Haloooo... gimana kabar temen-temen semuanya? pasti makin kece cetar membahana badai angin topan beliung. Saya hadir lagi loh... Kembali lagi dengan fanfic super ambigu saya yang gak kelar-kelar. Semoga kalian makin suka ya dan jangan lupa review kecenya..
.
.
Chapter 28
.
.
Naruto tidak tahu jika angin dini hari cukup membuatnya bergidik kedinginan. Meskipun bocah pirang itu sudah cukup melindungi dirinya dengan mantel serba rapat untuk menutupi tubuh, tetap saja udara dingin itu merembes masuk melalui pori-pori pakaian yang dia kenakan. Bagi Naruto, solusinya cuma satu. Berhenti berjalan dan segera mencari tempat berteduh yang hangat.
Ya, saat ini Naruto dan kawan-kawannya tengah berjalan menuju ke sebuah tempat bernama Lembah Kematian. Sebuah tempat yang seumur hidup Naruto baru pertama kali ini mendengarnya. Tapi mungkin saja dirinya tahu, hanya saja untuk saat ini tidak teringat di kepala kuningnya yang sedang rusak.
Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Itachi Uchiha, saat ini Ino tengah disekap di salah satu gedung tua yang berada area Lembah Kematian. Awalnya baik Naruto, Neji serta Shikamaru menolak untuk percaya. Namun setelah Yahiko dan Konan menyakinkan jika Itachi tidak berpihak pada musuh, mereka bertiga pun akhirnya mempercayainya.
Berbicara tentang Itachi Uchiha membuat kepala Naruto berdenyut tidak teratur setiap kali memikirkan bagaimana bisa dirinya bisa mengenal sosok pria asing itu. Bocah pirang itu secara spontanitas mengucapkan nama pria itu dengan jelasnya meskipun pria asing tersebut belum memperkenalkan dirinya. Naruto sendiri merasa kebingungan akan hal itu. Apalagi dengan teman-temannya.
Berdasarkan penjelasannya, Itachi Uchiha rupanya adalah salah satu pendiri organisasi Akatsuki sama seperti Yahiko, Konan serta Nagato. Pria itu bahkan menjelaskan jika dirinya masih menjadi anggota resmi organisasi tersebut. Jika saja pria bermata hitam itu tidak menjelaskan lebih lanjut tentang dirinya, Naruto dan yang lain sudah pasti sudah menghajarnya dengan segera.
Itachi menjelaskan jika dirinya memang masih terdaftar sebagai anggota aktif organisasi Akatsuki. Namun dia juga menjelaskan jika selama 2 tahun ini dirinya tidak pernah terlibat dalam segala macam hal yang berkaitan dengan Akatsuki. Yahiko mengiyakan ucapan Itachi tersebut sebagai bukti jika dirinya tidak berbohong. Pria berambut orange itu bahkan menjelaskan jika selama 2 tahun itu Itachi pergi mencari keberadaan adik laki-lakinya yang hilang.
"Adikmu menghilang 2 tahun yang lalu? Jangan bilang ada kaitannya dengan peristiwa pemboman kediaman keluarga Uzumaki?" tanya Neji memastikan.
"Aku tidak begitu tahu dengan pasti. Setelah lulus dari Universitas, aku melepas jubah kebanggaan Uchiha dan pergi dari rumah hingga akhirnya membentuk oragnisasi Akatsuki." Jawab Itachi menjelaskan dengan gamblang.
Saat itu Naruto menatap Itachi yang tengah berlari di hadapannya dalam diam. Bocah pirang itu merasa jika sosok pria di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Pada jaman seperti ini, melepaskan jubah kebesaran dari sebuah keluarga terhormat adalah tindakan langka. Perbandingannya mungkin 1 banding 1 juta, dan satu itulah sosok yang ada di hadapannya. Entah kenapa, Naruto begitu kagum akan sosok Itachi.
"Ini menarik. Apa menurutmu Akatsuki ada di balik semua kekacauan ini?" tanya Shikamaru pada Itachi.
