Balas Review! :D

Dissa-CHAlovers: Iya, begitulah dan ini dia kelanjutannya! :D

Honey Sho: Crossbow? Kok jadi keinget Lire dari GC, ya? *plak!*

Cowboy: "Itu mah lain lagi, BakAuthor!" *sweatdrop.*

Yah, kalau kagak curang, bukan Iceland namanya! XD *dipatuk Puffin.* Oke, terima kasih Review-nya! :D

Sakazaki-Rikou: Akan saya usahakan dua Chapter kedepan! :D Baiklah, Thanks for Review! :D

Happy Reading! :D


Special Chapter 7: That Past?


Beberapa minggu setelah 'King of Game: The Aftermath' (?), anak-anak nista di NNG pun sibuk melakukan aktivitas masing-masing di kelas 9C. Tapi masalahnya...

"Sudahlah! Gue mau nyari angin seger dulu di bawah!" kata Girl-chan lesu sambil beranjak keluar kelas dengan membawa pensil dan buku gambarnya.

Sang ketua guru yang lagi nyelonong di depan kelas pun berniat menyusulnya.

"Girl-chan!" Mathias berusaha menghentikan gadis itu, tapi dihentikan oleh Ieyasu.

"Makkun! Lu inget kagak dengan kejadian kemaren?" tanya Ieyasu serius.


-Flashback-

"Girl-chan?" tanya Mathias sambil menepuk tangan gadis itu.

Ieyasu yang dari tadi kagak memperhatikan acara yaoi MitsuHanbei itu pun hanya memperhatikan cewek berambut hitam ponytail dan pria berambut pirang jabrik tersebut. Tapi dia menyadari sesuatu. Girl-chan kagak bergerak sama sekali setelah Mathias mendekatkan kepalanya di tangan gadis itu. Ieyasu pun langsung menghampiri kedua orang tersebut.

"Err, kalau boleh tau dia kenapa ya?" tanya Ieyasu.

"Jadi, dia hanya sedikit gue 'goda' tadi! Hanya itu doang!" bisik Mathias.

Ieyasu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

'Haaah! Ada-ada aja lu, Makkun!' pikir Ieyasu sambil mengangkat Girl-chan.

-Flashback End-


Mathias hanya mengangguk pelan.

"Berikan dia sedikit waktu! Baru nanti kau bisa bicara dengannya!" kata Ieyasu serius.

Mathias hanya mengangguk paham.

"Lagipula, dia kan hanya keluar kelas! Bondevik-san, Steilsson-san, dan Väinämöinën-san akan mengawasinya dari atas!" lanjut Ieyasu.

"PAK IEYASU! BISA KAGAK BAPAK KE SINI SEBENTAR?" teriak Luthfi.

"Oke!" balas Ieyasu.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!" kata Ieyasu sambil menenangkan pria berambut pirang jabrik tersebut.


Di kelas 9C...

"Ada apa?" tanya Ieyasu sambil nyamperin Luthfi yang udah dikerumuni sama teman-temannya kayak semut yang mengerumuni gula.

"Ini! Pak Ieyasu liat aja sendiri!" kata Luthfi sambil menyerahkan sebuah buku sketsa bersampul merah kepada guru berambut coklat tersebut.

Dia pun memperhatikan sampulnya sebentar.

"Ini punya si ****, kan?" tanya Ieyasu yang dibalas dengan anggukan oleh yang lainnya.

"Memang kenapa sama buku gambar ini? Bukannya beberapa dari kalian udah tau gambar yang ada di dalamnya, kan?" tanya Ieyasu lagi.

'STALKER!' kata Dissa, Hanny, Bama, Amel, Dimas, Fahira, Luthfi, Dark, dan Mea bersamaan dalam hati.

Ieyasu pun membuka buku tersebut. Terlihat sketsa sebuah gambar seorang pria jabrik yang memakai seragam militer. Ieyasu hanya mengerutkan keningnya melihat gambar tersebut. Pasalnya, dia sangat mirip dengan seseorang. Dia pun melihat halaman selanjutnya yang anehnya, bukan hanya sebuah gambar dengan model yang sama hanya berbeda pose di sebelah kanan, tapi dia juga menemukan beberapa baris kalimat di halaman sebelah kiri. Ieyasu pun membaca tulisan itu sebentar.

"Kalian mungkin pengen denger yang satu ini!" kata Ieyasu sambil menatap seluruh orang di kelas tersebut.

Mereka pun langsung diam di tempat dan siap mendengar apa yang ingin diceritakan oleh guru berambut coklat tersebut.

"Di sini tertulis, 'Hari ini, aku melihat seorang pria jabrik. Tampak begitu gagah.'!" kata Ieyasu membacakan apa yang tertulis di sana.

Yang lainnya hanya diam dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut mereka.

"Etto-" Ieyasu pun membuka halaman selanjutnya dan membacanya dengan toa warung (?). "Yang ini tertulis, 'Semakin lama aku melihatnya, aku merasa semakin gila.'!"

