencana." Ucap Naruto.

Semua terdiam mendengar penuturan Naruto. Sebagian bersikap cuek seperti halnya Shikamaru dan juga Sai. Sebagian lagi menunjukan rasa penasaran kenapa bocah pirang itu mengatakannya.

"Menurutku rencana berlindung di dalam air kuranglah tepat. Pada akhirnya kita akan tetap tertimpa reruntuhan. Okelah jika reruntuhan itu hanya sebuah puing-puing kecil. Tapi bagaimana dengan puing sebesar truk kontainer seperti sebelumnya ? aku rasa kita akan kesulitan untuk menghindarinya."

"Apalagi jika bangunan tepat di atas kita runtuh secara bersamaan ? apa kalian bisa membayangkan bagaimana cara kita menghindar ?"tanya Naruto. "Jawabannya adalah tidak dan pada akhirnya kita akan tertimpa puing-puing reruntuhan."

Semua mengangguk merenungi setiap ucapan Naruto. Bocah pirang itu tersenyum senang melihat respon positif dari teman-temannya, meskipun sebelumnya dia merasa ragu akan hal itu. Sekarang yang perlu dilakukan olehnya adalah mengatur ulang kembali rencana untuk keluar dari tempat ini.

"Jadi sekarang dimana Neji ?" tanya Naruto pada Shikamaru.

Shikamaru tidak menjawab. Bocah pemalas itu hanya menunjuk ke arah bawah yang berarti Neji berada di dasar air. Selepas itu Shikamaru segera menyelam ke bawah dengan membawa senter anti air untuk memanggil Neji.

Waktu terasa begitu lama ketika Naruto dan yang lain menunggu kemunculan Shikamaru dan Neji dari dasar air. Wajar saja mereka merasa seperti itu. Terlebih jika melihat kondisi ruangan yang tepat berada di atas kepala mereka, yang setiap detik semakin memprihatinkan. Retakan-retakan semakin panjang melintang dari ujung ke ujung ruangan tersebut. Bukan tidak mungkin jika beberapa menit lagi ruangan itu akan runtuh dan menimpa mereka.

Shikamaru menyembul setelah dirasa bagi Naruto dan yang lainnya memakan banyak waktu. Tidak lama berselang, Neji mengekor di belakang bocah pemalas itu. Melihat kemunculan Neji, Naruto sedikit ingin tertawa karena menemukan beberapa lumut menempel cantik pada rambut panjang pemuda itu. Tapi sebenarnya bukan hanya hal itu saja yang jadi fokus utamanya. Bagi bocah pirang itu saat ini, Neji terlihat seperti seorang gadis manis yang baru selesai berkeramas. Dari pengamatan itulah Naruto dapat menarik sebuah kesimpulan.

"Jika kau seorang lelaki sebaiknya jangan panjangkan rambutmu, atau kau akan dianggap seorang wanita."

"Ada apa kau memanggilku ?" tanya Neji pada Naruto.

Naruto segera menjelaskan kembali pada Neji soal perubahan rencana. Awalnya Neji terlihat tidak setuju. Namun setelah bocah pirang itu menjelaskan dengan segamblang mungkin tentang segala resiko yang akan mereka dapatkan jika tetap pada rencana awal, pada akhirnya Neji pun mulai menyetujui pendapat bocah pirang itu.

"Jadi, apa rencana alternatifnya ?" tanya Neji kembali setelah mendengar penjelasan Naruto.

"Aku melihat sebuah cahaya di ujung sana.." ucap Naruto seraya menunjuk ke arah ujung ruangan berair itu.

Seluruh pasang mata terkecuali Sakura mengikuti kemana jari telunjuk Naruto mengarah. Mereka kemudian mengangguk tanda telah melihat apa yang dimaksud bocah pirang itu.

"Jadi maksudmu kita akan pergi ke sana ?" tanya Sai.

"Ya, itu lebih baik daripada berdiam diri di sini. Lagipula jika kita berada di ujung sana, potensi untuk tertimpa reruntuhan jauh lebih kecil daripada di tempat ini." Jawab Naruto dengan penuh keyakinan.

