Hallo minasaaaan.. ! berjumpa lagi dengan saya. Bagaimana kabar semuanya ? apa ada yang remidial? Atau ada yang habis patah hati? Udah lah gak usah terlalu dipikirin. Mendingan baca aja chapter terbaru ini. Kali ini gak terlambat loh update nya? Semoga kalian suka dan jangan lupa review nya...!
Chapter 24
.
.
Ini adalah kali kedua Naruto menyaksikan salah satu temannya ditodong senjata api tepat di hadapan mata bocah pirang itu. Sebelumnya, kejadian serupa pernah terjadi pada Sakura dan Ino beberapa waktu yang lalu. Dimana ketika itu mereka tengah mencoba melarikan diri dari ledakan bom nuklir tentara perdamaian.
Ya, saat ini Tenten tengah dijadikan sandera oleh 3 orang asing yang diyakini oleh Naruto adalah pemilik sah tempat ini. Menurut Naruto, mereka tidak mungkin menodongkan senjatanya karena kesal makanan mereka telah dihabiskan. Tapi, lebih semacam sebuah ancaman pertukaran informasi. Mengingat sebelumnya mereka menyinggung mengenai Saturnus dan Naruto paham ini bukanlah pertanda yang baik.
3 orang itu terdiri dari 2 laki-laki dan 1 wanita. Laki-laki pertama berambut orange dengan berbagai macam pircing terpasang di wajahnya. Saat ini dia tengah asyik menodongkan pistolnya ke arah Tenten. Laki-laki kedua berambut merah sebahu dengan corak mata yang begitu aneh layaknya percikan air. Sekilas bisa diketahui jika dia adalah orang yang berpembawaan kalem. Sedang si wanita berambut biru langit dengan tatapan matanya yang dingin. Kepribadian wanita itu pasti tidak berbeda dengan laki-laki berambut merah yang berdiri di sebelahnya.
Semua diam tak berkutik. Ino terlihat berlindung di belakang tubuh Sai. Shikamaru dan Shino terlihat telah bersiaga barangkali akan terjadi pertempuran. Sedangkan Sakura, saat ini gadis itu berada tepat di samping Naruto seraya menggenggam kedua tangannya ketakutan. Naruto cukup berbunga, tapi tidak ada efeknya untuk saat ini.
"Jadi, kalianlah penghuni tempat ini?" tanya Shino kalem. Bocah itu seolah tidak gentar meskipun saat ini Tenten tengah di sandera.
"Apa perlu kujawab pertanyaanmu?" tanya balik laki-laki berambut orange.
"Tidak penting, lepaskan gadis itu. Kita bisa bernegosiasi..." Balas Neji. Tatapan matanya menjadi serius. Sedangkan Tenten, gadis kuncir kuda itu terlihat sangat ketakutan.
Si laki-laki berambut orange hanya menyeringai mendengar perkataan Neji. Dia kemudian menoleh ke arah kedua temannya. Si wanita terlihat mengangguk tanpa diketahui apa maksudnya. Sedangkan si laki-laki berambut merah tidak merespon. Laki-laki itu justru menatap Naruto dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Kenapa kau bisa yakin jika kami akan menerima tawaranmu?" tanya laki-laki berambut orange. Terlihat sekali dia tengah menguji mental Neji.
"Karena kalian menjadikannya sebagai sandera. Maka dari itu aku berkesimpulan jika kalian menginginkan sesuatu dari kami." Jawab Neji. Naruto cukup terkesima mendengar jawaban yang dilontarkannya.
Laki-laki berambut orange itu tersenyum mendengar jawaban Neji. Dia kemudian menarik mundur pistolnya dan melepaskan Tenten. Rupanya ketiga orang tersebut menerima penawaran dari Neji. Segera setelah bebas, gadis kuncir kuda itu pun berderap menjauhi ketiga orang asing tersebut.
"Nyalimu cukup besar bocah..." Ucap laki-laki berambut merah. "Sepertinya kau sudah sangat berpengalaman dalam hal-hal seperti itu..."