"Aku rasa mereka sedikit terlibat.." jawab Itachi ringan.
"Sedikit terlibat? Apa maksudmu?" tanya Shikamaru penasaran.
"Ya, baik Akatsuki bahkan Tentara Perdamaian sekalipun hanyalah sebuah pion. Otak dari segala kekacauan ini adalah yang perlu kalian waspadai.." balas Itachi.
"Aku sudah mengiranya sejak awal. Tidak mungkin segalanya menjadi berbalik arah mendukung perbuatan gila Tentara Perdamaian jika tanpa ada kekuatan kekuasaan di baliknya..." sambung Yahiko. "Sejak awal, aku curiga jika semua kekacauan ini adalah ulah dari keluarga bangsawan itu sendiri.
Naruto merasa ragu dengan pendapat Yahiko. Tapi mengingat segalanya bisa saja terjadi dalam permainan kekuasaan, bocah pirang itu akhirnya tidak dapat memungkiri. Yang jadi pertanyaan adalah apa alasan mereka menghancurkan semua kota dengan bom nuklir dengan alasan yang konyol. Surga Eden, kebangkitan kembali atau apalah itu.
"Apa kau tahu apa sebenarnya tujuan mereka yang sebenarnya?" tanya Naruto pada Itachi. Bocah pirang itu berharap semoga saja pria itu dapat menjawab pertanyaannya selama ini.
"Segala kehancuran yang mereka lakukan hingga saat ini..." ucap Itachi. Pria itu kemudian terdiam sejanak. "Aku rasa kita bisa bilang ini adalah sebuah revolusi penyucian..."
"Surga Eden, kebangkitan kembali dan revolusi penyucian? Semua itu benar-benar konyol. Jangan bilang mereka memiliki sebuah mantra untuk sihir menghidupkan kembali orang-orang yang telah mereka bunuh..." umpat Sai kesal.
"Pertanyaannya sekarang adalah kenapa mereka harus repot-repot membunuh jika pada akhirnya mereka menghidupkannya kembali?" sambung Naruto. Itachi hanya menggerakan bahunya tanda tak mengerti.
Naruto dan teman-temannya terus melangkah dengan cepat. Tidak ada waktu untuk bersantai walau sejenak. Mereka benar-benar diburu waktu. Seolah jika mereka berhenti sekejap saja maka para akan berhasil mengejar. Ya, musuh. Baik itu anggota Akatsuki ataupun Tentara perdamaian.
Berbicara tentang tentara perdamaian, Naruto menjadi sedikit penasaran dengan keadaan mereka yang tidak terdengar akhir-akhir ini. Terakhir kali yang bocah pirang itu tahu adalah tentara perdamaian mengerahkan 1 peleton pasukan untuk menyergap Naruto dan yang lain. Sisanya dia tidak mengetahui apupun sebelum akhirnya Itachi menyampaikan fakta yang begitu mengejutkan.
"Berbicara tentang Tentara Perdamaian, aku jadi penasaran dengan 1 peleton pasukan yang mengejar kita... ada dimana mereka saat ini?" tanya Shikamaru penasaran.
"Bukankah mereka semua dibunuh?" ucap Sakura menimbrung.
"Itu hanya asumsi bocah kulit pucat itu..." ucap Tenten seraya menunjuk Sai. "Kenyataannya kita masih belum tahu kebenarannya..."
"Mereka memang dibunuh..." ucap Itachi jelas.
Naruto cukup terkejut mendengarnya. Bocah pirang itu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jika apa yang dikatakan Itachi memang benar, bocah pirang itu merasa cukup lega akan kabar itu. Setidaknya mereka tidak akan diburu lagi oleh tentara perdamaian. Meskipun, dirinya juga merasa penasaran dengan apa yang dia dengar.
"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Naruto penasaran.
"Ada yang bilang mereka dibunuh oleh para Survivor..." jawab Itachi santai.
