Me: "Balik lagi!" XD

Luthfi: "Kenapa Chapter ini penuh dengan Yaoi, ya?"

Me: "Kalau lu kagak kuat, jangan baca!"

Luthfi: "Iya, deh!"

Me: "Balas Review!" :D

Honey Sho: Ya gitulah! Kalau kagak begitu, kagak seru! *plak!*

Mathias: *baru balik dari Angra Nest.* "Sudah puas?"

Me: "Kagak tau, deh!" *sweatdrop.*

Oke, terima kasih Review-nya! :D

DUAR!

Luthfi: *sweatdrop.*

Me: "Happy Reading!" :D


Warning tambahan: Yaoi bertebaran, OC masuk, dll!


Chapter 7: Yaoi Madness


Seminggu setelah angket gaje di NihoNime Gakuen, Mathias pun memutuskan untuk mengunjungi para Daimyo yang berada di ruang guru.

"Selamat pa- WHAT THE HELL?! APA-APAAN INI?!" teriak sang ketua guru itu saat dia memasuki ruang guru.

Terlihat beberapa guru yang sedang melakukan praktek yang biasa terlihat di Doujinshi dari Gakuen sekian (?) di tempatnya Mathias. Seperti Sasuke dan Yukimura yang asik berciuman, Kenshin dan Shingen yang duduk bertolak belakang dengan muka blushing, Masamune dan Kojuro yang sedang melakukan pocky game (padahal waktu main King of Games, Kojuro melakukannya dengan ogah-ogahan), Motochika yang mendorong Motonari ke dinding dan pelan-pelan mendekatkan wajahnya, Keiji dan Toshiie yang melakukan adegan serupa dengan Kojuro dan Masamune (hanya saja dengan dango (?)), dan kejadian paling parah adalah Mitsunari menindih Hanbei sambil menciumnya yang hampir saja menjadi 'acara lemon sore hari'.

"Halo? Apa masih ada orang yang normal di sini?" tanya Mathias.

Hening...

"Oh, itu mereka!" kata Mathias sambil menghampiri beberapa orang yang sedang sweatdrop di tempat dengan tidak elitnya.

"Ekhem, Yasu! Mereka kenapa bisa kayak gitu?" tanya Mathias dengan nada serius.

"Kagak tau, tuh! Dari kemaren sore begitu, kecuali buat Mitsu dan Hanbei yang dari tadi pagi!" jawab Ieyasu sambil mengangkat bahunya.

Beberapa orang yang berada di sebelahnya pun langsung mengangguk mantap.

Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mendingan kita liat aja keadaan para penyebar Yaoi beberapa minggu sebelum sang ketua guru datang.


Dua minggu sebelum kejadian...

"Haaaah! Jawaban anak-anak tadi parah banget, sumpah!" kata Yukimura sambil mengoreksi ulangan Geologi kelas 9B.

"Itu mah masih mending! Lha, gue? Ada murid yang jawab Takoyaki itu saudaranya Tadakatsu (?)!" balas Kojuro datar. (Note: Silakan baca Chapter 'PML, UGN, & KN?'!)

Para guru sekarang sedang sibuk mengoreksi ulangan atau tugas para murid yang gaje bin sarap binti nista tersebut.

Mitsunari yang tempat duduknya berada di belakang telah selesai mengoreksi tugas kelas 9E dan hanya bisa duduk memperhatikan keluar jendela ruang guru. Biasanya di saat seperti ini, dia akan melakukan adegan Yaoi dengan Hanbei. (Cowboy: "Jangan ditiru, ya! Hanya orang-orang sesat saja yang mau melakukannya!" *dibantai Mitsunari.*)

"Haah! Kok Hanbei-sama lama banget, ya?" kata Mitsunari sambil menghela nafas.

FYUUUU~ TUK!

"Apaan ini?" tanya Mitsunari saat sebuah pesawat kertas mendarat dengan mulus (?) di kepalanya.

Karena terlanjur greget (?), pria berponi tajam itu pun langsung meremas dan membejek-bejek kertas tersebut dengan kedua tangannya.

Tapi dia berhenti meremas kertas tersebut setelah melihat sebuah tulisan di kertas tersebut. Mitsunari pun membuka kertas yang sudah lecek yang bahkan seperti daun kering (?) tersebut dan membacanya. Setelah membaca isinya, Mitsunari pun mulai senyum-senyum kagak jelas, ketawa kecil, lalu tawa maniak di bagian akhir. XD

"Eh, lu kenapa?" tanya Keiji yang baru aja balik dari kelas 9A dan duduk di depan Mitsunari sambil mengemasi buku-bukunya.

"E-eh? Kagak, kok! Kagak apa-apa!" kata Mitsunari sambil melambaikan kedua tangannya.

