Haloooo... Apa Kadabra..? Selamat berjumpa kembali kawan-kawan. Gimana Ujian Nasionalnya ? Pasti sukses donk.. Minimal dari 30 soal bisa jawab setengahnya lah.. Sisanya, bisalah nengok kanan-kiri atau tanya ama pengawasnya.. Haha. Lupakan komentar gak jelas saya. Silahkan nikmati chapter terbarunya..
Chapter 21
.
.
.
Padahal Naruto ingin sekali bersantai. Padahal bocah pirang itu ingin sekali beristirahat meski hanya sebentar saja. 30 menit atau 15 menit. Atau jika itu masih terlalu lama, mungkin 5 menit saja, asal dia bisa memejamkan matanya sekejap. Atau jika itu pun masih dianggap terlalu lama juga, maka kalau bisa 1 menit saja berikan waktu baginya hanya untuk sekedar menghela nafas.
Naruto benar-benar merasa sangat frustasi di atas segala rasa frustasi. Mungkin kalau dibuat level, kadar kefrustasiannya saat ini sudah memasuki stadium mega. Sebuah tahap yang seharusnya membuat bocah pirang itu lebih memilih memotong nadi di tangannya daripada harus terus bergulat dengan berbagai macam masalah di dalam kehidupannya. Tapi apa mau dikata, jalan pintas nan super bodoh itu tidak pernah tercantum dalam daftar skala prioritas hidup Naruto untuk saat ini. Baginya, mengeluh tentang kehidupan masih lebih baik daripada mengakhiri kehidupan itu sendiri.
Belum genap mereka beristirahat dalam waktu 1 menit, sebuah kejadian tidak diinginkan kembali lagi terjadi. Lee, tubuh pemuda berambut klimis itu tiba-tiba saja ditarik masuk ke dalam saluran air. Naruto tidak bisa melihat siapa yang melakukannya. Kejadiannya begitu cepat, hingga dia sendiri pun masih tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Tapi satu hal yang perlu digaris bawahi oleh Naruto dan yang lainnya adalah, jika tidak lama lagi satu masalah baru akan segera menghampiri mereka.
"Leeee..." teriak Neji panik.
Pemuda berambut panjang itu segera melompat turun ke dalam air. Tenten sebenarnya hendak menyusul Neji sebelum akhirnya lengan kanan gadis kuncir kuda itu ditahan oleh Naruto.
"Biar aku saja.." ucap Naruto menahan kepergian Tenten.
Awalnya Tenten berusaha berontak. Namun setelah menatap mata Naruto yang penuh kesungguhan, gadis kuncir kuda itu pun akhirnya luluh.
Naruto segera bergegas menyusul kepergian Neji bersama dengan Shino. Shikamaru tidak ikut serta karena terlihat kondisinya yang begitu kesakitan akibat kram yang terjadi pada kakinya. Sedangkan Sai, entah kenapa bocah kulit pucat itu langsung tak sadarkan diri sesaat setelah tiba di tempat itu.
Naruto sudah hampir melompat ke dalam air, hingga tiba-tiba sesuatu membuat bocah pirang itu membatalkan niatnya. Setengah mati dia menahan rasa takut akan apa yang dia lihat di depan matanya. Saat ini, monster ular yang sebelumnya dirasa telah berhasil dia lumpuhkan sebelumnya kembali menampakan diri di hadapan bocah pirang itu.
Semua mata terpaku dengan apa yang mereka lihat. Tenten, gadis itu berteriak histeris mengetahui jika saat ini tubuh Lee tengah berada di dalam mulut sang monser ular. Monster ular itu tidak mencoba memakan Lee. Monster ular itu hanya sedang mencabik-cabik tubuh si pemuda klimis dengan kedua taringnya. Sang monster ular seolah tengah menunjukan kepada Naruto dan yang lain jika mereka akan bernasib sama seperti apa yang terjadi pada Lee saat ini.
