Hallo... Apa kabar Teman Temaran. Saya kembali lagi dalam waktu yang cukup lama. Semoga saja teman-teman masih ingat akan kehadiran saya. Silahkan dibaca dan jangan lupa corat-coret reviewnya.

.

Chapter 25

.

.

AKATSUKI. Naruto merasa pernah mendengar nama tersebut. Ya, sebelumnya Neji pernah menyinggung nama itu suatu waktu. Awalnya Naruto pikir itu adalah sebuah nama band terkenal asal Jepang. Tapi rupanya perkiraan bocah pirang itu keliru. Akatsuki adalah sebuah nama organisasi yang saat ini tengah mengejar orang dihadapan Naruto. Yahiko, Nagato dan Konan.

Naruto kemudian memutar kepala kuningnya kembali. Jika Akatsuki mengejar ketiga orang di hadapannya saat ini, sudah pastilah dirinya akan ikut terseret juga dalam permainan kucing-kucingan. Tapi mungkin jika Naruto dan teman-temannya meninggalkan ketiga orang itu saat ini juga melalui jalur lain, peluang mereka menghadapi masalah baru akan lebih berkurang.

"Mungkin sebaiknya kita segera pergi sekarang juga..." ucap Naruto memberi saran.

Baik teman-temannya maupun ketiga orang itu segera menatap Naruto dengan ekspresi yang berbeda-beda. Sebagian teman-temannya memberikan ekspresi tanda setuju dengan pendapat Naruto. Namun sebagian lagi memandangnya seolah bocah pirang itu adalah seorang pengecut kelas atas.

Neji, Tenten dan Shikamaru rupanya juga menatap Naruto dengan ekspresi tidak suka. Naruto bisa memaklumi sikap mereka berdua. Bahkan bocah pirang itu sudah menduganya dari awal jika akan mendapat penilaian seperti itu. Dia merasa tidak peduli. Saat ini bocah pirang itu hanya ingin selamat dan tidak ada korban jiwa lagi yang berasal dari teman-temannya termasuk dirinya sendiri.

"Ayolah, aku hanya ingin kita semua selamat. Tidak ada korban jiwa lagi..." ucap Naruto. Kalimat terakhir diucapkannya penuh penekanan.

"Bocah pirang itu benar, ini adalah masalah kami. Jadi sebaiknya kalian tidak perlu terlibat di dalamnya," balas Yahiko.

Naruto menatap Yahiko tidak percaya. Dia pikir laki-laki berambut orange itu akan memakinya sebagai pribadi yang tidak tahu diri. Rupanya perkiraannya salah. Yahiko justru mendukung pendapat bocah pirang itu. Melihat hal tersebut, Naruto merasa sangat sangat tidak enak.

"Tidak..." timpal Neji. "Kami tidak akan pergi tanpa kalian. Kami akan membantu kalian menghadapi Akatsuki."

"Hei... kenapa kau yang memerintah!" protes Ino tidak terima.

"Benar... Ini bukanlah pertarungan kita, Neji. Berpikir rasionalah!" sambung Sakura. Gadis merah muda itu sependapat dengan Ino.

"Justru dia berpikir sangat rasional daripada kalian semua..." ucap Shikamaru menimpali ucapan Sakura.

Entah kerasukan roh jahat apa yang membuat Shikamaru bisa sependapat dengan Neji. Naruto cukup terkejut melihatnya. Jika sebelumnya mereka saling berselisih paham, untuk kali ini mereka bisa satu pendapat.

"Apa maksudmu?" tanya Sai penasaran.

"Pergi dari tempat ini tanpa bantuan mereka bertiga adalah sebuah tindakan sia-sia. Mereka bertiga bisa bermanfaat bagi kita menunjukkan jalan keluar yang aman," jelas Shikamaru menjabarkan.

"Lagipula aku justru sangat penasaran dengan alasan Akatsuki mengejar kalian bertiga?" tanya Shikamaru pada mereka Yahiko, Nagato serta Konan.

Jawaban Shikamaru awalnya tidak bisa diterima Naruto. Namun, setelah mendengar kalimat bocah pemalas itu yang penasaran akan alasan Akatsuki mengejar mereka bertiga membuat rasa ingin tahu Naruto mulai bangkit kembali. Setelah dipikirkan kembali, pendapat Neji dan Shikamaru ada benarnya juga.

