Hallo teman-teman sebangsa dan se tanah air. Gimana liburan lebarannya? Pasti seru donk. Yang dapat ampao banyak jangan lupa bagi-bagi ke saya yah. Biar saya bisa beli hape baru #tolongdiabaikan. Mohon maaf kalo updatenya lama. Semoga suka dengan kelanjutan fic ini
Chapter 26
.
.
.
Entah harus bagaimana lagi Naruto menunjukkan rasa syukur untuk kesekian kalinya. Dengan fakta jika dirinya telah ditandai oleh senapan laser anggota Akatsuki, seharusnya bocah pirang itu telah tewas tertembak. Namun pada kenyataannya, bocah pirang itu justru masih segar bugar. Usut punya usut, ternyata alasan atas semua kejadian itu tidak lain karena campur tangan dari orang lain. Maksudnya nyawa bocah pirang itu telah diselamatkan oleh orang lain.
Yahiko. Pria berambut orange itulah sosok yang telah menyelamatkan nyawa Naruto. Dengan pistol yang ada di tangannya, pria berambut orange itu menembak mati anggota Akatsuki yang berencana melubangi tubuh Naruto setelah berhasil menandainya. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya nyawa Naruto terselamatkan.
Mengetahui fakta itu, Naruto sepertinya perlu menambahkan nama Yahiko ke dalam daftar orang-orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Bocah pirang itu merasa perlu membalas jasa orang-orang tersebut. Meskipun sebenarnya dia sendiri pun sudah lupa tentang siapa saja orang-orang yang telah menyelamatkannya.
Belum sempat Naruto mengucapkan terima kasih, sebuah peluru melesat diantara Naruto dan Yahiko berdiri. Bisa dilihat jika itu adalah serangan dadakan yang tidak terencana dari para anggota Akatsuki. Naruto tahu jika tembakan itu hanyalah sebuah tindakan memastikan. Ya, memastikan jika suara tembakan sebelumnya bukan berasal dari senjata sekutunya.
Setelah memastikan tidak ada serangan lanjutan, Naruto segera berjalan merunduk dengan cepatnya menuju ke arah Yahiko dan Sakura berada. Di tempat itu Naruto juga menemukan Shino yang telah berada di antara mereka berdua. Rupanya setelah berhasil melumpuhkan lawannya, bocah kacamata itu segera bergerak cepat menuju ke tempat dimana Yahiko dan Sakura.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir. Entah kenapa Naruto berbunga dengan sikap khawatir gadis musim semi itu.
"Ya, tidak ada yang berlubang," jawab Naruto tersenyum ringan. Kentara sekali jika bocah pirang itu tengah mencoba menghilangkan ketegangan dirinya.
"Terima kasih telah menyelamatkanku..." ucap Naruto pada Yahiko.
"Untuk kali ini aku tidak masalah. Mungkin di lain waktu aku akan membiarkannya menembakmu..." balas Yahiko sedikit bercanda.
Naruto tersenyum mendengar jawaban Yahiko. Pria berambut orange itu rupanya punya selera humor yang sedikit sadis. Jika saja Naruto tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau sarkasme, pasti bocah pirang itu akan mengamuk ketika mendengar ocehan yang dilontarkan oleh Yahiko.
Sebuah tembakan kembali melesat di dekat keberadaan Naruto dan teman-temannya. Kemudian diikuti tembakan beruntun lainnya. Terus-menerus hingga salah satu dari percobaan tembakan itu hampir saja mengenai lengan kiri Shino. Beruntung saja, bocah itu memilki reflek yang cukup mumpuni sehingga dapat menghindar pada detik-detik terakhir sebelum timah panas mengenai lengan kirinya.
"Gila... Apa mereka tahu jika kita ada di sini?" tanya Naruto panik.
"Bisa jadi. Jika dicermati dari bunyi suara senjata api milik mereka, jelas sekali jika suaranya berbeda dengan pistol milikku." Jawab Yahiko.
