Mari balas Review! :D
Dissa-CHAlovers: Iya, Luthfi memang cowok! Saya kepikiran tentang itu, hahaha! :D Oke, terima kasih telah me-Review! :D
Happy Reading! :D
Special Chapter 4: Rahasia dibalik Angket Gaje di NihoNime Gakuen
Sembilan jam sebelum pengumuman Angket Gaje...
Di ruang guru, terlihat beberapa guru yang sedang asik duduk saja karena tidak dalam jadwal mengajar. Entah mereka sedang mengerjakan tugas-tugas atau sekedar ngobrol.
BRAAAAAAAAK!
Yah, sampai seorang pria berambut pirang jabrik datang dan membanting pintu ruang guru tersebut.
"Ieyasu mana Ieyasu?!" tanya pria itu tanpa rasa malu sama sekali.
Yang lainnya pun langsung menoleh ke arah pria itu dan mengangkat sebelah alis mereka.
"SIAPA YANG MANGGIL GUE, HAH?!" teriak Ieyasu dari belakang pria berambut pirang jabrik tersebut.
Pria tersebut pun langsung tuli seketika. Guru-guru lainnya hanya bisa sweatdrop di tempat. Pria berambut pirang jabrik itu pun langsung berbalik dan mundur sedikit sambil mengangkat kapak raksasanya. Melihat kapak yang dibawa pria itu, Ieyasu pun langsung menyiapkan senjata miliknya. Aura berwarna merah tua dan kuning empang (?) itu pun langsung menyelimuti kedua pria berambut pirang dan coklat tersebut.
"Hei, kalian berdua! Kalau kalian mau ribut, jangan di sini! Nanti kalian bakalan jadi tontonan, lho!" kata Emil (sang pemuda Iceland yang kebetulan sedang mengunjungi pria jabrik yang merupakan temannya itu) sambil mengeluarkan sebuah pistol plus aura berwarna biru tua (?) dari tubuhnya.
Para guru pun langsung cengo melihat tubuh Emil yang mengeluarkan aura berwarna biru tua tersebut.
"Hei, Hanbei-dono! Emil-dono belajar dari mana tuh ilmunya?" tanya Yukimura sambil menyikut Hanbei yang sedang membuat soal ulangan untuk kelas 9B.
"Hmm, entahlah! Jangan tanyain gue, deh! Mungkin aja dari padepokan Hetalia (?)!" jawab Hanbei santai.
Eh, Hanbei! Lu punya indera kesepuluh (?), ya? (Mathias: "Biar gue tebak! Pasti karena indera keenam udah mainstream, kan?"/Cowboy: "Bukan! Karena BakAuthor punya indera kelima belas (?)!"/Mathias: *sweatdrop.*)
"O-oh! Oke!" tukas Ieyasu dan pria berambut pirang jabrik itu sambil berjalan keluar dari ruang guru tersebut.
-skip time-
"Ah! Lu mah ngagetin aja, Makkun! Baru gue teriakin udah nyiapin senjata aja!" kata Ieyasu kepada pria berambut pirang jabrik tersebut.
"Hehehe! Beklager, ja (Maaf, ya)! Lagian lu pake teriak segala! Telinga gue kena TOKUGAWANG (?), nih!" balas pria itu setengah berteriak.
Ieyasu pun langsung menghadiahi pria itu dengan deathglare andalannya. Pria itu pun hanya bisa nyengir kuda laut (?).
"Nah, lu mau ngapain nyariin gue, Mathias?" tanya Ieyasu mengalihkan pembicaraan.
Bukannya menjawab, pria yang dipanggil Mathias itu pun langsung mengeluarkan segepok kertas berwarna hijau dari dalam tasnya.
"Wiiiih! Tumben lu ngasih gue duit! Arigatou, Makkun~" kata Ieyasu sambil menerima kertas itu tanpa melihat apa sebenarnya isi kertas itu.
"Itu bukan duit, dodol! Lu kagak liat, napa?" balas Mathias sambil menutup tasnya.
Ieyasu pun melihat isi kertas tersebut dan langsung sweatdrop di tempat.
