Hallo teman tampan dan cantik ! ketemu lagi dengan saya author pembawa fic geje sedunia. Hahaha.. Gak perlu banyak basa-basi deh, silahkan dibaca kelanjutan fic nya. Jangan lupa reviewnya ya..

.

.

Chapter 22

.

.

.

Sudah 2 hari mereka berdiam diri di tempat asing itu. Setelah berhasil mengalahkan si monster ular, Naruto dan teman-temannya belum berminat beranjak dari tempat itu. Alasannya adalah karena kondisi Neji yang belum memungkinkan. Mungkin setidaknya butuh 2 hari lagi untuk masa recovery. Lagipula hingga saat ini pun si pemuda berambut panjang itu belum menunjukan tanda-tanda akan siuman. Sehingga sangat mungkin Naruto dan yang lainnya akan bertahan lebih lama di tempat itu.

Naruto mengedarkan pandangannya. Bola mata biru bocah pirang itu kemudian terhenti pada sebuah gundukan tanah tidak jauh di tempat Naruto duduk saat ini. Melihat itu, ingatan Naruto kembali berputar ke masa dua hari yang lalu. Masa dimana dirinya beserta yang lain harus merelakan kepergian salah satu teman perjalanannya bernama Lee. Ya, pemuda berambut klimis itu tewas akibat kehabisan darah dan gundukan tanah yang dilihatnya saat ini adalah tempat peristirahatannya.

Naruto meremas dadanya mengingat kenangan menyakitkan itu. Hubungan mereka berdua memang bisa dibilang tidak terlalu dekat. Namun kalau harus memilih antara Neji, Tenten dan Lee, maka Naruto akan segera memilih pemuda berambut klimis itu. Mengingat dari ketiga orang tersebut hanya Lee yang menurutnya tidak keras kepala daripada yang lainnya.

Naruto memandang gundukan tanah itu kembali. Bocah pirang itu kemudian menatap kedua tangannya. Masih segar dalam ingatan bocah pirang itu, bagaimana dia dan teman-temannya berusaha sebisa mungkin menggali lubang makam untuk Lee meskipun mereka tahu betapa susahnya menggali lubang di atas tanah marmer yang kekerasannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka bahkan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bisa menggali sedalam 1 meter.

Setelah dirasa cukup dalam, Naruto beserta yang lain segera menguburkan jasad Lee. Tidak ada rengekan tangis emosional pada saat itu. Tidak ada apapun. Tidak ada suara atau apapun juga. Segalanya terasa hening. Seolah segala kehidupan yang ada di tempat itu terkubur mati bersama dengan jasad Lee.

Naruto mengusap genangan air di sudut matanya mengingat hal-hal yang lalu. Bocah pirang itu merasa dirinya terlalu melankolis akhir-akhir ini. Dia sebenarnya cukup risih dengan keadaan itu. Tapi masalahnya, dia sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya. Entah kenapa, perasaan emosional itu terus meluncur begitu saja tak terbendung. Seolah memang seperti itulah dirinya.

Naruto kemudian bangkit berdiri. Bocah pirang itu berjalan tanpa berusaha mencoba mengenyahkan ingatan memilukan itu. Dia merasa harus melakukannya sekarang juga. Jika tidak, bisa dipastikan dirinya akan akan jatuh pada pribadi yang terlalu sentimentil. Menurutnya, bersedih itu memang perlu tapi terus-menerus terlarut di dalamnya bukanlah sebuah sikap yang bijak.

Naruto berpikir. Jika saja dirinya tidak ditemukan oleh Sakura dan yang lain. Kematian Kiba mungkin tidak akan pernah terjadi. Begitu pula dengan kematian Lee. Bocah berambut klimis itu mungkin saja tidak akan meregang nyawa, andai Neji, Lee dan Tenten tidak pernah bertemu dengannya. Dari kedua kejadian itulah membuat Naruto berpikir jika memang awal dari segala masalah adalah dirinya.

Sakura tiba-tiba saja mendudukan dirinya di sebelah Naruto. Bocah pirang itu tersenyum kaku menyapa si gadis merah muda. Setelah itu Naruto pun kembali lagi dalam mode poker facenya. Melihat sapaan aneh yang Naruto tunjukan, membuat Sakura bertanya-tanya perihal apa yang tengah dipikirkan bocah pirang itu saat ini.