"Jadi kesimpulannya, mereka sudah tahu jika kita bersembunyi di tempat ini?" tanya Naruto kembali. Yahiko hanya mengangguk menjawabnya.
Naruto menghela nafasnya berat. Bocah pirang itu merasa takdir seolah gemar sekali mempermainkan kehidupannya. Ibarat paradoks kehidupan. Beberapa saat diselamatkan, namun seringkali pula dibuat begitu sulit. Terkadang Naruto merasa semua itu karena namanya yang dia rasa kurang membawa hoki atau memang dasar jalan hidupnya yang selalu terjal setiap waktu.
Derap langkah kaki terdengar semakin dekat. Jelas sekali jika para anggota Akatsuki mulai bergerak menuju ke arah dimana Naruto berada. Pertanyaannya sekarang adalah, dimana keberadaan teman-temannya yang lain? Bukankah jika semua anggota Akatsuki hanya terfokus pada Naruto berarti 2 kelompok yang lainnya bisa dikatakan aman? Jika memang seperti itu, maka seharusnya mereka datang memberi bantuan. Bukannya cuma berdiam diri menunggu bocah pirang itu menjadi santapan empuk para anggota Akatsuki.
"Kemana yang lain? Bukankah seharusnya mereka membantu kita?" tanya Naruto kesal. Bocah pirang itu merasa dikhianati.
"Aku tidak tahu. Jika memang semua anggota Akatsuki yang tersisa hanya terfokus pada kita, seharusnya mereka sudah datang membantu..." jawab Yahiko.
"Apa mungkin jumlah mereka yang kita ketahui hanya 8 orang hanyalah sebuah tipuan?" ucap Shino berasumsi.
"Maksudmu, orang yang menyerang kita saat ini bukanlah kelompok yang seharusnya menyerang kelompok Neji dan Shikamaru?' tanya Sakura. Shino hanya mengangguk tanda iya.
Jantung Naruto kembali berdegup kencang. Jika asumsi Shino memang benar, maka bisa dipastikan sejak awal mereka telah terjebak dalam tipu daya para anggota Akatsuki. Sungguh sebuah ironi jika memikirkan bahwa kenyataan itulah yang sebenarnya terjadi. Niat awal hendak menjebak, malah pada akhirnya terjebak.
Terdengan jika terjangan peluru sedikit mereda. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Naruto untuk mengamati situasi sekitar. Kepala kuningnya kemudian melongok sedikit dan betapa terkejutnya bocah pirang itu melihat 6 orang anggota Akatsuki berjalan tepat menuju ke arah di mana dia berada. Tanpa banyak waktu, dengan segera bocah pirang itu menundukan tubuhnya kembali untuk berlindung sebelum diketahui oleh lawannya.
"Mereka berjumlah 6 orang dan bersenjata lengkap. Tidak ada harapan untuk kita bisa menang..." ucap Naruto terdengar pesimis.
Sebuah suara tembakan terdengar kembali. Namun kali ini suaranya berasal dari arah sebelah kanan tempat Naruto dan teman-temannya berada. Sudah sangat jelas jika suara itu berasal dari tempat dimana Shikamaru dan kelompoknya berada. Bisa dipastikan jika situasi di tempat tersebut sama buruknya dengan keadaan situasi dimana bocah pirang itu berada.
"Sial, padahal aku tidak pernah berharap jika asumsiku akan benar. Jika situasinya memang seperti itu, sudah jelas jika kita dalam masalah besar," ucap Shino menggerutu.
"Tidak ada waktu untuk gerutuanmu, Shino. Saat ini poin pentingnya adalah kita harus segera melakukan apa ?" timpal Sakura. Gadis musim semi itu sebenarnya begitu tegang. Namun kemampuannya dalam menutupinya patut diacungi jempol.
Suara tembakan kembali terdengar lagi. Kali ini berasal dari segala arah. Tidak hanya bunyi senjata api meletus saja yang terdengar. Namun, Naruto juga bisa dengan jelas mendengar teriakan-teriakan lantang teman-temannya dalam melawan para anggota Akatsuki. Merasa tergugah, semangat yang sebelumnya sempat luntur kini telah mulai muncul kembali.