Yahiko tidak merespon pertanyaan Shikamaru. Laki-laki rambut orange itu nampak sekali enggan menjawab pertanyaan itu. Seolah hal yang akan di ucapkannya adalah sebuah rahasia terkutuk. Sedangkan Nagato dan Konan, keduanya saling berpandangan penuh tanda tanya satu sama lain. Mereka berdua terlihat kebingung, antara ingin menjawab atau tidak.

"Sebaiknya kalian menjawab pertanyaan bocah kepala nanas itu, senpai..." ucap Neji.

Yahiko menoleh ke arah Neji. Laki-laki itu memasang wajah tidak percaya. Dia kaget karena Neji sama penasaranya dengan Shikamaru. Yahiko pun akhirnya menghembuskan nafas berat. Selepas itu dia bersiap membuka mulutnya menjawab pertanyaan.

"Kita bicara sambil melarikan diri..." jawab Yahiko.

.

Saat ini Naruto dan yang lainnya tengah berlari menyusuri lorong rahasia. Sebuah lorong rahasia yang tersembunyi di balik mural syair yang berhasil mereka pecahkan sebelumnya. Pintu masuk lorong tersebut memang cukup kecil. Ukurannya mungkin hanya setinggi 50 cm dengan lebar yang tidak jauh berbeda. Posisi pintu itu juga bisa dibilang cukup unik. Pintu lorong itu letaknya 1 m diatas lantai. Sehingga harus memanjatnya terlebih dahulu jika ingin memasukinya.

Setelah semuanya telah berhasil masuk, Yahiko menutup kembali lorong itu dengan mural syair sama seperti sebelumnya. Bertujuan untuk mengecoh para anggota Akatsuki yang saat ini tengah mengejar mereka. Dengan begini presentasi keberhasilan mereka dalam melarikan diri akan meningkat drastis.

Lorong itu cukup temaran bagi Naruto membuatnya merasa kurang nyaman. Meskipun bocah pirang tidak punya problem dengan penglihatannya, tetapi tetap saja dia kesulitan melihat ke arah depan. Satu hal lagi yang membuat Naruto merasa kurang nyaman akan lorong itu. Sepanjang kakinya melangkah, sudah beberapa kali dia menginjak tikus, kecoa dan sejenis hewan menjijikan lainnya. Mungkin inilah yang sering dikatakan para penyair, "Dalam Segala Hal, Pasti Ada Nilai Plus dan Minusnya".

"Jadi, bisa kau ceritakan kisah kalian pada kami sekarang juga?" tanya Naruto menyeletuk Yahiko yang tepat berlari di hadapannya.

Laki-laki bernama Yahiko itu pun kemudian menoleh mendengar teriakan Naruto di belakangnya. Pria berambut orange itu lalu sedikit memelankan laju larinya agar Naruto dan teman-temannya bisa mendengarkan apa yang akan dia ceritakan.

"Aku tidak tahu darimana harus memulainya," ucap Yahiko. "Intinya setelah kami bertiga keluar dari organisasi Akatsuki, mereka tiba-tiba saja menjadikan kami sebagai target."

"Memangnya kalian tidak pernah bertanya alasannya?" tanya Shikamaru.

"Masalahnya setiap kali kami bertatap muka dengan mereka, orang-orang itu lebih bernafsu untuk mengeluarkan isi kepala kami daripada berbicara," jawab Konan. Gadis itu menjawab mewakili Yahiko yang kesulitan mengungkapkannya.

Naruto hanya diam mengangguk. Bocah pirang itu paham dengan apa yang dikatakan oleh Konan. Sejak awal, orang-orang Akatsuki itu memang tidak berniat untuk berbicara ataupun bermusyawarah dengan mereka bertiga. Tujuan mereka cuma satu. Ya, mereka hanya ingin membunuh mereka bertiga.

"Tidak mungkin mereka ingin membunuh kalian tanpa sebab yang jelas," ucap Naruto berpendapat. "Aku yakin kalian bertiga pasti telah melakukan sesuatu yang membuat mereka sampai ingin sekali mencabut nyawa kalian."

Nagato menghentikan laju larinya setelah mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan oleh Naruto. Yahiko yang tepat berada di belakang Nagato hampir saja menabraknya kalau saja dia tidak sigap berhenti. Pria berambut merah darah itu kemudian berbalik dan menatap Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan. Bocah pirang itu hanya berharap semoga kata-katanya tidak menyinggung Nagato.