"Hei.." ucap Sakura. "Ada apa denganmu ?"

Naruto menoleh mendengar pertanyaan Sakura. Bocah pirang itu bisa melihat raut khawatir terlihat jelas di wajah Sakura.

"Menurutmu ?" tanya balik Naruto.

Sakura mengerutkan keningnya tanda tidak paham dengan pertanyaan balik Naruto yang terkesan ambigu. Naruto yang melihat ekspresi kebingungan itu kemudian menghembuskan nafas sebelum berucap kembali.

"Aku hanya.. Aku hanya berpikir apa yang akan terjadi pada kita ke depannya." Ucap Naruto mangarakan pandangannya ke depan dengan tatapan sayu.

"Setelah beberapa hal yang telah kita lalui. Awalnya, kupikir kematian Kiba adalah sebuah takdir yang memang harus kita terima. Tapi setelah melihat apa yang terjadi pada Lee, aku merasa.. aku merasa itu adalah konsekuensi dari apa yang coba kita lakukan selama ini."

"Tidak.. bukan kalian. Lebih tepatnya karena aku." Ucap Naruto kembali. "Kupikir akulah yang harus bertanggung jawab atas segala masalah yang menimpa kalian. Jika saja kita tidak pernah bertemu, hidup kalian pasti akan lebih baik."

Sakura menatap Naruto intens. Gadis musim semi itu kemudian meraih tangan pemuda di hadapanya dan menggenggamnya. Jujur, Naruto tidak tahu apa yang coba dilakukan oleh Sakura padanya. Bocah pirang itu hanya mengira jika gadis di hadapannya itu sedang mencoba menenangkan dirinya.

"Kau merasakannya ?" tanya Sakura pada Naruto.

Naruto menatap Sakura dengan ekpresi tak mengerti. Jika saja ini adalah sebuah pertandingan, mungkin skor yang terpampang saat ini adalah 1-1. Sebelumnya dia yang berhasil membuat Sakura kebingungan dan kali ini dirinyalah yang dibuat bingung.

"Kau merasakannya ? Kau merasakan genggaman tanganku ?" tanya Sakura kembali. Naruto hanya mengangguk mengiyakan.

"Andai saja kita tidak bertemu, kau tidak akan merasakan genggaman tangan ini. Kau tahu kenapa ? karena aku sudah mati. Kau tahu kenapa aku mati ? karena tidak kau yang memperingatkanku jika akan terjadi pengeboman di kota Konoha."

"Dengar.. Semua yang telah terjadi, semua yang telah menimpa kita. Tidak ada satupun yang berpikir itu semua adalah karena mu. Karenanya, jangan pernah mengatakan kalimat bodoh itu lagi." Ucap Sakura dengan tegas.

Naruto tersentak mendengar penuturan Sakura. Bocah pirang itu merasa begitu bodoh. Tanpa sadar air mata haru berlinang di kedua mata birunya. Dengan penuh emosional bocah pirang itu merengkuh erat tubuh gadis merah muda di hadapannya, seolah tidak akan ada kesempatan lagi baginya.

"Terima kasih.. terima kasih untuk tetap berada di sampingku." Ucap Naruto seraya menghapus air matanya. Sebenarnya dia sedikit merasa malu dengan sikap cengengnya itu. Tapi entah kenapa untuk kali ini dia seolah tidak peduli.

"Berhentilah menangis, bung.. wajahmu benar-benar jelek sekali." Balas Sakura tersenyum mengejek.

Naruto tidak membalas ejekan Sakura. Bocah pirang itu terlihat masih terbawa suasana melankolis hatinya. Dia bahkan semakin terisak ketika Sakura membalas pelukannya. Dia tahu dirinya sudah terlampau berlebihan. Tapi untuk kali ini saja dia merasa perlu mengeluarkan segala emosi yang selama ini ditekannya dalam-dalam.

"Maaf... apa aku terlalu berlebihan ?" tanya Naruto sembari menghapus air matanya.

"Aku pikir yang tadi itu cukup menakjubkan untuk ukuran seorang anak laki-laki." Balas Sakura. "Tapi tidak masalah, itu bukti jika kau seorang manusia biasa.