"Kita perlu senjata api untuk melawan mereka..." ucap Naruto pada yang lain.
"Kalau begitu, kita hanya perlu mengambil senapan 2 teman mereka yang telah berhasil kita lumpuhkan..." jawab Shino tenang.
"Ide brilian... tapi bagaimana kita bisa melakukannya jika setiap saat terus diborbardir seperti ini.
"Aku akan melindungi kalian..." sambung Yahiko.
Yahiko kemudian mulai menembaki anggota Akatsuki dengan maksud mengalihkan perhatian. Setelah itu, baik Naruto maupun Shino segera bergerak cepat. Naruto bergerak ke sebelah kiri menuju ke arah dimana tubuh anggota Akatsuki yang telah bershasil dia lumpuhkan tergeletak disana. Hal yang sama juga bagi Shino. Mereka berdua bermaksud menggunakan senapan milik lawan yang sebelumnya telah dilumpuhkan.
Naruto akhirnya berhasil meraih senapan milik lawannya yang telah dia lumpuhkan. Bocah pirang itu kemudian berguling kembali ke tempat Yahiko dan Sakura berada dengan kecepatan penuh. Tanpa banyak waktu, Naruto segera membantu Yahiko mengalihkan perhatian anggota Akatsuki.
Awalnya Naruto hanya menembak asal-asalan. Namun setelah dia tahu jika senapan yang dipegangnya adalah senapan khusus jarak jauh, bocah pirang itu segera menggunakannya sesuai dengan fungsinya.
Naruto mulai membidik dan tanpa keraguan menekan pelatuk senapannya. Meskipun pencahayaan ruangan itu sangat buruk, entah kenapa Naruto merasa yakin dengan bidikannya. Tanpa diduga serangannya ternyata berhasil. Satu anggota Akatsuki tumbang olehnya. Dia mulai membidik dan menembak kembali. Ternyata usahanya kembali berhasil. Bidikannya tepat sasaran. Mengetahui fakta itu Naruto pun mulai percaya diri. Satu-persatu anggota Akatsuki berhasil dijatuhkan olehnya.
"Kau berbakat juga, bocah..." ucap Yahiko selagi terus menembaki lawannya.
"Ya, entah kenapa aku seolah terbiasa dengan benda seperti ini," balas Naruto ringan. Bocah pirang itu terus membidik dan menembaki lawan-lawannya.
Naruto dan Yahiko kembali menembaki musuh-musuhnya tanpa ampun. Jumlah mereka seolah tidak ada habisnya. Meskipun ruangan tersebut cukup gelap, Naruto bisa melihat dengan jelas siluet-siluet para anggota Akatsuki terus masuk melalui pintu setiap kali satu persatu dari mereka tumbang oleh Naruto maupun Yahiko. Hal ini jelas bukan pertanda baik untuk kedepannya.
Suara letusan senjata terdengar dari arah kiri Naruto dan Yahiko. Tidak lama berselang suara letusan senjata juga terdengar di sebelah kanan keduanya. Dari kedua arah tersebut, suara letusan senjata terus terdengar seolah memproklamirkan jika pertempuran bukan hanya terjadi di pihak Naruto dan Yahiko saja.
Dari suara letusan senjata, Naruto dapat mengira jika suara letusan senjata itu berasal dari pistol milik Konan maupun Nagato. Bocah pirang itu hanya berharap, semoga saja baik kelompok Neji maupun Shikamaru tidak ada yang sampai tertangkap. Apalagi jika sampai ada korban jiwa di pihak mereka. Jika itu sampai terjadi, naruto tidak memaafkan dirinya sendiri.
Ada satu hal menarik saat ini. Jika sebelumnya para anggota Akatsuki hanya tertuju pada kelompok Naruto, kali ini perhatian mereka terpecah menjadi 3 bagian. Itu terjadi berkat suara letusan senjata dari arah lain yang berhasil mengambil alih sebagian perhatian anggota Akatsuki. Naruto merasa cukup bersyukur akan hal itu. Dengan begini beban mereka sedikit diringankan.