"Akan terlalu dini bagimu untuk tahu apa penyebabnya," jawab Nagato mendesis. Pria berambut merah darah itu rupanya memang membenci Naruto.

"Hei! Apa masalahmu?" ucap Naruto kesal. Bocah pirang itu pun mendorong tubuh Nagato kasar.

Naruto merasa sudah tidak tahan lagi dengan sikap Nagato padanya. Merasa tidak terima, Nagato pun berniat membalas. Namun sebelum hal itu terjadi, Yahiko dan Neji memisahkan keduanya sebelum aksi saling pukul layaknya pertandingan tinju tersaji di depan mata keduanya.

"Nagato, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini..." Ucap Yahiko pada Nagato ketika memisahkan pemuda itu dengan Naruto.

Nagato tidak menjawab pertanyaan Yahiko. Pria berambut merah darah itu justru malah melenggang pergi begitu saja tanpa berucap satu kata pun. Samar-samar Naruto bisa melihat raut khawatir tercetak jelas di wajah Yahiko. Bocah pirang itu pun merasa sedikit bersalah atas insiden ini. Ya, sedikit. Lebih banyaknya adalah kesalahan Nagato.

"Aku minta maaf atas sikapnya," ucap Yahiko pada Naruto. "Tidak biasanya dia bersikap seperti itu."

Naruto hanya mengangguk. Bocah pirang itu mencoba memaklumi. Mungkin saja kondisi Nagato saat ini memang sedang dalam mode tidak bersahabat dengan orang baru. Apalagi Naruto masuk dalam kategori orang-orang yang pantas untuk dibenci oleh pemuda berambut merah darah itu. Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya.

"Akan aku ceritakan alasan mengapa mereka ingin membunuh kami bertiga," ucap Yahiko.

Naruto dan yang lainnya hanya diam. Mereka hanya tetap terus berlari menelusuri lorong. Menunggu hingga saatnya Yahiko telah siap untuk menceritakan segala kisahnya. Naruto berharap, semoga saja apa yang akan diceritakan Yahiko akan memberikannya sebuah petunjuk mengenai asal usulnya.

"Dulu, kami adalah salah satu dari 5 anggota tertinggi organisasi Akatsuki. Tapi kemudian tidak lagi. Alasannya sangat mudah. Kami keluar setelah tahu apa tujuan terselubung anggota lain," ucap Yahiko mulai bercerita.

"Apa yang kau maksud dengan tujuan terselubung?" tanya Naruto kembali.

"Apa kau tahu peristiwa pengeboman keluarga besar 2 tahun lalu?" tanya Yahiko balik.

"Jika yang kau maksud adalah peristiwa pengeboman di kediaman keluarga Uzumaki yang mengakibatkan terbunuhnya seluruh anggota keluarga dari 3 keluarga besar, aku berada di sana, senior..." sambung Neji. Rahangnya mengeras ketika berucap.

"Mereka bukan Uzumaki murni. Mereka hanya sekumpulan Uzumaki campuran yang berniat memperbanyak jenisnya. Kali ini mereka melakukannya dengan keluarga Hyuuga. Hee.. betapa menyedihkannya kedua keluarga itu," ucap Nagato menginterupsi. Laki-laki berambut merah darah itu bahkan tidak peduli dengan tanggapan Neji yang merupakan salah satu dari keluarga Hyuuga.

Sikap Nagato yang menyela pembicaraan Neji membuat Naruto cukup risih. Bocah pirang itu bahkan tidak mengerti, sejak kapan pemuda itu mendengarkan obrolan mereka. Seingat dia, Nagato sudah melaju di depan ketika Yahiko mulai membuka pembicaraan.

"Ya, terserah kau saja," balas Yahiko tidak peduli dengan segala sebutan itu. "Tapi yang jelas, alasan kami keluar dari organisasi Akatsuki adalah karena mereka berencana melakukan kudeta pada pemerintahan yang tidak lain dipimpin oleh keluarga Uzumaki."

Naruto tersentak mendengar fakta baru itu. Entah karena merasa dirinya adalah seorang Uzumaki atau tidak, tapi yang pasti Naruto cukup geram mendengar fakta itu. Dia tidak menyangka jika alasan pembunuhan keluarga Uzumaki hanya karena masalah kekuasaan. Bagi Naruto, hal itu benar-benar tidak bisa diterima akal sehatnya.