Neji tidak membalas jawaban Naruto. Pemuda berambut panjang itu justru menatap ke ruangan yang tepat berada di atasnya. Dia pun kemudian mengangguk tanda membenarkan ucapan Naruto.

"Bocah pirang ini benar. Kita harus segera ke tempat bercahaya itu." Ucap Neji. Semua mengangguk.

Sebuah gelegar ledakan bom terdengar menderu kembali. Kali ini suranya semakin memekik tanda jika ledakan itu terjadi dalam jarak yang cukup dekat dengan keberadaan mereka saat ini. Bocah pirang itu kemudian menjadi penasaran tentang berapa banyak bom yang telah Neji dan teman-temannya pasang.

"Sebenarnya berapa banyak bom yang kau pasang sih ?" tanya Naruto pada Neji. Bocah pirang itu terlihat mulai resah dengan suara-suara ledakan selama ini.

"30 bom berdaya ledak super besar." Jawab Neji enteng. Pemuda berambut panjang itu terkesan biasa saja dalam mengucapkannya.

"10 bom kami letakan di tempat kediaman kami selama ini. Diledakan sesuai waktu yang telah aku atur. 10 bom berikutnya aku letakan di sepanjang lorong tempat kita berlari menuju ke tempat ini. Mereka meledak dengan kisaran waktu 30 detik setelah ledakan pertama dimulai." Tambah Neji memberi penjelasan.

"Jadi bagaimana dengan 10 bom terakhir ?" tanya Shino.

"Mereka meledak satu persatu setelah 15 detik dari ledakan 10 bom gelombang kedua. Aku meletakan ke 10 bom terakhir itu secara acak. Mulai dari tempat awal kita berlari hingga berakhir pada pintu masuk ruangan yang berada tepat di atas kita." Jelas Neji lebih gamblang.

"Oh iya, aku perlu menjelaskan jika bom terakhir lah yang paling berbahaya. Bom itu akan meledak 1 menit setelah ledakan bom ke 29. Memang jedanya cukup lama dengan bom sebelumnya, tapi jangan remehkan kekuatannya ledakannya."

Naruto begitu penasaran dengan penuturan Neji soal bom yang terakhir. Bocah pirang itu kemudian berspekulasi jika bom yang terakhir itu adalah sebuah bom nuklir, namun dalam ukuran yang lebih kecil.

"Apa itu bom nuklir ?" tanya Naruto.

"Mungkin iya mungkin juga tidak.." jawab Neji penuh teka-teki.

"Lupakan soal yang itu. Sekarang aku ingin bertanya, kenapa kau tidak ledakan semua bom milikmu secara bersamaan ? bukankah itu jauh lebih efisien ?" tanya Shikamaru.

Naruto setuju dengan pertanyaan Shikamaru. Tapi mungkin saja Neji memiliki penjelasn tersendiri mengenai hal itu.

"Itu merupakan sebuah strategi. Ledakan pertama bertujuan untuk memperlambat pergerakan orang-orang yang tengah mengejar kita. Hanya orang bodoh yang akan terus maju sementara di hadapannya ada sebuah bom yang sedang diledakkan." Balas Neji. Sebuah ledakan terdengar kembali.

"Ledakan kedua bertujuan hampir sama, namun juga memiliki arti sebuah pesan gertakan. Pada titik itu mereka akan berpikir kembali untuk maju melangkah. Mungkin pada akhirnya mereka akan tetap maju. Tapi setidaknya itu membuat jarak kita dengan mereka semakin menjauh, akibat waktu yang telah mereka buang untuk memutuskan apakah akan melangkah maju atau tidak." Lanjut Neji.

"..dan untuk 9 bom selanjutnya juga memiliki tujuan yang sama. Terus memberikan pesan gertakan di setiap kali mereka mencoba melangkah maju." Ucap Neji kembali melanjutkan penjelasannya.

"Lalu, bagaimana dengan bom yang terakhir ?" tanya Naruto penasaran.