Monster ular itu kemudian melemparkan tubuh tak berdaya Lee ke arah dimana Tenten dan Sakura berada. Seakan-akan tubuh pemuda klimis itu hanyalah seonggok sampah tak berguna. Untuk kedua kalinya, monster ular itu sekali lagi ingin menunjukan seberapa mengerikannya takdir yang akan ditanggung Naruto dan yang lain ketika berhadapan dengannya.
"Leeee !" teriak Tenten histeris melihat keadaan Lee.
Keadaan pemuda klimis itu sangat memprihatinkan. Beberapa bagian tubuhnya terkoyak cukup dalam hingga daging bagian dalamnya dapat terlihat dengan jelas. Mulai dari leher, bahu kiri, pinggang bagian belakang, dan kedua kakinya yang nampaknya telah remuk. Keadaan itu semakin diperparah dengan terus keluarnya darah dari bagian-bagian yang telah disebutkan.
Naruto tidak sanggup melihat kondisi tubuh Lee karena memang sebegitu mengerikannya. Ino, gadis pirang itu bahkan sampai memuntahkan isi perutnya akibat memaksakan diri melihat kondisi tubuh si pemuda klimis. Yang lain mungkin tidak beraksi separah Ino, namun bukan tidak mungkin mereka sama-sama tidak sanggupnya menatap pemandangan miris itu. Sempat dalam hati Naruto ingin bertanya kepada Sakura tentang bagaimana kemungkinan hidup Lee, namun sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Naruto meraba bagian samping pinggangnya. Bocah pirang itu menghembuskan nafas lega karena pedang miliknya masih tergantung indah di sana. Dia sempat berpikir jika senjata miliknya itu telah terlepas ketika melompat sebelumnya. Tanpa banyak waktu Naruto kemudian segera menghunuskan pedangnya kehadapan monster ular itu.
Naruto tidak tahu apakah monster ular itu punya akal pikiran atau tidak. Tapi jika melihat belum adanya pergerakan dari si monster hingga saat ini, membuat dugaan bocah pirang itu tentang monster itu memiliki kecerdasan memanglah tepat. Dari sudut pandang Naruto, yang dilakukan monster ular itu hanyalah terus mengamati. Monster ular itu seolah ingin tahu seberapa hancurnya mental Naruto dan yang lainnya setelah melihat keadaan Lee yang sudah tidak berdaya dan begitu mengenaskan.
Naruto merasa begitu marah dan kesal memikirkan kemungkinan itu. Darahnya tiba-tiba terasa berdesir. Bocah pirang itu merasa tidak terima diperlakukan seperti ini. Apalagi dengan fakta bahwa yang melakukannya hanyalah seonggok rongsokan mesin gila tidak ada gunanya sama sekali. Kemarahan naruto menjadi berlipat-lipat detik itu juga. Setelah memantapkan hati, dengan penuh amarah bocah pirang itu menerjang maju menyerang si monster ular terkutuk.
Seolah paham jika Naruto akan menyerangnya, monster ular itu segera melesatkan tubuhnya ke depan ke arah Naruto dengan mulutnya yang terbuka lebar. Andai saja Shino tidak segera menarik lengan Naruto, bocah pirang itu pasti akan bernasib sama seperti Lee. Lagi-lagi untuk kesekian kali hidupnya terselamatkan.
"Jangan gegabah, bodoh.." ucap Shino. Entah kenapa Naruto hanya mengangguk tanpa memprotes.
"Bagaimana keadaannya ?" Naruto menanyakan keadaan Lee. Meskipun dia sendiri sudah paham seperti apa jawabannya.
Shino hanya menggelengkan kepala. Sesuai perkiraannya, dengan luka tubuh yang separah itu peluang untuk hidup benar-benar sangat tipis. Samar-samar Naruto bisa melihat dengan jelas ekspresi terluka tercetak jelas disana. Meskipun bocah pirang itu tidak tahu sudah seberapa dekat hubungan Shino dengan Lee.