"Namun sebelum kami mengundurkan diri dari Akatsuki, kami menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan..." ucap Yahiko. Pria berambut orange itu merasa resah untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Apa itu? cepat katakan!" tanya Naruto tidak sabar.

"Saat itu, secara tidak sengaja kami mencuri dengar percakapan salah satu petinggi Akatsuki dengan seseorang yang tidak kami kenal. Mereka membicarakan tentang kudeta dan langkah-langkah selajutnya. Kami tidak dapat melihat wajah pria itu karena dia membelakangi kami," jelas Yahiko.

"Namun aku berani bertaruh jika pria itu adalah seorang Uzumaki. Terlihat jelas dari medali yang gantungkan di lengan kanannya," Yahiko kembali menghentikan ucapannya.

Naruto lagi-lagi terkejut dengan apa yang didengarnya kembali. Dia tidak pernah mengira jika salah satu diantara otak dari pelaku pengeboman kediaman keluarga Uzumaki adalah orang dalam Uzumaki itu sendiri. Jika memang hal itu benar adanya, bagi Naruto itu adalah kejadian yang sungguh ironis.

"Kalian ingin tahu seperti apa ciri-cirinya?" tanya Konan. Semua hanya terdiam namun sangat penasaran. "Dia berambut pirang dan berperawakan sepertimu, Uzumaki Naruto..."

"...dan mungkin karena alasan itulah Akatsuki akhirnya memburu kami bertiga." Sambung Yahiko.

Jantung Naruto serasa dihantam sebuah truk besar hingga membuat sistem kerjanya mengalami gangguan. Jantungnya terasa tiba-tiba saja berdetak tak jelas setelah mendengar pernyataan Konan. Terkadang begitu sangat cepat, namun tidak jarang pula berdetak terlalu lambat. Entahlah, Naruto benar-benar tidak tahu harus menjelaskannya dengan model kalimat yang seperti apa. Tapi yang jelas, bocah pirang itu benar-benar syok.

Naruto mungkin masih mampu mengendalikan rasa keterkejutannya. Tapi hal itu rupanya tidak berguna jika orang lain yang mengalaminya. Naruto tidak tahu seperti apa pandangan Sakura dan yang lain padanya saat ini. Kalau boleh bocah pirang itu berharap, semoga saja teman-temannya masih menaruh rasa percaya kepada dirinya. Tapi, bukan tidak mungkin jika mereka justru mulai menjaga jarak dengannya.

Derap langkah kaki terdengar di belakang mereka. Tidak perlu bertanya pun jawabannya sudah jelas. Ya, itu adalah para anggota Akatsuki. Ada sedikit rasa syukur dalam hati Naruto ketika mendengarnya. Bukan karena dirinya ingin tertangkap. Namun lebih karena merasa bersyukur. Dengan hal ini, perhatian teman-teman bocah pirang itu yang sebelumnya hanya tertuju pada Naruto akhirnya teralih.

"Kita bahas hal itu nanti saja," ucap Neji menengahi pembicaraan. "Kita harus mulai berlari kembali..."

Mereka kemudian mulai melanjutkan perjalanannya kembali. Lorong gelap dan becek itu rupanya cukup panjang seolah tidak ada habisnya. Tidak ada satupun yang bersuara. Seolah efek dari pembicaraan sebelumnya enggan untuk pergi. Keadaan semakin diperburuk dengan terdengar derap langkah kaki yang berlari tepat di belakang mereka. Rupanya para anggota Akatsuki itu terlalu pintar untuk dikecoh.

"Aku tidak mengira jika mereka bisa menyadarinya secepat itu," ucap Yahiko seraya terus berlari.

"Mungkin mereka menggunakan alat yang telah berhasil aku ciptakan," balas Konan. Yahiko yang mendengarnya menatap Konan seolah bertanya apa maksud dari ucapan wanita itu.

"Sebelumnya, aku berhasil menciptakan sebuah alat pelacak yang memanfaatkan sampel DNA sebuah target untuk mengidentifikasi dimana keberadaannya." Jawab Konan menerangkan.

Bola mata Yahiko melebar setelah mendengar pernyataan Konan. Naruto bisa melihat dengan jelas jika pemuda berambut orange itu cukup syok. Sebenarnya bukan cuma Yahiko saja yang merasa kaget. Semua orang tidak terkecuali Naruto juga merasakan hal yang sama. Bocah pirang itu bahkan merasa tidak percaya jika alat secanggih itu memang benar-benar berhasil diciptakan oleh Konan.