"Untuk membunuh mereka." Jawab Neji dingin. "Aku sangat percaya jika mereka akan terus maju meskipun kita terus menggertaknya dengan serangkaian peledakan bom. Karena itulah aku memberikan kejutan bagi mereka."

"Mungkin tidak sepenuh membunuh mereka semua. Tapi setidaknya bisa mengurangi jumlah mereka."

Naruto mengangguk tanda paham. Bocah pirang itu cukup terkesan dengan segala rencana yang disusun oleh Neji dan teman-temannya. Dia tidak mengira jika ledakan-ledakan bom yang selama ini didengarnya ternyata memiliki tujuan tertentu. Naruto merasa malu jika mengingat pemikiran awalnya. Sebelumnya dia menganggap segala rangkaian pengeboman ini yang dilakukan oleh Neji dan yang lainnya hanyalah tindakan tanpa arti saja.

Gemuruh ledakan terdengar kembali. Suaranya semakin keras dan menggelegar. Naruto bisa melihat jika ruangan di atasnya mulai berguncang hebat. Kalau saja dia bisa berbicara dengan ruangan di atasnya, Naruto ingin memintanya untuk bertahan sekuat mungkin hingga bocah pirang itu dan teman-temannya berhasil menyingkir.

"Kita harus segera bergegas. Menurutku tadi adalah ledakan bom yang ke 28." Ucap Neji memberitahu.

"Ayo.." Ucap Shikamaru. '

Shikamaru bergerak paling depan diikuti Shino, Neji, Lee serta Tenten di sebelah kanannya. Sementara Naruto, Sakura, Sai dan Ino berada di sebelah kirinya.

Ledakan berikutnya terdengar kembali. Semakin keras dan semakin mencekam bagi Naruto. Puing-puing kecil reruntuhan mulai berjatuhan dan dengan susah payah Naruto dan yang lain berusaha menghindarinya satu per satu. Bocah pirang itu menghela nafas lega setelah berhasil melaluinya dengan mulus.

Semua terlihat begitu mudah hingga saat ini. Entah kenapa bagi Naruto hal ini justru membuat hatinya menjadi resah. Dia menganggap semuanya terasa aneh. Pasti ada yang salah. Itu yang saat ini tengah dipikirkannya. Terus-menerus memikirkan akan hal itu hingga dia merasa seperti orang idiot yang menolak diberi kemudahan. Namun tidak lama berselang, seperti sebuah jawaban atas pertanyaan Naruto selama ini. Sebuah puing reruntuhan sebesar rumah ukuran 70 meter persegi melayang tepat di atas kepala mereka.

Mereka berenang secepat mungkin menghindari reruntuhan itu. Tapi karena ukurannya yang terlampau besar membuat Naruto dan yang lainnya terhisap ke bawah air begitu reruntuhan super besar itu menghantam permukaan air. Beruntung bagi Sakura dan yang lain. Berkat arus di dalam air, mereka sukses terlempar mendekati tempat tujuan. Tapi sayangnya hal itu tidak menulari Naruto, Sai dan Ino. Ketiganya terjebak oleh sulur-sulur tanaman di dasar air.

Naruto dan Sai dengan mudah melepaskan diri dari jeratan sulur-sulur tanaman air itu. Tapi untuk Ino, gadis pirang itu terlihat sangat kesulitan karena memang seluruh tubuhnya terjerat oleh sulur-sulur tanaman. Melihat Ino yang sangat kepayahan, Naruto segera bergerak membantunya.

Sai memberikan isyarat kepada Ino untuk tenang. Karena jika gadis pirang itu terus bergerak, maka justru sulur-sulur tananam itu akan semakin sulit untuk dilepaskan. Setelah dirasa Ino mulai bisa menenangkan diri, baik Naruto maupun Sai segera bergegas melepaskan sulur-sulur itu.

