DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-70
.
Hallo semuanya..! Me gustas tu, me gustas tu everi badeh..! Saya datang kembali dengan membawa fic yang cukup absurd bagi kalian semua.. Haha. Dengan semangat kemerdekaan ini semoga aja makin nyantol yah buat para readers semua. MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA atau MATI
Chapter 27
.
.
.
Naruto menghirup udara dalam-dalam. Ada rasa kelegaan di setiap udara yang dihisapnya. Bocah pirang itu merasa begitu nyaman dan aman. Dia tidak mengerti apa penyebabnya. Mungkin jika boleh menerka-nerka, semua itu karena pada akhirnya mereka bisa keluar dari kehidupan bawah tanah selama beberapa hari terakhir.
Ya, kira-kira sudah lebih dari 15 hari Naruto dan teman-temannya terus berkutat di bawah tanah layaknya cacing. Setiap harinya mereka selalu berlarian kesana kemari. Bergulat dengan monster, menghajar para tentara dan masih banyak yang lainnya.
Dada Naruto seolah berbunga-bunga ketika pertama kalinya mereka keluar ke permukaan. Serangan rasa kelegaan benar-benar membanjiri hatinya. Bocah pirang itu merasa bagaikan seorang bayi yang baru lahir. Terasa amat gembira ketika melihat rupa dunia yang beberapa hari terakhir dilupakannya.
Naruto memandang langit malam dengan penuh perhatian. Bocah pirang itu awalnya merasa aneh dengan kegiatan yang dilakukannya. Seumur-umur, Naruto yakin jika dirinya bukan seorang maniak astronomi. Jadi ketika dia mulai tertarik memandangi benda langit bercahaya di langit malam, itu pertanda jika dirinya telah keluar dari kepribadian aslinya. Entahlah, mungkin karena terlalu lama berkutat di bawah tanah layaknya cacing membuat Naruto memiliki kepribadian ganda.
Tidak jauh dari tempat Naruto berdiam diri saat ini, sebuah pintu besi yang letaknya tersembunyi dari luar terbuka dan nampaklah Sakura. Naruto sempat melirik sebentar sebelum akhirnya kembali memandangi langit malam. Gadis musim semi itupun kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah Naruto.
"Bagaimana keadaan Sai?" tanya Naruto ketika Sakura tiba di sampingnya.
"Hei, bisakah kau bertanya setelah aku duduk terlebih dahulu?" ucap Sakura protes. Sedangkan Naruto hanya tersenyum meminta maaf.
Setelah itu Sakura kemudian mendudukan dirinya tepat di samping Naruto. Bukannya segera menjawab pertanyaan Naruto, gadis musim semi itu justru menutup mata dan terhanyut oleh rasa nyaman yang ditimbulkan udara sekitar.
"ehem..." Naruto mencoba menginterupsi. Dengan segera Sakura membuka kedua matanya dan tersenyum ke arah Naruto.
"Oke, baiklah..." jawab Sakura. "Kita mulai dari mana dulu?"
"Terserah kau saja..." jawab Naruto sembari membaringkan tubuhnya.
Naruto kemudian menutup matanya sembari memasang kedua telinganya baik-baik untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh gadis di sampingnya.
"Meskipun masih tak sadarkan diri, luka akibat tusukan yang diterima Sai tidak terlalu dalam. Karena itulah tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Sakura memulai pembicaraan.
"Tapi bagi Yahiko, Neji maupun Shikamaru, hal itu justru terlihat aneh," lanjut Sakura.
Rasa ingin tahu Naruto seketika kembali muncul. Bocah pirang itu pun segera membuka matanya dan buru-buru bangkit dari posisi tidurnya. Melihat hal itu, Sakura hanya menggeleng-geleng kepala merah mudanya.
"Apa maksudnya?" tanya Naruto menatap Sakura dengan serius.
"Entahlah, mereka bertiga tidak menjelaskannya lebih lanjut. Mereka hanya berkata seperti itu dan kemudian segera pergi ketika aku tengah mengobati Sai. Mungkin mereka akan membicarakannya ketika Sai siuman." jawab Sakura santai.
"Ya, mungkin memang seperti itu..." balas Naruto sembari merebahkan dirinya kembali.