Neji tidak menjawab. Tatapan mata pemuda berambut panjang itu masih terlihat begitu serius seperti sebelumnya. Dia lalu berderap mendekati ketiga orang tersebut. Sebuah kejadian mengejutkan pun terjadi. Neji dan laki-lai berambut orange itu berpelukan layaknya sahabat yang lama tak berjumpa.
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Tidak aku sangka, rupanya kau telah tumbuh menjadi sosok pemuda yang tangguh, Neji," Ucap laki-laki berambut orange itu pada Neji.
"Ini semua berkat bimbingan kalian semua, senior..." balas Neji merendah.
Entah apa yang ada di kepaka Naruto dan yang lainnya saat ini. Diantara semua orang yang nampak kebingungan, Tenten terlihat paling tidak mengerti akan situasi yang dilihatnya saat ini. Yang jelas, baik Neji maupun ketiga orang asing tersebut harus menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa tiba-tiba saja mereka terlihat begitu akrab.
"Ada yang mau memberikan penjelasan pada kami semua?" tanya Naruto penasaran.
Neji berserta ketiga orang asing tersebut kemudian menoleh ke arah Naruto dan yang lainnya. Si laki-laki berambut orange lali tertawa terbahak-bahak. Sedangkan laki-laki rambut merah dan wanita rambut biru hanya tersenyum tipis, membuat Naruto dan yang lainnya menjadi semakin penasaran.
"Kami adalah senior Neji di akademi inteligent. Kami 2 tingkat di atasnya." Ucap laki-laki berambut merah menjelaskan.
"Ya, namaku Yahiko. Dia yang berambut merah bernama Nagato. Sedangkan wanita cantik itu bernama Konan," Sambung si laki-laki berambut orange (Yahiko) memperkenalkan diri pada Naruto dan yang lainnya.
Naruto menghela nafas lega. Bocah pirang itu sempat berpikir jika ketiganya akan menjadi musuh baru Naruto dan yang lain. Syukurlah, rupanya apa yang dilakukan oleh ketiganya beberapa saat lalu hanyalah sebuah gurauan semata. Tapi, apakah Tenten bisa menganggap hal itu hanyalah sebuah gurauan? Entahlah. Sebaiknya Naruto tidak perlu menanyakannya kepada Tenten secara langsung.
"Bagus... aku benar-benar objek gurauan yang terbaik. Kupikir ditembak mati lebih baik daripada mengetahui fakta bodoh jika sedari tadi hanyalah sebuah gurauan semata..." sindir Tenten sarkastis kepada ketiga orang tersebut. Sedangkan Naruto tertawa dalam diam mendengarnya.
"Tidak perlu dianggap serius nona muda. Kami memang sering melakukan. Bahkan untuk ukuran orang seserius Neji, dia masih bisa menerimanya. Apa hidupmu sangat tidak berwarna ya?" balas Yahiko. Laki-laki benar-benar tidak merasa bersalah. Tidak beda jauh dengan juniornya, Neji.
"Tidak, hidupku cukup berwarna kok," Timpal Tenten. "Maksudku berwarna kelabu lebih tepatnya..."
Pria bernama Yahiko itu diam tidak membalas. Jelas sekali jika Yahiko merasa sangat tidak enak atas ucapan yang dia lontarkan sebelumnya. Keadaan yang awalnya cukup enak, sesaat itu juga menjadi sedikit kaku. Merasa menjadi sumber dari situasi tidak menyenangkan, Tenten pun memilih melangkah pergi dari tempat itu.
"Kau mau kemana?" tanya Neji pada Tenten ketika gadis itu mulai melangkah pergi.
"Aku akan keluar sebentar. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku..." balas Tenten. Gadis kemudian pergi begitu saja meninggalkan yang lainnya.
Selepas kepergian Tenten, pria bernama Yahiko itu masih terdiam. Namun kali ini dia mencoba tersenyum ketika bertatap mata dengan Naruto dan yang lainnya. Ya, meskipun senyuman itu sangat kaku dan menyedihkan.
"Oh Ya Tuhan... untuk yang tadi, aku benar-benar minta maaf," Ucap Yahiko seraya menangkupkan kedua tangan sebagai tanda permintaan maaf pada Neji dan yang lainnya.