Monster ular itu mengibaskan ekornya ke arah Naruto dan Shino yang membuat keduanya harus menunda waktu berkabung mereka. Naruto berguling ke belakang sedangkan Shino melompat menghindari kibasan ekor itu. Bocah itu juga sempat menebaskan pedangnya disela-sela dia melompat hingga setidaknya berhasil membuat monster ular itu meraung kesakitan. Melihat hal itu, membuat Naruto paham jika kelemahan monster itu terletak pada bagian ekornya akibat luka yang sebelumnya telah dibuat oleh Sakura.
Naruto kemudian segera bangkit dan langsung menerjang bagian ekor monster itu. Sayang, seolah paham jika Naruto hendak menyerang bagian itu, si monster segera menariknya ke belakang. Bocah pirang itu mengumpat keras mengetahui usahanya gagal. Namun tiba-tiba saja sebuah anak panah kemudian melesat dan tepat mengenai mata kiri monster ular itu. Monster itu meraung kesalitan untuk kedua kalinya. Tanpa menoleh pun Naruto tahu siapa pelaku dibalik serangan itu.
Naruto beserta Shino segera menerjang monster ular itu memanfaatkan kesempatan yang telah dibuat oleh Sakura. Bocah pirang itu berlari memutar menghindari pandangan langsung dari si monster. Sedangkan Shino, bocah itu dengan sengaja menyerang monster ular itu dari arah depan bermaksud mengalihkan perhatiannya.
Naruto kira semua akan berjalan dengan begitu lancarnya. Tapi sekali lagi, untuk kesekian kalinya Dewi keberuntungan seolah sangat antipati kepada dirinya. Tubuh bocah pirang itu terhempas hingga tercebur ke dalam saluran air akibat kibasan ekor si monster, tepat ketika dirinya hendak menebas bagian belakang tubuh monster ular itu. Mungkin suatu saat nanti Naruto akan memberikan persembahan kepada Dewi keberuntungan jika dirinya masih hidup dan segala masalah yang menimpanya telah tuntas.
Naruto cukup kelabakan dalam bernafas. Bocah pirang itu sempat melupakan fakta jika dirinya saat ini tengah berada di dalam air. Setelah dirasa telah berhasil mengendalikan dirinya, Naruto segera menuju ke permukaan air. Namun tiba-tiba saja sebuah cengkraman menahan salah satu kakinya.
Saphire mata Naruto melebar kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini. Neji, pemuda berambut panjang itu saat ini tubuhnya tengah terhimpit batu besar di dasar air. Keadaan itu diperparah dengan pinggang sebelah kanannya yang mengeluarkan darah. Tanpa banyak waktu Naruto segera menolong pemuda berambut panjang itu sebelum semuanya terlambat.
Sembari berusaha menyingkirkan beberapa batu besar itu, Naruto terus berdoa berharap pemuda berambut panjang itu masih bisa bertahan untuk setidaknya sebentar saja. Bocah pirang itu bahkan tidak sanggup membayangkan jika nantinya harus kehilangan kembali salah satu temannya. Hingga saat ini hubungannya dengan Neji memang bisa dibilang tidak terlalu dekat. Bahkan terkesan cukup kaku. Namun entah kenapa Naruto merasa memiliki keterikatan dengan pemuda berambut panjang itu di masa lalu.
Naruto akhirnya berhasil menyingkirkan semua bebatuan yang menghimpit tubuh Neji. Bocah pirang itu pun segera membawa tubuh Neji ke permukaan sebelum dirinya sendiri kehabisan nafas. Setelah itu, dengan sekuat tenaga dia mengangkat tubuh pemuda berambut panjang itu dari air.