Naruto tidak mengira jika akan sesulit ini. Sulur-sulur itu terlihat seperti benang kusut yang semakin kau mencoba untuk menguraikannya maka akan semakin sulit melepasnya. Naruto kemudian menatap Ino. Sesuai dugaannya, gadis pirang itu mulai kehabisan nafas, dan itu berarti dia tidak punya banyak waktu. Naruto kemudian menoleh ke sekitar berusaha mencari sesuatu seperti benda tajam. Pada akhirnya bocah pirang itu menyerah untuk menguraikannya dan lebih memilih untuk memotong saja.

Setelah cukup lama, Naruto akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Bocah pirang itu pun segera bergegas setelah sebelumnya memberi isyarat pada Sai untuk pergi. Bocah kulit pucat itu hanya mengangguk sementara dirinya masih sibuk berusaha menguraikan sulur-sulur itu.

Gelembung udara keluar dari mulut Ino. Gadis pirang itu sudah mulai kehabisan nafas. Sai awalnya tidak mengetahui hal itu. Hingga tanpa sengaja dia menatap wajah Ino dan melihat gelembung-gelembung udara terus keluar dari mulut gadis pirang itu. Sai yang paham jika Ino telah sampai pada batasnya segera merengkuh tengkuk gadis pirang itu. Dia kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Ino dan mulai membagikan nafas miliknya. Mungkin terlihat biasa saja. Tapi karena mereka adalah sepasang kekasih, bagi Naruto yang saat ini melihat pemandangan tersebut dari jauh, semua itu terlihat sangat manis. Bocah pirang itu pun teringat akan ciumannya dengan Sakura.

Naruto hampir saja melupakan apa yang seharusnya dia lakukan akibat terlalu asyik menonton pemandangan lovey dovey yang tersuguh tepat di depan matanya. Dengan perasaan sedikit tak enak, Naruto mendekati dua sejoli itu. Bocah pirang itu berusaha sebisa mungkin tidak menatap kegiatan keduanya dan hanya fokus dengan apa yang perlu dilakukannya.

Naruto akhirnya berhasi memotong semua sulur tananam yang melilit tubuh Ino. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke arah Sai dan Ino. Dia bersyukur karena adegan romantisme itu sudah berakhir. Keadaan Ino terlihat cukup baik. Baik Sai maupun Ino, keduanya membuang muka malu ketika bersitatap dengan Naruto. Bocah pirang itu tertawa dalam hati karena merasa keberadaan tidak tepat untuk saat ini.

Mereka bertiga kemudian segera berenang ke permukaan. Tepat ketika kepala mereka menyembul dari permukaan air, ledakan terakhir terdengar. Naruto yang sudah paham jika itu bukanlah pertanda baik. Bocah pirang itu lalu menoleh ke sekitar mencari keberadaan teman-temannya.

"Hei.. di sini !" teriak Lee seraya melambaikan tangannya.

Naruto segera menoleh ke arah Lee yang saat ini tengah berteriak kepadanya. Rupanya Lee dan yang lainnya telah sampai di tempat yang mereka tuju. Tanpa banyak waktu Naruto, Sai dan Ino segera berenang secepat mungkin mendekati Lee dan yang lainnya. Mereka bertiga akhirnya sampai. Bersamaan dengan itu gemuruh suara di atas kepala mereka terdengar sangat mencekam.

"Sepertinya apa yang kau lihat dari kejauhan itu hanyalah lampu." Ucap Neji ketika Naruto tiba diantara teman-temannya.

"Benarkah ?" balas Naruto sedikit kecewa.

"Benar sekali. Tapi tidak perlu khawatir karena aku menemukan sebuah lorong di bawah." Ucap Neji seraya menunjuk ke arah bawah permukaan air.

Naruto segera mengarahkan pangangan ke arah yang ditunjukan oleh Neji. Dia dapat melihat dengan jelas jika memang ada sebuah lorong yang letaknya sekitar 1 meter dari permukaan. Entah kenapa, dia merasa sangat yakin jika itu adalah jalan keluarnya.

"Tidak ada waktu lagi, kita harus bergegas." Ucap Shikamaru terkesan sangat terburu-buru.

"Apa kita tidak memeriksanya terlebih dahulu ?" tanya Sakura.

