Balas Review! :D
Sakazaki-Rikou: Yah, begitulah! Terima kasih Review-nya! :D
Dissa-CHAlovers: Eh? Bukannya Hanbei manggilnya 'Shingen' doang, ya? -_-" Oh, iya! Saya munculkan Aira di sini! Kenapa bukan Seito atau Tsubako? Karena mereka terlalu dingin (?)! *dibantai yang bersangkutan.* Kalau main alat musik, saya bisa coba bikin Special Chapter-nya! Nah, Thanks for Review! :D
Happy Reading! :D
Catatan: Miku milik Crypton dan Aira milik Dissa-CHAlovers! Saya hanya meminjamnya saja, kok! -_-"V
Chapter 22: Yuri Madness
Seminggu setelah kejadian 'Film Horror', Luthfi sekarang sedang berjalan menuju kelasnya dengan ceria.
"Assalam- WHAT THE HELL?! APA YANG SEDANG TERJADI DI SINI?!" teriak Luthfi saat melihat kejadian di depan matanya.
Mau tau kejadian apakah itu? Ternyata, kejadiannya adalah adegan Yuri (Thundy: "Bukan si Yuri dari fandom sebelah, lho!" :D/Yuri: "Eh?"/Thundy: *facepalm.*) yang biasa terlihat di doujinshi Gakuen Sekian (?). Seperti Dissa dan Mea yang berciuman, Sho dan Sakazaki yang berpelukan mesra banget, serta Girl-chan dan Hanny yang jauh lebih parah dan hampir menjadi 'adegan lemon pagi hari'.
Errr, kok jadi deja vu di Chapter 'Yaoi Madness' ya? Bomat lah! Kita lihat dulu reaksi Luthfi setelah melihat kejadian itu!
"Apa masih ada orang normal di sini?" tanya Luthfi yang udah jawdrop dengan kejadian barusan.
Webek, webek... (Thundy: "Lama kagak jumpa, pak kodok!" :D)
"Ah, itu mereka!" kata Luthfi sambil menghampiri Mathias, Runa, dan Lance yang juga jawdrop dengan kejadian barusan.
"Errrr, pak Mathias! Pak Lance! Kenapa mereka jadi kayak begitu, ya?" tanya Luthfi heran.
"Menekedele! Dari tadi juga udah kayak begitu!" jawab keduanya sambil angkat bahu.
"Oh, iya! Kenapa pak Mathias kagak pake 'Refrain Memory' aja? Bukannya bapak pernah pake pas para guru kena virus Yaoi, ya?" saran Runa.
"Bener juga, ya!" kata Mathias sambil facepalm. "Men (Tapi)..."
"Tapi kenapa, pak?" tanya Luthfi heran.
"Tapi, MG bapak ketinggalan di rumah masalahnya!" jawab Mathias sambil menggaruk kepalanya dengan kecewa. (Cowboy: "Coba kalian baca Chapter 'Yaoi Madness'! 'Refrain Memory' hanya bisa bekerja dengan MG!")
"Pake punya gue aja!" kata Lance sambil menyerahkan sepasang sarung tangan berwarna hijau bergaris coklat kepada sang ketua guru jabrik tersebut.
"Hehehe! Tak, Lance!" ujar pria jabrik itu sambil mengambil MG milik guru muda tersebut dan segera memakainya. (Thundy: "Memangnya bisa muat, ya?" -_-" *dipenggal.*)
Oke, deh! Karena sang ketua guru udah pake MG, kita langsung aja lihat kejadian sehari sebelumnya!
-Flashback-
"Kenapa pak Masamune kagak ngajar, ya?" tanya Dark heran saat suasana di kelasnya sedikit hening setelah kejadian 'Film Horror' yang membuat sang guru English sekaligus walas (wali kelas) 9E tersebut masuk UGD.
"Eh, Darukun! Lu kenapa, sih?" tanya Sakazaki.
"Saki-chan! Gue bosen, nih! Pak Masamune kagak ngajar! Enaknya ngapain, ya?" jawab Dark lemes.
"Gimana kalau kita nyari dukun?" tawar Sakazaki.