Naruto tersenyum mendengar jawaban Sakura. Bocah pirang itu kagum dengan segala penuturan gadis musim semi itu hari ini. Baginya Sakura bukan cuma terlihat seperti seorang teman dekat. Namun juga sebagai seorang kakak perempuan yang selalu menjaga serta menguatkan dirinya. Naruto bahkan mulai berpikir apa jadinya dirinya jika tidak berjumpa dengan Sakura. Memikirkan hal itu membuat dirinya merasa seperti orang yang plin-plan.

Mereka berdua kemudian bergabung bersama dengan yang lain. Tentunya setelah Naruto menghapus semua sisa air mata di wajahnya. Bocah pirang itu merasa perlu melakukannya dengan alasan menjaga image. Sakura tidak keberatan akan hal itu. Gadis itu hanya bisa tersenyum ketika Naruto mengatakan padanya.

"Kita harus segera keluar dari tempat ini.." ucap Shikamaru setelah Naruto dan Sakura tiba.

"Tidak saat ini juga. Neji memang telah sadar. Tapi kita tidak mungkin memaksanya bergerak untuk saat ini." balas Tenten.

"Hei.. kau bilang Neji telah sadar ?" tanya Naruto menyela percakapan antara Shikamaru dan Tenten. Bocah pirang itu merasa ketinggalan berita.

"Kenapa aku tidak melihatnya ?" tanya Naruto kembali.

"Dia sedang tidak ingin diganggu." Jawab Tenten. "Jadi.. aku harap kau tidak menganggunya saat ini."

Naruto tersenyum miris mendengar jawaban Tenten. Awalnya bocah pirang itu berniat segera menemui Neji begitu mendengar pemuda berambut panjang itu telah siuman. Tapi setelah mendengar penuturan Tenten, bocah pirang itu membatalkan niatnya. Naruto merasa paham dengan alasan yang membuat Neji ingin menyendiri sejenak dan itu tidak lain adalah karena kematian Lee. Seorang rekan sekaligus teman perjuangan pemuda berambut panjang itu.

Memikirkan soal kematian Lee membuat suasana hati Naruto kembali memburuk. Bocah pirang itu lagi-lagi merasa bersalah atas kejadian itu. Meskipun Sakura telah mengatakan jika apa yang telah menimpa Lee bukan tanggung jawabnya, tetap saja lubuk hatinya selalu memberontak menyangkalnya. Bocah pirang itu pun kemudian bangkit berdiri tanpa berucap satu katapun pada yang lainnya.

Naruto terus berjalan menjauh dari dari kumpulan teman-temannya. Bocah pirang itu bahkan tidak sadar jika saat ini dirinya tengah melangkah mendekati Neji. Dia baru mulai menyadari hal itu ketika sosok si pemuda berambut panjang tertangkap di lensa mata birunya.

"Oh, ya Tuhan.. maaf. Aku tidak bermaksud menganggumu, bung." Ucap Naruto merasa tidak enak.

Neji hanya melirik Naruto sekilas. Pemuda berambut panjang itu tidak merespon ucapan Naruto sama sekali. Setelah itu dirinya kembali mengalihkan pandangannya ke depan seperti sebelumnya. Meskipun tidak enak, Naruto tetap saja mendudukan dirinya di samping pemuda berambut panjang itu. Bocah pirang itu pun duduk dalam diam sembari menatap pemandangan ruangan gelap di hadapannya.

"Bagaimana kondisimu ?" tanya Naruto basa-basi. Bocah pirang itu rupanya berusaha sebisa mungkin membuka pembicaraan.

"Kau bisa lihat sendiri kan ?" jawab Neji tanpa menatap Naruto.

Naruto menelan ludahnya dalam-dalam mendengar jawaban Neji. Bocah pirang itu tidak mengira jika respon Neji akan kehadiran dirinya benar-benar sangat dingin. Suasana yang sebelumnya ingin Naruto buat lebih nyaman kini beralih menjadi terkesan sangat kaku. Bocah pirang itu merutuki dirinya sendiri.

Mereka berdua berdiam diri cukup lama. Samar-samar Naruto mengamati tatapan pemuda disampingnya. Tatapan Neji terkesan kosong. Meskipun faktanya bahwa saat ini dirinya tengah menatap ruangan gelap di hadapannya.

"Apa yang sedang kau lihat ?" tanya Naruto. Bocah pirang itu rupanya berusaha mengambil alih perhatian pemuda di sampingnya.