"Hei kawan, apa kalian sedang sibuk?" tanya seseorang di belakang Naruto dan Yahiko.
Reflek, Naruto segera memutar tubuhnya bersamaan dengan Yahiko. Betapa terkejutnya mereka berdua. Saat ini, di depan mata kedua mereka berdiri 3 orang anggota Akatsuki yang salah satu diantara mereka menodongkan senapan mereka ke pelipis Sakura.
"Bisa letakan senjata kalian?" tanya anggota Akatsuki yang menodongkan senapan miliknya pada Sakura. Pria itu berkulit hitam dengan garis wajah yang tegas."...atau kalian ingin gadis merah muda ini kulubangi kepalanya?"
Dengan sangat terpaksa, Naruto dan Yahiko segera meletakan senjata mereka seraya mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Bocah pirang itu hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Sakura.
Naruto merasa kesal dengan dirinya sendiri. Bocah pirang itu tidak pernah memperkirakan jika mereka akan diserang dari arah belakang. Dia merasa dibodohi kali ini. Tidak, lebih tepatnya mereka semua telah dibodohi oleh para anggota Akatsuki sejak awal.
"Kau pikir kami tidak mengetahui tentang keberadaan kelompokmu?" tanya anggota Akatsuki berkulit hitam itu.
Naruto tidak menjawab. Bocah pirang itu mencoba bersikap seolah apa yang dibicarkan oleh orang di depannya tidaklah penting. Tapi dalam hati yang terdalam, Naruto merasa perlu untuk mendengarkannya.
"Selain Yahiko dan kedua temannya, kalian adalah kelompok yang ditargetkan untuk ditangkap." Ucap pria kulit hitam itu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Apa alasan mereka diburu?" tanya Yahiko mewakili Naruto.
Pria kulit hitam itu tidak langsung menjawab. Dia justru menyeringai ke arah Naruto sembari menekankan ujung senapannya ke pelipis Sakura seolah mencoba memprovokasi bocah pirang itu agar segera mengamuk. Namun sayang, tindakannya tidak membuahkan hasil karena Naruto terlihat bisa mengendalikan dirinya.
"Mereka adalah orang-orang Konoha yang berhasil melarikan diri dari serangan bom nuklir tentara perdamaian. Berdasarkan aturannya, mereka tidak bisa dibiarkan hidup. Karena itulah mereka menjadi tergat buruan." Jawab pria kulit hitam anggota Akatsuki itu.
"Tapi, tenang saja. Kalian tidak akan kami bunuh di tempat ini," ucap pria mengancam. "Kalian akan kami serahkan kepada tentara perdamaian. Setelah itu kalian mungkin akan diperbolehkan untuk mati. Tentunya setelah segala persyaratan untuk mati itu sendiri telah terpenuhi."
Naruto merasa begitu marah dengan apa yang dia dengar. Terlebih setelah mendengar lontarkan kalimat terakhir pria kulit hitam itu. Seolah-olah hidup mereka tergantung para manusia brengsek bernama tentara perdamaian.
"Persyaratan untuk mati? Kau pikir kami ini bahan percobaan?!" teriak Naruto penuh amarah. Bocah pirang itu benar-benar ingin sekali merobek mulut pria di hadapannya.
"Diamlah!" balas salah satu anggota Akatsuki yang wajahnya terdapat luka bakar.
Pria itu kemudian menghantamkan senapan miliknya ke perut Naruto yang membuat bocah pirang itu jatuh terduduk sembari meringis kesakitan.
"Mungkin apa yang kalian menganggap kami sebagai sebuah organisasi gila. Tapi percayalah, kalian akan tersenyum dan berterimakasih pada kami ketika dibangkitkan kembali di taman Eden." Jelas anggota Akatsuki berkulit hitam.