"Survivor? Siapa lagi mereka itu?" kali ini Tenten yang bertanya.
"Berdasarkan rumor yang beredar, mereka adalah orang-orang yang selamat dari pengeboman..." jawab Konan mewakili Itcahi. "Aku tidak yakin jika mereka yang melakukannya, tapi jika benar itu sangat mengejutkan."
"Mungkin kita bisa bergabung dengan mereka..." ucap Sakura memberi saran.
"Itu adalah rencana yang bodoh. Asal kau tahu, mereka selalu mencurigai terhadap semua orang yang ingin bergabung dengan mereka..." balas Itachi menolak saran yang diberikan oleh Sakura.
.
Tidak ada yang lebih bersemangat selain Sai ketika mereka mulai merencanakan penyelamatan untuk Ino. Bocah kulit pucat itu bahkan tidak beristirahat sama sekali di siang hari ketika malam harinya mereka harus bergerak. Bocah kulit pucat itu bahkan sudah akan pergi menuju ke Lembah Kematian seorang diri jika saja Naruto dan yang lainnya tidak segera mencegahnya.
Naruto sedikit mengerti seperti apa hubungan antara Sai dan Ino. Yang terlihat dengan jelas dimata Naruto adalah mereka dua sejoli yang saling tertarik satu sama lain. Berbeda dengan hubungan Naruto dan Sakura. Bocah pirang itu bahkan tidak bisa menjelaskan seperti apa perasaannya pada Sakura saat ini. Rasanya benar-benar terlalu sukar untuk dijelaskan dengan kalimat yang wajar.
Naruto bahkan merasa aneh dengan dirinya sendiri. Setiap kali Naruto mencoba membuka hatinya lebih dalam pada Sakura, setiap kali itu pula bocah pirang itu dirundung rasa bersalah. Ya, rasa bersalah pada sosok gadis bermata indah yang berada di figura foto medali Uzumaki miliknya. Sebuah rasa bersalah seperti sebuah pengkhianatan cinta. Seolah-olah dia adalah playboy kelas kakap yang gemar berselingkuh di belakang kekasihnya.
Naruto tidak tahu apakah dirinya memang mencintai gadis bermata indah itu di masa lalu. Tapi yang jelas ketika dirinya menatap mata gadis itu, seluruh kegundahan dan kekacauan dalam hatinya meluruh begitu saja tanpa bekas. Bocah pirang itu merasa begitu tentram dan damai. Sesuatu yang sama berbeda sekali jika dirinya menatap mata Sakura. Apakah itu yang disebut dengan cinta? Bocah pirang itu merasa pusing ketika memikirkannya.
.
"Jadi, apa yang kau inginkan dari kami setelah kita berhasil menyelamatkan Ino?" tanya Shikamaru tanpa basa-basi.
Itachi tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan Shikamaru. Nampak sekali jika seolah-olah pria bermata hitam itu telah menunggu sejak lama seseorang melontarkan pertanyaan tersebut. Melihat hal itu Naruto akhirnya mengambil sebuah kesimpulan bahwa selain bernafas, tidak ada yang gratis di dunia ini.
"Aku ingin kalian membantuku menemukan seseorang. Mengingat tidak ada tempat kembali bagi kalian, aku rasa ini adalah tawaran yang tidak bisa ditolak." Jawab Itachi dengan serius. "Lagipula, aku hanya menjanjikan keselamatan kalian ke Lembah Kematian. Sisanya aku tidak jamin..." jawab Itachi.
"Sepakat..." balas Sai tanpa peduli dengan pendapat yang lain.
Sudah lebih dari 2 jam mereka terus bergerak di dalam kegelapan. Tepatnya pukul 00.00 Naruto dan teman-temannya mulai melangkah menuju Lembah Kematian. Alasan mengapa mereka tidak bergerak di siang hari adalah karena banyak patroli udara Tentara Perdamaian. Sebenarnya pada malam hari pun patroli masih tetap dilakukan. Namun dengan presentasi yang lebih berkurang.