Neji pun menoleh. Betapa terkejutnya Naruto melihat pandangan mata tak bernyawa tercetak jelas di mata pemuda berambut panjang itu. Naruto tidak mengira jika kehilangan Lee akan berdampak cukup buruk bagi Neji. Lagi-lagi, perasaan bersalah muncul kembali di dalam benak Naruto.

"Kehampaan.." balas Neji singkat.

"Aku minta maaf soal Lee.." Ucap Naruto dengan kepala tertunduk.

"Kenapa kau berkata seperti itu ?" tanya Neji. Pemuda berambut panjang itu mengalihkan kembali pandangannya ke arah Naruto.

"Jika ada seseorang yang paling tepat disalahkan atas apa yang terjadi pada Lee. Orang itu tidak lain adalah aku." Ucap Neji kembali. Tatapan matanya menunjukan ekspresi rasa bersalah.

Naruto tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bocah pirang itu kira dirinyalah pihak yang pantas untuk disalahkan atas apa yang terjadi pada Lee. Tetapi setelah Neji mengatakan bahwa dialah yang merasa bertanggung jawab, Naruto justru merasa aneh dengan perasaan rasa bersalah yang selama ini dirasakannya itu. Bocah pirang itu kemudian berpikir mungkin saja perasaan yang sama juga menghinggapi teman-temannya yang lain.

"Ini aneh.." Ucap Naruto. Neji menatap pria kuning disampingnya.

"Kau tahu.. Awalnya kupikir, akulah yang pantas disalahkan atas segala hal yang menimpa kita semua." Ucap Naruto kembali.

"Tapi, setelah mendengar jika kau juga merasakan hal yang sama. Aku berpikir apakah yang lainnya juga merasa bersalah seperti kita ?"

"Tidak, ini berbeda. Dia temanku.. karena itulah apa yang kurasakan sangat berbeda dengan apa yang kau rasakan." Timpal Neji merasa tidak setuju.

Naruto mengangguk tanda setuju dengan ucapan Neji. Lee dan Neji berteman baik adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Namun, bocah pirang itu merasa tidak setuju jika hanya Neji yang harus menanggung beban bersalah itu. Memikirkan hal itu membuat Naruto merasa bodoh karena sebelumnya dia juga merasakan hal yang Neji rasakan saat ini. Beruntung bagi Naruto, karena ada Sakura yang menyadarkannya.

"Kau benar.. Dia teman baikmu." Balas Naruto. "Tapi.. dia juga telah menjadi temanku."

"Aku dan teman-temanku mungkin baru bertemu dengan kalian. Tapi dengan segal hal yang telah kita lalui hingga saat ini. Mustahil jika ikatan yang terbentuk diantara kita tidak bertambah kokoh." Ucap Naruto.

"Dengar.. Kau dan kita semua harus membagi rasa sakit ini bersama-sama. Jangan pernah mencoba menanggungnya seorang diri." Ucap Naruto kembali. Setelah mengatakannya, bocah pirang itu segera bangkit berdiri dan kemudian melangkah pergi.

.

Naruto terbangun dari tidurnya. Setelah perbincangannya dengan Neji, bocah pirang itu tiba-tiba merasa mengantuk. Tanpa banyak pikir dia segera terlelap tidur setelah sebelumnya berhasil menemukan tempat yang dirasanya cukup nyaman. Saat ini, satu hal yang terlintas di pikirannya ketika terbangun adalah sudah berapa lama dirinya terlelap ?

Naruto segera bangkit dan bergegas menuju ke tempat yang lain biasanya berkumpul. Setelah sampai di tempat yang telah dia tuju, tidak ada seorang pun berada disana. Bocah pirang itu kemudian mencari ke tempat yang lain namun hasilnya tetap saja nihil. Sebelum dirinya sempat panik dan berpikir ditinggalkan oleh teman-temannya seseorang berteriak memanggilnya.

"Hei bocah pirang !" teriak Tenten memanggil Naruto.

Naruto segera menoleh mendengar Tenten berteriak memanggilnya. Gadis kuncir kuda itu saat itu berada di depan sebuah pintu besi yang bentuknya sama persis dengan pintu-pintu kapal.

"Cepat kemari.. Ada sesuatu yang harus kau lihat." Ucap Tenten dengan lantang.

Naruto mengangguk mendengar ucapan lantang Tenten. Naruto lalu berjalan mendekati gadis kuncir kuda itu. Mereka kemudian mulai memasuki pintu besi itu dengan Tenten memimpin di depan.