Naruto mengerutkan keningnya setelah mendengar pernyataan dari anggota Akatsuki berkulit hitam itu. Taman Eden. Sebelumnya Naruto juga pernah mendengar tentang nama tempat tersebut dari dokter tentara perdamaian yang mati dibunuh oleh Shikamaru ketika mereka hendak melarikan diri dari Konoha. Seingat Naruto, dokter itu juga mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya.
Jujur saja, Naruto tidak tahu sama sekali tentang apa yang dimaksud dengan taman Eden. Bocah pirang itu justru malah lebih tergelitik tentang kata "Kebangkitan kembali" seperti yang dilontarkan pria hitam di depannya. Dia merasa cukup penasaran akan apa maksudnya. Mungkinkah memiliki arti yang terselubung, ataukah memang itulah makna sebenarnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan padaku, Nagato dan Konan setelah kalian berhasil menangkap kami?' tanya Yahiko tenang. Pria berambut orange itu sama sekali tidak terlihat gugup meskipun dalam keadaan tersudut seperti ini.
"Kalian bertiga akan kami bawa ke markas utama Akatsuki. Sisanya, aku tidak tahu," jawab pria berkulit hitam seraya memicingkan matanya. "Berdoa saja, semoga ada upacara kematian setelah kalian meregang nyawa."
Naruto terkejut melihat ketenangan Yahiko. Pria berambut orange itu tidak terlihat merasa ketakutan sedikitpun meski lawan bicaranya telah mengancamnya secara terang-terangan. Saat ini, Yahiko justru malah berjalan mendekati pria hitam di hadapannya seolah balik menantang. Tepat ketika dirinya hanya berjarak selangkah dengan pria berkulit hitam itu, Yahiko menoleh ke arah Naruto dan tersenyum penuh arti.
Sebuah peluru melesat dan menembus tubuh pria berkulit hitam anggota Akatsuki itu. Tubuh pria itu terhuyung ke belakang dan tanpa banyak waktu segera ambruk. Naruto tidak tahu siapa yang melakukannya. Tapi yang jelas ini adalah saat yang tepat untuk segera menyelamatkan Sakura.
Tanpa banyak waktu Naruto melompat menghamburkan dirinya ke salah satu anggota Akatsuki yang sebelumnya menghantam tubuh bocah pirang itu. Bocah pirang itu dengan cekatan segera menjegal kaki pria itu hingga jatuh telentang. Sebelum pria itu sempat bereaksi, Naruto kembali menghajar wajahnya dengan gagang senapan milik pria itu sendiri. Serangan yang benar-benar telak dan tanpa adanya perlawanan sama sekali.
Di pihak lain Yahiko terlihat masih berjibaku melawan musuhnya. Baik Yahiko maupun anggota Akatsuki, mereka berdua saling melancarkan serangan satu sama lain. Hingga pada suatu titik tubuh Yahiko dikunci oleh lawannya. Pria berambut orange itu bisa saja telah meregang nyawa andai saja Shino tidak segera menembak kepala anggota Akatsuki itu.
Naruto akhirnya berhasil menyelamatkan Sakura. Gadis musim semi itu terlihat yang masih sangat syok. Tubuhnya bergetar ketakutan. Demi menenangkannya, Naruto mencoba memeluk Sakura. Jujur bocah pirang itu merasa sedikit gugup untuk melakukannya, tapi dia mencoba menampiknya.
"Pertolongan yang tepat waktu!" teriak Yahiko pada Shino. Bocah itu hanya mengangguk.
"Jangan bilang jika kau yang menembak mati pria berkulit hitam?" tanya Naruto setelah berhasil menenangkan Sakura.
"Dia memang yang melakukannya..." jawab Yahiko mewakili Shino. "Itulah alasan mengapa sejak awal aku terus bersikap tenang. Aku sudah tahu jika saat itu Shino tengah bersembunyi disekitar kita. Aku juga tahu jika Shino tengah menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka.
Naruto mengangguk tanda paham. Mereka kemudian segera merunduk ketika baku tembak terdengar kembali. Naruto tahu jika baku tembak itu antara para anggota Akatsuki dengan teman-temannya. Dia merasa perlu membantu. Karena itulah bocah pirang itu segera bangkit dan mengacungkan senapan di tangannya.