Naruto dan kawan-kawannya bergerak penuh dengan kehati-hatian ketika suara gemuruh mesin pesawat patroli Tentara perdamaian terdengar berputar-putar tepat di atas kepala mereka. Meskipun begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena keberadaan mereka tersamarkan oleh kegelapan. Yang perlu dilakukan mereka saat ini hanya cukup melangkah dalam diam dan tidak mengeluarkan suara gaduh sedikitpun.
Naruto dan kawan-kawannya mulai bergerak dengan cepat ketika pesawat patroli itu mulai menyalakan lampu sorotnya. Seperti yang telah disampaikan oleh Itachi. Jika mereka sampai tertangkap basah oleh lampu sorot itu maka jawabannya adalah berondongan senapan mesin yang siap sedia mencabut nyawa mereka dengan segera.
Naruto hampir saja terkena sorotan lampu jika saja Sakura tidak segera menarik bocah pirang itu ke dalam semak-semak. Untuk kesekian kalinya nyawa Naruto diselamatkan oleh Sakura dan pekerjaan bocah pirang itu selanjutnya adalah mengucapkan terima kasih untuk yang entah keberapa kalinya bagi Sakura.
Ketika Sakura mencoba mengintip keluar dari balik semak-semak, secara sengaja Naruto memandang wajah gadis musim semi itu. Bocah pirang itu bahkan tidak peduli jika nantinya Sakura akan mempergokinya. Dia hanya merasa Sakura adalah malaikat penjaga yang dikirimkan Tuhan untuknya. Berapa kali Naruto hampir terbunuh disitulah Sakura selalu ada untuk menyelamatkannya. Untuk itulah Naruto merasa dirinya perlu bersyukur.
"Apa kau tidak bisa berhenti bertindak ceroboh?" tanya Sakura pada Naruto.
"Bukankah kau sudah tahu jika aku memiliki kemampuan membuat masalah..." jawab Naruto bercanda. Sakura membuang nafas kesal.
Naruto dan Sakura kemudian keluar dari semak-semak tempat mereka bersembunyi. Mereka menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan teman-temannya. Keduanya lalu menemukan yang lainnya tengah berada tidak jauh dari tempat Naruto dan Sakura berada. Tanpa banyak waktu keduanya segera menuju ke tempat Neji dan yang lain.
Naruto dan kelompoknya kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Deru suara mesin pesawat patroli mulai terdengar menghilang. Naruto merasa lega. Setidaknya dia tidak perlu lagi bergerak layaknya tikus yang selalu menelusup ke semak-semak setiap kali pesawat patroli datang. Lagipula dengan begini pergerakan mereka menjadi lebih cepat daripada sebelumnya selalu mengendap-endap.
Itachi berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Sai menyusul tepat di samping pria bermata hitam itu. Setiap kali ada kesempatan dan tanpa setahu Itachi, Shikamaru dan Neji selalu berbisik pada Naruto dan yang lain untuk tetap mewaspadai pria bermata hitam itu. Sejak awal pertemuan, baik Shikamaru maupun Neji keduanya memang tidak percaya penuh terhadap Itachi.
Bayangkan, "Seseorang asing datang padamu dan mengatakan jika dirinya adalah bagian dari musuh, apa kau akan mempercayainya begitu saja? jawabannya jelas Tidak". Mungkin itulah yang ada di benak Shikamaru dan Neji.
Awalnya Naruto juga tidak yakin dengan Itachi. Namun karena dirinya adalah tipikal orang yang gampang percaya pada seseorang berdasarkan intusinya, maka tanpa banyak pertimbangan bocah pirang itu segera mempercayainya.
Dalam kehidupan masyarakat mungkin sikap sosial seperti Naruto akan berdampak positif bagi dirinya. Namun sayang, situasi saat ini tidak seperti kehidupan bermasyarakat. Situasi saat ini adalah situasi yang sangat genting dimana segala sesuatu dapat terjadi diluar perkiraan. Seperti yang pernah diucapkan Neji kepada Naruto pada sebuah kesempatan :
"Dalam situasi seperti saat ini... Temanmu hari ini mungkin akan menjadi lawanmu keesokan harinya." Ucap Neji pada Naruto ketika mereka hanya berdua.