"Tidak perlu dipikirkan, senior..." Balas Neji. "Tolong juga maklumi sikapnya, beberapa hari ini Tenten dan kami telah mengalami kejadian yang cukup berat."
Yahiko hanya tersenyum ramah seraya menggaruk tenguk belakangnya yang dirasa tidak gatal. Sedangkan dua orang lainnya yaitu Nagato dan Konan hanya menganggukan kepalanya tanpa ekspresi. Entah mengapa, Naruto melihat kekontrasan karakter diantara mereka bertiga. Cukup lucu, namun juga menakjubkan secara bersamaan.
"Jadi, ada yang bisa menjelaskan kenapa kalian bisa ada di tempat kami?" tanya Yahiko. Laki-laki berambut orange itu kemudian mendudukan dirinya di sebuah kursi.
"Sebelumnya kami meminta maaf karena telah menghabiskan makanan kalian," ucap Neji seraya membungkukan badan. Tindakannya diikuti yang lain.
"...dan soal bagaimana kami bisa di tempat ini, ceritanya cukup panjang. Aku tidak bisa menceritakan semuanya. Tapi yang jelas, saat ini kami adalah target buruan tentara perdamaian."
Sorot mata Yahiko melebar seketika mendengar perkataan dari Neji. Ada rasa tidak percaya terpancar dalam sorot matanya. Hal yang sama rupanya terjadi juga pada laki-laki bernama Nagato dan wanita bernama Konan. Mereka bertiga seolah paham betapa mengerikannya tentara perdamaian itu sendiri. Ya, menghancurkan satu kota dengan bom nuklir kurang mengerikan apa lagi?
"Kau... kau serius?" tanya Yahiko tidak yakin. "Ini terlalu gila jika apa yang kau ucapkan memang benar adanya."
"Ya, kami memang sedang dikejar-kejar oleh tentara sakit jiwa itu..." jawab Naruto sarkastis.
Yahiko segera mengalihkan pandangan pada Naruto. Laki-laki itu terlihat seolah mencari tahu kebenaran dari ucapan yang dilontarkan oleh Naruto dari sorot matanya. Setelah dirasa cukup, laki-laki itu pun lalu menghela nafas berat. Ekspresinya sama persis seperti seseorang yang kehabisan stok makanan di akhir bulan.
"Jika memang itu benar, lantas apa alasan mereka mengejar kalian?" tanya Konan yang merupakan satu-satunya wanita dari ketiga orang itu.
Mulai dari Neji, Sai, Ino, Shikamaru, dan Shino dengan segera mengarahkan jari telunjuknya ke arah Naruto. Hanya Sakura yang tidak melakukannya. Gadis musim semi itu mungkin saja ingin melakukannya. Namun karena merasa tidak enak pada Naruto, Sakura pun akhirnya mengurungkan niatnya.
"Hei... hei... kenapa kalian semua menunjukku! Memangnya aku salah apa?" protes Naruto kepada yang lainnya.
"Kau tidak salah, bocah pirang. Hanya saja kau memang target utama mereka..." Balas Neji dengan raut wajah santainya.
Naruto merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Neji. Ditambah tatapan penuh selidik dari Yahiko, Nagato serta Konan, kekesalan Naruto berlipat ganda saat itu juga. Bocah pirang itu kemudian merasa perlu pergi dari tempat itu menyusul Tenten. Bukannya apa-apa, Naruto hanya risih jika harus menjadi objek pembahasan.
"Memang apa istimewanya bocah pirang ini?" tanya Nagato. Akhirnya untuk sekian lama laki-laki berambut merah darah itu membuka mulutnya.
"Kata istimewa rasanya kurang tepat..." timpal Shikamaru tidak setuju dengan ucapan Nagato. "Mungkin kata kontroversi lebih cocok untuk bocah pirang ini."