"Lu mau nyuruh gue ngitung angket gaje ini?" tanya Ieyasu kecewa.
Mathias pun hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Ieyasu pun hanya bisa menghela nafas.
'Jiah! Gue kirain duit beneran! Tak taunya?' batin Ieyasu kecewa.
Ternyata Ieyasu itu mata duitan, ya! *digiles Tadakatsu bolak-balik.*
"Hmm, ya sudah lah!" kata Ieyasu meng-'iya'-kan permintaan Mathias. "Kapan nih ngitungnya?"
"Entar, pas lebaran Nation (?)! Ya entar siang lah! Orang nanti sore mau diumumin juga! Gue tunggu nanti siang di ruang staf! Lu lagi kagak ada jadwal, kan? Ciao!" jawab Mathias sambil berjalan keluar dari ruang guru.
Ieyasu pun langsung sweatdrop di tempat.
"Et dah!" Ieyasu pun hanya bisa menghela nafas dan kembali masuk ke ruang guru.
"Eh, ada yang mau bantuin gue, kagak? Gue lagi ada 'sedikit' kerjaan, nih!" kata Ieyasu sambil meminta bantuan.
-skip time-
3 jam sebelum pengumuman angket...
TOK TOK TOK!
"Masuk saja! Pintunya tidak dikunci!" kata yang di dalam ruangan (?).
Ieyasu pun membuka pintunya dan masuk ke dalam sebuah ruangan dengan beberapa monitor berjejer (?) di tembok ruangan.
"Hvordan er du, Herre Tokugawa (Apa kabar, tuan Tokugawa)?" kata pria berambut pirang jabrik itu menyambut Ieyasu.
"Lebay banget lu, Mathias!" balas Ieyasu sewot.
Mathias pun langsung nyengir di tempat. Tapi cengirannya berhenti saat melihat seorang pemuda berambut platinum blonde masuk ke ruangannya.
"Ah, halo Emil!" sapa Mathias ramah.
"Halo juga!" balas Emil datar.
"Eh, lu ngapain pake ngajak-ngajak Emil?" bisik Mathias kepada Ieyasu.
"Kagak cuma Emil doang, kok! Yang lainnya juga pada dateng!" kata seorang pria berambut putih dengan eyepatch ungu di mata kirinya itu sambil menunjuk kerumunan di belakangnya.
Kerumunan tersebut terdiri dari seorang pria ber-eyepatch di mata kanannya, seorang pria berponi tajam, seorang pria berbadan langsing (?), seorang pria yang membawa monyet (?), dan beberapa orang yang warna rambutnya unik sekali (?). Mathias pun langsung sweatdrop di tempat melihatnya.
"Kenapa banyak banget yang dateng? Dikiranya mau acara syukuran?" tanya Mathias dengan wajah pucat.
"Itu karena-"
-Flashback-
"Hmm, ya sudah lah!" kata Ieyasu meng-'iya'-kan permintaan Mathias. "Kapan nih ngitungnya?"
"Entar, pas lebaran Nation (?)! Ya entar siang lah! Orang nanti sore mau diumumin juga! Gue tunggu nanti siang di ruang staf! Lu lagi kagak ada jadwal, kan? Ciao!" jawab Mathias sambil berjalan keluar dari ruang guru.
"Et dah!" Ieyasu pun hanya bisa menghela nafas dan kembali masuk ke ruang guru.
"Eh, ada yang mau bantuin gue, kagak? Gue lagi ada 'sedikit' kerjaan, nih!" kata Ieyasu sambil kembali ke ruang guru dan meminta bantuan.
Webek, webek...
"Kagak ada? Oke, fix (?)! Biar gue aja yang dapet gaji tambahan sendirian!" kata Ieyasu mendramatisir.
Mendengar kata 'gaji tambahan', seluruh guru pun langsung berebut minta ikut membantu Ieyasu. Dasar guru-guru mata duitan! *dibantai bersama.*
"Oh, iya? Memang kerjaannya apaan?" tanya Keiji penasaran.