Tidak ada perbincangan lebih lanjut yang membuat keadaan selanjutnya menjadi hening. Keduanya kemudian saling berdiam diri tanpa berminat membuka obrolan kembali. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Naruto yang memejamkan mata beristirahat, sementara Sakura yang nampaknya tengah asyik menatap langit malam.
Derap langkah kaki terdengar kembali oleh Naruto. Suara langkah kaki itu terasa sangat jelas jika tengah mengarah padanya. Dari seberapa cepat deru langkah kaki itu terdengar, bocah pirang itu menyimpulkan jika siapapun pemilik langkah kaki itu tengah tergesa-gesa. Mereka penasaran, Naruto pun membuka matanya dan kembali mendudukan diri.
"Sudah aku kira, kalian berdua pasti tengah berduaan..." ucap Tenten ketika sampai di tempat Naruto dan Sakura berada.
Naruto hanya menghembuskan nafas tidak peduli. Sementara Sakura membuang muka. Namun terlihat rona merah di pipinya.
"Ada apa?" tanya Naruto malas.
"Hei... bisa kau membuang ekspresi malasmu ketika bertanya?" timpal Tenten merasa tidak senang.
Naruto berdecak kecil mendengar jawaban Tenten. Sedangkan Sakura hanya menggeleng-geleng. Gadis kuncir kuda bernama Tenten itu hampir selalu membuat Naruto kehilangan mood nya ketika beradu mulut. Meskipun akhir-akhir ini mereka terlihat cukup akur.
"Baiklah-baiklah, jadi ada apa kau datang kemari nona muda?" tanya Naruto sarkastis.
Tenten terlihat tidak senang mendengarnya. Namun karena merasa terlalu malas berurusan dengan Naruto, gadis kuncir kuda itu mencoba tidak peduli.
"Hanya cuma memberitahu jika teman pucatmu itu sudah sadar. Terima kasih atas perhatiannya dan jikalau kalian berdua sudah selesai dengan kegiatan romatismenya, aku harap kalian melihatnya." Jawab Tenten panjang lebar disertai sarkasme khasnya.
Setelah itu Tenten kemudian berbalik dan melangkah pergi sebelum Naruto dan Sakura sempat bereaksi. Tidak lama berselang kedua insan itu kemudian segera bangkit dan mengejar kepergian Tenten.
.
Naruto dan Sakura akhirnya tiba bersama-sama dengan Tenten setelah keduanya berjuang keras mengejar langkah kaki gadis kuncir kuda itu. Jika saja tujuan mereka tidak sama, mungkin Tenten akan menolak mentah-mentah Naruto dan Sakura yang ingin tiba di tempat Sai berada secara bersama-sama.
Naruto tersenyum sumringah melihat Sai yang telah tersadar. Bocah kulit pucat itu saat ini tengah berbaring sembari menatap ke atas dengan tatapan yang kosong. Sempat Sai menoleh ke arah Naruto dan Sakura ketika keduanya tiba, namun setelahnya dia kembali menatap ke atas seperti semula. Naruto kemudian menatap teman-temannya yang lain dan mereka hanya menggelengkan kepala tanda tidak mengerti.
Naruto paham akan apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Sai. Bocah pirang itu tidak sedang berlagak paham akan perasaan Sai. Tapi memang kenyataannya sudah jelas. Dia ingin sekali membantu bocah kulit pucat itu. Ya, membantu menyelamatkan Ino yang saat ini tengah diculik oleh anggota Akatsuki.
"Jadi Sai bisa kau ceritakan semuanya?" tanya Shikamaru pada Sai.
Sai tidak menjawab. Bocah kulit pucat itu justru malah membuang muka.
"Kau harus menceritakan semuanya. Mungkin dengan begitu kami bisa..."
"Aku tidak bisa melindunginya!" ucap Sai memotong perkataan Shikamaru.
"Aku gagal. Aku telah mengecewakan paman Inoichi. Aku tidak bisa menjaga kepercayaan yang telah dia titipkan padaku.." ucap Sai geram. Raut wajahnya terlihat sangat terluka.
Tidak ada yang berani membuka mulut. Semuanya, baik Naruto maupun lainnya seolah senada jika saat ini Sai butuh waktu untuk melampisakan rasa kecewanya.