"Jadi jangan gunakan hatimu, bung. Gunakanlah logika dan akal sehatmu. Waspada dan terus waspada adalah satu-satunya cara agar kau tetap hidup untuk hari esok. Sikap naif hanya akan membuatmu mati konyol dalam situasi kacau seperti ini.."lanjut Neji.
Itachi kemudian menghentikan langkahnya. Otomatis Naruto dan yang lain pun ikut berhenti. Pria bermata hitam itu lalu berbalik dan menatap semua kelompok dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Aku tahu ini terdengar gila. Tapi jika kita ingin sampai ke Lembah Kematian tanpa diketahui sama sekali cuma inilah satu-satunya cara..." ucap Itachi. Setelah itu dirinya menyibakkan tananam yang ada tepat dihadapannya.
Naruto menelan ludah melihat apa yang ada di hadapannya. Rasanya seperti de javu. Untuk kedua kalinya Naruto melihat pemandangan tidak mengenakkan ini lagi. Di depan matanya saat ini terpampang tebing curam. Satu-satunya cara agar dapat sampai ke seberang tebing adalah hanya dengan menggunakan sulur-sulur yang menjalar tepat di hadapan mata Naruto. Meskipun dirinya merasa trauma, mau tidak mau bocah pirang itu harus melakukannya.
"Apa tidak ada jalur lain lagi?" tanya Sai. Bocah kulit pucat itu rupanya merasa traumatis dengan pengalaman sebelumnya.
"Ada sebuah jembatan 1 kilometer dari tempat ini..." jawab Itachi santai.
"Lalu kenapa kita lewat jembatan saja?' tanya Tenten sedikit kesal.
"Bukankah dia sebelumnya berkata jika jalur inilah satu-satunya cara agar kita tidak diketahui? Itu tandanya jalur itu dijaga oleh musuh..." ucap Neji kepada Tenten. Gadis kuncir kuda itu merasa malu dengan pertanyaannya.
"Tepat sekali, tapi jika ternyata tubuh kalian terbuat dari baja mungkin kita bisa lewat jembatan..." imbuh Itachi dengan menambahkan sedikit candaan di dalam ucapannya.
Tidak ada yang merespon candaan yang dilontarkan oleh Itachi. Bukan karena candaan itu tidak lucu. Hanya saja saat ini Naruto dan yang lainnya tengah fokus mempersiapkan nyali mereka untuk menyebrangi tebing.
Itachi memulai lebih dulu. Pria bermata hitam itu bergelantung pada sulur-sulur dengan kuatnya. Dari pergerakannya yang lincah, terlihat sekali jika dia sangat berpengalaman. Hanya butuh waktu 3 menit, Itachi telah sampai di seberang. Pemuda bermata hitam itu kemudian memberi aba-aba pada yang lain untuk segera menyusul.
Setelah saling menatap satu sama lain, Yahiko akhirnya memulai. Pria berambut orange itu meraih sulur demi sulur dengan penuh tenaga. Meskipun tidak segesit dan secepat Itachi, Yahiko pada akhirnya sampai di seberang disambut Itachi. Tanpa menunggu waktu lagi segera Nagato dan Konan pun kemudian menyusul satu demi satu. Trio itu pun akhirnya tiba dengan selamat. Mereka terlihat saling melemparkan senyum tanda bersyukur.
Setelah trio Yahiko-Nagato-Konan telah sampai, giliran Neji yang kemudian menyebrang. Sama seperti Itachi, pemuda berambut panjang itu sangat gesit dalam berayun diantara satu sulur ke sulur yang lainnya. Naruto cukup kagum. Selain otaknya yang cerdas, ketangguhan fisik seorang Neji juga tidak bisa dianggap remeh. Tidak jarang pula bocah pirang itu merasa iri terhadap pemuda berambut panjang itu yang dirasa sangat sempurna.