"Dukun? Bukan si dukun elang itu, kan?" tanya Dark bingung.
"Ini lain lagi! Coba lu lihat ini, deh!" jawab Sakazaki sambil menyodorkan sebuah brosur kepada telasnya itu.
Kita lihat saja isi brosur itu daripada penasaran!
Dukun Negi (?)!
Melayani berbagai macam ramuan!
Anda tinggal membayar dengan sekeranjang Negi (?)!
Alamat, Jalan Negi Nomor 1!
Dark pun hanya bisa sweatdrop membaca brosur singkat gaje tersebut.
'Dafuq! Kemaren dukun elang, sekarang dukun negi! Apa di dunia ini juga ada dukun kelinci (?) sama dukun hamburger (?), ya?' batin Dark setelah membaca brosur aneh bin ajaib tersebut.
"Gimana? Bagus, kagak?" tanya Sakazaki.
"Hmmm, boleh aja deh!" jawab Dark. "Kapak kitak kek sanak nyak (Kapan kita ke sananya)?"
Bagi yang kagak mengerti dengan logat di kalimat kedua Dark barusan, itu adalah logat 'K' buatan si Author! Maksudnya, setiap kata dikasih huruf 'K' di belakangnya, termasuk imbuhan '-nya' dan kata depan 'ke' dan 'di'. Khusus untuk kata yang berakhiran huruf konsonan dan '-ng', huruf itu diganti dengan huruf 'K'! Gaje, ya? Tanyakan saja Author-nya! *Narator digampar Reader.*
"Entak, pak lebarak Daimyok, yak entak siak lak (Entar, pas lebaran Daimyo (?), ya entar siang lah)!" jawab Sakazaki sewot.
"Okek, dek! Sepulak sekolak, yak (Oke, deh! Sepulang sekolah, ya)!" kata Dark bersemangat.
Siak harik nyak... (?) (Thundy: "Eh? Kenapa gue juga ikut-ikutan, ya?" *dibantai Reader.*)
Ulangi!
Siang harinya...
Dark, Sakazaki, dan Bunga (cewek dari kelas 9B yang ngikutin kedua bocah sarap itu) sekarang sudah sampai di sebuah rumah berbentuk negi (?). Aura mistis dari rumah negi itu sukses membuat kedua mulas 9E itu merinding disko.
"Beneran di sini tempatnya?" tanya Bunga heran.
"Yeee, menekecap manis (?)!" jawab Sakazaki sambil mengangkat bahu Dark (?) di sebelahnya.
"Woi! Ngapain bahu gue diangkat-angkat, sih?!" tanya Dark sewot.
"Gomen ne! Habis, ngangkat bahu sendiri udah mainstream, sih!" jawab Sakazaki watados.
Ketiganya pun masuk ke dalam rumah negi tersebut.
"Per-permisi!" kata Sakazaki yang masih merinding.
"Siapa yang berani masuk ke sini?! Hrmmm!" tanya seseorang bertudung hitam sambil menggeram.
"Ano! Mbak (?) dukun bisa bikin ramuan apa aja, kan?" tanya Dark sambil berusaha mengumpulkan semua keberaniannya.
"Tentu saja! Wani piro?" tanya sang dukun sambil mengulurkan tangannya meminta sesuatu.
"Nih!" kata Sakazaki sambil menyerahkan sekeranjang negi.
"Negi asli, bukan?" tanya sang dukun lagi.
"Yeee, coba aja dulu kalau ragu!" jawab Dark.
Sang dukun pun mencoba salah satu negi tersebut sampai habis kayak ngejus (?).
'Dafuq! Tu orang udah kagak normal kali, ya?' batin Bunga cengo.
"Nah, kalian mau ramuan apa?" tanya sang dukun.
"Kami mau ramuan yang bisa bikin para cewek jadi Yuri!" jawab Bunga mewakili kedua temannya.
"Baiklah! Tunggu sebentar, ya!" kata sang dukun.
Ruangan pun menjadi sangat gelap dan muncullah sebuah asap gaje berwarna hijau kebiruan (?) di depan mereka.