Ubun-ubun Naruto serasa berasap terbakar ketika mendengar kata "Kontroversi" disematkan Shikamaru kepadanya. Dia merasa seperti seorang idol yang hobinya hanya membuat skandal tanpa ada prestasi sama sekali. Rasanya, sifat menyebalkan Neji telah menular dengan sempurna kepada Shikamaru, atau mungkin saja memang bocah pemalas itu sama mennyebalkannya sejak awal.
"Jadi seberapa kontroversinya bocah pirang ini?" tanya Yahiko. Laki-laki berambut merah itu tersenyum geli ketika mengucap kata Kontroversi.
"Kalian pasti tidak akan mempercayainya..." balas Shikamaru santai. "Pertama, dia ditemukan dengan keadaan tubuh penuh luka, dan ketika tersadar, dia menyerang gadis merah muda itu seperti orang linglung..."
Yahiko dan yang lainnya hanya mengangguk sembari mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Shikamaru. Sementara Naruto, bocah pirang itu terlihat sangat kesal. Dia merasa seperti ditelanjangi oleh Shikamaru di depan semua orang. Tapi apa daya, mau protes pun rasanya tidak akan ada yang mau mendengarkan. Untuk saat ini opsi diam menjadi patung adalah pilihan yang paling tepat.
"Kedua, dia mengaku kehilangan sebagian besar ingatannya." Ucap Shikamaru seolah tengah memberi jeda. "Tapi, ada satu hal yang mungkin akan membuat kalian menganggapnya gila..."
"Apa maksudnya?" tanya Yahiko mengerutkan dahinya penasaran.
"Dia mengaku datang dari masa depan..." Jawab Sai. Kali ini bocah kulit pucat itu yang membuka mulut.
Yahiko, Nagato serta Konan segera bertukar pandang setelah mendengar fakta itu. Ada seperti komunikasi batin terlihat diantara ketiga orang itu. Mereka seolah tidak ingin jika obrolan ketiganya didengar oleh orang lain. Melihatnya pemandangan itu rasa ingin tahu Naruto pun kembali muncul setelah sekian lama.
"Baiklah, lalu apa lagi?" tanya Yahiko seolah tahu bukan hanya itu saja kabar mengejutkannya.
"Dia... dia adalah seorang Uzumaki," Ucap Neji jelas.
Naruto bisa melihat raut keterkejutan tercetak jelas di wajah Yahiko dan Konan, terlebih lagi pada Nagato. Raut laki-laki berambut merah itu seolah menolak akan kebenaran yang terkandung dalam ucapan Neji. Bahkan saat ini, laki-laki berambut merah itu menatap Naruto dengan tatapan penuh intimidasi. Ya, sepertinya Nagato benar-benar tidak menyukai fakta jika Naruto adalah seorang Uzumaki.
"Kau serius? Maksudku apa kau yakin akan hal itu?" tanya Yahiko seolah tidak percaya.
Naruto tidak menjawab pertanyaan itu. Lagipula, pertanyaan itu tidak harus dia pula yang menjawabnya. Lagipula juga, saat ini dia benar-benar sangat risih dengan tatapan intimidasi yang dilayangkan Nagato padanya.
"Keluarkan medali itu, Naruto... buktikan jika kau memang benar-benar seorang Uzumaki," Perintah Shino pada Naruto.
Naruto segera mengorek isi saku celananya. Tidak lama kemudian bocah pirang itu menunjukan medali itu dihadapan Yahiko, Nagato dan Konan. Bocah pirang itu pun segera membuka medalinya dengan gaya demonstrasi elegan dan penuh penghayatan. Naruto seolah ingin menunjukan kepada ketiga orang itu jika dia memang benar-benar seorang Uzumaki sebenarnya.
"Ini tidak mungkin... meskipun kau bisa membuka medali yang bisa disebut juga sebagai tanda kau adalah Uzumaki yang sebenarnya, aku tetap tidak bisa menerima fakta ini," ucap Nagato. Laki-laki benar-benar tidak terima akan fakta yang sudah terpampang jelas di depan matanya.
"Apa alasanmu tidak bisa menerimanya? Apa yang meragukanmu?" tanya Naruto. Nada bicara bocah pirang itu terdengar kesal.