Keiji pun hanya bisa menghela nafasnya sambil meletakkan bukunya di atas meja dan mengeluarkan... Dango?

"Eh, memang boleh makan di ruang guru?" tanya Mitsunari kepada Keiji yang mulai melahap dango-nya dengan satu gigitan.

"Ini kan masih istirahat! Kan si Kambing itu lagi si-" Kalimat Keiji terpotong saat pintu ruang guru dibuka oleh seorang pria berambut pirang jabrik plus dark aura yang mengelilinginya.

"Keiji, bisa ikut gue sebentar?" perintah Mathias sambil mengisyaratkan Keiji untuk mengikutinya dengan satu jari.

"Køhler-san! Ngajaknya kagak usah segitunya juga, keles!" kata Keiji sweatdrop.

Ternyata, jari yang digunakan Mathias untuk mengisyaratkan Keiji adalah jari kelingking (?)! XD *Narator digampar Mathias.*

"Oh, iya! Beklager, ja (Maaf, ya)! Nah, sekarang ikut gue!" kata Mathias sambil berjalan keluar.

Keiji pun dengan ogah-ogahan mengikuti langkah kaki pria berambut pirang jabrik tersebut.

"Yap! Satu korban lagi dari Makkun!" kata Ieyasu setelah Keiji keluar.

"Kayaknya gue harus SMS Motochika, nih!" gumam Mitsunari sambil mengambil HP-nya dan mulai mengetik sesuatu.


Sementara itu, di lapangan...

Kelas 9D sedang melakukan berbagai macam olahraga untuk mengisi waktu istirahat. Motochika hanya memperhatikan mereka dengan wajah ngantuk sambil dikelilingi para murid cewek di sisi kanan dan kirinya.

"Hoaaaam!" Motchika pun menguap lebar.

Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu bergetar di saku celananya. Motochika pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan HP-nya. Dia pun membalikkan badannya agar tidak terlihat oleh Motonari yang kebetulan sedang berada di seberang lapangan.

"Pak! Pak Motochika! Bapak diliatin pak Motonari, tuh!" kata Dissa sambil menyenggol pelan pria berambut putih tersebut.

Rupanya, Motochika tidak sadar kalau dia sedang diperhatikan oleh Motonari.

"Hmhmhmhmhm!" Motochika pun langsung tertawa pelan.

"Apa yang lucu, Chosokabe?" tanya Motonari yang sudah berada di depan pria Shikoku tersebut.

"E-eh?! Ka-kagak, kok!" kata Motochika sambil buru-buru melemparkan HP-nya ke dalam pot bunga di sebelahnya.

Anehnya, tidak terdengar suara benturan antara HP-nya dengan pot bunga tersebut. Entah karena pot-nya dikasih peredam suara atau HP-nya tahan banting anti suara (?).


-skip time-


"Baiklah! Tolong jangan melakukan hal yang aneh, Chosokabe!" kata Motonari setelah menggeledah kantong baju milik Motochika.

"Ha'i!" jawab Motochika singkat.

Motonari pun kembali ke lapangan. Motochika pun langsung menghela nafas lega.

"Fyuuh~ Untung kagak ketauan!" kata Motochika sambil memeriksa pot bunga yang menjadi tempat pelarian sang HP (?).

Kemudian, terlihat wajah horror dari sang guru berambut putih tersebut.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAK!"

NGEEEEEEEEEEEEEEEEENG! (?)

Teriakan Motochika yang menggelegar tersebut pun berkumandang bersamaan dengan bel sekolah.


Sepulang sekolah...

"Nah, Mitsunari! Apa yang menarik, nih?" tanya Motochika kepada Mitsunari yang sedang membaca buku.

"Baca aja, nih!" jawab Mitsunari sambil memberikan brosur aneh bin ajaib yang dia dapatkan tadi pagi.

"Sebentar, 'Dukun pembuat ramuan ajaib! Menerima pembuatan segala jenis ramuan'! Heh? Ramuan?" tanya Motochika setelah membaca brosur tersebut.

"Gua punya rencana! Jadi, wasweswoswasweswos! Nanti kita wasweswoswasweswos! Terus nanti yang lain jadi wasweswoswasweswos! Gimana?" kata Mitsunari sambil membisikkan sesuatu ke telinga Motochika.

Motochika yang mendengarnya pun langsung tersenyum kayak seorang maniak! *Narator ditimpuk jangkar.*

"Boleh banget, tuh! Kapan kita mulai?" tanya Motochika sambil senyum-senyum gaje.

"Nanti sore kita ke sana!" jawab Mitsunari sambil menganggukkan kepala.

"Siiip! Oke! Nanti kita ketemu di gerbang, ya!" kata Motochika sambil meninggalkan Mitsunari sendirian.