"Eh, kalian berdua! Apa beneran kagak salah tempat, nih?" tanya Bunga merinding.
"Kagak tau! Kalau gue tau, gue kagak bakalan mau ke sini!" jawab Sakazaki.
"Udah ja-"
CEKLEK!
Tiba-tiba ruangan menjadi terang dan ternyata, sang dukun adalah seorang gadis berambut teal pigtail. (Cowboy: "Kalau ditinjau dari cara bacanya, agak sedikit berima sih!" -_-")
"-di! Ini ramuan kalian!" kata sang dukun sambil menyerahkan ramuan itu kepada Sakazaki.
"Ini ampuh kagak, mbak dukun?" tanya ketiganya bersamaan.
"Ampuh, kok! Dijamin seratus persen!" jawab sang dukun sambil mengangkat jempol.
"O-oke, deh! Kami pergi dulu!" kata Bunga sambil menarik kedua temannya untuk mengambil langkah seribu menjauhi tempat itu.
-Flashback End-
"Jadi begitu, toh!" kata Mathias sambil melepaskan MG di tangannya dan mengembalikan sarung tangan itu kepada Lance. "Masalahnya terletak pada ramuan yang dibeli Dark, Sakazaki, dan Bunga!"
"Kenapa mereka membeli ramuan itu?" tanya Lance heran sambil mengambil MG-nya yang dikembalikan Mathias.
"Aku tidak tau, tapi mungkin saja mereka melakukannya untuk sekedar iseng!" jawab pria jabrik itu.
"Sejak kapan mereka suka berbuat iseng?" tanya Runa heran.
"Sejak Negara Baltic bersatu menyerang Russia!" jawab Mathias watados.
Runa pun hanya bisa sweatdrop mendengar jawaban sang ketua guru tersebut.
"Tapi, bagaimana cara mengurus mereka? Nagamasa kan lagi liburan sama istrinya (baca: Oichi) ke Italia dalam rangka mengenal Hetalia (?)!" tanya Luthfi sambil menunjuk kepada para gadis yang mau memasuki tahap lemon tersebut.
"Oh, iya! Bapak kan belum pernah menggunakan cara 'itu'!" ujar Mathias sambil facepalm. "Tapi masa-"
BRAK!
Perkataan Mathias pun terpotong dengan kedatangan seorang pemuda berambut platinum blonde yang mendobrak pintu dengan ketidakperi'pintu'an.
"Eh, Dan! Nih MG lu! Kalau bukan karena Nore sialan itu, gue ogah banget bawain ke sini!" kata pemuda platinum blonde itu sambil melempar MG merah milik Mathias kepada pemiliknya.
"Hehehe! Tak, Emil!" balas Mathias sambil nyengir lebar.
Emil pun hanya mendengus kesal dan langsung pergi dari tempat itu.
"Baiklah!" Mathias pun langsung memakai MG miliknya dan merentangkan kedua tangannya ke depan. "SPECIAL TECNIQUE: DANISH CRYSTAL BLESSING!"
Kumpulan kristal pelangi pun mulai mengelilingi para cewek yang ber-Yuri ria tersebut dan mengeluarkan cahaya yang mulai memulihkan mereka semua.
"Eh? Ada apa ini? HUWAAAAA! PAK MATHIAS!" pekik Girl-chan panik karena sang ketua guru udah pingsan setelah menggunakan skill tersebut.
"Kayaknya Makkun belum pernah menggunakan skill itu, deh! Sampai-sampai tenaganya terkuras habis!" kata Ieyasu yang muncul entah dari mana.
"Ya ampun! Separah itu?" tanya Lance sweatdrop.
Ieyasu hanya mengangguk kecil.
"Yah, sebaiknya kita bawa saja pak Mathias ke Klinik!" saran Luthfi.
"Tumben kamu pinter, Luthfi!" puji Ieyasu.
Alhasil, sang ketua guru pun langsung dibawa ke Klinik oleh Luthfi dan Runa diikuti para cewek barusan. Sementara Ieyasu dan Lance langsung balik ke ruang guru.
Di ruang guru...