"Udaaaah, liat aja nanti!" jawab Ieyasu sambil tersenyum iblis. *ditonjok Ieyasu.*
-Flashback End-
"Hooo!" kata Mathias sambil berkeringat dingin.
'Mampus deh gue! Bakalan bokek nih kalau begini jadinya!' pikir Mathias pasrah.
"Oh iya, Køhler-san! Kalau boleh tau, memangnya ada 'kerjaan' apa di sini?" tanya Kojuro.
"He? Oh! Ayo masuk!" perintah Mathias sambil menyuruh kerumunan manusia berambut pelangi (?) tersebut masuk ke dalam ruang staf yang luasnya tidak lebih dari 2x3 meter tersebut.
Anehnya, mereka mau saja berdesak-desakan di dalam. Bahkan, sampai ada yang tersangkut di langit-langit ruangan.
"Oke! Ini dia kerjaan yang gue maksud!" kata Mathias sambil menaruh tumpukan kertas berwarna hijau yang dibawanya dari laci meja yang terdapat di pojok ruangan.
Tunggu, bagaimana caranya Mathias melewati lautan manusia warna-warni tersebut dan membuka laci? Padahal yang lainnya bersusah payah berdesakan sampai ada yang semaput di tempat.
Oke, abaikan yang tadi!
Mathias pun langsung menaruh tumpukan kertas berwarna hijau tersebut di atas sebuah meja kecil dan ngomong, "Ngitung angket!"
"Ngitung angket?" tanya semua orang yang ada di sana (min Mathias dan Ieyasu) bingung. Mathias pun mengangguk.
"Entar gue bayar, lho! Suwer!" kata Mathias sambil tersenyum lebar.
Yang lainnya pun langsung bersorak gembira, sementara Ieyasu hanya menatap Mathias dengan tidak percaya.
"Eh, Makkun! Memangnya lu mau bayar mereka pake apa?" bisik Ieyasu kepada Mathias.
Mathias pun langsung menunjukkan sebuah kantong kecil sebagai jawabannya. Ieyasu pun hanya bisa sweatdrop di tempat.
"Serius, nih? Cuma kacang pilus sebungkus kecil?" tanya Ieyasu tidak percaya.
"Iyalah! Masa anggaran sekolah langsung habis cuma buat beginian doang?" jawab Mathias sambil berbalik untuk keluar mencari udara segar.
Ieyasu pun hanya bisa tertawa getir karena mengetahui teman-temannya hanya akan diupahi sebungkus kecil kacang pilus.
-skip time-
Karena ruang staf terlalu sempit untuk menghitung angket, Mathias pun memindahkan mereka semua ke dalam perpustakaan dan menyuruh mereka menghitung angketnya dengan khidmat.
"Oke! Udah selesai semua ngitung angketnya?" tanya Ieyasu yang mengomando (?) penghitungan angket.
"UDAAAAAAAAAAAAAAH!" koor yang lainnya dengan kekuatan suara 20 juta Hertz (?) yang sukses membuat telinga Ieyasu menjadi Køhler-gan (?). *digampar Mathias.*
"O-oh! Oke! Sini gue liat hasilnya!" kata Ieyasu sambil meminta hasil penghitungan angket gaje bin unik binti ajaib tersebut.
Emil pun berdiri dan menyerahkan selembar kertas berisi hasil penghitungan suara. Ieyasu pun menerimanya dan langsung meneliti hasilnya.
BRAK!
"YOOO!" teriak Mathias sambil membuka pintu dengan kekuatan Kambing (?). *ditebas Mathias.*
Yang lainnya pun langsung kaget.
"Udah selesai belum ngerjain angketnya?" tanya Mathias sambil nyengir sendiri kayak orang gila. *plak!*
"UDAAAAAAAAAAH!" koor yang lain.
Mathias pun langsung tuli mendadak.
"Oke! Nih bayarannya! Kagak usah protes dan cepetan balik!" kata Mathias sambil melemparkan sebungkus kecil kacang pilus G*r*d* kepada semua orang yang ada di sana.