"Mereka dengan mudahnya merebut Ino dari tanganku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini..." ucap Sai kecewa pada dirinya sendiri. "Aku benar-benar orang yang tidak berguna!"
"Ya, kau benar..." seseorang akhirnya membuka mulut dan dia tidak lain adalah Neji.
Dengan segera seluruh perhatian beralih kepada pemuda berambut panjang itu. Ada rasa kesal dalam hati Naruto melihat Neji seolah tidak paham akan situasi. Bocah pirang itu tahu akan tabiat Neji. Tapi setidaknya pemuda berambut panjang itu sadar diri jika sikapnya menyebalkannya itu tidak tepat untuk saat ini.
"Kau memang tidak berguna... dan akan menjadi semakin tidak berguna lagi jika hanya terus-menerus merutuki kegagalan tanpa ada niat sekalipun untuk memperbaikinya!" ucap Neji pada Sai. Sedangkan bocah kulit pucat itu hanya terdiam.
Naruto terkesima akan perkataan Neji. Bocah pirang merasa malu akan dirinya sendiri. Awalnya dia berpikir jika perkataan Neji yang mengejek Sai adalah refleksi akan sikapnya yang memang menyebalkan. Namun rupanya perkiraan Naruto keliru. Pemuda berambut panjang itu rupanya justru tengah mencoba membangkitkan semangat Sai. Naruto berjanji dalam hati, jika nantinya akan kesempatan berdua antara dirinya dan Neji, bocah pirang itu akan meminta maaf padanya.
"Tidak perlu khawatir, Sai. Aku yakin Ino pasti baik-baik saja." ucap Yahiko.
Sai menoleh ke arah Yahiko. Bocah kulit pucat memandang Yahiko dengan tatapan tidak percaya. Seolah berkata darimana pria berambut orange itu yakin sekali jika keadaan Ino baik-baik saja.
"Kau tahu alasan kenapa mereka tidak membunuhmu?" kali ini Shikamaru yang bersuara. Sai hanya menggelengkan kepala.
"Itu karena mereka ingin kita menyelamatkan Ino." ucap Shikamaru mengatakan alasan kenapa Sai masih hidup.
Naruto cukup pusing akan situasinya saat ini. Bocah pirang itu tidak mengerti alasan apa yang mendasari Shikamaru mengatakannya. Jika memang tujuan menculik Ino adalah agar memancing mereka untuk menyelamatkannya, bukankah sudah jelas jika itu adalah sebuah jebakan? Entahlah, Naruto merasa otaknya akan meledak jika memikirkannya.
"Apa maksudnya?" tanya Sakura tidak mengerti.
"Aku rasa ini semacam pertukaran. Mereka menginginkan sesuatu dari kita dan aku yakin mereka pasti telah mengatakannya padamu. Jadi tolong kau tahu sesuatu segera katakan pada kami," jawab Neji lugas..
Sai menunduk mencoba berpikir. Sementara itu baik Yahiko, Nagato, Neji maupun Shikamaru saling bertukar pandangan. Naruto bisa melihat jika ke empatnya tengah menyembunyikan sesuatu dan bocah pirang itu merasa perlu tahu.
"Aku tidak ingat akan apapun..." jawab Sai.
"Jangan bertele-tele, bung..." timpal Nagato kesal. Terlihat sekali jika pria berambut merah itu sangat kesal akan sikap Sai.
"Tenanglah Nagato, semuanya masih sekedar asumsi..." ucap Yahiko memperingatkan Nagato.
Yahiko mencoba menahan lengan Nagato yang terlihat mulai naik darah. Sementara Sai hanya menatap keduanya dengan tatapan tidak paham. Sementara Neji dan Shikamaru menghembuskan nafasnya kasar. Naruto yang melihat kejadian itu menjadi semakin penasaran akan akan yang tengah disembunyikan oleh ke empat orang itu.
"Hei... sebenarnya yang kalian sembunyikan?" tanya Naruto keras. Bocah pirang itu merasa perlu tahu saat ini juga.
"Apa kau tidak merasa ada yang janggal bocah pirang?" tanya Nagato pada Naruto.