"Semoga Steilsson-san belum ninggalin sekolah!" kata Ieyasu ngarep sambil memasuki ruang guru.
Di dalam sana, terdapat seorang pemuda platinum blonde yang membereskan kartunya dan seorang pria berambut coklat ponytail yang pundung di pojokan.
Kalian bisa nebak kan apa yang terjadi barusan? Untuk clue, keempat orang yang dihajar Mathias di Chapter 'Balada Film Horror' udah balik dari UGD semalam.
"Maeda-san? Lu kalah lagi dari Emil-san, ya?" tanya Lance yang jawdrop dengan kejadian barusan.
"Menurutmu?" jawab Emil bertanya balik sambil memasukkan kartunya ke saku celana.
"Errr, Steilsson-san! Boleh bicara sebentar? Ini menyangkut Makkun!" tanya Ieyasu.
"Si Dan? Memangnya kenapa?" Emil balik bertanya.
"Apa dia belum pernah menggunakan skill berelemen kristal?" tanya pemuda berambut coklat itu.
Emil langsung kaget dengan pertanyaan tersebut.
"Kau tau darimana kalau dia punya elemen kristal?" tanya Emil yang masih shock.
"Soal itu-"
-Flashback-
"Agak deja vu, tapi bomat lah!" kata Mitsunari yang ingin mencoba sesuatu.
"Vent et øjeblik (Tunggu dulu)! Kalian harus lihat dulu apa elemen kalian! Elemen biasanya dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing! Nah, Mitsu! Kau boleh mencoba dengan mengepalkan tanganmu seperti ini!" kata Mathias sambil mengepalkan tangannya (yang tentu saja sudah memakai kembali sarung tangannya).
Lalu, muncullah seberkas cahaya berwarna merah yang membentuk sebuah intan dan diselubungi angin.
"Kalau begitu, artinya apa?" tanya Sasuke.
"Kalau ini artinya elemenku ada tiga: api, angin, dan kristal!" jawab Mathias sambil melebarkan telapak tangannya yang membuat permata api (?) tersebut langsung menghilang.
-Flashback End-
Emil pun hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Iya, memang sih! Dan belum pernah menggunakan elemen kristalnya! Lalu, untuk apa kau bertanya seperti itu?" jelas Emil sambil bertanya balik.
"Karena tadi dia pingsan setelah menggunakan skill elemen kristal!" jawab Ieyasu miris.
Emil hanya bisa terdiam mendengarnya.
"Oh iya, Yasu! Apa nanti kau mau menyelidiki si dukun negi itu?" tanya Emil.
"Mungkin besok pagi!" jawab Ieyasu sambil berjalan pergi.
Sementara Lance? Dia sibuk menghibur Keiji yang pundung karena kalah duel dari Emil untuk yang kedua kalinya. (Note: Baca Chapter 'Randomness Part' bagian 8!)
Keesokan paginya...
"Semuanya udah di sini?" tanya Emil yang memakai kaos putih dan celana training coklat.
"Iyaaaa!" koor 13 guru sarap, 10 anak nista, dan 3 anggota Hokuou-san tachi lesu. *dibantai bersama.*
"Hei, ayolah! Masa lemes banget, sih? Enaknya kan lari pagi!" kata pemuda platinum blonde itu.
"Kenapa kita mesti ngelakuin ini, Ice-kun?" tanya Tino sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.
"Karena kita mau nyari si dukun negi yang bikin adegan Yuri kemaren!" jawab Emil watados sambil berlari kecil mendahului mereka.
Akhirnya, mereka pun mengikuti Emil dengan tidak bersemangat.
-skip time-
Setelah berlari mencari alamat tujuan, mereka pun sampai di sebuah rumah negi ber-aura mistis.
"Errrrr, kalian yakin di sini?" tanya Emil yang jawdrop dengan rupa dan aura rumah tersebut.
Dark, Bunga, dan Sakazaki pun hanya mengangguk.
"Kalau boleh tau, kenapa pak Kambing kagak iku-" Pertanyaan Sakazaki terpotong dengan kemunculan pria jabrik ber-aura merah mengerikan. "Hiyeeeee! Ampun, pak Mathias!"