Tepat di belakang Neji, Tenten segera menyusul. Awalnya Naruto kira akan Tenten akan kesulitan dalam menyebrang. Namun ternyata perkiraannya salah. Gadis kuncir kuda itu bahkan bergerak secepat dan segesit yang Neji lakukan. Setelah sampai di seberang Tenten kemudian menoleh dan menyeringai puas ke arah Naruto seolah tahu jika bocah pirang itu telah meremehkannya.
Sakura kemudian mulai bersiap untuk menyeberang. Tidak ada raut ketakutan tercetak di wajah gadis musim semi itu. Yang terlihat bagi Naruto adalah gadis berambut merah muda itu seolah sudah terbiasa melakukannya. Terbukti. Meskipun cukup kesulitan ketika menyeberang, Sakura akhirnya sampai dengan selamat.
Shikamaru segera menyusul. Bocah pemalas itu berdecak kesal seolah tidak rela melakukannya. Dia kemudian merentangkan kedua tangannya seolah tangah melakukan pemanasan. Setelah dirasa cukup, bocah pemalas itu segera menyeberang dan sampai dengan selamat seperti yang lainnya.
"Seperti yang sebelumnya... saat ini hanya tinggal kita berdua." Ucap Naruto pada Sai.
Sai menoleh ke arah Naruto dengan tatapan kesal. Bocah kulit pucat itu seolah ingin sekali menguliti Naruto hidup-hidup. Merasa situasinya menjadi kurang nyaman, Naruto akhirnya memilih menyeberang terlebih dulu. Namun tepat ketika dirinya sudah mulai bersiap, tiba-tiba saja Sai muncul dan langsung menyerobot. Akibatnya, tubuh bocah pirang itu kehilangan keseimbangan. Jika saja pijakan Naruto tidak kuat, mungkin saja dirinya sudah terjatuh ke dasar jurang.
"Hei... apa kau gila?!" teriak Naruto kesal pada Sai. "Aku bisa saja jatuh ke jurang, bodoh!"
"Berisik... aku tidak suka menjadi yang terakhir. Aku cuma tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali," balas Sai membela diri akan sikapnya.
"Tapi setidaknya kau berbicara, sialan!" timpal Naruto tidak terima.
"Aku tidak digaji untuk itu..." balas Sai tidak kalah.
Setelah itu, Sai segera mulai menyeberang. Dalam hati Naruto menyumpahi bocah kulit pucat itu agar kesulitan dalam menyeberang. Tapi sayang harapannya tidak terwujud. Seolah melupakan kejadian yang terdahulu, bocah kulit pucat itu berayun dengan cepatnya. Tidak lama berselang, Sai akhinrya tiba di tempat dengan selamat. Melihat hal itu Naruto merasa muak dan ingin segera berteriak.
Semua akhirnya telah menyeberang dengan selamat. Yang tersisa tinggalah Naruto seorang diri. Bocah pirang itu pun kemudian mempersiapkan diri. Dia melakukan pemanasan seperti apa yang dilakukan oleh Shikamaru sebelumnya. Naruto berharap dengan melakukannya, dirinya dapat menyeberang dengan mudah.
Naruto segera melompat. Tangan kanannya segera meraih sulur pertama. Dilanjutkan tangan kirinya meraih sulur berikutnya. Naruto kemudian berhenti sejenak. Bocah pirang itu lalu menghitung jumlah sulur yang harus diraihnya. Setidaknya ada 8 sulur yang tersisa. Setelah memantapkan hati, Naruto mulai bergerak dan berayun dari satu sulur ke sulur lainnya.
Kening Naruto mulai berkeringat. Entah kenapa waktu seolah melambat ketika dirinya menyeberang. Bocah pirang itu merasa telah bergerak secepat mungkin. Namun faktanya, dia baru setengah jalan. Berbeda ketika teman-temannya yang melakukan. Semua terrasa begitu cepat, lancar dan terlihat terlampau mudah.