Sore harinya, di gerbang sekolah...

"Mitsu-kun! Maaf kalau nunggu lama!" kata Motochika sambil berlari ke arah temannya yang berponi tajam tersebut.

"Kok lama banget? Lu abis melakukan 'itu', ya?" tanya Mitsunari dengan nada jahil.

"Kagak, lah! Tadi gue disuruh bersihin perpus sama Mathias! Nah, ayo berangkat!" jawab Motochika sambil berjalan pergi.

"E-eh, entar! Barangnya udah ada, kan?" tanya Mitsunari lagi.

"Udah, dong! Ayo!" jawab Motochika sambil mengacungkan jempolnya.

"OKE!" balas Mitsunari sambil mengikuti Motochika.


-skip time-


"Err, kagak salah nih tempatnya?" tanya Motochika kepada Mitsunari sambil menyikut badannya pelan.

"Yeee, menekecapi (?)!" jawab Mitsunari sambil mengangkat bahunya.

Sekarang mereka berada di depan sebuah bangunan mistis berbentuk kepala elang (?). Aura gelap di sana membuat gedung ini tidak dapat dilihat siapapun. Jadi, pantas saja kalau Motochika dan Mitsunari tidak bisa melihat di mana tempat yang dimaksud. Darimana Narator tahu? Hanya sang penyebar brosur, Girl-chan, Narator, dan Tuhan Yang Maha Esa yang tahu! *Narator dihajar massa.*

"Oh iya, Motochika! Sarung tangan gaje yang kemaren dikasih Køhler-san itu bisa dipake di sini, kagak?" tanya Mitsunari.

"Hmm, harusnya bisa, sih! Tapi gue kagak bawa masalahnya!" jawab Motochika dengan pose berpikir.

"Ya udah lah!" kata Mitsunari sambil memasang sebuah sarung tangan berwarna ungu gelap.


-Flashback-


Sehari setelah permainan King of Game, sang ketua guru datang mengunjungi para Daimyo untuk memberikan mereka sebuah 'bingkisan'.

"Nah, ini adalah Magic Glove! Yah, cuma buat tambahan self-defense doang, sih! Tapi apa ruginya kalau punya barang yang bisa membuat kita kayak Elgang (?)?" jelas Mathias sambil memberikan masing-masing dari para guru tersebut sepasang sarung tangan.

"Jadi, cara kerjanya bagaimana?" tanya Keiji sambil melihat sarung tangan itu.

"Namanya saja 'Magic', jadi hanya perlu memanfaatkan sihir untuk menciptakan sesuatu seperti ini!" jawab Mathias sambil merentangkan tangannya ke depan seperti sedang memegang sebuah pedang dan tak lama kemudian, partikel udara di sana bergabung dan membentuk sebuah pedang.

Yang lainnya pun hanya bisa terkejut.

"I-itu kan-" kata Hanbei sambil menunjuk pedang yang dipegang oleh Mathias.

"Yah, aku adalah spesialis 'Projector' yang bisa membuat ulang sebuah benda yang pernah dilihat sebelumnya!" jelas Mathias sambil kembali memejamkan mata dan pedang angin tersebut kembali berubah menjadi pedang yang diyakini para guru sebagai Excalibur.

"What the?" Masamune hanya bisa speechless saat melihat sebuah pedang yang tiba-tiba muncul hanya dari kumpulan angin.

"I-itu, Excalibur?" tanya Kojuro.

"Yap!" jawab Mathias pelan sambil melepas sarung tangannya yang langsung membuat Excalibur tersebut menghilang.

"Agak deja vu, tapi bomat lah!" kata Mitsunari yang ingin mencoba sesuatu.

"Vent et øjeblik (Tunggu dulu)! Kalian harus lihat dulu apa elemen kalian! Elemen biasanya dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing! Nah, Mitsu! Kau boleh mencoba dengan mengepalkan tanganmu seperti ini!" kata Mathias sambil mengepalkan tangannya (yang tentu saja sudah memakai kembali sarung tangannya).

Lalu, muncullah seberkas cahaya berwarna merah yang membentuk sebuah intan dan diselubungi angin.

"Kalau begitu, artinya apa?" tanya Sasuke.

"Kalau ini artinya elemenku ada tiga: api, angin, dan kristal!" jawab Mathias sambil melebarkan telapak tangannya yang membuat permata api (?) tersebut langsung menghilang.

"Oh!" Mitsunari pun mengepalkan tangannya dan seberkas cahaya berwarna hitam pun muncul dari kepalan tangannya.

"Woah!" Mitsunari pun langsung kaget dengan cahaya yang ada di tangannya. Begitu juga dengan Mathias.


-Flashback End-


"Black Vaccum!" teriak Mitsunari sambil merentangkan tangan kanannya ke depan dan memunculkan sebuah bola hitam kecil yang menghisap aura gelap dari tempat tersebut.