"Eh, Anko! Harusnya lu istirahat, kan?" tanya Lukas.
"Yah, mau gimana lagi! Yuk masuk!" ajak Yukimura.
Mereka pun memasuki rumah negi tersebut.
"Per-permisi!" kata Lance seberani mungkin.
"Siapa yang berani masuk ke sini? Hrmmmm!" tanya sang dukun sambil menggeram.
"Hm? 'pa'n 'ni?" tanya Berwald sambil menarik sebuah tali di depan pintu.
TUING TUING! (?) CEKLEK! SRIIIIIIIIIIIIIING!
Mereka pun langsung menutup mata mereka karena terkena sinar yang muncul entah darimana di depan mereka.
"Hoi! Kembali kau!" teriak Emil dan Mathias (yang masih sempet-sempetnya pake kacamata hitam) sambil berlari mengejar sesosok (atau dua sosok?) bertudung hitam.
Yang lainnya pun mengikuti dari belakang. Entah kenapa, sosok tersebut membelah diri menjadi dua (?) dan berlari melewati dua gang yang berbeda.
"Et, deh! Dia tuh dukun atau amuba (?), sih? Masa bisa membelah diri jadi dua kayak gitu?" tanya Lukas jawdrop sambil berlari di belakang kedua temannya.
"Menekedele! Yang penting, kejar terus dukun itu!" jawab Mathias sambil terus mengejar dukun itu.
Akhirnya, rombongan itu pun juga ikut membelah diri (?) dengan susunan (?) seperti ini:
Rombongan 1 (gang kiri): Mathias, Emil, Ieyasu, Lance, Girl-chan, Dissa, Motochika, Keiji, Motonari, Yukimura, Sasuke, Luthfi, Hanny, Mea.
Rombongan 2 (gang kanan): Lukas, Tino, Berwald, Masamune, Mitsunari, Hanbei, Kojuro, Shingen, Kenshin, Sho, Dark, Bunga, Sakazaki, Runa.
Kita lihat proses pengejaran dukun tersebut.
Di gang kanan...
"Kok kenceng banget larinya, sih?" tanya Runa.
"Menekedele!" jawab Bunga.
"Gimana cara ngejarnya, nih?" tanya Hanbei.
"Argh!" gerutu Masamune kesal.
"Hm? D'kunny' b'lok!" kata Berwald sambil menancapkan tongkat besinya ke tanah.
Yang lainnya pun langsung berbelok dengan bantuan tongkat besi tersebut.
Di gang kiri...
"Kalau kayak begini terus, kita kagak bakalan ketemu sama tu dukun!" gerutu Mathias sambil terus berlari.
"Gimana bisa ketemu? Orang tiap ada belokan, kita selalu belok kiri!" balas Emil.
"Memangnya siapa yang nyuruh kita belok kiri terus?" tanya Lance kepo.
"Lu kan?!" teriak Ieyasu bertanya balik.
Hening...
"Oh iya, ya! Nyehehehe!" jawab Lance sambil nyengir gaje.
Yang lainnya hanya bisa sweatdrop mendengarnya.
"Oh, iya! Gue punya akal!" kata Sasuke sambil menjentikkan jarinya. "Keiji, onegai!"
"Ha'i!" Keiji pun memasang MG miliknya. "Maeda Special Skill: Cloud Rider!"
Sama seperti sebelumnya, segumpal mobil awan (?) pun langsung datang dan membawa mereka semua terbang ke langit.
"HUWAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak yang lainnya saat dibawa terbang ke atas.
Back to Right Gang...
'Kenapa harus berakhir di sini?' batin sang dukun saat berhenti di depan jalan buntu.
"Eh, dukunnya nyerah! Ayo cepat!" teriak Kojuro saat melihat dukun itu berhenti.
'Oh, iya! Masih ada cara 'itu'!' batin sang dukun lagi.
"HEYAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak yang lainnya sambil menerjang sang dukun kayak serigala kelaparan (?). *plak!*
POOF! CRAT CRAT CRAT CRAT CRAT CRAT CRAT CRAT CRAT!