Nagato tidak menjawab pertanyaan Naruto. Laki-laki berambut merah itu justru menunjukan sebuah benda yang berhasil mengejutkannya. Ya, itu adalah medali Uzumaki yang bentuknya sama dengan milik Naruto. Dengan ini sudah jelas jika laki-laki bernama Nagato itu adalah seorang Uzumaki juga sama sepertinya.
Sebenarnya, bukan hanya Naruto saja yang terkejut. Teman-temannya juga mengalami hal yang sama. Bahkan Neji yang notabennya adalah junior dari Nagato ikut-ikutan pula terkejut. Mungkin dia juga baru akan fakta tersebut.
"Ja... jadi kau juga seorang Uzumaki?" tanya Naruto dengan rasa terkejutnya.
"Ya, tapi itu tidak penting lagi saat ini." Jawab Nagato dingin.
"Apa maksudmu? Bagiku itu penting. Mungkin darimu aku bisa mengetahui fakta mengenai hal-hal tentangku. Seperti siapa aku dan siapa orang tuaku," ucap Naruto kesal.
"Kau ingin tahu kebenaran tentangmu?" tanya Nagato setengah berteriak. Laki-laki berambut merah itu benar-benar menjadi sosok yang berbeda.
"Kau hanyalah keturunan campuran yang hina. Lihat rambut pirangmu itu? semua keturunan Uzumaki berambut merah! Kau bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang Uzumaki. Camkan itu baik-baik, bocah..." ucap Nagato dingin.
Naruto menggertakan giginya kesal. Bocah pirang itu mengeram emosi. Tidak pernah dia kira akan mendapatkan jawaban seperti itu. Setelah mendengar cerita Ino tentang betapa hebatnya keluarga Uzumaki, Naruto kira semua orang akan menaruh hormat ketika mengetahui jika dirinya seorang Uzumaki pula. Tapi rupanya hal itu tidak terjadi. Ada beberapa pihak yang justru menolak dan mencemoohnya. Salah satunya adalah laki-laki berambut merah di hadapannya saat ini.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu? dan apa maksudnya dengan keturunan campuran yang hina?" tanya Sakura penasaran. Gadis musim semi itu terlihat cukup tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan Nagato kepada Naruto.
"Apa kalian tidak bisa mengira?" tanya Nagato balik. "Sudah jelas bukan, salah satu dari kedua orang tua bocah pirang itu pasti bukan seorang Uzumaki..."
Naruto tidak merespon perkataan Nagato. Bocah pirang itu bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Harga dirinya benar-benar telah dihancur-leburkan oleh laki-laki berambut merah itu saat ini. Kalau boleh, Naruto lebih memilih untuk ditelan bumi saat itu juga.
"Asal kalian tahu, aku adalah pihak Uzumaki yang sangat menjunjung tinggi kemurnian marga. Karena itulah aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan campuran yang mengotori kemurnian margaku. Tanyakan saja pada Hyuuga dan Uchiha, mereka juga pasti melakukan hal yang sama."
"...dan juga, aku tidak akan pernah menganggap keturunan mereka sebagai seorang Uzumaki," ucap Nagato menutup penjelasannya.
Naruto tersentak mendengarnya. Jadi itulah alasan sebenarnya Nagato ngotot menolak kebenaran Naruto sebagai seorang Uzumaki.
"Hei bung, apa kau salah satu orang kuno yang bergaya modern?" tanya Ino sarkastis. Sedangkan Nagato hanya diam tak merespon.
"Apa kau tidak tahu apa namanya cinta sejati ya?" tanya Naruto sekali lagi.
Nagato segera menoleh ke arah Ino. Ekspresinya tidak terbaca di awal. Namun tidak lama berselang, dia tersenyum mencemooh kepada Ino sebelum akhirnya dia membuka mulut merespon ucapan yang dilontarkan padanya.
"Gadis muda sepertimu tahu apa tentang cinta. Saat ini, bagimu cinta adalah sesuatu hal yang patut untuk diperjuangkan. Kau akan mengerjar-ngejarnya meskipun hidupmu akan sengsara dan juga menderita. Ya, itu hanyalah gambaran ilusi yang sering disajikan dalam drama percintaan. Faktanya itu pandangan itu akan segera terganti setelah kau tahu seperti apa dunia ini sebenarnya," balas Nagato.