Keadaan di atas permukaan air rupanya tidak terlalu baik. Selepas terhempasnya Naruto ke dalam air, praktis hanya Shino serta Sakura yang setia menghadapi monster ular itu. Ya, hanya kedua orang itu yang masih memiliki tenaga. Sedangkan Ino dan Tenten, keduanya masih terus berusaha menyelamatkan nyawa Lee meskipun peluang hidupnya dirasa sudah sangat kecil. Sisanya, Sai masih pingsang dan Shikamaru, bocah pemalas itu masih terdiam terlentang tak bergerak. Naruto menduga jika kram yang dirasakan oleh bocah pemalas itu semakin menjadi.
Tanpa menunggu waktu lama, Naruto kemudian mengangkat tubuh Neji dan membawanya mendekati Tenten serta Ino. Dengan terburu-buru bocah pirang itu segera meletakan tubuh Neji yang tak sadarkan diri di samping tubuh Lee.
"Ada apa dengannya ?" tanya Tenten menangis melihat keadaan Neji. Kedua matanya terlihat sembab akibat terus –menerus menangis.
"Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kau cepat obati dia." Ucap Naruto seraya menunjukan luka di tubuh Neji.
Tenten segera bergerak cepat setelah melihat luka yang terdapat pada tubuh Neji. Sementara itu Ino masih terus berusaha menghentikan pendarahan pada seluruh tubuh Lee. Entah mengapa Naruto merasa apa yang dilakukan Ino hanya sia-sii saja. Bukanya bocah pirang itu tidak ingin Lee hidup. Namun jika melihat dari kondisinya saat ini, hal itu seolah hanya sebuah kemustahilan saja.
"Kau benar-benar masih tidak bisa bergerak, bung ?" tanya Naruto tiba-tiba pada Shikamaru.
"Ya, begitulah.. Setidaknya aku masih lebih baik dari pria di sebelahku." Jawab Shikamaru seraya menunjuk ke arah samping dimana terdapat Sai yang tergelak tak sadarkan diri.
"Ini buruk.." ucap Tenten bergetar.
"Ada apa ?" tanya Naruto penasaran.
"Persedian perban kita hampir habis. Jika membaginya untuk Neji maka Lee tidak bisa diselamatkan.." ucap Tenten lirih.
"Lalu kau mau membiarkan Neji mati kehabisan darah ?" tanya Naruto keras. Entah kenapa bocah pirang itu kesal dengan sikap Tenten saat ini. "Lihatlah situasinya ! peluang hidup Neji lebih besar daripada Lee. Kau bahkan tahu sendiri, bukan ?"
Tenten tercekat mendengar kata-kata Naruto. Sejak awal gadis itu memang sudah paham akan peluang hidup Lee, tapi entah kenapa sebisa mungkin dia selalu menyangkalnya. Seolah dengan usaha kerasnya keadaan Lee lambat laun akan berangsur membaik.
Gadis kuncir kuda kemudian menangis pilu. Naruto tahu apa yang diucapkan sangat kasar dan keterlaluan. Memilih salah satu temannya untuk tetap hidup bukanlah persoalan yang gampang. Tidak ada satupun dari pilihannya yang berujung pada kebaikan. Pada akhirnya hasilnya akan tetap sama, kematian salah satu dari keduanya.
"Biar aku yang melakukannya.." ucap Ino. Gadis pirang itu sepertinya paham akan situasinya. Ino tahu jika pada dasarnya Tenten tidak bisa memilih diantara keduanya.
"Tidak perlu dipikirkan, aku yang akan menanggung segala dosanya. Sekarang.. sebaiknya kau pergi membunuh monster ular itu. Serahkan semuanya padaku.."
Tenten menghentikan tangisan pilunya. Dia lalu menatap Ino intens. Seolah ingin melihat kesungguhan kata-kata Ino dari balik matanya. Sembari itu nampaknya dia juga coba meyakinkan dirinya sendiri. Gadis kuncir kuda itu kemudian bangkit berdiri dan segera berlari maju menyerang sang monster tanpa menoleh ke arah belakang.