Beberapa saat kemudian, rupa bangunan itu pun mulai terlihat.

"Nah, sudah selesai!" kata Mitsunari sambil meremas bola tersebut dan mengubahnya menjadi butiran debu. (Mathias: "Aku tanpamu, butiran debu~" *ditembak Cowboy.*/Cowboy: "Jangan nyanyi, Kambing! Nanti warnet setempat bendera kuning semua!"/Mathias: *nyengir.*/Cowboy: *sweatdrop.*)

"Permisi! Kami masuk tanpa izin!" kata Motochika sedikit ketakutan.

"Siapa yang berani masuk ke sini? Hrmmm!" kata seseorang sambil menggeram.

"A-ano, mbah dukun (?) bisa buat segala ramuan, kan?" tanya Mitsunari sambil mengumpulkan segenap keberaniannya.

"Tentu saja! Wani piro?" kata sang dukun tersebut sambil menyodorkan tangannya ke depan.

"Nih!" Motochika pun mengeluarkan sebuah kaleng (?) dari dalam tasnya.

"Ikan sarden bukan, nih?" tanya sang dukun.

"Cobain aja dulu kalau ragu!" jawab Motochika.

Sang dukun pun membuka kaleng tersebut dan langsung melahap satu ikan sarden tersebut bersama dengan kalengnya (?).

'Bujug, dah! Orang ini normal apa kagak, sih?' pikir Mitsunari cengo.

"Oke, ramuan apa yang kalian inginkan?" tanya sang mbah dukun.

"Kami mau ramuan agar semua orang menjadi yaoi!" teriak Motochika dan Mitsunari bersamaan.

"Oke! Tunggu sebentar, ya!" kata sang mbah dukun sambil pergi ke belakang.

Tak lama kemudian, muncullah cahaya gaje berwarna biru dari belakang.

"Hiiy! Kayaknya kita salah tempat, deh!" bisik Motochika kepada Mitsunari.

"Makanya itu! Kalau tau tempatnya kayak begini, gue kagak bakalan mau datang ke sini!" balas Mitsunari.

"Nah, sudah ja-"

CETREK!

Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi terang. Ternyata, sang dukun adalah seorang pemuda berambut hitam pendek dan memakai seragam perang zaman Revolusi Amerika (?).

'Dafuq! Dia dukun apa prajurit perang, sih?!' pikir Mitsunari cengo.

'Tampangnya kayak prajurit perang, tapi udah jadi dukun? Hiiy!' pikir Motochika yang merasakan bulu kakinya (?) berdiri.

"-di, dayo! Ini pesanan kalian!" kata pemuda itu sambil meletakkan sebuah botol bening berisi air putih (yang terlihat) normal.

"Ini ampuh kagak, bang (?) dukun?" tanya Mitsunari sambil berusaha untuk tidak cengo.

"Ampuh, dayo! Dijamin seratus persen!" kata pemuda itu sambil mengancungkan jempolnya.

"O-oke, deh! Arigatou gozaimasu!" kata kedua pria itu sambil langsung mengambil langkah seribu untuk segera meninggalkan tempat gaje tersebut.


Kita kembali ke kejadian sekarang!

"Oh, jadi gitu ceritanya!" kata Mathias sambil melepas sarung tangannya.

"Jadi, apa akar dari semua ini, Makkun?" tanya Ieyasu khawatir.

"Sepertinya ramuan yang dibeli Mitsunari dan Motochika tadi!" jawab Mathias.

"Oh, iya! Yang tadi pake apa meriksanya, pak?" tanya Dissa.

"Yang tadi? Itu adalah Refrain Memory! Lagipula, bapak memakai ramuan, tapi ramuan itu tidak akan bekerja tanpa Magic Glove terpasang di tangan!" jawab Mathias sambil mengeluarkan sebotol cairan gaje yang diakuinya adalah 'Refrain Memory' itu.

"Jadi, sekarang apa yang harus kita dilakukan, pak?" tanya Girl-chan.

"Gampang, tapi bapak harus minta bantuan Nagamasa! Venligst, ja (Tolong, ya)!" jawab Mathias sambil melirik Nagamasa.

"Ya udah, deh! Daripada mereka semakin parah!" kata Nagamasa sambil menunjuk Mitsunari dan Hanbei yang hampir memasuki tahap lemon.

"Oke! Wind Circle!" teriak sang ketua guru itu sambil mengangkat tangannya.

Sebuah pilar tembok angin pun muncul dan memisahkan mereka yang tidak terkena Yaoi dan yang terkena Yaoi.

"Azai Secret Skill: Blessing Light!" kata Nagamasa sambil merentangkan kedua tangannya.

