Chapter 14
Title: Music Box
Author: Lee Shikuni
Genre: Crime, mystery
Archip: Yaoi, chapter, T
Cast:
-All members EXO
-Huang Zi Tao
-Wu Yi Fan a.k.a Kris
-Lu Han
-And OC
Warning: GJ, Typho(s), RnR, please⦠DLDR!
A/n: Nichi: Lay-ge gk knp2, kok. Gk percaya? Liat chap ini. ;)
Hope U like it. Happy reading~ ^^
AUTHOR POV
Alunan musik itu terdengar kembali. Memenuhi setiap sudut rumah tua yang berdebu.
CLEK!
Sebuah tangan menutup kotak musik yang sedang bermain itu.
"Hei. Kau tidak boleh seperti itu." peringat seorang namja jangkung pada orang yang lebih pendek darinya.
"Dengar, aku mau bicara, Hyung." namja pendek itu mendekati rekannya yang tengah bersantai di sofa tua nan penuh debu di ruang tengah rumah itu.
"Geurae. Apa yang mau kau bicarakan, Chen~ah?" sahut namja jangkung itu menanggapi rekannya, Chen.
"Kita sudah membunuh... Emm... Sahabat-sahabat kita. Untuk menjaga nyawa masing-masing. Bukankah 'dia' hanya perlu nyawa? Apa bisa kita jual tubuh mereka? Kita akan untung banyak!" girang Chen diakhir kalimat.
"Eee... Bukannya seluruh tubuh itu miliknya juga? Maksudku, mereka itu aksesoris rumah ini. Jika dia marah bagaimana? Dia pernah bilang jangan sentuh tubuh-tubuh itu jika tugas kita sudah selesai." jelas namja jangkung itu panjang.
"Dan Tao~ah yang terakhir begitu?" sindir Chen.
"Tao~ah bagian'nya'. Kita tidak ikut campur masalah pembunuhan maknae line satu itu." timpal namja jangkung. Chen manggut-manggut mengingat terbunuhnya Tao memang seperti orang bunuh diri.
"Lalu kita akan terus bersembunyi seperti ini?" tanya Chen memelas. Jelas sekali ia meminta solusi. Namja jangkung itu menatap rekannya lekat. Mereka harus berpikir matang-matang karena sekarang mereka seorang pembunuh. Walau tidak ada yang tahu. Bahkan orang yang tahu mereka pembunuh pun sudah mati di tangannya.
"Terlalu beresiko." sahut namja jangkung itu pasrah.
"Chan Yeol Hyung~" rengek Chen. "Aku serius~"
"Kita harus ganti nama. Belanja-"
"Tunggu. Untuk apa belanja?" potong Chen. Chan Yeol menatap malas.
"Kau tidak akan ganti baju?" tanya Chan Yeol. "Kau akan memakai blazzer apuk ini untuk kabur?" Chan Yeol mencubit kasar blazzer sekolah yang dipakai Chen.
"Arraseo." mereka berdua terdiam. "Lalu darimana kita mendapat uang untuk belanja?"
"Itu dia. Tubuh-tubuh itu... kita jual."
Krik... Krik... Krik...
"Tadi kan aku sudah bilang itu di awal chap, Chan Yeol Hyung Babbo!" Chen berteriak frustasi.
"Arraseo-arraseo. Atau mungkin barang-barang antik itu yang mau dijual? Seperti... kotak musik itu misalnya." usul Chan Yeol.
"Hyung mau menjual barang kesayangan 'dia'? Tidak salah?" celetuk Chen.
"Jika tidak ada yang dikorbankan, kita tidak akan bisa menghasilkan apa-apa." jelas Chan Yeol. "Kita tidak akan beranjak, kita akan tetap di sini. Sampai mati. Begitu? Dan polisi akan menemukan jasad kita dengan hasil autopsi kelaparan."
"Kalau begitu apa yang mau kita jual?"
BRAK! SREK! SREK!
Chen dan Chan Yeol terlonjak kaget. Angin berembus kencang menampar kaca jendela dengan beringas. Kotak musik itu terbuka lagi. Alunan musik klasik terdengar. Lembut dan nyaman. Kau bisa tertidur mendengarnya.