"Jika memang seperti apa yang kau katakan. Maka sudah jelas jika mereka memiliki sampel DNA kita bertiga..." ucap Yahiko pelan. Pemuda itu terlihat merenung seolah tangah memikirkan sebuah solusi.

"Melihat betapa cepatnya mereka mengejar kita, mungkin memang seperti itulah kenyataannya," jawab Konan. Wanita itu terlihat biasa saja seolah masalah yang akan dihadapinya merupakan hal yang biasa.

Keadaan kembali hening. Mereka berlari dalam diam. Naruto merasa, mungkin masing-masing tengah memikirkan sebuah solusi atas masalah yang akan dihadapi atau mungkin saja saat ini mereka tengah merasa frustasi. Naruto tidak tahu mana yang paling tepat. Namun untuk saat ini yang paling berguna adalah terus berlari ke depan tanpa henti. Karena bersembunyi pun tidak akan ada artinya.

"Aku ada sebuah ide. Tapi mungkin agak sedikit keterlaluan bagi kalian bertiga," ucap Shikamaru. Bocah pemalas itu berucap tanpa menghentikan laju larinya.

Beberapa pasang mata segera tertuju pada sosok Shikamaru. Seperti biasanya, bocah pemalas itu selalu saja menemukan sebuah ide brilian di tengah keadaan genting seperti sekarang ini. Yah, meskipun sebenarnya tidak terlalu sering juga. Namun tidak bisa dipungkiri, jika menyangkut hal-hal semacam ini Shikamaru adalah orang yang paling ahli memainkannya.

"Apa idenya?" tanya Yahiko mensejajarkan dirinya dengan Shikamaru.

Shikamaru menyeringai. Bagi Naruto, inilah sala satu hal yang membuat Shikamaru terlihat sangat menyebalkan. Menurut Naruto, jika memang dia bisa menjawabnya segera, kenapa harus repot-repot menyeringai seperti itu? benar-benar sebuah tindakan yang membuang-buang waktu dan juga kesabaran pihak di hadapannya.

"Sesuai yang dikatakan oleh nona Konan. Jika memang DNA kalian bertiga telah mereka dapatkan, maka itu adalah keuntungan bagi kita." Jawab Shikamaru.

"Maksudmu bagaimana? Aku bahkan tidak mengerti..." Ucap Sai dari arah belakang.

Rupanya bukan hanya Sai yang tidak paham akan maksud Shikamaru. Yahiko dan beberapa yang lain juga merasakannya. Karena itu tatapan mata penuh tanya terus tertuju pada sosok bocah pemalas itu.

"Maksudnya, para senior bisa kita jadikan umpan. Karena hanya DNA mereka saja yang dimiliki mereka..." jelas Neji. "Bukankah begitu?"

Naruto sangat terkesan dengan Neji serta Shikamaru. Keduanya benar-benar sebuah kombinasi penyusun strategi terbaik. Sayangnya mereka berdua adalah dua pribadi yang selalu tidak akur. Jika saja kondisinya tidak seperti itu. Naruto bisa membayangkan betapa mengerikannya kombinasi diantara kedua orang tersebut.

"Sebenarnya tidak sesederhana itu. Tapi secara keseluruhan bisa dibilang seperti itu. Dengan menjadikan kalian bertiga sebagai umpan, kami bisa menyerang mereka dengan tiba-tiba." Ucap Shikamaru menjelaskan rencananya lebih gamblang.

"Tapi, untuk memantapkan rencana itu. Kita perlu tempat yang gelap agar rencanaku berhasil dengan sempurna," ucap Shikamaru kembali.

"Kalau masalah itu, aku tahu di mana tempat yang sesuai dengan kriteriamu," Ucap Nagato tiba-tiba. Lagi-lagi, pemuda itu selalu saja seenaknya masuk dalam obrolan orang lain.

"Baiklah, kalau begitu ini akan jadi semakin menarik..." balas Shikamaru menyeringai.

Nagato kemudian menghentikan laju larinya. Dia berhenti tepat di sebuah pintu besi yang tepinya ditumbuhi banyak lumut. Pemuda berambut merah darah itu lalu menendang pintu besi tersebut. Pada percobaan pertam dan kedua pintu itu tidak bergerak sama sekali. Namun pada percobaan berikutnya pintu itu sukses terbuka.