Cahaya kunang-kunang pun muncul dan memulihkan mereka semua, mulai dari Keiji, Toshiie, Kenshin, Shingen, Kojuro, dan Masamune. Kecuali bagi ChikaNari dan MitsuHanbei yang udah kelewatan.

"E-eh?! APA YANG TERJADI DI SINI?!" teriak Kojuro dan Masamune bersamaan.

Suara mereka pun sukses membuat seluruh kaca di NihoNime Gakuen langsung pecah semua.


-skip time-


Hari itu pun berakhir dengan tenteram dan damai, kecuali bagi Mitsunari dan Hanbei yang terus melakukan aksi Yaoi walaupun sudah tidak menjurus ke arah lemon.


Malam harinya...

"Nah, kalian boleh duduk di sana!" kata seorang pria berambut pirang jabrik dengan warna mata biru langit itu sambil menunjuk sepasang kursi yang biasanya berada di taman kanak-kanak (?).

Kedua pria yang mengikutinya pun hanya bisa duduk di tempat yang ditunjuk.

"Jadi, gue pengen tanya ke kalian!" kata pria berambut pirang jabrik itu serius.

Yang ditanya pun hanya bisa menenggak air liur mereka sendiri.

"Kenapa kalian mempengaruhi yang lainnya agar mereka ngelakuin hal-hal seperti yang terdapat di Doujinshi dari Gakuen sekian (?)?" tanya pria itu dengan tetap serius.

"Memangnya Doujinshi Gakuen sekian itu kayak gimana, ya?" tanya salah satu dari mereka yang berambut putih dengan poni tajam itu dengan wajah (sok) polosnya.

Pria berambut pirang jabrik di depannya pun langsung facepalm di tempat.

"Tidak perlu dijelaskan! Menurut kabar burung, ada adegan-adegan yang- Errr, you know better than me, right?" jawab pria berambut pirang jabrik itu sambil memasang tampang 'you-don't-say'.

"Waaah! Berarti Mathias udah pernah baca, ya?" tanya pria berambut putih ber-eyepatch ungu di mata kirinya dengan nada jahil.

"Kagak lah! Kan itu cuma kabar burung doang! Atau jangan-jangan kalian yang udah baca? Wah! Pantesan aja kalian udah berani ngelakuin 'itu'!" jawab Mathias mengambil dugaan.

Kedua pria yang berdiri di hadapannya pun langsung membelalakkan telinganya (?). *plak!*

"Udahlah, itu kagak penting! Sekarang yang gue mau tanya, dimana kalian dapat ramuan itu?" tanya Mathias lagi.

"Entahlah! Gue nemu di jalan, kok!" kata Motochika santai.

"Yang bener?" tanya Mathias memastikan.

"Bener deh! Ci-"

"STOP! Jangan mulai alay, deh!" potong Mitsunari kesal dengan pertarungan alay-alayan ini.

"Oh, oke!" Motochika pun kembali tenang.

Mathias pun kembali memasang tampang seriusnya.

"Oh iya, Mitsu! Motochika! Gue tanya sekali lagi! Kalian dapat ramuan seperti itu darimana?"

"Oooh! Kalau itu, mending kita nganterin aja besok pagi!" kata Mitsunari sambil berdiri.

"Hmm, oke! Besok pagi kita berangkat ke sana bersama yang lainnya! Terima kasih informasinya! Kalian boleh kembali ke tempat akhir (?) kalian!" kata Mathias sambil keluar dari ruang interogasi (?).

Mitsunari dan Motochika pun hanya bisa mengikuti dari belakang.


Pagi harinya, di gerbang sekolah...

"Buat apa kita dikumpulin di sini, coba? Ini kan masih pagi! Hari minggu pula!" gerutu Masamune.

"Iya, nih! Mau ngapain coba? Hik (?)!" kata Dark yang mukanya sedikit merah.

"Err, Darukun kenapa?" tanya Luthfi yang seger-seger aja. Mungkin saja dia abis minum susu se-Dispenser (?). *plak!*

"Abis makan cabe sekilo (?)!" kata Girl-chan sambil mengucek matanya.

Seluruh guru yang mendengarnya pun langsung sweatdrop di tempat.

"Oke! Udah pada siap?" tanya Mathias dengan kaus merah dan celana training berwarna coklat.

"Yaaa!" teriak yang lainnya lesu.

"Yah, semangat dong! Pagi-pagi begini enaknya lari pagi, kan?" tanya Mathias yang udah berada di depan gerbang sambil berlari di tempat.

Yang lainnya pun hanya bisa mengikuti Mathias dengan lesu.


-skip time-


Setelah berlari-lari kecil, tiba-tiba Motochika berlari menyusul Mathias yang berada di depan.