Naruto menoleh ke arah Nagato. Bocah pirang itu menatap Nagato sembari mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti. Jujur, saja Naruto merasa cukup kesal dengan teka-teki yang ada di hadapannya saat ini. Dia bukanlah seorang Sherlock Holmes yang bisa menerka-nerka dengan cepatnya. Dia adalah Naruto, bocah pirang yang punya segudang masalah problematika kehidupan anak remaja dan jangan lupakan isi kepalanya yang sedikit kosong.
"Ayolah, aku sudah muak dengan permainan teka-teki kalian..." ucap Naruto kesal.
"Aku sudah menduganya," balas Nagato sembari tersenyum mengejek.
Naruto mendengus kesal mendengar cibiran Nagato. Pria berambut merah itu rupanya benar-benar membencinya. Jika saja tidak ada orang lain di sekitarnya, mungkin Naruto akan menghajar pria merah itu saat ini juga.
"Aku harap ini hanyalah sebuah asumsiku... dan semoga saja memang keliru." Neji mulai berbicara sembari memandang Sai. Sementara Naruto mendengarkan dengan seksama.
"Seperti yang dikatakan oleh Shikamaru sebelumnya, alasan kenapa Sai tidak dibunuh saat penculikan Ino adalah karena mereka ingin agar kita pergi menyelamatkannya. Karena itulah kami justru..."
"Mencurigaiku..." potong Sai. "Kalian berpikir jika penculikan Ino hanyalah sebuah rekayasa belaka."
Naruto tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagi Naruto, Sai adalah sosok yang bisa dibilang cukup loyal. Meskipun mereka belum berteman baik, tapi ada sebuah sensasi dalam ingatan Naruto yang mengatakan jika Sai bukanlah seperti apa yang dituduhkan oleh yang lainnya.
"Dalam seni konspirasi, memang cara seperti itu seringkali dimainkan," Sai kembali berbicara. "Sebelum bertemu dengan paman Inoichi aku seringkali memainkan skenario seperti itu bersama denga kakakku Shin..."
"Langkah awalnya adalah dengan mengambil hati si korban. Setelah rasa kepercayaan dan hati si korban berhasil kau dapatkan, selanjutnya akan lebih mudah membuatnya terjatuh ke dalam perangkap..." ucap Sai dengan ekspresi menantang menatap semua orang.
Pada akhirnya baik Naruto dan semuanya mengetahui akan cerita masa lalu Sai. Namun bocah pirang itu masih tidak mengerti tentang apa tujuan Sai mengatakannya. Yang Naruto tahu, ucapan Sai hanya akan membuatnya semakin terpojok.
"Hee.. benalu teriak benalu. Sarkasme mu benar-benar sangat menakjubkan, bung. Jika saja aku orang biasa, pasti tidak akan mengerti makna sebenarnya dari apa yang kau katakan," ucap Nagato merespon. "Sekarang cepat katakan sesuatu, atau..."
"Atau apa? Kau akan membunuhku?" tanya Sai memotong perkataan Nagato. Suasana semakin memanas.
"Kau ingin aku mengatakan sesuatu? Baiklah akan kukatan..." ucap Sai setengah berteriak. "Aku bukan pengkhianat dan aku tidak tahu apapun. Jadi, jika tidak ada hal yang lebih penting lagi biarkan beristirahat sebentar sebelum pergi mencari Ino..."
Baik Neji, Shikamaru maupun Yahiko hanya terdiam. Mereka terlihat tengah berpikir dan menimbang. Sedangkan Naruto tidak tahu harus bersikap apa. Semuanya terasa abu-abu setelah mendengar penuturan dari Sai. Dalam hati bocah pirang itu bertanya pada dirinya sendiri, apakah ada yang layak dia percayai selain dirinya sendiri?
"Aku minta maaf jika kau merasa tersinggung, bung. Tapi mengingat situasi saat ini yang benar-benar diluar kendali, maka seharusnya memahaminya," ucap Yahiko meminta maaf pada Sai.
"Ya, aku sangat mengerti. Jika aku ada pada posisi kalian, aku juga akan melakukannya. Tapi yang jelas, aku tidaklah seperti yang kalian dituduhkan," balas Sai.
Sai kemudian menerawang. Bocah kulit pucat itu terlihat tengah berusaha mengingat kembali kejadian penculikan Ino.