"Menurutmu, apa ruangan ini cukup gelap bagi kita untuk bermain petak umpet?" tanya Nagato sarkas.

Shikamaru melangkah maju dan melongok ke dalam ruangan tersebut. Bocah pemalas itu kemudian kembali menarik tubuhnya dan tersenyum puas pada Nagato. Dia lalu menoleh ke arah yang lainnya dan menyeringai menyebalkan seperti biasanya.

"Teman-teman, waktunya kita kembali beraksi..." Ucap Shikamaru.

Naruto dan yang lainnya segera menghambur masuk ke dalam ruangan tersebut. Menurut bocah pirang itu, ruangan tersebut memang sangat cocok dengan kriteria yang diajukan oleh Shikamaru. Gelap, luas dan penuh dengan reruntuhan, ruangan tersebut memang sangat tepat untuk melakukan penyergapan.

"Kita bagi kelompok menjadi 3," ucap Shikamaru. "Naruto, Sakura dan Shino. Kalian satu kelompok dengan Yahiko. Sai, Ino dan aku akan satu kelompok dengan Nagato. Sedangkan Neji dan Tenten, kalian bersama dengan Konan."

Naruto dan yang lainnya mengangguk tanda paham. Semua kemudian berkumpul sesuai dengan kelompok yang telah disebutkan oleh Shikamaru. Setelah itu, mereka saling berhadapan dan menunggu intruksi Shikamaru selanjutnya.

"Seperti yang kita tahu, target mereka adalah kalian bertiga," ucap Shikamaru seraya menunjuk Yahiko, Nagato serta Konan. "Karena itulah kita akan melawan balik mereka dengan strategiku."

"Pertama setiap kelompok harus mencari tempat persembunyian masing-masing. Usahakan letakanya sangat berjauhan." Jelas Shikamaru. " Setelah kalian berhasil menemukan tempat persembunyian, usahakan sang target kita sebut saja umpan, cukup berdiam diri saja ditemani bersama satu orang. Sedangkan sisanya bertugas menyerang musuh ketika mereka mendekati umpan kita dari arah yang tidak terduga."

"Apa tugas dari orang yang berada bersama umpan?' tanya Sakura.

"Melindungi umpan jika saja serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu gagal," jawab Shikamaru. "Ingat, kita harus sesenyap mungkin ketika melakukan eksekusi. Semakin besar menarik perhatian, rencana kita akan gagal."

"Baiklah, mungkin itu saja pemberitahuannya. Sekarang waktunya kita berpencar..." ucap Shikamaru yang dijawab dengan anggukan kepala oleh yang lainnya.

Semua kemudian berpencar sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Naruto dan kelompoknya berlari lurus ke tengah ruangan gelap itu. Sesekali, tubuhnya menubruk beberapa puing-puing reruntuhan yang ukurannya cukup besar. Sempat bocah pirang itu berpikir untuk bersembunyi di tempat itu saja. Namun dia segera mengurungkannya karena dirasa belum cukup aman.

Naruto dan kelompoknya berlari semakin ke dalam ruangan gelap itu. Semakin ke dalam, pencahayaan ruangan itu menjadi semakin minim. Satu-satunya sumber cahaya pada ruangan itu hanyalah pintu yang telah dibuka oleh Nagato sebelumnya. Jadi wajar saja jika semakin ke dalam keadaan menjadi semakin gelap.

Yahiko tiba-tiba saja menghentikan laju larinya. Otomatis, baik Naruto, Sakura dan Shino ikut berhenti pula. Pria berambut orange itu rupanya telah menemukan tempat yang cocok untuk bersembunyi.

"Seperti ini persembunyian yang cukup tepat," ucap Yahiko.

Naruto mengangguk tanda setuju. Tempat persembunyian yang dimaksud oleh Yahiko memang sebuah tempat berlindung yang cukup sempurna. Sebuah puing reruntuhan besar dengan ukuran sebesar mobil pick-up. Berbentuk kepala burung elang dengan paruh terbuka yang di dalamnya terdapat ruang untuk bersembunyi.

"Ya, ini sangat sempurna," respon Naruto. "Silahkan kau masuk bersama Sakura. Aku dan Shino akan berjaga di sekitar."

"Hei, kenapa kau yang menentukan?!" ucap Sakura tidak setuju. "Aku akan ikut denganmu berjaga..."

"Jangan membantah, Sakura. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat," balas Shino. Pemuda itu rupanya sependapat dengan Naruto.