"Terima kasih untuk pengendalian situasinya.." Ucap Naruto pada Ino.
"Jaga dia baik-baik.. Aku akan mengurus sisanya." Balas Ino tersenyum pahit. "Aku harap tindakanku ini benar.."
"Jangan sampai mati, bocah.. maaf kali ini aku tidak bisa membantu." ucap Shikamaru juga.
Naruto hanya mengangguk. Bocah pirang itu kemudian berbalik dan maju menyerang menyusul Tenten. Dari jaraknya saat ini, Naruto bisa melihat betapa beringasnya Tenten menyerang monster ular itu tanpa ampun. Bocah pirang itu tahu apa yang dilihatnya pada Tenten ada wujud pelampiasan perasaannya. Sungguh menyakitkan memang, tapi Naruto sendiri juga tidak tahu cara apa yang lebih baik.
"Apa yang terjadi pada Neji ?" tanya Shino setelah Naruto mendekatinya.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku menemukannya tak sadarkan diri dan terhimpit batu-batu besar dengan luka di bagian pinggangnya di dalam saluran air." Jawab Naruto.
"Lalu ada apa dengannya ?" tanya Shino menunjuk ke arah Tenten.
"Panjang ceritanya." Jawab Naruto ringkas. "Sekarang, apa kau punya rencana ?"
"Menurutmu serang monster itu sampai mati adalah sebuah rencana ?" tanya Shino balik.
Naruto mengerutkan dahinya seraya menatap Shino. Bocah itu balas menatapnya dengan tersenyum kecut seolah berucap pada Naruto jika sebenarnya dia tidak punya rencana apapun. Bocah pirang itu pun akhirnya paham. Dalam benak Naruto, pada situasi seperti inilah terkadang peran Shikamaru dan Neji sangat dirindukan.
Suara erangan Tenten terdengar melengking. Tangan gadis kuncir kuda itu berhasil dilukai oleh si monster. Reflek, Naruto dan Shino segera berlari menyelamatkannya. Dengan Sakura yang mencoba mengalihkan perhatian monster ular itu, Naruto akhirnya berhasil menyelamatkan gadis kuncir kuda itu. Sedangkan Shino, kali ini giliran dirinya yang melawan si monster dibantu Sakura.
"Kau tidak apa-apa ?" tanya Naruto khawatir.
"Tidak perlu dipikirkan. Aku akan membunuhnya saat ini juga." Jawab Tenten dingin. Gadis itu kentara sekali sudah diliputi oleh dendam.
Naruto menghentikan langkah Tenten yang bermaksud maju menyerang kembali. Bagi Naruto ini keliru. Memang benar apa yang dilakukan gadis itu saat ini adalah sebuah bentuk pelampiasan agar dirinya tidak memikirkan persoalan Neji serta Lee. Tapi jika kenyataannya seperti ini, apa yang dilakukan gadis kuncir kuda itu tidak ada bedanya dengan usaha bunuh diri paling konyol.
"Aku tahu apa sedang kau coba lakukan. Tapi bagiku.. tindakanmu ini benar-benar bodoh." Ucap Naruto keras.
"Aku tidak peduli !" Balas Tenten tidak kalah keras.
"Dengarkan aku, apa yang coba lakukan saat ini tidak ada bedanya dengan usaha bunuh diri paling idiot yang pernah aku lihat." Ucap Naruto kembali. Kali ini dia mencoba lebih tenang dalam berkata.
Tenten membuang muka. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Naruto. Bahunya bergetar pertanda dia kembali menangis. Naruto merasa bersalah melihatnya. Dia benar-benar terlihat seperti pemuda brengsek yang tidak bisa memilah kata ketika berbicara dengan gadis yang tengah dirundung masalah.
