Me: "Update lagi!" XD
Luthfi: "Chapter ketiga ya, Ra?"
Me: "Yo wes, Luthfi! Seperti biasanya, mari kita balas Review dulu!" :D
L w bunga: Saya agak greget kalau MasMun pake English, walaupun English saya nggak sebaik MasMun juga, sih! (Masamune: "Berarti lu masih kalah dari gue!") Nanti saya usahakan MasMun kagak keseringan pake English dan ini dia kelanjutannya!
Dissa CHAlover: GUE BENERAN MAU BUNUH LU KALAU PAKE NAMA ITU! *ngeluarin pipa paralon.* (Cowboy: "BakAuthor! Caps sama pipanya disimpen dulu, deh!") OH, IYA! *matiin Caps dan nyimpen pipa.* Kalau mau tau, jawabannya ada di Chapter ini! Terima kasih Review-nya!
Meaaaa: Jadi gitu, toh? Kalau kelas saya malah lebih rusuh lagi! Malahan, para cowoknya bisa sampe ngerusak layangan burung (?) bekas angkatan sebelumnya! (Luthfi: "Jangan bongkar aib kelas kita deh, Ra!") Biarin, lu kan ketua kelas yang kagak bertanggung jawab! (Luthfi: "Maaf, deh!") Baiklah, silakan dibaca Chapter ini!
DUAR!
Luthfi: "Suara apaan tuh, Ra?"
Me: "Menekedele!" *angkat bahu.* "Happy Reading!" :D
Chapter 2: The Teacher Leader is Denmark?
Sekarang adalah hari pertama Daimyo mengajar di NihoNime Gakuen. Kelas 9C tengah sibuk merencanakan sesuatu.
"Eh, ini udah bener?" tanya Idham sambil menyeimbangkan sebuah ember di atas pintu.
"Kayaknya iya!" jawab Girl-chan. "Hoi, Dimas! Gurunya udah dateng, belum?"
"Bentar, Ra!" Dimas memperhatikan keluar jendela. "Eh, udah dateng gurunya!"
Seluruh mulas pun langsung duduk di bangku masing-masing.
"SELAMAT PA-"
BYUR! TRANG! (?)
Seorang guru cowok berambut coklat ponytail berjaket merah itu pun langsung terkena jebakan Turkey (?) *digampar Sadiq.* yang dipasang mulas 9C yang jahil tersebut.
"Pagi, pak!" balas anak-anak dengan nada jahil dan senyum kemenangan.
"UWOOOH! KENAPA ADA EMBER DI ATAS PINTU, YA?" tanriak (tanya plus teriak (?)) guru itu heran sambil menyingkirkan ember yang berada di atas kepalanya.
"Menekedele, pak!" jawab anak-anak sambil angkat bahu masing-masing.
"BAIKLAH! NAMA BAPAK SANADA GENJIRO YUKIMURA! GURU GEOLOGI! ADA PERTANYAAN? PERKENALKAN DIRI KALIAN DULU!"
"Pak, saya Faza! Bapak bisa kecilin suaranya bapak, kagak? Takutnya kelas lain keganggu, pak!"
"Baiklah, Faza-dono!" ujar Yukimura sambil mengecilkan sedikit suaranya. "Bapak melakukannya karena pengabdian kepada Oyakata-sama!"
"Saya Ghevira! Oyakata-sama itu siapa, pak?"
"Tuan dan orang tua (?) bapak!" kata Yukimura watados.
Demi apa Yukimura ngakuin Shingen itu bapaknya?
"Pak, saya ****! Bapak ke sini sama siapa saja, pak?" tanya Girl-chan.
"Teman-teman bapak! Ada Masamune-dono, Motochika-dono, Ieyasu-dono, dan lain-lain! Bahkan Oyakata-sama sama Sasuke-dono juga ada!" jawab Yukimura dengan semangat yang menggebu-gebu. "Oh iya, ****-dono ini sahabatnya Mathias-dono ya?"
Hening...
Seluruh telas Girl-chan pun langsung melirik gadis itu dengan tatapan, 'Siapa-itu-Mathias-?'.
"Oh, ketua guru itu ya? Saya memang kenal, pak!" kata Girl-chan dengan cengiran kecil.
"Baiklah! Kita mulai pelajaran hari ini!"
Sementara Yukimura mengajar, beberapa anak sibuk ngobrol sendiri dengan suara pelan.
"Memangnya nama ketua guru itu Mathias, ya?" bisik Syams yang duduk di sebelah Luthfi.
"Menekedele! Gue aja baru tau sekarang!" jawab Luthfi sambil angkat bahu.
"Katanya ketua guru itu bule, ya? Memangnya dari negara mana, sih?" tanya Timothy.
"Dari Eropa, kali!" jawab Harfi sambil mengangkat bahu Jonathan (?) yang duduk di sebelahnya.
"UWOOOH! KALIAN BEREMPAT YANG DI BELAKANG! KALIAN NGOMONGIN MATHIAS-DONO, YA?" tanriak Yukimura dengan suara yang menggema (?).