Sakura merengut kesal sembari menggerutu mendengar ucapan Shino. Sementara Yahiko hanya tersenyum kecil melihat pedebatan mereka Naruto, Sakura dan Shino. Pada akhirnya, gadis musim semi itu menurut perintah dan segera masuk ke dalam rongga mulut puing kepala burung elang.

Suara derap langkah mulai terdengar di telinga Naruto. Nampaknya para anggota Akatsuki itu telah sampai di depan pintu masuk ruangan dimana bocah pirang itu berada. Meskipun letaknya cukup jauh dari tempat Naruto berada saat ini, samar-samar dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Mereka ada di dalam..." ucap salah satu anggota Akatsuki. Naruto bisa mendengarnya meski cukup jauh dari tempatnya berada.

"Ya, mereka memang ada di dalam. Tapi kali ini mereka tidak akan bisa melarikan diri lagi," jawab yang lain. "Dengan alat yang ada di tanganku ini, tidak ada satupun tempat di dunia ini bagi mereka untuk bersembunyi."

Sesuai dengan dugaan Konan. Alat yang gunakan para anggota Akatsuki untuk melacak keberadaan Yahiko, Nagato dan dirinya adalah alat hasil karyanya sendiri. Naruto merasa miris jika memikirkan akan hal itu. Seolah apa yang terjadi saat ini adalah sebuah cerminan dari ungkapan "Senjata makan tuan". Bocah pirang itu hanya berharap, semoga saja hasilnya tidak seperti ungkapannya.

"Ingat, kita berjumlah 8 orang. Kita menang jumlah dari mereka. Jangan biarkan mereka memojokkan kalian." Teriak salah satu dari para anggota Akatsuki.

"Yappp!" teriak semua anggota Akatsuki menggema.

Jantung Naruto bergetar kencang mendengar teriakan menggema para anggota Akatsuki. Bocah pirang itu merasa sedikit gugup. Meskipun dia sudah berulang kali melewati situasi menegangkan seperti ini, tapi tetap saja rasa was-was itu tidak pernah sekalipun menghilang. Setidaknya ada pelajaran yang berhasil dia petik untuk saat ini yang tidak lain adalah jika dirinya masih memilki rasa takut.

Jika Naruto tidak salah dengar, salah satu anggota Akatsuki berkata bahwa mereka berjumlah 8 orang. Kalau memang benar adanya, maka posisi Naruto dan teman-temannya lebih diunggulkan dalam permainan berburu kali ini. 8 melawan 11, meskipun para anggota Akatsuki itu adalah para tentara terlatih, tetap saja mereka kalah jumlah dari kelompok Naruto dan teman-temannya. Ditambah lagi, Naruto dan teman-temannya sudah sangat berpengalaman sekali menghadapi lawan semacam tentara profesional.

Suara langkah para anggota Akatsuki mulai terdengar memasuki ruangan gelap tersebut. Naruto mengencangkan genggaman senjatanya. Tidak seperti beberapa teman-temannya. Senjata Naruto masih tetap ada, meskipun sebagian besar senjata milik teman-temannya telah menghilang ketika terjun dari atap beberapa waktu lalu.

Naruto dan Shino mulai mengambil posisi masing-masing. Mereka berdua memilih bersembunyi di samping reruntuhan tempat Yahiko dan Sakura berlindung. Jika Shino bersembunyi pada reruntuhan sebelah kanan, maka Naruto bersembunyi di tempat sebaliknya. Alasan mereka membentuk formasi itu sangat sederhana. Ya, mereka hanya ingin lebih mudah menyergap mangsanya.

Naruto dapat menduga jika 8 anggota Akatsuki mulai berpencar. Mereka membagi diri menjadi 3 kelompok. Satu kelompok bergerak ke kanan tempat Shikamaru dan kelompoknya berada, satu kelompok lagi ke arah kiri dimana Neji dan kelompoknya bersembunyi di sana dan sisanya bergerak menuju ke arah Naruto bersiap saat ini.

Melihat pergerakan musuh yang sesuai rencana Shikamaru, Naruto merasa optimis jika mereka kali ini akan berhasil melumpuhkan lawannya. Efeknya, rasa gugup yang sebelumnya dirasakan oleh bocah pirang itu berangsur-angsur mulai menghilang dan saat ini rasa kepercayaan dirinya meningkat tajam.