"Oke, maafkan atas pemilihan kata-kataku barusan. Aku hanya mencoba peduli padamu saja, tidak lebih.." ucap Naruto memberikan penjelasan atas pernyataannya.
Tenten hanya terdiam. Gadis itu sepertinya tidak merespon perkataan bocah pirang itu yang membuat rasa bersalahnya menjadi berkali-kali lipat. Naruto tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Baginya, memahami perasaan seorang gadis adalah sebuah pekerjaan yang cukup memusingkan kepala.
"Sampai kapan kalian membatu seperti itu ? cepat bantu kami menghabisinya !" teriak Sakura dari jauh.
Tanpa banyak bicara, Naruto dan Tenten segera berderap menuju Sakura serta Shino yang terlihat kesulitan menghadapi si monster ular. Sakura, gadis itu nampaknya juga telah kehabisan anak panahnya. Sehingga kali ini dengan terpaksa gadis musim semi itu menyerang menggunakan nunchaku miliknya, meskipun sudah menjadi rahasia umum jika menyerang dengan jarak sedekat itu akan sangat beresiko.
Tenten lagi-lagi menerjang monster ular itu tanpa ampun dari arah depan. Gadis kuncir kuda itu seolah tidak peduli jika nasibnya akan berakhir sama seperti Lee. Melihatnya Naruto segera paham jika sejak awal Tenten sama sekali tidak pernah menganggap ucapannya. Ada rasa kesal di dalam benak bocah pirang itu, tapi mau bagaimana lagi. Dengan mengeratkan genggaman pada sebilah pedang di tangannya, Naruto segera maju menerjang sang monster.
Naruto mencoba menebas sekuat tenaga bagian kepala si monster ular dengan pedangya. Tapi sayang serangannya kembali gagal. Kepala monster itu rupanya sekuat baja. Bocah pirang itu cukup kesal mengetahui fakta itu. Namun sebelum dia sempat mengumpat kesal, monster ular itu justru balik menyerangnya. Beruntung bagi Naruto karena dirinya masih sempat menghindari serangan itu dengan merundukan seluruh tubuhnya.
Naruto kemudian berguling ke samping. Terlihat kali ini Shino yang berusaha menyerangnya dibantu oleh Sakura beserta Tenten, yang lagi-lagi menyerang secara membabi-buta. Bocah pirang itu lalu bangkit dan bersiap menyerang kembali. Namun tanpa sadar, bola mata birunya tiba-tiba saja menangkap sesuatu hingga memaksa Naruto menghentikan langkahnya. Dia pun lantas tersenyum seolah telah mendapatkan pencerahan tentang bagaimana caranya menaklukan monster ular itu.
"Sakura !" teriak Naruto memanggil Sakura.
Gadis musim semi itu kemudian bergegas mendekati Naruto setelah mendengar namanya disebut. Gadis itu langsung memasang wajah penuh tanya kepada Naruto. Tanpa buang waktu bocah pirang itu segera membisikan rencananya pada Sakura. Setelah selesai, gadis itu segera berlari pergi meninggalkan Naruto.
Setelah memberitahukan rencananya pada Sakura, Naruto kemudian menghambur mendekati Shino dan Tenten yang masih berusaha mengimbagi monster ular itu. Bocah pirang itu pun langsung membisikan rencananya pada Shino serta Tenten. Naruto bersyukur karena mereka berdua ternyata menyetujui rencana yang telah dibuatnya.
Setelah sepakat, ketiganya segera melakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Awalnya mereka menyerang bertiga secara bersama-sama. Naruto bagian depan, sementara baik Shino maupun Tenten menyerang bagian samping monster ular itu. Memang tidak ada hasilnya, namun setidaknya itu cukup untuk membuat sang monster marah besar.