"Tepat setelah para anggota Akatsuki melempari kita dengan bom, kalian tahu sendiri jika mereka tiba-tiba saja menghilang, bukan?" tanya Sai pada semuanya. "Sebenarnya itu tidaklah benar. Beberapa diantaranya menyelinap dan menyerangku dari belakang. Dalam sekejap mereka membuatku ambruk dan membawa pergi Ino."
Naruto mengangguk percaya dengan apa yang diceritakan oleh Sai. Bocah pirang itu kemudian melihat jika Yahiko maupun Sakura juga mengangguk tanda percaya. Hal itu bukan tanpa alasan, mengingat apa yang dialami oleh Sai dan Ino terjadi pula pada mereka beberapa waktu lalu. Karena itulah sangat wajar jika Naruto, Sakura maupun Yahiko mempercayai apa yang dikatakan Sai.
"Ya, ya... aku paham," respon Nagato tak peduli. "Ngomong-ngomong, siapa yang membuat skenario penculikan itu? Kau? Atau gadis pirang itu?"
Tanpa aba-aba Sai segera menghambur ke arah Nagato. Andai saja Shikamaru dan Naruto tidak segera meraih tangan bocah kulit pucat itu, bisa dipastikan ajang adu pukul akan kembali terjadi.
"Tutup mulutmu, brengsek! Aku masih bisa terima jika kau hanya menuduhku. Tapi jika kau berani mengaitkan Ino, kau akan kubunuh..." ucap Sai penuh ancaman.
Sepanjang Naruto mengenal Sai, baru pertama kalinya bocah kulit pucat itu terlihat begitu emosi. Dari tatapan matanya Naruto dapat melihat jika ancaman yang dilontarkan Sai tidaklah main-main. Dia benar-benar akan membunuh Nagato jika sekali lagi mengaitkan Ino dalam permasalahan saat ini.
"Tolong berhenti membuat keadaan semakin tidak terkendali, Nagato. Kau membuat semuanya semakin ricuh..." tegur Yahiko pada Nagato. Pemuda berambut merah itu mendengus kesal.
"Aku hanya bersikap waspada." Jawab Nagato membela diri. Pemuda berambut panjang itu kemudian menatap satu-persatu orang-orang yang berada di tempat tersebut.
"Kalian bisa bersikap sesantai itu karena kalian belum pernah merasakan apa yang disebut dengan sebuah pengkhianatan. Setelah mengalaminya, kalian pasti akan mengerti kenapa aku bersikap seperti ini." setelah itu Nagato segera pergi dari tempat tersebut.
Semua mata saling pandang setelah kepergian Nagato. Yahiko terlihat menundukan kepala menyesali situasi yang semakin runyam saja. Sedangkan Sai, bocah melepas dengan paksa pegangan tangan Naruto dan Shikamaru. Dia kemudian berjalan pergi ke arah yang berlawanan dengan arah Nagato pergi.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Naruto pada Yahiko.
"Aku tidak tahu. Situasi saat ini benar-benar membuatku tidak dapat berpikir jernih." Balas Yahiko. Kentara sekali jika pria berambut orange itu tengah frustasi.
Setelah itu Yahiko melangkah pergi seorang diri. Yang tersisa saat ini di tempat itu tinggalah Naruto, Sakura, Shikamaru, Neji serta Tenten.
"Ngomong-ngomong dimana Konan dan Shino?" tanya Naruto membuka pembicaraan.
"Mereka tengah menyelediki ke arah mana anggota Akatsuki membawa pergi Ino..." jawab Neji sembari mendudukan dirinya.
Naruto mengangguk setelah mendengar penuturan dari Neji. Bocah pirang itu pun mulai mendudukan dirinya mengikuti Neji. Setelahnya, baik Sakura, Shikamaru dan Tenten juga mengikutinya. Pada akhirnya saat ini mereka berlima duduk melingkar saling berhadapan seolah ingin berbagi pemikiran satu sama lain.
Naruto sangat yakin jika mereka semua termasuk dirinya ingin mengutarakan sesuatu tentang situasi saat ini. Tapi faktanya, mereka semua bungkam. Seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka enggan untuk menuturkannya. Sebenarnya bukan enggan, namun lebih ke arah ragu-ragu.
"Baiklah, siapa yang ingin pertama kali berpendapat..." ucap Neji membuka percakapan.