Mereka pun langsung tewas di tempat. *dihajar bersama.*
Di gang kiri...
"HIYAAAAAAAAAAAAAA!" teriak yang lainnya saat terjatuh dari mobil awan tersebut.
Kenapa mereka bisa terjatuh? Karena Keiji kelelahan dan tak sengaja membuat oleng mobil awan tersebut yang sukses membuat mereka yang ada di situ jatuh semua.
BRUK! TRUK TRUK TRUK! (?)
"Aduuuuuuh!" teriak para murid yang jatuh duluan. "Bapak-bapak sekalian bangun, dong!"
Posisi jatuh mereka pun sangat ambigu (kecuali Emil yang bergaya 'like a boss'!) bak tumpukan kayu buat api unggun (?). *dibantai bersama.*
"Jangan ke bapak ngomelnya, ke Steilsson-san/Emil-san/Ice..." Omelan para guru pun berhenti saat Emil mengeluarkan aura biru (?) mengerikan. "...sana! Hiyeeeeeeee! A-ampuuuuuuuuuuuuuun!"
Beberapa acara pembantaian (?) kemudian...
"Ih! Yang bener aja lu, Ice?! Masa pake dibantai dulu, sih?!" tanya Mathias sewot sambil memegangi tubuhnya yang sakit setelah dibantai Emil.
Sementara sang pelaku pembantaian hanya siul-siul gaje menanggapinya.
"Oke, deh! Mendingan kita langsung aja cari dukun negi-dono (?)!" ajak Yukimura.
Yang lainnya pun hanya bisa sweatdrop mendengarnya.
Tiba-tiba, tercium bau amis (?) darah dari kejauhan.
"Eh? Apa hanya perasaan gue atau ini ada bau darah, ya?" tanya Dissa yang mencium bau barusan.
"Kagak tau! Tapi kayaknya mesti diperiksa, deh!" saran Mea.
Akhirnya, mereka pun mencar lagi. Mea, Dissa, Girl-chan, Luthfi, Mathias, dan Emil mencari sumber bau darah tersebut, sementara sisanya tetap mencari sang dukun.
"Tunggu dulu! Ini bukannya tongkatnya Sverige, ya?" tanya Mathias sambil mencabut sebuah tongkat besi yang tertancap di tanah.
"Kayaknya iya, deh!" jawab Emil memastikan.
"Apa mereka kagak dibunuh?" tanya Luthfi khawatir.
"Kagak tau! Tapi doakan saja semoga mereka selamat sentosa, panjang umur, dan sehat sejahtera (?)!" jawab Girl-chan datar.
Yang lainnya hanya bisa sweatdrop kuadrat mendengarnya.
'Anak ini masih aja bercanda di saat seperti ini?' batin Mathias.
"HUWEEEEEEEEEEEEE! ABANG GUE NORE YANG KERAS KEPALA! HUWEEEEEEEEEEEEE!" rengek Emil meraung-raung.
Mereka pun langsung sweatdrop kubik (?) mendengar rengekan Emil yang 11-12 mirip suara kucing berojol (?). *Narator dilempar Emil ke lautan Antartika.*
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak seorang gadis.
"Siapa itu?" tanya yang lainnya (min Emil yang masih merengek dan Luthfi yang ngilang entah kemana) heran.
"Eh? Luthy-kun kemana?" tanya Mathias heran saat menyadari sang bocah berkacamata itu ngilang.
PLAK! BRAK! DUAR! (?)
"Siapa yang nyalain petasan (?)? Kaoru (?) kah?" tanya Emil yang berhenti merengek. (Cowboy: "Woi, Emil! Lu kagak salah tuh nginget pacar di Hong Kong sana?" *dibantai Emil.*)
Mereka pun mendatangi sumber suara dan mendapati sekumpulan orang yang tepar dengan hidung berdarah, seorang bocah berkacamata yang babak belur, plus seorang gadis berambut teal pigtail yang memegang sebuah negi berukuran jumbo (?).
'Gue kagak salah liat, kan? Tuh dukun ternyata Miku?!' batin kelimanya jawdrop berjamaah.