Chan Yeol bangkit dari duduk santainya. Ia mundur perlahan dan menginjak sebuah keset yang licin oleh debu.
BRUK!
Chan Yeol sukses terjatuh dengan tidak elitnya. Chen berniat untuk menghampiri dan membantunya.
BRUK!
Tapi sayang tubuhnya tiba-tiba terpelanting mencium dinding dingin yang letaknya berlawanan arah dari Chan Yeol.
KRIET...
"Semua yang ada di sini milikku. Termasuk kalian." ucap seorang yeoja kecil berkulit pucat, berambut boy style yang keluar dari ruangan bawah tanah menatap mereka tajam satu persatu.
"Tapi kami sudah memberikan nyawa padamu! Kami sudah membunuh seluruh sahabat kami! Kami harusnya sudah bebas darimu!" seru Chen. Yeoja itu mendelik. Lalu mendekati Chan Yeol dengan cepat dan menjambak poninya agar bisa bertatapan langsung dengan jarak dekat. Mata yeoja itu datar, dingin. Tapi menusuk dan mengintimidasi.
"Ingat apa yang kukatakan tentang peraturan rumahku?" tanya yeoja kecil bekisar umur 10 tahun itu. "Sebutkan!"
"S-Semua yang ada di rumah dan di pekarangan rumah ini milikmu." lirih Chan Yeol menahan sakit jambakannya. Percuma membalas. Mereka tidak dapat menyentuh yeoja ini.
"Lanjutkan!"
"Tidak boleh diusik." lanjut Chan Yeol pelan.
"Lalu kenapa kalian berniat menjualnya? Kupikir hingga kini ingatan kalian masih bagus!"
"Shikuni-ssi, kami masih ingin hidup. Kami tidak mungkin kembali setelah diberitakan hilang. Dan-"
"Kalian butuh biaya?" tanya yeoja yang di panggil Shikuni itu. Mereka berdua terdiam. "Kalian bisa bekerja untuk mendapatkan uang. Kerja di tempat yang sekiranya tidak akan ada yang mengenali kalian. Tidak perlu menjual barang-barang milikku."
'Tapi itu sulit dan lebih mudah menjual organ tubuh secara ilegal.' batin Chan Yeol.
GREP!
"AKU MENDENGAR ITU, MANUSIA DOBI! DENGAR BAIK-BAIK! SEMUA YANG ADA DI SINI MILIKKU! Dan kau juga milikku!" ucap Shikuni habis kesabaran sembari mencekik Chan Yeol semakin erat di setiap katanya.
Tak sempat berkata, Chan Yeol kehabisan nafas. Ia memang berontak sebagai reflek. Tapi tak ada satu pun yang mengenai yeoja kecil itu. Chen tak berkutik. Ia diam di tempat menyaksikan kematian rekannya. Dihempaskannya Chan Yeol begitu saja ke lantai kayu itu. Lalu menginjak kepala Chan Yeol telak, menjadi hancur-remuk tak berbentuk. Shikuni berbalik, wajahnya datar dan sorot matanya terlihat tanpa dosa. Chen bergeming. Otaknya memerintah untuk lari, tapi tubuhnya kaku.
"Kau juga." lanjut Shikuni pelan.
TAP!
Satu langkah...
BRUK!
Ntah dorongan kuat darimana yang membuat Chen jatuh tersungkur. Dengan takut Chen menatap mata yeoja kecil itu yang kini tengah berjalan pelan mendekatinya.
"M-Mianhnae." lirih Chen bergetar.
"Wae? Aku sudah memberikan kesempatan pada kalian. Sebuah kesempatan yang menguntungkan. Membiarkan kalian tetap hidup dengan membantuku. Keundae, wae? Kenapa kalian tidak bisa menuruti perintahku? Aturanku? Aku tidak suka seseorang menyentuh apa pun milikku." kini gwishin cilik itu tepat berada di hadapan Chen.