Suara 3 langkah kaki semakin terdengar jelas mendekati tempat di mana Naruto berada saat ini. Naruto mulai mempersiapkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam. Berharap dengan melakukan itu dirinya bisa sedikit lebih rileks. Hal yang sama rupanya juga tengah dilakukan oleh Shino dan Naruto bisa melihatnya dari tempatnya berada saat ini.

Naruto merapatkan dirinya di balik reruntuhan ketika ketiga anggota Akatsuki itu telah sampai di tempatnya berada. Dari balik tempat persembunyiannya, Naruto bisa melihat dengan jelas jika mereka bertiga tengah bersiap menyergap Yahiko dan Sakura dari arah yang berbeda. Satu dari atas, satu dari samping kanan dan satu dari samping kiri. Ingin rasanya bocah pirang itu segera keluar dan menyerang lawan secara membabi buta. Tapi setelah mengingat kembali pesan Shikamaru, bocah pirang itu menahan dirinya.

Naruto sengaja menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Ya, waktu ketika salah satu diantara bertiga bergerak mendekatinya. Pada saat itulah dia akan menyerang target secara diam-diam. Jika boleh diibaratkan, dirinya tidak ada bedanya dengan seorang Assasins yang menyerang targetnya secara tiba-tiba.

Pucuk dicinta. Apa yang telah Naruto nantikan selama ini akhirnya tiba juga. Salah satu dari ketiga anggota Akatsuki itu berjalan mendekat ke arahnya. Tepat setelah salah satu anggota Akatsuki itu melewatinya, dengan gerakan tenang namun sekejap mata, bocah pirang itu menghantamkan gagang senjatanya ke tengkuk sang target. Usaha Naruto berhasil. Dengan sekali hantam sang target langsung tumbang.

Naruto tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil melumpuhkan targetnya. Bocah pirang itu pun bersiap melumpuhkan sisa anggota Akatsuki yang berada di sekitarnya. Namun sayang. Ketika dirinya berbalik, sebuah tanda merah kecil tercetak di dadanya. Naruto tahu apa artinya itu. Dirinya telah ditandai oleh senjata laser. Naruto tidak tahu bersikap seperti apa lagi untuk situasi genting saat ini. Tidak lama berselang, suara senjata api menggema di sekitar ruangan gelap itu.

.

.

to be continue

.

.

Mohon maaf beribu maaf. Untuk kesekian kalinya harus telat update. Sebenernya minggu kemarin udah siap buat di publish. Tapi setelah saya cek lagi dan nemu banyak kekurangan, akhirnya mau gak mau harus di revisi lagi. Semoga saja gak mengecewakan deh... dan sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Balasan Review :

Kensherlocken : Iya, orang tua Naruto sama seperti aslinya. Makasih buat review nya ya...

Berry uchiha : Salam kenal juga. Terima kasih udah suka meskipun ceritanya rumit. Kalo kamu merasa pegal mending gak usah dibayangin aja... Hehe

Al : Oke siaaaaap

Haruko akemi : Hahaha... maaf deh kalo bikin jantungan. Sekali-sekali nge joke gak papa buka. Kan jenuh juga kalo serius mulu. Itachi ntar ada. Mungkin 1-2 chapter lagi keluar. Iya nih, entah kenapa susah banget buat ngatur jadwal antara nulis ama kesibukan di duta. Jadi mohon maklum aja ya. Makasih udah setia buat review loh

SR not Author : Hahaha, iya akhirnya keluar juga. Oh, jadi gak sering-sering banget ya maen game online. Sayang sekali. Eh, btw.. kamu manggilnya emak ya? Kirain manggilnya bunda.. haha #pisss

De-chan : Haha, maaf deh kalo bikin dag-dig-dug-serr. Iya, saya kasihan juga kalo mereka kudu lari-lari terus. Takutnya ntar mereka (chara) pada lapor ke MK sensei karena saya bikin chara nya kesusahan mulu.. hehe. Makasih buat review nya ya

Galura no baka lucky22 : Yakin nih mereka orang baik-baik? #menyeringaijahat

IrfaanFanday : Terima kasih udah suka ama fic ini. Soal word saya menyesuaikan pembahasan tiap chapter. Jadi ada chapter yang panjang ada juga yang pendek. Soal perasaan Naruto ke Sakura... ehm mungkin dia masih dalam fase belum yakin seratus persen.

Himawari zuifa : Oke, inilah lanjutannya. Mohon maaf ya kalo lama banget update nya.