"Setelah kau melihat dunia ini sebenarnya, pandangan mu terhadap cinta itu pun akan segera berubah. Saat itu kau pasti akan berpendapat jika 'cinta hanyalah produk kehidupan anak-anak remaja'," ucap Nagato.
Ino tidak mampu berkata-kata. Dia tertegun. Gadis pirang yang terkenal keras kepala dalam adu argumen itu hanya diam begitu saja. Naruto tahu jika Ino ingin sekalo membantah argumen itu. Namun bibirnya serasa kelu, seolah sebagian dari dirinya seperndapat dengan apa yang diucapkan oleh Nagato.
"Sudah cukup, perdebatan ini kita akhiri saja sampai di sini," ucap Yahiko menengahi.
Naruto membuang muka sementara Ino terlihat begitu kesal. Sai mencoba menenangkan gadis pirang itu namun sepertinya tidak berhasil. Gadis pirang itu masih terlihat tidak terima meskipun sebenarnya dia tidak bisa mengelak kata-kata yang Nagato lontarkan.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Yahiko pada Neji.
"Kami mungkin akan segera pergi dari tempat ini setelah selesai menyiapkan diri..." jawab Neji. "Tapi sebelumnya, bolehkan aku bertanya sesuatu senior?"
"Ya, kau bebas bertanya..." balas Yahiko santai.
"Sebenarnya, apa yang sedang kalian lakukan di tempat seperti ini? lagipula kenapa kalian bisa memiliki syair rahasia itu?" tanya Neji. "Maaf jika pertanyaanku membuat kalian tersinggung..."
Naruto cukup terkejut mendengar kalimat yang terakhir kali Neji lontarkan. Ini adalah pertama kalinya pemuda berambut panjang itu mengucapkan kata maaf kepada seseorang. Jauh Naruto coba mengingat tidak pernah sekalipun Neji melakukannya. Meskipun mungkin pernah, Naruto berani jamin tidak diiringi sikap penuh sopan santun seperti yang bocah pirang itu lihat saat ini. Bagi Naruto pemdangan itu cukup membuat hatinya lebih baik setelah beberapa menit yang lalu.
"Mungkin bisa dibilang sama seperti kalian..." jawab Yahiko santai. Sedangkan Naruto dan yang lainnya mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
"Oh ya ampun, maksudnya kami juga sedang dikejar-kejar seperti kalian," lanjut Yahiko menjelaskan lebih lanjut. "...dan mengenai syair itu. Sejak kami tiba di tempat ini syair itu sudah ada lebih dahulu dan tidak pernah sekalipun kami mencoba memecahkannya."
Neji hanya mengangguk paham. Sementara Naruto merasa hal itu bukanlah sebuah kebetulan semata. Pasti ada seseorang yang sengaja memasangnya agar segera dipecahkan apa yang terkandung di dalamnya. Jika memang hal itu yang terjadi, Naruto tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Boleh aku bertanya juga? Memang siapa yang sedang memburu kalian?" tanya Sakura penasaran.
"Mereka sama merepotkannya seperti tentara perdamaian." jawab Konan singkat.
Sebelumnya dia bertukar pandangan terlebih dahulu dengan kedua orang yang lain sebelum menjawab pertanyaan itu. terlihat jelas sekali jika mereka bertiga sangat berhati-hati dalam membagi informasi.
"Memang seperti apa mereka?" sambung Shikamaru penasaran.
Sebelum Yahiko sempat menjawab pertanyaan lanjutan Shikamaru, Tenten berlari mendekati mereka dengan tergesa. Jika dilihat dari raut wajahnya gadis kuncir kuda itu pasti membawa kabar berita buruk.
"Teman-teman maaf karena aku mengganggu sesi obrolan hangat kalian... tapi yang jelas kita kedatangan tamu," ucap Tenten kehabisan nafas. Gadis kuncir kuda itu rupanya berlari dari tempatnya berada.