Sebuah peluru panas sukses menggores lengan tangan kanannya tepat ketika Naruto mulai mengacungkan senapan. Bocah pirang itu meraung kesakitan sembari merunduk berlindung kembali. Meski keadaan sekitar memang cukup temaram Naruto bisa tahu jika saat ini darah segar tengah mengucur di lengan tangan kanannya.
"Oh, tidak.. Narutoo!" teriak Sakura khawatir.
"Sial, mereka benar-benar telah menandai kita..." umpat Yahiko.
Naruto tidak mampu berkata apapun. Saat ini, bocah pirang itu hanya bisa meringis kesakitan. Dia hanya berusaha sebisa mungkin menahan rasa sakit yang mulai menjalar di lengan kanannya. Rasa sakitnya benar-benar tak terperi. Rasanya ibarat memasukan tangan ke dalam minyak yang mendidih. Begitu panas dan menyakitkan.
Memang peluru itu hanya menggores lengan Naruto saja. Sisi negatifnya, melihat kedalaman luka yang diterimanya, sudah jelas jika hal itu tidak bisa disepelekan. Bocah pirang itu harus segera diberi pertolongan sebelum dirinya mati kehabisan darah. Sisi positifnya adalah Naruto harus bersyukur karena peluru itu tidak menembus lengannya dengan telak.
"Sial, sakit sekali..." gerutu Naruto.
"Kau tahan, aku akan membalut lukanya dengan kuat agar pendarahannya berhenti," ucap Sakura mengobati Naruto.
Naruto hanya mengangguk pasrah. Dia tahu rasa sakitnya pada lengannya akan bertambah 2 kali lipat ketika Sakura mulai mengobatinya. Tapi meskipun begitu, itu lebih baik daripada dirinya harus mencari donor akibat tubuhnya kehabisan darah.
Naruto kemudian lantas memejamkan mata sembari menggigit lengannya kirinya ketika Sakura mulai membalut lukanya dengan kuat. Sesuai dugaannya. Rasa sakitnya benar-benar meningkat 2 kali lipat. Kalau saja dia tidak ingat jika sedang dalam pertempuran, bocah pirang itu mungkin akan segera berteriak kesakitan.
"Kau akan baik-baik saja. Tapi yang terpenting, jangan terlalu banyak bergerak..." ucap Sakura setelah selesai mengobati Naruto.
Naruto kembali mengangguk. Bocah pirang itu kemudian menoleh ke arah Shino dan Yahiko. Keduanya terlihat tengah serius memantau keadaan. Shino mengamati bagian depan tempat mereka berlindung, sedangkan Yahiko berjaga pada bagian belakang berjaga-jaga apabila ada serangan tidak terduga seperti sebelumnya.
"Beberapa dari mereka mulai berjalan ke arah kita," ucap Shino memberikan informasi.
"Berapa banyak?" tanya Yahiko sembari mengawasi bagian belakang.
"3 orang. Tapi mereka terlihat sangat terlatih," Jawab Shino.
"Apa maksudmu?" tanya Yahiko kembali merasa tidak paham dengan jawaban Shino.
"Mereka dengan mudah menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Shikamaru dan yang lainnya," Jawab Shino lebih lanjut. "Jika aku boleh menyebutnya, mereka bertiga terlihat seperti seorang profesional."
Merasa penasaran, Yahiko segera berpindah tempat dan mengamati ketiga orang yang dikatakan oleh Shino. Berada tepat di sebelahnya, Naruto bisa tahu jika saat ini tubuh Yahiko tengah menegang. Naruto tidak tahu dengan pasti apa penyebabnya. Namun jika boleh mengira, penyebabnya adalah karena ketiga orang yang saat ini diamatinya.
"Kau benar..." ucap Yahiko sembari menatap Naruto dan yang lainnya. "Mereka memang profesional. Selain itu mereka juga terlampau berbahaya bagi kita semua."