Melihat rencananya dalam membuat monster ular itu marah telah berhasil, Naruto beserta Shino dan Tenten segera melarikan diri. Sesuai dugaan bocah pirang itu dalam serangkaian rencananya. Monster ular itu mengejar mereka bertiga tanpa merasa curiga sedikitpun. Hingga pada akhirnya mereka bertiga berhenti pada suatu tempat dimana pada lantainya terdapat tanda X besar tercetak disana. Mereka kemudian segera berbalik dan menghunuskan senjatanya pada sang monster yang terus menguntit tepat di belakang mereka bertiga.
Naruto, Shino dan Tenten kemudian menerjang monster ular itu secara bersama-sama. Merasa tertantang, monster ular itu pun ikut menerjang maju ke arah mereka bertiga. Seolah paham jika monster itu akan menyerang balik, dengan cepat mereka bertiga segera menghindar menjauhi si monster. Lebih tepatnya menjauhi tempat bertanda X pada bagian lantainya.
Merasa serangannya gagal, monster ular itu meraung murka. Makhluk mengerikan itupun segera membalikan diri bermaksud kembali menyerang Naruto dan yang lainnya. Namun, sebelum monster itu sempat merealisasikan niatnya, sebuah peti kemas ukuran besar jatuh berdebum layaknya palu Dewa langit menimpa tubuh monster ular itu.
Keadaan sekitar sesaat menjadi cukup menegangkan. Pasalnya, akibat jatuhnya peti kemas super besar itu, area sekitar menjadi berkabut akibat debu-debu bertebaran. Naruto merasa cukup resah dengan situasi ini. Bocah pirang hanya takut jika ternyata rencananya gagal dan monster ular itu menyerang balik mereka dalam keadaan tertutup kabut seperti ini.
Secara perlahan kabut yang menyelimuti tempat itu mulai memudar. Betapa leganya perasaan Naruto saat ini. Rupanya ketakutan akan gagalnya rencana yang telah dia buat nyatanya salah. Di depan matanya saat ini, sang monster tergeletak tak bergerak tertimpa peti kemas. Yang tersisa dari sang monster ular kali ini hanyalah kepalanya yang sudah tak berdaya. Pada akhirnya Naruto beserta Shino dan Tenten berhasil menaklukan sang monster ular super merepotkan itu.
"Apakah dia benar-benar telah mati ?" tanya Naruto pada yang lain.
"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong siapa yang menjatuhkan peti kemas itu ?" tanya balik Shino.
"Ya, sejak awal kau hanya menyuruh kami memancingnya agar menuju ke sini." Imbuh Tenten. Gadis kuncir kuda itu terlihat puas dengan apa yang terjadi pada si monster ular.
"Sakura." Jawab Naruto singkat. "Dia yang telah memutuskan tali yang menggantung peti kemas itu dengan anak panahnya."
Seolah tahu dirinya sedang diperbincangkan, Sakura mendekati mereka bertiga. Gadis musim semi itu rupanya ingin memastikan jika si monster ular telah tamat dengan melihatnya secara lebih dekat.
"Apakah berhasil ?" tanya Sakura pada Naruto.
"Ya.. Kau memang yang terbaik." Jawab Naruto. Sedangkan Sakura, gadis itu sedikit tersipu dengan ucapan bocah pirang itu.
"Ayo kembali.." Ucap Shino mengakhiri obrolan Naruto dan Sakura.
Setelah mengatakannya, Shino segera melangkah pergi diikuti Tenten yang berjalan dibelakangnya. Naruto menghembuskan nafas sebal sedangkan Sakura hanya membuang muka. Keduanya sangat tahu jika perkataan Shino itu adalah semacam kode jika bocah itu sedang tidak berselera menonton adegan roman picisan.
Mereka berempat akhirnya sampai di tempat dimana Ino dan yang lainnya berada. Terlihat Shikamaru yang terduduk. Bocah pemalas itu rupanya sudah terbebas dari rasa kram nya. Naruto kemudian memusatkan perhatinya pada pemandangan yang tersaji tepat di hadapannya. Di depan mata birunya, dua tubuh tergeletak tak berdaya.