Sepanjang perjalanan, baik Naruto maupun Tenten keduanya saling menutup mulut. Sebenarnya Naruto merasa tidak nyaman dengan situasinya. Namun mengingat yang berada di dekatnya adalah Tenten, seorang gadis yang menurutnya bertemperamen keras kepala dan sulit untuk diajak bercanda, Naruto merasa suasana sepi seperti ini jauh lebih baik.

"Hei bocah pirang.." ucap Tenten memecahkan kediaman mereka berdua.

Naruto cukup terkejut mendengar Tenten memulai pembicaraan dengannya. Jujur, bocah pirang itu tidak pernah mengira hal ini bisa terjadi, kecuali gadis kuncir kuda itu mempunyai maksud yang lain dengan mengajaknya mengobrol.

"Ya.. ada apa ?" balas Naruto masih dengan keterkejutannya.

"Ini tentang Neji." Ucap Tenten. Sedangkan Naruto mengerutkan keningnya tanda tidak paham dengan maksud ucapan Tenten.

"Apa maksudmu ? ada apa dengan Neji ?" tanya Naruto balik.

"Dia tidak apa-apa." Jawab Tenten. "Aku cuma mau berterimakasih kepadamu karena berhasil membuatnya terbebas dari rasa sedih yang berlarut-larut."

"Bagaimana kau bisa tahu ? apa dia menceritakan obrolan kami berdua ?" tanya Naruto kembali.

"Tidak.. Itu.. itu jelas sangat tidak mungkin. Neji bukanlah tipe orang yang gemar berbagi cerita seperti itu." Jawab Tenten yang entah kenapa sedikit gelapan dalam menjawabnya.

Naruto hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan Tenten. Bocah pirang itu juga merasa jika berbagi cerita bukanlah gaya dari seorang Neji. Akan sangat mencoreng citra yang telah dibentuknya jika pemuda berambut panjang itu sampai melakukan sesi saling curhat satu sama lain. Lalu, bagaimana bisa Tenten mengetahuinya ? otaknya kemudian mendapatkan salah satu alternatif yang paling tepat dari pertanyaannya sendiri.

"Tunggu dulu.." Ucap Naruto menghentikan langkahnya. Otomatis Tenten juga melakukan hal yang sama.

"Jangan bilang kau menguping.." Terka Naruto tepat sasaran.

"Aku.. aku hanya.. aku hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua." Ucap Tenten gelagapan.

"Setelah kepergianmu yang jelas sangat aneh saat kita tengah berkumpul, kami berdebat cukup lama hingga pada akhirnya tidak mencapai kata sepakat sama sekali. Kami pun akhirnya memutuskan untuk mangakhiri pertemuan itu. Kami berpencar satu sama lain dan aku memilih untuk pergi menemui Neji." Ucap Tenten mulai menjelaskan.

"Lalu aku menemukanmu tengah berbicara dengan Neji. Aku cukup terkesan dengan kata-kata yang kau sampaikan padanya. Entah kenapa kau terlihat lebih bijaksana daripada biasanya." Ucap Tenten kembal.

"Bukankah memang seperti itulah diriku ?" tanya Naruto menyeringai.

Tenten tiba-tiba saja menonjok lengan kanan Naruto. Awalnya Naruto pikir gadis kuncir kuda itu kesal dengan pernyataannya. Namun setelah melihat wajah gadis itu yang juga ikut menyeringai, Naruto tahu jika gadis itu tengah mencoba mengakrabkan dirinya. Suasana yang sebelumnya terkesan kaku dan dingin pada akhirnya menjadi lebih renyah.

Sepanjang perjalanan, mereka berdua saling melemparkan candaan. Terkadang sangat lucu dan tepat sasaran, namun tidak jarang pula berakhir garing. Jujur, Naruto tidak mengira jika bisa seakrab ini dengan Tenten. Saat ini, gadis kuncir kuda itu menjelma menjadi sosok yang lain. Sosok yang lebih bersahabat dan nyambung diajak bicara. Sangat berbanding terbalik dengan kepribadiannya selama ini sealalu ditunjukkannya.

"Ngomong-ngomong soal Neji, kenapa kau begitu sangat menghormatinya ?" tanya Naruto penasaran.