Tadinya mereka mau protes begitu menerima upah mereka, tapi semuanya berubah saat Negara Baltic bersatu menyerang Russia. *plak!*
Seluruh guru (min Ieyasu plus Emil) pun langsung pulang ke habitatnya masing-masing. Mathias dan Ieyasu pun kembali ke ruang staf. Ieyasu pun sudah selesai meneliti hasil angket yang sebenarnya tidak terlalu gaje tersebut.
"Ini hasilnya!" kata Ieyasu sambil memberikan selembar kertas berwarna hijau yang dipegangnya.
Mathias pun menerimanya dan membacanya sekilas.
"Gimana?" tanya Ieyasu.
"Hmm, kurang greget dan udah mainstream!" jawab Mathias santai.
GUBRAK!
Ieyasu pun langsung ber-gubrak ria mendengarnya.
"Lha, terus mau diapain lagi angketnya?" tanya Ieyasu.
"Kita tuker aja pemenangnya!" jawab Mathias santai.
"Heh? Dituker bagaimana?"
"Ya dituker lah! Masa lu kagak tau, sih? Nih, contohnya yang terbodoh tulisannya Luthfi! Nah, tuker aja jadi siapa kek!" jelas Mathias.
Ieyasu pun hanya bisa manggut-manggut di tempat.
'Kalau begitu caranya, kenapa lu adain angket beginian coba?!' pikir Ieyasu kesal.
"Ya udahlah! Sini gue tukerin!" kata Ieyasu sambil meminta kertas berwarna hijau tersebut.
Mathias pun memberikannya dan berjalan keluar. Tapi, sebelum dia pergi ke luar...
"Makkun! Udah jadi, nih!" teriak Ieyasu.
Mathias pun berbalik dan langsung mengambil kertas hijau tersebut. Dia pun memeriksa isinya sambil menahan tawa.
"Pfft! Ini beneran, nih?" tanya Mathias sambil berusaha menahan tawanya sebisa mungkin.
"Serius lah! Kapan gue ngerjain sesuatu kagak pernah serius, coba?" jawab Ieyasu bertanya balik sambik memasang cengiran lebar.
Mathias pun langsung tertawa terbahak-bahak, entah karena isi angket yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa atau jawaban Ieyasu yang kayaknya sedikit meragukan.
"Bwahahaha! Oke-oke! Gue siap-siap dulu, ya! Ciao!" teriak Mathias sambil keluar dari ruang staf.
Ieyasu pun mulai memperhatikan persiapan Mathias dalam pengumuman angket gaje-nya.
Tok Tok!
"Hm? Siapa?" tanya Ieyasu.
"Emil Steilsson! Boleh aku masuk?" jawab yang di luar sana.
"Masuk aja! Kagak dikunci, kok!" teriak Ieyasu.
Pintu pun terbuka dan muncullah seorang pemuda berambut platinum blonde dengan mata ungu dan seekor burung Puffin bertengger di pundaknya.
"Hai!" sapa Emil datar.
"Hai juga!" balas Ieyasu ramah.
"Sedang apa?" tanya Emil.
"Ehm, lihat aja sendiri!" jawab Ieyasu sambil mempersilahkan Emil melihat ke layar monitor di ruang staf yang kameranya ditempatkan di ruang media NihoNime Gakuen.
Dia pun melihat layar itu sebentar dan hanya manggut-manggut di tempat.
"Jadi angketnya mau diumumin?" tanya Emil lagi dan hanya dijawab dengan anggukan dari Ieyasu.
"Benar! Oh iya, Makkun meminta sesuatu yang gila di angketnya!" jawab Ieyasu sambil memberikan secarik kertas berwarna hijau yang berisi hasil angket yang sudah dimodifikasi tersebut.
Emil pun membaca isi angket tersebut dan dia pun berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.
"Kau yakin kita jahili mereka seperti itu?" tanya Emil sambil berusaha menahan tawanya saat melihat kertas yang sedang dibacanya.
"Biarkan! Biarkan mereka nista!" jawab Ieyasu sambil terkekeh kecil dan segera berubah menjadi tawa seorang maniak.
To Be Continue...
Review! :D