"Bagaimana kondisi keduanya ?" tanya Tenten dengan terburu-buru.
Sejenak Ino tidak langsung menjawab pertanyaannya Tenten. Gadis pirang itu seolah tengah mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan sesuatu yang cukup berat bagi Tenten. Setelah merasa cukup, Ino kemudian menatap gadis kuncir kuda itu.
"Kondisi Neji berangsur membaik.." Ucap Ino seraya menggenggam kedua tangan Tenten seolah mencoba menguatkan gadis kuncir kuda itu.
"Tapi untuk Lee..." Ino sempat terdiam sebelum melanjutkan ucapannya. "MAAF.."
.
.
.
to be continue
.
.
Yosh, akhirnya bisa kelarin chapter 21 nya. Mohon maaf kalo minggu kemarin gak update. Maklum, imunitas tubuh saya baru saja mengalami kekalahan dalam melindungi diri. Sehingga menciptakan sebuah ketidak sinkronisan yang fatalnya membuat sistem kerja metabolisme menjadi kacau balau.. #Ngomongopoo? Lupakan cuap-cuap gak jelas saya barusan. Semoga chapter kali ini berkenan di hati teman-teman readers dan jangan lupa kasih review kecenya ya..
Balasan review :
The kidsno oppai : Oke siaapp..
Guest : Oke, akan saya usahakan.. tapi kalau gak sesuai ekspektasi mohon maaf ya. Saya gak bakat nulis part romance. Makasih buat review nya..
De-chan : Hmm, emang kaya gitu doank manis ya ? makasih banyak loh. Padahal aku pikir itu biasa banget.. hehe. Oh ya, perjalanan mereka emang masih panjang banget dan saya harap de-chan terus setia buat ngikutin kelanjutannya..
Guest : Hadeeh, untuk soal lemon saya angkat yang dah.. Saya masih terlalu polos.. Hahaha
Inuzukarei : Iya baru pembuka aja, doakan agar saya bisa bikin yang lebih spektakuler lagi. Haha.. Soal Sai yang ngasih nafas buatan itu saya terinspirasi dari fairy tail pas scene gajeel ama levy. Makasih buat reviewnya ya..
SR not Author : Hadeeh, lagi-lagi lewat gak bayar. Tapi gak papa, saya udah catet di buku tagihan. Entar kalo udah gajian jangan lupa bayar.. Haha
Winter hood : Haha, iya-iya.. mungkin Sai itu memegang prinsip "Kalo enggak sekarang kapan lagi" atau "Kesempatan tidak datang dua kali".. Makasih buat reviewnya ya..
Haruko Akemi : Salam jumpa Haruko san.. Gimana UN nya ? saya doa in semoga hasilnya super duper memuaskan. Soal bola gravitasi itu penjelasannya kaya gini loh.. Bentuknya bulat seukuran bola tenis dan kalo diaktifin dia bisa narik segala benda dalam radius jarak 3 meter dan bisa pula mementalkannya. Pokoknya cara kerjanya mirip Shira Tensei. Soal inspirasi, sebagian besar saya dapet dari beberapa novel macem Maze runner, Inferno, The lost symbol dan beberapa anime lainnya. Haha, kalo soal dibikin film sih saya harap yang bikin om Nolan yang entah bagaimana caranya tiba-tiba buka ffn.. hahaha #NgayalModeOn
Syalala-lala : sebuah benda jatuh dari ketinggian 20m, gaya gravitasi 9,8 m/s dan massa benda 60 kg dikurangi gaya gesekan. Pertanyaannya, berapa percepatan benda tersebut ? jawabannya adalah "Karena aku sayang kamu" haha.. (efek kebanyakan baca meme). Makasih buat review nya loh Lala-san. Tapi sebelumnya, emang sejak kapan saya janji bikin cerita romance based on true story ?