"Nah! Di sini tempatnya, Køhler-san!" kata Motochika sambil menunjuk ke arah sebuah tanah lapang yang beraura aneh.

"Oke! Stop!" kata Mathias sambil memberikan aba-aba untuk berhenti.

Yang lainnya pun langsung berhenti mendadak dan terjatuh. Naas bagi Dissa yang berada di depan, dia harus tertimpa seluruh guru dan beberapa temannya karena aksi berhenti dadakan berjamaah (?) tersebut.

"A-aduuh!" kata Dissa sambil mengelus punggungnya yang hampir patah. *Narator dihajar Dissa.*

"Kalian yakin di sini?" tanya Mathias memastikan.

Pertanyaan tadi dibalas dengan anggukan mantap dari kedua pria yang merupakan pakar Yaoi tersebut. *Narator dibantai kedua orang yang dimaksud.*

"Kok yang ada cuma lapangan ko-" Mathias menghentikan omongannya saat memperhatikan keadaan sekitar.

"Mitsu! Lu ngapain bawa Magic Glove ke sini?" tanya Mathias saat melihat Mitsunari memasang Magic Glove miliknya.

"Buat munculin tempatnya, lah! Yang lainnya juga pada bawa, kok!" jawab Mitsunari sambil menunjuk kerumunan guru yang sudah siap dengan sarung tangan mereka masing-masing.

"Hmmm! Kemaren Magic Glove gue ketinggalan di ruang interoga- Oh, ini dia!" kata Mathias sambil merogoh saku celananya.

"Be De We Enewe Beswe (?), kenapa kalian pada pake Magic Glove, nih?" tanya Mathias.

"Matte kara, sanshō shite kudasai (Tunggu dan lihat saja)!" jawab Motochika santai.

"Black Vaccum!" teriak Mitsunari sambil merentangkan tangan kanannya ke depan.

Sebuah bola hitam kecil pun muncul dan menghisap benda yang terlihat seperti tirai tipis tersebut. Mathias pun mulai mengerti apa yang dimaksud Mitsunari.

"Hoo!" Mathias pun juga ikut merentangkan kedua tangannya ke depan.

"Cross Techinque: Cyclone Hole!" teriak pria jabrik tersebut.

Dari kedua tangannya, muncul sebuah lubang angin yang terbuka dan menghisap sesuatu yang menutupi tempat tersebut dalam sekejap mata.

"Whoa!" Yang lainnya pun langsung kagum dengan apa yang ada di hadapan mereka.

Sebuah bangunan besar bernuansa mistis yang ada di hadapan mereka pun mulai melahap mereka semua (?). *plak!* (Cowboy: "SALAAAAAAH! Replay!")

Replay!

"Whoa!" Yang lainnya pun langsung kagum dengan apa yang ada di hadapan mereka.

Sebuah bangunan besar bernuansa mistis yang ada di hadapan mereka pun mulai membuat beberapa orang merinding ketakutan. Tapi mereka berusaha masuk tanpa merinding ketakutan.

"Per-permisi!" kata Motochika mengawali.

"Siapa yang berani masuk ke sini? Hrmmm!" kata seseorang sambil menggeram.

"He? Apaan, nih?" tanya Mea heran saat melihat sebuah tali yang menjuntai di samping pintu.

Dia pun dengan iseng menarik-narik tali tersebut.

TUING! TUING! (?) CEKLEK! ZSAAAAASH!

"Oouch!" Semuanya pun langsung menutup mata mereka karena ada cahaya menyilaukan yang menyerang mata mereka.

PRAK!

"Hei, kau! Berhenti!" teriak Hanny yang (masih sempet-sempetnya) pake kacamata hitam dan melihat sang dukun kabur lewat pintu belakang sambil mengejarnya.

Yang lainnya pun langsung mengikuti Hanny.

DRAP DRAP DRAP

Sang dukun bertudung elang (?) itu pun terus berlari sekuat tenaga diikuti oleh seluruh warga NihoNime Gakuen.

"Hosh! Hosh!" Setelah sepuluh menit berlari tanpa tujuan, sang dukun pun mulai kelelahan.

Begitu juga para guru dan murid NihoNime Gakuen yang mengejarnya. Tanpa diduga, Sho dan Runa pun langsung menerjang sang dukun dan menangkapnya.

JDUAK!

"Tch!" gerutu Sho sambil mengusap-usap dahinya yang mendarat di aspal dengan 'mulus'.

"Lho, mana orangnya?" tanya Luthfi sambil celingak-celinguk.

Motonari mendapati pakaian sang dukun yang teronggok (?) begitu saja di tanah dan melihat seekor elang terbang ke arah gang sempit.

"Eh! Itu dia!" teriak Motonari sambil berlari mengejar elang tersebut.

Seluruh murid cewek pun langsung mengikutinya.