Setelah mendengar kata-kata Ieyasu, Dissa dan Hanny pun saling bertukar pandang.

"Pak Ieyasu! Tulisan itu ditulis tanggal berapa?" tanya Hanny.

"Tanggal? Sebentar! Hah?" Ieyasu memeriksa halaman buku gambar tersebut untuk mencari sesuatu yang terlihat seperti tanggal.

Akhirnya, dia menemukannya dan kaget begitu dia melihat tanggal gambar dan tulisan itu dibuat.

"Lima Belas Mei 20xx!" kata Ieyasu sambil membaca tulisan di tanggal tersebut.

"Gue inget sekarang! Itu hari di mana Girl-chan nyaris kecelakaan beberapa bulan lalu!" teriak Dissa memukulkan kepalan tangan kirinya di telapak tangan kanannya.

"HAH?! APA TADI LU/KAMU BILANG?!" teriak seluruh ruangan (min Ieyasu, Dissa, Mathias, dan Hanny).


Sementara itu...

"Hm? Sudah mau kembali?" tanya Lukas saat melihat Girl-chan yang keluar dengan muka suram.

"Lukas! Lu bisa kagak kasih ini kepada semua yang ada di kelas?" tanya Girl-chan sambil memberikan sepucuk surat.

"Kalau nanti Mathias mencariku, bilang saja kalau aku berada di seberang jalan!" kata gadis itu sambil berjalan keluar dengan lesu.

"Girl-" Emil berusaha menghentikan gadis berambut hitam ponytail itu.

"Jangan sekarang!" teriak Lukas sambil mencegah Emil.

"Dia butuh waktu untuk menyendiri!" jelas Lukas.

'Lebih baik kuberikan ini sekarang!' pikir Lukas sambil menuju ke kelas 9C.

"Permisi!" kata Lukas sambil masuk ke dalam kelas.

"Hm, Bondevik-san? Ada apa?" tanya Kenshin.

"Girl-chan menitipkan surat ini kepada semua yang ada di sini!" kata Lukas sambil memberikan surat itu ke Ieyasu.

Tapi Mathias langsung berlari keluar kelas seolah bisa membaca isi pikiran pria berambut pirang bersalib tersebut.

"Girl-chan!" teriak pria jabrik itu.

"Ho-hoi! Køhler-san!" cegah para guru yang lain, tapi tidak sempat dihentikan.

Bersamaan dengan itu, Emil dan Tino pun masuk ke dalam kelas.

"Ta-san tidak membaca pikiranmu kan, Nor-kun?" tanya Tino.

"Memangnya kenapa?" kata Sasuke bertanya balik.

"Anko itu langsung berlari keluar tanpa pikir panjang, seperti membaca pikiranku!" jawab Lukas datar.

"Mungkin intuisinya bagus!" balas Keiji sekenanya.

"Mau mengejar mereka?" tanya Motonari.

"Kagak usah! Mereka kan butuh waktu berdua! Right, Yuki-chan?" kata Masamune sambil mengangkat dagu Yukimura yang sukses membuatnya blushing di waktu dan tempat yang salah (banget).

"Pastinya!" balas Mitsunari sambil mencium Hanbei.

'Dasar pasangan Yaoi!' pikir sebagian murid di kelas 9C (plus sebagian guru).

"Mendingan kita tungguin aja!" kata Kojuro mengambil langkah bijak.


Lima menit kemudian...

"Permisi?" tanya seorang pria sambil membuka pintu kelas.

Yang lainnya pun langsung melihat ke arah pintu.

"KØHLER-SAN/MAKKUN/TA-SAN/DAN/ANKO UZAI/(PAK) MATHIAS?!" koor seluruh ruangan yang terkejut melihat Mathias.

"Dan lihatlah siapa yang aku bawa ke sini!" kata Mathias sambil merangkul Girl-chan masuk.

"Yo!" sapanya dengan wajah yang terlihat cerah dan bercahaya jika dibandingkan dengan saat dia menitipkan surat ke Lukas tadi.

"GIRL-CHAN/****(-san)!" koor yang lain (min Ieyasu, Lukas, Emil, dan Tino).

"Jadi gimana, pak?" tanya Girl-chan sambil tersenyum lebar yang hanya dibalas dengan senyum tipis dari pria berambut pirang jabrik tersebut.

"Eh? 'Gimana' maksudnya?" tanya para guru plus Nordic Three (?) (Lukas-Emil-Tino).

"Panjang banget kalau diceritain dan gue juga males ceritainnya! Bweee!" jawab Mathias sambil menjulurkan lidahnya.

"Oke, anak-anak! Kalian boleh pulang!" kata sang ketua guru.

"HOREEEEEEEEEEEEE!" koor seluruh mulas girang.

Mereka pun langsung membereskan tas mereka dan segera keluar kelas.


To Be Continue...


Review! :D