"Apa maksudmu?" tanya Shino tidak mengerti.
Yahiko tidak segera menjawab. Mungkin jika boleh memilih, pria berambut orange itu lebih suka untuk tidak menjawabnya.
"Mereka adalah 3 pembunuh tersadis. Mereka adalah Deidara, Kakuzu serta Hidan. Mereka adalah mantan rekanku..." jawab Yahiko.
Keadaan menjadi hening ketika Yahiko mengakhiri penjelasannya. Bukan karena Naruto, Shino dan Sakura terdiam tak mampu berkata-kata setelah mendengar penjelasan dari Yahiko. Namun hening kali ini memanglah hening dalam artian yang sebenarnya. Bagi Yahiko keadaan seperti ini bukanlah pertanda baik.
Suara benda dilempar kemudian terdengar di sebagian tempat di ruangan tersebut. Tidak lama berselang, sebuah benda bundar seukuran bola bekel menggelinding dan berhenti di samping tempat Naruto dan yang lainnya bersembunyi. Benda bundar itu lalu mengeluarkan suara klik sebelum akhirnya terbuka dan menyala.
"Sial, itu bom. Cepat lari!" teriak Yahiko memperingatkan Naruto dan yang lainnya.
Tidak sampai 3 detik, bom itupun meledak. Bukan hanya di tempat Naruto berada. Tapi di semua tempat. Baik Naruto dan yang lainnya, tubuh mereka semua terpental jauh akibat kekuatan leadakan bom tersebut. Samar-samar, bocah pirang itu bisa mendengar gelak tawa seseorang yang nampak begitu menikmati setiap detik bom-bom itu meledak.
Berkat pengobatan Sakura, rasa sakit yang terasa di lengan kanan Naruto berangsur mulai membaik. Tapi tidak dalam waktu yang lama. Gara-gara terpental jauh dan menabrak puing reruntuhan, rasa sakit itu kembali merayapi lengan kanannya. Darah yang sebelumnya sudah mulai berhenti, kini mulai mengalir lagi sementara alunan ledakan terus terdengar bagaikan irama lagu upacara pernikahan
Ledakan yang berlangsung kira-kira sepanjang 5 menit kini mulai mereda. Suara gelak tawa yang didengar oleh Naruto lambat laun mulai mengecil hingga akhirnya tidak terdengar sama sekali. Naruto yang telah terbiasa dengan situasi semacam ini merasa curiga. Jika bagi seroang introvert keheningan adalah surga, maka bagi Naruto keheningan saat ini terasa aneh dan patut untuk dicurigai. Bocah porang itu hanya merasa jika akan ada hal yang lebih mengerikan lagi selain bom-bom yang meledak sebelumnya.
"Ini aneh, aku merasa mereka telah pergi dari tempat ini," ucap Yahiko sembari memgusap kakinya yang sedikit berdarah akibat benturan.
"Aku juga begitu. Tapi bukankah ini terlampau aneh?" tanya Naruto. "Melihat seperti apa mereka, bukankah terlalu bodoh jika berpikir kita telah mati akibat ledakan bom itu?"
"Tidak perlu dipikirkan. Sekarang kita harus bertemu dengan yang lainnya. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu buruk yang menimpa mereka..." sela Sakura.
"Kau benar. Aku melihat sebuah pergerakan di sana dan di sana..." ucap Shino. Kata-kata bocah itu berhasil mengambil alih perhatian Naruto dan yang lain.
Setelah memastikan jika pergerakan yang dilihat oleh Shino bukan berasal dari musuh, Naruto dan yang lain sepakat untuk mendatanginya. Mereka semua yakin jika itu adalah pergerakan dari teman-temannya. Meskipun diliputi keyakinan yang kuat, Naruto tetap saja merasakan sebuah kekhawatiran. Bocah pirang itu tidak tahu apa yang dikhawatirkannya. Naruto hanya berharap, semoga semua teman-temannya baik-baik saja.