"Aku..." ucap Shikamaru.
Semua mata segera tertuju pada Shikamaru. Naruto dan yang lainnya merasa penasaran tentang apa yang ingin diutarakan bocah pemalas itu. Setelah menyiapkan dirinya, Shikamaru pun akhirnya mulai membuka mulut.
"Aku rasa ada tujuan lain dari penculikan Ino..." ucap Shikamaru.
Selalu saja, setiap kali Shikamaru memulai penjelasan, bocah pemalas itu seringkali melakukannya secara sepotong-sepotong. Seolah dirinya merasa begitu nikmat ketika melihat tatapan tidak mengerti orang-orang di hadapannya.
"Apa maksudmu? Bisakah kau menjelaskannya secara lebih rinci? Jujur saja aku mulai kesal dengan kebiasaanmu itu..." ucap Naruto mengeluarkan unek-uneknya. Shikamaru hanya menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah aku akan lebih rinci lagi." balas Shikamaru. "Pertama, jika apa yang dikatakan Sai memang benar, maka bisa dipastikan jika penculikan Ino memiliki tujuan lain."
"Tujuan lain? Memang apa tujuan sebenarnya?' tanya Naruto sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Memancing kita untuk menyelamatkannya. Itulah tujuan yang sebenarnya. Bukankah sejak awal Shikamaru sudah mengatakannya?" Jawab Neji mewakili Shikamaru. Pemuda berambut panjang itu merasa kesal dengan pertanyaan bodoh Naruto.
Naruto merasa bodoh dan cukup malu. Bocah pirang itu pun merutuki pertanyaan yang telah dia lontarkan. Kalau saja dia bisa memutar kembali waktu, Naruto pasti akan lebih memilih untuk menutup mulutnya daripada melontarkan pertanyaan super konyolnya. Kejadian ini pun menjadi pelajaran berharga bagi Naruto agar lebih berpikir terlebih dahulu sebelum melontarkan pertanyaan.
"Jadi apa tujuan lainnya?" tanya Sakura antusias. Berbanding terbalik dengan Tenten yang seolah tidak peduli. Keberadaannya di tempat itu pun rasanya hanya sebuah formalitas dalam menghormati Neji.
"Tidak ada," jawab Shikamaru yang membuat semua orang mengerutkan keningnya tanda semakin bingung akan pernyataan Shikamaru.
"Sejujurnya... Setelah mendengar penjelasan dari Sai, aku merasa asumsiku itu salah." Lanjut bocah kepala nanas itu.
"Oke, bung... kau membuatku semakin ingin menghajar wajahmu. Bukankah barusan kau bilang akan menjelaskannya lebih rinci?!" cerocos Tenten. Gadis kuncir kuda itu terlihat cukup kesal dengan segala teka-teki yang dilontarkan oleh Shikamaru.
Shikamaru menghela nafasnya berat. Bocah pemalas itu terlihat lelah mendengar segala keluhan dari Tenten. Naruto yang melihatnya tertawa dalam diam. Rupanya selain dirinya masih ada orang lain lagi yang merasa kesal dengan gaya Shikamaru dalam menyampaikan sebuah informasi.
"Baiklah-baiklah, aku akan menjelaskan." Ucap Shikamaru seraya mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
"Setelah mendengar cerita Sai, akupun mulai mengubah pandanganku tentang upaya penyergapan para anggota Akatsuki pada kita. Penyergapan dan segala upaya yang mereka lakukan hanyalah tipuan dari tujuan awal mereka yang tidak lain adalah menculik Ino." ucap Shikamaru gamblang.
Naruto tertegun mendengar penjelasan Shikamaru. Memang apa yang dikatakan oleh bocah pemalas itu masih sebatas asumsi saja. Namun bukan tidak mungkin apa yang dikatakan Shikamaru memang benar adanya. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pendapat Shikamaru memang hampir pasti selalu tepat.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" tanya Neji menatap Shikamaru serius.
"Aku satu kelompok dengan Ino dan Sai. Jika sejak awal mereka ingin menangkap kami bukankah seharusnya dilakukan sejak awal?" tanya Shikamaru pada yang lainnya. "Aku sangat yakin jika para anggota Akatsuki itu sejak awal telah mengawasi kami dari arah belakang."