'Meski dengan berat hati, aku izinkan kalian tinggal di sini. Jangan merusak barang-barangku dan rumah ini! Sebenarnya aku tidak suka ada orang yang menyentuh milikku tanpa izin dariku.' jantung Chen berdegup cepat kala mengingat kejadian saat ia mencoba berbicara. Sepakat untuk menukar nyawanya dengan membantu gwishin manis itu mengumpulkan nyawa sahabat-sahabatnya agar tetap hidup.
"Nah, sekarang kau pilih, Wajah Kotak. Mau mati dengan cara apa?" tanya Shikuni bernada manis dengan ekspresi yang tak berubah. Terlihat menyeramkan. Chen menahan nafas. "Hei, untuk apa kau memiliki paru-paru jika tidak digunakan untuk bernafas, eoh?"
Shikuni mengangkat tangannya sebatas dada Chen dan mulai mendekat dengan gerakan perlahan. Chen menggelengkan kepalanya menolak keras, ntah kenapa ia tetap menahan nafasnya.
PLUK!
DEG! DEG! DEG!
"Woah~ Aku baru saja memegang dadamu. Kenapa yang di dalam sana semangat sekali? Ah, apa kau mencintaiku?" Chen menggeleng pelan. Persetan sekali dengan jantungnya yang berdegup marathon di dalam sana. "Tenang, saja. Aku tidak mencintaimu. Dan aku sangat sadar diri kau milik Xiu Min-ge. Dan... aku gwishin yang baik." jeda. "Maka dari itu aku akan membantumu bertemu Xiu Min, daripada membuatku emosi setiap hari. Dan kau juga akan bebas, bukan?"
Shikuni tak menghiraukan keringat sebesar biji jagung dari pelipis Chen. Seringai yang tak pantas di wajahnya itu tersungging dengan mata berbinar dan ekspresi datar yang masih terpampang.
Shikuni beralih ke dasi Chen. Melepasnya dengan perlahan layaknya melakukan itu pada suami sendiri. Setelah terlepas, ia melemparnya asal. Dengan cepat Shikuni menghantamkan telapak tangan mungilnya di dada Chen. Menekannya kuat hingga kuku-kuku panjang itu berhasil merobek kain kemejanya juga kulitnya mulai terasa perih.
SRAK!
"Aku mau ini!" Shikuni meraba sesutu yang detakannya melemah sekarang. Tersenyum girang yang terlihat mengerikan. Chen diantara sadar dan tidak dengan mata terpejam erat. Dadanya sesak. Sangat. Bahkan ia harus memutar otak untuk bernafas.
SRET!
"Haha! Aku mendapatkannya!" dengan sadisnya tangan mungil itu mengambil paksa sesuatu yang diinginkannya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Uh! Agak kotor." Shikuni mengernyit lucu.
Ia kemudian meninggalkan tubuh berlubang itu dan melangkah menuju kamar mandi di lantai atas.
"Nah, Chen-ssi si Kotak. Aku antarkan kau padanya saja, ya? Kasian Lay-ge, sendirian di sini."
PLUNG!
"Habiskanlah waktu kalian berdua." ujar Shikuni santai setelah melempar jantung Chen masuk bersama jasad Lay yang berada di bath up kamar mandi.
Shikuni berjalan menuruni tangga dan mulai melangkah kembali kearah ruang bawah tanah. Sebelumnya ia melihat sekitarnya dengan senyum puas yang sangat manis.
"Waktu sidang sebentar lagi..." gumamnya pelan dengan nada senang.
Sedetik kemudian ia masuk ke dalam ruang bawah tanah dan menutupnya. Keadaan luar rumah sudah hening dan sepi. Tidak ada angin ribut seperti beberapa detik yang lalu. Juga alunan musik itu...
CLEK!
Kotak musiknya kembali tertutup.
AUTHOR POV END
~TBC~
A/n: Hayo, lho! Ada yang mau protes Shi jadi gwishin (hantu) di sini? #mukanyalak Iya, Shi yang kasih tawaran ke ChanChen. Shi yg minta nyawa mereka semua biar gada yg bsa rebut lagi. *eh? Liat next chap-nya deh, gmn. Review, please... ^^