"Apa maksudmu ?" tanya Tenten balik. Nada bicaranya terdengar kembali ketus seperti biasanya yang seketika membuat suasana kembali kaku.

Naruto merasa bodoh dengan apa yang telah ditanyakannya. Bocah pirang itu benar-benar merutuki keteledorannya. Dia pikir dengan apa yang telah mereka obrolkan selama ini Tenten bisa lebih terbuka. Perkiraannya ternyata salah, rupanya ada beberapa hal yang tidak bisa gadis kuncir kuda itu ceritakan.

"Lupakan.. sepertinya kau tidak ingin menceritakannya." Balas Naruto mencoba membangun kembali suasana.

"Tidak.. aku akan menceritakannya padamu." Ucap Tenten. Sontak Naruto menghentikan langkahnya karena tidak percaya.

Naruto kemudian menatap Tenten berusaha memastikan apa yang dia dengar. Terlihat gadis kuncir kuda itu tengah mencoba mengumpulkan segenap kata-kata yang ingin dia ucapkan. Naruto tidak tahu persis apa yang membuat Tenten sampai bersikap seperti itu. Namun jika boleh menerka, pasti sesuatu yang cukup berat dalam kehidupan gadis kuncir kuda itu.

"Sejak kecil aku dibesarkan di panti asuhan yang sebagian besar penghuninya adalah anak-anak korban perang yang kehilangan kedua orang tua mereka." Tenten mulai bercerita.

"Jadi keluargamu adalah korban perang ?" tanya

"Bukan.. lebih buruk dari itu." balas Tenten.

Naruto reflek menatap Tenten penuh tanda tanya. Ada raut kepedihan tercetak jelas di wajah gadis kuncir kuda itu. Ingin rasanya Naruto segera bertanya perihal itu, namun buru-buru dia membatalkannya.

"Mereka bilang aku adalah anak yang tidak diharapkan." Ucap Tenten kembali. "Aku ditemukan di tempat sampah. Kepala panti tanpa sengaja menemukanku dalam keadaan sangat memprihatinkan. Jika beliau terlambat sebentar saja, mungkin aku pasti sudah mati di tempat sampah itu."

Naruto hanya terdiam. Bocah pirang itu mencoba sebisa mungkin untuk tidak memberikan komentar. Saat ini, dia hanya perlu menjadi pendengar yang baik.

"Aku tahu fakta itu ketika usiaku beranjak 7 tahun setelah kepala panti wafat. Sebenarnya mereka tidak secara langsung menceritakannya padaku. Namun entah kenapa, kebenaran tentangku menyeruak begitu saja di sekitar panti."

"Awalnya aku pikir hal itu tidaklah masalah. Tapi rupanya aku terlalu naif. Lingkungan tempatku berada seolah menganggap hal itu sebagai sebuah hal yang tabu. Semacam penyakit yang harus segera disingkirkan."

"Sejak saat itu, hinaan dan cacian mulai rajin menghampiriku. Kemudian teror dan sebagainya. Puncaknya mereka menyiksaku secara fisik dan kemudian membuangku di tempat sampah, persis seperti yang dilakukan orang tuaku dahulu."

"Seseorang laki-laki paruh baya kemudian menemukanku. Dia lalu mengobatiku secara telaten hingga aku akhirnya sembuh. Dia begitu sangat baik dimataku, hingga akhirnya aku sadar jika alasan dia mengobatiku hanyalah untuk dijadikan pencuri kecil baginya."

Naruto masih cuma berdiam diri hingga saat ini. Bocah pirang itu masih berusaha sebisa mungkin menjadi pendengar yang baik.

"Aku akhirnya berhasil menjadi pencuri kecil yang sangat ahli berkatnya. Aku selalu berhasil melakukan pencurian tanpa pernah sekalipun tertangkap, hingga akhirnya aku berpikir jika inilah jalan hidupku yang sebenarnya. Tapi sekali lagi, aku terlalu naif. Aku tertangkap basah dan laki-laki paruh baya itu meninggalkanku sendiri diamuk massa."

"Aku merasa sangat terkhianati saat itu. Aku berpikir jika mati adalah cara yang tepat untuk mengakhiri segala penderitaannku. Aku pun pasrah dihajar oleh massa. Hingga akhirnya seseorang menyelamatkanku dan dia adalah Neji bersama kedua orang tuanya."