'Bujuh, dah! Ni guru peka amat telinganya!' batin keempat anak tadi cengo. "Ka-kagak kok, pak!"
"Baiklah! Kita lanjutkan pelajarannya!"
-skip time-
TUUUUUUUUUUUUT! TING NONG NENG! (?)
Bel tanda pergantian pelajaran pun berbunyi.
"Eh, Anko Trio! Lu panggilin guru, sana!" perintah Girl-chan.
Anko Trio (1) yang terdiri dari Farel, Feby, dan Nova pun langsung ngomel. "Yee, lu kan bukan ketua kelas, Ra!"
Ketika gadis itu mengeluarkan dark aura plus pipa keramatnya, ketiga anak itu pun langsung ngacir ke ruang guru.
"Eh, Ra! Gue mau nanya! Memangnya ketua guru bernama Mathias itu orang mana, sih?" tanya Luthfi sambil menghampiri gadis itu.
"Memangnya kenapa?" Girl-chan bertanya balik.
"Gue cuma pengen tau doang! Soalnya, gue denger dari Dissa kalau dia tuh orang Denmark!"
"Memang dia orang Denmark! Memangnya lu kate dia orang apa? Orang Jerman?"
"Ya kagak, sih!"
"Hoi, Ra! Lu dipanggil ketua guru, tuh!" kata Feby dari luar kelas.
"Gue cabut dulu, ya! Ciao!" ujar Girl-chan sambil meninggalkan temannya itu.
Di ruang guru...
"Permisi, apa ketua guru ada di sini?" tanya Girl-chan di depan ruang guru.
"Hoi, Girl-chan!" sapa seorang pria berambut pirang jabrik sambil menghampiri gadis itu.
"Ah, iya! Pak Mathias ngapain manggil saya, ya?" tanya Girl-chan heran.
"Ahaha! Aku cuma mau memeriksa kelasmu saja, kok!" jawab Mathias dengan cengiran lebar. "Nah, ayo kita ke kelas!"
Keduanya pun berjalan menuju ke kelas 9C.
Di kelas 9C...
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Mathias dengan senyum ceria.
"Pagi, pak Jabrik (?)!" balas anak-anak iseng tersebut.
Mathias pun sukses dibikin sweatdrop dengan jawaban mulas 9C tersebut.
"Biarin aja, pak! Paling juga gara-gara rambut bapak!" celetuk Girl-chan sambil balik ke bangkunya.
"Baiklah! Nama bapak Mathias Køhler, ketua guru! Apa ada pertanyaan?"
"Pak! Bapak ini orang Denmark, ya?" tanya Luthfi.
"Kamu tau darimana?" Mathias bertanya balik.
"Denger-denger doang, pak!"
"Memang iya! Ada lagi?"
"Pak! Ketua guru itu apa, ya?" tanya Slamet.
GUBRAK!
Sebagian mulas pun langsung tepar, sementara Girl-chan, Luthfi, dan Mathias hanya bisa sweatdrop.
"Ketua guru itu 11-12 mirip ketua kelas, tapi bedanya ketua guru itu memimpin guru-guru yang ngajar! Dia juga menggantikan guru yang berhalangan!" jelas Mathias. "Ada yang lain?"
"Pak Mathias bisa nyanyi buat kita, kagak?" tanya Atun.
"Nyanyi?" ulang Mathias bingung.
"Iya, pak! Katanya bapak punya bakat!" celetuk Delle.
Mathias pun langsung facepalm mendengarnya.
"Ya, baiklah! Bapak punya lagu yang bagus buat kalian!"
"Judulnya apaan tuh, pak?" tanya sebagian anak penasaran.
"Judulnya '10 Tanda Umum'!" jawab pria Denmark itu.
"Hah? Lagu apaan tuh, pak?" tanya seluruh mulas bingung.
"Err, itu karangan bapak sendiri! Bagaimana kalau kita mulai saja? Musik!"
Sebagian anak cowok pun langsung menyiapkan alat musik masing-masing. Ada yang bawa tam-tam, gitar, pianika, rekorder, dan keyboard yang nyolong dari perpustakaan sekolah. Sementara sebagian anak cewek menyiapkan HP mereka untuk memotret dan merekam adegan ketua guru tersebut.
Sepuluh tanda umum guru mengalami gizi buruk
Pertama, rambutnya mulai rontok
Kedua, giginya mulai copot
Ketiga, jalannya mulai lambat
Keempat, kulitnya mulai keriput
Kelima, tulangnya mulai retak
Keenam, matanya mulai rabun
Ketujuh, tubuhnya mulai lemah
Kedelapan, suaranya mulai parau
Kesembilan, tenaganya mulai hilang
Kesepuluh, nyawanya mulai rapuh
Ketika guru mengalami gizi buruk, tidak ada yang perduli
Tralala lalalala, tralala lalalala
Trilili lililili, trilili lililili
Sebagian mulas pun langsung cengo dengan lagu yang dinyanyikan ketua guru tersebut, sementara Mathias malah muter-muter gaje bak balerina nyasar (?).