Pada akhirnya hanya tinggal 2 sulur yang tersisa. Dengan nafas yang sudah mulai terengah-engah, Naruto menggapai sulur itu. Bocah pirang itu berhasil. Namun ketika dia mulai meraih sulur yang terakhir usahanya gagal. Bukan sulur yang berhasil diraihnya melainkan gapaian udara kosong. Sakura berteriak panik. Jika saja Sai tidak segera meraih lengannya, bocah pirang itu pasti sudah terjun bebas ke dasar jurang.
"Kali ini aku yang menyelamatkanmu, bung..." ucap Sai sembari menyeringai pada Naruto.
Entah kenapa Naruto justru malah merasa kesal setelah diselamatkan oleh Sai. Bocah pirang itu merasa seperti sebuah ironi. Jika sebelumnya Sai yang diselamatkan Naruto, kali ini Sai justru yang menyelamatkannya. Bocah pirang itu kemudian mengaitkan ketidak-beruntungan dengan urutan dalam menyebrang mengingat Sai sebelumnya mendapat urutan paling akhir dan mengalami masalah.
"Sebenarnya kau laki-laki bukan sih? Menyeberang seperti itu saja sampai kesusahan seperti itu..." ucap Tenten dengan telak pada Naruto.
"Pfft..." semua terlihat menahan tawa ketika Tenten melontarkan ejekannya kepada Naruto.
Naruto menggertakan gigi rahangnya. Kata-kata gadis kuncir kuda itu sangat menohoknya. Ditambah dengan ekspresi menahan tawa dari yang lainnya, lengkap sudah rasa kesal Naruto terhadap Tenten. Sempat terlintas di kepalanya untuk menarik lengan gadis kuncir kuda itu dan melemparkannya ke dasar jurang. Mungkin dengan begitu hidup Naruto menjadi sedikit lebih tenang dengan kehilangan salah satu kolega yang bermulut pedas.
Lagi-lagi sebuah ironi. Padahal sebelumnya hubungan Naruto maupun Tenten terlihat sudah menjadi lebih baik ketika saling bicara terbuka di dalam lorong beberapa waktu yang lalu. Mungkin takdir lebih suka jika mereka saling adu mulut daripada berbagai pujian. Setidaknya merasa sangat klop ketika bersama-sama menghadapi lawannya.
"Baiklah... waktu kita tinggal 1 jam lagi. Kita harus menyelinap masuk sebelum lonceng berbunyi..." ucap Itachi memperingatkan lainnya untuk tidak membuang banyak waktu.
Naruto dan yang lainnya kemudian mulai melangkah kembali mengikuti Itachi yang telah melangkah lebih dahulu. Tidak ada obrolan diantara mereka. Naruto lebih memilih untuk diam dan berjalan paling belakang. Meskipun sebelumnya bocah pirang itu melangkah di samping Sakura. Bukan tanpa alasan. Naruto hanya ingin berada sejauh mungkin dari sosok gadis bernama Tenten yang benar-benar ingin dilemparnya ke dasar jurang.
Demi menghilangkan moodnya yang tengah memburuk, Naruto mencoba mengalihkannya dengan melihat pemandangan sekitar. Tidak ada yang spesial. Kanan dan kiri tempat mereka saat ini berjalan yang terlihat hanyalah tebing bebatuan tinggi menjulang. Dengan jarak kira-kira 50 meter dari tebing yang satu ke tebing yang lainnya. Naruto kemudian berspekulasi. Jika saat ini pesawat patroli tiba-tiba saja muncul, sudah dipastikan mereka akan menjadi santapan empuk mengingat tidak ada tempat bersembunyi sejauh mata memandang.