"E-etto! Lu ngapain di sini, Miku-chan?" tanya Dissa dan Mea bersamaan.
"Gue kerja sambilan jadi dukun di sini!" jawab Miku nyolot.
Mereka berlima pun langsung sweatdrop mendengarnya.
"Kalau dia Miku, terus yang ini siapa?" tanya seseorang di belakang mereka.
"Pak Ieyasu/Yasu?" koor kelima orang itu bersamaan.
"Yo!" sapanya sambil mengangkat tangan kanannya.
Di sebelah Ieyasu, terlihat seorang gadis yang entah kenapa sangat dikenali oleh Dissa.
"Aira-chan?" tanya Dissa cengo.
"Ah, hisashiburi! Dissakiti terus (?)!" sapa gadis bernama Aira itu watados.
'Dissakiti terus?' batin Mea dan Girl-chan jawdrop.
"Pfft!" Mathias, Ieyasu, dan Emil pun berusaha menahan tawa saat mendengar nama ejekan lain Dissa.
"Oh, iya! Watashi wa Aira Samori!" kata gadis itu memperkenalkan diri.
"Baiklah, Aira! Aku mau tanya satu hal! Kenapa kau dan Miku jadi dukun di sini?" tanya Mathias serius.
"Buat kerja sambilan doang! Memangnya kagak boleh?" jawab Aira bertanya balik.
"Bukan begitu! Yang penting, kenapa kau membuat ramuan untuk Dark, Sakazaki, dan Bunga?" tanya Mathias lagi.
"Maksudmu ketiga bocah itu, ya? Yah, kalau itu mah tanyain aja Miku!" ujar Aira sambil menunjuk Miku yang berada di depannya.
"Kalau soal itu, aku lagi kekurangan negi! Jadi, aku kerja jadi dukun dengan bayaran negi!" jawab Miku watados.
Ketiga cewek, dua Nation, dan satu Daimyo sarap itu pun langsung sweatdrop mendengar jawaban Miku barusan.
"Oh, begitu ya!" kata Luthfi yang babak belur setelah dihajar Miku barusan.
"Oh iya, Aira! Aku sarankan agar kau dan Miku jangan menerima ramuan yang aneh-aneh, terutama dari ketiga bocah sarap itu!" saran Emil sambil menunjuk ketiga bocah yang masih tepar dengan tidak elitnya.
"Ha'i! Terima kasih sarannya, errr..." jawab keduanya yang agak bingung karena tidak tau nama pemuda platinum blonde di depan mereka.
"Emil Steilsson!" kata pemuda Iceland itu.
"Arigatou, Suteirususon-san!" ujar keduanya sopan.
"Neitt fyrir þig (Apapun untuk kalian)!" balas Emil sambil tersenyum kecil.
'Wow! Jarang sekali melihat Ice/Emil/Steilsson-san tersenyum!' batin Mathias, Girl-chan, dan Ieyasu dengan senyuman jahil.
"Baiklah! Kita bawa saja kumpulan makhluk berdarah (?) ini ke sekolah!" saran Lance yang muncul entah sejak kapan.
Akhirnya, para makhluk nista yang masih tersisa pun membawa para korban tewas kembali ke NihoNime Gakuen. *dibunuh bersama.*
Di NihoNime Gakuen...
"Eh, Mea! Gue penasaran, deh!" kata Girl-chan saat dia, Mea, Dissa, dan Luthfi sedang berada di kantin untuk beristirahat.
"Penasaran kenapa?" tanya Mea heran.
"Gadis bernama Aira itu! Kok namanya kayak inget dimana gitu?" tanya gadis itu dengan sedikit serius.
"Yah, mungkin itu hanya Aira, Dissa, dan Tuhan yang tau!" jawab Mea kagak berminat sama sekali.
Apakah Dissa mendengar percakapan itu? Untungnya tidak! Karena saat percakapan itu, dia sedang berada jauh dari kedua temannya plus sibuk melilitkan perban pada tubuh Luthfi yang kena hajar Miku barusan.
To Be Continue...
Review! :D