"Ini bajunya dukun itu, ya?" gumam Yukimura sambil memeriksa pakaian yang terlepas barusan.

Tidak lama kemudian, matanya terbelalak kaget. Dia pun membisikkan sesuatu ke sang ketua guru. Mukanya mulai menampakkan ekspresi bingung, tapi sepertinya dia mengerti apa yang dibicarakan Yukimura.

"Minna! Kalian cepat susul orang tadi!" kata Mathias sambil memerintahkan para guru dan murid cowok yang ada di sana untuk mengejar sang dukun.

"Oke!" teriak mereka sambil berlari.

"Vent et øjeblik (Tunggu dulu)! Yukimura, lu bawa pakaian tadi!" perintah Mathias.

"Ha'i!" kata Yukimura sambil berlari menyusul teman-temannya yang sudah berada di depannya.

'Kalau begini ceritanya, mungkin gue cuma kebagian menginterogasi aja!' pikir Mathias sambil berjalan santai ke arah mereka semua berlari.


At female students side...

"Cih, kok kenceng banget terbangnya?!" tanya Dissa menggerutu.

"Namanya aja elang!" jawab Hanny sweatdrop.

"Gimana cara ngejarnya, nih?!" tanya Mea back to the topic.

"Aaargh!" gerutu Runa.

"E-eh?! Elangnya belok!" kata Girl-chan sambil mengeluarkan pipanya dan menancapkannya ke tanah agar yang lain dapat menggunakannya sebagai tumpuan berbelok.

Yang lainnya pun langsung membelokkan diri mereka dengan bantuan pipa milik Girl-chan.


At teacher and male students side...

"Kalau kita lari gaje kayak gini terus, kagak bakalan ketemu!" kata Hanbei kesal.

"Gimana kagak gaje? Orang tiap kali ada belokan, kita belok kanan terus!" balas Sasuke.

"Lha, memangnya siapa yang nyuruh kita belok kanan terus?!" tanya Hanbei tambah emosi.

"Lu, kan?!" tanya Sasuke setengah berteriak.

Hening...

"Oh iya, ya! Hehehe!" balas Hanbei sambil nyengir gaje.

Yang lainnya pun hanya bisa sweatdrop.

"Ya ampun! Kenapa gue kagak kepikiran, ya?" gumam Keiji sambil facepalm.

"Maeda Special Skill: Cloud Rider!"

Saat itu juga, segumpal mobil awan (?) langsung datang dan menggiring mereka semua ke langit.

"WHOAAAAA!"


Back at female students side...

"Hah! Hah!" Yang lainnya pun terus berlari mengejar elang tersebut untuk dijadikan sarden elang (?).

Tiba-tiba, elang tersebut berhenti di depan jalan buntu.

'Di sinikah aku akan berakhir?' tanya elang itu dalam hati sambil menitikan air matanya.

'Eh, masih ada cara 'itu'!' batin elang tersebut.

Dia lalu menghadap ke arah kerumunan merpati lapar (?) yang akan memakan dirinya. (Cowboy: "Woi, kenapa lu demen banget nulis kata-kata ambigu, sih?"/Girl-chan: "Salahkan saja si psikopat itu!")

Elang tersebut mulai menutup matanya dan berkonsentrasi.

"Eh, dia udah nyerah! Ayo kejar!" teriak Sho sambil berlari lagi.

'Ayo, sedikit lagi!' batin sang elang.

"HEAAAAA!" teriak Girl-chan sambil langsung menerjang elang tersebut.

POOOF!

CRAT! CRAT! CRAT! CRAT! CRAT! CRAT!

Genangan darah merah pun langsung menghiasi seluruh murid cewek yang tewas (?) di arena tempur (?). Hanya satu orang yang berdiri di sana dan menatap dukun tersebut dalam keadaan jawdrop.

"E-eh?" Karena bingung, Motonari pun tidak bisa mengatakan sesuatu.

"G-Gyaaaaaaa!"


At teacher and male students side...

"G-Gyaaaaaaa!"

"Eh?! Suara siapa, tuh?!" tanya Kojuro yang mendengar jeritan supersonik (?) barusan.

"Mendingan kita turun di sini!" kata Mitsunari sambil terjun ke bawah.

FYUUUU! DRAP!

Semuanya pun mendarat dengan mulus. Mereka pun mulai menelusuri jalan untuk mencari sumber suara.

"Tunggu! Ini pipa milik ****, kan?!" tanya Luthfi sambil mengeluarkan pipa milik Girl-chan yang tertancap di tanah.

"Iya, dan kenapa dari arah sini ada bau amis (?) darah, ya?" tanya Kenshin sambil menunjuk ke arah kiri.

Mereka pun berjalan dengan perasaan tidak enak.