Senyum Naruto akhirnya merekah melihat jika apa yang dilihat Shino adalah memang teman-temannya. Saat itu juga dirinya merasa diliputi sebuah kelegaan yang luar biasa. Jika saja dia tidak punya rasa malu, mungkin bocah pirang itu akan segera menghambur dan memeluk teman-temannya satu-persatu.
"Syukurlah kalian selamat..." ucap Naruto sumringah.
"Ya, begitu pula dengan kalian..." balas Neji santai.
Keadaan Neji terlihat sangat kacau sekali. Hampir sekujur tubuhnya belepotan dengan noda darah dan debu hingga kadar ketampanan pemuda berambut panjang itu berkurang 50 persen. Pemandangan yang sama rupanya juga terjadi pada yang lainnya. Mereka semua terlihat lebih kucel dan tidak enak untuk dilihat.
"Jadi mereka benar-benar pergi?" tanya Shikamaru merasa aneh.
"Sepertinya memang begitu..." jawab Nagato.
Naruto mengangguk. Bocah pirang itu kemudian memandangi teman-temannya satu persatu dan mulai menghitungnya. Tindakannya memang terkesan tidak ada kerjaan. Namun entah kenapa dirinya merasa perlu melakukannya dan setelah hitungan terakhir selesai, sebuah fakta mengejutkan didapatinya.
"Hei, kemana Sai dan Ino?" tanya Naruto pada Shikamaru dan Nagato.
"Hei, bukankah saat keluar dari persembunyian mereka ada di belakangmu tadi, Nagato?" jawab Shikamaru kebingungan seolah baru saja menyadarinya.
"Memang seperti itu, tapi aku juga tidak tahu kemana mereka saat ini," balas Nagato.
Baik Shikamaru maupun Nagato, keduanya terlihat sama bingungnya. Perasaan khawatir yang sebelum menguap dalam diri Naruto kali ini mulai muncul kembali. Bocah pirang itu kemudian mulai mengaitkan hilangnya Sai dan Ino dengan kepergian para anggota Akatsuki yang terkesan misterius.
"Apa ini ada kaitannya dengan kepergian anggota Akatsuki yang terasa begitu aneh?" tanya Naruto menyampaikan asumsinya.
"Itu memang benar..." jawab seseorang yang tidak lain adalah Sai.
"...dan mereka berhasil menculik Ino." Setelah mengucapkan kalimat itu, Sai segera ambruk dan tak sadarkan diri.
.
.
.
to be continue
.
.
Hai teman-teman ! mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan yang telah saya perbuat. Baik itu kesalahan penulisan hingga update yang terlampau sangat lama. Mohon dimaafkan yah teman-teman. Doakan saja semoga kedepannya tidak ada keterlambatan lagi dalam segala aspek. Akhir kata, terima kasih untuk segala perhatian kalian pada fic saya ini. Semoga tetep jadi pembaca setia fic saya dan jangan lupa review nya yah
Balasan Review :
Kensherlocken : Haha, maaf update lama. Semoga di chapter ini rasa penasarannya terobati
Berry uchiha : Emang nanggung ya? Saya mohon maaf kalo begitu. Di chapter ini nasib Naruto akan terjawab
Galura no Baka : Waduh galura san, kalo Naruto mati kelar donk fic gue ini?
SR not Author : Anak desa tapi rejekinya kota ya? Amien.
IrfaanFandy : Oke sama2. Maaf update nya lama. Semoga terpuaskan di chapter terbaru ini
Cherrysand & himawari zuifa : Maaf ya update nya lama, tapi kalo update kilat gak mungkin deh #gomen
Fauzy kun : terima kasih buat respon positifnya. Soal panjang-pendek tergantung materi cerita di tiap chapter.
Mashiro kurawa : salam kenal juga. Terima kasih buat respon positifnya. Semoga tetep suka ama fic ini kedepan nya
Elleora NS : salam kenal Elle san. Terima kasih. Soal kisah cinta itu gimana ya? Kita lihat kedepannya aja deh. Hehe, makasih buat review nya