Setelah ketua guru itu selesai bernyanyi, seluruh mulas 9C pun langsung memberikan tepuk tangan yang meriah.
-skip time-
TENG TONG TENG TONG TENG TONG TENG TERERERENG!
Bel istirahat pun berbunyi. Seluruh anak pun langsung keluar kelas untuk mencari nutrisi (baca: makanan).
Di kantin...
Dissa dan Hanny heran saat melihat Girl-chan dan Luthfi sedang menempelkan beberapa foto di sebuah kertas karton.
"Hoi, Girl-chan! Lu lagi ngapain?" tanya Hanny.
"Oh, ini? Gue lagi bikin Mading kelas, lho!" jawab Girl-chan sambil memperlihatkan hasil kerjanya yang setengah jadi.
"Gue boleh liat, kagak?" tanya Dissa penasaran.
"Boleh, kok! Duduk aja!" jawab Luthfi sambil memberikan tempat duduknya kepada gadis itu.
Dissa pun duduk di dekat Luthfi dan matanya melirik ke arah sebuah foto. Di dalamnya, ada seorang pria berambut pirang jabrik yang memasang pose ala balerina di kontes balet (?).
"Hei, Girl-chan! Ini bukannya foto ketua guru itu, ya?" tanya Dissa sambil mengambil foto yang dimaksud.
"Oh, foto pak Mathias, toh? Ya begitu, deh!" jawab gadis itu sambil nyengir kuda laut (?).
Webek, webek...
"WUAPHUAAAAAAAAAAAA?! WHAT THE FUCK?! WHAT THE HELL?! WHAT THE DENMARK?! JADI KETUA GURUNYA DENMARK, YA?! KENAPA LU KAGAK KASIH TAU GUE, SIH?!" teriak Hanny panik.
"Lha, gue kira lu udah tau!" balas Girl-chan bingung.
"Memangnya kenapa, sih?" tanya Dissa dan Luthfi heran.
"Rahasia, keles!" jawab Girl-chan dan Hanny cuek.
Keduanya pun langsung sweatdrop.
-skip time-
TONG TONG TONG TONG TONG!
Bel pulang pun berkumandang di seluruh sekolah.
Di gerbang sekolah...
"Hei, Girl-chan! Mau pulang bareng?" tawar Mathias sambil merangkul gadis itu.
"Eh? Boleh aja, deh! Lagian, saya juga malas naik angkot!" jawab Girl-chan dengan sedikit kagok.
Keduanya pun naik mobil bersama. Tentu saja dengan mobil Mathias.
Di depan rumah Girl-chan...
"Terima kasih ya, pak Mathias!" kata gadis itu sambil turun dari mobil ketua guru itu.
"Ya sudah! Bagaimana kalau besok kita kencan?" tawar pria jabrik itu.
Girl-chan pun langsung blushing mendengar tawaran Mathias.
"Errr, apa tidak apa-apa? Maksudku, kencan antara murid dan guru?" tanya Girl-chan sambil memutar jarinya.
"Ya, kalau kau tidak mau, tidak apa-apa!"
"Aku mau, sih! Tapi..."
Mathias memegang bahu gadis di depannya. Mata biru dan hitam keduanya saling bertemu.
"Aku mohon! Terimalah sekali saja!"
Girl-chan semakin blushing dan berusaha menghindari tatapan mata yang membuatnya sangat canggung. Mau tidak mau, gadis itu pun mengangguk kecil.
"Hehehe! Sampai jumpa besok, ya!" kata Mathias sambil mengacak-acak rambut Girl-chan dan masuk ke dalam mobilnya.
Ketika mobil itu mulai meninggalkan halaman rumah Girl-chan, gadis itu hanya memperhatikan dari jauh. Ketua guru itu pun memunculkan kepalanya dan melambaikan tangan. Tapi...
CIIIIIT! TREEEEET! BRAK!
... Girl-chan pun segera masuk ke dalam rumah karena ternyata mobil Mathias menabrak tiang listrik dengan tidak elitnya.
To Be Continue...
Indeks:
(1): Anko Trio itu 11-12 mirip Awesome Trio di Hetalia. Heboh dan berisik tingkat tinggi. *Girl-chan digampar ketiga orang yang dimaksud.*
Me: "Kenapa ni fic jadi melenceng ke Romance, ya?"
Luthfi: "Jangan salahkan diri lu, Ra! Memangnya kenapa, sih?"
Me: "Habisnya, belakangan ini gue lagi nge-fans sama Denmark! Gue bingung pengen milih Denmark atau Turkey!"
Luthfi: "Mereka kan cuma tokoh anime!" *sweatdrop.*
Me: "Biarin! Yang milih kan gue, bukan lu!"
Luthfi: "Iya, deh! Terserah lu!"
Me: "Review!" :D