"Mereka kagak dibunuh, kan?" tanya Hanbei ketakutan.

"Kagak tau, deh! Gue juga kagak mau mereka mati muda!" balas Masamune kagak kalah ketakutan.

"Huweeee! Sahabat gue yang psycho! Huwaaaa!" Keiji pun menangis meraung-raung.

Yang lainnya pun langsung sweatdrop di tempat.

"Yah, kita berdoa aja lah! Semoga mereka selamat sentosa selamat panjang umur dan berbahagia (?)!" celetuk Shingen datar.

Yang lainnya pun malah tambah sweatdrop.

'Ni orang masih aja bercanda di saat begini?!' batin yang lain.

"He?" Luthfi yang merasa menginjak sesuatu melihat ke bawah pelan-pelan.

Dia pun melihat cairan berwarna merah pekat beraroma khas dan langsung pingsan di tempat.

Apa Girl-chan pernah bilang kalau temannya itu sangat takut dengan darah?

"Lu-Luthy-kun!" Ieyasu pun langsung menangkap tubuh Luthfi yang hampir ternodai darah.

"Eh, jangan lupa plastiknya!" kata Yukimura sambil mengambil plastik yang sudah terlanjur terjatuh tersebut.

"Etto, Dukun-dono (?)! Bisakah anda pakai ini dulu?" tanya Yukimura sambil memberikan bungkusan tadi.

"Motonari! Lu kagak apa-apa?" tanya Kojuro sambil menepuk bahu Motonari.

Sedetik kemudian, Motonari pun mengedipkan matanya. Dia masih berusaha memahami keadaan sekitar.

"Umm, apa yang terjadi?" tanya Motonari.

"Kagak tau, dayo! Mereka langsung nosebleed saat aku berubah wujud jadi manusia!" jawab sang dukun yang sudah memakai kembali pakaiannya.

"Hoo, terus yang gue bawa di sini siapa, dong?" tanya seseorang di belakang mereka.

"Køhler-san/Pak Mathias!" teriak mereka semua berjamaah (min sang dukun).

"Yo!" katanya sambil mengangkat tangan kanannya.

Di sebelahnya, ada seorang pemuda yang terlihat mirip dengan sang dukun tadi, tapi warna rambutnya navy blue.

"Oh, dia? Dia asistenku, dayo!" jawab sang dukun.

"Tuh kan, sudah kubilang bukan aku- suh!" kata pemuda di sebelahnya sambil langsung pergi.

Yang lainnya pun hanya bisa sweatdrop (min sang dukun).

"Jeg vidste det ville ske (Aku tahu kalau ini akan terjadi)!" gumamnya sambil berjalan mendekati tumpukan cewek yang berdarah (?).

"Oh, iya! Namamu siapa?" tanya sang ketua guru serius.

"Musket Liferpoint, dayo!" jawabnya kagok saat melihat perubahan raut wajah Mathias.

"Hm! Kenapa kamu memiliki Magic Glove seperti kami?" tanya Mathias sambil menunjukkan Magic Glove yang dipakainya.

"Magic Glove?" tanyanya bingung.

"Iya, sarung tangan yang terpasang di tanganmu! Itu Magic Glove!" jawab Mathias sambil menunjuk sarung tangan berwarna biru yang sedang digunakan Musket.

"Ini? Umm! Entahlah, dayo! Seseorang mengirimkannya padaku!" jawab Musket singkat, padat, dan kurang jelas (?). *Narator digampar Reader.*

"Ah, ikke noget problem (tidak masalah)! Yang terpenting, kenapa kau membuat ramuan aneh untuk Mitsunari dan Motochika?" tanya Mathias lagi.

"Haaah!" Musket pun hanya bisa menghela nafas.

"Itu pesanan khusus yang hanya bisa dibayar oleh sekaleng ikan sarden, dayo!" jawab pemuda berambut hitam tersebut.

Mathias pun hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban Musket.

'Ikan sarden?!' pikir yang lainnya cengo.

"Oke! Aku ingin agar kau jangan menerima pesanan ramuan yang aneh-aneh! Apalagi dari kedua pria itu!" saran Mathias sambil menunjuk Mitsunari dan Motochika yang hanya memasang cengiran lebar.

"Eh?" Pemuda itu pun memiringkan kepalanya. Kemudian, dia langsung mengangguk mantap. "Oh! Baiklah, dayo!"

"Tak (Terima kasih)!" kata sang ketua guru.

"Oke, kita kembali sekarang! Oh iya, bawa juga mereka!" perintah Mathias sambil menunjuk onggokan (?) daging berlumuran darah yang jumlahnya se-warnet (?). (Cowboy: "Karena selangit udah mainstream!" XD)

"Baiklah!" jawab mereka lesu.


To Be Continue...


Review! :D