"Tidak perlu, lagipula apa mereka mau menunggu ?" Balas Shikamaru seraya menunjuk ke arah atas mereka.

Awalnya Naruto begitu ketakutan karena dia berpikir jika yang dimaksud "Mereka" oleh Shikamaru adalah para tentara perdamaian. Namun ternyata yang bocah pemalas itu maksud adalah sekumpulan puing-puing reruntuhan berukuran cukup besar melayang secara bersamaan di atas kepala mereka.

"Kau benar, cepat bergegas !" teriak Naruto.

Mereka segera menyelam dan bergerak secepat mungkin menuju lorong. Bunyi berdedum mulai terdengar tidak jauh dari tempat Naruto berada. Rupanya seluruh bangunan di atas kepalanya mulai runtuh dengan sempurna. Tepat ketika Naruto dan teman-temanya berhasil masuk ke dalam lorong, sebuah puing super besar jatuh di tempat dia berada sebelumnya. Bocah pirang itu sempat menoleh ke belakang dan menemukan jika setengah dari pintu keluar lorong telah tertutup oleh puing-puing reruntuhan.

Mereka terus berenang mengikuti alur lorong tersebut. Ada rasa kelegaan membuncah di hati Naruto ketika berhasil lolos dari maut untuk kesekian kalinya. Bocah pirang itu berharap untuk ke depannya semua akan menjadi lebih mudah.

Setelah sekian lama berenang mengikuti alur lorong air, mereka akhirnya tiba pada sebuah ruangan lapang. Rupanya lorong itu adalah saluran air bawah tanah yang menyambungkan saluran air dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka pun segera naik dan beristirahat di sekitar saluran air.

"Tempat apa lagi ini ?" tanya Shino seraya mengambil nafas.

"Tidak perlu dipikirkan. Kita istirahat saja dulu." Balas Shikamaru.

"Aku tidak menyangka jika kita akhirnya berhasil selamat." Ucap Lee. Pemuda klimis itu duduk membelakangi saluran air.

"Tidak perlu mendramatisir, Lee." Balas Tenten.

"Tidak, sungguh... aku tidak pernah mengira akan sesulit ini. Aku harap setelah ini semua akan menjadi lebih mudah." Ucap Lee kembali.

Naruto mengangguk tanda setuju dengan perkataan Lee. Namun sayang, sepertinya harapan itu tidak akan pernah terkabul. Belum genap satu menit pemuda klimis itu berucap, tubuhnya ditarik oleh sesuatu ke dalam saluran air.

.

.

to be continue

.

.

.

Yosh.. akhirnya kelar juga chapter 20 ini. Kalo ada yang sedikit kecewa dengan momen Saino saya mohon maaf. Lagipula sejak awal saya gak pernah bilang momen mereka akan ada di chapter 20. Saya bilangnya sekitar chapter 20an. Jadi diantara 20-29an. Tapi gak papa, anggap aja di chapter ini sebagai hidangan pembuka saja. Oke, makasih buat perhatiannya..

Balasan review :

Winter hood : S3 itu boyband saingannya Taetiseo, winter-san.. haha. Makasih buat review nya ya..

Inuzukarei : wah-wah, saya gak nyangka kalo kamu itu dulunya cetar (centil dan bikin bergetar) #iniapaloh?.. membahana badai katrina ya rei-san.. semoga udah kembali ke jalan yang benar ya.. haha

Syalala-lala : Haha, Naruto masih normal kali, lala-san. Dia gak mungkin sampe naksir ama Neji. Kalo dia sampai belok, apa kata dunia perninjaan nanti ?! Aduh-aduh.. ketika kamu terus memojokan saya dengan pertanyaan seputar dunia percintaan, Disitu kadang saya merasa apess..

SR not Author : Ya, silahkan mampir.. tapi besok-besok harus bayar ya.. haha

Indri : Ya tuhan, jadi mereka itu kakak-kakak kamu ya ? #gakbisangomong.. Iya sih, tapi gak fanatik banget. Ya, sekedar update aja. Biar nanti kalo ada yang nanya bisa jawab.. hehe