Neji tidak berpendapat. Pemuda berambut panjang itu hanya terdiam memikirkan perkataan Shikamaru. Sedangkan Naruto, bocah pirang kembali memikirkan situasi dimana dirinya berserta Sakura dan Yahiko disergap dari arah belakang layaknya Sai dan Ino.
"Tunggu sebentar Shikamaru, situasi yang dialami oleh Sai dan Ino juga terjadi pada kami. Bagaimana kau menjelaskannya?" Sakura terlihat tidak sepaham dengan Shikamaru.
"Skenario..." ucap seseorang menjawab pertanyaan Sakura.
Serentak semua pasang mata segera tertuju pada sosok yang menjawab pertanyaan Sakura. Dia tidak lain adalah Shino yang rupanya sejak tadi telah berada di sekitar Naruto dan yang lainnya. Bocah nyentrik itu memang seringkali muncul secara tiba-tiba dan anehnya tidak ada yang menyadari keberadaannya.
Tidak lama berselang muncul Konan bersama seseorang pria asing. Pria asing itu memakai jubah tebal dengan tudung kepala yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Tatapan mata pria itu begitu tajam layaknya mata seekor elang yang tengah menandai mangsanya. Ketika mata Naruto bertemu pandang dengan mata pria asing itu, entah kenapa rasa familiar di dalam hatinya.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" tanya Neji penasaran dengan perkataan Shino yang menjawab pertanyaan Sakura.
"Pria ini yang menjelaskan stiuasi sebenarnya..." balas Konan. "Kalian akan terkejut setelah mengetahui siapa sebenarnya dia."
Neji segera memberikan tatapan menyelidik pada sosok pria asing tersebut. Tidak lama berselang Yahiko, Sai dan Nagato muncul secara bersamaan. Mereka bertiga cukup kaget melihat sosok asing diantara Naruto dan yang lainnya. Samar-samar Naruto dapat melihat senyuman tersungging di wajah Konan ketika melihat ekspresi kaget terpancar di wajah Yahiko dan Nagato.
"Siapa dia?" tanya Yahiko penasara.
"Seorang teman lama," jawab Konan santai.
Pria asing itu pun segera membuka tudung di kepalanya. Nafas Yahiko dan Nagato tercekat ketika melihat wajah pria asing tersebut. Melihat hal itu, Naruto pun penasaran. Bocah pirang itu kemudian menatap wajah pria asing tersebut. Bagi Naruto, wajah pria itu nampak tidak asing hingga sebuah nama tiba-tiba saja muncul di dalam kepala kuningnya.
"Kau... Itachi Uchiha, bukan?"
.
.
.
to be continue
.
.
Segenap keluarga besar ff SURVIVOR mengucapkan selamat untuk DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA yang ke 70. Semoga bangsa Indonesia semakin baik dalam segala aspek. Aspek budi pekerti, ilmu, teknologi, kebudayaan, hukum, ekonomi dan segala aspek yang lainnya. MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!
.
Balasan review :
IrfaanFanday : terima kasih buat support nya. Doakan saja agar inspirasi selalu menaungi isi kepala saya. MERDEKA
Kensherlocken : soal death chara, Insya Allah iya. Terima kasih udah jadi pembaca setia di fic ini. MERDEKA
De-chan : di ff ini segala kemungkinan bisa terjadi terjadi. Bisa aja dugaan kamu bener juga. Kita liat aja nanti ke depannya. Trima kasih untuk review nya.. MERDEKA
Berry uchiha : semua misteri kenapa Ino diculik akan diungkap. Tenang aja berry-san.. terima kasih udah ngasih jejak ya.. MERDEKA
Elleora NS : terima kasih. Semoga makin suka dengan cerita-cerita selanjutnya. MERDEKA
Himawari zuifa : Saya rencanakan fic ini akan berakhir di angka 60an. Saya harap Himawari-san juga masih tetap membacanya sampai chap terakhir. Terima kasih buat review nya. MERDEKA
SR not AUTHOR : Iya, bro. Ino terlalu imut sih, jadinya diculik deh.. hehe. Makasih udah ninggalin jejak. MERDEKA
Ellkyouya : terima kasih udah mau mampir di fic geje inih. Semoga terus setia membaca sampai chapter terakhir ya.. MERDEKA.