Harapan buruk Naruto rupanya terkabul. Deru pesawat patroli kembali terdengar dari kejauhan. Semua terlihat panik mengingat saat ini mereka berada di ruang terbuka tanpa satupun tempat yang untuk bersembunyi. Entah karena secara naluriah atau bukan, yang jelas semua mengikuti kemana arah Itachi berlari. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah cekungan tanah pada lereng bukit. Tanpa banyak waktu mereka segera masuk. Meskipun berdesak-desakan setidaknya masih muat untuk semuanya.
Pesawat patroli itu menyorotkan lampunya memeriksa daerah sekitar. Nafas Naruto menderu cepat. Sebentar lagi lampu sorot itu akan tiba ke tempat di mana Naruto dan yang lain tengah bersembunyi. Meskipun mereka telah bersembunyi pada cekungan tanah itu, peluang mereka tertangkap lampu sorot itu masih sangat besar. Jika saja ada patroli darat, mereka pasti akan segera tertangkap, mengingat posisi mereka hanya tersembunyi dari pandangan atas. Tidak dari bagian samping.
Ketika sorot lampu pesawat patroli itu tinggal beberapa meter lagi, Itachi tiba-tiba berlari keluar dari persembunyian meninggalkan Naruto dan yang lain. Lampu sorot pesawat patroli itu segera terfokus kepada sosok Itachi yang mengangkat kedua tengannya. Tidak ada yang tahu apa maksud dari tindakan pria bermata hitam itu. Tapi yang jelas Naruto merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Salah satu tentara meluncur turun dari pesawat patroli itu menggunakan tali. Tentara itu tetap menodongkan pistolnya ke arah Itachi, meskipun pria itu telah mengangkat tangan tanda menyerah. Tidak berapa lama, 2 tentara lain meluncur turun menyusul. Mereka kemudian menoleh dan menemukan Naruto dan yang lainnya.
Kedua tentara itu dengan segera menodongkan pistolnya ke arah Naruto dan yang lain. Mereka pun dengan terpaksa maju sembari mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Tidak ada yang bisa dilakukan saat ini selain menyerah dan sepertinya Naruto dan yang lain paham akan situasi tersebut.
"Siapa kalian?" tanya salah satu tentara yang ada di hadapan Itachi.
"Namaku Itachi Uchiha..." jawab Itachi. Raut wajah tentara itu terlihat mengeras ketika mendengar jawaban pria bermata hitam itu. "...dan katakan pada Deidara, Kakuzu atau Hidan jika aku telah membawa buruannya..."
.
.
to be continue
.
.
Yosh! Akhirnya bisa update juga lebih cepat dari biasanya. Sebenarnya, saya juga merasa heran sendiri. Tiba-tiba saja mood nulis saya kembali membaik setelah beberapa waktu lalu cenderung falling down. Disyukurin aja... dengan begini update nya bisa lebih cepat buat ke depannya Terima kasih untuk review dari semua pembaca. Semoga cukup puas dengan chapter terbaru ini.
Balasan Review :
Berry uchiha : Haha, maaf-maaf mood saya buat nulis lagi jelek-jeleknya..
Elkyouya : Haha, ayo coba tebak... mungkin aja tebakan kamu benar loh... makasih buat review nya
Inuzukarei15 : Waw, rei san... selamat berjumpa kembali. Kemana aja nih selama ini? btw sekarang udah jadi author juga ya? Selamat ya
HikariPuji-chan : terima kasih udah mau mampir... semoga makin suka ya..
Himawari zuifa : Ya, Sasuke bakalan ada. Tapi untuk saat ini masih saya simpan dengan rapi. Soal jadwal update doakan saja biar mood saya selalu baik ya.. terima kasih buat review nya.
Guest : aduh, fantasi saya belum seliar itu..
Irfaan Fanday : Yosh, terima kasih. Semoga jadi pembaca tetap ya..
SR not Author : Ino ya? Hmmm... kita liat saja nanti..
Krusty007 : hn... itu sudah pasti. Terima kasih buat review nya..
Elleora Ns : Oke siap, makasih udah mau mampir dan coret-coret di sini ya..."
Dedek635 : Oke... siap-siap-siap