"Tamu? Apa maksudmu?" tanya Neji penasaran.
"Aku tidak tahu. Mungkin saja mereka adalah senior-seniormu yang lain. Yang jelas aku tidak peduli..." Jawab Tenten masa bodoh.
Neji terlihat kesal dengan jawaban Tenten. Sementara itu baik Yahiko, Nagato dan juga Konan kembali bertukar pandangan. Melihat tingkah laku mereka, lama-lama Naruto merasa kesal juga.
"Bukan, mereka bukan seniornya..." balas Yahiko seraya berdiri.
"Lantas?" tanya Tenten balik.
"Mereka adalah senior kami. AKATSUKI..."
.
.
to be continue
.
.
Yosh! Chapter ke 24 berhasil diselesaikan tepat waktu. Wajar sih, mengingat kegiatan saya di dunia nyata lagi santai-santainya. Jadi bisa banget deh nyempetin waktu buat nulis chapter terbarunya. Saya ucapkan terima kasih untuk semua respon positifnya di chapter kemarin. Saya ucapkan terima kasih juga yang terus setia ngikutin fic ini dari dulu dan saya ucapkan terima kasih kembali untuk review di chapter kemarin. Saya harap untuk ke depan responnya juga selalu seperti ini. Terima kasih dan sampai jumpa
Balasan review :
Galura no Lucky : Hallow hallow Galura Sugoi Kakkoi... Kali ini udah bener banget kan? Makasih banget loh udah ngramein review di fic saya.. Jangan lupa buat reviewnya lagi ya
Haruko akemi : hallow Haruko san, waaah udah kepikiran langsung ke planet ya? Luar biasa banget loh. Soal Naruto yang kurang menonjol mungkin karena di chapter kemarin perannya emang Cuma segitu aja. Jadi keliatannya kurang keliatan. Makasih buat review nya ya
Fatih azzam : Wah ternyata nungguin lama ya? Saya mohon maaf kalo gt. Kalo dari rencana awal mungkin sampe 60 chapter. Itu juga kalo saya gak mentok idenya. Makasih buat review nya...
De-chan :Eh masa sih? Hahaha... mungkin mereka sependeritaan seperti saya. makasih buat review nya ya. Jangan bosen2 buat baca ama corat-coret di kotak review, hehehe
KenSherlocken : Sasuke ya? Hmm, dia ada tapi nongolnya nanti masih lama. Makanya tungguin ya, sampe si doi nongol.. makasih udah mau mampir
Ggg34 & guest : Yaaap, inilah chapter terbarunya...
SR not Author : wahh doyan ngegame online juga ya? Kirain cuma doyan baca fanfic doank... hehehe *piss*
: Yap, untuk saat ini iya pairing narusaku. Tapi saya gak janji mereka bakalan jadian di akhir cerita. Mengingat ini bukan fic romance. Makasih buat review nya. Jangan bosen2 buat terus baca ya
Berry uchiha : saya ucapkan terima kasih karena udah baca dan review fic ini. Semoga ke depannya gak pernah bosen.. terima kasih buat semangatnya
Syalala-lala : Hallow lala san... wah ternyata kamu juga lagi sibuk juga ya di duta. Berarti sama donk kaya saya. Ya biar kata sekarang udah gak sesibuk kemaren2. Makasih loh udah mau mampir
Narusaku-shinachiku : Terima kasih udah mau mampir. Mengenai pairing di fic ini, sebenarnya bukan prioritas utama saya. Karena memang fic ini bukan ff romance. Mungkin saat ini pairing narusaku, tapi kedepannya saya gak janji. Bisa terus sampe ending atau nanti diputus di tengah cerita. Dengan alasan menyesuaikan jalan cerita yang berasal dari ide pemikiran saya. Jadi, kalo memang harus seperti itu mau bagaimana lagi. Saya harap para readers menikmati ceritanya meskipun ada beberapa hal yang dirasa kurang sreg. Terima kasih buat review nya
Mira : Terima kasih... saya cukup senang karena Mira san suka dengan fic yang saya buat ini. Semoga ke depannya terus mantengin fic ini dan gak pernah bosen