Tenten tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Otomatis Naruto pun menghentikan langkahnya. Gadis kuncir kuda itu terlihat begitu rapuh dimata Naruto saat ini. Namun diwaktu yang sama juga memancarkan aura ketangguhan yang begitu kuat. Naruto berani jamin, jika sama yang mengalami hal itu adalah gadis lain selain Tenten. Sudah pasti dia lebih memilih untuk menggantung diri.

"Mereka menyelamatkanku. Merawatku hingga sembuh. Aku pikir mereka sama halnya seperti laki-laki paruh baya itu. Namun rupanya mereka benar-benar tulus menolongku." Cerita Tenten kembali.

"Kemudian untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Neji yang saat itu telah bersama dengan Lee. Kau tahu ? dirinya yang dulu sangat berbeda dengan dia yang sekarang."

"Maksudnya ?" tanya Naruto. Pada akhirnya bocah pirang itu tidak tahan untuk membuka mulutnya bertanya.

"Maksudku sikapnya. Sebelum kedua orang tuanya meninggal karena sebuah insiden, dirinya adalah pribadi yang ramah dan hangat. Dia begitu ramah terhadapku. Mengajariku berbagai macam hal seperti pelajaran sains ataupun yang lain. Sesuatu yang selama ini tidak pernah sekalipun aku dapatkan di jalanan." Jawab Tenten. Naruto bersyukur karena gadis itu tidak kesal atas pertanyaannya.

"Semenjak kedua orang tuannya meninggal, berangsur-angsur sikap Neji mulai berubah. Dia menjadi lebih dingin dan suka menyendiri. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu." Jelas Tenten lebih lanjut.

"Aku tahu dia sangat terpukul dan dia butuh seorang teman di sampingnya. Karena itulah aku bersumpah untuk tetap selalu di sisinya dalam segala waktu. Mendukung dan melindungi segala sesuatu yang dilakukannya."

Mendengar cerita Tenten, Naruto mengangguk tanda mengerti. Keingintahuan bocah pirang itu selama ini tentang hubungan antara Neji dan Tenten akhirnya terjawab juga. Mereka berdua pun kembali melangkahkan langkah kakinya kembali.

"Terima kasih karena mau mendengarkan ceritaku. Aku tidak mengira jika kau lah orangnya. Kau tahu sendiri kan jika pertemuan awal kita memang sangat tidak baik ?" ucap Tenten.

Naruto hanya mengangguk kaku. Mereka terus melangkah mengikuti lorong gelap panjang. Hingga akhirnya sebuah cahaya di ujung lorong menerpa mata biru bocah pirang itu. Mereka berduapun mulai melangkahkan kakinya lebih cepat.

"Sebenarnya apa yang ditemukan oleh Sai di ujung sana ?" tanya Naruto penasaran.

"Kau akan terkejut dengan apa yang ada di ujung lorong itu.." balas Tenten menyeringai.

.

.

to be continue

.

.

Yosh..! akhirnya chapter 22 kelar juga. Saya mohon maaf untuk segala keterlambatan update nya. Saya gak mau kasih alasan karena memang sebagian besar keterlambatan ini terjadi akibat kemalasan saya dalam menulis. Karena itu dengan segala hormat, saya mohon maaf kembali untuk para readers. Terima kasih udah baca dan jangan lupa reviewnya ya..

Balasan review :

: Oke, ini udah dilanjut.. makasih buat reviewnya

SR not Author : kali ini aku ijinin, tapi besok-besok gak bisa. Hahaha.. tujuan mereka itu buat bertahan hidup doank sih..

Akira ken : Ya, Lee memang mati. Oke selanjutnya review terus ya..

PinKrystal : akan saya usahakan, tapi mungkin gak terlalu lovey dovey. Ngomong2 namanya kaya member GB f(x) ya? Hehe

Haruko akemi : Hai Haruko san.. Kita ketemu lagi, biar kata lama banget, hehe. Gimana nih pengumuman kelulusannya ? pasti lulus donk ya? Amien.

Syalala-lala : Hai lala san apa kabar ? maaf terlambat banget update nya. Kapan nih bikin fic canon lagi ? ide banyak banget tuh di novel naruto gaiden.

De-chan : Hahaha, terima kasih buat reviewnya. Semoga ke depannya masih terus setia baca fic geje ini yah..

Esya : Yap, terima kasih udah mampir